Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bahasa Sunda Ciamis

Bahasa Sunda Ciamis atau dialek Ciamis atau dialek Tenggara adalah sebutan untuk sekumpulan varietas bahasa Sunda yang dituturkan oleh masyarakat di wilayah tenggara Parahyangan Timur, terutama Kabupaten Ciamis, Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran, serta di wilayah barat daya eks-Keresidenan Banyumas seperti Kabupaten Cilacap. Dialek ini merupakan varietas bahasa dan dianggap berada di salah satu sisi kontinum linguistik dengan bentuk standar bahasa Sunda yang didasarkan pada bahasa Sunda di wilayah Parahyangan Tengah yang berada di sisi lainnya, sehingga menyebabkan adanya beberapa variasi leksikon yang berbeda, tetapi secara umum tidak terdapat perbedaan linguistik yang signifikan dengan bahasa Sunda di area Parahyangan Tengah tersebut.

variasi regional bahasa Sunda di wilayah Kabupaten Ciamis dan sekitarnya
Diperbarui 26 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bahasa Sunda Ciamis
Bahasa Sunda Ciamis
  • ᮘᮞ ᮞᮥᮔ᮪ᮓ ᮎᮤᮃᮙᮤᮞ᮪
  • Basa Sunda Ciamis
  • Dialek Tenggara
  • Dialek Parahyangan Timur
Senarai kosakata khas yang digunakan di Kabupaten Ciamis
Senarai kosakata khas yang digunakan di Kabupaten Ciamis.[1]
Pengucapan/basa sʊnda t͡ʃiʔamɪs/
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
Parahiangan Timur
  • Kabupaten Ciamis
  • Kota Banjar
  • Kabupaten Pangandaran
  • Kabupaten Tasikmalaya
    • Cineam
  • Kabupaten Cilacap[2]
    • Cimanggu
    • Cipari
    • Dayeuhluhur
    • Karangpucung
    • Kedungreja
    • Majenang[3]
    • Patimuan
    • Sidareja
    • Wanareja
EtnisSunda
Banyumasan
Penutur
~1.800.000 (2020)[4][5][6][a]
Rumpun bahasa
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
  • Austronesia Lihat butir Wikidata
    • Melayu-Polinesia Lihat butir Wikidata
      • Melayu-Sumbawa atau Kalimantan Utara Raya (diperdebatkan)
        Cari tahu mengapa. Beberapa rumpun bahasa dimasukkan sebagai cabang dari dua rumpun bahasa yang berbeda. Untuk lebih lanjutnya, silakan lihat pembagian dari sub-rumpun Melayu-Sumbawa dan Kalimantan Utara Raya
        • Sunda-Badui
          • Sunda
            • Sunda Priangan
              • Sunda Ciamis 
Tampilkan klasifikasi manual
  • bahasa manusia
    • Austro-Tai
      • Austronesia
        • Melayu-Polinesia
          • Borneo Utara Raya
            • bahasa Sunda Suntingan nilai di Wikidata
              • Sunda Ciamis
    Tampilkan klasifikasi otomatis
    Posisi bahasa Sunda Ciamis dalam harap diisi Sunting klasifikasi ini 

    Catatan:

    Simbol "†" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
    • Sunda-Badui
      • Sunda Modern
        • Sunda Banten
          • Pandeglang
          • Rangkasbitung
          • Serang
          • Tangerang
        • Sunda Pesisir Utara
          • Binong
          • Bogor
          • Karawang
        • Sunda Cirebon
          • Brebes
          • Indramayu
          • Kuningan
          • Majalengka
        • Sunda Priangan
          • Bandung
          • Ciamis
          • Cianjur
          • Garut
          • Sumedang
          • Tasikmalaya
        • Banyumas†
      • Badui
    Bentuk awal
    • Proto-Austronesia
      • Proto-Melayu-Polinesia
        • Sunda Kuno
          • Sunda Klasik
            • Sunda Modern Awal
              • Sunda Ciamis
    Sistem penulisan
    Alfabet Latin & Aksara Sunda Baku
    Kode bahasa
    ISO 639-3–
    Glottologciam1234
    Linguasfer31-MFN-ag
    Informasi penggunaan templat
    Status pemertahanan
    Punah

    EXSingkatan dari Extinct (Punah)
    Terancam

    CRSingkatan dari Critically endangered (Terancam Kritis)
    SESingkatan dari Severely endangered (Terancam berat)
    DESingkatan dari Devinitely endangered (Terancam)
    VUSingkatan dari Vulnerable (Rentan)
    Aman

    NESingkatan dari Not Endangered (Tidak terancam)
    ICHEL Red Book: Not Endangered

    Sunda Ciamis diklasifikasikan sebagai bahasa aman ataupun tidak terancam (NE) pada Atlas Bahasa-Bahasa di Dunia yang Terancam Kepunahan

    Referensi: [7][8]

    Informasi penggunaan templat turunan
    Sampel
    Sampel teks
    Pasal 1 Pernyataan Umum tentang Hak-Hak Asasi Manusia dalam bahasa Sunda Ciamis. Pasal tersebut ditulis dengan aksara Sunda Kuno varian Kawali, yakni varian aksara Sunda Kuno yang digunakan di Kadatuan Kawali pada masa Pareubu Raja Wastu sekitar tahun 1300-an secara scriptio continua (atas) dan dengan aksara Sunda Modern (bawah).  checkY (Apa ini?)
    Aksara Sunda Kawali

    Aksara Sunda Modern
    ᮊᮘᮦᮂ ᮏᮨᮜᮨᮙ ᮒᮤ ᮞᮘᮨᮒ᮪ ᮜᮠᮤᮁᮔ ᮌᮦᮔ᮪ ᮌᮩᮞ᮪ ᮘᮦᮘᮞ᮪ ᮏᮩᮀ ᮘᮧᮌ ᮙᮁᮒᮘᮒ᮪ ᮉᮏᮩᮀ ᮠᮊ᮪-ᮠᮊ᮪ ᮃᮔᮥ ᮞᮛᮥᮃ. ᮙᮛᮔᮦᮂᮔ ᮌᮦᮔᮔ᮪ ᮓᮤᮘᮦᮛᮦ ᮃᮊᮜ᮪ ᮉᮏᮩᮀ ᮠᮒᮦ ᮔᮥᮛᮔᮤ, ᮊᮔ᮪ᮏᮒ᮪ ᮏᮀ ᮌᮅᮜ᮪ ᮏᮩᮀ ᮘᮒᮥᮁ ᮏᮤᮌ ᮊ ᮓᮥᮜᮥᮁcode: ban is deprecated
    Terjemahan: ⓘ
    Semua orang dilahirkan merdeka dan mempunyai martabat dan hak-hak yang sama. Mereka dikaruniai akal dan hati nurani dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam semangat persaudaraan.
    Alih aksara: 
    Kabéh jelema ti sabet lahirna gén geus bébas jeung boga martabat eujeung hak-hak anu sarua. Maranéhna génan dibéré akal eujeung haté nurani, kanjat jang gaul jeung batur jiga ka dulur.
    Sampel teks lainnya
    Lihat pula: § Galeri
    Lokasi penuturan
    alt=Area tempat dituturkannya bahasa Sunda Ciamis secara mayoritas

Area tempat dituturkannya bahasa Sunda Ciamis secara minoritas
    Area bahasa Sunda Ciamis mendominasi
    Area bahasa Sunda Ciamis kurang mendominasi
    Peta bahasa lain
    Artikel ini mengandung simbol fonetik IPA. Tanpa bantuan render yang baik, Anda akan melihat tanda tanya, kotak, atau simbol lain, bukan karakter Unicode. Untuk pengenalan mengenai simbol IPA, lihat Bantuan:IPA.
     Portal Bahasa
    L • B • PW   
    Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
    Cari artikel bahasa
    Cari artikel bahasa
     
    Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
     
    Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
    Artikel bahasa sembarang
    Halaman bahasa acak

    Bahasa Sunda Ciamis atau dialek Ciamis atau dialek Tenggara adalah sebutan untuk sekumpulan varietas bahasa Sunda yang dituturkan oleh masyarakat di wilayah tenggara Parahyangan Timur, terutama Kabupaten Ciamis,[9][10] Kota Banjar, dan Kabupaten Pangandaran, serta di wilayah barat daya eks-Keresidenan Banyumas seperti Kabupaten Cilacap.[11] Dialek ini merupakan varietas bahasa dan dianggap berada di salah satu sisi kontinum linguistik dengan bentuk standar bahasa Sunda yang didasarkan pada bahasa Sunda di wilayah Parahyangan Tengah yang berada di sisi lainnya, sehingga menyebabkan adanya beberapa variasi leksikon yang berbeda, tetapi secara umum tidak terdapat perbedaan linguistik yang signifikan dengan bahasa Sunda di area Parahyangan Tengah tersebut.

