Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

BerandaWikiAhmad Syafi'i Ma'arif
Artikel Wikipedia

Ahmad Syafi'i Ma'arif

Ahmad Syafi'i Maarif, yang populer dengan nama Buya Syafi'i, adalah seorang ulama dan intelektual Islam Indonesia. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah antara tahun 1998 hingga 2005. Lulusan pendidikan di Amerika Serikat, ia dikenal karena penafsiran Islam yang moderat dan progresif serta penolakannya terhadap pengaruh langsung Islam dalam politik.

Ulama Indonesia dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Diperbarui 7 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ahmad Syafi'i Ma'arif
Ahmad Syafi'i Maarif
Maarif pada tahun 2019
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-13
Masa jabatan
1998–2005
Sebelum
Pendahulu
Amien Rais
Pengganti
Din Syamsuddin
Sebelum
Informasi pribadi
Lahir31 Mei 1935
Sijunjung, Hindia Belanda
Meninggal27 Mei 2022(2022-05-27) (umur 86)
Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia
Suami/istri
Nurchalifah
​
(m. 1965⁠–⁠2022)​
[1]
Almamater
  • Universitas Cokroaminoto Surakarta
  • IKIP Yogyakarta
  • Universitas Negeri Ohio
  • Universitas Chicago
Pekerjaan
  • Ulama
  • dosen
  • aktivis
  • sejarawan
  • negarawan
PenghargaanRamon Magsaysay Award (2008)
Karier ilmiah
BidangSejarah
InstitusiUniversitas Negeri Yogyakarta
DisertasiIslam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia (1983)
Terinspirasi
  • Muhammad Iqbal
  • Fazlur Rahman
Menginspirasi
  • Raja Juli Antoni
  • Denny Siregar
  • (2008) Ramon Magsaysay Award Suntingan nilai di Wikidata
Sunting kotak info
Sunting kotak info • L • B
Bantuan penggunaan templat ini

Ahmad Syafi'i Maarif (31 Mei 1935 – 27 Mei 2022'</span>i Ma<span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDQ\">'</span>arif"}]]}'/>'</span>i Ma<span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwDw\">'</span>arif"}]]}' id="mwEA"/>),[2] yang populer dengan nama Buya Syafi'i, adalah seorang ulama dan intelektual Islam Indonesia. Ia menjabat sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah antara tahun 1998 hingga 2005. Lulusan pendidikan di Amerika Serikat, ia dikenal karena penafsiran Islam yang moderat dan progresif serta penolakannya terhadap pengaruh langsung Islam dalam politik.

Kehidupan

Kehidupan awal

Ahmad Syafii Maarif lahir di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau pada 31 Mei 1935.[3] Ia lahir dari pasangan Ma'rifah Rauf Datuk Rajo Malayu, dan Fathiyah.[a] Ia bungsu dari 4 bersaudara seibu seayah, dan seluruhnya 15 orang bersaudara seayah berlainan ibu.[4] Ayahnya adalah saudagar gambir, yang belakangan diangkat sebagai kepala suku di kaumnya.[5] Sewaktu Syafii berusia satu setengah tahun, ibunya meninggal. Syafii kemudian dititipkan ke rumah adik ayahnya yang bernama Bainah, yang menikah dengan adik seibu ibunya yang bernama A. Wahid.[5]

Pada tahun 1942, ia dimasukkan ke sekolah rakyat (SR, setingkat SD) di Sumpur Kudus.[3] Sepulang sekolah, Pi'i, panggilan akrabnya semasa kecil,[6] belajar agama ke sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muhammadiyah pada sore hari dan malamnya belajar mengaji di surau yang berada di sekitar tempat ia tinggal, sebagaimana umumnya anak laki-laki di Minangkabau pada masa itu.[5] Pendidikannya di SR, yang harusnya ia tempuh selama enam tahun, dapat ia selesaikan selama lima tahun. Ia tamat dari SR pada tahun 1947, tetapi tidak memperoleh ijazah karena pada masa itu terjadi perang revolusi kemerdekaan.[7] Namun, setelah tamat, karena beban ekonomi yang ditanggung ayahnya, ia tidak dapat meneruskan sekolahnya selama beberapa tahun.[3] Baru pada tahun 1950, ia masuk ke Madrasah Muallimin Muhammadiyah di Balai Tangah, Lintau sampai duduk di bangku kelas tiga.[4]

