Krisis Timur Tengah adalah rangkaian perang, konflik, dan ketidakstabilan tinggi yang saling terkait dan sedang berlangsung di Timur Tengah sebagai akibat dari Perang Gaza dan Genosida Gaza. Krisis ini utamanya terdiri dari konflik antara Israel dan milisi bentukan Iran yang tergabung dalam Poros Perlawanan, termasuk Hamas di Jalur Gaza, Hezbollah di Lebanon, dan Houthi di Yaman; Iran sendiri juga terlibat secara langsung. Sekutu Israel, termasuk Amerika Serikat, Britania Raya, dan Prancis, juga telah melakukan intervensi militer di berbagai teater peperangan. Krisis ini telah melibatkan hampir seluruh negara di Timur Tengah dan berdampak signifikan terhadap kawasan tersebut secara keseluruhan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Krisis Timur Tengah adalah rangkaian perang, konflik, dan ketidakstabilan tinggi yang saling terkait dan sedang berlangsung di Timur Tengah sebagai akibat dari Perang Gaza dan Genosida Gaza. Krisis ini utamanya terdiri dari konflik antara Israel dan milisi bentukan Iran yang tergabung dalam Poros Perlawanan, termasuk Hamas di Jalur Gaza,[a] Hezbollah di Lebanon, dan Houthi di Yaman; Iran sendiri juga terlibat secara langsung. Sekutu Israel, termasuk Amerika Serikat, Britania Raya, dan Prancis, juga telah melakukan intervensi militer di berbagai teater peperangan. Krisis ini telah melibatkan hampir seluruh negara di Timur Tengah dan berdampak signifikan terhadap kawasan tersebut secara keseluruhan.
Hamas memimpin serangan mendadak terhadap Israel pada 7 Oktober 2023, yang ditanggapi Israel dengan pemboman dan invasi darat ke Gaza. Tak lama kemudian, milisi bentukan Iran lainnya bergabung dalam konflik melawan Israel. Hezbollah meluncurkan roket ke Israel, yang memulai serangkaian bentrokan. Houthi mulai menyerang kapal-kapal komersial di Laut Merah, yang memicu kecaman internasional, termasuk serangkaian serangan udara Amerika dan Inggris ke wilayah Houthi yang dimulai pada Januari 2024. Beberapa milisi yang dipimpin oleh Perlawanan Islam di Irak juga menyerang pangkalan militer AS di Irak, Suriah, dan Yordania.
Pada tahun 2024, Israel melanjutkan invasinya ke Gaza, termasuk Serangan Rafah dan pembunuhan para pemimpin Hamas. Israel meningkatkan konfliknya dengan Hezbollah pada bulan September dengan serangan perangkat elektronik dan pembunuhan tokoh-tokoh tinggi kelompok tersebut, kemudian menginvasi Lebanon selatan sebelum mencapai kesepakatan gencatan senjata pada bulan November. Iran dan Israel saling bertukar serangan langsung ke wilayah masing-masing sebanyak dua kali, pada bulan April dan Oktober. Kelompok oposisi Suriah memulai ofensif yang menyulut kembali Perang Saudara Suriah pada akhir November dan memuncak dengan penggulingan rezim Assad yang didukung Iran pada 8 Desember.
Setelah rezim Assad runtuh, Israel menginvasi area di sekitar perbatasannya dengan Suriah dan melakukan serangan di seluruh negeri tersebut. A.S. memulai kembali serangan terhadap Yaman pada Maret 2025, hingga tercapai gencatan senjata A.S.–Houthi pada bulan Mei, setelah itu Israel dan Houthi terus melakukan serangan satu sama lain. Pada Juni 2025, Israel meluncurkan serangan mendadak ke Iran yang memulai Perang Dua Belas Hari di antara mereka. Selama perang tersebut, A.S. melakukan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran, dan Iran membalas dengan menyerang pangkalan A.S. di Qatar. Setelah mencapai gencatan senjata dengan Iran, Israel memulai ofensif ke Kota Gaza dan menargetkan pejabat Hamas di Qatar, sebelum gencatan senjata dengan Hamas menghentikan perang Gaza pada bulan Oktober. Pada Februari 2026, Amerika Serikat meluncurkan serangan besar-besaran ke Iran bersama Israel dengan tujuan yang dinyatakan untuk penggulingan kekuasaan, yang memicu Iran untuk membalas dengan menargetkan Israel dan pangkalan militer A.S. di Qatar, Yordania, Suriah, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Pemimpin Agung Iran, Ali Khamenei, terbunuh dalam serangan tersebut.