    Perbendaharaan kata dalam bahasa Sunda Ciamis yang beberapa di antaranya tergolong divergen salah satunya diakibatkan oleh adanya keragaman kebahasaan di daerah Ciamis yang hal ini sebagai konsekuensi oleh letak geografis Kabupaten Ciamis yang dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten dan daerah lain yang secara kebahasaan dianggap berbeda, di sebelah barat laut, timur laut, barat daya keadaan geografisnya bergunung-gunung, kemudian dataran rendah berupa rawa di sebelah timur (tengah dan selatan), keadaan jalan raya yang membelah dan membuka Ciamis ke barat ke Tasikmalaya, serta ke timur ke perbatasan provinsi.[9]

    Pengantar

    Gambaran umum

    Lihat pula: Kabupaten Ciamis
    Sampul buku Geografi Dialek Bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis

    Secara geografis, Kabupaten Ciamis (juga mencakup Kota Banjar & Kabupaten Pangandaran) dikelilingi oleh kabupaten-kabupaten yang memiliki ciri pemakaian bahasa yang berbeda-beda. Kabupaten Tasikmalaya di sebelah barat dianggap sebagai peralihan bahasa Sunda dialek Parahyangan. Kabupaten Majalengka dan Kuningan di sebelah utara dianggap sebagai daerah dialek bahasa Sunda yang berbeda dengan bahasa Sunda dialek Priangan yaitu bahasa Sunda Majalengka dan bahasa Sunda Kuningan. Area di sebelah timur yang merupakan provinsi lain adalah daerah penuturan bahasa lain yang bukan bahasa Sunda. Kondisi geografis yang seperti inilah yang memunculkan dugaan adanya pengaruh terhadap pemakaian bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis.[12] Kondisi kependudukan yang ada di Kabupaten Ciamis juga menunjukkan kompleksitas yang tinggi, sehingga dengan kenyataan tersebut menegaskan kembali adanya kemungkinan persinggungan dua buah bahasa atau lebih, kemudian melahirkan keadaan yang apabila dipandang dari sisi sosiokultural dan lingual juga menjadi semakin kompleks.[13]

    Ciamis sebagai suatu kesatuan geografis juga kemungkinan memperlihatkan kekhasan pemakaian bahasa tertentu sehingga sering terdengar orang awam di kalangan masyarakat Sunda menyebut ada yang disebut "bahasa Sunda dialek Ciamis".[b][12][9] Bila dikaji lebih lanjut, bahasa Sunda dialek di daerah Kabupaten Ciamis juga memiliki berbagai persebaran variasi linguistik berupa sub-dialek yang dapat dijabarkan mulai dari sub-dialek bahasa Sunda Ciamis Timur-Tengah, sub-dialek bahasa Sunda Ciamis Barat, dan sub-dialek bahasa Sunda Ciamis Tenggara.[14] Pola bahasa seperti itu berkaitan dengan adanya pemaknaan istilah-istilah juga ciri khas logat yang membuatnya berbeda dengan bahasa Sunda pada umumnya di tempat lain.[10]

    Artikel ini akan menjelaskan pemerian bahasa Sunda Ciamis yang menyangkut dengan hal-hal seperti, bunyi-bunyi bahasa, pemakaian unsur-unsur khas, variasi kebahasaan yang terikat dengan kewilayahan, pengaruh dari bahasa asing, dan beberapa gejala bahasa lainnya.[12]

    Sisi historis

    Lihat pula: Sejarah bahasa Sunda dan Bahasa Sunda Kuno
    Prasasti Kawali I dan bagian-bagiannya.

    Berdasarkan sisi kesejarahannya, kemunculan bahasa Sunda—terutama dalam ragam tulis—di Kabupaten Ciamis dimulai dengan adanya beberapa buah prasasti yang menggunakan bahasa Sunda Kuno dan aksara Sunda Kuno,[15][16] beberapa di antaranya adalah sekumpulan Prasasti Kawali yang berjumlah sebanyak enam buah prasasti dan diperkirakan berasal dari abad ke-14—angka tahun pembuatan prasasti ini tidak tertulis secara spesifik, tetapi dapat diperkirakan melalui nama raja yang disebutkan sedang memerintah pada waktu itu yaitu Prabu Raja Wastu (Niskala Wastu Kancana),[17] kini prasasti tersebut berada di situs Astana Gede, Desa Kawali, Kecamatan Kawali.[18] Prasasti ini ditulis di atas batu alam dengan berbagai posisi dan menggunakan varian aksara Sunda Kuno yang khusus ditemukan di daerah Kawali tersebut. Adapun bila ditilik secara keseluruhan, prasasti-prasasti di Kabupaten Ciamis sendiri berasal dari abad ke-12 sampai abad ke-16, tetapi beberapa di antaranya tidak menggunakan bahasa Sunda.[19][20]

    Kemunculan prasasti di Kabupaten Ciamis tersebut secara umum menunjukkan adanya perkembangan budaya tulis di antara masyarakat Sunda, terutama yang berasal dari masa pemerintahan raja-raja yang memerintah di Kerajaan Sunda yang terkadang berpusat di Pajajaran maupun di Kawali.[21][22] Sehingga dengan demikian, wilayah Kabupaten Ciamis merupakan salah satu tempat penting dalam hal kebudayaan termasuk bahasa dan kondisi kemasyarakatan yang sudah berlangsung sejak lama, hal ini juga didukung dengan adanya beberapa tinggalan arkeologis lainnya.[22]

    Kondisi masa kini

    Perubahan ultima (bunyi suku kata terakhir) salah satu leksikon khas Ciamis yang boleh jadi merupakan pengaruh dari bahasa Binan, salah satu bahasa slang yang menjamur di era 80-an. Hal ini sebagai tanda akan adanya perkembangan pada bahasa Sunda Ciamis yang mengikuti perubahan zaman.

    Pemertahanan penggunaan bahasa Sunda di era modern merupakan salah satu sikap berbahasa yang di dalamnya terdapat peranan para penuturnya dari berbagai generasi, termasuk di sini ialah pemertahanan yang dilakukan oleh generasi milenial di Kabupaten Ciamis, menurut penelitian yang dilakukan oleh Wagiati, Darmayanti & Zein (2022), pemertahanan tersebut bisa dikategorikan baik.[23] Hal ini tidak terlepas dari penggunaan bahasa Sunda di Ciamis pada berbagai bidang atau ranah. Hampir semua ranah komunikasi memiliki intensitas penggunaan bahasa Sunda yang bervariasi, beberapa di antaranya pada ranah kekeluargaan, ketetanggaan, dan kekariban, ketiga ranah tersebut memiliki tingkat kedekatan yang tinggi, sehingga wajar apabila intensitas pemertahanan bahasa Sunda juga cukup tinggi. Sementara itu, pada ranah transaksi dan kehidupan bersosial lainnya seperti pendidikan dan pemerintahan, bahasa Sunda terindikasi jarang dipakai sebagai alat komunikasi, hal ini diakibatkan oleh faktor ketidaktahuan seorang penutur dengan petutur yang tidak mengenal secara personal karena perbedaan latar belakang ketika hendak menentukan bahasa apa yang akan digunakan untuk berkomunikasi, jika kedua belah pihak sudah mengetahui latar belakang masing-masing, misalnya sama-sama berlatar belakang berbahasa Sunda, maka yang akan dipakai tentunya adalah bahasa Sunda. Namun bila belum diketahui, maka bahasa Indonesia menjadi opsi terbaik.[24]

    Bila pada bagian di atas sudah diketahui bagaimana situasi penggunaan bahasa Sunda pada ranah kekeluargaan, ketetanggaan, kekariban, dan juga transaksi, maka pada ranah pendidikan dan pemerintahan merupakan hal yang lain lagi. Dari sisi politis, bahasa Sunda adalah bahasa daerah, sedangkan bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, maka posisi bahasa Indonesia secara formal ditetapkan menjadi bahasa pengantar yang memiliki prestise dalam dunia pemerintahan dan pendidikan, sedangkan eksistensi bahasa Sunda pada kedua ranah tersebut mengalami tekanan dan posisinya tergeser karena adanya politisasi bahasa tadi.[24]

    Faktor-faktor lain yang cukup mempengaruhi pemertahanan bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis ialah akibat kebijakan yang dijalankan pada masa Orde Baru yang kurang menghargai keberadaan bahasa daerah sehingga bahasa Sunda kurang mendapat ruang dalam kurikulum, spesifiknya dengan kurangnya pelajaran muatan lokal bahasa Sunda. Berikut adalah tabel yang menunjukkan bagaimana situasi penggunaan bahasa Sunda oleh kaum milenial di Kabupaten Ciamis dari keenam ranah yang sudah dibahas sebelumnya dengan menggunakan rata-rata berskala 0-20 dengan ketentuan skor 20=selalu, 10=kadang-kadang, dan 0=tidak pernah.[24]

    Tabel penggunaan bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis[24]
    Nomor Ranah komunikasi Rata-rata
    1 Kekeluargaan 16,11
    2 Kekariban 15,33
    3 Ketetanggaan 15,25
    4 Transaksi 5,80
    5 Pendidikan 5,50
    6 Pemerintahan 7,33

    Dari tabel di atas, bahasa Sunda relatif masih sering digunakan terutama dalam ranah kekeluargaan.[25] Bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis menjadi bahasa pertama bagi mayoritas masyarakat sehingga mempengaruhi kekuatan pemertahanan, hal ini juga didorong oleh pengajaran bahasa Sunda di lingkungan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi oleh orangtua kepada anak-anaknya. Anak-anak yang diajarkan bahasa Sunda juga merasa bahwa komunikasi dengan bahasa Sunda cukup menarik dan mudah dipahami.[26]

    Klasifikasi

    Lihat pula: Dialek bahasa Sunda
    Beberapa skema pengklasifikasian dan penentuan posisi dialek Ciamis (bercetak tebal) bersanding dengan dialek-dialek bahasa Sunda lainnya.

