Lambang Daerah Istimewa Yogyakarta atau sering disebut golong-gilig adalah lambang berbentuk bulat (golong) dan silinder (gilig) yang terdiri dari lukisan bintang, padi dan kapas, tugu bersayap, lingkaran merah yang dikelilingi tulisan dalam bahasa Jawa “Rasa suka ngèsthi praja Yogyakarta trus mandhiri” menggunakan aksara Jawa dan dikelilingi lingkaran putih, dan ompak bertatakan teratai.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Lambang Daerah Istimewa Yogyakarta atau sering disebut golong-gilig adalah lambang berbentuk bulat (golong) dan silinder (gilig) yang terdiri dari lukisan bintang, padi dan kapas, tugu bersayap, lingkaran merah yang dikelilingi tulisan dalam bahasa Jawa “Rasa suka ngèsthi praja Yogyakarta trus mandhiri” menggunakan aksara Jawa dan dikelilingi lingkaran putih, dan ompak bertatakan teratai.
Tulisan dalam aksara Jawa ꦫꦱꦱꦸꦏꦔꦺꦱ꧀ꦛꦶꦥꦿꦗ꧈ rasa suka ngèsthi praja, di kiri dan ꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠꦠꦿꦸꦱ꧀ꦩꦤ꧀ꦝꦶꦫꦶ Yogyakarta trus mandhiri di kanan adalah sengkalan yang bermakna tahun 1876 Kalender Jawa dan 1945 Masehi. Bila dua sengkalan digabungkan, maknanya menjadi "Dengan rasa gembira membangun Daerah Istimewa Yogyakarta yang baik dan selamat terus berdiri tegak (mandiri)." Lambang ini ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 3 Tahun 1969.[catatan 1][1]
Gambar bintang pada lambang ini memiliki makna Ketuhanan Yang Maha Esa. Padi dan kapas sebagai simbol kesejahteraan. Tugu bersayap sebagai simbol perikemanusiaan, sayap bagian dalam berjumlah 9 tertuju pada Hamengkubuwono IX dan bagian luar berjumlah 8 tertuju pada Paku Alam VIII memiliki makna kepemimpinan. Lingkaran merah putih untuk simbol kebangsaan. Umpak dengan lapik tatakan bunga teratai sebagai simbol kerakyatan.[2]
Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki semboyan yaitu "Hamemayu Hayuning Bawana" yang diartikan dalam bahasa Indonesia adalah "Memperindah Keindahan Dunia".