Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Islam Yes, Partai Islam No

Islam Yes, Partai Islam No adalah sebuah slogan yang dicetuskan oleh cendekiawan Muslim Indonesia Nurcholish Madjid dalam pidatonya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 1970. Pernyataan ini kemudian sering digunakan di Indonesia sebagai sebuah slogan yang membantu melawan anggapan bahwa orang Muslim yang tidak memilih partai Islam itu dosa.

Wikipedia article
Diperbarui 17 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Islam Yes, Partai Islam No adalah sebuah slogan yang dicetuskan oleh cendekiawan Muslim Indonesia Nurcholish Madjid dalam pidatonya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada 1970.[1][2] Pernyataan ini kemudian sering digunakan di Indonesia sebagai sebuah slogan yang membantu melawan anggapan bahwa orang Muslim yang tidak memilih partai Islam itu dosa.[3][4]

Latar Belakang

Pada 1950-an, partai-partai Islam di Indonesia menyebarkan pandangan bahwa umat Islam hanya boleh memilih "partai Islam" (partai-partai Islam). Banyak ulama Muslim bergabung dalam perlombaan yang menggarisbawahi pendekatan yang menyebarkan gagasan bahwa suara Islam terkait dengan "akhirat di surga" pemilih.

Dengan latar belakang tersebut, cendekiawan Muslim terkemuka Nurcholish Madjid meluncurkan slogan “Islam yes, partai Islam no” pada tahun 1970-an. Slogan tersebut menjadi sangat populer dan akhirnya memungkinkan pemilih Muslim untuk memisahkan agama mereka dari orientasi politik mereka. Muslim di Indonesia sejak itu menjadi lebih nyaman memilih partai sekuler.[4]

Indikasi teoretis

Menjunjung tinggi pandangan bahwa tidak ada yang suci tentang urusan negara Islam, partai Islam atau ideologi Islam, Madjid berpendapat bahwa umat Islam oleh karena itu tidak boleh disalahkan atas sekularisasi persepsi mereka tentang masalah-masalah duniawi ini.[5]

Dia mengkritik gagasan bergabung dengan organisasi manusia, yaitu, partai politik, kepada Tuhan yang menuntut sanksi ilahi untuk kepentingan kecil mereka. Dia berargumen bahwa partai politik yang mengeksploitasi nama Islam dengan menyamakan agenda manusia dengan kehendak Tuhan adalah penyembah berhala.[6]

Dia menegaskan bahwa Islam dan partai-partai Islam tidak identik satu sama lain, karena Islam tidak dapat direduksi menjadi ideologi politik belaka.[7] Dalam pandangan Madjid, mengidentifikasi Islam dan partai-partai Islam tidak hanya salah, tetapi juga berbahaya. Karena jika suatu saat, dan ini sudah terjadi, para politikus dari partai-partai Islam melakukan tindakan keji, maka Islam sebagai agama bisa dianggap tercela. Begitu juga jika sebuah partai Islam kalah, maka Islam akan terlihat kalah.

Dalam konteks tersebut, Madjid menyadari kekeliruan yang dirasakan dalam mengislamkan sistem politik, Madjid memperkenalkan slogan tersebut sebagai bentuk kritik terhadap sebagian masyarakat Islam yang menjadikan partai Islam sah dan sakral di mata masyarakat Indonesia.[8][9]

Dampak politik

Pandangan yang disampaikan Madjid hampir bersamaan dengan Pemilihan umum legislatif Indonesia 1971.