    Seperti halnya dialek-dialek bahasa Sunda lainnya, bahasa Sunda Ciamis juga berada pada posisi tertentu dalam keseluruhan pengelompokan varian bahasa Sunda. Beberapa klasifikasi tersebut mempunyai skema yang berbeda-beda tergantung sumber referensi mana yang digunakan atau berdasarkan pendapat ahli yang berlainan. Contohnya, berdasarkan klasifikasi dari Glottolog 4.8, sebuah web yang menjadi pangkalan data bibliografi daring untuk pengklasifikasian bahasa-bahasa di seluruh dunia, bahasa Sunda Ciamis (dalam hal ini disebut sebagai dialek Ciamis) berada pada rumpun dialek Priangan yang juga memayungi empat dialek lainnya.[27] Sementara itu, berdasarkan rujukan dari salah seorang ahli bahasa asal Jerman Bernd Nothofer, bahasa Sunda dibagi menjadi enam dialek, termasuk dialek Ciamis di dalamnya yang juga disebut sebagai dialek Tenggara.

    Bila melihat dari hasil penelitian Wahya (2002) mengenai usahanya dalam mengkaji unsur relik bahasa Sunda, ia membuat senarai mengenai perbandingan antar dialek bahasa Sunda, yang mencakup bahasa Sunda Banten, Bogor, Bekasi, Ciamis, Cirebon, dan Brebes, bahasa Sunda Ciamis ditempatkan langsung di bawah bahasa Sunda secara umum.[28] Namun, pada pengelompokkan dalam situs Observatorium Linguasfer, bahasa Sunda ditempatkan bersama bahasa Badui dalam sebuah rumpun bahasa yang diberi nama rumpun bahasa Sunda-Badui, posisi dialek Ciamis sendiri berada dalam bahasa Sunda dan disebut dengan nama ID sebagai 31-MFN-ag Sunda-SE, yang merujuk pada Southeast Sundanese alias bahasa Sunda dialek Tenggara.[29]

    Penggunaan

    Wilayah kebahasaan

    Peta wilayah penggunaan bahasa di Kabupaten Ciamis.[30]

    Secara administratif, Kabupaten Ciamis berbatasan langsung dengan Provinsi Jawa Tengah di sebelah timur. Wilayah penggunaan bahasa Sunda selain di Kabupaten Ciamis, juga digunakan di wilayah Kabupaten Cilacap terutama di perbatasan Ciamis bagian timur sebelah utara yang bentuk wilayah penggunaannya menjorok ke dalam wilayah kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Cilacap (utamanya di Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, Cimanggu, dan Karangpucung).[31][32] Selain itu, wilayah persebaran bahasa Sunda Ciamis juga terdapat di daerah-daerah kantong, seperti di desa Gandrungmangu (kecamatan Gandrungmangu), Ujunggagak (kecamatan Kampung Laut), dan Rawajaya (kecamatan Bantarsari).[33]

    Lingkup penggunaan

    Bahasa Sunda Ciamis digunakan di berbagai hal dan dalam berbagai keadaan, misalnya, di rumah, di sekolah, di masyarakat, dalam korespondensi, dan dalam media massa. Penggunaan di rumah dapat terjadi antara pembicaraan seorang anak dengan ayah, ibu, sanak saudara, famili lain, dan pramuwismanya. Penggunaan di sekolah antara lain meliputi bahasa pengantar, pergaulan antar peserta didik, antarguru, dan antar guru dan peserta didik. Penggunaan di masyarakat berlangsung dengan tetangga, kelompok etnik, berlangsung di masjid atau gereja, dalam pekerjaan, dan dalam hiburan. Penggunaan dalam korespondensi berlangsung dalam surat menyurat, baik resmi maupun pribadi. Penggunaan dalam media massa antara lain terjadi melalui radio, televisi, bioskop, rekaman, surat kabar, majalah, buku, dan pidato.[34]

    Status bahasa

    Menurut para penuturnya, bahasa Sunda Ciamis adalah bahasa baku karena dianggap memiliki pembakuan, otonomi, kesejarahan, dan vitalitasnya tersendiri, selain itu, para penuturnya menganggap bahwa bahasa Sunda mempunyai status yang tidak rendah. Seperti yang dibuktikan dengan penggunaan bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis yang cukup intensif.[35]

    Peranan bahasa

    Sesuai dengan kedudukannya, bahasa Sunda Ciamis berperan sebagai bahasa daerah dan dianggap penting sekali hubungannya dengan fungsi bahasa Indonesia. Dalam berbagai situasi dan kepentingan, bahasa Sunda Ciamis selalu disesuaikan. Menurut pengamatan yang telah dilakukan, bahasa Sunda Ciamis dianggap sangat penting oleh para penuturnya, di samping bahasa Indonesia yang juga mempunyai peranan yang sama pentingnya dalam kehidupan para penutur tersebut.[36][37]

    Tradisi sastra

    Pantun berbahasa Sunda Ciamis

    Bahasa Sunda Ciamis digunakan dalam berbagai bentuk karya sastra, baik itu berupa sastra lisan, maupun sastra tulisan. Penggunaannya dapat dilihat dalam beberapa buah cerita rakyat yang diungkapkan menggunakan bahasa Sunda Ciamis.[38]

    Contoh tokoh sastra yang kerap mempergunakan bahasa Sunda Ciamis dalam karya-karyanya adalah Ahmad Bakri, yang merupakan seorang sastrawan dari daerah Rancah, Ciamis.[39][40] Beberapa karya-karyanya dapat dilihat di Google Books seperti contohnya, Cécéndét Mandé Kiara, Jaman Cacing Dua Saduit, dan Cobék Belut. Tokoh lainnya seperti Godi Suwarna yang berasal dari Tasikmalaya dan menetap di Ciamis juga melakukan hal yang sama seperti dalam novel karangannya yang berjudul Sandékala.

    Budaya populer

    Dalam budaya populer, kosakata bahasa Sunda Ciamis sering diselipkan dalam beberapa konten YouTube buatan beberapa YouTuber seperti pada kanal Apil yang kerap melakukan penyulihan suara dari video berbahasa asing ke dalam bahasa Sunda, juga ada kanal Tukang Baceo yang sering membuat versi kover lagu-lagu terkenal dalam bahasa Sunda.

    Galeri

    Di bawah ini adalah beberapa contoh pantun dalam bahasa Sunda yang dibumbui dengan leksikon-leksikon khas dialek Ciamis dengan berbagai macam tema.

    Pantun-pantun berbahasa Sunda Ciamis dalam poster digital
    • Pantun yang memperingatkan untuk tidak terlalu berlebihan dalam bercanda
      Pantun yang memperingatkan untuk tidak terlalu berlebihan dalam bercanda
    • Pantun tentang pentingnya berpikir kritis
      Pantun tentang pentingnya berpikir kritis
    • Pantun pendidikan tentang perlunya belajar sejak dini
      Pantun pendidikan tentang perlunya belajar sejak dini
    • Pantun yang menyarankan agar orang-orang jangan terlalu sering berutang
      Pantun yang menyarankan agar orang-orang jangan terlalu sering berutang

    Fonologi

    Tabel fonologi untuk bahasa Sunda Ciamis.

    Fonologi yang ditemukan pada bahasa Sunda Ciamis tidak menunjukkan adanya perbedaan dengan fonologi bahasa Sunda standar. Deskripsi di bawah mengacu pada keterangan oleh Prawiraatmaja et al. (1979).

    Konsonan

    Konsonan[41]
    Cara Ucapan Dasar Ucapan
    Bibir Ujung Lidah Daun Lidah Punggung Lidah Anak Tekak
    Letus Tak bersuara p t c k
    Bersuara b d j ɡ
    Geser Tak bersuara s h
    Bersuara
    Nasal m n n ŋ
    Sampingan l
    Getar r
    Luncuran w y

    Vokal

    Vokal[41]
    Depan Tengah Belakang
    Tinggi i u
    ɤ
    Sedang ə
    Agak Rendah ɛ ɔ
    Rendah a

    Macam dan distribusi fonem

    Salah satu leksikon khas bahasa Sunda Ciamis kanjat yang dapat dibaca dengan dua pelafalan.