Merantau ke Jawa

Pada tahun 1953, dalam usia 18 tahun, ia meninggalkan kampung halamannya untuk merantau ke Jawa. Bersama dua adik sepupunya, yakni Azra'i dan Suward, ia diajak belajar ke Yogyakarta oleh M. Sanusi Latief.[7] Namun, sesampai di Yogyakarta, niatnya semula untuk meneruskan sekolahnya ke Madrasah Muallimin di kota itu tidak terwujud, karena pihak sekolah menolak menerimanya di kelas empat dengan alasan kelas sudah penuh.[7] Tidak lama setelah itu, ia justru diangkat menjadi guru bahasa Inggris dan bahasa Indonesia di sekolah tersebut tetapi tidak lama. Pada saat bersamaan, ia bersama Azra'i mengikuti sekolah montir sampai akhirnya lulus setelah beberapa bulan belajar.[7] Setelah itu, ia kembali mendaftar ke Muallimin dan akhirnya ia diterima tetapi ia harus mengulang kuartal terakhir kelas tiga. Selama belajar di sekolah tersebut, ia aktif dalam organiasi kepanduan Hizbul Wathan dan pernah menjadi pemimpin redaksi majalah Sinar (Kini Dibawahi oleh Lembaga Pers Mu'allimin), sebuah majalah pelajar Muallimin di Yogyakarta.

Setelah ayahnya meninggal pada 5 Oktober 1955, kemudian ia tamat dari Muallimin pada 12 Juli 1956, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya, terutama karena masalah biaya.[6] Dalam usia 21 tahun, tidak lama setelah tamat, ia berangkat ke Lombok memenuhi permintaan Konsul Muhammadiyah dari Lombok untuk menjadi guru. Sesampai di Lombok Timur, ia disambut oleh pengurus Muhammadiyah setempat, lalu menuju sebuah kampung di Pohgading tempat ia ditugaskan sebagai guru.[6] Setelah setahun lamanya mengajar di sebuah sekolah Muhammadiyah di Pohgading, sekitar bulan Maret 1957, dalam usia 22 tahun, ia mengunjungi kampung halamannya,[8] kemudian kembali lagi ke Jawa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Surakarta.[8] Sesampai di Surakarta, ia masuk ke Universitas Cokroaminoto dan memperoleh gelar sarjana muda pada tahun 1964.[9] Setelah itu, ia melanjutkan pendidikannya untuk tingkat sarjana penuh (doktorandus) pada Fakultas Keguruan Ilmu Sosial, IKIP (sekarang Universitas Negeri Yogyakarta) dan tamat pada tahun 1968.[10] Selama kuliah, ia sempat menggeluti beberapa pekerjaan untuk melangsungkan hidupnya. Ia pernah menjadi guru mengaji dan buruh sebelum diterima sebagai pelayan toko kain pada 1958.[8] Setelah kurang lebih setahun bekerja sebagai pelayan toko, ia membuka dagang kecil-kecilan bersama temannya, kemudian sempat menjadi guru honorer di Baturetno dan Solo.[8][9] Selain itu, ia juga sempat menjadi redaktur Suara Muhammadiyah dan anggota Persatuan Wartawan Indonesia.[10]

Karier

Selanjutnya kader muda Muhammadiyah ini menekuni ilmu sejarah dengan mengikuti Program Master di Departemen Sejarah Universitas Ohio, AS. Sementara gelar doktornya diperoleh dari Program Studi Bahasa dan Peradaban Timur Dekat, Universitas Chicago, AS, dengan disertasi: Islam as the Basis of State: A Study of the Islamic Political Ideas as Reflected in the Constituent Assembly Debates in Indonesia.