Entah kebetulan atau tidak, pandangan Madjid sepertinya sejalan dengan apa yang ada di benak masyarakat. Hal ini terlihat dari cerminan pilihan rakyat pada pemilu 1971. Hasil pemilu menunjukkan bahwa partai-partai Islam mengalami kekalahan telak. Ini juga menjadi akhir dari perjalanan panjang partai-partai Islam sejak 1955. Sebaliknya, ini adalah awal pembaruan Islam di Indonesia.[10]

Banyak pemimpin partai Islam menuduh Nurcholish 'mengkhianati' tujuan Islam.[11]

Relevansi zaman modern

Dawam Rahardjo, seorang pemikir Muslim terkemuka dari Indonesia, percaya bahwa slogan yang diajukan oleh Madjid pada tahun 1970 dimotivasi oleh masalah seputar Islam dan afiliasi politik umat Islam saat itu. Pasalnya, partai-partai Islam yang mewakili umat Islam di arena politik saat itu belum mampu menampilkan Islam sebagai gerakan politik yang berwibawa.

Sebagian yang lain juga sependapat bahwa Madjid menentang politik Islam karena melihat kondisi partai-partai Islam yang belum aspiratif dan karena partai-partai Islam masih belum bisa 'membumikan' bahasa agama dengan baik ke dalam pluralitas masyarakat Indonesia. Namun, banyak tokoh agama di Indonesia masih percaya bahwa pemikiran Madjid dan jargon-jargonnya yang terkenal masih relevan dengan situasi modern.[2]

