Korupsi di Britania Raya secara umum tergolong rendah dibandingkan dengan sebagian besar negara lain, meskipun sejumlah permasalahan tetap ada. Dalam Indeks Persepsi Korupsi 2024 yang diterbitkan oleh Transparency International, Britania Raya memperoleh skor 71 dari skala 0 hingga 100, dan menempati peringkat ke-20 dari 180 negara, di mana peringkat pertama mencerminkan sektor publik yang paling bersih. Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Eropa Barat dan Uni Eropa, skor tertinggi adalah 90, skor rata-rata 64, dan skor terendah 41. Sementara itu, secara global, skor tertinggi adalah 90, skor rata-rata 43, dan skor terendah 8.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Korupsi di Britania Raya secara umum tergolong rendah dibandingkan dengan sebagian besar negara lain, meskipun sejumlah permasalahan tetap ada. Dalam Indeks Persepsi Korupsi 2024 yang diterbitkan oleh Transparency International, Britania Raya memperoleh skor 71 dari skala 0 (sangat korup) hingga 100 (sangat bersih), dan menempati peringkat ke-20 dari 180 negara, di mana peringkat pertama mencerminkan sektor publik yang paling bersih.[1] Jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Eropa Barat dan Uni Eropa, skor tertinggi adalah 90, skor rata-rata 64, dan skor terendah 41.[2] Sementara itu, secara global, skor tertinggi adalah 90 (peringkat 1), skor rata-rata 43, dan skor terendah 8 (peringkat 180).[3]
Britania Raya memiliki sejumlah regulasi yang mengatur dan menghukum praktik penyuapan serta bentuk-bentuk korupsi lainnya, baik di sektor publik maupun swasta. Undang-undang yang paling menonjol dalam konteks ini adalah Undang-Undang Penyuapan 2010, yang berlaku untuk seluruh pelaku suap tanpa membedakan antara sektor publik dan sektor swasta.[4] Meskipun kerangka hukum yang ada cukup ketat, kritik tetap muncul, terutama dari kalangan media,[5][6] sebagai respons terhadap turunnya posisi Britania Raya dari peringkat 10 besar dalam Indeks Persepsi Korupsi.[7][8][9]