Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Astana Pajimatan Himagiri

Astana Pajimatan Himagiri ; juga disebut Makam Raja Imogiri; adalah kompleks pemakaman yang berlokasi di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kompleks pemakaman ini merupakan tempat pemakaman bagi penguasa monarki dari dinasti wangsa Mataram beserta keluarga keturunan dan kerabatnya.

pemakaman di Indonesia
Diperbarui 21 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Astana Pajimatan Himagiri
Cemetery in Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa YogyakartaTemplat:SHORTDESC:Cemetery in Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Astana Pajimatan Himagiri
  • ꦥꦱꦫꦺꦪꦤ꧀ꦢꦊꦩ꧀ꦥꦫꦤꦠ ꦲꦱꦠꦤꦥꦗꦶꦩꦠꦤ꧀ꦲꦶꦩꦓꦶꦫꦶ
  • Pasarean Dalem Para Nata Astana Pajimatan Himagiri
Astana Pajimatan Himagiri berada di Bukit Merak ca 1890
Rincian
Didirikan1632
Lokasi
Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
NegaraIndonesia
JenisMakam kerajaan
GayaMakam berteras
PemilikKasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
Cagar budaya Indonesia
Kompleks Makam Imogiri
Peringkatn/a
KategoriSitus
No. RegnasCB.1449
Lokasi
keberadaan
Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
No. SKSK Menteri PM.89/PW.007/MKP/2011
Tanggal SK17 Oktober 2011
Koordinat7°55′13″S 110°23′45″E / 7.920163°S 110.395828°E / -7.920163; 110.395828
Astana Pajimatan Himagiri di Kabupaten Bantul
Astana Pajimatan Himagiri
Astana Pajimatan Himagiri
Lokasi Astana Pajimatan Himagiri di Kabupaten Bantul
Tampilkan peta Kabupaten Bantul
Astana Pajimatan Himagiri di Jawa
Astana Pajimatan Himagiri
Lokasi Astana Pajimatan Himagiri di Kabupaten Bantul
Tampilkan peta Jawa
Nama sebagaimana tercantum dalam
Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya

Astana Pajimatan Himagiri (bahasa Jawa: ꦥꦱꦫꦺꦪꦤ꧀ꦢꦊꦩ꧀ꦥꦫꦤꦠ ꦲꦱꦠꦤꦥꦗꦶꦩꦠꦤ꧀ꦲꦶꦩꦓꦶꦫꦶcode: jv is deprecated , translit. Pasaréan Dalêm Para Nata Astana Pajimatan Himagiri); juga disebut Makam Raja Imogiri;[1] adalah kompleks pemakaman yang berlokasi di Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.[2] Kompleks pemakaman ini merupakan tempat pemakaman bagi penguasa monarki dari dinasti wangsa Mataram beserta keluarga keturunan dan kerabatnya.

Terminologi

Nama "Astana Pajimatan Himagiri" terdiri dari tiga kata yaitu: astana (Sanskerta: sthāna berarti "tempat"),[3] pajimatan (Jawa: pajimatan berarti "penyakralan")[4] dan himagiri yang berarti "gunung berkabut".[5]

Himagiri diambil dari bahasa Sanskerta hima dan giri (hima berarti "salju/kabut" dan giri berarti "gunung/bukit").[5] Himagiri juga dipadankan dengan nama lain untuk Himalaya. Dengan demikian Astana Pajimatan Himagiri bermakna sebagai "tempat penyakralan gunung berkabut".

Sejarah

Pemakaman kerajaan terdahulu berada di Pasarean Mataram. yakni berada di Kota Gede Sayangan, Jagalan, Kecamatan. Banguntapan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Sedangkan Astana Pajimatan Himagiri dibangun di atas bukit Merak oleh Kanjeng Sinuwun Sri Sultan Agung Prabu Hanyokrokusumo (1613-1645) pada dekade keempat abad ke-17, pembangunannya dimulai pada tahun 1632.[6]

Pembangunan kompleks Astana Pajimatan Himagiri dipimpin oleh Kanjeng Raden Kiai Tumenggung Citrokusumo, arsitekturnya merupakan perpaduan budaya Jawa - Hindu. Struktur bangunan yang berada di area pemakaman merupakan ciri utama arsitektur Jawa pra-Islam. Kompleks pemakaman ini terletak di sebuah bukit yang bernama Merak dengan ketinggian sekitar 100 meter di atas permukaan laut.[7]

