Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kertawijaya

Kertawijaya / Dyah Kertawijaya / Wijayaparakrama Wardhana adalah maharaja Majapahit ketujuh yang memerintah tahun 1447-1451 dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakramawardhana.

Wikipedia article
Diperbarui 23 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kertawijaya
Sri Maharaja Wijayaparakramawardhana
(ꦯꦿꦶꦩꦲꦫꦗꦮꦶꦗꦪꦥꦫꦏꦿꦩꦮꦂꦝꦤ)
Maharaja Majapahit ke 7
Berkuasa1447-1451
PendahuluSuhita
PenerusRajasawardhana
Bhre Tumapel
Berkuasa1427 – 1447
PenerusSinghawikramawardhana
KelahiranDyah Kertawijaya
Kerajaan Majapahit
Kematian1451
Kerajaan Majapahit
PasanganJayawardhanī Dyah Jayéswari, Bhre Daha
Keturunan
  • Rajasawardhana

( Sang Sināgara )

  • Girisawardhana

( Bhre Wengker)

  • Singhawikramawardhana
( Dyah Suraprabhawa)
Nama takhta
Çri Sakala-yawa-rājādhirājā Parameswara Çri Bhattara Prabhu Wijayāparakramawarddhāna Dyah Kertawijaya
WangsaRajasa
AyahWikramawardhana
Keluarga kerajaan Majapahit

Kertarajasa Jayawardhana (Raden Wijaya)

  • Permaisuri: Sri Parameswari Dyah Dewi Tribhuwaneswari
  • Istri: Indreswari, Prajnaparamita, Narendraduhita
  • Selir: Gayatri (Sri Rajapatni)
  • Pewaris takhta: Jayanagara (putra Raden Wijaya dengan istri Indreswari)

Sri Maharaja Wiralandagopala Sri Sundarapandya Dewa Adhiswara (Jayanagara)

  • Penerus takhta: Tribhuwana Wijayatunggadewi (adik tiri dari Jayanagara)

Sri Tribhuwana Wijayatunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani (Tribhuwana Wijayatunggadewi)

  • Suami: Sri Kertawardhana (Bhre Tumapel)
  • Pewaris takhta: Hayam Wuruk (putra Tribhuwana Wijayatunggadewi dengan suami Sri Kertawardhana)

Sri Maharaja Rajasanagara (Hayam Wuruk)

  • Permaisuri: Sri Sudewi (Paduka Sori)
  • Pewaris takhta: Wikramawardhana (suami dari putri Hayam Wuruk dengan permaisuri Sri Sudewi yang bernama Kusumawardhani)

Bhra Hyang Wisesa Aji Wikramawardhana (Wikramawardhana)

  • Penerus takhta: Suhita (kakak dari Wikramawardhana)

Bhra Hyang Parameswara Ratnapangkaja (Suhita)

  • Suami: Ratnapangkaja (Penguasa Kahuripan)
  • Pewaris takhta: Kertawijaya (keponakan Suhita dan merupakan putra Wikramawardhana)

Brawijaya I (Kertawijaya)

  • Pewaris takhta: Rajasawardhana (putra sulung Kertawijaya)

Brawijaya II (Rajasawardhana)

  • Penerus takhta: Girishawardhana (terjadi perebutan tahta kekuasaan kerajaan antara adik dari Rajasawardhana yang bernama Girishawardhana yang juga adalah putra Kertawijaya melawan Samarawijaya yang adalah putra sulung Rajasawardhana, jadi antara paman melawan keponakannya saling berebut tahta kekuasaan kerajaan, dan setelah itu pada akhirnya tahta kekuasaan kerajaan jatuh ke tangan sang paman, Girishawardhana)

Brawijaya III (Girishawardhana)

  • Penerus takhta: Suraprabhawa (putra bungsu Kertawijaya)

Brawijaya IV (Suraprabhawa)

  • Pewaris takhta: Angkawijaya (putra mahkota Rajasawardhana)

Brawijaya V (Bhre Kertabhumi / Angkawijaya)

  • Istri: Dewi Amarawati, Dewi Wandan Kuning
  • Selir: Wandan Sari (Siu Ban Ci)
  • Penerus takhta: Raden Patah (putra Angkawijaya dengan selir Siu Ban Ci)
  • l
  • b
  • s

Kertawijaya / Dyah Kertawijaya / Wijayaparakrama Wardhana adalah maharaja Majapahit ketujuh yang memerintah tahun 1447-1451 dengan gelar Sri Maharaja Wijaya Parakramawardhana.

