Pandemi koronavirus di Maros pertama kali dikonfirmasi pada tanggal 27 Maret 2020 pada seorang warga Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros. Warga tersebut menjadi pasien positif COVID-19 pertama di Maros setelah diperiksa di RSAU Dr Dody Sardjoto Maros. Dari 1017 kasus pandemi koronavirus di Sulawesi Selatan hingga 18 Mei 2020, 54 kasus (5,31 %) di antaranya berasal dari Kabupaten Maros. 19 kasus di antaranya sembuh, sementara 2 kasus lainnya meninggal dunia. Maros menjadi kabupaten/kota dengan jumlah kasus positif koronavirus tertinggi ketiga di Sulawesi Selatan, setelah Makassar dan Gowa. Dalam situs web "covid19.kemkes.go.id" milik instansi Kemenkes RI, Maros telah ditetapkan sebagai salah satu wilayah transmisi lokal penularan COVID-19 di Indonesia. Transmisi lokal sendiri merujuk pada penularan COVID-19 antara orang per orang yang terjadi di suatu wilayah. Bupati Hatta Rahman menyatakan ada dua klaster COVID-19 di Kabupaten Maros, yakni klaster umrah dan klaster bandara. Untuk klaster bandara dimulai di Kecamatan Mandai, sedangkan klaster umrah dimulai di Kecamatan Bantimurung. Seiring semakin bertambahnya kasus, saat ini dalam jajaran pemerintahan di Kabupaten Maros sedang merencanakan sistem penerapan PSBB.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Artikel ini mendokumentasikan suatu wabah penyakit terkini. Informasi mengenai hal itu dapat berubah dengan cepat jika informasi lebih lanjut tersedia; laporan berita dan sumber-sumber primer lainnya mungkin tidak bisa diandalkan. Pembaruan terakhir untuk artikel ini mungkin tidak mencerminkan informasi terkini mengenai wabah penyakit ini untuk semua bidang. |
Artikel ini memberikan informasi dasar tentang topik kesehatan. |
| Penyakit | COVID-19 |
|---|---|
| Galur virus | SARS-CoV-2 |
| Lokasi | Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Indonesia |
| Kasus pertama | Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros |
| Tanggal kemunculan | 27 Maret 2020 (2020-03-27) (6 tahun dan 4 minggu lalu) |
| Asal | Arab Saudi |
| Kasus terkonfirmasi | 61 |
| Kasus sembuh | 23 |
Kematian | 2 |
Wilayah terdampak | 8 kelurahan dan 16 desa (10 kecamatan) |
| Situs web resmi | |
|
maroskab Bot WhatsApp resmi Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Sulawesi Selatan | |
Pandemi koronavirus di Maros pertama kali dikonfirmasi pada tanggal 27 Maret 2020 pada seorang warga Desa Tenrigangkae, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros. Warga tersebut menjadi pasien positif COVID-19 pertama di Maros setelah diperiksa di RSAU Dr Dody Sardjoto Maros.[1] Dari 1017 kasus pandemi koronavirus di Sulawesi Selatan hingga 18 Mei 2020, 54 kasus (5,31 %) di antaranya berasal dari Kabupaten Maros. 19 kasus di antaranya sembuh, sementara 2 kasus lainnya meninggal dunia. Maros menjadi kabupaten/kota dengan jumlah kasus positif koronavirus tertinggi ketiga di Sulawesi Selatan, setelah Makassar dan Gowa. Dalam situs web "covid19.kemkes.go.id" milik instansi Kemenkes RI, Maros telah ditetapkan sebagai salah satu wilayah transmisi lokal penularan COVID-19 di Indonesia. Transmisi lokal sendiri merujuk pada penularan COVID-19 antara orang per orang yang terjadi di suatu wilayah.[2] Bupati Hatta Rahman menyatakan ada dua klaster COVID-19 di Kabupaten Maros, yakni klaster umrah dan klaster bandara. Untuk klaster bandara dimulai di Kecamatan Mandai, sedangkan klaster umrah dimulai di Kecamatan Bantimurung.[3] Seiring semakin bertambahnya kasus, saat ini dalam jajaran pemerintahan di Kabupaten Maros sedang merencanakan sistem penerapan PSBB.