Sebelum membangun pemakaman baru di bukit Merak, Sultan Agung awalnya memerintahkan membangun kembali pemakaman di Girilaya, yang merupakan tempat pemakaman keluarganya. Orang yang dipercaya untuk membangun pemakaman tersebut adalah Kanjeng Panembahan Juminah yang merupakan paman Sultan Agung. Setelah pembangunan tersebut selesai, Panembahan Juminah wafat. Untuk menghormati jasanya, maka Sultan Agung memerintahkan agar pamannya dimakamkan di Girilaya.[8]

Adapun tokoh yang dimakamkan di Astana Girilaya adalah Ki Ageng Giring, Ki Ageng Sentong, Kanjeng Panembahan Girilaya (mertua Sultan Agung), Kanjeng Ratu Ageng Banawati (ibu Sultan Agung) dan Panembahan Juminah (paman Sultan Agung).[9] Oleh karena Girilaya telah digunakan sebagai tempat pemakaman keluarga, Sultan Agung berencana membangun pemakaman untuk keturunannya di bukit Merak yang berada di selatan Girilaya.[10]

Pemilihan bukit Merak sebagai lokasi pemakaman tidak dapat dilepaskan dari konsep masyarakat Jawa yang memandang gunung dan bukit atau dataran yang lebih tinggi sebagai suatu tempat yang sakral dan menjadi penghubung manusia kepada tuhan. Bukit Merak dipercaya memiliki kekuatan magis dan sakral.[11] Hal tersebut sebagai konstruksi intelektual yang dibentuk untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap hal-hal yang bersifat religius.[12]

Sultan Agung wafat pada tahun 1646 dan menjadi raja pertama yang dimakamkan di Astana Pajimatan Himagiri, kemudian penerus wangsa Mataram dan keturunannya juga turut dimakamkan di sini.[13] Hingga pasca Perjanjian Giyanti pada tahun 1755, yang membagi Mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta, maka raja, keluarga jeturunan dan kerabatnya dimakamkan di Astana Pajimatan Himagiri. Di sisi barat menjadi lokasi pemakaman raja-raja dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, sedangkan di sisi timur menjadi lokasi pemakaman raja-raja dari Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat.[14]

Astana Pajimatan Himagiri termasuk jaringan tradisi ziarah masyarakat Jawa ke lokasi makam-makam leluhur. Hal ini menjadikan pemakaman ini sebagai salah satu destinasi utama wisata religi yang umum dilakukan oleh masyarakat Jawa.[15] Kompleks pemakaman ini dikelola oleh Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta dengan menempatkan para abdi dalem yang menjaga pemakaman dan dikelola secara bersama.[14]

Tata letak

Area pemakaman di Astana Pajimatan Himagiri dibagi menjadi tiga kompleks utama; kompleks makam raja-raja Mataram Islam berada di sisi utara paling atas, kompleks makam raja-raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat berada di sisi barat dan kompleks makam raja-raja Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat berada di sisi timur. Di kompleks makam raja-raja Mataram Islam terdapat dua bagian yaitu : Astana Kasultanagungan, dan Astana Pakubuwanan. Di kompleks makam raja-raja Surakarta terdapat tiga bagian yaitu Astana Kaswargan, Astana Kapingsangan dan Astana Girimulya. Di kompleks makam raja-raja Yogyakarta terdapat tiga bagian yaitu Kedhaton Kasuwargan, Kedhaton Besiyaran, dan Kedhaton Saptarengga.

