Jetis adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Ponorogo. Jetis adalah kecamatan terkecil kedua di Ponorogo setelah Kecamatan Ponorogo yaitu sekitar 23,45 km². Kecamatan ini berjarak cukup dekat dari ibu kota Kabupaten Ponorogo yaitu sekitar 10 kilometer ke arah selatan. Jetis letaknya strategis karena dilalui jalan nasional penghubung ibu kota Ponorogo dengan Trenggalek. Tepian jalan tersebut cukup ramai, terutama di kawasan sekitar perempatan Jetis yang merupakan pusat ekonomi kecamatan ini karena terdapat Pasar Jetis, pasar hewan, berbagai pertokoan, hingga agen bus.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Jetis | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Ponorogo | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Yusuf Dharmadi Jaya Prabowo, S.STP | ||||
| Populasi (2023) | |||||
| • Total | 32.231 jiwa | ||||
| Kode pos | 63473 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.02.09 | ||||
| Kode BPS | 3502100 | ||||
| Luas | 23,45 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 14 | ||||
| |||||
Jetis adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Ponorogo. Jetis adalah kecamatan terkecil kedua di Ponorogo setelah Kecamatan Ponorogo yaitu sekitar 23,45 km². Kecamatan ini berjarak cukup dekat dari ibu kota Kabupaten Ponorogo yaitu sekitar 10 kilometer ke arah selatan. Jetis letaknya strategis karena dilalui jalan nasional penghubung ibu kota Ponorogo dengan Trenggalek.[1] Tepian jalan tersebut cukup ramai, terutama di kawasan sekitar perempatan Jetis yang merupakan pusat ekonomi kecamatan ini karena terdapat Pasar Jetis, pasar hewan, berbagai pertokoan, hingga agen bus.
Kecamatan Jetis memiliki lokasi-lokasi penting dalam sejarah Ponorogo. Ki Ageng Kutu yang merupakan musuh dari pendiri Ponorogo yaitu Batoro Katong berasal dari Desa Kutu (dulunya disebut Surukubeng). Ki Ageng Kutu juga disebut-sebut sebagai pencipta Reog Ponorogo.[2] Selain itu, juga terdapat Desa Tegalsari yang terdapat masjid bersejarah yaitu Masjid Setono dan Masjid Tegalsari. Masjid Tegalsari dulunya terdapat Pesantren Tegalsari (Gerbang Tinatar) yang merupakan salah satu pondok pesantren legendaris di Pulau Jawa dan banyak tokoh penting yang mengenyam pendidikan disini seperti HOS Cokroaminoto, Ronggowarsito, Sunan Pakubuwono II, hingga berbagai kiai yang mendirikan pondok pesantren lainnya. Pondok ini didirikan oleh Kiai Ageng Muhammad Besari, dan sekarang masjid kuno dan rumah peninggalan beliau menjadi wisata religi terkenal di Ponorogo.[3]

Jetis adalah kecamatan dengan geografi berupa dataran rendah dengan lahan yang didominasi persawahan. Jetis dilewati dua sungai penting yaitu Sungai Keyang dan Sungai Gendol, keduanya menjadi pembatas dengan Kecamatan Siman dan Mlarak. Jetis dilewati jalan nasional Ponorogo-Trenggalek yang melintas dari utara di Desa Winong hingga ke ujung tenggara di Desa Kutuwetan (Pohgosong). Namun Kutuwetan bukanlah desa paling selatan maupun paling timur dari kecamatan ini, desa paling selatan adalah Ngasinan sedangkan desa paling timur adalah Coper.[1]
Batas wilayah Jetis adalah sebagai berikut:[1]
| Utara | Kecamatan Siman dan Kecamatan Mlarak |
| Timur | Kecamatan Mlarak dan Kecamatan Sambit |
| Selatan | Kecamatan Bungkal dan Kecamatan Sambit |
| Barat | Kecamatan Balong |