    Bagan di bawah ini menunjukkan macam dan fonem bahasa Sunda Ciamis.[42]

    Distribusinya adalah sebagai berikut:
    /p/: Konsonan tak bersuara, bibir, letus[43]
    Misalnya:
    patimuʔ : bertemu
    ʔampah : rata
    ʔrɛpʡ : habis
    /b/: Konsonan bersuara, bibir, letus[43]
    Misalnya:
    bəŋkokʡ : sawah/tanah inventaris desa
    gɔbagʡ : permainan anak-anak
    ragabʡ : 1. gembira

    2. canggung

    /m/: Konsonan bibir, sengau[43]
    Misalnya:
    mɛmɛnɛran : berpacaran
    kasumpɔnan : terpenuhi
    kulicəm : muka masam
    /w/: Konsonan bibir, luncuran[43]
    Misalnya:
    wadɛh : kurang pantas
    hɛwaʔ : kurang pantas
    ciŋcauw : cincau
    /t/: Konsonan tak bersuara, ujung lidah, letus[43]
    Misalnya:
    tuguʔ : keluarga
    talitian : arisan
    badaratʡ : 1. jalan kaki

    2. berburu babi

    /d/: Konsonan bersuara, ujung lidah, letus[43]
    Misalnya:
    danas : nanas
    cɛdol : gurau
    ŋelodʡ : memutar
    /s/: Konsonan tak bersuara, ujung lidah, geseran[43]
    Misalnya:
    sɛdol : tidak berhati-hati
    kɔsaraʔ : tambang besar
    nərpas : menerobos, memintas
    /l/: Konsonan ujung lidah, sampingan[44]
    Misalnya:
    ligar : mekar
    lələtʡ : berputar dengan cepat
    [kɔdɔl] : tumpul
    /r/: Konsonan ujung lidah, getar[44]
    Misalnya:
    rɔrɔs : (kata umpatan)
    gɔrɔl : arisan pekerjaan
    lilingir : tepi, sisi
    /c/: Konsonan tak bersuara, daun lidah, letus[44]
    Misalnya:
    cɔdɛr : jahil
    cɔcɔh : kata umpatan
    /j/: Konsonan bersuara, daun lidah, letus[44]
    Misalnya:
    jahatʡ : 1. boros

    2. jahat

    titələjɔgʡ : terantuk
    /ɳ/: Konsonan daun lidah, sengau[44]
    Misalnya:
    ɳasapʡ : persiapan berladang
    babaɳɔn : mencuci tangan
    /y/: Konsonan daun lidah, luncuran[44]
    Misalnya:
    yapʡ : mari ke sini
    dayaŋ : wanita tuna susila
    dɤy : 1. pemanja (bagi anak laki-laki)

    2. sebutan (bagi orang yang lebih muda)

    /k/: Konsonan tak bersuara, punggung lidah, letus[44]
    Misalnya:
    kalagian : tidak seperti biasanya
    kɔwakan : cerukan air (di sawah atau di sungai)
    bəsəŋɛkʡ : lodeh cabai
    /g/: Konsonan bersuara, punggung lidah, letus[45]
    Misalnya:
    gambuh : dalang
    digalɔkʡ : dicampur
    ɳəntɔgʡ : 'itik manila'
    /n/: konsonan punggung lidah, sengau[46]
    Misalnya:
    ŋalɔŋ : bertandang
    ŋankriŋ : taluan lesung (waktu hendak selamatan)
    ŋɔbɛŋ : menangkap ikan hanya dengan tangan
    /h/: konsonan tak bersuara, anak tekak, geseran[46]
    Misalnya:
    hagɤy : ya
    mahprahan : memberitahukan pertemuan
    lɛmpɛh : reda
    /i/: vokal depan, agak tinggi, tak bundar[46]
    Misalnya:
    ʔicakan : petak sawah kecil
    bəlikan : cepat tersinggung
    cipatiʔ : santan
    /ɛ/: vokal depan, agak rendah, tak bundar[46]
    Misalnya:
    ʔɛtɛh : 'panggilan (untuk wanita yang lebih tua)'
    bɛŋkoŋ : dukun sunat
    gulɛʔ : gulai
    /a/: vokal tengah, rendah, tak bundar[46]
    Misalnya:
    ʔamriŋ : habis
    sanaɔn : berapa
    muharaʔ : muara
    /ə/: vokal tengah, sedang, tak bundar[46]
    Misalnya:
    ʔəndiʔ : mana
    budəgʡ : tuli
    /ɤ/: vokal belakang, tinggi, bundar[47]
    Misalnya:
    ʔɤcɤʔ : sebutan (untuk wanita yang lebih tua)
    sɤsɤrian : tertawa-tawa
    bɤ : mari ke sini
    /ɔ/: vokal belakang, agak rendah, bundar[48]
    Misalnya:
    ʔɔgɔʔ : manja
    ŋɔbɔs : berbincang-bincang
    ŋalɛkoʔ : berliku-liku
    /u/: vokal belakang, tinggi, bundar[48]
    Misalnya:
    ʔusumŋijih : musim hujan
    ŋulucur : memancar
    ləduʔ : malas

    Catatan

    • Konsonan letus pada posisi akhir tidak dilepas.[48]
    • Konsonan /c/, /j/, sengau /ɳ/, serta vokal /ə/ tidak terdapat pada posisi akhir.[48]
    • Konsonan /k/ pada posisi akhir diucapkan jelas, tidak dilepas dan tidak berupa hamzah (glotal).[48]
    • Bunyi hamzah /ʔ/ pada awal kata yang dimulai dengan vokal, pada tengah kata di antara dua vokal yang sejenis, dan pada akhir kata dengan suku terbuka tidak bersifat fonemis.[48]

    Gugus konsonan

    Gugus konsonan yang dimiliki oleh bahasa Sunda Ciamis berupa konsonan letus yang diikuti oleh /r/, /l/, atau /y/, dan konsonan /s/ yang diikuti /r/ atau /l/. Di bawah ini dijabarkan beberapa contohnya[49]

    pr : ʔamprok : berjumpa
    pl : caplakʡ : alat pertanian
    py : ampyaŋ : (panganan)
    br : dɔbrah : bobol
    bl : ʔɔblɔkʡ : sejenis bakul
    by : ʔubyagʡ : umum
    tr : kɔntraŋ : sejenis keranjang
    dr : balɛndraŋ : sayur sisa
    kr : ŋankriŋ : taluan lesung (waktu hendak selamatan)
    kl : klandiŋan : petai cina
    gr : jagragʡ : tersedia
    gl : səglɔŋ : telan
    cr : kancraʔ : ikan mas
    cl : clɔbɛkan : petak sawah kecil
    jr : gajrugʡ : gapai
    jl : gajləŋ : lompat
    sr : sraŋɛŋɛʔ : matahari

    Kontras konsonan dan vokal

    Dalam wilayah ucapan dicurigai adanya beberapa kontras konsonan dan vokal yang di antaranya:[50]

    /p : t/ paraʔ : taraʔ : langit-langit : tak pernah
    /c : k/ dicanduŋ : dikanduŋ : dimadu : dikandung
    /b : d/ bukaʔ : dukaʔ : buka : tidak tahu
    /j : g/ jəroʔ : gəroʔ : dalam : panggil
    /s : h/ panas : panah : panas : panah
    /m : n/ manah : nanah : hati : nanah
    /l : r/ lanjaŋ : ranjaŋ : gadis : tempat tidur
    /w : y/ ʔawi : ʔayi : bambu : adik
    /i : u/ ʔirit : ʔirut : hemat : tarik
    /ɤ : u/ tɤtɤp : tutup : tatap : tutup
    /ɛ : ə/ sɛrah : sərah : bulir padi : serah
    /a : ɔ/ jagaʔ : jagoʔ : kelak : jago

    Unsur-unsur khas

    Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan oleh Prawiraatmaja, Suriamiharja & Hidayat dalam buku Geografi Dialek Bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis (1979), ditemukan adanya unsur-unsur yang khas dipergunakan di wilayah Kabupaten Ciamis, juga di dalam buku Kamus Basa Sunda (2006) karya R.A. Danadibrata, tercatat beberapa entri yang memuat kosakata khas yang digunakan di wilayah Ciamis,[51] unsur-unsur tersebut dijabarkan di bawah ini.[52][53][54]

    Unsur leksikal

    No. Leksikon Glos Ref. No. Leksikon Glos Ref. No. Leksikon Glos Ref. No. Leksikon Glos Ref.
    1 amring habis [55] 11 karari daun kelapa kering [56] 21 kosi pernah [57] 31 mantak kalau-kalau [58]
    2 ligar mekar [59] 12 corabi serabi [60] 22 tugu keluarga [61] 32 kalagian tumben [56]
    3 mantang ubi jalar [62] 13 bagedor pohon pisang [63] 23 lalangko alat pemikul [64] 33 sanaon berapa [65]
    4 becis dingin [66] 14 géndot genjer [67] 24 kancra ikan mas [68] 34 kodol tumpul [69]
    5 garit/garitan alat pertanian [70] 15 jahat boros [71] 25 amil lebai [72] 35 bagbagan tempat

    mencuci di pinggir kolam

    [73]
    6 bedan jelek [66] 16 janggél (panganan) [74] 26 gembip tembam [75] 36 belis setan [76]
    7 cipati santan [77] 17 tukang kemasan tukang mas [78] 27 hageuy ya [79] 37 béngkong dukun sunat [80]
    8 pané dulang [81] 18 usuk kaso-kaso [81] 28 nyéréd menarik dari depan [82] 38 gandul pepaya [83]
    9 gobag (permainan anak-anak) [84] 19 kuwu kepala desa [85] 29 padasan tempat wudu [86] 39 cuang (mari) kita [87]
    10 danas nanas [88] 20 golongan kepala kampung [89] 30 roros (kata umpatan) [90] 40 ogén juga [91]
    Frasa teu kosi (tak perlu) yang dibentuk dari perubahan fonologis dan semantik kosi dengan pemarkah negasi teu (tidak).

