Sa'ad bin Abi Waqqash, juga dikenal sebagai Sa'ad bin Malik, adalah salah satu dari sahabat Muhammad. Sa'ad dikatakan menjadi orang ketujuh yang memeluk Islam di usia tujuh belas tahun. Termasuk 10 orang yang dijanjikan masuk Surga, disebut Muhammad sebagai pemanah pertama dalam perjuangan Islam. Sa'ad terutama dikenal karena kepemimpinannya dalam Pertempuran Al-Qadisiyyah, pendiri kota Kufah (Irak) di masa Umar dan kunjungannya ke Tiongkok pada tahun 651 pada masa Dinasti Tang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membutuhkan rujukan tambahan agar kualitasnya dapat dipastikan. |
| Nama dalam bahasa asli | (ar) سعد بن أبي وقاص |
|---|---|
| Biografi | |
| Kelahiran | 595 (Kalender Masehi Gregorius) Makkah |
| Kematian | k. 674 Madinah |
| Governor of Kufa (en) | |
| | |
| Data pribadi | |
| Agama | Islam |
| Kegiatan | |
| Pekerjaan | pedagang, pemimpin militer |
| Kesetiaan | Kekhalifahan Rasyidin |
| Cabang militer | Pasukan Rasyidin |
| Pangkat militer | commander (en) |
| Konflik | Pertempuran Badar, Pertempuran Uhud dan Pertempuran Khandaq |
| Keluarga | |
| Anak | Umar bin Sa'ad, Mush'ab bin Sa'ad, Aisyah binti Sa'ad, Amir bin Sa'ad, Muhammad bin Sa'ad bin Abi Waqqash, Ibrahim bin Sa'ad |
| Ibu | Hamnah binti Sufyan |
| Saudara | Utbah bin Abi Waqqash, Amir bin Abi Waqqash dan Umair bin Abi Waqqas |
| Kerabat | Hasyim bin Utbah (fraternal nephew (en) |
Sa'ad bin Abi Waqqash (bahasa Arab: سعد بن أبي وقاصcode: ar is deprecated ), juga dikenal sebagai Sa'ad bin Malik,[1] adalah salah satu dari sahabat Muhammad. Sa'ad dikatakan menjadi orang ketujuh[1] yang memeluk Islam di usia tujuh belas tahun. Termasuk 10 orang yang dijanjikan masuk Surga, disebut Muhammad sebagai pemanah pertama dalam perjuangan Islam. Sa'ad terutama dikenal karena kepemimpinannya dalam Pertempuran Al-Qadisiyyah, pendiri kota Kufah (Irak) di masa Umar dan kunjungannya ke Tiongkok pada tahun 651 pada masa Dinasti Tang.[2]
Ia berasal dari suku Bani Zuhrah dari suku Quraisy,[3] dan termasuk paman Muhammad dari garis pihak ibu. Abdurrahman bin Auf, sahabat Muhammad yang lain, merupakan sepupu.[4]
Sa'ad lahir di Mekkah pada tahun 595. Ayahnya adalah Abu Waqqas Malik bin Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah dari klan Bani Zuhrah dari Suku Quraisy.[3][5] Uhaib bin Abdu Manaf adalah paman dari pihak ayah Aminah binti Wahab,[6] ibu Muhammad. Ibu Sa'ad adalah Hamnah binti Sufyan bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf.[7] Saad bertubuh pendek, gemuk, jari-jarinya pendek dan tebal, berkulit coklat, mewarnai rambut ubannya jadi hitam.[2]
Ketika masuk Islam, Ibu Saad mengancam mogok makan agar kembali kafir, namun Saad bertahan setelah sehari semalam ibunya tidak makan minum sampai kehabisan tenanga, Saad menyampaikan ia akan tetap bertahan dengan imannya sampai akhirnya ibunya menyerah dan mulai makan kembali.[2] Saad terkenal dengan banyak doanya yang makbul (tidak meleset) pada beberapa orang pemfitnah dan pencela.
