Antiintelektualisme adalah bentuk diskriminasi yang berupa rasa ketidakpercayaan dan kebencian terhadap segala hal yang berhubungan dengan intelek, intelektual, dan intelektualisme. Bentuk umum dari antiintelektualisme dapat berupa kebencian terhadap pendidikan dan filsafat serta penolakan berlebihan terhadap seni, sastra, sejarah, dan sains sebagai kegiatan manusia yang tidak praktis, memiliki motif politik, dan hina. Pihak antiintelektualisme menampilkan diri mereka sebagai pembela populis yang menentang elitisme dalam politik dan akademisi, serta cenderung melihat orang-orang terpelajar sebagai status sosial yang mendominasi wacana politik dan pendidikan tinggi, tetapi tidak memiliki kepedulian dalam berhubungan dengan masalah-masalah rakyat biasa.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Bagian dari seri |
| Diskriminasi |
|---|
Antiintelektualisme adalah bentuk diskriminasi yang berupa rasa ketidakpercayaan dan kebencian terhadap segala hal yang berhubungan dengan intelek, intelektual, dan intelektualisme. Bentuk umum dari antiintelektualisme dapat berupa kebencian terhadap pendidikan dan filsafat serta penolakan berlebihan terhadap seni, sastra, sejarah, dan sains sebagai kegiatan manusia yang tidak praktis, memiliki motif politik, dan hina.[1] Pihak antiintelektualisme menampilkan diri mereka (dan sering kali dianggap oleh masyarakat banyak) sebagai pembela populis yang menentang elitisme dalam politik dan akademisi, serta cenderung melihat orang-orang terpelajar sebagai status sosial yang mendominasi wacana politik dan pendidikan tinggi, tetapi tidak memiliki kepedulian dalam berhubungan dengan masalah-masalah rakyat biasa.[1]
Pada umumnya, antiintelektualisme diterapkan dalam bentuk pemerintahan totaliterisme untuk menekan ketaksepakatan politik di dalam negara.[2] Sebagai contoh, dalam Perang Saudara Spanyol dan masa kediktatoran Francisco Franco penindasan kaum reaksioner (yang dikenal sebagai Teror Putih (1936–1945)) merupakan bentuk penindasan yang menargetkan 200.000 warga sipil yang tergolong kaum cendekiawan di Spanyol, termasuk di antaranya guru dan akademisi yang aktif secara politik, serta seniman dan penulis yang aktif di Republik Spanyol Kedua.[3] Rezim Kamboja Demokratik yang dipimpin Pol Pot juga melakukan tindakan antiintelektualisme dengan mengeksekusi warga negara dengan latar belakang pendidikan selama genosida Kamboja.