Lihat pula

  • Islam di Indonesia

Referensi

  1. ↑ Perlez, Jane (2002-03-16). "THE SATURDAY PROFILE; An Islamic Scholar's Lifelong Lesson: Tolerance". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2019-11-13.
  2. 1 2 Bhagaskoro, Ahmad (August 28, 2018). ""Islam Yes, Partai Islam No" Cak Nur Masih Relevan". voaindonesia.com. Diarsipkan dari versi asli pada January 19, 2021. Diakses tanggal December 11, 2021.
  3. ↑ Nader Hashemi, Islam, secularism, and liberal democracy (Oxford University Press, USA, March 11, 2009) p. 163
  4. 1 2 "POLITICS-INDONESIA: Islamic Parties Woo Votes, But Chances Poor | Inter Press Service". www.ipsnews.net. Diakses tanggal 2019-11-13.
  5. ↑ Abdullahi Ahmed An-Na 'im,Islam and the secular state (Harvard University Press, 30 Juni 2009) hal. 254
  6. ↑
    • "Indonesia dan Masa Depan Islam". Stratfor. 11 Desember 2021. Diarsipkan dari asli tanggal 11 Desember 2021. Diakses tanggal 11 Desember 2021.
  7. ↑ "Islam Yes, Partai Islam No, Pemikiran Nurcholis Madjid Diamini Ahok". Poskota News (dalam bahasa Inggris). 2017-03-23. Diarsipkan dari asli tanggal 2019-12-20. Diakses tanggal 2019-11-13.
  8. ↑ "Muslim democrats at work from Indochina to Tunisia". nationthailand. 2012. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 11, 2021. Diakses tanggal December 11, 2021.
  9. ↑
    • "Islam Yes, Partai Islam No!". GEOTIMES. 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 11, 2021. Diakses tanggal December 11, 2021.
  10. ↑ Paramadina, PUSAD (December 11, 2021). "40 Tahun 'Islam Yes Partai Islam No' Diperingati". paramadina-pusad.or.id. Diarsipkan dari versi asli pada December 11, 2021. Diakses tanggal December 11, 2021.
  11. ↑ Paramadina, PUSAD (2021). "Nurcholish Madjid: Remembering Indonesia's Pre-eminent Islamic Reformer". PUSAD Paramadina. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 11, 2021. Diakses tanggal December 11, 2021.
  • l
  • b
  • s
Islam di Indonesia
Cabang lainnya
  • Ahmadiyyah
  • Kejawen
  • Pembagian lama
    • Abangan
    • Priyayi
    • Santri
Tokoh utama
Era klasik
  • Hamzah Fansuri
  • Yusuf Al-Makassari
  • Malikussaleh
  • Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi
  • Padri
    • Tuanku Imam Bonjol
    • Tuanku Rao
    • Tuanku Tambusai
  • Walisongo
    • Sunan Ampel
    • Sunan Bonang
    • Sunan Drajat
    • Sunan Giri
    • Sunan Gunung Jati
    • Maulana Malik Ibrahim
    • Sunan Kalijaga
    • Sunan Kudus
    • Sunan Muria
  • Abdurrauf as-Singkili
  • Ali Mughayat Syah
  • Tuanku Nan Tuo
  • Burhanuddin Ulakan
  • Usman bin Yahya
Era Kebangkitan
Nasional
  • Abdullah Ahmad
  • Abdul Karim Amrullah
  • Hasyim Asy'ari
  • Muhammad As'ad al-Bugisi
  • Ahmad Dahlan
  • Abbas Abdullah
  • Tahir bin Jalaluddin
  • Muhammad Djamil Djambek
  • Idrus bin Salim al-Jufri
  • Hasan Ma'shum
  • Muhammad Zainuddin Abdul Madjid
  • Mas Mansoer
  • Ahmad Khatib al-Minangkabawi
  • Haji Misbach
  • Sulaiman ar-Rasuli
  • Rasuna Said
  • Tjokroaminoto
Pasca-
kemerdekaan
  • Mukti Ali
  • Ulil Abshar Abdalla
  • Abdul Malik Karim Amrullah
  • Firanda Andirja
  • Syech bin Abdul Qodir Assegaf
  • Azyumardi Azra
  • Abu Bakar Ba'asyir
  • Khalid Basalamah
  • Syafiq Riza Basalamah
  • Idham Chalid
  • Djohan Effendi
  • A.R. Fachruddin
  • Abdullah Gymnastiar
  • Wahid Hasyim
  • Adi Hidayat
  • Afifi Fauzi Abbas
  • Rhoma Irama
  • Ali Jaber
  • Yazid bin Abdul Qadir Jawas
  • Kartosoewirjo
  • Ahmad Syafii Maarif
  • Yahya Zainul Maarif
  • Nurcholish Madjid
  • Sahal Mahfudh
  • Munzir Al-Musawa
  • Hasyim Muzadi
  • Zainuddin MZ
  • Harun Nasution
  • Bachtiar Nasir
  • Mohammad Natsir
  • Ahmad Bahauddin Nursalim
  • Amien Rais
  • Idrus Ramli
  • Ahmad Muhtadi Dimyathi
  • Muhammad Rizieq Shihab
  • Quraish Shihab
  • Ma'ruf Amin
  • Said Aqil Siradj
  • Abdul Somad
  • Din Syamsuddin
  • Ahmad Wahib
  • Abdurrahman Wahid
  • Muhammad Luthfi bin Yahya
  • Muammar Z.A.
  • Maimun Zubair
