Perang Saudara Spanyol adalah perang saudara di Spanyol yang berlangsung dari 17 Juli 1936 hingga 1 April 1939, adalah konflik antara kaum Nasionalis yang dipimpin oleh Jenderal Francisco Franco yang mengalahkan kaum Loyalis yang dipimpin oleh Presiden Manuel Azaña dari Republik Spanyol Kedua. Kaum Loyalis mendapatkan senjata dan relawan dari Uni Soviet dan gerakan Komunis internasional, sementara kaum Nasionalis didukung oleh negara-negara Fasis, termasuk Italia dan Jerman. Kaum Republikan terdiri atas kaum sentris (tengah) yang mendukung demokrasi liberal kapitalis hingga komunis dan kaum revolusioner anarkis. Basis kekuatan mereka terutama adalah sekuler dan urban dan khususnya kuat di wilayah-wilayah industri seperti Asturias dan Catalunya. Negeri Basque yang konservatif juga memihak dengan Republik, terutama karena ia, bersama-sama dengan tetangganya Catalunya, berusaha mendapatkan otonomi dari pemerintahan pusat yang belakangan ditindas dengan menciptakan sentralisasi terhadap kaum nasionalis. Kaum Francois umumnya memiliki basis dukungan di pedesaan, masyarakat yang kaya dan konservatif. Pada umumnya mereka Katolik Roma, dan mendukung sentralisasi kekuasaan. Sebagian dari taktik-taktik militer dalam perang ini - termasuk penggunaan taktik-taktik teror terhadap kaum sipil - mendahului apa yang kelak terjadi dalam Perang Dunia II, meskipun baik kaum Nasionalis maupun Republikan sangat mengandalkan pasukan infantri ketimbang menggunakan taktik-taktik modern seperti blitzkrieg dengan tank dan pesawat-pesawat terbang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Perang Saudara Spanyol | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari periode antarperang, dan pendahuluan Perang Dunia II | |||||||
Searah jarum jam dari kiri atas:
| |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
|
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
| Kekuatan | |||||||
Kekuatan tahun 1936:
Kekuatan tahun 1938:[2]
|
Kekuatan tahun 1936:
Kekuatan tahun 1938:[4]
| ||||||
| Korban | |||||||
| Perkiraan sangat beragam | |||||||
Perang Saudara Spanyol (bahasa Spanyol: Guerra Civil Españolacode: es is deprecated ) adalah perang saudara di Spanyol yang berlangsung dari 17 Juli 1936 hingga 1 April 1939, adalah konflik antara kaum Nasionalis yang dipimpin oleh Jenderal Francisco Franco yang mengalahkan kaum Loyalis yang dipimpin oleh Presiden Manuel Azaña dari Republik Spanyol Kedua. Kaum Loyalis mendapatkan senjata dan relawan dari Uni Soviet dan gerakan Komunis internasional, sementara kaum Nasionalis (atau Francois) didukung oleh negara-negara Fasis, termasuk Italia dan Jerman. Kaum Republikan terdiri atas kaum sentris (tengah) yang mendukung demokrasi liberal kapitalis hingga komunis dan kaum revolusioner anarkis. Basis kekuatan mereka terutama adalah sekuler dan urban (meskipun juga termasuk kaum buruh tani yang tidak memiliki tanah) dan khususnya kuat di wilayah-wilayah industri seperti Asturias dan Catalunya. Negeri Basque yang konservatif juga memihak dengan Republik, terutama karena ia, bersama-sama dengan tetangganya Catalunya, berusaha mendapatkan otonomi dari pemerintahan pusat yang belakangan ditindas dengan menciptakan sentralisasi terhadap kaum nasionalis. Kaum Francois umumnya memiliki basis dukungan di pedesaan, masyarakat yang kaya dan konservatif. Pada umumnya mereka Katolik Roma, dan mendukung sentralisasi kekuasaan. Sebagian dari taktik-taktik militer dalam perang ini - termasuk penggunaan taktik-taktik teror terhadap kaum sipil - mendahului apa yang kelak terjadi dalam Perang Dunia II, meskipun baik kaum Nasionalis maupun Republikan sangat mengandalkan pasukan infantri ketimbang menggunakan taktik-taktik modern seperti blitzkrieg (serangan kilat) dengan tank dan pesawat-pesawat terbang.