Dalam Kitab Ash-Shahihain ia memiliki 15 hadits, Bukhari meriwayatkan 5 hadits dan Muslim riwayatkan 18 hadits dari Saad. Saad yang meriwayatkan Doa Nabi Yunus ketika di dalam perut ikan.[2]
Saad terlibat Perang Badar dengan keberanian seperti pasukan berkuda. Saat Perang Uhud, Saad melepaskan 3 kali anak panah dan mengenai musuh tepat sasaran berkat doa Muhammad. Saat Perang Khandak, Muhammad tertawa karena panah Saad melesat tidak tepat sasaran sehingga musuhnya lompat-lompat gembira di seberang parit.[2] Saat penaklukkan Mekah, Saad sempat sakit di Mekah dan mengira sudah akan mati sehingga meminta nasihat Muhammad untuk warisan hartanya yang banyak, tetapi didoakan dan dinasihati Muhammad untuk kesembuhan.[2]
Setelah Muhammad wafat, dan Abu Bakar menggantikan dia, Sa'ad termasuk di antara pasukannya.[8] Ketika pasukan Usamah bin Zaid berangkat meninggalkan Madinah, orang-orang Badui ingin merebut kota Madinah, lalu Abu Bakar menempatkan penjaga di sekitar kota tersebut untuk menjaganya, termasuk Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, dan Sa'ad bin Abi Waqqas.[9] Kemudian Sa'ad berangkat bersama Abu Bakar untuk berperang melawan orang Badui dalam Perang Riddah.[8] Abu Bakar kemudian menugaskan Saad sebagai pengumpul zakat sedekah di Hawazin.[10]
Umar perintahkan Abu Ubaidah di Damaskus untuk kirim pasukan bantuan ke Irak membantu Saad,[10] dimana Saad ditunjuk Umar sebagai panglima perang ke Irak dengan keberangkatan dari Madinah bersama 4.000 pasukan yang berasal dari Yaman, Gathafan dan lainnya.[10] Saad menunjuk Zuhrah bin Abdullah sebagai komandan pasukan tengah, Abdullah bin Mu'tam sebagai komandan sayap kanan, Syurahbil sebagai komandan sayap kiri, Khalid bin Urfutah sebagai wakil, Asim bin Amr sebagai komandan pasukan bagian belakang, Sawad bin Malik sebagai kepala intelijen, Salman al-Farisi sebagai pimpinan solat, dan Ziyad bin Abu Sofyan sebagai sekretaris.[10]
Kemudian pecah perang besar pimpinan Saad yaitu Perang Qadisiyah yang berlangsung selama 4 hari 3 malam pada 15 H / 636 M dengan pertempuran yang sangat keras melawan pasukan Persia pimpinan Rustam yang dimenangkan muslimin. Akibatnya pusat kerajaan Persia, Ctesipon (Madain) dengan mudah dikuasai setelahnya.
Selanjutnya pasukan muslim awalnya menetap di Madain namun merasa tidak cocok dengan suasana cuacanya membuat beberapa pasukan jatuh sakit, lalu Saad mencari lokasi baru untuk membuat markas tetap bagi pasukannya maka Saad mendirikan tempat/kota baru Kufah bagi muslimin di Irak (Persia) dan diangkat sebagai Gubernur beberapa tahun kemudian diturunkan Umar karena protes penduduk Kufah tahun 20 H / 641 M.[2]
Saad kembali ditunjuk Utsman sebagai Gubernur Kufah pada 25 H / 646 M[10] selama beberapa tahun sampai kemudian digantikan oleh kerabat Utsman.[2]
Saat perebutan kekuasaan antara Muawiyah dan Ali, maka Saad memilih untuk menyendiri dan tidak berpihak pada siapapun walaupun anak dan beberapa orang menanyakan keberpihakannya ia memilih untuk tidak terlibat dalam perang saudara.[2]
Saat berjumpa Muawiyah, Saad tidak memanggilnya dengan Amirul Mukminin, ketika ditanya Muawiyah, Saad lalu menasihatinya agar tidak takabur, ujub, dan menumpahkan darah muslimin.[2]
Berikut adalah keistimewaan dari Sahabat Sa'ad Bin Abu Waqqash:


Sa'ad secara tradisional dikreditkan oleh Muslim China karena memperkenalkan Islam ke China pada tahun 650, pada masa pemerintahan Kaisar Gaozong dari Tang.[12][13] Sebuah masjid di Distrik Lalmonirhat Bangladesh juga telah ditemukan, yang konon dibangun sendiri pada tahun 648, dan juga secara lokal disebut dengan namanya sebagai masjid Abu Akkas.[14][15] Riwayat lain menyebutkan Saad wafat di bentengnya, Aqiq / Hamraul Usud karena mengasingkan diri, sejauh 10 km dari Madinah, lalu jenazahnya dibawa ke Madinah pada tahun 55 H pada usia 82 tahun.[2] Saad meminta kepada anaknya agar dikafankan dengan kain yang ia gunakan saat Perang Badar. Ia termasuk sahabat yang paling akhir wafat.