Menurut kisah yang berkembang di masyarakat, di wilayah yang sekarang bernama Desa Kutu dulunya merupakan bagian dari Kademangan Surukubeng di wilayah Wengker yang dikuasai oleh Kerajaan Majapahit. Surukubeng dipimpin oleh Ki Gede Ketut Suryo Ngalam atau Ki Ageng Kutu. Dalam kisah tersebut, Ki Ageng Kutu juga disebut sebagai pencipta Reog Ponorogo yang bermaksud menyindir pemerintahan Raja Brawijaya V yang didominasi oleh permaisurinya yaitu Putri Campa dengan menggambarkannya sebagai harimau yang garang tetapi ditunggangi oleh merak yang cantik. Kerajaan Majapahit kemudian diislamkan dan diteruskan oleh Kesultanan Demak. Ki Ageng Kutu tidak mengakui hal tersebut dan membangun basis pertahanan di Wengker. Sultan Demak Raden Fatah mengirim Bathoro Katong untuk memperluas kekuasaan Demak di daerah Wengker dan menyebarkan Agama Islam. Bathoro Katong kemudian mendirikan pemukiman bernama Ponorogo. Singkat cerita, Kedua pemimpin ini bersaing sehingga timbul peperangan dan adu kesaktian dan akhirnya Ki Ageng Kutu mengalami kekalahan.[2][4]
Setelah masa Bathoro Katong, muncul pusat penyebaran Islam baru seperti Desa Tegalsari di selatan Ponorogo. Tokohnya bernama Pangeran Sumendhe Ragil yang merupakan putra dari Sunan Bayat (tokoh penyebar Islam di Semarang hingga Klaten). Pangeran Sumendhe Ragil merintis pemukiman dan masjid yang sekarang dinamakan Setono (sebuah dukuh di Tegalsari). Setono kemudian mendapatkan status desa perdikan atau desa bebas pajak karena memiliki fungsi khusus untuk menyebarkan agama Islam dan merawat makam Sumendhe Ragil dan penerusnya. Salah satu keturunan dari Sumendhe Ragil adalah Kiai Donopuro yang memiliki santri bernama Muhammad Besari (putra Kiai Anom Besari dari Caruban) sekitar tahun 1700-an. Kiai Donopuro kemudian memerintahkan Muhammad Besari untuk mendirikan pesantren baru di seberang Sungai Keyang. Pesantren baru ini dinamakan Pesantren Gebang Tinatar Tegalsari yang mendapat status perdikan pada tahun 1742.[3] Kedua pesantren ini sekarang masih ada dalam bentuk masjid kuno yang dijadikan wisata religi populer, jembatan untuk pejalan kaki juga dibangun untuk menghubungkan Masjid Setono di barat sungai dengan Masjid Tegalsari di timur sungai.[5]

Pesantren Tegalsari merupakan salah satu pesantren penting dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa dan melahirkan tokoh-tokoh terkenal seperti HOS Tjokroaminoto dan pujangga Ronggowarsito. Pakubuwono II juga pernah meminta bantuan ke pesantren ini dengan adanya peristiwa Geger Pecinan. Keraton Kartasura dikuasai oleh pasukan Raden Mas Garendi pada tahun 1742 sehingga Pakubuwono lari ke arah barat untuk mengumpulkan pasukan.[3] Kiai Muhammad Besari mengirimkan Raden Mas Bagus Harun untuk membantu menguasai keraton kembali. Nantinya Bagus Harun mendirikan Masjid Sewulan di Madiun dan bergelar Kiai Ageng Basyariyah.[6] Salah satu putra Kiai Ageng Muhammad Besari adalah Kiai Ishaq yang dihadiahi sebuah masjid kayu, beliau memerintahkan Kiai Ishaq untuk menyebarkan Islam di Desa Coper dengan masjid tersebut.[7]
Pasca Perang Diponegoro, wilayah Ponorogo jatuh ke tangan Belanda. Ponorogo direorganisasi sehingga menjadi bagian dari Karesidenan Madiun dan mencakup beberapa kawedanan atau daerah pembantu Bupati. Salah satunya Kawedanan Arjowinangun yang berpusat di Tamansari dan mencakup Kecamatan Sambit, Sawoo, Jetis, dan Mlarak.
Kecamatan Jetis terdiri dari 14 desa yang dibagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:[1]
| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Coper | Coper Kidul, Coper Kulon, Banaran, Ngrayut | [1] |
| 2 | Jetis | Jetis I, Jetis II | [1] |
| 3 | Josari | Josari Kulon, Josari Wetan, Keben, Klangi | [1] |
| 4 | Karanggebang | Karang Asri, Purwo Asri, Taman Asri, Tegal Asri / Puhlimo | [8] |
| 5 | Kradenan | Kradenan, Banjar | [1] |
| 6 | Kutu Kulon | Kutu, Tegalarum | [1] |
| 7 | Kutu Wetan | Krajan Barat, Krajan Timur, Pohgosong, Sidorejo / Bogoran | [1] |
| 8 | Mojomati | Mojomati I, Mojomati II | [1] |
| 9 | Mojorejo | Bantengan, Carukan, Malo | [1] |
| 10 | Ngasinan | Ngasinan, Glendoh, Karanglo, Mantup, Samen | [9] |
| 11 | Tegalsari | Gendol, Jinontro, Setono | [1] |
| 12 | Turi | Turi I, Turi II, Karangboto, Manding, Tempel | [1] |
| 13 | Winong | Winong I, Winong II, Pandanderek | [1] |
| 14 | Wonoketro | Wonoketro, Dagangan, Jintap | [1] |