Pada 7 Oktober 2023, kelompok militan Palestina Hamas memimpin serangan mendadak ke Israel dari Jalur Gaza yang merebut wilayah di Israel selatan dan menewaskan sekitar 1.200 orang.[1][2] Selain itu, sekitar 250 warga Israel dan warga asing dibawa ke Gaza sebagai sandera oleh Hamas dan kelompok bersenjata Palestina lainnya.[3] Serangan tersebut dimulai dengan rentetan lebih dari 4.000 roket dan penyusupan menggunakan paralayang ke Israel.[4] Pejuang Hamas juga menembus Pagar Gaza–Israel dan membantai warga sipil di beberapa pemukiman. Serangan ini menandai hari paling mematikan dalam sejarah Israel. Sebagai tanggapan, pemerintah Israel menyatakan perang untuk pertama kalinya sejak Perang Yom Kippur 1973.[5]
Setelah serangan Hamas 7 Oktober, Israel memulai pemboman dan blockade terhadap Jalur Gaza,[6] yang meningkat pada 13 Oktober menjadi serangan darat sementara ke Jalur Gaza utara dan pada 27 Oktober menjadi invasi skala penuh ke Gaza dengan tujuan yang dinyatakan untuk menghancurkan Hamas dan membebaskan para sandera.[7] Fase awal invasi terjadi di utara Jalur Gaza, termasuk pengepungan Kota Gaza oleh Israel yang dimulai pada 2 November. Hamas dan Israel menyetujui gencatan senjata enam hari dari 24 November hingga 30 November yang menyaksikan Hamas menukar sandera Israel dengan tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel.[8]
Setelah gencatan senjata berakhir pada bulan Desember, pasukan Israel telah mencapai kota Khan Yunis di Gaza tengah.[9] Israel memulai kampanye pengeboman di kota selatan Rafah pada bulan Februari,[10] dan Israel merebut pintu perbatasan Rafah pada 7 Mei 2024 saat memulai ofensif di dalam dan sekitar Rafah.[11] Pada 16 Oktober 2024, militer Israel membunuh pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, sehingga mencapai tujuan utama invasi Israel ke Gaza. Pada 15 Januari 2025, Israel dan Hamas menyetujui gencatan senjata yang mengarah pada pembebasan sandera.[12] Pada 18 Maret, Israel meluncurkan serangan udara mendadak ke Gaza setelah menyatakan Hamas menolak memperpanjang gencatan senjata.
Perang ini telah menyebabkan kehancuran yang luas, krisis kemanusiaan, dan kelaparan yang terus berlangsung di Jalur Gaza.[13] Sebagian besar penduduk dipaksa mengungsi. Lebih dari 70.000 warga Palestina di Gaza telah tewas hingga Februari 2026.[14] Pada 10 Oktober 2025, sebuah gencatan senjata mulai berlaku.
Selama perang Gaza, pasukan Israel telah melakukan serbuan hampir setiap hari dan serangan udara di komunitas-komunitas Palestina di wilayah yang diduduki Israel di Tepi Barat, yang beberapa di antaranya memicu bentrokan dengan milisi regional Palestina.[15][16] Bahkan sebelum perang, kekerasan antara warga Israel dan Palestina di wilayah tersebut telah meningkat.[17] Tahun 2022 merupakan tahun paling mematikan bagi warga Palestina di Tepi Barat dalam catatan sejarah,[18] dan pada tahun 2023 pasukan Israel membunuh 234 warga Palestina di wilayah tersebut bahkan sebelum perang dimulai;[19] Hamas menyatakan bahwa serangan 7 Oktober sebagian merupakan tanggapan terhadap meningkatnya kekerasan terhadap warga Palestina.[20]
Dalam minggu-minggu pertama setelah serangan Hamas, Israel menangkap 63 anggota Hamas di Tulkarm,[21] dan menyerang sebuah masjid di Jenin yang diklaim digunakan oleh Hamas dan Jihad Islam Palestina (PIJ).[16][22] Secara bersamaan, serangan oleh pemukim Israel meningkat lebih dari dua kali lipat pada bulan pertama perang, yang memicu perpindahan lebih dari 1.500 warga Palestina selama konflik berlangsung.[23] Pada 28 Agustus 2024, Israel memulai operasi militer besar-besaran di Tepi Barat yang terdiri dari serbuan, serangan udara, dan pemblokiran titik masuk di Jenin dan Tulkarm, menandai ofensif terbesarnya di wilayah tersebut sejak Intifada Kedua.[15] Pada 21 Januari 2025, Israel meluncurkan serbuan pasca-gencatan senjata besar pertamanya yang menargetkan Jenin, dan mengumumkan niatnya untuk mempertahankan kehadiran militer jangka panjang di kota tersebut.[24]
Selain itu, telah terjadi bentrokan antara Otoritas Palestina (PA) dan kelompok-kelompok militan yang menentangnya di Tepi Barat.[25] PA memiliki otoritas administratif parsial di wilayah tersebut,[26] dan didominasi oleh Fatah,[27] yang kerja samanya dengan militer Israel dalam bidang keamanan telah dikritik oleh milisi-milisi termasuk Hamas dan PIJ.[25] Bentrokan antara kelompok militan dan PA meningkat pada Juli 2024,[28] dan pada bulan Oktober PA memulai tindakan keras terhadap militan di Tubas sebagai tanggapan atas upaya Iran untuk melemahkan PA demi mendukung milisi lokal.[25] Pada bulan Desember, PA memulai ofensif kedua di Jenin yang menargetkan Brigade Jenin, sebuah kelompok payung bagi milisi-milisi lokal.[29][27]