Pandemi koronavirus atau pandemi COVID-19 adalah peristiwa menyebarnya penyakit yang disebabkan oleh salah satu koronavirus jenis baru yang diberi nama SARS-CoV-2.[4] Virus ini pertama kali diidentifikasi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat Tiongkok pada tanggal 17 November 2019.[5][6] Penderita yang terpapar COVID-19 dapat mengalami demam, batuk kering, dan kesulitan bernafas.[7][8] Pada penderita yang paling rentan, penyakit ini dapat berujung pada pneumonia dan kegagalan multiorgan.[9] Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengumumkan bahwa pandemi koronavirus sebagai pandemi dunia pada tanggal 11 Maret 2020.[10][11][12]
Dalam wawancara langsung bersama Gubernur Sulawesi Selatan pada tanggal 9 Mei, Bupati Maros menyebutkan sejauh ini ada 4 klaster penyebaran COVID-19 di Maros, yakni klaster ijtima (Gowa), klaster bandara (Bandara Sultan Hasanuddin), klaster umrah (Makkah, Arab Saudi), dan klaster pendatang (Jakarta).[13]
27 Maret
28 Maret
29 Maret
1 April
4 April
6 April
8 April
10 April
11 April
14 April
15 April
17 April
18 April
19 April
20 April
22 April
24 April
25 April
28 April
30 April
1 Mei
2 Mei
3 Mei
4 Mei
5 Mei
8 Mei
10 Mei
12 Mei
13 Mei
14 Mei
16 Mei
17 Mei
18 Mei
21 Mei
22 Mei
25 Mei
| Kecamatan | Terkonfirmasi | Sembuh | Meninggal | Aktif |
|---|---|---|---|---|
| 54 | 19 | 2 | 33 | |
| Bantimurung | 10 Laki-laki, 58 tahun, Desa Minasa Baji Laki-laki, 26 tahun, Desa Minasa Baji Perempuan, 23 tahun, Desa Minasa Baji Perempuan, 61 tahun, Desa Minasa Baji Laki-laki, 62 tahun, Desa Minasa Baji Perempuan, 74 tahun, Desa Mattoangin Perempuan, 2 tahun, Desa Mattoangin Laki-laki, 1 tahun, Desa Mattoangin Laki-laki, 80 tahun, Desa Mattoangin Laki-laki, 27 tahun, Desa Mattoangin |
4 Perempuan, 61 tahun, Desa Minasa Baji Laki-laki, 62 tahun, Desa Minasa Baji Perempuan, 23 tahun, Desa Minasa Baji Laki-laki, 26 tahun, Desa Minasa Baji |
1 Laki-laki, 58 tahun, Desa Minasa Baji |
5 Perempuan, 74 tahun, Desa Mattoangin Perempuan, 2 tahun, Desa Mattoangin Laki-laki, 1 tahun, Desa Mattoangin Laki-laki, 80 tahun, Desa Mattoangin Laki-laki, 27 tahun, Desa Mattoangin |
| Bontoa | 1 Perempuan, 36 tahun, Desa Bonto Bahari |
1 Perempuan, 36 tahun, Desa Bonto Bahari |
0 | 0 |
| Camba | 1 Perempuan, 62 tahun, Desa Pattiro Deceng |
0 | 0 | 1 Perempuan, 62 tahun, Desa Pattiro Deceng |
| Cenrana | 0 | 0 | 0 | 0 |
| Lau | 4 Laki-laki, 21 tahun, Kelurahan Allepolea Laki-laki, 53 tahun, Kelurahan Allepolea Perempuan, 34 tahun, Kelurahan Maccini Baji Laki-laki, 32 tahun, Kelurahan Allepolea |
3 Perempuan, 34 tahun, Kelurahan Maccini Baji Laki-laki, 53 tahun, Kelurahan Allepolea Laki-laki, 21 tahun, Kelurahan Allepolea |
0 | 1 Laki-laki, 32 tahun, Kelurahan Allepolea |
| Mallawa | 0 | 0 | 0 | 0 |
| Mandai | 9 Laki-laki, 62 tahun, Desa Tenrigangkae Laki-laki, 55 tahun, Desa Baji Mangai Laki-laki, 42 tahun, Kelurahan Bontoa Perempuan, 10 tahun, Kelurahan Bontoa Laki-laki, 52 tahun, Kelurahan Bontoa Laki-laki, 29 tahun, Kelurahan Bontoa Perempuan, 19 tahun, Kelurahan Hasanuddin Perempuan, 37 tahun, Kelurahan Bontoa TBA, Kelurahan Bontoa |
2 Laki-laki, 62 tahun, Desa Tenrigangkae Laki-laki, 55 tahun, Desa Baji Mangai |
