Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Hamengkubuwana VII

Sri Sultan Hamengkubuwana VII (bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwana VII, 4 Februari 1839 – 30 Desember 1921) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1877-1921. Dia juga dikenal dengan gelar Sinuhun Behi (Sultan Ngabehi) dan Sinuhun Sugih (Sultan Sugih).

sultan Yogyakarta
Diperbarui 13 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Hamengkubuwana VII
Artikel ini sudah memiliki daftar referensi, bacaan terkait, atau pranala luar, tetapi sumbernya belum jelas karena belum menyertakan kutipan pada kalimat. Mohon tingkatkan kualitas artikel ini dengan memasukkan rujukan yang lebih mendetail bila perlu. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Biografi ini memerlukan lebih banyak catatan kaki untuk pemastian. Bantulah untuk menambahkan referensi atau sumber tepercaya. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah.
Cari sumber: "Hamengkubuwana VII" – berita · surat kabar · buku · cendekiawan · JSTOR
(Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
Hamengkubuwana VII
ꦲꦩꦼꦁꦑꦸꦨꦸꦮꦟ꧇꧗꧇
Sri Sultan Hamengkubuwana VII
Sri Sultan Hamengkubuwana VII
Sultan Yogyakarta
ke-7
Bertakhta13 Agustus 1877 - 30 Desember 1921
Penobatan13 Agustus 1877
PendahuluSultan Hamengkubuwana VI
PenerusSultan Hamengkubuwana VIII
KelahiranGusti Raden Mas Murteja
4 Februari 1839 (Senin Legi, 20 Dulkaidah Je 1766)
Kraton Yogyakarta
Kematian30 Desember 1921 (usia 82)
Pesanggrahan Ambarukmo, Yogyakarta
Pemakaman
Astana Saptorenggo, Imogiri, Yogyakarta
PermaisuriGusti Kangjeng Ratu Kencana/Gusti Kangjeng Ratu Wandhan

Gusti Kangjeng Ratu Hemas

Gusti Kangjeng Ratu Kencana II
Nama lengkap
Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga 'Abdurrahman Sayyidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Pitu ing Ngayogyakarta Hadiningrat
WangsaMataram
AyahSultan Hamengkubuwana VI
IbuGusti Kangjeng Ratu Sultan
(Permaisuri kedua)[1]
AgamaIslam

Sri Sultan Hamengkubuwana VII (bahasa Jawa: Sri Sultan Hamengkubuwana VII, 4 Februari 1839 – 30 Desember 1921) adalah raja Kesultanan Yogyakarta yang memerintah pada tahun 1877-1921. Dia juga dikenal dengan gelar Sinuhun Behi (Sultan Ngabehi) dan Sinuhun Sugih (Sultan Sugih).

Masa kecil

Nama aslinya adalah Gusti Raden Mas Murteja,[2] putra tertua Sultan Sri Sultan Hamengkubuwana VI yang lahir pada tanggal 4 Februari 1839. Dia naik takhta menggantikan ayahnya pada tanggal 13 Agustus 1877. GRM Murteja adalah putra dari Gusti Kangjeng Ratu (GKR) Sultan, permaisuri kedua dari Hamengkubuwana VI. Permaisuri pertama, GKR Hamengkubuwana, puteri Pakubuwana VIII dari Surakarta, tidak memiliki anak laki-laki. Setelah wafatnya Hamengkubuwana VI, GRM Murteja naik takhta sebagai Hamengkubuwana VII.[3]

Riwayat pemerintahan

Foto dari Hamengkubuwana VII.

Pada masa pemerintahan Hamengkubuwana VII, banyak didirikan pabrik gula di Yogyakarta, yang seluruhnya berjumlah 17 buah. Setiap pendirian pabrik memberikan peluang kepadanya untuk menerima dana sebesar f 200.000,00 (f = florin, mata uang Belanda). Hal ini membuat Sultan sangat kaya sehingga sering memperoleh gelar Sultan Sugih.[1] Hamengkubuwana VI adalah salah satu Sultan Yogyakarta yang memerintah paling lama, yaitu selama 44 tahun. Pada tahun 1921, saat usianya mencapai 82 tahun, ia memutuskan untuk turun dari takhta dan tidak lama wafat di tahun yang sama.