Serangkaian bentrokan perbatasan antara Israel dan kelompok militan Lebanon Hezbollah di sepanjang perbatasan Israel–Lebanon dimulai pada 8 Oktober 2023,[30][31][32] ketika Hezbollah menyerang wilayah Pertanian Shebaa sebagai bentuk dukungan terhadap serangan Hamas ke Israel sehari sebelumnya, yang kemudian dibalas Israel dengan menyerang posisi Hezbollah di Lebanon selatan.[33][34][35] Baku tembak antara Israel dan Hezbollah kemudian berlanjut di Lebanon selatan dan Israel utara, termasuk di wilayah Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.[36][37] Hezbollah awalnya menyatakan bahwa mereka akan terus menyerang Israel sampai pihak terakhir menghentikan serangannya di Gaza,[38][39] dan serangan Hezbollah tersebut menyebabkan 96.000 warga Israel mengungsi dari wilayah utara.[40]
Pada 2 Januari 2024, Israel melakukan serangan udara di pinggiran kota Dahieh, Beirut, yang menewaskan wakil pemimpin Hamas Saleh al-Arouri.[41] Hezbollah membalas pada 6 Januari dengan meluncurkan roket ke pangkalan Israel di dekat Gunung Meron;[42][43] dua hari kemudian, Israel membunuh komandan Hezbollah yang diklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut.[44] Pada 27 Juli, 12 anak-anak di Dataran Tinggi Golan tewas dalam sebuah serangan yang dituduhkan Israel kepada Hezbollah;[45][46] sebagai tanggapan, Israel membunuh komandan Hezbollah Fuad Shukr di Beirut pada 30 Juli.[47]
Pada September 2024, sebuah operasi Israel mengakibatkan ledakan serentak ribuan penyeranta (pager) yang digunakan oleh Hezbollah pada 17 September[48] dan ratusan radio genggam (walkie-talkie) pada hari berikutnya,[49] yang menewaskan 42 orang.[50][51] Serangan-serangan tersebut menandai dimulainya kampanye intensif Israel terhadap Hezbollah,[52] dan pada hari-hari berikutnya Israel melanjutkan serangan di Lebanon serta melakukan pemboman udara besar-besaran yang menewaskan lebih dari 700 orang,[53] termasuk serangan 20 September yang menewaskan komandan Pasukan Redwan Hezbollah, Ibrahim Aqil.[54] Pada 27 September 2024, Israel membunuh Hassan Nasrallah, pemimpin Hezbollah, dalam serangan terhadap markas besar kelompok tersebut di Beirut.[52][55]
Pada 1 Oktober 2024, Israel memulai sebuah invasi ke Lebanon selatan yang diklaim bertujuan untuk melenyapkan ancaman yang ditimbulkan oleh Hezbollah dan memungkinkan 63.000 warga Israel yang masih mengungsi untuk kembali ke rumah mereka.[56][57] Hingga 15 Oktober, lebih dari 25 persen wilayah Lebanon berada di bawah perintah evakuasi Israel,[58] dan selama invasi tersebut Israel merebut serta menghancurkan beberapa desa dan kota di Lebanon selatan sambil melanjutkan serangan udara di seluruh negeri.[57] Selama konflik ini, lebih dari 3.700 orang di Lebanon tewas dan sekitar 1,3 juta orang mengungsi.[59][60]
Pada 27 November, Israel dan Hezbollah menyetujui gencatan senjata selama 60 hari yang dimaksudkan untuk membawa akhir yang langgeng bagi konflik tersebut.[61] Meskipun Israel dan Hezbollah terus saling melancarkan serangan dan menuduh satu sama lain melanggar gencatan senjata, kesepakatan tersebut sebagian besar tetap bertahan.[60] Pada Juli 2025, sebuah laporan baru mengklaim bahwa Hezbollah kehilangan 10.000 pejuangnya dan banyak kemampuan militernya juga telah menurun secara signifikan.[62] Pada 7 Agustus 2025, dalam rapat pemerintah yang membahas mengenai perlucutan senjata Hezbollah, mayoritas anggota kabinet menyetujui keputusan tersebut. Tentara Lebanon ditugaskan untuk menyusun rencana guna memastikan hanya negara yang memiliki kendali atas senjata di Lebanon, berdasarkan rencana AS untuk melucuti senjata Hezbollah.[63]
Menurut Kementerian Kesehatan Gaza (GHM), sejak awal Invasi Israel ke Jalur Gaza, lebih dari 72.000 warga Palestina di Gaza telah tewas hingga Februari 2026.[64][14] Sebuah studi di The Lancet memperkirakan 64.260 kematian di Gaza akibat cedera traumatis hingga Juni 2024, sambil mencatat potensi jumlah kematian yang lebih besar jika kematian "tidak langsung" disertakan.[65] Per Mei 2025, angka pembanding untuk kematian akibat cedera traumatis diperkirakan mencapai 93.000 jiwa.
