Hardo Pusoro adalah organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berkembang di wilayah Jawa. Nama Hardo Pusoro berasal dari bahasa Jawa Kawi, yaitu Hardo berarti gerak, gejolak, atau sesuatu yang merajalela, sedangkan Pusoro berarti menahan atau pengendali. Kedua kata tersebut dipahami secara konseptual sebagai upaya menahan atau mengendalikan gejolak yang merajalela. Dalam pengertian yang lebih luas, istilah Hardo Pusoro dimaknai sebagai usaha manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan. Konsep tersebut berkaitan dengan pengendalian diri, keseimbangan batin, serta pencapaian kehidupan yang dianggap luhur menurut pandangan spiritualitas Jawa. Sebagai organisasi penghayat kepercayaan, Hardo Pusoro memuat ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, serta dengan alam semesta.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Hardo Pusoro adalah organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berkembang di wilayah Jawa. Nama Hardo Pusoro berasal dari bahasa Jawa Kawi, yaitu Hardo berarti gerak, gejolak, atau sesuatu yang merajalela, sedangkan Pusoro berarti menahan atau pengendali. Kedua kata tersebut dipahami secara konseptual sebagai upaya menahan atau mengendalikan gejolak yang merajalela. Dalam pengertian yang lebih luas, istilah Hardo Pusoro dimaknai sebagai usaha manusia untuk mengendalikan hawa nafsu dalam kehidupan. Konsep tersebut berkaitan dengan pengendalian diri, keseimbangan batin, serta pencapaian kehidupan yang dianggap luhur menurut pandangan spiritualitas Jawa. Sebagai organisasi penghayat kepercayaan, Hardo Pusoro memuat ajaran mengenai hubungan manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia, serta dengan alam semesta.[1]
Perkembangan ajaran Hardo Pusoro berkaitan dengan tokoh Ki Soemotjitro yang lahir pada tahun 1832 di Dusun Kemanukan, Kawedanan Cangkreb, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Dalam tradisi yang berkembang di kalangan pengikutnya, Soemotjitro disebut melakukan pengembaraan spiritual dan praktik pertapaaan sekitar tahun 1880 untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa mengenai hakikat kehidupan manusia. Setelah menjalani laku spiritual tersebut, Ki Soemotjitro kemudian menyampaikan pemahamannya mengenai kedudukan manusia dalam kehidupan melalui wejangan atau nasihat kepada masyarakat. Sejak sekitar tahun 1895, Soemotjitro mulai memberikan ajaran yang dikenal sebagai wewarah, yaitu petunjuk atau pedoman hidup yang kemudian berkembang menjadi suatu paguron atau perguruan spiritual dengan sejumlah pengikut. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, keberadaan perkumpulan ini dilaporkan kepada pemerintah setempat untuk menyesuaikan dengan peraturan yang mengatur perkumpulan masyarakat. Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa Hardo Pusoro bertujuan membina kehidupan manusia dan mencapai hakikat kehidupan (anggayuh gaibing urip) melalui pengendalian pancaindra (lereming pancadriyo).[2][3]
Ki Soemotjitro wafat pada tanggal 7 September 1922, dan setelah itu ajaran Hardo Pusoro dilanjutkan oleh para pengikutnya di berbagai daerah, antara lain Jakarta, Purworejo, Kediri, dan Malang. Dalam perkembangannya, organisasi ini memiliki tokoh-tokoh sesepuh yang berperan dalam membimbing para pengikut, seperti Ki Djojowinoto yang bermukim di Surakarta, Ki Prawirobroto di Purworejo, serta Ki Mahameru dan Ki Prawiromidjojo Herry Purnomo di Malang.[3] Pada tanggal 7 September 1972, para sesepuh dan anggota kemudian membentuk Yayasan Paguyuban Hardo Pusoro yang berlokasi di Desa Kemanukan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.[4] Organisasi ini juga memiliki struktur kepengurusan yang terdiri dari ketua umum, ketua bidang, sekretaris, bendahara, pelindung, dan penasihat, sementara dalam salah satu periode kepengurusan pusat kegiatan organisasi disebut berada di wilayah Sinduharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.[5]
Hardo Pusoro memiliki lambang organisasi sebagai identitas organisasi. Lambang tersebut berbentuk bintang bersudut lima dengan pancaran sinar. Pada bagian bawah terdapat gambar sayap yang mengembang dengan jumlah lima pada masing-masing sisi. Di bawah lambang tersebut terdapat tulisan aksara Jawa A.U.M. yang dimaknai sebagai Aku Manungso Urip (aku manusia hidup). Lambang ini melambangkan tujuan hidup yang berkaitan dengan Ketuhanan Yang Maha Esa serta pencapaian budi luhur dalam kehidupan manusia.[6]
Ajaran Hardo Pusoro memuat sejumlah prinsip yang berkaitan dengan tata kehidupan manusia serta hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam semesta. Salah satu konsep yang disebut dalam ajaran ini adalah Tri Murti, yaitu tiga unsur yang berkaitan dengan kenyataan hidup manusia. Dalam praktiknya, ajaran tersebut menekankan beberapa pedoman hidup, antara lain netepi pranataning jagad, yaitu menjalankan tata kehidupan dunia dengan menyadari kedudukan manusia sebagai makhluk di bawah kekuasaan Tuhan (rumongso kawula) serta menjalankan agama atau kepercayaan masing-masing tanpa mencela keyakinan orang lain. Selain itu terdapat konsep netepi wajibing urip, yang merujuk pada pemenuhan kewajiban hidup sesuai kemampuan dan kedudukan manusia dalam masyarakat, serta kulino meneng, yaitu sikap batin yang tenang dengan mengurangi angan-angan yang berlebihan dan menjalankan pekerjaan dengan sikap rela dan ikhlas.[1]
Dalam pandangan Hardo Pusoro, Tuhan Yang Maha Esa dipahami sebagai sumber dari segala kehidupan dan segala kejadian di alam semesta dianggap berasal dari suatu asal kejadian. Ajaran ini juga memuat pandangan mengenai keberlangsungan kehidupan manusia, yang dipandang bersifat berkelanjutan, sementara yang berubah adalah alam tempat manusia berada. Kelahiran dipahami sebagai hadirnya manusia di dunia nyata, sedangkan kematian dipandang sebagai perpindahan dari dunia nyata menuju alam lain. Dalam kosmologi ajaran ini dikenal beberapa tingkatan alam, yaitu alam kewadhagan (dunia wujud), jagad pepadhang (alam terang), dan alam sasar. Ajaran Hardo Pusoro juga menekankan pentingnya hubungan sosial dalam kehidupan bermasyarakat, di mana manusia dipandang sebagai makhluk individu sekaligus sosial yang hidup berdampingan sehingga diperlukan sikap saling membantu, menghargai, dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan bersama.[1]