Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Patung Arjuna Wijaya

Patung Arjuna Wijaya, yang secara resmi bernama monumen Untukmu Indonesia, adalah monumen berbentuk patung kereta kuda dengan air mancur yang terbuat dari tembaga yang terletak di persimpangan Jalan MH Thamrin dan Jalan Medan Merdeka. Perancang monumen ini adalah mahakarya I Nyoman Nuarta, pematung Indonesia asal Tabanan, Bali. Patung ini dibangun sekitar tahun 1987, seusai lawatan kenegaraan Presiden Indonesia Soeharto dari Turki. Proses pembuatan Patung ini dikerjakan oleh sekitar 40 orang seniman dan pengerjaannya dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

tengara di Jakarta Pusat, Indonesia
Diperbarui 12 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Patung Arjuna Wijaya
Patung tembaga dengan air mancur in Jakarta, IndonesiaTemplat:SHORTDESC:Patung tembaga dengan air mancur in Jakarta, Indonesia
Patung Arjuna Wijaya
Informasi umum
JenisPatung tembaga dengan air mancur
LokasiJakarta, Indonesia
AlamatPersimpangan Jalan MH Thamrin dan Jalan Medan Merdeka
Mulai dibangun1987
Selesai dibangun1987
Diresmikan1987
DirenovasiOktober 2014
BiayaRp 300 juta (1987)
PemilikPemerintah Provinsi DKI Jakarta
Desain dan konstruksi
ArsitekNyoman Nuarta
</span>building_name <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwBg\">\n</span>Patung Arjuna Wijaya"}]]}' id="mwBw"/>

Patung Arjuna Wijaya, yang secara resmi bernama monumen Untukmu Indonesia, adalah monumen berbentuk patung kereta kuda dengan air mancur yang terbuat dari tembaga yang terletak di persimpangan Jalan MH Thamrin dan Jalan Medan Merdeka. Perancang monumen ini adalah mahakarya I Nyoman Nuarta, pematung Indonesia asal Tabanan, Bali. Patung ini dibangun sekitar tahun 1987, seusai lawatan kenegaraan Presiden Indonesia Soeharto dari Turki. Proses pembuatan Patung ini dikerjakan oleh sekitar 40 orang seniman dan pengerjaannya dilakukan di Bandung, Jawa Barat.[1]

Monumen ini menggambarkan sebuah adegan dalam kisah klasik Mahabharata, ketika dua tokoh dari kubu Pandawa, yaitu Arjuna yang menggenggam busur panah dan Batara Kresna yang menjadi sais sedang menaiki kereta perang berkepala garuda yang ditarik delapan ekor kuda yang melambangkan delapan filsafat kepemimpinan "Asta Brata". Keduanya digambarkan sedang berada dalam situasi pertempuran melawan Adipati Karna yang berasal dari kubu Kurawa. Kisah ini dikenal sebagai kisah atau lakon wayang Karna Tanding.

Latar belakang

Menurut Nyoman Nuarta, pembangunan patung Arjuna Wijaya dilatarbelakangi kunjungan kenegaraan Presiden Soeharto ke Turki pada tahun 1987, di mana dia melihat banyak monumen yang menjelaskan tentang cerita-cerita masa lalu Turki di jalan-jalan protokolnya. Presiden Soeharto menyadari hal tersebut tidak dia jumpai di ruas jalan-jalan protokol di Jakarta, sehingga dia menggagas pembangunan sebuah monumen yang memuat filsafat Indonesia. Melalui Nyoman Nuarta akhirnya kisah Perang Baratayuda digunakan sebagai ide di balik wujud akhir patung tersebut.[1]

"Arjuna Wijaya" sendiri berarti "kemenangan Arjuna", yang menceritakan kemenangannya dalam membela kebenaran dan keberaniannya, simbol apresiasi terhadap sifat-sifat kesatrianya. Patung Arjuna Wijaya merupakan patung yang merupakan simbol bahwa hukum harus ditegakan tanpa pandang bulu. Hal ini dilatarbelakangi salah satu episode dalam cerita Bharatayuddha di mana Arjuna bertempur melawan Adipati Karna yang merupakan saudaranya sendiri. Menurut Nyoman Nuarta, dalam epos Mahabharata, Arjuna pada awalnya ragu karena yang dilawannya adalah saudaranya sendiri, tetapi dia harus menentukan sikap demi kebaikan orang yang lebih banyak, dia harus mengalahkan Adipati Karna yang berdiri di pihak Kurawa.[2]