Analisis korban lainnya yang diterbitkan pada Februari 2026 memperkirakan terdapat 75.200 kematian akibat kekerasan dan 8.540 kelebihan kematian non-kekerasan antara 7 Oktober 2023 hingga 5 Januari 2025. Perkiraan kematian akibat kekerasan ini 34,7% lebih tinggi daripada penghitungan resmi GHM pada saat itu. Dari kematian akibat kekerasan tersebut, para peneliti memperkirakan bahwa 56,2% adalah wanita, anak-anak, dan lansia.[66] Selain itu, lebih dari 171.000 warga Palestina di Gaza telah terluka selama perang berlangsung.[64]
Kementerian Kesehatan Gaza (GHM) tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan dalam laporannya;[67] pihak IDF menyatakan bahwa mereka telah membunuh lebih dari 22.000 militan,[68] sementara Hamas menyatakan pada April 2024 bahwa mereka kehilangan tidak lebih dari 20 persen pejuangnya, atau sekitar 6.000 orang.[69] Analisis Associated Press terhadap data GHM hingga Desember 2025 menemukan bahwa wanita dan anak-anak mencakup hampir setengah dari seluruh korban tewas yang teridentifikasi, sebuah statistik yang sering digunakan sebagai proksi untuk jumlah korban sipil.[70]
Beberapa organisasi hak asasi manusia seperti Amnesty International dan B'Tselem, berbagai pakar studi genosida dan hukum internasional, serta ahli lainnya menyatakan bahwa sebuah genosida sedang terjadi di Gaza, meskipun berbagai pihak lainnya membantah hal ini.[71][72]
Di Israel, serangan yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober mengakibatkan kematian 1.195 orang, termasuk 815 warga sipil.[73][74][75] Dari 251 orang dari Israel yang dibawa ke Gaza sebagai sandera, 136 telah dikembalikan ke Israel dalam keadaan hidup, 39 telah dikembalikan dalam keadaan meninggal, tiga orang terbunuh oleh tembakan teman sendiri (friendly fire), dan 73 orang masih berada dalam tawanan.[76][77][78]
Setidaknya 405 tentara dan satu perwira Israel tewas selama invasi Israel ke Gaza.[37] Delapan puluh tentara Israel dan 46 warga sipil tewas dalam konflik dengan Hezbollah;[37][79] kekerasan di Tepi Barat telah menewaskan 25 warga Israel,[23] termasuk enam tentara dan polisi.[37] Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan terdapat "bukti jelas" mengenai kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel maupun Hamas selama perang berlangsung,[80] dan organisasi hak asasi manusia telah menuduh Hamas dan milisi lainnya melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam serangan 7 Oktober.[73]
Di Lebanon, serangan Israel menewaskan sedikitnya 4.047 orang dan melukai sedikitnya 16.638 lainnya hingga Desember 2024.[81] Hezbollah telah mengonfirmasi kematian 521 anggotanya,[82] dan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan bahwa 67 anggota Hezbollah telah tewas di Suriah sejak pecahnya perang Gaza.[83][84] Militer Israel memperkirakan bahwa sekitar 3.800 anggota Hezbollah tewas dalam konflik tersebut,[85] sementara laporan media mengklaim Hezbollah meyakini jumlah anggotanya yang tewas bisa mencapai 4.000 orang.[86] Bentrokan awal di Lebanon selatan juga menewaskan sedikitnya 20 anggota Hamas dan Jihad Islam Palestina.[87] Menurut Kementerian Kesehatan Masyarakat Lebanon, empat belas jurnalis telah tewas oleh serangan Israel saat melaporkan konflik tersebut.[88]