Masa pemerintahannya juga merupakan masa transisi menuju modernisasi di Yogyakarta. Banyak sekolah modern didirikan. Ia bahkan mengirim putra-putranya belajar hingga ke negeri Belanda. Penerapan liberalisme sejak 1870 memberikan keuntungan tambahan bagi Sultan dengan diperkenalkannya sistem Hak Sewa Tanah selama 70 tahun. Selain itu, untuk mendukung kebutuhan transportasi gula, dibangun jaringan kereta api dan lori pengangkut tebu, yang dimulai oleh Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), perusahaan kereta api Belanda. Jalur kereta ini turut memberikan keuntungan finansial bagi keraton.[3]

Pada tanggal 29 Januari 1921 Hamengkubuwana VII yang saat itu berusia 81 tahun memutuskan untuk turun takhta dan mengangkat putra mahkotanya yang keempat (Gusti Raden Mas Sujadi, bergelar Gusti Pangeran Harya Purbaya) sebagai penggantinya. Konon peristiwa ini masih dipertanyakan keabsahannya karena putera mahkota yang pertama (Gusti Raden Mas Akhaddiyat, bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegara I), yang seharusnya menggantikan ayahnya, tiba-tiba meninggal dunia dan sampai saat ini belum jelas penyebab kematiannya. Penggantinya, Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegara II (kemudian bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Juminah, kakek dari seniman Indonesia, Bagong Kussudiardja), diberhentikan karena alasan kesehatan. Putra mahkota yang ketiga, Gusti Raden Mas Putro (bergelar Kangjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamengkunegara III), meninggal dunia tanggal 21 Februari 1913 akibat sakit keras setelah kembali dari Kulon Progo.[4]

Dugaan yang muncul ialah adanya keterlibatan pihak Belanda yang tidak setuju dengan putera mahkota pengganti Hamengkubuwana VII yang terkenal selalu menentang aturan-aturan yang dibuat pemerintah Batavia.

Biasanya dalam pergantian takhta raja kepada putera mahkota ialah menunggu sampai sang raja yang berkuasa meninggal dunia. Namun kali ini berbeda karena pengangkatan Hamengkubuwana VIII dilakukan pada saat Hamengkubuwana VII masih hidup (Ada cerita bahwa sang ayah diasingkan oleh putera mahkota yang keempat ke Pesanggrahan Ngambarrukmo di luar keraton Yogyakarta)

Hamengkubuwana VII dengan besar hati mengikuti kemauan sang anak (yang di dalam istilah Jawa disebut mikul dhuwur mendhem jero) yang secara politis telah menguasai kondisi di dalam pemerintahan kerajaan. Setelah turun takhta, Hamengkubuwana VII pernah mengatakan "Tidak pernah ada raja yang meninggal di keraton setelah saya" yang artinya masih dipertanyakan. Sampai saat ini ada dua raja setelah Hamengkubuwana VII yang meninggal di luar keraton, yaitu Hamengkubuwana VIII (meninggal dunia setelah menjemput putra mahkota, Gusti Raden Mas Darajatun, dari Batavia) dan Hamengkubuwana IX (meninggal dunia di Amerika Serikat). Bagi masyarakat Jawa adalah suatu kebanggaan jika seseorang meninggal di rumahnya sendiri. Hamengkubuwana VII meninggal di Pesanggrahan Ngambarrukmo pada tanggal 30 Desember 1931 dan dimakamkan di Pemakaman Imogiri.

Versi lain mengatakan bahwa Hamengkubuwana VII meminta pensiun kepada Belanda untuk madeg pandita (menjadi pertapa) di Pesanggrahan Ngambarrukmo.