Di area pemakaman ini juga terdapat lokasi makam seorang pengkhianat, bernama Tumenggung Endranata dengan makam di tiga bagian yang terpisah; di beberapa bagian dari ke-409 anak tangga, di sekitar Gapura Supit Urang dan di kolam sisi kanannya. Tumenggung Endranata sendiri disebut berkhianat karena membocorkan rencana penyerbuan di Batavia.[16]

Berkaitan dengan Tumenggung Endranata, sejarawan de Graaf mendeskripsikannya sebagai seorang pengkhianat namun bukan dalam konteks penyerbuan Mataram di Batavia. Ia dihukum mati setelah selesainya pemberontakan Adipati Pragola II. Alasan dari penjatuhan hukuman mati tersebut karena janda Adipati Pragola II melapor kepada Sultan Agung bahwa Tumenggung Endranata sesungguhnya menjadi penghasut dalam konflik pemberontakan Adipati Pragola II.[13]

Bangunan

Astana Pajimatan Himagiri terdiri atas beberapa halaman makam. Setiap astana, masing-masing memiliki tiga halaman. Tempat pemakaman raja berada di halaman paling atas beserta istri dan juga keluarganya, halaman kedua berada di tengah dan halaman terbawah merupakan halaman persiapan bagi peziarah. Tiap halaman dihubungkan dengan sebuah gapura.[17] Di dalam kompleks Astana Pajimatan Himagiri juga terdapat berbagai komponen bangunan di antaranya adalah:

Tangga

Tangga menuju kompleks Astana Pajimatan Himagiri (sekitar 1935).

Sebelum memasuki pemakaman, terdapat banyak anak tangga yang lebarnya sekitar 4 meter dengan kemiringan 45 derajat menghubungkan pemukiman dengan pemakaman. Anak tangga di Astana Pajimatan Himagiri kurang lebih berjumlah 446. Setiap bagian anak tangga memiliki arti dan makna tertentu, sebagai berikut:[9]

  • Anak tangga dari pemukiman penduduk menuju area dekat Masjid Pajimatan Himagiri berjumlah 32. Jumlah anak tangga ini menandakan Astana Pajimatan Himagiri yang dibangun pada tahun 1632.
  • Anak tangga dari area dekat Masjid Pajimatan Himagiri menuju pekarangan Masjid Pajimatan Himagiri berjumlah 13. Jumlah anak tangga ini melambangkan kenaikan takhta Sultan Agung Anyakrakusuma sebagai raja Mataram pada tahun 1613.
  • Anak tangga dari pekarangan Masjid Pajimatan Himagiri menuju tangga terpanjang berjumlah 46. Jumlah anak tangga ini menandakan kemangkatan Sultan Agung pada tahun 1646.
  • Anak tangga terpanjang berjumlah 346. Jumlah anak tangga ini menandakan Astana Pajimatan Himagiri yang dibangun secara bertahap selama 346 tahun.
  • Anak tangga di sekitar kolam berjumlah 9. Jumlah anak tangga ini melambangkan 9 anggota Walisanga.

Masjid

Astana Pajimatan Himagiri dilengkapi dengan masjid di sisi barat pelataran menuju tangga pemakaman. Masjid ini disebut Masjid Pajimatan Himagiri yang digunakan sebagai tempat ibadah oleh para abdi dalem saat sedang bertugas di sana. Ruang utama masjid memiliki luas sekitar 10x6 meter persegi. Bagian serambi memiliki ukuran sekitar 6x3 meter persegi. Masjid ini memiliki halaman seluas kurang lebih 80 meter persegi.[18]

Bangsal

Bangsal dapat di jumpai di area pemakaman dan juga di depan masjid. Bangsal adalah bangunan terbuka yang memiliki deretan penyangga (saka guru) tetapi tidak memiliki dinding. Bangsal di Astana Pajimatan Himagiri digunakan oleh para abdi dalem untuk menjalankan tugasnya. Di samping itu bangsal juga sering digunakan untuk tempat menunggu oleh para peziarah yang sedang berziarah ke makam.[17]

Kelir

Kelir adalah bangunan kecil berbentuk pagar bertembok di area pintu masuk tiap halaman. Kelir berfungsi sebagai penghalang agar pandangan orang tidak melihat langsung ke dalam. Di Astana Pajimatan Himagiri terdapat empat bangunan kelir, yaitu kelir di Gapura Supit Urang, kelir di Regol Sri Manganti I, kelir di Regol Sri Manganti II dan kelir di Gapura Papak.[17]