Selama di Chicago inilah, anak bungsu dari empat bersaudara ini, terlibat secara intensif melakukan pengkajian terhadap Al-Quran, dengan bimbingan dari seorang tokoh pembaharu pemikiran Islam, Fazlur Rahman. Disana pula, ia kerap terlibat diskusi intensif dengan Nurcholish Madjid dan Amien Rais yang sedang mengikuti pendidikan doktornya.

Penulis Damien Dematra membuat sebuah novel tentang masa kecil Ahmad Syafi'i Maarif, yang berjudul 'Si Anak Kampung'.[11] Novel ini telah difilmkan dan meraih penghargaan pada America International Film Festival (AIFF).[12]

Aktivitas

Setelah meninggalkan posisinya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah, ia aktif dalam komunitas Maarif Institute. Di samping itu, guru besar IKIP Yogyakarta ini, juga rajin menulis, di samping menjadi pembicara dalam sejumlah seminar. Sebagian besar tulisannya adalah masalah-masalah keislaman, dan dipublikasikan di sejumlah media cetak. Di harian Republika, ia kerap menulis opininya di kolom "Resonansi". Selain itu ia juga menuangkan pikirannya dalam bentuk buku. Bukunya yang sudah terbit antara lain berjudul: Dinamika Islam dan Islam, Mengapa Tidak?, kedua-duanya diterbitkan oleh Shalahuddin Press (1984). Kemudian Islam dan Masalah Kenegaraan, yang diterbitkan oleh LP3ES (1985) dan Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia (1993). Atas karya-karyanya, pada tahun 2008 Syafii mendapatkan penghargaan Ramon Magsaysay dari pemerintah Filipina.[13]

Pada tahun 2017, Buya Syafii diangkat sebagai Anggota Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP). Melalui BPIP inilah Buya selalu menyumbangkan pemikiran-pemikirannya baik melalui tulisan maupun diskusinya dengan pihak pemerintah.

Wafat

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Buya Ahmad Syafii Maarif meninggal dunia di RS PKU Muhammadiyah Gamping, Sleman, Yogyakarta, pukul 10.15 WIB, Jumat (27/5/2022). Sebelumnya, Buya masuk ke rumah sakit itu sejak Sabtu (14/5) karena mengeluh sesak napas akibat jantung. Bahkan pada awal Maret lalu, Buya Syafii juga sempat menjalani perawatan medis di RS PKU Gamping. Buya hampir dua pekan menjalani perawatan sampai kondisinya membaik dan diperkenankan untuk pulang.[14]

Jenazah almarhum disemayamkan di Masjid Gede Kauman, Yogyakarta, sebelum dimakamkan.{{}} Buya Syafii dimakamkan di Taman Makam Husnul Khotimah Muhammadiyah di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.[15]

Kontroversi

Islam liberal

Cendekiawan muslim Adian Husaini mengkategorikan Ahmad Syafii Maarif sebagai tokoh Muhammadiyah pendukung gagasan Islam Liberal (neomodernisme) yang diusung oleh Fazlur Rahman.[16] Adian mencatat bahwa Syafii memuji setinggi-tingginya Fazlur Rahman yang merupakan dosennya.[17] Ia juga mencatat penyataan Syafii pada 2001 yang menolak kembalinya Piagam Jakarta ke dalam konstitusi.[16][18] Zuly Qadir mencatat Syafii dan Hasyim Muzadi menolak pemberlakuan syariat Islam secara formal di Indonesia.[19]

