Zaid bin Khattab atau Zaid bin al-Khattab Nama lengkapnya Zaid bin Khattab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Rayyah bin Abdullah bin Qirth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr al Qurasy Al Adawy. Ia juga dikenal dengan Abu Abdirrahman, sematan kunyah untuknya adalah Sahabat Nabi Muhammad dari golongan Muhajirin. Ia adalah kakak dari Umar bin Khatab, dan terlebih dahulu masuk Islam, ia merupakan keturunan Bani 'Adi, suku Quraisy, dari kabilah Kinanah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Zaid bin Khattab | |
|---|---|
| Nama | Zaid bin Khattab |
| Meninggal | Rabi'ul Awwal 12 H Yamamah |
| Penyebab kematian | Pertempuran Yamamah |
| Dimakamkan di | Al-'Uyainah |
| Etnis | Arab, suku Quraisy, bani 'Adi |
| Zaman | Pra Hijriah - Abad pertama Hijriah |
| Wilayah aktif | Jazirah Arab |
Zaid bin Khattab atau Zaid bin al-Khattab (bahasa Arab: زيد بن الخطابcode: ar is deprecated ) Nama lengkapnya Zaid bin Khattab bin Nufail bin Abdul ‘Uzza bin Rayyah bin Abdullah bin Qirth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Lu`ay bin Ghalib bin Fihr al Qurasy Al Adawy. Ia juga dikenal dengan Abu Abdirrahman, sematan kunyah untuknya (wafat Rabi'ul Awwal 12 H) adalah Sahabat Nabi Muhammad dari golongan Muhajirin. Ia adalah kakak dari Umar bin Khatab, dan terlebih dahulu masuk Islam, ia merupakan keturunan Bani 'Adi, suku Quraisy, dari kabilah Kinanah.[1]
Zaid bin al-Khatab bin Nafiel bin Abdul 'Uzza bin Rayyah bin Abdullah bin Qirth bin Razah bin Adi bin Ka'ab bin Lu`aiy bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. Ibunya bernama Asma bin Wahab Habib.[2]
Zaid hijrah ke Madinah bersama kakaknya Umar, Ayyasy, Abu Rabi'ah, Khunais bin Hadzaqah as-Sahmi (Suami Hafshah binti Umar), Sa'id bin Zaid, 4 anak al-Bukair: Iyas, Aqil, Amir, Khalid, yang merupakan keturunan dari Bani Laits al-Kinaniyah. Ketika sampai di Madinah, ia bertemu dengan Rifa'ah bin Abdul Mundzir di Quba, dan Nabi Muhammad mempersaudarakan antara Zaid dan Ma'an bin Adi al-Anshari al-'Ajlani, keduanya mati syahid dalam Pertempuran Yamamah. Zaid mengikuti semua pertempuran bersama Muhammad dari Pertempuran Badar sampai ekspedisi Tabuk. Karena ia mengingingkan kematian di medan perang sehingga ia sering melepaskan baju besinya saat perang.[2]
Zaid bin al Khattab adalah sahabat yang ahli dalam bertarung dimedan perang. Ia tidak pernah ketinggalan dalam peperangan bersama Muhammad. Di antara kisah kepahlawanan yang luar biasa dalam diri Zaid adalah ketika perang Yamamah. Kaum muslimin saat itu dipimpin oleh Khalid bin Walid , sedang panji perang sekaligus komandan sayap pasukan dipegang oleh Zaid bin Al Khattab.[3] Musuhnya adalah Musailamah al Kazzab yang mengaku Nabi, mereka mengumpulkan banyak pasukan untuk meruntuhkan Islam. Di antara mereka ada sosok yang dicari-cari oleh Zaid, yaitu Rajjal bin Unfuwwah. Dia adalah mantan Sahabat Muhammad, hafal ayat-ayat Al-Qur'an yang tidak sedikit, hafal sabda-sabda Muhammad, tetapi ia murtad dan bergabung dengan Musailamah al Kazdzab. Bahkan, dia memanfaatkan posisinya sebagai mantan sahabat, untuk menipu masyarakat, mengelabuhi masyarakat, agar mereka mengakui Musailamah sebagai Nabi Baru.[1]
Rajjal menggunakan nama Muhammad untuk mendukung kenabian palsu Musailamah, dan mengajak mereka memerangi sahabat Muhammad. Oleh karena itu, dialah sosok yang diwanti-wanti oleh Muhammad ketika Ia masih hidup, Ia bersabda, "Sesungguhnya di antara kalian ada seorang laki-laki yang gerahamnya di dalam neraka lebih besar daripada gunung uhud". Dan laki-laki yang dimaksud oleh Muhammad adalah Rajjal bin Unfuwah.[1]

Zaid bin Al-Khattab berusaha mengejar Rajjal. Namun Rajjal adalah petinggi di pasukan Musailamah, sehingga dilindungi oleh banyak pasukannya. Dan juga kondisi pasukan muslim saat itu sedang terdesak. Namun Zaid tidak kenal takut dan putus asa, iya terus menerjang hingga akhirnya berhasil menghabisi Rajjal bin Unfuwah. Angin peperangan pun berbalik, sang mantan sahabat yang murtad telah tewas, ini semakin melemahkan pasukan Nabi palsu. Disaat kaum muslimin akan menjemput kemenangan, Zaid juga telah menjemput kemenangan, dia syahid, gugur di medan jihad melawan pasukan Nabi Palsu. dan kaum muslimin juga berhasil menumpas pasukan nabi palsu Musailama al Kazdzab pada 632 M.[1]
Umar yang melihat kakakknya tidak kembali dia berkata, "Rahmat Allah bagi Zaid, Ia mendahuluiku dengan dua kebaikan. Ia masuk Islam lebih dahulu dan gugur syahid lebih dahulu pula".[1]
Pembunuh Zaid bin al-Khaththâb, Abû Maryam al-Hanafi telah masuk Islam pada perang Yamâmah. Tatkala dia masuk Islam, dia berkata, "Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah telah memuliakan Zaid di tanganku dan tidak diberikan kepada tangan orang lain. Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkanku hingga saya kembali kepada agama yang diridai bagi Nabi-Nya dan kaum Muslimin." Lalu 'Umar gembira mendengar ucapannya sehingga ia menjadi hakim di Basrah.[2]