    Selain unsur-unsur leksikal yang dihasilkan oleh inovasi internal maupun eksternal seperti pada tabel di atas, ada pula kosakata yang terdapat dalam kedua dialek (Sunda Priangan & Sunda Ciamis), tetapi memiliki makna yang berbeda, seperti contohnya isukan dalam dialek Priangan bermakna "besok", sementara dalam dialek Ciamis bermakna "kapan-kapan", "besok" sendiri dalam bahasa Sunda Ciamis adalah isuk, contoh lainnya adalah ngaruy yang dalam dialek Ciamis bermakna "gerimis", sementara dalam dialek Priangan bermakna "mengeluarkan air liur yang tak terbendung karena berhasrat ingin menghabiskan makanan".[92][93] Beberapa partikel juga khas digunakan di wilayah Ciamis, seperti beu 'berikanlah padaku' dan jih 'ih'.

    Unsur morfologis

    Unsur khas yang ditemukan dalam tataran leksikal di antaranya yaitu:[92]

    1. pak- (awalan), sebuah morfem sintaktik[94][c]

    Unsur morfosintaksis

    1. ka-(A)/sing ka-(A) = sing (A) dalam bahasa Sunda Standar.[95]

    Variasi kebahasaan

    Berdasarkan daerah kebahasaannya, kekhasan bahasa Sunda Ciamis juga dapat dibagi lagi ke dalam beberapa sub-wilayah, seperti daerah utara dan daerah selatan. Perbandingan kekhasan daerah utara dan selatan tersebut dapat dijabarkan di bawah ini.[96]

    No. Utara Selatan Ref. Glos No. Utara Selatan Ref. Glos No. Utara Selatan Ref. Glos
    1 énéng gudél [97] anak kerbau 9 jango angkatan [98] tangkai sejenis

    alat penangkap ikan

    17 léngké langko/lalangko [64] alat pemikul
    2 anak sapi gudél [99] anak sapi 10 galah gobag [84] permainan

    anak-anak

    18 muhara muara [100] muara
    3 papangé bangbarung

    babancik

    [101] kayu bagian

    pintu yang terlangkahi

    11 bagedor gebog

    gedebong

    gedebog

    [63] pohon pisang 19 oblok tolombon leutik [102] sejenis bakul
    4 warang bésan [103] besan 12 janggél ganyél

    baganyél

    jalén

    [74] panganan 20 raginang rangginang [104] panganan
    5 (ka)lungguh(an) bengkok [105] sawah/tanah

    inventaris desa

    13 kacang

    banten

    kacang

    manila

    [106] kacang tanah 21 sangu poé sangu wadang [107] nasi sisa
    6 cingcau camcau [108] cincau 14 lurah/rurah golongan [89] kepala kampung 22 sorabi surabi [60] serabi
    7 cipatri cipatri [109] santan 15 icakan kotakan [110] petak sawah kecil 23
    8 ganong derep [111] menuai 16 kungsi kosi [57] pernah 24

    Variasi di daerah pesisir

    Di daerah pesisir seperti Pangandaran, bahasa Sunda memiliki beberapa variasi lagi yang berkenaan dengan lafal, bentuk kata, dan arti. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Afsari & Muhtadin (2019) dalam jurnal kebahasaan Pustaka,[112] ditemukan adanya perbedaan fonologis, perbedaan morfologis, perbedaan semantis, dan perbedaan onomasiologis, seperti yang dijabarkan di bawah ini.[113][114][115]

    Perbedaan fonologis Perbedaan morfologis Perbedaan semantis Perbedaan onosmasiologis
    Variasi

    bahasa

    Bentuk

    Standar

    Glos Variasi

    bahasa

    Bentuk

    Standar

    Glos Variasi

    bahasa

    Bentuk

    Standar

    Glos Variasi

    bahasa

    Bentuk

    Standar

    Glos
    cucun turun turun koh ongkoh (kata penujuk) kanjat meujeuhna cukup atau pas (sesuai) siram mandi mandi
    uhun muhun iya curugan curug air terjun kunir konéng kunyit tangkar tulang sapi tulang sapi[d]
    miando mindo menambah nasi harah har (interjeksi) balandongan panggung panggung pertunjukan
    baé waé lagi, saja samarukeun sarukeun disamakan mendi mana mana

    Begitu pula dengan hasil penelitian Widyastuti (2017) dalam jurnal bahasa sastra dan budaya Lokabasa,[116] ditemukan bermacam-macam istilah pemakaian bahasa Sunda di wilayah Sidamulih, Pangandaran yang berbeda dengan bahasa Sunda baku,[117] berkenaan dengan istilah keturunan,[118] kata ganti,[118] bagian rumah,[119] peralatan,[119] makanan dan minuman,[119] penyakit,[119] pekerjaan,[119] tumbuhan dan buah-buahan,[119] hewan,[120] sifat-sifat manusia,[120] musim dan keadaan alam,[120] serta istilah kehidupan desa dan masyarakat.[120] Ditemukan pula adanya perbedaan fonetik,[121] semantis,[122] onosmasiologis,[123] dan semasiologis.[124]

    Gejala bahasa lainnya

    Adanya gejala-gejala dalam bahasa Sunda Ciamis menimbulkan perbedaan bunyi yang menciptakan variasi berupa sinonoim atau kata-kata yang maknanya sama tetapi bunyinya berbeda. Gejala-gejala tersebut dijabarkan di bawah ini.[125]

    Variasi bunyi

    Variasi kosakata untuk menyatakan konsep "tumpul" di wilayah Ciamis

    Vokal

    1. ɤ dan e : lɤpɤt dan lepetʡ 'sejenis lontong'[126]
    2. a dan ɔ : dɔbrah dan dɔbroh 'bobol'[126]
    3. ɛ dan ɔ : cɛlɛbɛkan dan cɔlɔbɛkan 'petakan sawah kecil'[126]
    4. a dan ə : diharəbʡ dan dihərəbʡ 'diiris'[126]
    5. u dan ɔ : kusi dan kɔsi 'pernah'[126]
    6. a dan i : kalikibən dan kilikibən 'sakit perut setelah makan'[126]
    7. a dan ɛ : gandonɤn dan gɛndonɤn gondok'[126]
    8. i dan ɛ : niniʔ dan nɛnɛʔ 'nenek'[126]
    9. i dan ɔ : ʔəniŋ dan ʔənɔŋ 'sebutan untuk perempuan'[126]
    10. i dan ə : patimuʔ dan patemuʔ 'bertemu'[126]

    Konsonan

    1. h dan k : digalɔh dan digalɔk 'dicampur'[126]
    2. g dan h : gədəbɔgʡ dan gədəbɔŋ 'pohon pisang'[126]
    3. g dan r : gədəbɔgʡ dan gədəbɔr 'pohon pisang'[126]
    4. ŋ dan r : gədəbɔŋ dan gədəbɔr 'pohon pisang'[126]
    5. b dan p : cɛlɛbɛkan dan cɛlɛpɛkan 'petakan sawah kecil'[126]
    6. c dan s : kacumpɔnan dan kasumpɔnan 'terpenuhi'[126]
    7. d dan g : danas dan ganas 'nanas'[126]
    8. l dan h : gaɳɔl dan gaɳɔh 'sejenis ubi'[126]
    9. l dan b : gudɛl dan gudɛbʡ 'anak kerbau'[126]
    10. p dan t : lɛspar dan lɛstar 'datar'[126]
    11. b dan g : bəncɔy dan gəncɔy 'sejenis kepundung'[126]
    12. t dan d : bɛtan dan bɛdan 'jelek'[126]
    13. ŋ dan n : taluŋtas dan taluntas 'beluntas'[126]
    14. n dan r : risban dan risbar 'bakau'[126]
    15. w dan t : waluntas dan taluntas 'beluntas'[126]
    16. w dan b : wakul dan bakul 'dicampur'[126]

    Penggugusan

    1. pontan → pɔntran 'tempat membawa makanan'[127]
    2. cɔlɔbɛkan → clɔbɛkan 'petakan sawah kecil'[127]
    3. cipatiʔ → cipatriʔ 'santan'[127]

    Penghilangan fonem di awal

    1. ŋaran → ʔaran 'nama'[127]
    2. tɛtɛh → ʔɛtɛh 'sebutan untuk wanita yang lebih tua[127]
    3. bibi → ʔibi 'bibi'[127]