Dalam buku berjudul 50 Tokoh Islam Liberal Indonesia: Pengusung Ide Sekulerisasi, Pluralisme, dan Liberalisasi Agama karya Budi Handrianto, Syafii dikelompokkan sebagai kelompok senior.[20] Budi Munawar Rachman mengelompokkan Syafii termasuk ke dalam golongan neo-modernis Islam bersama Nurcholish Madjid dan tokoh-tokoh lainya.[21]

Muhamad Afif Bahaf menuliskan bahwa gerakan Islam Liberal tumbuh subur di Muhammadiyah semasa dipimpin Syafii. Hal ini ditandai dengan berdirinya tiga komunitas intelektual yaitu Pusat Studi Agama dan Peradaban (PSAP), Maarif Institute, dan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM).[22]

Pembelaan kasus Ahok

Pada November 2016, ia membela Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dengan mengatakan bahwa Ahok tidak melakukan penistaan agama. Pandangannya ini melawan pendapat mayoritas tokoh Islam lainnya termasuk Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang telah memfatwakan bahwa Ahok melakukan penistaan agama Islam dan para ulama.[23] Dalam pembelaannya, Buya Syafii sempat menulis di Koran Tempo dan menyatakan: "jika dalam proses pengadilan nanti terbukti terdapat unsur pidana dalam tindakan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok pada 27 September 2016 itu, saya usulkan agar dia dihukum selama 400 tahun atas tuduhan menghina Al-Quran, kitab suci umat Islam, sehingga pihak-pihak yang menuduh terpuaskan tanpa batas", ia menambahkan: "biarlah generasi yang akan datang yang menilai berapa bobot kebenaran tuduhan itu, sebuah generasi yang diharapkan lebih stabil dan lebih arif dalam membaca politik Indonesia yang sarat dengan dendam kesumat ini".[24]

Pendidikan

  • S-3 University of Chicago, Amerika Serikat (1983)
  • S-2 Ohio State University, Amerika Serikat (1980)
  • S-1 FKIS, Universitas Negeri Yogyakarta (1968)

Karya tulis

  • Mengapa Vietnam Jatuh Seluruhnya ke Tangan Komunis, 1975
  • Dinamika Islam, 1984
  • Islam, Mengapa Tidak?, 1984
  • Percik-percik Pemikiran Iqbal, 1984
  • Islam dan Masalah Kenegaraan, 1985
  • Peta Bumi Intelektualisme Islam di Indonesia, 1993
  • Islam, Kekuatan Doktrin, dan Kegamangan Umat, 1997
  • Titik-titik Kisar di Perjalananku : Autobiografi Ahmad Syafii Maarif, 2009
  • Islam Dalam Bingkai Keindonesiaan dan Kemanusiaan : Sebuah Refleksi Sejarah, 2009
  • Politik Identitas dan Masa Depan Pluralisme Kita, 2010
  • Memoar Seorang Anak Kampung, 2013
  • Fikih Kebhinekaan, 2015
  • Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam, 2018
  • Membumikan Islam, 2019
  • Percaturan Islam dan Politik, 2021

Keterangan

  1. ↑ Ayahnya beberapa kali menikah, dan Fathiyah merupakan istri pertama dari tiga istri ayahnya. Setahun setelah ibunya meninggal, ayahnya kembali menikah dengan dua orang perempuan, yakni Maran dan Lamsiah.[4]

