Ngebel adalah kecamatan di Kabupaten Ponorogo yang terletak di timur laut berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Ngebel berada di dataran tinggi, tepatnya di lereng Gunung Wilis. Salah satu ikon pariwisata Ponorogo adalah Telaga Ngebel, sebuah danau besar dengan pemandangan yang indah dan hijau. Setiap bulan suro juga diadakan larungan sesaji yang dipadati pengunjung. Selain Telaga Ngebel, juga terdapat tempat wisata lain seperti pemandian air panas Tirta Husada, Air terjun Widodaren, dan Mloko Sewu. Ngebel adalah kecamatan dengan penduduk paling sedikit kedua di Ponorogo yaitu sekitar 21 ribu jiwa pada tahun 2024.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Ngebel | |||||
|---|---|---|---|---|---|
| Negara | |||||
| Provinsi | Jawa Timur | ||||
| Kabupaten | Ponorogo | ||||
| Pemerintahan | |||||
| • Camat | Andri Hendhratmoyo, ST., MM., MT. | ||||
| Populasi (2023) | |||||
| • Total | 21.830 jiwa | ||||
| Kode pos | 63493 | ||||
| Kode Kemendagri | 35.02.19 | ||||
| Kode BPS | 3502200 | ||||
| Luas | 62,48 km² | ||||
| Desa/kelurahan | 8 | ||||
| |||||
Ngebel adalah kecamatan di Kabupaten Ponorogo yang terletak di timur laut berbatasan dengan Kabupaten Madiun. Ngebel berada di dataran tinggi, tepatnya di lereng Gunung Wilis. Salah satu ikon pariwisata Ponorogo adalah Telaga Ngebel, sebuah danau besar dengan pemandangan yang indah dan hijau.[1] Setiap bulan suro juga diadakan larungan sesaji yang dipadati pengunjung.[2] Selain Telaga Ngebel, juga terdapat tempat wisata lain seperti pemandian air panas Tirta Husada, Air terjun Widodaren, dan Mloko Sewu. Ngebel adalah kecamatan dengan penduduk paling sedikit kedua di Ponorogo (setelah Kecamatan Pudak) yaitu sekitar 21 ribu jiwa pada tahun 2024.[3]
Ngebel terkenal sebagai penghasil durian di Ponorogo. Banyak varian durian yang ditanam di sini, salah satunya "durian kanjeng" yang merupakan varietas lokal unggulan hasil persilangan durian montong dengan durian asli Ngebel.[4] Telaga Ngebel banyak dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk budidaya ikan dengan keramba, terutama ikan nila. Olahan nila bakar menjadi salah satu kuliner populer di tepian danau tersebut.[5] Kuliner khas lainnya yang dapat ditemukan di tepi Telaga Ngebel antara lain nangka goreng dan tiwul goreng.[6] Ngebel juga dikenal sebagai penghasil kopi, salah satu sentra kopi di Ngebel adalah kampung Hargo Kiloso di Desa Talun.[7]

Ngebel adalah kecamatan di Ponorogo di lereng Gunung Wilis. Ngebel terkenal dengan danaunya yang bernama Telaga Ngebel dengan suasana yang hijau dan sejuk. Wisata tersebut mudah diakses dari Ponorogo maupun Madiun. Jarak danau tersebut dari pusat kota Ponorogo hanya sekitar 25 km yang ditempuh kurang dari 1 jam. Selain wisata, Telaga Ngebel juga banyak dimanfaatkan untuk perikanan budidaya menggunakan keramba.
Telaga Ngebel pada waktu tertentu mengalami peristiwa alam yang menyebabkan ikan-ikan yang dibudidayakan mati secara massal dan menimbulkan kerugian puluhan juta. Setiap badan air seperti danau dan laut mengalami fenomena upwelling, yaitu perpindahan air dari dasar ke permukaan karena perbedaan suhu. Namun kondisi dasar Telaga Ngebel mengandung belerang dan amoniak yang kemudian terbawa ke permukaan dan meracuni ikan yang ada.[8]
Batas wilayah Ngebel adalah sebagai berikut:[9]
| Utara | |
| Timur | Gunung Wilis dan |
| Selatan | Kecamatan Pulung |
| Barat | Kecamatan Jenangan dan |
Kecamatan Ngebel terdiri dari 8 desa yang terbagi menjadi beberapa dusun / dukuh / lingkungan, yakni sebagai berikut:[9]
| No. | Nama Desa | Nama Dusun / Dukuh / Lingkungan | Ref |
|---|---|---|---|
| 1 | Gondowido | Batik, Briket, Dawuk, Krajan, Mongal, Ngelo, Sangubanyu, Trungo | [9] |
| 2 | Ngebel | Ngebel, Jawol, Keleng, Mbajal, Mbalimangu, Mbombong, Nglingi, Sekodok, Semenok, Sobo | [10] |
| 3 | Ngrogung | Ngrogung, Blebang, Danten, Jati, Kayu Mas, Kedok, Ndarep, Ngresik, Pule | [9] |
| 4 | Pupus | Pupus, Seketip, Selaos, Prumbon, Toyomarto | [9] |
| 5 | Sahang | Sahang, Banjaran, Ngrambing, Sekampil | [9] |
| 6 | Sempu | Sempu, Ngepel, Segadung, Seglagah | [9] |
| 7 | Talun | Gondosari, Hargo Kiloso, Karangringin, Kasihan, Kembang, Krajan, Mbase, Sedayu, Sidomukti, Tritis, Watu Maling | [9] |
| 8 | Wagir Lor | Bentis, Bugan, Dayakan, Glodeg, Mesu, Pucuk | [11] |


Setiap tanggal 1 suro atau tahun baru Islam diadakan acara berupa Larungan dan Risalah doa di Telaga Ngebel. Acara ini selalu dipadati pengunjung dan menjadi salah satu ikon budaya di Ponorogo. Upacara larungan merupakan upacara yang diadakan oleh masyarakat di sekitar Telaga Ngebel untuk menghindari bencana. Acara dimulai dengan penyembelihan kambing kendhit (kambing warna gelap dengan lingkaran putih di perutnya). Kepala dan kaki kambing ditanam di sekeliling danau dan dagingnya dibagikan ke warga. Selanjutnya adalah kegiatan arak-arakan sesaji berupa tumpeng atau buceng, dan selanjutnya sesaji tersebut dilarung / dihanyutkan ke telaga. Acara ini juga diiringi oleh tari-tarian tradisional Ponorogo.[12]