Perkembangan Budaya dan Pendidikan

Era Hamengkubuwana VII adalah periode awal menuju modernisasi, di mana banyak sekolah mulai didirikan. Dia juga mendorong pendidikan anak-anaknya hingga ke perguruan tinggi, termasuk mengirim beberapa di antaranya belajar ke Belanda. Di bidang seni tari, Hamengkubuwana VII memberi kesempatan untuk perkembangan tarian di luar keraton, mendukung anak-anaknya mendirikan sekolah tari gaya Yogyakarta, Kridha Beksa Wirama, yang terbuka bagi siapa saja yang berminat belajar tari di Dalem Tejakusuman. Selain mendirikan sekolah, dia juga memperkuat pertunjukan seni tari dan wayang, yang semakin populer sejak akhir 1918.[5]

Di masa Hamengkubuwana VII, berkembang pula berbagai organisasi massa. Muhammadiyah, salah satu organisasi Islam besar, lahir dari lingkup keraton pada masa ini. Diprakarsai oleh Raden Ngabehi Ngabdul Darwis atau Kyai Haji Ahmad Dahlan, yang merupakan abdi dalem keraton yang dikirim untuk belajar di Arab Saudi, Muhammadiyah fokus pada kegiatan amal dan pendidikan, berkembang dari kawasan Kauman.[6]

Hamengkubuwana VII memiliki visi untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam organisasi politik sebagai cikal bakal Indonesia. Gedung Loji Mataram milik keraton di Jalan Malioboro, yang kini menjadi gedung DPRD DIY, dipinjamkan kepada Budi Utomo untuk mengadakan kongres pertamanya. Dia juga memfasilitasi perayaan hari besar Islam berdasarkan kalender Hijriah, sementara upacara Garebeg masih mengikuti kalender Sultan Agungan.[3]

Menjelang turun takhta

Menjelang usia ke-81 tahun, Hamengkubuwana VII merasa saatnya untuk turun takhta.[7] Pada 1920, ia menyampaikan keinginan ini kepada patih Danureja VII dan pemerintah Hindia Belanda, memilih hidup sebagai pandhita di pesanggrahan AmbarukmoKeputusan ini tak lepas dari pengaruh pemerintah Belanda yang mengusulkan program reorganisasi agraria. Sultan merasa bahwa program tersebut akan membatasi peranannya, terutama karena penghapusan sistem apanage yang menyerahkan pengelolaan tanah kepada pemerintah Hindia Belanda melalui kas daerah. Secara politik, peraturan ini seolah menjadikan sultan sebagai bagian dari administrasi kolonial. Hamengkubuwana VII kemudian menunjuk GRM Sujadi sebagai penerusnya, demi kelancaran suksesi dan stabilitas pemerintahan di bawah pengaruh Belanda yang terus kuat.[8]

Peninggalan Hamengkubuwana VII

Tidak hanya mencakup pabrik gula, jaringan kereta api, dan Pesanggrahan Ambarukmo, peninggalan Hamengkubuwana VII juga meliputi karya seni seperti tari Bedaya Sumreg, Srimpi Dhendhang Sumbawa, dan Bedaya Lala. Pada masa ini pula, tari Bedaya beralih menggunakan kostum mekak dan tetap mempertahankan riasan paes ageng. Di bidang seni keris, ia dikenal dengan koleksi keris tangguh kaping piton yang berkualitas tinggi.[3]

Pada masa Hamengkubuwana VII, Tugu Golong Gilig, yang rusak akibat gempa pada 1867, direnovasi di bawah pengawasan Patih Danureja V dengan rancangan YPF van Brussel. Tugu yang ikonik bagi Yogyakarta ini diresmikan pada 3 Oktober 1889. Hamengkubuwana VII wafat pada 30 Desember 1921 (29 Rabingulakir 1851) dan dimakamkan di Astana Saptorenggo, Pajimatan Imogiri.[3]