Rujukan

Catatan kaki
  1. ↑ H, Yanuar (2022-05-27). Ali, Muhammad; Sunariyah (ed.). "Kisah Buya Syafii Maarif, Menikahi Bunga Desa Tanpa Modal". Liputan6.com. Liputan6. Diakses tanggal 2022-06-27.
  2. ↑ Fauzia, Mutia (2022-05-27). Prabowo, Dani (ed.). "Buya Syafii Maarif Meninggal Dunia, Muhammadiyah dan Indonesia Berduka". Kompas.com. Diakses tanggal 2022-05-27.
  3. 1 2 3 Maarif 2009, hlm. 1–30.
  4. 1 2 3 Maarif 2009, hlm. 71–80.
  5. 1 2 3 Maarif 2009, hlm. 31–70.
  6. 1 2 3 Maarif 2009, hlm. 101–110.
  7. 1 2 3 4 Maarif 2009, hlm. 81–100.
  8. 1 2 3 4 Maarif 2009, hlm. 111–140.
  9. 1 2 Maarif 2009, hlm. 141–160.
  10. 1 2 Maarif 2009, hlm. 161–171.
  11. ↑ Ismail 2010.
  12. ↑ Kusumadewi & Rachmawati 2011.
  13. ↑ Fauzi 2008.
  14. ↑ "Dimotori Pemkab Sijunjung, Riwayat & Perjuangan Buya H. Ahmad Syafii Maarif Diseminarkan, Ini Narasumbernya". Jurnal Sumbar. 2023-02-14. Diakses tanggal 2025-02-05.
  15. ↑ "Taman Makam Husnul Khotimah, Lokasi yang Dipilih Sendiri Buya Syafii Maarif". Republika Online. 2022-05-27. Diakses tanggal 2022-05-29.
  16. 1 2 https://books.google.co.id/books?id=1EoVNA-_cWgC&pg=PA6
  17. ↑ https://books.google.co.id/books?id=1EoVNA-_cWgC&pg=PA20
  18. ↑ https://books.google.co.id/books?id=1EoVNA-_cWgC&pg=PA146
  19. ↑ https://books.google.co.id/books?id=NWxoDwAAQBAJ&pg=PA279
  20. ↑ https://books.google.co.id/books?id=mNQvEAAAQBAJ&pg=PA4
  21. ↑ https://books.google.co.id/books?id=1EoVNA-_cWgC&pg=PA33
  22. ↑ https://books.google.co.id/books?id=uNQvEAAAQBAJ&pg=PA7
  23. ↑ Ahok Kenang Buya Syafii Maarif, Publik Teringat Saat Bela Terkait Penistaan Agama. Jogja - Suara. Diakses 29 Mei 2022.
  24. ↑ Buya Syafii Maarif: Penjarakan Ahok Selama 400 Tahun
Daftar pustaka
  • Maarif, Ahmad Syafii (2009). Titik-titik Kisar di Perjalananku. Mizan Publika. ISBN 979-433-553-3. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Kusumadewi, Anggi; Rachmawati, Rachmawati (2011-04-21). ""Si Anak Kampoeng", Dilema Buya Syafii Cilik". VIVAnews.
  • Fauzi, Gamawan (1 November 2008). "Prof. Dr. H. Ahmad Syafii Ma'arif, Satu Nomor Contoh Produk Merantau". Perum LKBN Antara. Diarsipkan dari asli tanggal 2011-07-07. Diakses tanggal 2009-07-09. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)
  • Ismail, Rachmadin (11 Februari 2010). "Peluncuran "Si Anak Kampung" Syafii Maarif Dihadiri Para Tokoh". Detik.com. Pemeliharaan CS1: Ref menduplikasi bawaan (link)

Mengenang Prof Dr. Ahmad Syafii Maarif, https://karyakarsa.com/AjiSetiawan1/me-185487

Pranala luar

  • Biografi di tokohindonesia.com Diarsipkan 2010-05-27 di Wayback Machine.
Jabatan organisasi Islam
Didahului oleh:
Amien Rais
Ketua Umum Muhammadiyah
1998–2005
Diteruskan oleh:
Din Syamsuddin
'</span>i Ma<span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwAgU\">'</span>arif"}]]}'/>'</span>i Ma<span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwAgc\">'</span>arif"}]]}' id="mwAgg"/>
  • l
  • b
  • s
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
احمد دحلانcode: ar is deprecated
Ahmad Dahlan
ابراهيم بن فضليلcode: ar is deprecated
Ibrahim bin Fadlil
هشام بن حسنيcode: ar is deprecated
Hisjam bin Hoesni
ماس منصورcode: ar is deprecated
Mas Mansoer
بخوس هاديقسوموcode: ar is deprecated
Bagoes Hadikoesoemo
احمد راشدcode: ar is deprecated
Ahmad Rasyid
محمد يونس أنيسcode: ar is deprecated
Muhammad Yunus Anis

