Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Hardo Pusoro

Hardo Pusoro adalah organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berkembang di wilayah Jawa. Nama Hardo Pusoro berasal dari bahasa Jawa Kawi, yaitu Hardo berarti gerak, gejolak, atau sesuatu yang merajalela, sedangkan Pusoro berarti menahan atau pengendali. Kedua kata tersebut dipahami secara konseptual sebagai upaya menahan atau mengendalikan gejolak yang merajalela. Dalam pengertian yang lebih luas, istilah Hardo Pusoro dimaknai sebagai usaha manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan. Konsep tersebut berkaitan dengan pengendalian diri, keseimbangan batin, serta pencapaian kehidupan yang dianggap luhur menurut pandangan spiritualitas Jawa. Sebagai organisasi penghayat kepercayaan, Hardo Pusoro memuat ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, serta dengan alam semesta.

Wikipedia article
Diperbarui 7 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Hardo Pusoro adalah organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berkembang di wilayah Jawa. Nama Hardo Pusoro berasal dari bahasa Jawa Kawi, yaitu Hardo berarti gerak, gejolak, atau sesuatu yang merajalela, sedangkan Pusoro berarti menahan atau pengendali. Kedua kata tersebut dipahami secara konseptual sebagai upaya menahan atau mengendalikan gejolak yang merajalela. Dalam pengertian yang lebih luas, istilah Hardo Pusoro dimaknai sebagai usaha manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan. Konsep tersebut berkaitan dengan pengendalian diri, keseimbangan batin, serta pencapaian kehidupan yang dianggap luhur menurut pandangan spiritualitas Jawa. Sebagai organisasi penghayat kepercayaan, Hardo Pusoro memuat ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, serta dengan alam semesta.[1]

Sejarah

Perkembangan ajaran Hardo Pusoro berkaitan dengan tokoh Ki Soemotjitro yang lahir pada tahun 1832 di Dusun Kemanukan, Kawedanan Cangkreb, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dalam tradisi yang berkembang di kalangan pengikutnya, Soemotjitro disebut melakukan pengembaraan spiritual dan praktik pertapaaan sekitar tahun 1880 untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa mengenai hakikat kehidupan manusia. Setelah menjalani laku spiritual tersebut, Ki Soemotjitro kemudian menyampaikan pemahamannya mengenai kedudukan manusia dalam kehidupan melalui wejangan atau nasihat kepada masyarakat. Sejak sekitar tahun 1895, Soemotjitro mulai memberikan ajaran yang dikenal sebagai wewarah, yaitu petunjuk atau pedoman hidup yang kemudian berkembang menjadi suatu paguron atau perguruan spiritual dengan sejumlah pengikut. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, keberadaan perkumpulan ini dilaporkan kepada pemerintah setempat untuk menyesuaikan dengan peraturan yang mengatur perkumpulan masyarakat. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Hardo Pusoro bertujuan membina kehidupan manusia dan mencapai hakikat kehidupan (anggayuh gaibing urip) melalui pengendalian pancaindra (lereming pancadriyo).[2][3]

Ki Soemotjitro wafat pada tanggal 7 September 1922, dan setelah itu ajaran Hardo Pusoro dilanjutkan oleh para pengikutnya di berbagai daerah, antara lain Jakarta, Purworejo, Kediri, dan Malang. Dalam perkembangannya, organisasi ini memiliki tokoh-tokoh sesepuh yang berperan dalam membimbing para pengikut, seperti Ki Djojowinoto yang bermukim di Surakarta, Ki Prawirobroto di Purworejo, serta Ki Mahameru dan Ki Prawiromidjojo Herry Purnomo di Malang.[3] Pada tanggal 7 September 1972, para sesepuh dan anggota kemudian membentuk Yayasan Paguyuban Hardo Pusoro yang berlokasi di Desa Kemanukan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.[4] Organisasi ini juga memiliki struktur kepengurusan yang terdiri dari ketua umum, ketua bidang, sekretaris, bendahara, pelindung, dan penasihat, sementara dalam salah satu periode kepengurusan pusat kegiatan organisasi disebut berada di wilayah Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.[5]

Lambang

Hardo Pusoro memiliki lambang organisasi sebagai identitas organisasi. Lambang tersebut berbentuk bintang bersudut lima dengan pancaran sinar. Pada bagian bawah terdapat gambar sayap yang mengembang dengan jumlah lima pada masing-masing sisi. Di bawah lambang tersebut terdapat tulisan aksara Jawa A.U.M. yang dimaknai sebagai Aku Manungso Urip (aku manusia hidup). Lambang ini melambangkan tujuan hidup yang berkaitan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa serta pencapaian budi luhur dalam kehidupan manusia.[6]

Ajaran Pokok

Ajaran Hardo Pusoro memuat sejumlah prinsip yang berkaitan dengan tata kehidupan manusia serta hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Salah satu konsep yang disebut dalam ajaran ini adalah Tri Murti, yaitu tiga unsur yang berkaitan dengan kenyataan hidup manusia. Dalam praktiknya, ajaran tersebut menekankan beberapa pedoman hidup, antara lain netepi pranataning jagad, yaitu menjalankan tata kehidupan dunia dengan menyadari kedudukan manusia sebagai makhluk di bawah kekuasaan Tuhan (rumongso kawula) serta menjalankan agama atau kepercayaan masing-masing tanpa mencela keyakinan orang lain. Selain itu terdapat konsep netepi wajibing urip, yang merujuk pada pemenuhan kewajiban hidup sesuai kemampuan dan kedudukan manusia dalam masyarakat, serta kulino meneng, yaitu sikap batin yang tenang dengan mengurangi angan-angan yang berlebihan dan menjalankan pekerjaan dengan sikap rela dan ikhlas.[1]