Sementara perang itu berlangsung hanya sekitar tiga tahun, situasi politiknya sudah penuh dengan kekerasan selama beberapa tahun sebelumnya. Jumlah korbannya dipertikaikan. Perkiraan umum menyebutkan antara 300.000 hingga 1 juta orang terbunuh. Banyak di antara para korban ini disebabkan oleh pembunuhan-pembunuhan massal yang dilakukan kedua belah pihak. Perang ini dimulai dengan pemberontakan militer di seluruh Spanyol dan koloni-koloninya, yang diikuti oleh pembalasan kaum Republikan terhadap Gereja, yang dipandang kaum Republikan radikal sebagai lembaga yang menindas yang mendukung orde lama.
Setelah pemberontakan di Maroko Spanyol, pasukan nasionalis di jantung Spanyol, memberontak. Mereka melancarkan serangan kilat ke Madrid dan mengkudeta pemerintahannya, tetapi berhasil dihalau pada November 1936 dengan bantuan persenjataan Soviet. Seiring waktu, pasukan nasionalis Franco terus berjaya. Mereka merebut garis pantai utara pada tahun 1937 dan mengepung Madrid, perlahan-lahan memperketat cengkeraman mereka di negara itu. Kemenangan kaum nasionalis difasilitasi oleh perpecahan di dalam pihak Republik, yang terganggu oleh perselisihan internal di antara komunis, anarkis, dan kaum sayap kiri lainnya.[13]
Pada bulan Maret 1939, Kolonel Casado, komandan pusat militer Republik, meluncurkan kudeta terhadap pemerintahnya sendiri. Didorong oleh ketidakpuasan dengan kebijakan perlawanan yang terus berlanjut, dia merasa dapat bernegosiasi untuk perdamaian. Usahanya ditolak oleh Franco dan dia dipaksa untuk menyerah. Pada tanggal 27 Maret, para pemberontak memasuki Madrid, empat hari kemudian, seluruh Spanyol berada di tangan Nasionalis. Keesokan harinya, Franco mengumumkan akhir dari perang.[14]
Terjadi pembantaian terhadap rohaniwan-rohaniwati Katolik dan gereja-gereja. Biara-biara dibakar. Dua belas uskup, 283 biarawati, 2.365 biarawan dan 4.184 imam Katolik dibunuh.[15][16] Bekas pemilik tanah dan kaum industrialis juga diserang. Selama dan menjelang pecahnya perang, kaum Nasionalis melaksanakan program pembunuhan massal terhadap lawan-lawan mereka. Dilakukan pemeriksaan dari rumah ke rumah, dan orang-orang yang tidak disukai sering kali dipenjarakan atau dibunuh. Para aktivis serikat buruh, yang dikenal sebagai simpatisan kaum Republikan dan yang sering mengkritik rezim Franco merupakan orang-orang pertama yang diincar. Kaum Nasionalis juga melakukan pengeboman udara terhadap wilayah-wilayah sipil dengan bantuan angkatan udara Jerman dan Italia. Kebrutalan biasa dilakukan oleh semua pihak.
Dampak perang ini sangat hebat: Dibutuhkan waktu puluhan tahun untuk memulihkan kembali ekonomi Spanyol. Dampak politik dan emosional dari perang ini terus dirasakan jauh melampaui batas-batas negara Spanyol dan menyulut semangat kaum komunitas intelektual dan politik internasional, yang hingga kini masih ditemukan dalam politik Spanyol.
Para simpatisan Republikan menyatakannya sebagai perjuangan antara "tirani dan demokrasi", atau "fasisme dan kebebasan", dan banyak pembaharu muda dan kaum revolusioner yang mempunyai komitmen tinggi bergabung dengan Brigade Internasional, yang merasa bahwa menyelamatkan Republik Spanyol berada di garis depan peperangan melawan fasisme. Namun para pendukung Franco, khususnya anggota-anggota muda dari korps perwira, memandanganya sebagai pertempuran antara gerombolan merah komunisme dan anarkisme di satu pihak melawan "peradaban Kristen" di pihak lain.
Duta Besar AS Claude Bowers menyatakan bahwa dia sedang menyaksikan 'gladi resik' Perang Dunia II[16].
