Pertempuran Nahawand adalah suatu pertempuran pada tahun 642 antara pasukan Arab Muslim dimasa Khalifah Umar bin Khathab melawan pasukan Kekaisaran Sasania. Pertempuran berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pihak Muslim, dan akibatnya pihak Persia kehilangan kota-kota di sekitar wilayah tersebut, termasuk kota penting Sephahan. Pertempuran ini menjadi pertempuran kuat terakhir Persia dalam menghadapi invasi pasukan muslim.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Pertempuran Nahawand | |||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Bagian dari Penaklukan Muslim | |||||||
Lukisan Kastil Nahawand, salah satu benteng peninggalan Sasania yang tersisa. | |||||||
| |||||||
| Pihak terlibat | |||||||
|
|
| ||||||
| Tokoh dan pemimpin | |||||||
|
|
| ||||||
| Kekuatan | |||||||
| 30.000[6] | 100.000[7]-150.000 serdadu dari Kumis[8][9] | ||||||
| Korban | |||||||
| Berjumlah besar[10][11] | Berjumlah besar[11][12] | ||||||
Pertempuran Nahawand (bahasa Arab: معركة نهاوندcode: ar is deprecated , ma'rakah Nahawandi, juga dieja Nahāvand atau Nihāvand) adalah suatu pertempuran pada tahun 642 antara pasukan Arab Muslim dimasa Khalifah Umar bin Khathab melawan pasukan Kekaisaran Sasania.[13] Pertempuran berakhir dengan kemenangan mutlak bagi pihak Muslim, dan akibatnya pihak Persia kehilangan kota-kota di sekitar wilayah tersebut, termasuk kota penting Sephahan (kini Isfahan). Pertempuran ini menjadi pertempuran kuat terakhir Persia dalam menghadapi invasi pasukan muslim.
Pasukan Sassania di bawah pimpinan Peroz Khosrau yang diangkat Yazdegerd III menjadi pemimpin tertinggi berjumlah 150.000 orang[14] yang berasal dari wilayah-wilayah Media, Azerbaijan, Khurasan, Gurgan, Tabaristan, Merw, Baktria, Sistan, Kerman, dan Farsistan, yang mengambil posis bertahan di luar kota Nahawand.[15] Sedangkan di pihak Arab, Nu'man bin Muqarrin memimpin 30.000 orang pasukan,[14] yang berasal pangkalan Arab Muslim dari Irak, Khuzistan, dan Sawad.[15] Di antara pasukan Arab, terdapat tokoh-tokoh sahabat Nabi seperti Abdullah bin Umar, al-Mughirah bin Syu'bah, Amr bin Ma'di Yakrib, Thulaihah al-Asadi, Hudzaifah bin al-Yaman dan lain-lain.[16]
Panglima tertinggi muslim, Sa'ad bin Abi Waqqash datang kembali ke Madinah untuk meyakinkan Umar agar bersegera menyerang pasukan Persia di Nahawand, hal ini pun disetujui Umar setelah berunding dengan sahabat senior.[17]
Nu'man mempersiapkan dan menyusun pasukan Islam sebagai berikut:
Sebelum pecah pertempuran, Mughirah bin Syu'bah terlebih dahulu diutus untuk mengajak pasukan persia masuk Islam namun gagal.[19]

Pasukan Sassania bertahan di luar kota Nahawand serta membuat parit pertahanan, dengan tujuan bertahan hingga pasukan Arab Muslim yang menyerang kehabisan makanan dan akhirnya mundur.[15] Setelah selama dua bulan gagal dalam upayanya memancing pertempuran, Nu'man bin Muqarrin mengadakan siasat penipuan dengan menyebarkan isu bahwa Khalifah Umar meninggal dunia, dan pasukannya diminta membongkar tenda dan mundur dengan cepat.[15] Siasat ini berhasil memancing Peroz Khosrau dan pasukan Sassania untuk menyerang; tetapi setelah beberapa lama, dengan aba-aba Nu'man pasukan Arab Muslim yang telah bersiap dengan tiba-tiba menyerang balik dengan kekuatan penuh.[15]
Akibat serangan tersebut, pasukan Sassania mundur dengan terburu-buru dan tidak teratur, sehingga korban tewas besar di pihak mereka.[15] Nu'man yang memimpin di garis depan juga tewas terjatuh dari kudanya karena tanah yang licin dengan banyaknya darah hingga perutnya pun terkena panah.[19] Lalu pemimpin pengganti yang telah disiapkan sebelumnya, Hudzaifah bin al-Yaman, terus memimpin pasukan Arab Muslim sehingga mencapai kemenangan di mana Peroz dan sebagian besar pasukan Sassania tewas.[20][21] Nahawand jatuh ke tangan pasukan Arab Muslim, dan juga Hamadan menyerah tidak lama kemudian.[15]
Pertempuran Nahawand berakhir dengan kekalahan telak di pihak Sassania, tewasnya Peroz dan Nu'man, serta jatuhnya Nahawand yang secara praktis mengakhiri keberadaan Kekaisaran Sassania.[14][15][20] Thulaihah ikut terbunuh dalam pertempuran ini.
Sumber-sumber non-Muslim menyebutkan bahwa Yazdegerd III yang melarikan diri, kemudian gagal mengumpulkan cukup dukungan di wilayah Persia Timur, di mana pemerintahan Sasania tidak populer bagi rakyat setempat.[22] Sumber-sumber Muslim seperti Tarikh ur-Rusul wal-Muluk dari Thabari menyebutkan bahwa provinsi Khorasan kembali memberontak terhadap kekuasaan Sasania, sebagaimana yang terjadi beberapa tahun sebelumnya tatkala mereka berpihak kepada Vistahm, yaitu paman dari Khosrau II. Ketika Yazdegerd III dinobatkan di Estakhr, sesungguhnya Persia diperintah oleh tiga pengklaim kerajaan dari wilayah-wilayah yang berbeda; Yazdegerd pada awalnya tidak langsung mendapat dukungan dari mereka.
Yazdegerd III lalu berusaha memperoleh bantuan pasukan dari Hun Putih dan suku-suku Turkik, tetapi sebelum terwujud ia dibunuh oleh seorang tukang roti di Marw pada tahun 651.[22][23] Setelah itu, Peroz anak Yazdegerd berupaya membangkitkan kembali Kekaisaran Sasania dalam menghadapi Kekhalifahan Rasyidin dan penerusnya Kekhalifahan Umayyah, walaupun rencananya tidak berjalan dengan baik karena Peroz akhirnya meninggal di Tiongkok.
Abu Lu'lu, budak Mughirah bin Syu'bah pembunuh Umar bin Khathab berasal dari tawanan persia yang kalah dari Pertempuran Nahawand.[19]