Ahmad Dahlan

Ibrahim bin Fadlil

Hisjam bin Hoesni

Mas Mansoer

Bagoes Hadikoesoemo

Ahmad Rasyid

Muhammad Yunus Anis

(1912–1923)(1923–1934)(1934–1937)(1937–1942)(1942–1953)(1953–1959)(1959–1962)
احمد بدويcode: ar is deprecated
Ahmad Badawi
فقيه عثمانcode: ar is deprecated
Fakih Usman
عبد الرزاق فخر الدينcode: ar is deprecated
Abdur Rozaq Fachruddin
احمد ازهر بشيرcode: ar is deprecated
Ahmad Azhar Basyir
محمد أمين رايسcode: ar is deprecated
Muhammad Amien Rais
احمد شافعي المعارفcode: ar is deprecated
Ahmad Syafi'i Ma'arif
محمد سراج الدين شمس الدينcode: ar is deprecated
Muhammad Sirajuddin Syamsuddin

Ahmad Badawi

Fakih Usman

Abdur Rozaq Fachruddin

Ahmad Azhar Basyir

Muhammad Amien Rais

Ahmad Syafi'i Ma'arif

Muhammad Sirajuddin Syamsuddin

(1962–1968)(1968–1971)(1971–1990)(1990–1995)(1995–1998)(1998–2005)(2005–2015)
حيدر ناصرcode: ar is deprecated
Haedar Nashir