    Penghilangan fonem di tengah

    1. buhayaʔ → buayaʔ 'buaya'[127]
    2. muharaʔ → muaraʔ 'muara'[127]
    3. titiŋkuhɤn → titiŋkuɤn 'sejenis penyakit'[127]

    Penghilangan fonem di akhir

    1. saladah → saladaʔ 'selada'[127]
    2. ganɔl → ganɔʔ 'sejenis ubi'[127]

    Penambahan fonem di awal

    1. bal → ʔəbal 'bola'[127]
    2. bel → ʔəbel 'sejenis kapak'[127]
    3. wɔŋ → ʔəwɔŋ 'orang'[127]

    Penambahan fonem di tengah

    1. mutuʔ → muntuʔ 'muntu'[127]
    2. matakʡ → mantakʡ 'kalau-kalau'[127]
    3. gəbɔgʡ → gədəbɔgʡ 'pohon pisang'[127]

    Penambahan unsur ka di awal

    1. mɛntɛŋ → kamɛntɛŋ '(sejenis) dukuh'[e][127]

    Penambahan unsur ra di awal

    1. mɛntɛŋ → ramɛntɛŋ '(sejenis) dukuh'[127]

    Penggabungan

    1. saladah aɛr → saladaɛr 'selada air'[f][128]

    Metatesis

    1. lɔgɔjɔ → gɔlɔjɔʔ 'algojo'[128]
    2. ŋədul → ŋəlud 'malas'[128]
    3. laduʔ → daluʔ 'terlalu masak'[128]

    Perulangan suku kata awal

    1. bɛlɛcɛkʡ → bɛbɛlɛcɛkʡ 'petak sawah kecil'[128]
    2. caŋkir → cacaŋkir 'gelas'[128]
    3. dəmpəl → dədəmpəl 'panganan dari jagung'[128]
    4. gajih → gagajih 'lemak'[128]
    5. jəŋkɔk → jəjəŋkɔk 'kursi kecil'[128]
    6. kərak → kəkərakʡ 'intip'[128]
    7. lamukʡ → lalamukʡ 'mega'[128]
    8. mutuʔ → mumutuʔ 'muntu'[128]

    Variasi perulangan utuh dan perulangan suku kata awal

    1. ʔɤrihʔ ɤrihɤn → ʔɤɤrihɤn 'sejenis penyakit'[128]
    2. kamiʔ kamian → kakamian 'masing-masing'[128]
    3. mɛnɛrmɛnɛran → mɛmɛnɛran 'berkasih-kasihan'[128]

    Perulangan utuh dan perubahan vokal

    1. ʔumah ʔumah 'berumah tangga'[128]
    2. sanakʡ sanakʡ 'saudara sepupu'[128]
    3. rawas rawas 'sayup-sayup, samar-samar'[128]
    4. tabaŋ tabaŋ 'samar-samar'[128]
    5. camatʡ cimutʡ 'makan tidak bernafsu'[128]
    6. kulaŋ kalɛŋ 'tangkai alat penangkap ikan'[128]
    7. putar patɛr 'tak terkelola'[128]
    8. sipah sipih 'jahil'[128]
    9. ʔugaʔ ʔagɛʔ 'bergegas'[128]
    10. umplaŋampleŋ 'luntang-lantung'[128]
    11. uŋkal ɛŋkɔl 'berbelit-belit'[129]
    12. ʔurayʔaruy 'ke sana ke mari bersama-sama'[129]

    Tambah unsur an di akhir

    1. garitʡ-garitan 'alat pertanian'[129]
    2. cəprɛtʡ-cəprɛtan 'alat tukang kayu'[129]

    Homonim

    Di samping gejala sinonim, ditemukan pula gejala homonim atau kata yang sebentuk tetapi mempunyai makna yang berbeda.[129]

    ʔirigʡ 1. 'tempat menjemur opak' 2. 'alat penangkap ikan'
    jahatʡ 1. 'boros' 2. 'jahat'
    badaratʡ 1. 'jalan kaki' 2. 'berburu babi'
    kaguguʔ 1. 'ingin tertawa' 2. 'terbawa'
    ŋalɔŋ 1. 'bergadang' 2. 'menatap lama misalnya dari jendela'
    kapiŋ 1. 'tanggal' 2. 'batas'
    mancuŋ 1. 'mancung' 2. 'seludang kelapa'
    ləpatʡ 1. 'lupa' 2. 'salah'
    ligar 1. 'mekar' 2. 'luruh'
    jarambah 1. 'senang bermain jauh' 2. 'tempat mencuci di atas kolam'
    gəbɔgʡ 1. 'pohon pisang' 2. 'sejenis bakul'
    ragabʡ 1. 'canggung' 2. 'senang'
    katikʡ 1. 'didik' 2. 'pakai'
    kəciŋ 1. 'penakut' 2. 'kecut' 3. 'malas'
    ɳeredʡ 1. 'menarik' 2. 'mendorong' 3. 'menggeser'

    Contoh

    Teks 1

    "Tukang bajigur nu unggal burit nepikeun ka tengah peuting mangkal gigireun gang guramé, nu sabeulah kénca panonna rada buruk, jaba bisa dicoplokkeun tuluy diasupkeun deui panonna téa, cenahmah baheula tukang kudak-kadék sakadaék. Bedogna seukeut, teu kaci kodol, diasah sapoé tilu kali."

    "Penjaja bajigur yang tiap sore hingga tengah malam memangkal di samping gang gurame, yang sebelah kiri matanya agak buram, juga bisa dilepaskan lalu dimasukkan lagi matanya itu, konon dulu seorang pembacok semena-mena. Goloknya tajam, tak mungkin tumpul, diasah sehari tiga kali."

    — Heriyadi, W. (2016). Warani, T. (ed.). Bajigur Kana Henpon: Kumpulan Carita. Kentjana Indie (Illustrator). Kentja Press. hlm. 29. ISBN 978-602-73539-6-1., Paragraf 1 dari Balad Tukang Bajigur

    Teks 2

    <br>\"Pada saat hendak berdatangannya onom-onom yang diundang biasanya walaupun sedang musim kemarau yang sangat panas, seringkali secara mendadak langit menjadi berawan, lalu muncul gerimis, tetapi tidak lama, kira-kira hanya seperempat jam, dari situ lalu kembali lagi ke keadaan awal.\""},"author":{"wt":"{{Cite book|title=Onom jeung Rawa Lakbok|last=Danadibrata|first=R.A|publisher=Kiblat Buku Utama|year=1979|oclc=6427341|pages=[https://www.google.co.id/books/edition/Onom_jeung_Rawa_Lakbok/0VAtAQAAIAAJ?hl=en&gbpv=1&bsq=%22danadibrata%22+%22ngaruy%22&dq=%22danadibrata%22+%22ngaruy%22&printsec=frontcover 69]|url=https://books.google.co.id/books?id=0VAtAQAAIAAJ}}"},"title":{"wt":""}},"i":0}}]}' id="mwDGc"/>

    "Dina rék datangna onom-onom nu diondang biasana najan keur musim katiga entang-entangan, sok ngadak-ngadak reueuk mendung heula, terus ngaruy saeutik, tapi tara lila, kira-kira ukur saparapat jam, ti dinya mah bray deui lenglang sakumaha asal."

    "Pada saat hendak berdatangannya onom-onom yang diundang biasanya walaupun sedang musim kemarau yang sangat panas, seringkali secara mendadak langit menjadi berawan, lalu muncul gerimis, tetapi tidak lama, kira-kira hanya seperempat jam, dari situ lalu kembali lagi ke keadaan awal."

    — Danadibrata, R.A (1979). Onom jeung Rawa Lakbok. Kiblat Buku Utama. hlm. 69. OCLC 6427341.

    Lihat pula

    • iconPortal Bahasa
    • flagPortal Indonesia
    • Portal Sunda
    • Bahasa Sunda Brebes
    • Bahasa Sunda di Kabupaten Banyumas
    • Bahasa Sunda Kuningan
    • Bahasa Sunda Tasikmalaya
    • Dialek bahasa Sunda

    Rujukan

    Keterangan

    1. ↑ Didasarkan pada hitungan kasar jumlah penduduk di wilayah tersebut dan asumsi semua penduduk di wilayah tersebut menggunakan dialek ini.
    2. ↑ Kebenaran pendapat umum ini masih harus terus dibuktikan, antara lain dengan meneliti kekhasan kebahasaan di kabupaten-kabupaten dan daerah sekeliling Kabupaten Ciamis, dan kemudian membandingkannya dengan kekhasan kebahasaan di daerah Ciamis yang telah dikemukakan.
    3. ↑ Contoh penggunaan unsur ini terdapat pada kata pakbeledug 'berbunyi beledug', bandingkan dengan bentuk bahasa Sunda baku ngabeledug.
    4. ↑ Kata tangkar di daerah Pangadaran digunakan untuk menyatakan tulang sapi, sedangkan dalam bahasa Sunda Priangan, tangkar digunakan untuk menyatakan tulang hewan yang masih muda atau lunak, seperti tulang telinga dan tulang iga pada burung.
    5. ↑ Unsur ka di sini bukan merupakan awalan karena ka berhadapan dengan kata benda. Dalam bahasa Sunda tidak ada ka awalan yang diikuti kata benda.
    6. ↑ Kata saladah 'selada' dan aɛr 'air' diduga menjadi asal dari kata ini.

