Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Jarir bin Abdullah al-Bajali

Jarir bin Abdullah al-Bajali adalah salah seorang Sahabat Nabi Muhammad. Jarir adalah pemimpin kaumnya, kaum Bajilah, asal Yaman, dan ia memiliki paras yang tampan, sehingga Umar bin Al-Khattab berkata: "Jarir adalah Yusuf-nya umat ini." Ia berislam di akhir masa usia Nabi.

Wikipedia article
Diperbarui 21 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Jarir bin Abdullah al-Bajali
Artikel bertopik Islam ini berkualitas rendah karena menggunakan gaya bahasa yang berlebihan dan hiperbolis tanpa memberikan informasi yang jelas. Artikel ini kemungkinan menggunakan gaya bahasa naratif, hiperbolisasi, atau gelar-gelar kehormatan Islam (lihat WP:GELARISLAM). Bantu memperbaiki kualitas artikel ini dengan menghapus gelar kehormatan Islam, merombak gaya bahasa naratif menjadi deskriptif dan netralisasi kalimat-kalimat yang hiperbolis. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Artikel atau bagian dari artikel ini berkualitas rendah karena menggunakan gaya bahasa naratif yang tidak sesuai dengan Wikipedia sehingga menurunkan kualitas artikel ini.
Bantulah Wikipedia memperbaikinya. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.

Jarir bin Abdullah al-Bajali
Meninggal51/54 H
Circesium, Suriah

Jarir bin Abdullah al-Bajali (bahasa Arab: جرير بن عبد الله البجليcode: ar is deprecated ) adalah salah seorang Sahabat Nabi Muhammad. Jarir adalah pemimpin kaumnya, kaum Bajilah, asal Yaman, dan ia memiliki paras yang tampan, sehingga Umar bin Al-Khattab berkata: "Jarir adalah Yusuf-nya umat ini."[1] Ia berislam di akhir masa usia Nabi.[2]

Adi bin Hatim berkata, "Ketika Jarir datang menernui Nabi dia diberikan bantal, tetapi dia justru memilih duduk di atas tanah. Kemudian Nabi bersabda, ',aku bersaksi bahwa kamu tidak manginginlan suatu jabatan dan tidak pula kerusakan di bumi ini.' Setelah itu Jarir masuk Islam, lalu Nabi bersabda, 'Apabila orang mulia dari suatu kaum datang menemuimu maka perlakukanlah dengan homat!'"[2]

Ketika Nabi tengah menyampaikan khotbah kepada manusia sebelum kedatangan Jarir bin Abdillah, lalu saat Jarir telah menambatkan kendaraannya, memakai pakaian rapinya, kemudian ia mulai memasuki masjid. Tiba-tiba semua hadirin memandanginya dengan saksama. Setelah kejadian itu Jarir lalu bertanya kepada orang yang ada di sampingnya, “Wahai hamba Allah, apakah Rasulullah menyebut sesuatu tentang diriku?” Temannya menjawab, “Ya. Beliau menyebutmu dengan sebaik-baik penyebutan. Ketika beliau di tengah-tengah khotbah, beliau menyelanya dengan berkata, ‘Sesungguhnya akan masuk ke tempat kalian dari pintu sebelah sini, dia di antara sebaik-baik penduduk Yaman. Dan ketahuilah, bahwa di wajahnya terdapat (bekas) usapan Malaikat.’” Kemudian Jarir pun mengucapkan tahmid lantaran rasa gembira dan syukurnya kepada Allah.

Nabi pernah mengutus Jarir bin Abdillah bersama 150 rombongan pasukan untuk menghancurkan berhala yang ada di Yaman. Berhala itu telah dianggap orang-orang sebagai Ka’bah-nya Yaman, bernama Dzu al-Khalashah. Nabi berkata kepada Jarir, “Apakah engkau mau melegakan hatiku dari Dzu al-Khalashah, berhalanya kabilah Khats’am?” Jarir pun mengiyakan. Ia berkata, “Maka kami hancurkan (Dzu al-Khalashah) atau kami bakar sehingga kami meninggalkannya seperti unta kudisan.”

Peta Penaklukkan Muslim.