Patung ini secara tidak tepat juga dikenal oleh masyarakat sebagai Patung Arjuna Wiwaha. Dalam tradisi Jawa Kuno, Arjuna Wijaya merujuk pada tokoh Arjuna Sasrabahu yang mengalahkan Rahwana. Kisah ini ada dalam Epos Ramayana dan Kakawin Arjunawijaya karya Mpu Tantular. Sementara itu Arjuna Wiwaha merujuk pada Raden Arjuna, salah satu tokoh Pandawa, dalam Kakawin Kakawin Arjunawiwāha karya Mpu Kanwa yang dianggap sebagai kisah pesanan Raja Airlangga. Secara etimologi, "Wijaya" berarti kemenangan sementara "Wiwaha" berarti perkawinan. Jadi Arjuna Wiwaha berarti perkawinan Arjuna. Dalam Kakawin Arjuna Wiwaha, Arjuna mengawini tujuh bidadari, salah satunya Supraba sebagai hadiah dari para dewa setelah membantu mengalahkan Raksasa yang telah mengganggu ketenteraman para dewa di kahyangan.

Patung ini juga disebut oleh masyarakat sebagai Patung Kuda. Delapan kuda yang menarik kereta perang tersebut melambangkan delapan filsafat kepemimpinan sesuai alam semesta, yang disebut "Asta Brata" yaitu : Kisma (bumi), Surya (matahari), Agni (api), Kartika (bintang), Baruna (samudra), Samirana (angin), Tirta (hujan), dan Candra (bulan). Tampilan kuda-kuda Asta Brata ini telah menjadi ciri tersendiri bagi Patung Arjuna Wijaya, di mana sebagian patung kuda memperlihatkan bentuk bagian tubuh yang utuh, tetapi sebagian lagi berbagian tubuh transparan. Bentuk ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung yang ingin menghitung jumlah kuda Asta Brata. Menurut Nyoman Nuarta, jumlah patung kuda Asta Brata yang sesungguhnya adalah delapan, di mana yang transparan merupakan bayangan kuda-kuda Asta Brata tersebut.[3]

Pembangunan

Menurut Nyoman Nuarta, ide Patung Arjuna Wijaya berasal dari kunjungan Soeharto ke Turki, yang di sana Presiden Soeharto ketika berkeliling dengan Presiden Turki ditunjukkan patung-patung dan cerita dari masing-masing patung. Kemudian Nyoman diminta oleh Soeharto untuk membuat patung di Jakarta yang bisa dibuat menjadi cerita untuk tamu-tamu negara yang berkunjung ke Indonesia.[4]

Patung ini membutuhkan biaya sekitar 290 hingga 300 juta rupiah dalam penyesuaian harga tahun 1987. Patung ini direnovasi pada awal Oktober 2014 dan diresmikan kembali oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama pada 11 Januari 2015, didampingi Nyoman Nuarta dan jajaran direksi Bank OCBC NISP selaku pihak yang melakukan renovasi. Patung mengalami penambahan bayangan gerak kuda, perbaikan instalasi air mancur, dan tempat untuk berpose di bagian depan patung.[2]

Galeri

  • Tampak belakang saat mendung, 2005.
    Tampak belakang saat mendung, 2005.