Haedar Nashir

(2015–petahana)
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ditetapkan oleh muktamar dan atas usul anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah terpilih.
  • l
  • b
  • s
Muhammadiyah
Organisasi otonom
  • Aisyiyah
  • Tapak Suci Putera Muhammadiyah
  • Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
  • Ikatan Pelajar Muhammadiyah
  • Hizbul Wathan
  • Nasyiatul Aisyiyah
  • Pemuda Muhammadiyah (KOKAM)
Tokoh
Ketua Umum
  • Ahmad Dahlan
  • KH Ibrahim
  • KH Hisjam
  • KH Mas Mansur
  • Ki Bagus Hadikusumo
  • Ahmad Rasyid Sutan Mansur
  • Muhammad Yunus Anis
  • Ahmad Badawi
  • Fakih Usman
  • Abdul Rozaq Fachruddin
  • Ahmad Azhar Basyir
  • Amien Rais
  • Ahmad Syafi'i Ma'arif
  • Muhammad Sirajuddin Syamsuddin
  • Haedar Nashir
Lainnya
  • Soekarno
  • Buya Hamka
  • Fatmawati
  • Djoeanda Kartawidjaja
  • Sudirman
  • Abdul Mu’ti
  • Abdul Karim Amrullah
Amal usaha
  • Pendidikan (Sekolah Dasar & Menengah
  • Perguruan tinggi)
  • Kesehatan (Rumah sakit)
  • Lainnya (Lazismu
  • Bank Syariah Matahari)
Media
  • Adil
  • ADiTV
  • Suara Muhammadiyah
  • TvMu
  • Unimma FM
  • Kategori:Organisasi Islam di Indonesia
  • l
  • b
  • s
Islam di Indonesia
Cabang lainnya
  • Ahmadiyyah
  • Kejawen
  • Pembagian lama
    • Abangan
    • Priyayi
    • Santri
Tokoh utama
Era klasik
  • Hamzah Fansuri
  • Yusuf Al-Makassari
  • Malikussaleh
  • Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi
  • Padri
    • Tuanku Imam Bonjol
    • Tuanku Rao
    • Tuanku Tambusai
  • Walisongo
    • Sunan Ampel
    • Sunan Bonang
    • Sunan Drajat
    • Sunan Giri
    • Sunan Gunung Jati
    • Maulana Malik Ibrahim
    • Sunan Kalijaga
    • Sunan Kudus
    • Sunan Muria
  • Abdurrauf as-Singkili
  • Ali Mughayat Syah
  • Tuanku Nan Tuo
  • Burhanuddin Ulakan
  • Usman bin Yahya
Era Kebangkitan
Nasional
  • Abdullah Ahmad
  • Abdul Karim Amrullah
  • Hasyim Asy'ari
  • Muhammad As'ad al-Bugisi
  • Ahmad Dahlan
  • Abbas Abdullah
  • Tahir bin Jalaluddin
  • Muhammad Djamil Djambek
  • Idrus bin Salim al-Jufri
  • Hasan Ma'shum
  • Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
  • Mas Mansoer
  • Ahmad Khatib al-Minangkabawi
  • Haji Misbach
  • Sulaiman ar-Rasuli
  • Rasuna Said
  • Tjokroaminoto
Pasca-
kemerdekaan
  • Mukti Ali
  • Ulil Abshar Abdalla
  • Abdul Malik Karim Amrullah
  • Firanda Andirja
  • Syech bin Abdul Qodir Assegaf
  • Azyumardi Azra
  • Abu Bakar Ba'asyir
  • Khalid Basalamah
  • Syafiq Riza Basalamah
  • Idham Chalid
  • Djohan Effendi
  • A.R. Fachruddin
  • Abdullah Gymnastiar
  • Wahid Hasyim
  • Adi Hidayat
  • Afifi Fauzi Abbas
  • Rhoma Irama
  • Ali Jaber
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas
  • Kartosoewirjo
  • Ahmad Syafii Maarif
  • Yahya Zainul Maarif
  • Nurcholish Madjid
  • Sahal Mahfudh
  • Munzir Al-Musawa
  • Hasyim Muzadi
  • Zainuddin MZ
  • Harun Nasution
  • Bachtiar Nasir
  • Mohammad Natsir
  • Ahmad Bahauddin Nursalim
  • Amien Rais
  • Idrus Ramli
  • Ahmad Muhtadi Dimyathi
  • Muhammad Rizieq Shihab
  • Quraish Shihab
  • Ma'ruf Amin
  • Said Aqil Siradj
  • Abdul Somad
  • Din Syamsuddin
  • Ahmad Wahib
  • Abdurrahman Wahid
  • Muhammad Luthfi bin Yahya
  • Muammar Z.A.
  • Maimun Zubair
Organisasi
Negara
  • Kementerian Agama Republik Indonesia
    • Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
    • Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
    • Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah
  • Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh
Masyarakat sipil
  • Alkhairaat
  • Lembaga Dakwah Kampus
  • Hidayatullah
  • Hizbut Tahrir Indonesia
  • Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
  • Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia
  • Majelis Mujahidin Indonesia
  • Majelis Ulama Indonesia
  • Al-Irsyad Al-Islamiyyah
  • Front Pembela Islam