Masa Umar bin Khathab

Umar mengirim Jarir bin Abdillah al-Bajali menuju Irak dengan membawa pasukan sebanyak 4000 orang, maka dia segera berangkat ke Kufah pada 13 H.[3] Ia juga terlibat dalam pertempuran Buwaib pimpinan Mutsanna melawan Persia di tahun yang sama. Ketika peperangan berjalan dengan alot, al-Mutsanna mengumpulkan sebagian dari sahabatnya para pejuang dan pahlawan yang gagah berani agar melindungi dirinya dari belakang. Setelah itu al-Mutsanna menyerang jendral Persia, Mihran dan menariknya dari tempatnya hingga masuk ke sisi kanan. Kemudian datang al-Munzir bin Hasan bin Dhirar adh-Dhabbi turut menyerang dan menikamnya. Setelah itu Jarir bin Abdillah al-Bajali secepat kilat memenggal lehernya hingga kepalanya terpisah dari badan. Keduanya pun memperebutkan salb (harta maupun senjata yang ada pada musuh) milik Mihran, Jarir mengambil senjatanya dan al-Mundzir mengambil ikat pinggangnya. Melihat kejadian itu kaum Majusi kocar-kacir berlari meyelamatkan diri.[3]

Saat Pertempuran Qadisiyah, Sa'ad bin Abi Waqqash menempatkan Jarir sebagai komandan sayap kiri. Setelah kemenangan Qadisiyah, Umar menulis surat kepada an-Nu'man yang ketika itu masih di Bashrah. Isinya untuk segera berangkat bersama pasukannya menuju Nahawand, jika seluruh pasukan telah berkumpul. An-Nu'man sebagai panglima tertinggi untuk seluruh pasukan. Jika dia terbunuh hendaklah digantikan dengan Huzaifah bin al-Yaman. jika dia terbunuh juga maka digantikan oleh Jarir bin Abdillah. Pertempuran Nahawand pun dimenangkan muslimin, mengakhiri imperium Persia (kelak menjadi Iran).[3]

Masa Ali bin Abi Thalib

Ketika Khalifah Utsman terbunuh, Jarir sedang menjadi wali kota di Qarqisiya/Circesium (wilayah Suriah Timur). Lalu saat Ali hendak mengirim utusan kepada Mu'awiyah untuk mengajak beliau berbaiat kepadanya, Jarir bin Abdillah berkata, "Aku bersedia berangkat menemuinya wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya hubunganku dengannya sangat dekat. Aku akan mengambil bai'at darinya untukmu."

Al-Asytar menimpali, "Jangan utus dia wahai Amirul Mukminin, aku khawatir hawa nafsunya akan mengiringi dirinya."

Ali berkata, "Biarkanlah ia." Ali mengutus Jarir dengan membawa surat kepada Mu'awiyah, isinya pemberitahuan tentang kesepakatan kaum Muhajirin dan Anshar membai'at beliau. Kemudian menceritakan kepadanya tentang peristiwa peperangan Jamal serta mengajaknya bergabung bersama kaum muslimin lainnya. Ketika Jarir sampai di hadapan Mu'awiyah, ia menyerahkan surat Ali kepadanya. Mu'awiyah memanggil Amru bin al-'Ash dan tokoh-tokoh negeri Syam untuk bermusyawarah. Mereka menolak berbai'at kepada Ali hingga para pembunuh Utsman diqishash (hukum mati) atau Ali menyerahkan kepada mereka para pembunuh Utsman ra. tersebut.[3] Jarir kembali dan menyampaikan pesan Muawiyah pada Ali.

Jarir didatangi oleh utusan Khalifah Ali bin Abi Thalib dan mengajaknya bergabung bersama pasukannya. Akan tetapi Jarir bin Abdillah menjawab, “Sesungguhnya Rasulullah mengutusku ke Yaman untuk memerangi mereka sehingga mereka semua mengucapkan Laa Ilaaha illallah. Jika mereka mengucapkannya maka darah dan harta mereka menjadi haram. Maka, aku tidak akan membunuh orang yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.”

Jarir menghabiskan hidupnya di Qarqisiya (sekarang Dayr al-Zawr, Suriah) dan wafat disana pada 51 H.[2]