    Sitiran

    1. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 32-33.
    2. ↑ Wahyuni (2010), hlm. 72.
    3. ↑ Hidayat (2014), hlm. 2.
    4. ↑ Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis (2020).
    5. ↑ Maarif (2021).
    6. ↑ Kementerian Dalam Negeri (2020).
    7. ↑ "UNESCO Interactive Atlas of the World's Languages in Danger" (dalam bahasa bahasa Inggris, Prancis, Spanyol, Rusia, and Tionghoa). UNESCO. 2011. Diarsipkan dari asli tanggal 29 April 2022. Diakses tanggal 26 Juni 2011. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)
    8. ↑ "UNESCO Atlas of the World's Languages in Danger" (PDF) (dalam bahasa Inggris). UNESCO. 2010. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 31 Mei 2022. Diakses tanggal 31 Mei 2022.
    9. 1 2 3 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 70.
    10. 1 2 Wagiati, Darmayanti & Zein (2021), hlm. 154.
    11. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 71.
    12. 1 2 3 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 18.
    13. ↑ Wagiati, Darmayanti & Zein (2021), hlm. 153.
    14. ↑ Wagiati, Darmayanti & Zein (2021), hlm. 151-152.
    15. ↑ Nastiti & Djafar (2017), hlm. 102.
    16. ↑ Nastiti & Djafar (2017), hlm. 104.
    17. ↑ Nastiti & Djafar (2017), hlm. 108.
    18. ↑ Nastiti & Djafar (2017), hlm. 107-111.
    19. ↑ Nastiti & Djafar (2017), hlm. 106-107.
    20. ↑ Nastiti & Djafar (2017), hlm. 113.
    21. ↑ Nastiti & Djafar (2017), hlm. 113-114.
    22. 1 2 Nastiti & Djafar (2017), hlm. 115.
    23. ↑ Wagiati, Darmayanti & Zein (2022), hlm. 271.
    24. 1 2 3 4 Wagiati, Darmayanti & Zein (2022), hlm. 275.
    25. ↑ Wagiati, Darmayanti & Zein (2022), hlm. 276.
    26. ↑ Wagiati, Darmayanti & Zein (2022), hlm. 276-277.
    27. ↑ Hammarström, Forkel & Haspelmath (2022).
    28. ↑ Wahya (2002), hlm. 5.
    29. ↑ Dalby (1999), hlm. 261.
    30. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 13.
    31. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 11.
    32. ↑ Wagiati, Darmayanti & Zein (2021), hlm. 160.
    33. ↑ Wulandari & Shomami (2019), hlm. 140.
    34. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 12.
    35. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 13-14.
    36. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 14.
    37. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 15.
    38. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 16-17.
    39. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 17.
    40. ↑ Rosidi (2011), hlm. 130.
    41. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 19.
    42. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 18-23.
    43. 1 2 3 4 5 6 7 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 20.
    44. 1 2 3 4 5 6 7 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 21.
    45. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 21-22.
    46. 1 2 3 4 5 6 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 22.
    47. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 22-23.
    48. 1 2 3 4 5 6 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 23.
    49. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 23-24.
    50. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 24.
    51. ↑ Wahya (2018), hlm. 165.
    52. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 25-37.
    53. ↑ Wahya (2018), hlm. 162.
    54. ↑ Wahya (2018), hlm. 166.
    55. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 80.
    56. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 31.
    57. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 133.
    58. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 33.
    59. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 92.
    60. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 175.
    61. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 134.
    62. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 93.
    63. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 114.
    64. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 136.
    65. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 170.
    66. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 27.
    67. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 116.
    68. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 137.
    69. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 145.
    70. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 99.
    71. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 120.
    72. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 138.
    73. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 85.
    74. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 121.
    75. ↑ Danadibrata (2006), hlm. 220.
    76. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 89.
    77. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 28.
    78. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 125.
    79. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 30.
    80. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 90.
    81. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 128.
    82. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 154.
    83. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 115.
    84. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 110.
    85. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 130.
    86. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 156.
    87. ↑ Danadibrata (2006), hlm. 149.
    88. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 111.
    89. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 131.
    90. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 166.
    91. ↑ Danadibrata (2006), hlm. 472.
    92. 1 2 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 26.
    93. ↑ Eriga (2016), hlm. 4-5.
    94. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 173.
    95. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 37.
    96. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 60-61.
    97. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 81.
    98. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 109.
    99. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 82.
    100. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 147.
    101. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 86.
    102. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 155.
    103. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 91.
    104. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 168.
    105. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 100.
    106. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 124.
    107. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 172.
    108. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 102.
    109. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 103.
    110. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 132.
    111. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 105.
    112. ↑ Afsari & Muhtadin (2019), hlm. 13-16.
    113. ↑ Afsari & Muhtadin (2019), hlm. 14.
    114. ↑ Afsari & Muhtadin (2019), hlm. 15.
    115. ↑ Afsari & Muhtadin (2019), hlm. 16.
    116. ↑ Widyastuti (2017), hlm. 101-111.
    117. ↑ Widyastuti (2017), hlm. 103.
    118. 1 2 Widyastuti (2017), hlm. 104.
    119. 1 2 3 4 5 6 Widyastuti (2017), hlm. 105.
    120. 1 2 3 4 Widyastuti (2017), hlm. 106.
    121. ↑ Widyastuti (2017), hlm. 106-107.
    122. ↑ Widyastuti (2017), hlm. 108.
    123. ↑ Widyastuti (2017), hlm. 109-110.
    124. ↑ Widyastuti (2017), hlm. 110.
    125. ↑ Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 64-69.
    126. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 64.
    127. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 67.
    128. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 68.
    129. 1 2 3 4 5 Prawiraatmaja et al. (1979), hlm. 69.

    Bibliografi

    • Afsari, A.S.; Muhtadin, T. (2019). "Variasi Bahasa Sunda di Daerah Pesisir Jabar Selatan". Pustaka: Jurnal Ilmu-Ilmu Budaya. 19 (1): 13–16. doi:10.24843/PJIIB.2019.v19.i01.p03. ISSN 2528-7516. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Badan Pusat Statistik Kabupaten Ciamis (2020). "Kabupaten Ciamis Dalam Angka 2020" (pdf). www.ciamiskab.bps.go.id. Diakses tanggal 10 November 2020.
    • Dalby, D. (1999). The linguasphere register of the world's languages and speech communities. Vol. 1. Wales: Gwasg y Byd Iaith (Cymru). hlm. 225–300. ISBN 978-0-9532919-1-5. OCLC 44777487. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Danadibrata, R.A. (2006). Kamus basa Sunda. Bandung: Diterbitkan atas kerjasama dengan Kiblat Buku Utama dan Universitas Padjadjaran. ISBN 979-3631-91-0. OCLC 607505727. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Eriga, B. (2016). Efektivitas Komunikasi Interpersonal Menggunakan Dua Bahasa Yang Berbeda Di Desa Maruyungsari Kecamatan Padaherang Kabupaten Pangandaran (S-1 thesis). Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto.
    • Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2022). "Ciamis". Glottolog 4.7. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ;
    • Hidayat, E. (2014). Tindak Tutur Deklaratif Dalam Wacana Khotbah Jumat Bahasa Sunda Di Masjid Baiturrahman Desa Bener Kecamatan Majenang Kabupaten Cilacap (S-1 thesis). Universitas Muhammadiyah Surakarta.
    • Kementerian Dalam Negeri (2020). "Visualisasi Data Kependudukan - Kementerian Dalam Negeri 2020". www.dukcapil.kemendagri.go.id. Diakses tanggal 21 Agustus 2021.
    • Maarif, S. (2021). "Angka Pertumbuhan Penduduk di Pangandaran Menurun pada 2020". timesindonesia.co.id. Diakses tanggal 26 Desember 2021.
    • Nastiti, T.S.; Djafar, H. (2017). "Prasasti-Prasasti dari Masa Hindu-Buddha (Abad ke-12-16 Masehi) di Kabupaten Ciamis, Jawa Barat". PURBAWIDYA: Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi. 5 (2): 101–116. doi:10.24164/pw.v5i2.115. OCLC 7181522611.
    • Prawiraatmaja, D.; Surimiharja, A.; Hidayat (1979). Geografi Dialek Bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. OCLC 248296391. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Rosidi, A. (2011). Badak Sunda dan Harimau Sunda Kegagalan Pelajaran Bahasa. Bandung: Dunia Pustaka Jaya. ISBN 9789794195727. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Wagiati; Darmayanti, N.; Zein, D. (2021). "Dialektologi Perseptual Variasi Linguistik Bahasa Sunda Dialek Ciamis Provinsi Jawa Barat". Metalingua. 19 (1): 151–162. Diarsipkan dari asli tanggal 2023-02-05. Diakses tanggal 2023-02-05. ;
    • ———; Darmayanti, N.; Zein, D. (2022). "Sikap Berbahasa dan Peran Generasi Milenial terhadap Pemertahanan Bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis, Provinsi Jawa Barat". METAHUMANIORA - Jurnal Bahasa, Sastra, dan Budaya. 12 (3): 271–279. doi:10.24198/metahumaniora.v12i3.38650. ISSN 2085-4838.
    • Wahya (2002). "Sekilas Tentang Unsur Relik dalam Bahasa Sunda" (PDF). Sastra. 10 (1). Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran: 1–9.
    • ——— (2018). "Model Penjelasan Lema Kosakata Dialek dalam Kamus Basa Sunda R. A. Danadibrata". Metahumaniora. 8 (2): 161–169. doi:10.24198/metahumaniora.v8i2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
    • Wahyuni, S. (2010). "Tarik-Menarik Bahasa Jawa Dialek Banyumas dan Bahasa Sunda di Perbatasan Jawa Tengah-Jawa Barat Bagian Selatan sebagai Sikap Pemertahanan Bahasa oleh Penutur". Seminar Nasional Pemertahanan Bahasa Nusantara: 70–77.
    • Widyastuti, T. (2017). "Bahasa Sunda Dialek Pangandaran di Kecamatan Sidamulih (Kajian Fonologis)". Lokabasa: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Budaya Daerah serta Pengajarannya. 8 (1): 101–111. doi:10.17509/jlb.v8i1.15971.
    • Wulandari, L.S.; Shomami, A. (2019). "Perubahan Wilayah Pakai Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa di Kabupaten Cilacap Jawa Tengah". Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa. 17 (2): 135–141. doi:10.26499/metalingua.v17i2.403.

