Pada 28 Februari 2026, Ali Khamenei, pemimpin agung Iran, tewas dibunuh dalam Serangan Israel–Amerika Serikat ke Iran 2026. Serangan ini juga menyasar para pejabat tinggi Iran serta lokasi-lokasi strategis, di mana citra satelit menunjukkan bahwa kediaman Khamenei mengalami kerusakan parah selama serangan tersebut. Menyusul klaim yang beredar, presiden AS Donald Trump dan perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Khamenei telah tewas. Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematiannya pada keesokan harinya, dan pemerintah mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari. Empat anggota keluarga inti dan kerabat Khamenei juga tewas dalam operasi yang sama.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Artikel ini membahas suatu peristiwa terkini. Informasi pada halaman ini dapat berubah setiap saat seiring dengan perkembangan peristiwa dan laporan berita awal mungkin tidak dapat diandalkan. Pembaruan terakhir untuk artikel ini mungkin tidak mencerminkan informasi terkini. Silakan hapus templat ini apabila sudah lebih dari satu bulan (Maret 2026) |
| Pembunuhan Ali Khamenei | |
|---|---|
| Bagian dari Serangan Israel–Amerika Serikat ke Iran 2026 | |
Khamenei pada 12 Februari 2026, 16 hari sebelum pembunuhannya | |
| Jenis | Serangan udara, serangan dekapitasi |
| Lokasi | Teheran, Iran |
| Sasaran | Ali Khamenei |
| Tanggal | 28 Februari 2026 (2026-02-28) |
| Dieksekusi oleh | |
| Korban | 5 (termasuk Khamenei)[1] tewas |
Pada 28 Februari 2026, Ali Khamenei, pemimpin agung Iran, tewas dibunuh dalam Serangan Israel–Amerika Serikat ke Iran 2026. Serangan ini juga menyasar para pejabat tinggi Iran serta lokasi-lokasi strategis, di mana citra satelit menunjukkan bahwa kediaman Khamenei mengalami kerusakan parah selama serangan tersebut. Menyusul klaim yang beredar, presiden AS Donald Trump dan perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa Khamenei telah tewas. Media pemerintah Iran mengonfirmasi kematiannya pada keesokan harinya, dan pemerintah mengumumkan masa berkabung nasional selama 40 hari.[2][3][4] Empat anggota keluarga inti dan kerabat Khamenei juga tewas dalam operasi yang sama.[5]
Pada 27 Juni 1981, saat Khamenei menjadi kandidat presiden Iran, sebuah upaya pembunuhan dilakukan terhadap dirinya menggunakan bahan peledak, yang merusak pita suara, paru-paru, dan lengan kanannya.[6] Pada 15 Juni 2025, selama Perang Dua Belas Hari, Israel mengajukan rencana untuk membunuh Khamenei, namun rencana tersebut diveto oleh presiden AS Donald Trump.[7]
Pada 28 Februari 2026, berbagai lokasi di Iran dihantam rudal dari Amerika Serikat dan Israel sebagai bagian dari operasi militer yang bertujuan menghambat program nuklir dan rudal di negara tersebut, sekaligus memulai peralihan rezim.[8][9] Di tengah serangan yang menyasar fasilitas strategis dan pejabat penting Iran, kompleks kediaman Khamenei termasuk di antara lokasi yang terkena serangan Israel di ibu kota Teheran; citra satelit menunjukkan bahwa bangunan tersebut mengalami kerusakan berat.[10][11]
Seorang pejabat Israel yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa jenazah Khamenei ditemukan setelah serangan tersebut, yang dilaporkan telah ditunjukkan kepada perdana menteri Israel Benjamin Netanyahu.[12][13] Presiden AS Donald Trump mengamini laporan ini, dan menyebut pembunuhan tersebut sebagai "keadilan bagi rakyat Iran".[14]
Laporan mengenai kematian Khamenei awalnya dibantah oleh sumber-sumber Iran, di mana juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan bahwa Khamenei dalam kondisi "aman dan sehat walafiat".[15][16] Meskipun demikian, beberapa media seperti Reuters dan Iran International,[17] dengan mengutip sumber pemerintah Israel, melaporkan bahwa Khamenei telah tewas.[18][19][20][21] Menyusul semakin meluasnya berita tentang dugaan pembunuhan tersebut, kantor berita Iran Tasnim dan Mehr sempat menyatakan bahwa Khamenei masih hidup serta "tegar dan teguh dalam memimpin di lapangan".[22]
Pada dini hari tanggal 1 Maret, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran,[23] beserta media pemerintah Iran, termasuk Penyiaran Republik Islam Iran, mengumumkan bahwa Khamenei telah terbunuh, meskipun sebelumnya sempat membantah keras. Pemerintah menyatakan 40 hari masa berkabung dan tujuh hari hari libur nasional.[24][25]
Dilaporkan juga oleh Kantor Berita Fars, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bahwa putri, menantu laki-laki, cucu, dan menantu perempuan Khamenei juga tewas dalam serangan tersebut.[5][26][27]
Karena posisi Pemimpin Agung ditunjuk oleh Majelis Para Ahli, Khamenei tidak memiliki penerus yang ditunjuk secara resmi.[28] Namun demikian, pada hari serangan tersebut, Reuters melaporkan bahwa dalam dua minggu sebelum serangan, CIA telah menyusun penilaian mengenai kemungkinan suksesi Khamenei, dengan menyimpulkan bahwa "tokoh-tokoh garis keras" dari IRGC kemungkinan besar akan menggantikan Khamenei.[29]
Donald Trump, saat mengomentari kematian Khamenei (yang saat itu belum dikonfirmasi), menyebutnya sebagai "salah satu orang paling jahat dalam sejarah" dan mengumumkan bahwa AS akan terus mengebom Iran. Beberapa anggota Kongres dari Partai Demokrat, termasuk Senator John Fetterman, bereaksi positif terhadap pengumuman tersebut, sementara banyak dari Partai Republik, seperti Perwakilan Tom Emmer, menyambut meriah unggahan Trump.[30]
Presiden Argentina, Javier Milei, memuji operasi militer gabungan Israel–Amerika Serikat yang menghasilkan "eliminasi" Khamenei, dengan menambahkan bahwa "[Khamenei] adalah salah satu orang paling jahat, kejam, dan bengis yang pernah ada dalam sejarah umat manusia."[31] Milei lebih lanjut menyalahkan Khamenei atas dukungan Iran terhadap terorisme dan Pengeboman AMIA tahun 1994 di Buenos Aires, sembari menyatakan bahwa Argentina akan terus mengejar pihak lain yang bertanggung jawab atas serangan itu dan membuat mereka membayar dengan kebebasan atau nyawa mereka.[31]
Iran mengumumkan 40 hari masa berkabung resmi dan tujuh hari hari libur nasional untuk memperingati wafatnya Ayatollah Ali Khamenei.