PT Unilever Indonesia Tbk adalah perusahaan Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari Unilever. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan penanaman modal asing terbesar di Indonesia, Unilever Indonesia dikenal luas sebagai perusahaan utama dalam produksi barang-barang konsumsi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Logo Unilever | |
Jenis perusahaan | Publik |
|---|---|
| Kode emiten | BEI: UNVR |
| Industri | Produk konsumen |
| Didirikan | 5 Desember 1933 |
| Pendapatan | |
| Total aset | |
| Total ekuitas | |
| Induk | Unilever |
| Situs web | Unilever Indonesia |
PT Unilever Indonesia Tbk (BEI: UNVR ) adalah perusahaan Indonesia yang merupakan anak perusahaan dari Unilever. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan penanaman modal asing terbesar di Indonesia, Unilever Indonesia dikenal luas sebagai perusahaan utama dalam produksi barang-barang konsumsi.


Unilever Indonesia didirikan pada 5 Desember 1933 sebagai NV Lever's Zeepfabrieken di Jakarta, dengan produk mulanya adalah sabun bermerek Lux dan Sunlight (Cap Tangan), yang disusul margarin bermerek Blue Band dua tahun kemudian. Pabriknya berada di Tubagus Angke, Jakarta (Batavia) yang meliputi pabrik sabun di bawah perusahaan tersebut dan pabrik margarin di bawah NV Van den Bergh's Fabrieken.[1] Pada November 1941 Unilever mendirikan pabrik keduanya di Surabaya (diberi nama Colibri) yang memproduksi kosmetik dan toiletries, hasil akuisisi pabrik yang sebelumnya dikuasai perusahaan Jerman Dr. Dralle. Kedua pabrik sempat terhenti operasionalnya dalam Perang Pasifik, tetapi bisa beroperasi kembali pada 1947 dan berkembang pesat menjadi salah satu perusahaan asing terbesar pasca kemerdekaan Indonesia.[2][3][4] Di tahun 1948, unit usaha Unilever di Indonesia bertambah kembali lewat pengakuisisian pabrik pengolahan minyak kelapa bernama NV Oilefabriek Archa.[5]
Memburuknya relasi Indonesia-Belanda dan Inggris pada akhir 1950-an hingga akhir Orde Lama ikut memengaruhi perusahaan ini, yang saat itu sudah bernama NV Lever's Zeepfabrieken Indonesia.[6] Pada tahun 1957-1959 seluruh direksi berkebangsaan Belanda dipulangkan ke negara asalnya akibat sengketa Irian Barat,[3] dan pada tahun 1964 pabrik Unilever dinasionalisasi oleh pemerintah RI setelah pabriknya diambilalih oleh serikat buruh pro-PKI, Serikat Buruh Unilever Indonesia. Munculnya rezim Orde Baru yang lebih pro-pasar pada 1966, membuat Unilever bisa menguasai kembali bisnisnya di Indonesia pada April 1967.[7]
Sejak tanggal 22 Juli 1980 nama NV Lever's Zeepfabrieken Indonesia diganti menjadi PT Unilever Indonesia. Lalu pada 1 September 1980 Unilever mereorganisasi bisnisnya di Indonesia dengan melakukan merger antara PT Unilever Indonesia dengan NV Van den Bergh's Fabrieken Indonesia (pabrik margarin Blue Band), NV Calve Delft Indonesia (pabrik minyak), NV Maatschappij ter Exploitatie der Colibrifabrieken (pabrik kosmetik Colibri Surabaya), dan NV Oliefabriek Archa (pabrik minyak).[5][8][9][3] Restrukturisasi dan perubahan nama ini disusul pelepasan 15% saham PT Unilever Indonesia di Bursa Efek Jakarta pada 11 Januari 1982 yang menjadikannya perusahaan publik sampai sekarang.[10][11]
Pada tahun-tahun selanjutnya ekspansi dilakukan dengan mendirikan pabrik kosmetik Elida Gibbs di Rungkut, Surabaya (1983) sebagai pengganti pabrik Colibri;[3] akuisisi merek makanan/minuman lokal, yaitu SariWangi (teh, 1991), Kecap Bango (kecap manis, 2001), Taro (makanan ringan, 2003) dan Buavita serta Gogo (minuman jus, 2007); pembukaan pabrik baru di Cikarang, Bekasi pada 1995[10] sebagai pengganti pabrik Tubagus Angke; pembukaan pabrik es krim Wall's di tahun 1992 yang juga berlokasi di Cikarang;[1] maupun akuisisi beberapa merek produk pembersih (Molto, Superpell, Wipol, Trika, Sunclin, Trisol, KIFF, WC Fresh, Vixal) dari PT Yuhan Indojaya pada tahun 1998.[12][4][13] Ekspansi tersebut juga melahirkan beberapa perusahaan patungan yang sempat dimiliki, yaitu:
Selain itu, Unilever Indonesia juga memiliki perusahaan "saudara" yang memiliki kesamaan pengendalian di Indonesia, meliputi:
Unilever Indonesia memenangkan 2005 Energi Globe Award untuk skema pengelolaan sampah mereka di desa-desa di dekat sungai Brantas di Surabaya. Skema ini melibatkan kompos, sampah organik dan daur ulang, dan telah menghasilkan peningkatan kualitas air setempat di sungai.[27]
Pada bulan Mei 2011, PT Unilever Indonesia Tbk mengumumkan akan menginvestasikan setidaknya £300 juta dalam 2 tahun ke depan untuk memperluas pabriknya di Indonesia.[28] Saat ini Unilever Indonesia telah mengoperasikan 9 pabrik yang mempekerjakan 4.000 karyawan dan memasarkan sekitar 40 merek[11] yang dibagi dalam dua divisi, yaitu home & personal care serta nutrition & ice cream. 9 pabrik tersebut terkonsentrasi di dua lokasi, yaitu Cikarang (Bekasi) dan Rungkut (Surabaya),[29] yang memproduksi 99% produk yang dipasarkan Unilever di Indonesia dan untuk ekspor.[26] Adapun kantor pusat Unilever Indonesia berada di BSD City, Tangerang yang diresmikan pada Juni 2017. Gedung ini menggantikan kantor pusatnya di Jl. Gatot Subroto, Jakarta yang ditempati sejak November 1994.[30]
Mengikuti spin-off yang dilakukan induknya, Unilever Indonesia telah melepas sejumlah lini bisnis berikut:
Meskipun telah merampingkan asetnya, kinerja Unilever Indonesia masih sama lesunya dengan induknya.[32] Sejak 2018 perusahaan terus mencatatkan penurunan laba dari Rp 9,081 triliun menjadi Rp 4,8 triliun pada 2023, begitu juga harga sahamnya yang belum menunjukkan tanda-tanda peningkatan. Faktor seperti penurunan daya beli masyarakat dan persaingan yang ketat ditengarai menjadi penyebabnya.[34]