Silsilah

  • Anak tertua dari Sultan Hamengkubuwana VI dan istri pertamanya Kangjeng Ratu Sepuh/Gusti Kangjeng Ratu Sultan/Gusti Kangjeng Ratu Hageng dan diangkat anak oleh Gusti Kangjeng Ratu Kencana.
  • Memiliki delapan belas istri:
  1. Bendara Raden Ayu Sukina/Bendara Raden Ayu Mangkubumi (b. 1836), putri termuda Hamengkubuwana V dengan istri keduanya, Bendara Raden Ayu Dewaningsih.
  2. Gusti Kangjeng Ratu Hemas (Permaisuri Kedua), putri dari Kangjeng Raden Tumengung Jayadipura atau dari Pangeran Suryadiningrat. dan memiliki anak :
    1. KGPAA. Hamengkunegoro I (GRM. Akhadiyat)
    2. GKR. Hangger I, Menikah dengan KRT. Purwonegoro
    3. KGPAA. Hamengkunegoro III (Pangeran Juminah)
    4. KGPAA. Hamengkunegoro III (GRM. Putro)
    5. KGPH. Purboyo/KGPAA. Hamengkunegoro IV/Sri Sultan Hamengkubuwono VIII
    6. GRAj. Moerkadijah
    7. GRM. Sukirno
    8. GKR. Hangger II, Menikah dengan KGPH. Kusumayudho III Putra Sunan Pakubuwono X Surakarta dari KBRAy. Retno Purnomo
    9. GKR. Hayu, Menikah dengan Patih Danurejo VII dari Yogyakarta
    10. GKR. Hanom, Menikah dengan KPH. Suryadi Putra KGPA. Mangkubumi
    11. GKR. Bendara II, Menikah dengan KRT. Puspodiningrat
  3. Gusti Kangjeng Ratu Kencana I (Permaisuri Pertama), kemudian diasingkan lalu bergelar Gusti Kangjeng Ratu Wandhan, putri dari Raden 'Ali Basa 'Abdu'l-Mustafa Senthot Prawiradirja. dan memiliki anak :
    1. GKR. Condrokirono I, Menikah dengan GPH. Suryaningngalog
    2. GKR. Maduretno, Menikah dengan KRT. Purwonegoro
  4. Gusti Kangjeng Ratu Kencana II/Bendara Raden Ayu Ratna Sri Wulan (Permaisuri Ketiga), putri dari Bendara Pangeran Harya Hadinegara. dan memiliki anak :
    1. GPH. Mangkukusumo
    2. GKR. Bendara I, Menikah dengan KPH. Suryadi Putra KGPA. Mangkubumi
    3. GPH. Tedjokusumo
    4. GPH. Natapradja
    5. GRM. Soehardi
    6. GKR. Dewi, Menikah dengan KRT. Wijil
    7. GRAj. Moerkamsilah
    8. GKR. Bendara III, Menikah dengan KRT. Puspodiningrat
    9. GKR. Condrokirono II, Menikah degan KPH. Hardjokusumo/KPHA. Danurejo VIII
    10. GPH. Hadikusumo
    11. GKR. Hemas, Permaisuri Kedua Sunan Pakubuwono X dari Surakarta, dan memiliki Putri tunggal GRAj. Koestiah Sekar Kedaton/GKR. Pembayun
    12. GKR. Timur, Permaisuri KGPAA. Mangkunegoro VII dari Surakarta, dan memiliki Putri tunggal GRAy. Siti Nurul Kamaril Ngarasati Kusumawardhani
    13. GRM. Soeatmaji
    14. GRAj. Moerbilanatirin
  5. Bendara Raden Ayu Ratnaningsih.
  6. Bendara Raden Ayu Ratnaningdia.
  7. Bendara Raden Ayu Ratna Adi.
  8. Bendara Raden Ayu Ratnasangdia.
  9. Bendara Raden Ayu Ratnajiwata.
  10. Bendara Raden Ayu Puryaningdia.
  11. Bendara Raden Ayu Dewaratna.
  12. Bensara Raden Ayu Puspitaningdiya.
  13. Bendara Raden Ayu Srengkara Adinindia.
  14. Bendara Raden Ayu Rukmidiningdia.
  15. Bendara Raden Ayu Ratna Adiningrum.
  16. Bendara Raden Ayu Ratna Puspita.
  17. Bendara Raden Ayu Tejaningrum.
  18. Bendara Raden Ayu Ratna Mandaya, putri dari Patih Danureja VI.
  • Memiliki 31 putra
  • Memiliki 38 putri

