Pulung adalah kecamatan di Kabupaten Ponorogo yang terletak di timur. Dengan luas wilayah 133,24 km², Pulung merupakan kecamatan terluas kedua di Ponorogo setelah Kecamatan Ngrayun. Jalan dari pusat kabupaten menuju Pulung melewati kawasan hutan milik Perhutani bernama Alas Sukun yang cukup luas tetapi jarang penduduk. Hutan tersebut cenderung kering dan sulit air sehingga lebih banyak ditanami jati dan kayu putih, sedangkan masyarakat sekitar menanam jagung dan singkong. Hal ini berbeda dengan wilayah Pulung bagian timur yang subur karena berada di kaki dan lereng Gunung Wilis.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pulung | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Ponorogo | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Suwadi, SH., MH. | ||||
| Populasi (2023) | |||||
| • Total | 53.506 jiwa | ||||
| Kode pos | 63481 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.02.07 | ||||
| Kode BPS | 3502070 | ||||
| Luas | 133,24 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 18 | ||||
| |||||
Pulung adalah kecamatan di Kabupaten Ponorogo yang terletak di timur. Dengan luas wilayah 133,24 km², Pulung merupakan kecamatan terluas kedua di Ponorogo setelah Kecamatan Ngrayun. Jalan dari pusat kabupaten menuju Pulung melewati kawasan hutan milik Perhutani bernama Alas Sukun yang cukup luas tetapi jarang penduduk. Hutan tersebut cenderung kering dan sulit air sehingga lebih banyak ditanami jati dan kayu putih, sedangkan masyarakat sekitar menanam jagung dan singkong.[1] Hal ini berbeda dengan wilayah Pulung bagian timur yang subur karena berada di kaki dan lereng Gunung Wilis.
Pusat pemerintahan, ekonomi, dan pertanian Pulung berada di sebelah timur yang terdapat pasar seperti Pasar Pulung dan Kesugihan. Bagian lereng Gunung Wilis di ujung timur seperti Desa Banaran dan Wagir Kidul cukup hijau dan asri dan merupakan sentra sapi perah.[2] Namun sayangnya kedua desa tersebut berada di kawasan yang rawan longsor.[3]

Pulung adalah kecamatan yang terletak di timur Ponorogo dengan wilayah yang memanjang hingga ke lereng Gunung Wilis di ujung timur. Pulung bagian barat seperti Sukun dan Karangpatihan berupa dataran rendah yang dikelilingi oleh Alas atau Hutan Sukun. Hutan tersebut cenderung kering dan banyak ditanami jati dan kayu putih oleh Perhutani. Beberapa warga bekerja sebagai pemungut daun kayu putih. Selain itu, mereka juga menggarap lahan Perhutani dengan sistem tumpang sari yang disebut tasen atau mbaon. Sistem tasen ini memberikan hak kepada masyarakat untuk menggarap lahan Perhutani misalnya dengan menanam jagung, kedelai, dan ketela di bawah tegakan pohon kayu putih dan menikmati hasil mereka sendiri. Beberapa pekerja membangun pemukiman terpencil di tengah hutan tersebut dengan infrastruktur seadanya dengan listrik dan air bersih yang minim.[1][4]

Kecamatan Pulung memiliki banyak potensi, salah satunya beberapa pabrik di Sukun yang dibangun oleh Perhutani. Pabrik minyak kayu putih (Melaleuca cajuputi) dibangun dekat dengan bahan baku yang banyak ditanam di Alas Sukun.[5] Selain itu, juga terdapat pabrik pengolahan getah pinus (Pinus merkusii) menjadi gondorukem dan terpentin. Getah pinus disadap dari pohon pinus yang banyak ditanam di wilayah Ponorogo seperti Kecamatan Slahung dan Ngrayun.[6] Potensi lainnya adalah jeruk keprok varietas Pulung berwarna hijau kekuningan. Dulunya jeruk ini banyak ditanam tetapi menjadi langka akibat serangan virus CVPD.[7] Di bidang peternakan, terdapat wilayah dataran tinggi seperti Desa Wagir Kidul dan Banaran yang menjadi sentra peternakan sapi perah.[2]