Regol

Serangkaian halaman terbuka di Astana Pajimatan Himagiri disebut dengan pelataran. Setiap pelataran dihubungkan dengan regol sebagai pembatas antara masing-masing pelataran. Regol merujuk kepada bangunan beratap yang berfungsi sebagai pintu masuk yang menghubungkan satu kompleks halaman ke kompleks halaman yang lain.[17]

Gapura

Untuk menuju ke atas Astana Pajimatan Himagiri terdapat gapura yang bernama Gapura Supit Urang. Supit Urang adalah nama strategi perang Mataram yang dilakukan dengan cara mengepung musuh secara rangkap dari kedua sisi, sehingga musuh benar-benar terkurung membentuk pola seperti udang. Gapura Supit Urang secara simbolik merupakan gapura utama untuk masuk ke semua area pemakaman. Kedelapan astana yang ada di kompleks Astana Pajimatan Himagiri masing-masing memiliki gapura sebagai akses masuknya.[17]

Kompleks

Denah pemakaman di Astana Pajimatan Himagiri

Daftar berikut adalah urutan pembagian kompleks makam di Astana Pajimatan Himagiri. Pada mulanya penguasa Mataram berada di bagian yang sama, setelah kerajaan terpecah bagian untuk penguasa Surakarta dan Yogyakarta dipisahkan.

Makam raja-raja Keraton Mataram Islam

Kompleks makam raja-raja Mataram dibagi menjadi dua bagian yang terdiri dari:

Astana Kasultanagungan

  • Sri Sultan Agung Anyakrakusuma
  • Kanjeng Ratu Batang / Kanjeng Ratu Wetan (permaisuri Sultan Agung)
  • Sri Susuhunan Amangkurat II
  • Sri Susuhunan Amangkurat III

Astana Pakubuwanan

  • Sri Susuhunan Pakubuwana I
  • Sri Susuhunan Amangkurat IV
  • Sri Susuhunan Pakubuwana II

Makam raja-raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

Kompleks makam raja-raja Surakarta dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari:

Astana Kaswargan

  • Sri Susuhunan Pakubuwana III
  • Sri Susuhunan Pakubuwana IV
  • Sri Susuhunan Pakubuwana V

Astana Kapingsangan

  • Sri Susuhunan Pakubuwana VI
  • Sri Susuhunan Pakubuwana VII
  • Sri Susuhunan Pakubuwana VIII
  • Sri Susuhunan Pakubuwana IX

Astana Girimulya

  • Sri Susuhunan Pakubuwana X
  • Sri Susuhunan Pakubuwana XI
  • Sri Susuhunan Pakubuwana XII
  • Sri Susuhunan Pakubuwana XIII

Makam raja-raja Keraton Kasultanan Yogyakarta Haninigrat

Kompleks makam raja-raja Yogyakarta dibagi menjadi tiga bagian yang terdiri dari:

Astana Kaswargan

  • Sri Sultan Hamengkubuwana I
  • Sri Sultan Hamengkubuwana III

Astana Besiyaran

  • Sri Sultan Hamengkubuwana IV
  • Sri Sultan Hamengkubuwana V
  • Sri Sultan Hamengkubuwana VI

Astana Saptarengga

  • Sri Sultan Hamengkubuwana VII
  • Sri Sultan Hamengkubuwana VIII
  • Sri Sultan Hamengkubuwana IX

Budaya dan tradisi

Terdapat tiga tradisi yang biasa dilakukan di Astana Pajimatan Himagiri di antaranya adalah Nawu Enceh, Kirab Budaya Ngarak Siwur, dan Nyadran.[19] Prosesi masing-masing tradisi tersebut adalah sebagai berikut:

Nawu Enceh

Nawu Enceh adalah upacara menguras air gentong dengan tujuan membersihkan gentong yang ada di depan makam Sultan Agung. Tradisi ini dilakukan pada setiap bulan Sura pada hari Jumat Kliwon.[19] Acara tersebut dimulai dengan pembacaan doa oleh juru kunci makam. Doa dipanjatkan kepada Allah untuk para leluhur yang telah meninggal dunia.[20]