0 | 7 Laki-laki, 42 tahun, Kelurahan Bontoa Perempuan, 10 tahun, Kelurahan Bontoa Laki-laki, 52 tahun, Kelurahan Bontoa Laki-laki, 29 tahun, Kelurahan Bontoa Perempuan, 19 tahun, Kelurahan Hasanuddin Perempuan, 37 tahun, Kelurahan Bontoa TBA, Kelurahan Bontoa |
| Maros Baru | 0 | 0 | 0 | 0 |
| Marusu | 5 Perempuan, 30 tahun, Desa Temmapadduae Perempuan, 41 tahun, Desa Marumpa Laki-laki, 37 tahun, Desa Temmapadduae Laki-laki, 43 tahun, Desa Tellumpoccoe Perempuan, 28 tahun, Desa Marumpa |
1 Perempuan, 30 tahun, Desa Temmapadduae |
1 Laki-laki, 43 tahun, Desa Tellumpoccoe |
3 Perempuan, 41 tahun, Desa Marumpa Laki-laki, 37 tahun, Desa Temmapadduae Perempuan, 28 tahun, Desa Marumpa |
| Moncongloe | 4 Perempuan, 46 tahun, Desa Bonto Marannu Laki-laki, 37 tahun, Desa Moncongloe Lappara Perempuan, 36 tahun, Desa Moncongloe Lappara Laki-laki, 1 tahun, Desa Moncongloe Lappara |
1 Perempuan, 46 tahun, Desa Bonto Marannu |
0 | 3 Laki-laki, 37 tahun, Desa Moncongloe Lappara Perempuan, 36 tahun, Desa Moncongloe Lappara Laki-laki, 1 tahun, Desa Moncongloe Lappara |
| Simbang | 10 Laki-laki, Desa Bontotallasa Perempuan, 41 tahun, Desa Bontotallasa Perempuan, 60 tahun, Desa Bontotallasa Perempuan, 34 tahun, Desa Jenetaesa Perempuan, 67 tahun, Desa Bontotallasa Perempuan, 32 tahun, Desa Bontotallasa Perempuan, 62 tahun, Desa Sambueja Perempuan, 46 tahun, Desa Samangki Perempuan, 46 tahun, Desa Sambueja Perempuan, 26 tahun, Desa Sambueja |
2 Perempuan, 60 tahun, Desa Bontotallasa Perempuan, 41 tahun, Desa Bontotallasa |
0 | 8 Laki-laki, Desa Bontotallasa Perempuan, 34 tahun, Desa Jenetaesa Perempuan, 67 tahun, Desa Bontotallasa Perempuan, 32 tahun, Desa Bontotallasa Perempuan, 62 tahun, Desa Sambueja Perempuan, 46 tahun, Desa Samangki Perempuan, 46 tahun, Desa Sambueja Perempuan, 26 tahun, Desa Sambueja |
| Tanralili | 1 Perempuan, 32 tahun, Desa Sudirman |
1 Perempuan, 32 tahun, Desa Sudirman |
0 | 0 |
| Tompobulu | 0 | 0 | 0 | 0 |
| Turikale | 9 Laki-laki, 64 tahun, Kelurahan Adatongeng Laki-laki, 18 tahun, Kelurahan Adatongeng Laki-laki, 71 tahun, Kelurahan Adatongeng Perempuan, 40 tahun, Kelurahan Adatongeng Perempuan, 46 tahun, Kelurahan Alliritengae Perempuan, 42 tahun, Kelurahan Alliritengae Laki-laki, 32 tahun, Kelurahan Pettuadae Perempuan, 60 tahun, Kelurahan Pettuadae Perempuan, 39 tahun, Kelurahan Raya |
4 Laki-laki, 71 tahun, Kelurahan Adatongeng Laki-laki, 64 tahun, Kelurahan Adatongeng Laki-laki, 18 tahun, Kelurahan Adatongeng Perempuan, 40 tahun, Kelurahan Adatongeng |
0 | 5 Perempuan, 46 tahun, Kelurahan Alliritengae Perempuan, 42 tahun, Kelurahan Alliritengae Laki-laki, 32 tahun, Kelurahan Pettuadae Perempuan, 60 tahun, Kelurahan Pettuadae Perempuan, 39 tahun, Kelurahan Raya |
| Sumber Data: Pemerintah Kabupaten Maros "Tim Gugus Tugas Penanganan Pencegahan COVID-19 Kabupaten Maros" & Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan "Sulsel Tanggap COVID-19"[71][72] | ||||
Perbandingan jumlah kasus positif COVID-19 di Kabupaten Maros dengan kabupaten/kota lain di Provinsi Sulawesi Selatan pada data update 25 Mei 2020 pukul 12.00 WIB berdasarkan data umum dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta data detail dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan.