Rujukan

  • Heuken, A, (2008) Medan Merdeka - Jantung Ibukota RI, Yayasan Cipta Loka Caraka, Jakarta, No ISBN
  • Zoetmulder, P.J, (1985) Kalangwan, Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang, Djambatan, Jakarta

Referensi

  1. 1 2 "Patung Arjuna, Soeharto, dan Turki". kompas.com. 11 Januari 2015. Diakses tanggal 2014-14-01.
  2. 1 2 "Air Patung Arjuna Wijaya Kembali Mancur". kompas.com. 11 Januari 2015. Diakses tanggal 2014-14-01.
  3. ↑ "Nyoman Nuarta Menjawab Misteri Jumlah Kuda di Patung Arjuna Wijaya". kompas.com. 12 Januari 2015. Diakses tanggal 2014-14-01.
  4. ↑ Lebih Dekat dengan Nyoman Nuarta: Desain Terbaru Istana Garuda IKN, GWK dan Pertemuan Pertama Jokowi - Kompas TV

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Arjuna Wijaya monument.
  • (Indonesia) Basuki TP (Ahok) Resmikan Patung Arjuna Wijaya di situs youtube.com
  • l
  • b
  • s
Topik mengenai Jakarta
Kota
  • Jakarta Utara
  • Jakarta Selatan
  • Jakarta Barat
  • Jakarta Timur
  • Jakarta Pusat
  • Kepulauan Seribu
Jakarta
Sejarah
  • Sunda Kelapa
  • Jayakarta
  • Batavia
  • Djakarta
  • Kerajaan Sunda
Demografi
  • Bahasa
  • Agama
  • Etnik
Geografi
  • Iklim
  • Banjir di Jakarta
  • Kanal Banjir Jakarta
Ekonomi
  • Bursa Efek Indonesia (BEI)
  • Bank Indonesia
  • Ekonomi Jakarta
Politik
  • Gubernur
  • Istana Negara
  • Istana Merdeka
  • Balai Kota DKI Jakarta
  • DPR
  • MPR
  • DPD
  • Program transmigrasi
  • Markas besar ASEAN
Pendidikan
  • UI (Salemba)
  • Universitas Negeri Jakarta
  • Universitas Terbuka
  • UIN Syarif Hidayatullah
  • Politeknik Negeri Jakarta
  • Universitas Trisakti
  • Universitas Atma Jaya
  • Universitas Bina Nusantara
  • Universitas Tarumanagara
  • Universitas Kristen Indonesia
  • Universitas Mercu Buana
  • Universitas YARSI
  • Universitas Jayabaya
Objek wisata dan
Markah tanah
  • Monas
  • Museum Nasional Indonesia
  • Museum Sejarah Jakarta
  • Stadion Bung Karno
  • Hotel Indonesia
  • Taman Mini Indonesia Indah
  • Taman Impian Jaya Ancol
Transportasi publik
Angkutan umum
  • Transjakarta
  • MRT Jakarta
  • KRL Commuter Line
  • Transjabodetabek
  • LRT Jabodebek
  • LRT Jakarta
Bandar udara
Halim Perdanakusuma
Stasiun kereta api
  • Gambir
  • Halim
  • Jatinegara
  • Pasar Senen
  • KRL Commuter Line:
    • daftar
Layanan kereta api
  • Argo Semeru
  • Argo Anjasmoro
  • Batavia
  • Bima
  • Cikuray
  • Dharmawangsa
  • Jayabaya
  • Jayakarta
  • Madiun Jaya
  • Pandalungan
  • Pangandaran
  • Papandayan
  • Parahyangan
  • Tegal Bahari
Transportasi air
Angkutan Sungai Jakarta
Agama
Kuil Sri Sanatana Dharma • Kuil Shiva Mandir, Pluit  • Masjid Istiqlal • Gereja Katedral Jakarta • Gereja Immanuel Jakarta • Katedral Mesias • Kelenteng Jin De Yuan

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar belakang
  2. Pembangunan
  3. Galeri
  4. Rujukan
  5. Referensi
  6. Pranala luar

Artikel Terkait

Derbi Indonesia

rivalitas sepak bola di Indonesia

Kedutaan Besar Polandia, Jakarta

Jatinegara, Jakarta Timur, menjadi peninggalan Konsulat Polandia yang ditengarai pernah berdiri di kawasan tersebut. Hubungan diplomatik antara Indonesia dengan

Unilever Indonesia

perusahaan asal Britania Raya

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026