Dalam pandangan Hardo Pusoro, Tuhan Yang Maha Esa dipahami sebagai sumber dari segala kehidupan dan segala kejadian di alam semesta dianggap berasal dari suatu asal kejadian. Ajaran ini juga memuat pandangan mengenai keberlangsungan kehidupan manusia, yang dipandang bersifat berkelanjutan, sementara yang berubah adalah alam tempat manusia berada. Kelahiran dipahami sebagai hadirnya manusia di dunia nyata, sedangkan kematian dipandang sebagai perpindahan dari dunia nyata menuju alam lain. Dalam kosmologi ajaran ini dikenal beberapa tingkatan alam, yaitu alam kewadhagan (dunia wujud), jagad pepadhang (alam terang), dan alam sasar. Ajaran Hardo Pusoro juga menekankan pentingnya hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, di mana manusia dipandang sebagai makhluk individu sekaligus sosial yang hidup berdampingan sehingga diperlukan sikap saling membantu, menghargai, dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan bersama.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi (2010) Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Jakarta.
  2. ↑ Setyabudi, Muhammad Nur Prabowo (2023-08-01). Islam-Jawa: Menyingkap Ajaran Keutamaan dalam Agama, Spiritualisme, dan Filsafat Jawa Damardjati Supadjar. Pustaka Peradaban. ISBN 978-623-88426-9-8.
  3. 1 2 Pusoro (Organization), Paguyuban Warga Hardo (1980). Paguyuban Warga Hardo Pusoro. Departement Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ↑ Pengkajian nilai-nilai luhur budaya spiritual bangsa Daerah Istimewa Yogyakarta. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1996.
  5. ↑ Asiarto, L. (2005). Pedoman teknis pemberdayaan penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Jakarta: Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Direktorat Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
  6. ↑ Resume ajaran dan keterangan singkat organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa di seluruh Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1986.
  • l
  • b
  • s
Agama dan kepercayaan di Indonesia
Agama dan
kepercayaan
  • Adat Lawas
  • Adat Musi
  • Agama Buhun
  • Agama Helu
  • Aji Dipa
  • Aliran Kebatinan Tak Bernama
  • Aluk Todolo
  • Ameok
  • Anak Cucu Bandha Yudha
  • Angesthi Sampurnaning Kautaman
  • Anggayuh Panglereming Nafsu
  • Arat Sabulungan
  • Babolin
  • Babukung
  • Baha'i
  • Basorah
  • Buddha
    • Therawada
    • Mahayana
    • Vajrayana
    • Buddhayana
    • Maitreya
    • Tridharma
    • Nichiren Shoshu
  • Budi Daya
  • Budi Rahayu
  • Budi Sejati
  • Bumi Hantoro
  • Cakramanggilingan
  • Dharma Murti
  • Empung Lokon Esa
  • Era Wulan Watu Tana
  • Galih Puji Rahayu
  • Gautami
  • Golongan Si Raja Batak
  • Guna Lera Wulan Dewa Tanah Ekan
  • Gunung Jati
  • Hajatan
  • Habonaron Do Bona
  • Hak Sejati
  • Hangudi Bawono Tata Lahir Batin
  • Hangudi Lakuning Urip
  • Hardo Pusoro
  • Hidup Betul
  • Hindu
    • Bali
    • Jawa
    • Kaharingan
    • Towani Tolotang
    • Siwa-Buddha
  • Ilmu Goib
  • Ilmu Goib Kodrat Alam
  • Imbal Wacono
  • Islam
    • Abangan
      • modern
    • Ahmadiyyah
    • Islam Nusantara
    • LDII
    • Modernis
    • Al-Qiyadah Al-Islamiyah
    • Salafi
    • Syiah
    • Tradisionalis
    • Wahidiyah
    • Wetu Telu
  • IWKU
  • Jainisme
  • Jawa Domas
  • Jingi Tiu
  • Kapitayan
  • Kejawen
  • Khonghucu
  • Koda Kirin
  • Kristen
    • Katolik
    • Mormonisme
    • Ortodoks
    • Protestan
    • Saksi-Saksi Yehuwa
  • Lera Wulan Dewa Tanah Ekan
  • Malesung
  • Marapu
  • Mazuisme
  • Masade
  • Naurus
  • Parmalim
  • Pelebegu
  • Pemena
  • Pepandyo
  • Perjalanan
  • Purwoduksino
  • Rila
  • Salamullah
  • Sedulur Sikep
  • Sikh
  • Sirnagalih
  • Subud
  • Sumarah
  • Sunda Wiwitan
    • Madraisme
  • Taoisme
  • Tonaas Walian
  • Wor
  • Yahudi
Ireligiusitas
  • Ateisme
Sejarah
  • Mitologi Indonesia
  • Daftar Dewa-Dewi Indonesia
  • Indianisasi Asia Tenggara
  • Penyebaran agama Buddha di sepanjang Jalur Sutra
  • Buddhisme Esoteris Indonesia
  • Penyebaran Islam di Nusantara
  • Pembantaian Banyuwangi 1998
  • Kerusuhan Poso
  • Konflik sektarian Maluku
  • Insiden Monas
Kajian agama
  • Agama asli Nusantara dan aliran kepercayaan
  • Agama impor
Hukum dan hak
  • Hukum penistaan agama
    • Langit Makin Mendung
    • Kontroversi angket Majalah Monitor
    • Aksi 2 Desember
  • Kebebasan beragama

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Lambang
  3. Ajaran Pokok
  4. Referensi

Artikel Terkait

Daftar organisasi penghayat kepercayaan Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026