Keterangan:
| Daerah yang aman dari COVID-19 | |
| Daerah yang tidak aman dari COVID-19 |
| No. | Kabupaten/Kota | Dirawat | Sembuh | Meninggal | Jumlah Kasus Positif | Persentase | Situs Web Resmi | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1. | Makassar | 355 | 321 | 55 | 731 | 55,46 % | infocorona |
Tidak Aman |
| 2. | Rekreasi Duta COVID-19 Sulsel | 138 | 19 | 0 | 157 | 11,91 % | Tidak Aman | |
| 3. | Lutim | 109 | 1 | 0 | 110 | 8,35 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 4. | Gowa | 54 | 28 | 7 | 89 | 6,75 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 5. | Maros | 28 | 24 | 2 | 54 | 4,10 % | maroskab |
Tidak Aman |
| 6. | Sidrap | 13 | 17 | 0 | 30 | 2,28 % | Tidak Aman | |
| 7. | Parepare | 22 | 7 | 0 | 29 | 2,20 % | Tidak Aman | |
| 8. | Lutra | 17 | 12 | 0 | 29 | 2,20 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 9. | Pangkep | 5 | 9 | 1 | 15 | 1,14 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 10. | Soppeng | 7 | 1 | 1 | 9 | 0,68 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 11. | Takalar | 6 | 3 | 0 | 9 | 0,68 % | Tidak Aman | |
| 12. | Bulukumba | 5 | 4 | 0 | 9 | 0,68 % | Tidak Aman | |
| 13. | Luwu | 7 | 0 | 1 | 8 | 0,61 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 14. | Bone | 5 | 2 | 0 | 7 | 0,53 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 15. | Enrekang | 4 | 2 | 1 | 7 | 0,53 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 16. | Sinjai | 6 | 0 | 0 | 6 | 1,46 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 17. | Pinrang | 2 | 4 | 0 | 6 | 0,46 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 18. | Jeneponto | 2 | 2 | 0 | 4 | 0,30 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 19. | Palopo | 1 | 2 | 0 | 3 | 0,23 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 20. | Tator | 0 | 3 | 0 | 3 | 0,23 % | covid19 |
Aman |
| 21. | Bantaeng | 1 | 0 | 0 | 1 | 0,08 % | covid19 |
Tidak Aman |
| 22. | Barru | 1 | 0 | 0 | 1 | 0,08 % | Tidak Aman | |
| 23. | Wajo | 0 | 1 | 0 | 1 | 0,08 % | covid19 |
Aman |
| 24. | Torut | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | covid19 |
Aman |
| 25. | Selayar | 0 | 0 | 0 | 0 | 0 | kepulauanselayarkab |
Aman |
| Total | 788 | 462 | 68 | 1318 | 100 % | covid19 |
||
| Sumber Data: Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan "Sulsel Tanggap COVID-19"[73] | ||||||||

Forum Pemuda Jawi-Jawi Desa Minasa Baji Kecamatan Bantimurung memberikan kritikan kepada Pemerintah Kabupaten Maros atau instansi terkait untuk serius mengatasi dan menangani masalah COVID-19 di Kabupaten Maros. Terutama di Desa Minasa Baji yang saat ini sudah menjadi zona merah. Lebih lanjut, Ketua Karang Taruna Desa Bontotallasa Kecamatan Simbang menilai jika Pemkab Maros tidak serius menangani virus Corona dari segi anggaran.[84]
Pemkab Maros dinilai tidak ada perhatian serta tidak ada tindakan tegas kepada warga yang terdampak COVID-19. Bahkan sejak COVID-19 melanda warga Desa Minasa Baji Kecamatan Bantimurung telah melakukan upaya-upaya pencegahan penyebaran virus tersebut dengan melakukan penyemprotan di sekeliling Desa Minasa Baji Kecamatan Bantimurung dengan menggunakan alat seadanya serta bantuan dari swadaya masyarakat. Seharusnya ada bentuk perhatian yang dilakukan oleh Dinas terkait. Apalagi pasien positif COVID-19 terbanyak di Kecamatan Bantimurung di antara semua kecamatan di Kabupaten Maros.[84]
Ketua Karang Taruna Desa Bontotallasa menilai tindakan Pemerintah Kabupaten hanya memeriksa atau mengambil sampel darah saja. Tidak ada tindakan lain. Sehingga warga yang positif mengisolasi diri dirumah tanpa diberi kejelasan dan tidak disuplai bantuan dari pihak Pemkab. Bahkan pihaknya mendapat informasi jika warga positif bebas berkeliaran karena hanya isolasi di rumah saja tanpa ada tindakan jelas.[84]
Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Maros, A Patarai Amir mengatakan seharusnya Pemerintah Daerah segera membuat ruang isolasi mandiri.[84]