Asal-usul Kertawijaya

Diagram silsilah Wangsa Rajasa, keluarga kerajaan Singhasari dan Majapahit

Menurut Pararaton, Kertawijaya adalah putra Wikramawardhana dari selir. Putra Wikramawardhana yang lain adalah Hyang Wekasing Sukha Bhre Tumapel, dan Suhita. Sebelum menjadi raja, Kertawijaya pernah menjadi Bhre Tumapel, yaitu menggantikan kakaknya yang meninggal awal tahun 1427.

Kertawijaya naik takhta menggantikan Suhita tahun 1447. Pada masa pemerintahannya sering terjadi gempa bumi dan gunung meletus. Juga terjadi peristiwa pembunuhan penduduk Tidung Galating oleh keponakannya, yaitu Bhre Paguhan putra Bhre Tumapel.

Identifikasi Kertawijaya dengan Brawijaya

Makam Putri Campa di Trowulan (foto diambil pada tahun 1870-1900)

Brawijaya adalah nama raja Majapahit versi naskah-naskah babad dan serat yang sangat populer dalam masyarakat Jawa.

Di Mojokerto ditemukan situs makam Putri Campa yang diyakini sebagai istri Brawijaya. Batu nisan makam tersebut berangka tahun 1448, jatuh pada masa pemerintahan Kertawijaya. Hal ini menimbulkan pendapat bahwa, tokoh Brawijaya identik dengan Kertawijaya. Bahkan, dalam bagan silsilah yang ditemukan pada pemakaman Ratu Kalinyamat di Jepara, ditulis nama Kertawijaya sebagai nama leluhur Raden Patah.

Kisah lain menurut batu nisan Putri Campa mengatakan bahwa Brawijaya memiliki permaisuri bernama Ratu Dwarawati dari negeri Campa yang beragama Islam. Identifikasi Kertawijaya dengan Brawijaya berdasarkan batu nisan putri Campa bertentangan dengan prasasti Waringin Pitu (1447), yang menurut prasasti tersebut, nama permaisuri Kertawijaya bukan Ratu Dwarawati, melainkan Jayeswari atau disebut juga Jayawardhani.

Menurut kronik Tiongkok dari kuil Sam Po Kong, putri China (anak Haji Bok Tak Keng - duta besar China untuk Champa) yang dimakamkan di Mojokerto bukan istri raja Majapahit, melainkan istri Ma Hong Fu, seorang duta besar Tiongkok untuk Jawa.[1]

Tokoh lain yang dianggap identik dengan Brawijaya adalah Dyah Ranawijaya putra Suraprabhawa, yang namanya terdapat dalam penutupan naskah Pararaton. Sering kali Kertawijaya disebut "Brawijaya I", sedangkan Dyah Ranawijaya disebut "Brawijaya VI".

Akhir Hayat Kertawijaya

Kertawijaya wafat tahun 1451. Ia dicandikan di Kertawijayapura. Kedudukannya sebagai raja digantikan oleh Rajasawardhana Bhre Kahuripan.

Hubungan antara Rajasawardhana dengan Kertawijaya tidak disebut secara tegas dalam Pararaton, sehingga muncul pendapat yang mengatakan kalau Rajasawardhana adalah pengganti Suhita sebagai Bhre Kahuripan, yang naik takhta setelah membunuh Kertawijaya.

Pendapat lain mengatakan Rajasawardhana adalah putra Kertawijaya yang nama aslinya tercatat dalam prasasti Waringin Pitu sebagai Dyah Wijayakumara.

Kepustakaan

  • Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990
  • Hayati dkk. 2000. Peranan Ratu Kalinyamat di jepara pada Abad XVI. Jakarta: Proyek Peningkatan Kesadaran Sejarah Nasional Direktorat Sejarah dan Nilai Tradisional Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan Nasional
  • Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Jindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS

Catatan kaki

  1. ↑ (Indonesia) Muljana, Slamet (2005). Runtuhnya kerajaan Hindu-Jawa dan timbulnya negara-negara Islam di Nusantara. PT LKiS Pelangi Aksara. hlm. 68. ISBN 9798451163.ISBN 978-979-8451-16-4
Didahului oleh:
Suhita
Raja Majapahit
1447—1451
Diteruskan oleh:
Rajasawardhana

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Asal-usul Kertawijaya
  2. Identifikasi Kertawijaya dengan Brawijaya
  3. Akhir Hayat Kertawijaya
  4. Kepustakaan
  5. Catatan kaki

Artikel Terkait

Rajasawardhana

pembunuhan terhadap Kertawijaya. Pendapat lain mengatakan, Rajasawardhana identik dengan Dyah Wijayakumara, yaitu putra sulung Kertawijaya yang namanya tercatat

Singasari

kerajaan di Asia Tenggara

Daftar penguasa Jawa

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026