PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau biasa disingkat menjadi BNI, adalah sebuah badan usaha milik negara Indonesia yang bergerak di bidang perbankan konsumen. Pemerintah Indonesia memegang mayoritas saham perusahaan ini melalui Danantara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kantor pusat BNI | |
Nama sebelumnya | Bank Negara Indonesia 1946 (1968–1992) |
|---|---|
Jenis perusahaan | Perusahaan perseroan (Persero) terbuka |
| Kode emiten | BEI: BBNI |
| Didirikan | 5 Juli 1946 (1946-07-05) |
| Pendiri | Pemerintah Indonesia[a] |
| Kantor pusat | Jakarta, Indonesia |
Wilayah operasi | Australia Hong Kong, Tiongkok Indonesia Tokyo, Jepang Osaka, Jepang Seoul, Korea Selatan Singapura Amsterdam, Belanda London, Britania Raya New York, Amerika Serikat |
Tokoh kunci | Putrama Wahju Setyawan[2] (Direktur Utama) Omar Sjawaldy Anwar[3] (Komisaris Utama) |
| Produk | |
| Merek |
|
| Jasa | |
| Pendapatan | |
| Total aset | |
| Total ekuitas | |
| Pemilik | Danantara Asset Management (59,4%) BP BUMN (0,6%) Publik (40%) |
Karyawan | |
| Anak usaha | BNI Multifinance BNI Sekuritas BNI Life Insurance BNI Remittance. Bank Hibank Indonesia BNI Modal Ventura |
| Situs web | www |
PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau biasa disingkat menjadi BNI, adalah sebuah badan usaha milik negara Indonesia yang bergerak di bidang perbankan konsumen. Pemerintah Indonesia memegang mayoritas saham perusahaan ini melalui Danantara.
Untuk mendukung kegiatan bisnisnya, hingga tahun 2025, bank ini memiliki 197 unit kantor cabang, 1.579 unit kantor cabang pembantu, dan 13.382 unit mesin ATM dan CRM yang tersebar di seluruh Indonesia (ditambah sembilan ATM diluar negeri). Bank ini juga memiliki enam kantor cabang di New York, London, Seoul, Tokyo, Hong Kong, dan Singapura, satu sub-branch di Osaka, dan dua kantor perwakilan di Amsterdam dan Sydney.[5][6]
Bank ini didirikan oleh pemerintah Indonesia pada tanggal 5 Juli 1946 sebagai sebuah bank sentral sekaligus bank umum dengan nama Bank Negara Indonesia. Bank ini kemudian diresmikan di Yogyakarta pada tanggal 17 Agustus 1946 dengan Margono Djojohadikoesoemo ditunjuk sebagai direktur utama dan Mr. Abdul Karim sebagai sekretaris.[1] Pada tahun 1949, sesuai hasil Konferensi Meja Bundar, status bank ini sebagai bank sentral dicabut dan diserahkan kepada De Javasche Bank sehingga bank ini hanya menjadi bank umum saja. Pada tahun 1950, bank ini ditetapkan sebagai sebuah bank devisa. Bank ini kemudian membuka kantor cabang pertamanya di luar Indonesia, tepatnya di Singapura.
Pada tahun 1960, bank ini meluncurkan layanan Bank Terapung dan Bank Keliling untuk mempermudah masyarakat dalam mengakses layanannya. Pada tahun 1965, sebagai bagian dari penerapan konsep bank berjuang, bank ini digabung ke dalam Bank Indonesia[7] yang kemudian diubah namanya menjadi 'Bank Negara Indonesia'.[8] Bank ini lalu beroperasi dengan nama Bank Negara Indonesia Unit III. Pada tahun 1968, pemerintah memisahkan bank ini menjadi sebuah perusahaan tersendiri dengan nama Bank Negara Indonesia 1946.[9]
Pada tahun 1989, bank ini meluncurkan logo baru berupa "bahtera berlayar di tengah samudra". Pada tahun 1992, bank ini diubah menjadi persero dan namanya diubah menjadi seperti sekarang.[10] Pada tahun 1996, bank ini resmi melantai di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya. Pada tahun 2004, bank ini meluncurkan logo baru mirip kembali logo HUT Bank BNI Sejak tahun 1992 yang masih digunakan hingga saat ini. Pada tahun 2009, bank ini memisahkan unit usaha syariahnya untuk membentuk BNI Syariah. Pada tahun 2013, Sumitomo Life Insurance resmi memegang sejumlah saham BNI Life. Pada tahun 2015, bank ini membuka kantor di Myanmar.[11]
Pada tahun 2016, bank ini dipilih sebagai bank yang melayani pembayaran bagi para investor asing yang ingin menanamkan modalnya di Indonesia melalui alur Layanan Izin Investasi 3 Jam yang disiapkan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), karena bank ini sudah terhubung dengan layanan AHU Online milik Kementerian Hukum dan HAM.[12] Pada tahun 2021, BNI Syariah digabung ke dalam BRI Syariah sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk menyatukan bank syariah milik BUMN. BNI Sekuritas kemudian juga mendirikan BNI Securities Pte. Ltd. di Singapura.
Pada tahun 2022, bank ini resmi mengakuisisi Bank Mayora dan berencana mentransformasi bank tersebut menjadi bank digital yang fokus pada segmen UMKM. Bank ini juga mendirikan BNI Ventures untuk berbisnis di bidang modal ventura.[13][6] Pada tahun 2023, bank ini mengubah nama Bank Mayora menjadi Hibank.[14] Pada bulan Maret 2025, pemerintah menyerahkan mayoritas saham perusahaan ini ke Biro Klasifikasi Indonesia, sebagai bagian dari upaya untuk membentuk holding operasional di internal Danantara.[15]
Pada 6 Januari 2026, dalam rangka implementasi Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2025 tentang BUMN melalui Perjanjian Pengalihan Saham Milik Negara Republik Indonesia Berupa Saham Seri B Pada BUMN Kepada Badan Pengaturan BUMN tanggal 5 Januari 2026, sekaligus mengalihkan fungsi pengelolaan negara dari Kementerian BUMN kepada BP BUMN, BNI mengalihkan 223,78 juta saham Seri B atau setara 0,6% yang sebelumnya dimiliki oleh Danantara Asset Management kepada BP BUMN, yang kemudian dijadikan sebagai saham Seri A Dwiwarna.[16] Dengan pengalihan kepemilikan saham Seri B tersebut, porsi kepemilikan saham Danantara Asset Management berkurang menjadi 59,4%, kendati tidak mempengaruhi komposisi kepemilikan saham Negara Republik Indonesia secara keseluruhan.[17]
| Jenis Layanan | Layanan |
|---|---|
| Simpanan |
|
| Pinjaman | |
| Kartu Kredit[40] |
|
| Perbankan daring |
|
| Jenis Layanan | Layanan |
|---|---|
| Perbankan Bisnis | |
| Internasional | |
| Tresuri |
|
| Nama | Mulai menjabat | Berhenti menjabat | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Saifuddien Hasan | |||
| Sigit Pramono | |||
| Gatot Mudiantoro Suwondo | |||
| Achmad Baiquni | |||
| Herry Sidharta | |||
| Royke Tumilaar | |||
| Putrama Wahju Setyawan |