Organisasi
Negara
  • Kementerian Agama Republik Indonesia
    • Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam
    • Direktorat Jenderal Pendidikan Islam
    • Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah
  • Majelis Permusyawaratan Ulama Aceh
Masyarakat sipil
  • Alkhairaat
  • Lembaga Dakwah Kampus
  • Hidayatullah
  • Hizbut Tahrir Indonesia
  • Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
  • Lembaga Dakwah Islam Indonesia
  • Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia
  • Majelis Mujahidin Indonesia
  • Majelis Ulama Indonesia
  • Al-Irsyad Al-Islamiyyah
  • Front Pembela Islam
  • Jaringan Islam Liberal
  • Majelis Rasulullah
  • Muhammadiyah
    • Aisyiyah
  • Himpunan Mahasiswa Islam
  • Nahdlatul Ulama
    • Gerakan Pemuda Ansor
  • Nahdlatul Wathan
  • Perhimpunan Al-Irsyad
  • PERSIS
  • Persatuan Tarbiyah Islamiyah
  • Rabithah Alawiyah
  • Sarekat Islam
  • Sumatera Thawalib
Partai politik
  • Partai Bulan Bintang
  • Partai Sarekat Islam Indonesia
  • Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia
  • Partai Masyumi
  • Partai Kebangkitan Bangsa
  • Partai Amanat Nasional
  • Partai Matahari Bangsa
  • Persatuan Muslim Indonesia
  • Partai Keadilan Sejahtera
  • Partai Kebangkitan Nasional Ulama
  • Partai Persatuan Pembangunan
Laskar
  • Banser
  • Darul Islam
  • Jamaah Ansharut Tauhid
  • Jamaah Islamiyah
  • KOKAM
  • Laskar Jihad
  • Mujahidin Indonesia Timur
Sejarah
Pra-
kemerdekaan
  • Penyebaran Islam di Nusantara
  • Ekspedisi Utsmaniyah ke Aceh
  • Wali Sanga
  • Negeri Islam di Indonesia
    • Kesultanan Aceh
    • Kesultanan Banjar
    • Kesultanan Bolango
    • Kesultanan Demak
    • Kesultanan Gorontalo
    • Kesultanan Gowa
    • Kesultanan Malaka
    • Kesultanan Mataram
    • Kesultanan Samudera Pasai
    • Kesultanan Ternate
    • Kesultanan Tidore
    • Kesultanan Yogyakarta
  • Perang Padri
Pasca-
kemerdekaan
  • Piagam Jakarta
  • Petisi 50
  • Peristiwa Tanjung Priok
  • Pemberontakan di Aceh
  • Kerusuhan Kepulauan Maluku
  • Kerusuhan Poso
  • Fatwa tentang Pluralisme, Liberalisme, dan Sekularisme Agama
  • November 2016 / Desember 2016 / Aksi 112
Daerah
Sumatra
  • Aceh
  • Bengkulu
  • Jambi
  • Kepulauan Riau
  • Kepulauan Bangka Belitung
  • Lampung
  • Riau
  • Sumatera Barat
  • Sumatera Selatan
  • Sumatera Utara
Jawa
  • Banten
  • Jakarta
  • Jawa Barat
  • Jawa Tengah
  • Jawa Timur
  • Yogyakarta
Nusa Tenggara
  • Bali
  • Nusa Tenggara Barat
  • Nusa Tenggara Timur
Kalimantan
  • Kalimantan Barat
  • Kalimantan Selatan
  • Kalimantan Tengah
  • Kalimantan Timur
  • Kalimantan Utara
Sulawesi
  • Gorontalo
  • Sulawesi Barat
  • Sulawesi Selatan
  • Sulawesi Tengah
  • Sulawesi Tenggara
  • Sulawesi Utara
Maluku
  • Maluku
  • Maluku Utara
Papua
  • Papua
  • Papua Barat
  • Papua Barat Daya
  • Papua Pegunungan
  • Papua Selatan
  • Papua Tengah
Kebudayaan
  • Adat
  • Arsitektur
    • Bedug
    • Tajug
  • Pakaian
    • Peci
    • Sarung
  • Lebaran
  • Masjid
    • Masjid Istiqlal
  • Musabaqah Tilawatil Quran
  • Saman
  • Sekaten
  • Slametan
  • Tabligh Akbar
  • Tabuik
  • Tausiyah
  • "Tombo Ati"
  • Yaqowiyu
Pendidikan
  • Iqro
  • Jamiat Kheir
  • Kitab kuning
  • Kyai
  • LIPIA
  • Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri
  • Pesantren
    • Pondok Pesantren Walibarokah Kediri
    • Pondok Modern Darussalam Gontor
  • Surau
Gerakan
  • Islam Nusantara
  • Jamaah Tabligh
  • Jemaah Tarbiyah
  • Modernisme Islam
  • Islam tradisionalis
  • Salafi
  • Syiah
Lainnya
  • Al-Munir
  • Babad Tanah Jawi
  • Hukum jinayat di Aceh
  • Sajarah Banten
  • Tafsir Al-Mishbah
  • Masjid di Indonesia
  • Sejarah Indonesia
  • Pahlawan Nasional Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Latar Belakang
  2. Indikasi teoretis
  3. Dampak politik
  4. Relevansi zaman modern
  5. Lihat pula
  6. Referensi
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026