Galeri

  • Sri Sultan Hamengkubuwana VII. Kassian Cephas, 1885. Koleksi KITLV.
    Sri Sultan Hamengkubuwana VII. Kassian Cephas, 1885. Koleksi KITLV.
  • Ratu Angger, saudara perempuan Sultan Hamengkubuwana VII, berpakaian kerajaan, sekitar tahun 1885.
    Ratu Angger, saudara perempuan Sultan Hamengkubuwana VII, berpakaian kerajaan, sekitar tahun 1885.
  • Ratoe Madoeretna, putri Sultan Hamengkubuwana VII
    Ratoe Madoeretna, putri Sultan Hamengkubuwana VII

Pranala luar

  1. 1 2 Biografi singkat HB VII Diarsipkan 2020-08-07 di Wayback Machine.. kratonjogja.id. 2019. Diakses tanggal 18/07/2019
  2. ↑ "Sultan Hamengkubuwana VII Raden Mas Murtejo (22.12.1877-29.1.1921)". geni_family_tree. 2023-12-01. Diakses tanggal 2024-10-27.
  3. 1 2 3 4 5 crew, kraton. "Sri Sultan Hamengku Buwono VII". kratonjogja.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-10-27.
  4. ↑ "Mengenal Hamengkubuwono VII, Raja Mataram Islam yang Kaya Raya dan Dermawan". intisari.grid.id. Diakses tanggal 2024-10-27.
  5. ↑ Andryanto, S. Dian (2023-02-04). "Hikayat Sri Sultan Hamengkubuwono VII, Disebut sebagai Sultan Sugih dan Sultan Sepuh, Ini Alasannya". Tempo (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2024-10-27.
  6. ↑ link, Dapatkan; Facebook; Twitter; Pinterest; Email; Lainnya, Aplikasi (2017-08-27). "Sri Sultan Hamengku Buwono VII (1877 - 1921)". Diakses tanggal 2024-10-27.
  7. ↑ Wardani, Agustin Tri. "Silsilah Raja Keraton Jogja dan Biografi Singkatnya". detikjateng. Diakses tanggal 2024-10-27.
  8. ↑ "Mengenal Hamengku Buwono VII, Raja yang Melek Pendidikan". RCTI+. Diakses tanggal 2024-10-27.
  • (Inggris) HB VII - Genealogy Diarsipkan 2008-06-16 di Wayback Machine.

Kepustakaan

  • M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terj.). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
  • Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu
Gelar kebangsawanan
Didahului oleh:
Hamengkubuwono VI
Raja Kesultanan Yogyakarta
1877-1921
Diteruskan oleh:
Hamengkubuwono VIII
  • l
  • b
  • s
Sri Sultan Hamengkubuwana Yogyakarta

Hamengkubuwana I
HB I
(1755–1792)

Hamengkubuwana II
HB II
(1792–1810)

Hamengkubuwana III
HB III
(1810–1811)

Hamengkubuwana II
HB II
(1811–1812)

Hamengkubuwana III
HB III
(1812–1814)

Hamengkubuwana IV
HB IV
(1814–1822)

Hamengkubuwana V
HB V
(1822–1826)

Hamengkubuwana II
HB II
(1826–1828)

Hamengkubuwana V
HB V
(1828–1855)

Hamengkubuwana VI
HB VI
(1855–1877)

Hamengkubuwana VII
HB VII
(1877–1921)

Hamengkubuwana VIII
HB VIII
(1921–1939)

Hamengkubuwana IX
HB IX
(1940–1988)

Hamengkubuwana X
HB X
(1989–sekarang)

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Masa kecil
  2. Riwayat pemerintahan
  3. Perkembangan Budaya dan Pendidikan
  4. Menjelang turun takhta
  5. Peninggalan Hamengkubuwana VII
  6. Silsilah
  7. Galeri
  8. Pranala luar
  9. Kepustakaan

Artikel Terkait

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat

kerajaan di Asia Tenggara

Hamengkubuwana X

Sultan Yogyakarta ke-10 & Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ke-3 (sejak 1989)

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

bangunan istana di Indonesia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026