Bahasa Sunda di Kabupaten Lombok Barat terutama digunakan oleh masyarakat etnis Sunda dan sebagian masyarakat asli Sasak. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya sektor pariwisata di desa Senggigi, Kabupaten Lombok Barat. Peningkatan sektor pariwisata tersebut berdampak pada semakin banyaknya lapangan pekerjaan, baik bagi masyarakat asli Sasak maupun masyarakat asal Jawa Barat yang didominasi oleh suku Sunda. Pekerja yang berasal dari Jawa Barat tersebut berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, mereka memilih hidup berkelompok dengan sesama orang Sunda, yang secara otomatis akan menggunakan bahasa Sunda untuk komunikasi sehari-hari. Bahkan desa tersebut dijuluki sebagai Kampung Sunda.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini mungkin mengandung riset asli. |
Bahasa Sunda di Kabupaten Lombok Barat terutama digunakan oleh masyarakat etnis Sunda dan sebagian masyarakat asli Sasak. Hal ini dilatarbelakangi oleh semakin meningkatnya sektor pariwisata di desa Senggigi, Kabupaten Lombok Barat. Peningkatan sektor pariwisata tersebut berdampak pada semakin banyaknya lapangan pekerjaan, baik bagi masyarakat asli Sasak maupun masyarakat asal Jawa Barat yang didominasi oleh suku Sunda. Pekerja yang berasal dari Jawa Barat tersebut berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, mereka memilih hidup berkelompok dengan sesama orang Sunda, yang secara otomatis akan menggunakan bahasa Sunda untuk komunikasi sehari-hari. Bahkan desa tersebut dijuluki sebagai Kampung Sunda.[1]
Di desa Senggigi, bahasa Sunda lebih mendominasi dibandingkan bahasa Sasak di tempat tersebut, yang mana bahasa Sasak merupakan bahasa asli di daerah tersebut dan Pulau Lombok secara keseluruhan. Masyarakat asli Sasak yang tinggal di desa ini tampaknya lebih 'bangga' menggunakan bahasa Sunda daripada bahasa Sasak.[1]
Berdasarkan penelitian oleh Niswariyana (2018), dapat dipahami bentuk eksistensi bahasa Sunda di lingkungan suku Sasak di desa Senggigi yang menyebabkan masyarakat Sasak di desa Senggigi lebih suka menggunakan bahasa Sunda dari pada bahasa Sasak.[1] Di desa Senggigi, pekerja-pekerja bidang pariwisata di desa tersebut tidak hanya berasal dari masyarakat asli Lombok saja, akan tetapi berasal dari berbagai daerah di Indonesia, di antaranya Bali, Jakarta, Bandung, Surabaya, Sumbawa, Bima, dan beberapa daerah lainnya. Di antara para pendatang yang bekerja di desa Senggigi, terutama didominasi oleh pekerja asal Jawa Barat yang berjumlah sekitar 400 orang. Mereka terutama tinggal di mess yang telah disediakan, tetapi juga banyak yang memiliki untuk mengontrak di rumah penduduk setempat.[2]
Para pekerja asal Jawa Barat tersebut diketahui lebih nyaman berkomunikasi menggunakan bahasa Sunda dengan rekan sedaerahnya. Akibatnya, orang-orang yang kerap berinteraksi dengan mereka seperti asisten kebersihan, rekan-rekan di lingkungan kerja, dan penduduk setempat yang notabenenya menggunakan bahasa Sasak ikut menggunakan bahasa Sunda untuk sekadar menyapa atau berbicara dengan mereka.[2]
Berdasarkan hasil penelitian oleh Niswariyana (2018), ditemukan bahwa bahasa Sunda yang dikuasai masyarakat etnis Sasak masih pada tataran sederhana, seperti sapaan biasa. Meskipun bukan tidak mungkin masyarakat Sasak yang terus menerus berinteraksi dengan masyarakat Sunda di desa Senggigi akan menguasai bahasa Sunda dengan baik pada tingkat yang sulit, tetapi untuk saat ini kata-kata yang sering diucapkan berkisar pada kata-kata seperti, eta mah 'itu mah', ieu 'ini', hatur nuhun 'terima kasih', sami-sami 'sama-sama', kadieu 'ke sini', didieu 'di sini', naon 'apa', kumaha 'bagaimana', aing 'saya', 'abdi' 'aku', aya-aya wae 'ada-ada saja', bogoh 'sayang', teteh 'sapaan untuk perempuan', akang 'sapaan untuk laki-laki', aa 'sapaan untuk laki-laki', eceu 'sapaan untuk perempuan', sabaraha 'berapa', dan beberapa kata sederhana lainnya.[1]
Terdapat beberapa masyarakat asli Sasak di desa tersebut yang akhirnya menikah dengan orang Sunda. Jadi penggunaan bahasa Sunda pada masyarakat Sasak di desa tersebut difungsikan sebagai bahasa kedua.[3] Dapat dikatakan bahwa bahasa Sunda merupakan salah satu bahasa pergaulan bagi pengguna bahasa ibu Sasak di desa Senggigi meskipun pada dasarnya bahasa Sunda tidak serta-merta menggeser kedudukan bahasa Sasak sebagi bahasa 'tuan rumah' di sana.[4]