Referensi

  1. ↑ (Arab) Usdul Ghabah – Jarir bin Abdullah bin Jabir – hlm 529 Diarsipkan 15-08-2020 di Wayback Machine.
  2. 1 2 3 Dzahabi, Imam (2017). Terjemah Siyar A'lam an-Nubala. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-270-8
  3. 1 2 3 4 Katsir, Ibnu (2012). Terjemah Al Bidayah wa an-Nihayah. Jakarta: Pustaka Azzam. ISBN 978-602-236-044-5
  • l
  • b
  • s
Daftar Sahabat Nabi Islam Muhammad
Abbad bin Bisyr · Abbas bin Abdul-Muththalib · Abdullah bin Abbas · Abdullah bin Abdul-Asad · Abdullah bin Abdullah bin Ubay · Abdullah bin Hudzafah as-Sahmi · Abdullah bin Ja'far · Abdullah bin Mas'ud · Abdullah bin Rawahah · Abdullah bin Salam · Abdullah bin Umar · Abdullah bin Ummi Maktum · Abdullah bin Zubair · Abdurrahman bin Abi Bakar · Abdurrahman bin Auf · Abu Ayyub al-Anshari · Abu Bakar · Abu Dujanah · Abu Dzar Al-Ghifari · Abu Hudzaifah bin Utbah · Abu Hurairah · Abu Lubabah bin Abdul-Mundzir · Abu Martsad al-Ghanawi · Abu Musa al-Asy'ari · Abu Qatadah · Abu Sufyan bin Harb · Abu Sufyan bin al-Harits · Abu Thalhah al-Anshari · Abu Ubaidah bin al-Jarrah · Abu al-Ash bin ar-Rabi' · Abu Darda · Abu Bashir · Abu Sa'id al-Khudri · Attab bin Usaid · Al-Ala' bin al-Hadhrami · Al-Barra' bin Malik · Al-Harits bin Hisyam · Al-Nahdiah · Ali bin Abi Thalib · Amir bin Abi Waqqash · Amir bin Fuhairah · Amr bin al-Jamuh · Amr bin Tsabit · Ammar bin Yasir · Amr bin al-Ash · An-Nu'man bin Muqarrin · An-Nu'man bin Malik · Anas bin Malik · Aqil bin Abi Thalib · Arfajah al-Bariqi · Aus bin ash-Shamit · Basyir bin Sa'ad · Bilal bin Rabah · Bilal bin al-Harits · Al-Fadhl bin al-Abbas · Fatimah binti Asad · Fatimah binti Hizam · Fairuz ad-Dailami · Ghaurats bin Harits · Habbab bin Mundzir · Habibah binti Ubaidillah · Hakim bin Hazm · Halimah As-Sa'diyah · Hamzah bin Abdul-Muththalib · Hanzhalah bin Abi Amir · Haritsah binti al-Muammil · Hasan bin Ali · Hatib bin Abi Baitah · Hisyam bin al-Ash · Hudzaifah bin al-Yaman · Hujr bin Adi · Husain bin Ali · Ikrimah bin Abu Jahal · Ja'far bin Abi Thalib · Jarir bin Abdullah al-Bajali · Julaybib · Khabbab bin al-Arat · Khadijah binti Khuwailid · Khalid bin Sa`id · Khalid bin Walid ·  · Khaulah binti al-Azwar · Khaulah binti Hakim · Khaulah binti Tsa'labah · Khubaib bin Adi · Khunais bin Hudzafah · Khuzaimah bin TsabitLayla binti al-Minhal · Lubabah binti al-Harith · Lubaynah · Malik bin Nuwairah · Marwan bin al-Hakam · Miqdad bin Amr · Mua'dz bin Jabal · Muawiyah bin Abu Sufyan · Muhammad bin Maslamah · Mughirah bin Syu'bah · Mush'ab bin Umair · Qatadah bin an-Nu'man · Qudamah bin Mazh'un · Rabi'ah bin Aktsam · Rabi'ah bin al-Harits · Rukanah al-Mutthalibi · Sa'ad bin ar-Rabi' · Sa'ad bin Abi Waqqash · Sa'ad bin Mu'adz · Sa'ad bin Ubadah · Shafiyyah binti Abdul Muthalib · Sa'id bin al-Ash · Sa'id bin Amir al-Jumahi · Sa'id bin Zaid · Salim bin Ma'qil · Salman al-Farisi · Shuhaib ar-Rumi · Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi · Sufyan bin 'Auf · Sumayyah binti Khayyat · Syaibah bin 'Utsman · Tamim ad-Dari · Thalhah bin Ubaidillah · Thariq bin Syihab · Thulaib bin Umair · Tsuwaibah · Tsumamah bin Utsal · Ubadah bin ash-Shamit · Ubadah bin Al-Khasykhasy · Ubaidah bin al-Harits · Ubay bin Ka'ab · Umamah binti Abi al-Ash · Umar bin Khattab · Ummi Hani · Ummi Kultsum binti Ali · Ummu Ruman · Ummi Syarik · Ummi Ubays · Uqbah bin Amir · Urwah bin Mas'ud · Usamah bin Zaid · Usaid bin Hudhair · Utbah bin Ghazwan · Utsman bin Affan · Utsman bin Mazh'un · Utsman bin Hunaif · Wahb bin Umair · Wahb bin Sa'ad · Wahsyi bin Harb · Yazid bin Abu Sufyan · Zaid bin Arqam · Zaid bin Haritsah · Zaid bin Tsabit · Zainab binti Ali · Zubair bin Awwam · Zunirah al-Rumiyah
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • VIAF
Lain-lain
  • İslâm Ansiklopedisi

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Referensi

Artikel Terkait

Utsman bin Affan

Khalifah Kekhalifahan Rasyidin ke-3 (m. 644–656)

Pertempuran al-Qadisiyyah

artikel daftar Wikimedia

Muawiyah bin Abu Sufyan

Pendiri dan Khalifah Pertama Kekhalifahan Umayyah (661-680)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026