Ngarak Siwur

Ngarak Siwur adalah kirab budaya yang masih berhubungan dengan tradisi Nawu Enceh. Kirab Budaya dilakukan sebelum upacara Nawu Enceh yaitu pada hari Kamis Wage di sore hari.[19] Kirab budaya ini menitik beratkan pada ngarak atau mempawaikan siwur yaitu alat yang digunakan untuk mengambil air di dalam tempayan yang terbuat dari tempurung kelapa berjumlah dua buah dari masing-masing karaton (Surakarta dan Yogyakarta).[20]

Nyadran Karaton

Nyadran Karaton adalah serangkaian upacara adat yang dilakukan oleh masing-masing karaton (Surakarta dan Yogyakarta) pada saat bulan Ruwah untuk mengucapkan rasa syukur yang dilakukan secara kolektif dengan mengunjungi dan mendoakan leluhur yang telah meninggal. Upacara adat ini melibatkan abdi dalem, santana dalem dan pangageng karaton.[19]

Galeri

  • Gapura menuju Astana Kasultanagungan (makam Sri Sultan Agung Anyakrakusuma bersama permaisuri Kanjeng Ratu Batang).
    Gapura menuju Astana Kasultanagungan (makam Sri Sultan Agung Anyakrakusuma bersama permaisuri Kanjeng Ratu Batang).
  • Peti jenazah Sri Susuhunan Pakubuwana X tiba di depan pelataran Masjid Pajimatan Himagiri.
    Peti jenazah Sri Susuhunan Pakubuwana X tiba di depan pelataran Masjid Pajimatan Himagiri.
  • Sri Susuhunan Pakubuwana X hendak disalatkan di Masjid Pajimatan Himagiri sebelum dikebumikan.
    Sri Susuhunan Pakubuwana X hendak disalatkan di Masjid Pajimatan Himagiri sebelum dikebumikan.
  • Peti jenazah Sri Susuhunan Pakubuwana X hendak dibawa naik ke Astana Pajimatan Himagiri.
    Peti jenazah Sri Susuhunan Pakubuwana X hendak dibawa naik ke Astana Pajimatan Himagiri.
  • Prosesi menaiki tangga pemakaman Sri Susuhunan Pakubuwana X. Setelah peti jenazah dibawa masuk kompleks pemakaman, orang Eropa tidak diperbolehkan berada di sana.
    Prosesi menaiki tangga pemakaman Sri Susuhunan Pakubuwana X. Setelah peti jenazah dibawa masuk kompleks pemakaman, orang Eropa tidak diperbolehkan berada di sana.
  • Seusai prosesi pemakaman Sri Susuhunan Pakubuwana X, para abdi dalem dan masyarakat berjalan kembali menuruni tangga dari puncak Bukit Merak.
    Seusai prosesi pemakaman Sri Susuhunan Pakubuwana X, para abdi dalem dan masyarakat berjalan kembali menuruni tangga dari puncak Bukit Merak.

Lihat pula

  • Pasarean Mataram
  • Pasarean Tegalarum
  • Astana Mangadeg
  • Astana Girilayu
  • Astana Giriganda