Di Tepi Barat, 607 warga Palestina tewas hingga Agustus 2024, terutama akibat serbuan militer Israel.[23] Selain itu, ofensif Otoritas Palestina di Jenin mengakibatkan tewasnya enam tentara PA, empat militan Palestina, dan tiga warga sipil.[89] Selama krisis Laut Merah, Houthi telah membunuh empat pelaut di Laut Merah,[88][90] sementara pada Desember 2023 serangan AS terhadap kapal Houthi di Laut Merah menewaskan sedikitnya 10 anggota Houthi,[91] dan pada akhir Mei 2024 serangan udara AS dan Inggris di Yaman yang dikuasai Houthi telah menewaskan 56 orang dan melukai 77 lainnya.[88][92] Lima tentara AS tewas pada Januari 2024: dua orang hilang di laut dalam misi untuk menyita senjata Iran[93] dan tiga orang tewas dalam serangan IRI di Yordania yang melukai 47 orang lainnya.[94]
Sebelum pecahnya perang, Amerika Serikat bertujuan untuk memperluas Kesepakatan Abraham tahun 2020 menjadi sebuah perjanjian normalisasi diplomatik antara Israel dan Arab Saudi yang kemungkinan besar akan mencakup perjanjian pertahanan antara A.S. dan Arab Saudi. A.S. telah menjadwalkan negosiasi antara Netanyahu dan duta besar Saudi untuk berlangsung di Tel Aviv pada November 2023. Namun, serangan Hamas pada 7 Oktober dan invasi Israel ke Gaza yang menyusul menyebabkan pertemuan tersebut tidak dapat dilaksanakan.[95] Kemudian pada tahun 2024, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman menyatakan bahwa setiap perjanjian normalisasi Saudi–Israel akan memerlukan pembentukan Negara Palestina sebagai bagian dari Solusi dua negara.[96][97]
Pada 29 Desember 2023, Afrika Selatan mengajukan gugatan terhadap Israel di hadapan Mahkamah Internasional (ICJ) yang menuduh Israel telah melakukan genosida terhadap warga Palestina di Jalur Gaza selama perang Gaza, sebuah pelanggaran terhadap Konvensi Genosida.[98] Afrika Selatan meminta agar ICJ memerintahkan penghentian segera operasi militer Israel di Gaza di antara tindakan perlindungan sementara lainnya.[99] Israel membela diri bahwa tindakannya di Gaza hanya menargetkan Hamas dan merupakan bela diri yang sah sesuai dengan hukum internasional.[100] Pada 26 Januari 2024, ICJ menyatakan dalam putusan sela bahwa beberapa tindakan yang dituduhkan oleh Afrika Selatan dapat tercakup dalam Konvensi Genosida dan bahwa Israel harus "mengambil semua tindakan dalam kekuasaannya" untuk mencegah genosida di Gaza.[101]
Sebelum gencatan senjata Januari 2025 yang menghentikan perang Gaza, Dewan Keamanan PBB melakukan banyak upaya untuk merundingkan sebuah gencatan senjata. Amerika Serikat menggunakan votonya terhadap resolusi Februari 2024 yang menuntut gencatan senjata karena tidak menyertakan kecaman atas serangan 7 Oktober,[102] dan pada 22 Maret Rusia serta Tiongkok memveto draf resolusi AS yang menyerukan gencatan senjata enam minggu segera dengan syarat pembebasan sandera.[103][104] Pada 25 Maret, DK PBB mengesahkan Resolusi 2728, yang menyerukan gencatan senjata selama bulan Ramadan, pembebasan sandera "segera dan tanpa syarat", serta pemberian bantuan kemanusiaan ke Gaza.[105][106] AS memveto resolusi gencatan senjata lainnya pada November 2024, dengan alasan bahwa resolusi tersebut tidak mewajibkan pembebasan sandera segera.[107]
In January, the military said 20,000 terror operatives had been killed, and yesterday it updated that number to over 22,000. In May, IDF officials said that the combatant-to-civilian deaths ratio has remained relatively the same throughout the war, with two to three civilians killed for every dead Hamas terror operative.
One year ago, the FIDH International Board, its governing body elected by all its member organisations, recognised, after extensive debate and examination, that Israel was carrying out genocide against the Palestinian people in Gaza
Templat:Perang Gaza Templat:Krisis Laut Merah Templat:Konflik proksi Iran–Israel