Raden Patah adalah Pendiri Kesultanan Demak yang memerintah dari tahun 1475 - 1518.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Sultan Abdul Fatah | |
|---|---|
| Gelar | Sultan Syah Alam Akbar I |
| Nasab | bin Dyah Singhanegara Wijayakusuma |
| Nisbah | Dinasti Rajasa |
| Lahir | Hasan 1455 |
| Meninggal | 1518 |
| Dimakamkan di | Bintoro, Demak |
| Nama lain |
|
| Kebangsaan | - Kerajaan Majapahit - Kesultanan Demak |
| Pekerjaan |
|
| Denominasi | Sunni |
| Murid dari | Sunan Ampel, Guru-gurunya |
Mempengaruhi | |
| Sultan Demak Pertama | |
| 1475 - 1518 | |
| Pendahulu | Setelah ayahnya dikudeta oleh Dyah Ranawijaya, ia pun melepaskan Demak menjadi negara yang Merdeka. |
| Penerus | Pati Unus |
| Istri | |
| Keturunan | Pernikahan dengan Dewi Murthasimah : Pernikahan dengan Putri Adipati Kanduruwan : |
| Orang tua | Dyah Singhanegara Wijayakusuma (ayah) Dewi Kian (ibu) |
|
Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya)
|
|
Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (Jayanagara)
|
|
Sri Tribhuwana Wijayatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani (Tribhuwana Wijayatunggadewi)
|
|
Sri Maharaja Rajasanagara (Hayam Wuruk)
|
|
Bhra Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana (Wikramawardhana)
|
|
Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja (Suhita)
|
|
Brawijaya I (Kertawijaya)
|
|
Brawijaya II (Rajasawardhana)
|
|
Brawijaya III (Girishawardhana)
|
|
Brawijaya IV (Suraprabhawa)
|
|
Brawijaya V (Bhre Kertabhumi / Angkawijaya)
|
Raden Patah (lahir: Palembang, 1455; wafat: Demak, 1518) adalah Pendiri Kesultanan Demak yang memerintah dari tahun 1475 - 1518.[1]
Dia merupakan Putra dari Sri Maharaja Prabu Singhanegara Wijayakusuma dengan seorang putri asal Tiongkok bernama Dewi Kian.
Kiprahnya semakin cemerlang setelah menjadi Murid sekaligus menantu Sunan Ampel, kemudian menjadi Adipati Demak hingga masuk ke Jajaran anggota dewan Walisongo.
Setelah ayahnya dikudeta oleh Dyah Ranawijaya dari takhta Majapahit, ia pun melepaskan Demak menjadi negara yang merdeka.
Menurut Suma Oriental yang ditulis Tome Pires, pendiri Demak bernama Pate Rodim, cucu seorang masyarakat kelas rendah dari Gresik.
Menurut Purwaka Caruban Nagari, nama asli selir Tiongkok adalah Siu Ban Ci, putri Tan Go Hwat dan Siu Te Yo dari Gresik. Tan Go Hwat merupakan seorang saudagar dan juga ulama bergelar Syekh Bantong (alias Kyai Batong).
Menurut Babad Tanah Jawi, Raden Patah adalah putra Brawijaya V raja terakhir Majapahit (versi babad) dari seorang selir Tiongkok. Selir Tiongkok ini puteri dari Kyai Batong (alias Tan Go Hwat). Karena Ratu Dwarawati Murdaningrum, sang permaisuri tertua yang berasal dari Campa merasa cemburu, Brawijaya terpaksa memberikan selir Tiongkok kepada putra sulungnya, yaitu Arya Damar bupati Palembang. Setelah melahirkan Raden Patah, putri Tiongkok dinikahi Arya Damar (alias Swan Liong), melahirkan Raden Kusen / Adipati Pecat Tondho ing Terung (alias Kin San).
Menurut Serat Walisana, Dikisahkan bahwa Raden Ali Murtadho, Raden Rahmat, dan Raden Alim pernah mampir di Palembang bertemu dengan Arya Damar.