Referensi

  1. ↑ "Makam Raja Imogiri". Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta. 2017-12-13. Diakses tanggal 2025-11-06.
  2. ↑ Kemendikbudristek (2022), Kompleks Makam Imogiri, kemdikbud.go.id, diakses tanggal 20 April 2022
  3. ↑ Turner, Ralph Lilley (1969–1985), "sthāna" (dalam bahasa Inggris), A Comparative Dictionary of the Indo-Aryan Languages, Oxford University Press, diakses tanggal 5 Februari 2022
  4. ↑ Poerwadarminta, W.J.S (1939). Baoesastra Djawa (dalam bahasa Jawa). Batavia: J.B. Wolters. ISBN 0834803496.
  5. 1 2 Turner, Ralph Lilley (1969–1985), "hima" and "giri" (dalam bahasa Inggris), A Comparative Dictionary of the Indo-Aryan Languages, Oxford University Press, diakses tanggal 5 Februari 2022
  6. ↑ Balai Pelestarian Cagar Budaya Provinsi D.I. Yogyakarta (2022), Kompleks Makam Imogiri, kemdikbud.go.id, diakses tanggal 20 April 2022
  7. ↑ Gunawan, Arif; Wibowo, Nugroho B. (2013). "Spatial Analysis to Predict Conservation Heritage's Damage of "Imogiri Graves" by using Microtremor Measurements". Jurnal Tata Kota dan Daerah (dalam bahasa Inggris). 5.
  8. ↑ Mandoyokusumo, K.R.T. (1976), The history of graves of the kings at Imogiri (dalam bahasa Inggris), s.n, diakses tanggal 20 April 2022
  9. 1 2 Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala DIY (1995), Laporan Pendokumentasian Situs Giriloyo, Imogiri, Bantul, Yogyakarta
  10. ↑ Sumartono, D. A. (2019), Catatan Silam Pajimatan Imogiri, Yogyakarta: Mayangkara, hlm. 24
  11. ↑ Heins, M. (2004), Karaton Surakarta (Edisi 1), Yayasan Pawiyatan Kabudayaan Karaton Surakarta Hadiningrat, ISBN 978-979-98586-0-3
  12. ↑ Herusatoto, Budiono (2008). Simbolisme Jawa. Yogyakarta: Ombak. hlm. 215. ISBN 9789793472904.
  13. 1 2 de Graaf, H.J. (1986). Puncak Kekuasaan Mataram: Politik Ekspansi Sultan Agung. Jakarta: Pustaka Grafiti Pers.
  14. 1 2 Chawari, Muhammad (2008). "Studi Kelayakan Arkeologi di Kompleks Makam Imogiri Yogyakarta". Berkala Arkeologi. 28 (1). doi:10.30883/jba.v28i1.355.
  15. ↑ Mumfangati, Titi (2007). "Tradisi Ziarah Makam Leluhur Pada Masyarakat Jawa". Jantra. 3 (3): 223. ISSN 1907-9605.
  16. ↑ Moedjanto, G. (1986). The Concept of Power in Javanese Culture (dalam bahasa Inggris). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm. 220. ISBN 9789794200247.
  17. 1 2 3 4 5 Adrisijanti, I. (2000). Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. Yogyakarta: Jendela. hlm. 343. ISBN 9799597846.
  18. ↑ Adrisijanti, I. (1973), Kekunoan Islam di Imagiri, Tinjauan Terhadap Seni Bangun dan Seni Hiasnya, Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  19. 1 2 3 4 Purwadi (2005). Upacara Tradisional Jawa: Menggali Untaian Kearifan Lokal. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 253. ISBN 9793721863.
  20. 1 2 Haribowo, Yandhika (2017). "The Symbolic Meaning of Carnival Culture in Imogiri". Bening. 6 (1): 8.

Bacaan lebih lanjut

  • Martohastono, R. Ng. (1956), Riwayat Pasarean Imogiri Mataram, Yogyakarta: Brosur – Buku saku
  • Djagapuraya, R. W. (1976), Skema Makam Raja-Raja di Imogiri, Yogyakarta: Brosur – Buku saku
  • Suroso, Supriyono T (n.d.), The Royal Cemetery of Imogiri (dalam bahasa Inggris), Yogyakarta: Guide book Pemeliharaan CS1: Tahun (link)

Pranala luar

Wikimedia Commons memiliki media mengenai Imogiri Cemetery.
  • Javanese Royal Graveyard of Imogiri (dalam bahasa Inggris)

7°55′S 110°23′E / 7.917°S 110.383°E / -7.917; 110.383[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Astana_Pajimatan_Himagiri&params=7_55_S_110_23_E_region:ID <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">7°55′S</span> <span class=\"longitude\">110°23′E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\">&#xfeff; / &#xfeff;</span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">7.917°S 110.383°E</span><span style=\"display:none\">&#xfeff; / <span class=\"geo\">-7.917; 110.383</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwAnY\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt101\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwAnc\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwAng\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&amp;pagename=Astana_Pajimatan_Himagiri&amp;params=7_55_S_110_23_E_region:ID\" class=\"external text\" id=\"mwAnk\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwAno\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwAns\"><span class=\"latitude\" id=\"mwAnw\">7°55′S</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwAn0\">110°23′E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwAn4\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwAn8\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwAoA\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwAoE\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwAoI\">7.917°S 110.383°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwAoM\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwAoQ\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwAoU\">-7.917; 110.383</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwAoY\"/></span>"}' id="mwAoc"/>