Batas wilayah Pulung adalah sebagai berikut:[8]
| Utara | Kecamatan Ngebel |
| Timur | Kecamatan Pudak |
| Selatan | Kecamatan Sooko dan Kecamatan Sawoo |
| Barat | Kecamatan Jenangan, Kecamatan Siman, dan Kecamatan Mlarak |
Kecamatan Pulung terdiri dari 18 desa yang terbagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:[8]
| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Banaran | Gondangsari, Krajan, Sooro, Tangkil | [8] |
| 2 | Bedrug | Jati, Jatirejo, Krajan, Wonorejo | [9] |
| 3 | Bekiring | Bintoro, Krajan, Nguncup | [8] |
| 4 | Karangpatihan | Dungus, Jurugan, Krajan, Malangsari, Selodono | [10] |
| 5 | Kesugihan | Kebonagung, Krajan, Plaosan, Sisir | [8] |
| 6 | Munggung | Cabe, Munggur, Putuk Tranjang, Tosari, Warangan | [8] |
| 7 | Patik | Jangglengan, Krajan, Tunjungan Kulon, Tunjungan Wetan | [8] |
| 8 | Plunturan | Cabean, Gadungan, Krajan, Suru | [8] |
| 9 | Pomahan | Bantengan, Gesing, Jalinan, Krajan, Pohijo, Sabil, Seprau | [8] |
| 10 | Pulung | Bedagan, Dadapan, Gambiran, Jegolan, Kebon, Krajan, Segaran, Sekandang | [8] |
| 11 | Pulung Merdiko | Krajan, Segropyak | [8] |
| 12 | Serag | Banong, Krajan, Ngerjang, Ngrombo, Wonorejo | [8] |
| 13 | Sidoharjo | Krajan, Magersari, Plosorejo, Sukun | [8] |
| 14 | Singgahan | Cengkir, Krajan, Mojo, Ngradi, Singgahan Lor, Putuk Suren | [11] |
| 15 | Tegalrejo | Mendak, Sawur, Tegalrejo | [8] |
| 16 | Wagir Kidul | Bangunsari, Dresi, Kekep, Kerep, Krajan, Mendak, Plumpung, Puthuk, Tumoncol | [8] |
| 17 | Wayang | Krajan, Mutih, Surodipo | [8] |
| 18 | Wotan | Babadan, Jalakan, Krajan, Tawing | [8] |
Legenda mengenai Pulung berhubungan dengan perjalanan Pakubuwono II yang terusir dari Keraton Kartasura pada peristiwa Geger Pecinan sekitar tahun 1740-an. Pakubowono II pergi ke arah barat dan bertemu Raden Jayengrono (putra Bupati Bojonegoro Haryo Matahun) di suatu wilayah yang sekarang menjadi Dusun Jayengranan di Desa Kranggan, Sukorejo. Jayengrono kemudian menemani Pakubuwono II dalam pelariannya. Dalam kisah tersebut, rombongan mereka berhenti di suatu daerah dan kemudian muncul cahaya yang turun ke sebuah rumah. Rumah tersebut milik seorang pembuat pusaka bernama Mpu Salembu. Pusaka buatan Mpu Salembu kemudian dibawa oleh rombongan sultan dalam perjalanan untuk merebut keraton kembali. Daerah ini kemudian dinamakan "Pulung" yang berarti cahaya atau wahyu yang turun.[12]
Singkat cerita, Keraton Kartasura berhasil direbut kembali. Kemudian Jayengrono diangkat menjadi bupati bergelar Tumenggung di wilayah yang diberi nama Pedanten yang mencakup Siman, Pulung, dan daerah lain di timur Ponorogo. Tumenggung Jayengrono kemudian beristirahat di Pulung dan dimakamkan di sana. Desa tempat Tumenggung Jayengrono dimakamkan dijadikan desa perdikan (desa bebas pajak) bernama Pulung Merdiko. Sekarang Desa Pulung Merdiko masih ada dan makam Tumenggung Jayengrono menjadi wisata religi yang banyak dikunjungi.[12][13]