Diketahui bahwa istri Arya Damar bernama Retna Subanci, merupakan putri asal Tiongkok bekas istri yang telah mengandung dari Sri Brawijaya Majapahit yang dipasrahkan kepada Arya Damar.
Sang Putri melahirkan bayi laki-laki yang diberi nama Raden Praba. Lalu, Raden Ali Murtadho menamai Raden Fatah. Raden Rahmat menamai Raden Hasan. Dan Raden Alim menamai Raden Yusuf.
Menurut Buku Asal Usul Raja-Raja Palembang & Hikayat Nahkoda Asyiq Dalam Naskah Kuno[2]
Silsilah Sultan Demak : Maulana/h/ Ibrahim, beranakkan Sesuhunan Mahdum Ampel Denta, beranakkan Nyai Gede Meloko, beranakkan istri Panembahan Palembang, beranakkan Sultan Demak.
Siapa Panembahan Palembang yang menjadi ayah kandung Raden Fatah? Tidak disebutkan dalam buku itu, namun yang pasti Buku tersebut tidak mencantumkannya sebagai anak angkat atau anak asuh atau anak dari suami sebelumnya. Artinya klaim bahwa Raden Fatah anak kandung dari Bhre Kertabhumi terbantahkan. Raden Fatah pun sampai mati tidak mau menggunakan gelar Bhre atau gelar hadiah ataupun gelar lain dari keturunan langsung Raja Majapahit. [3]
Lalu siapa atau darimana asal Panembahan Palembang ayah kandung Raden Fatah? Berdasarkan Sulalatus Salatin, versi A. Samad Ahmad (2), hal 36 "Demang Mangku Raja dititahkan Seri Teri Buana pulang ke Palembang menjadi kerajaan di hulu. Kata sahibul hikayat ialah asal raja Palembang yang ada sekarang ini", Sulalatus Salatin ditulis sekitar abad ke 15-16 (Sumber Primer sezaman), artinya ayah kandung Raden Fatah adalah keturunan Demang Mangku Raja.
Siapa Demang Mangku Raja? Saudara nya Demang Lebar Daun keturunan raja Sriwijaya sebelum invansi Suran menurut Sulalatus Salatin, hal 9, 10 dan 19 (2).
Hal-hal tersebut juga menyanggah sekaligus 2 asumsi bahwa ayah angkat dan penguasa Palembang adalah Arya Damar, anak Brawijaya, yang dicocoklogi dengan nama Ariodillah (Ariodillah adalah hipotesis nama ayah kandung Raden Fatah berdasarkan hikayat lokal, tidak ada makam dan nama jalan Arya Damar di Palembang, adanya Ariodillah). Lagi pula, beda zaman yang cukup jauh, Arya Damar sezaman dengan Gajahmada sewaktu mereka berdua katanya menyerang Bali 1343 M, sementara kelahiran Raden Fatah 1455, selisih 112 tahun belum lagi umur Arya Damar saat itu.
Cocoklogi Arya Damar versi 1 terbantahkan, maka dimunculkan Cocoklogi Arya Damar versi 2, bahwa ada nama Arya Damar lain di zaman itu, tapi tidak ditemukan bukti pernah ke Palembang, Istrinya raksasa wanita dan bukan keturunan negeri seberang.
Dari keempat sumber tersebut, semuanya menunjukkan riwayat yang hampir sama dan diperkuat dengan naskah Sezaman yakni serat Walisana karya Sunan Dalem dan juga berita Luar Negeri Sezaman yakni Suma Oriental karya Tome Pires.
Maka, dapat ditarik kesimpulan awal bahwa Raden Fatah fix putra dari prabu kertabhumi dengan Dewi Kian serta Cucu dari Syekh Bentong, kesimpulan awal ini terbantahkan dengan bukti bukti baru dari sumber primer sezaman yang menyimpulkan Raden Fatah adalah putra kandung dari Panembahan Palembang Ariodillah dan Putri Nyai Gede Meloko bin Sunan Ampel.