Kondisi ekonomi Spanyol sangatlah buruk saat diktator Miguel Primo de Rivera berkuasa dan Spanyol terdampak Depresi Besar. Miguel sendiri mundur pada 1930. Selanjutnya, kubu Liberal dan Sosialis memenangkan pemilu 1931, membuat Raja Spanyol saat itu, Alfonso XIII, mengasingkan diri. Republik Spanyol Kedua diproklamasikan pada 14 April 1931[17][14][18]
Untuk para politisi Republikan dan Sosialis, serta untuk jutaan orang Spanyol, negara baru ini menjadi simbol modernisasi, demokrasi, dan keadilan sosial yang menjanjikan. Sebuah koalisi Republikan-Sosialis memulai program perubahan yang ambisius, mencoba reformasi buruh dan pertanian, pemisahan agama dan negara, serta pelemahan dan pemisahan politik pada tentara.[14][17] Tetapi karena itu poltik terpecah antara kubu Republikan, Komunis, Sosialis, Monarkis, Anarkis, Carlisme, dan Fasis. Situsai makin tegang saat Pemilihan Umum 1936, dimana koalisi politik "Front Populer" yang beraliran sayap kiri memenangkan pemilu. Sejak saat itu, kondisi Spanyol mulai tegang. Politisi anti-komunis diam-diam mulai merencanakan pemberontakan. Seiring berkembangnya fasisme, kelompok Falangis, salah satu aliran fasis di Spanyol, bentrok dengan aktivis sayap kiri di jalan-jalan. [17][14]


Pada tanggal 13 Juli, seorang politikus sayap kanan terkemuka, José Calvo Sotelo, dibunuh oleh dua polisi yang pro-republikan sebagai pembalasan atas pembunuhan Letnan José Castillo. Hal itu memberikan alasan bagi para jenderal, yang dipimpin oleh Emilio Mola, untuk melakukan kudeta mereka yang dimulai dari pemberontakan di Maroko Spanyol, yang akan membagi negara tersebut menjadi dua, secara politik, geografis, dan militer. [17][14]
Emilio Mola adalah perencana utama dan dalang pencobaan kudeta 1936. Dia pernah bertugas di Perang Rif dan menjadi Direktur Jenderal Keamanan pada tahun 1930, sebuah tonggak yang membawa konflik dengan Partai Republik. Bersama dengan Francisco Franco, pemimpin Spanyol seusai perang, dia mengoordinasi dan mengatur aksi teror brutal di Spanyol yang dikuasai nasionalis. Dia tewas pada bulan Juni 1937 dalam kecelakaan pesawat. [14]

Saat itu, kaum Nasionalis (Pemberontak) mendapat pasokan senjatan dan bantuan dari Jerman Nazi dan Italia Fasis[13]
Dan kaum Republik mendapat dukungan dari Uni Soviet dan Meksiko[13]
Berdasarkan Perjanjian Non-Intervensi Liga Bangsa-Bangsa, kedua pihak dalam konflik tidak boleh membeli atau menerima bahan perang.[14]
Namun, perjanjian tersebut terus-menerus dilanggar, terutama oleh Jerman, Italia, dan Uni Soviet. Akan tetapi, saat Republik berjuang untuk mendapatkan senjata dan peralatan, bahkan dengan bantuan Soviet, Nasionalis menerima aliran senjata fasis secara tetap. Itu menjadi faktor kunci dalam kemenangan Franco, dan berarti kehancuran bagi Republik.[14]

Sisa Eropa dan Amerika Serikat secara resmi tetap netral, meskipun banyak sukarelawan dari negara-negara ini bergabung dengan Brigade Internasional untuk memperjuangkan Republik.[13]
Brigade Internasional adalah relawan yang berjuang untuk mempertahankan Republik. Mereka diatur dan direkrut oleh Komunis Internasional. Lebih dari 35.000 orang bergabung; banyak dari mereka adalah orang buangan dari kediktatoran fasis Eropa. Sebagian besar anggota berasal dari Prancis, Jerman Nazi, Polandia dan Italia, namun relawan juga datang dari Britania Raya, Amerika Serikat, dan Kanada.[14]
Setelah pemberontakan di Maroko Spanyol, pasukan nasionalis di jantung Spanyol, memberontak. Mereka melancarkan serangan kilat ke Madrid dan mengkudeta pemerintahannya, tetapi berhasil dihalau pada November 1936 dengan bantuan persenjataan Soviet. Seiring waktu, pasukan nasionalis Franco terus berjaya. Mereka merebut garis pantai utara pada tahun 1937 dan mengepung Madrid, perlahan-lahan memperketat cengkeraman mereka di negara itu. Kemenangan kaum nasionalis difasilitasi oleh perpecahan di dalam pihak Republik, yang terganggu oleh perselisihan internal di antara komunis, anarkis, dan kaum sayap kiri lainnya. [14][13]