  • Jaringan Islam Liberal
  • Majelis Rasulullah
  • Muhammadiyah
    • Aisyiyah
  • Himpunan Mahasiswa Islam
  • Nahdlatul Ulama
    • Gerakan Pemuda Ansor
  • Nahdlatul Wathan
  • Perhimpunan Al-Irsyad
  • PERSIS
  • Persatuan Tarbiyah Islamiyah
  • Rabithah Alawiyah
  • Sarekat Islam
  • Sumatera Thawalib
Partai politik
  • Partai Bulan Bintang
  • Partai Sarekat Islam Indonesia
  • Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia
  • Partai Masyumi
  • Partai Kebangkitan Bangsa
  • Partai Amanat Nasional
  • Partai Matahari Bangsa
  • Persatuan Muslim Indonesia
  • Partai Keadilan Sejahtera
  • Partai Kebangkitan Nasional Ulama
  • Partai Persatuan Pembangunan
Laskar
  • Banser
  • Darul Islam
  • Jamaah Ansharut Tauhid
  • Jamaah Islamiyah
  • KOKAM
  • Laskar Jihad
  • Mujahidin Indonesia Timur
Sejarah
Pra-
kemerdekaan
  • Penyebaran Islam di Nusantara
  • Ekspedisi Utsmaniyah ke Aceh
  • Wali Sanga
  • Negeri Islam di Indonesia
    • Kesultanan Aceh
    • Kesultanan Banjar
    • Kesultanan Bolango
    • Kesultanan Demak
    • Kesultanan Gorontalo
    • Kesultanan Gowa
    • Kesultanan Malaka
    • Kesultanan Mataram
    • Kesultanan Samudera Pasai
    • Kesultanan Ternate
    • Kesultanan Tidore
    • Kesultanan Yogyakarta
  • Perang Padri
Pasca-
kemerdekaan
  • Piagam Jakarta
  • Petisi 50
  • Peristiwa Tanjung Priok
  • Pemberontakan di Aceh
  • Kerusuhan Kepulauan Maluku
  • Kerusuhan Poso
  • Fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama
  • November 2016 / Desember 2016 / Aksi 112
Daerah
Sumatra
  • Aceh
  • Bengkulu
  • Jambi
  • Kepulauan Riau
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Lampung
  • Riau
  • Sumatera Barat
  • Sumatera Selatan
  • Sumatera Utara
Jawa
  • Banten
  • Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Yogyakarta
Nusa Tenggara
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
Kalimantan
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
Sulawesi
  • Gorontalo
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Tenggara
  • Sulawesi Utara
Maluku
  • Maluku
  • Maluku Utara
Papua
  • Papua
  • Papua Barat
  • Papua Barat Daya
  • Papua Pegunungan
  • Papua Selatan
  • Papua Tengah
Kebudayaan
  • Adat
  • Arsitektur
    • Bedug
    • Tajug
  • Pakaian
    • Peci
    • Sarung
  • Lebaran
  • Masjid
    • Masjid Istiqlal
  • Musabaqah Tilawatil Quran
  • Saman
  • Sekaten
  • Slametan
  • Tabligh Akbar
  • Tabuik
  • Tausiyah
  • "Tombo Ati"
  • Yaqowiyu
Pendidikan
  • Iqro
  • Jamiat Kheir
  • Kitab kuning
  • Kyai
  • LIPIA
  • Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
  • Pesantren
    • Pondok Pesantren Walibarokah Kediri
    • Pondok Modern Darussalam Gontor
  • Surau
Gerakan
  • Islam Nusantara
  • Jamaah Tabligh
  • Jemaah Tarbiyah
  • Modernisme Islam
  • Islam tradisionalis
  • Salafi
  • Syiah
Lainnya
  • Al-Munir
  • Babad Tanah Jawi
  • Hukum jinayat di Aceh
  • Sajarah Banten
  • Tafsir Al-Mishbah
  • Masjid di Indonesia
  • Sejarah Indonesia
  • Pahlawan Nasional Indonesia
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • ISNI
  • VIAF
  • GND
  • FAST
  • WorldCat
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Australia
  • Belanda
Akademik
  • CiNii
Orang
  • Trove
Lain-lain
  • IdRef
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kehidupan
  2. Kehidupan awal
  3. Merantau ke Jawa
  4. Karier
  5. Aktivitas
  6. Wafat
  7. Kontroversi
  8. Islam liberal
  9. Pembelaan kasus Ahok
  10. Pendidikan
  11. Karya tulis
  12. Keterangan
  13. Rujukan
  14. Pranala luar

Artikel Terkait

Daftar Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

artikel daftar Wikimedia

Daftar Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia

pemimpin tertinggi Majelis Ulama Indonesia

Muhammadiyah

gerakan Islam bercabang dari Sunni

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026