Berdasarkan Serat Chandrakanta, berikut adalah daftar Keluarga Raden Fatah :
Sejauh ini belum ada catatan sejarah yang sezaman dengan Raden Patah yang menggambarkan berdirinya Demak sebagai negara mandiri. Kebanyakan babad yang menceritakan "sejarah" Demak ditulis jauh setelah negara ini runtuh.
Makin lama Pesantren Glagahwangi semakin maju. Brawijaya di Majapahit khawatir kalau Raden Patah berniat memberontak. Raden Kusen yang kala itu sudah diangkat menjadi Adipati Terung diperintah untuk memanggil Raden Patah.
Raden Kusen menghadapkan Raden Patah ke Majapahit. Brawijaya (sering disebut dalam cerita rakyat sebagai Brawijaya V) merasa terkesan dan akhirnya mau mengakui Raden Patah sebagai putranya. Raden Patah pun diangkat sebagai bupati, sedangkan Glagahwangi diganti nama menjadi Demak, dengan ibu kota bernama Bintara.

Versi perang antara Demak dan Majapahit diberitakan dalam naskah babad dan serat, terutama Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Dikisahkan, Sunan Ampel melarang Raden Patah memberontak pada Majapahit karena meskipun berbeda agama, Brawijaya V tetaplah ayah Raden Patah. Namun sepeninggal Sunan Ampel, Raden Patah tetap menyerang Majapahit yang saat itu dipimpin Girindrawardhana Ranawijaya ,Girindrawardana ranawijaya tewas dalam serangan itu. Untuk menetralisasi pengaruh agama lama, Sunan Giri menduduki takhta Majapahit selama 40 hari.
Versi Prof. Dr. N. J. Krom dalam buku “Javaansche Geschiedenis” dan Prof. Moh. Yamin dalam buku “Gajah Mada” mengatakan bahwa bukanlah Demak yg menyerang Majapahit pada masa Prabu Brawijaya V, tetapi adalah Prabu Girindrawardhana. Kemudian pasca serangan Girindrawardhana atas Majapahit pada tahun 1478 M, Girindrawardhana kemudian mengangkat dirinya menjadi raja Majapahit bergelar Prabu Brawijaya VI, Kekuasaan Girindrawardhana tidak begitu lama, karena Patihnya melakukan kudeta dan mengangkat dirinya sebagai Prabu Brawijaya VI. Perang antar Demak dan Majapahit terjadi pada masa pemerintahan Prabu Brawijaya VI bukan pada masa Raden Fatah dan Prabu Brawijaya V.[4]
Tokoh Pa-bu-ta-la ini identik dengan Prabu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya yang menerbitkan prasasti Jiyu tahun 1486 dan mengaku sebagai penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri.
Selain itu, Dyah Ranawijaya juga mengeluarkan prasasti Petak yang berkisah tentang perang melawan Daerah Ibukota Majapahit (Kadipaten Kertabhumi/Mojokerto). Berita ini melahirkan pendapat kalau ibukota Majapahit di trowulan runtuh tahun 1478 bukan karena serangan Demak, melainkan karena serangan keluarga Girindrawardhana.
Pada tahun 1479 ia meresmikan Masjid Agung Demak sebagai pusat pemerintahan. Ia juga memperkenalkan pemakaian Salokantara sebagai kitab undang-undang kerajaan. Kepada umat beragama lain, sikap Raden Patah sangat toleran.
Raden Patah juga tidak mau memerangi umat Hindu dan Buddha sebagaimana wasiat Sunan Ampel, gurunya. Meskipun naskah babad dan serat memberitakan ia menyerang Majapahit, hal itu dilatarbelakangi persaingan politik memperebutkan kekuasaan pulau Jawa, bukan karena sentimen agama. Lagi pula, naskah babad dan serat juga memberitakan kalau pihak Majapahit lebih dulu menyerang Giri Kedaton, sekutu Demak di Gresik.
| Gelar kebangsawanan | ||
|---|---|---|
| Didahului oleh: Kertabhumi |
Sultan Demak 1475—1518 |
Diteruskan oleh: Pati Unus |