Pada tanggal 7 Februari 1937, pasukan Italia dan Nasionalis menakhlukan kota Málaga, yang pertahanannya tidak memadai; kelompok Republik dieksekusi secara massal. [14]Setelah keberhasilan ini, Mussolini membujuk Franco untuk meluncurkan serangan dua pasukan di bagian timur Madrid. Pasukan Italia akan menyerang Guadalajara, dan pasukan Spanyol bergerak ke Alcalá de Henares dari Jarama, sesudah kemenangan di Pertempuran Jalama. Namun, Italia terhalang oleh kondisi cuaca yang sangat buruk dan perlawanan Republik yang penuh semangat. Ketika Franco tidak berhasil menyerang, Mussolini terpaksa menyaksikan pasukannya yang basah kuyup dipukul mundur.[14] Bahkan pasukan Nasionalis menghina pasukan Italia dengan lagu ini:
"Guadalajara bukanlah Abyssinia,
Orang Spanyol, yang berwarna apapun, sangat berani,
Yang Anda butuhkan adalah sedikit truk dan lebih banyak kejantanan"


Meskipun menganut Katolik, wilayah Basque di bagian utara negara ini tetap setia kepada Republik. Saat pemberontak mendekati Bilbao, Legiun Condor Jerman Nazi mengebom kota Guernica hingga rata dengan tanah. Peristiwa ini dinamakan Pengeboman Guernica. Pelukis Pablo Picasso membuat lukisan "Guernica" yang menceritakan kekejaman perang kala itu. Bilbao akhirnya jatuh pada bulan Juni 1937; Republik berusaha untuk meluncurkan serangan di Brunete, tetapi Nasionalis unggul dalam jumlah dan memukul mundur mereka. Para pemberontak melanjutkan serangan mereka di utara, bergerak menuju Santander pada akhir Agustus. Republik merespons dengan merebut Quinto dan Belchite. Pada bulan Oktober, wilayah Basque dan Asturias telah jatuh ke tangan nasionalis. [17][14]
Republik meluncurkan serangan mendadak di Teruel pada bulan Desember 1937, namun pasukan Franco merebutnya kembali pada bulan Februari 1938. Kemudian, datang serangan Nasionalis di Aragon yang memotong wilayah Republik menjadi dua. Valencia pun diserang. Bertujuan untuk meredakan tekanan, Republik dan Brigadir Internasional bergerak maju melintasi Sungai Ebro. Pertempuran berlangsung selama tiga bulan, tetapi mereka, kelelahan, terpaksa kembali ke seberang sungai. Pada musim dingin tahun 1938, Franco merebut Katalonia; pasukannya memasuki Barcelona pada bulan Januari 1939. [14]
Menyusul jatuhnya Katalonia pada bulan Februari 1939, lautan pengungsi melintasi perbatasan menuju Prancis. Lebih dari setengah juta warga sipil Republik, tentara, dan anggota Brigade Internasional yang melarikan diri dari pasukan Franco yang bergerak maju, melakukan perjalanan yang tak terelakkan ini. Lelah dan ketakutan, di sisi lain perbatasan, mereka dipenjara di kamp-kamp tahanan oleh otoritas Perancis. Mereka menderita kondisi yang memprihatinkan, banyak yang meninggal karena penyakit dan kelaparan. Di antara yang paling terkenal dari para pengungsi ini adalah penyair Antonio Machado yang meninggal beberapa hari setelah dia menyeberangi perbatasan dan dimakamkan di dekat laut di Collioure. Salah satu puisinya yang paling terkenal, 'Caminante no camio hay' (Petualang, tidak ada jalan) adalah ekspresi pedih akan rasa kehilangan, keberanian, dan keterasingan dari para pengungsi[14]
Pada bulan Maret 1939, Kolonel Casado, komandan pusat militer Republik, meluncurkan kudeta terhadap pemerintahnya sendiri. Didorong oleh ketidakpuasan dengan kebijakan perlawanan yang terus berlanjut, dia merasa dapat bernegosiasi untuk perdamaian. Usahanya ditolak oleh Franco dan dia dipaksa untuk menyerah. Pada tanggal 27 Maret, para pemberontak memasuki Madrid, empat hari kemudian, seluruh Spanyol berada di tangan Nasionalis. Keesokan harinya, Franco mengumumkan akhir dari perang.[14]
Akibat perang ditandai dengan pengaiayaan yang keras. Ratusan ribu pendukung Republik melarikan diri ke Prancis, sementara mereka yang tetap menghadapi penganiayaan dan eksekusi oleh rezim Franco. Franco mengkonsolidasikan kekuasaannya, membangun kediktatoran yang akan bertahan sampai kematiannya pada tahun 1975. Perang Saudara Spanyol meninggalkan bekas luka yang dalam di negara itu dan menjadi terkenal karena kekejaman yang dilakukan oleh kedua belah pihak, dengan pembersihan dan eksekusi massal yang dilakukan di wilayah Nasionalis dan Republik. Perang gerilya masih terjadi sampai tahun 1950-an.[13]