    Pranala luar

    Lihat Kategori:Kata wewengkon ciamis di Wiktionary, kamus gratis.
    Lihat Lampiran:Perbandingan Dialek Ciamis dan Priangan di Wiktionary, kamus gratis.
    Wikimedia Commons memiliki media mengenai Ciamis Sundanese language.

    Bahasa Sunda Ciamis

    • Lema khas Ciamis dalam entri kamus bahasa Sunda karya R.A. Danadibrata di Google Books
    • Ki Ganda dan Ki Sari Edisi Transliterasi Teks dan Terjemah, Wawacan berbahasa Sunda Ciamis
    • Rangga Maléla Cerita berbahasa Sunda Ciamis karya Olla S. Sumarnaputra.
    • Bajigur Kana Hénpon Kumpulan cerita berbahasa Sunda Ciamis yang dikompilasi oleh Wahyu Heriyadi
    • Pepeling pak ustadz Cerita pendek berbahasa Sunda Ciamis dari seorang narablog (diarsipkan di sini)
    • Nganjang ka Imah Haji Damiri Cerita pendek berbahasa Sunda Ciamis dari seorang narablog
    • Ciamis Mah Gak Ada [Khas Ciamis Pisan], sebuah video YouTube yang menjabarkan beberapa leksikon khas bahasa Sunda Ciamis

    Bahasa Sunda Umum

    • Pedoman Ejaan Bahasa Sunda Yang Disempurnakan
    • Kamus Sunda-Indonesia Repositori Kemdikbud
    • Kamus Bahasa Sunda-Inggris oleh F.S. Eringa
    • Konverter Aksara Latin-Aksara Sunda di kairaga.com
    • Tabel Karakter Unicode Aksara Sunda di unicode-table.com
    • l
    • b
    • s
    Bahasa Sunda
    Sejarah
    • Kuno (abad ke-12—16)
    • Klasik (abad ke-17—18)
    • Modern Awal (abad ke-19)
    • Modern (abad ke-20—kini)
    Aksara Sunda
    Sistem penulisan
    Aksara
    • Buda
    • Kuno
    • Baku
    • Pegon
    • Latin
    Unicode
    • Blok Unicode (karakter)
    • Supplement (tanda baca)
    Tingkat tutur
    Bahasa
    • Hormat
      • ka batur
      • ka sorangan
    • Loma
    Kosakata
    • Lemes
      • pisan
      • enteng
      • dusun
    • Sedeng
    • Panengah
    • Loma
    • Cohag
    Ragam
    Dialek
    Banten
    • Pandeglang
    • Serang
    • Tangerang
    Pesisir Utara
    • Binong
    • Bogor
    • Karawang
    Priangan
    • Bandung
    • Ciamis
    • Garut
    • Sumedang
    • Tasikmalaya
    Cirebon
    • Brebes
    • Indramayu
    • Kuningan
    • Majalengka
    Nonbaku
    • Basa budak (bahasa kanak-kanak)
    • Widal (slang)
    Bahasa terkait
    • Badui
    • Banyumas†
    • Depok
    • Lombok Barat
    • Tegal
    Gramatika
    • Tata bahasa
    • Fonologi
      • Rinéka sora
    • IPA
    Otoritas
    • Lembaga
    • Kongres
    • Kamus R.A. Danadibrata
    Topik terkait
    • Angka
    • Ejaan
    • Rumpun
    • Sastra
    • Wikipedia
    • l
    • b
    • s
    Topik mengenai Ciamis
    Sejarah
    • Kerajaan Kendan
    • Kerajaan Galuh
    • Kadipaten Panjalu
    • Kawali
    • Ciung Wanara
    • Kerajaan Sunda Galuh
    Kebudayaan
    • Ayam sentul
    • Bahasa Sunda Ciamis
    • Bebegig Sukamantri
    • Gondang buhun
    • Nyangku
    • Onom
    • Ronggeng gunung
    • Merlawu
    • Misalin
    • Ngikis
    • Nyuguh
    Objek wisata dan
    markah tanah
    • Alun-alun
    • Situ Lengkong
    • Prasasti Astana Gede
    • Prasasti Sadapaingan
    • Situs Karangkamulyan
    • Masjid Agung Ciamis
    • Gereja Santo Yohanes Pembaptis
    • Jembatan Cirahong
    • Museum Galuh Pakuan
    • Museum Universitas Galuh
    • Gong Perdamaian Dunia
    • Candi Ronggeng
    Geografi
    • Kawasan Konservasi Perairan Daerah Kabupaten Ciamis
    • Suaka Margasatwa Gunung Sawal
    • Hutan Larangan Kampung Kuta
    • Ci Tanduy
    Politik
    • Bupati
      • Daftar
      • Pemilihan umum
    • Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Ciamis
    Pendidikan
    • Universitas Galuh
    • Institut Agama Islam Darussalam
    • Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Ma'arif
    • Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Muhammadiyah
    • Sekolah Tinggi Agama Islam Putra Galuh
    • Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Galuh
    • Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Ar-Risalah
    • Sekolah Tinggi Hukum Galuh
    • Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah Sirnarasa
    Kesehatan
    Rumah sakit
    • RSUD Kabupaten
    • RSUD Kawali
    • RSUD Bunda Asih
    • RS Al-Arif
    • RS Permata Bunda
    • RS Orthopaedi
    • RS Bersalin Harapan Bunda
    • RSU Nirmala
    • Rumah Sakit Umum Dadi Keluarga
    Puskesmas
    • Banjarsari
    • Ciulu
    • Cigayam
    • Lakbok
    • Sidaharja
    • Ciawitali
    • Pamarican
    • Kertahayu
    • Janggala
    • Cimaragas
    • Cijeungjing
    • Handapherang
    • Cisaga
    • Tambaksari
    • Rancah
    • Rajadesa
    • Margahaja
    • Ciamis
    • Imbanagara
    • Baregbeg
    • Sindangkasih
    • Mandalika
    • Cihaurbeuti
    • Sukamulya
    • Sadananya
    • Cipaku
    • Cieurih
    • Jatinagara
    • Gardujaya
    • Panawangan
    • Kawali
    • Lumbung
    • Kawalimukti
    • Panjalu
    • Sukamantri
    • Panumbangan
    • Payungsari
    Kuliner
    • Galendo
    • Pindang gunung
    • Salai pisang
    • Mi golosor
    • Abon sapi Ciamis
    • Dendeng sapi Ciamis
    Stasiun kereta api
    • Ciamis Kota
    • Bojong
    Olahraga
    • Stadion Galuh
    • PSGC Ciamis
    • Category Kategori
    • Commons page Commons

    Bagikan artikel ini

    Share:

    Daftar Isi

    1. Pengantar
    2. Gambaran umum
    3. Sisi historis
    4. Kondisi masa kini
    5. Klasifikasi
    6. Penggunaan
    7. Wilayah kebahasaan
    8. Lingkup penggunaan
    9. Status bahasa
    10. Peranan bahasa
    11. Tradisi sastra
    12. Budaya populer
    13. Galeri
    14. Fonologi
    15. Konsonan
    16. Vokal

    Artikel Terkait

    Jawa Barat

    provinsi di Pulau Jawa, Indonesia

    Kota Banjar

    kota di Provinsi Jawa Barat

    Kabupaten Kuningan

    kabupaten di Pulau Jawa, Indonesia

    Jakarta Aktual
    Jakarta Aktual© 2026