  • l
  • b
  • s
Topik Daerah Istimewa Yogyakarta
Gubernur: Hamengkubawana X  · Wakil Gubernur: Paku Alam X
Arsitektur bersejarah
  • Astana Pajimatan Himagiri
  • Bank BNI 1946 Yogyakarta
  • Hotel Toegoe
  • Kantor Pos Besar Yogyakarta
  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kotagede
  • Makam Ratu Mas Malang
  • Dalem Brontokusuman
  • Dalem Jayadipuran
  • Dalem Pujokusuman
  • Pasarean Mataram
  • Pasarean Giri Gondo
  • Pura Pakualaman
  • Rumah Tradisional Yusuf Sudirman
  • Keraton Kerto
  • Situs Warungboto
  • Taman Sari Yogyakarta
  • Tugu Yogyakarta
  • Watu Ngelak
Candi
  • Dataran Kewu
  • Candi Barong
  • Candi Banyunibo
  • Candi Gebang
  • Candi Ijo
  • Candi Kalasan
  • Candi Kedulan
  • Candi Kimpulan
  • Candi Prambanan
  • Candi Sambisari
  • Candi Sari
  • Situs Ratu Baka
Monumen dan museum
  • Monumen Jogja Kembali
  • Monumen Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia
  • Monumen Perjuangan TNI AU
  • Museum Benteng Vredeburg
  • Museum Biologi
  • Museum Anak Kolong Tangga
  • Museum Gunung Merapi
  • Museum Padepokan Sumber Karahayon
  • Museum Perjuangan
  • Museum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman
  • Museum Sejarah Purbakala Pleret
  • Museum Sonobudoyo
  • Wahanarata
Transportasi
  • Bandara Adisucipto
  • Bandar Udara Internasional Yogyakarta
  • Pelabuhan Tanjung Adikarta
  • Stasiun Lempuyangan
  • Stasiun Maguwo
  • Stasiun Tugu
  • Stasiun Wates
  • Terminal Condongcatur
  • Terminal Dhaksinarga
  • Terminal Giwangan
  • Terminal Jombor
  • Terminal Pakem
  • Terminal Palbapang
  • Terminal Prambanan
  • Terminal Wates
  • Trans Jogja
Objek wisata alam
  • Air Terjun Sri Gethuk
  • Bukit Bego
  • Curug Pulosari
  • Gardu Pandang Lemah Rubuh
  • Gua Cerme
  • Gua Pindul
  • Gua Selarong
  • Gunung Merapi
    • Kaliurang
    • Kaliadem
  • Gunung Nglanggeran
  • Pantai Baron
  • Pantai Indrayanti
  • Pantai Kesirat
  • Pantai Krakal
  • Pantai Kukup
  • Pantai Glagah
  • Pantai Wohkudu
  • Puncak Suroloyo
  • Puncak Sosok
  • Parangtritis
Tempat ibadah
  • Masjid Gedhe Kauman
  • Masjid Jogokariyan
  • Masjid Syuhada
  • Gereja Santo Antonius Kotabaru
  • GPIB Marga Mulya Yogyakarta (eks Indische Kerk)
  • Kelenteng Fuk Ling Miau
  • Kelenteng Poncowinatan
Wisata belanja, hiburan,
hotel, dan kuliner
  • Hartono Lifestyle Mall Yogyakarta
  • Jalan Malioboro
  • Jogja City Mall
  • Kampung Ketandan
  • Kebun Binatang Gembira Loka
  • Kasongan
  • Malioboro Mall
  • Pasar Beringharjo
  • Pasar Ngasem
  • Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta
  • Plaza Ambarrukmo
  • Purawisata
  • Ramai Mall
  • Kampung Internasional Sosrowijayan Wetan
  • Taman Budaya Embung Giwangan
  • Taman Budaya Gunungkidul
  • Taman Budaya Kulon Progo
  • Taman Budaya Yogyakarta
  • Taman Pelangi
  • Taman Pintar Yogyakarta
  • Wisata Gudeg Wijilan
Pendidikan
  • Daftar sekolah di Yogyakarta
  • Daftar perguruan tinggi di Yogyakarta
    • Universitas Gadjah Mada
    • Universitas Islam Indonesia
    • Universitas Mercu Buana
    • Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
    • Universitas Negeri Yogyakarta
    • Institut Seni Indonesia Yogyakarta
Olahraga
  • GOR Among Raga
  • Persiba Bantul
  • Persig Gunung Kidul
  • Persikup Kulon Progo
  • PS Protaba Bantul
  • PSIM Yogyakarta
  • PSS Sleman
  • Sleman United
  • Stadion Maguwoharjo
  • Stadion Mandala Krida
  • Stadion Sultan Agung
  • Stadion Tridadi
Militer dan kepolisian
  • Polda DIY
  • Korem 072/Pamungkas
  • Yonif 403
  • Kikavser 2
  • Pangkalan TNI AL Yogyakarta
  • Pangkalan Udara Adisutjipto
Kebudayaan
  • Bahasa Jawa Yogyakarta
  • Bregada
  • Budaya Jawa
  • Gamelan
    • Javanese Court Gamelan
Makanan dan minuman
tradisional khas Yogyakarta
  • Adrem
  • Alen-alen
  • Ampyang
  • Awug-awug
  • Bakmi Jawa
  • Bakpia Pathuk
  • Bir Jawa
  • Brongkos
  • Carang Gesing
  • Cemplon
  • Cenil
  • Cethil
  • Gaplek
  • Gathot
  • Geblek
  • Geplak
  • Gudeg Manggar
  • Gudeg Nangka
  • Grontol
  • Growol
  • Gudangan
  • Jadah
  • Jadah Manten
  • Jenang Gempol
  • Jenang Sungsum
  • Kipo
  • Kopi Jos
  • Lempeng Legendar
  • Lempeng Tela
  • Lotek
  • Mangut Lele
  • Mata Kebo
  • Miedes
  • Mie Lethek
  • Mie Pentil
  • Mendut
  • Nasi Kucing
  • Onde-onde
  • Ongol-ongol
  • Peyek Kacang
  • Peyek Jingking
  • Peyek Tumpuk
  • Sagon Kotagede
  • Sate Klathak
  • Sega Abang
  • Tempe Benguk
  • Tempe Garit
  • Tempe Gembus
  • Tempe Kara
  • Timus
  • Thiwul
  • Tumpeng
  • Ungrung
  • Wajik
  • Walang Goreng
  • Wedang Ronde
  • Wedang Secang
  • Wedang Uwuh
  • Yangko
Festival dan pesta rakyat
  • Biennale Jogja
  • Jogja Java Carnival
  • Merti bumi tunggul arum
  • Saparan bekakak
  • Sekaten
Media
  • Jogja TV
  • Kedaulatan Rakyat
  • Mataram Surya Visi
  • RBTV (afiliasi dengan Kompas TV)
  • Radar Jogja
  • Radio Retjo Buntung
  • Tribun Jogja
  • TVRI Yogyakarta
Topik lainnya
  • Kesultanan Mataram
  • Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat
  • Kadipaten Paku Alaman
  • Hamengkubuwana
  • Paku Alam
  • Sejarah DIY
  • Lambang DIY
  • Garis Imajiner Yogyakarta
  • Alas Mentaok
Lihat pula: Kategori
Proyek  · Portal

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Terminologi
  2. Sejarah
  3. Tata letak
  4. Bangunan
  5. Tangga
  6. Masjid
  7. Bangsal
  8. Kelir
  9. Regol
  10. Gapura
  11. Kompleks
  12. Makam raja-raja Keraton Mataram Islam
  13. Makam raja-raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat
  14. Makam raja-raja Keraton Kasultanan Yogyakarta Haninigrat
  15. Budaya dan tradisi
  16. Nawu Enceh

Artikel Terkait

Rambu Solo'

Rambu Solo&#039; diawali dengan prosesi pemakaman dan diakhiri dengan proses kesenian khas suku Toraja. Prosesi pemakaman diawali dengan pembungkusan jenazah

Prosesi pemakaman

Prosesi pemakaman adalah prosesi, biasanya dengan kendaraan bermotor atau berjalan kaki, dari rumah duka atau tempat ibadah ke pemakaman atau krematorium

Agama di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026