Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Galih Puji Rahayu

Galih Puji Rahayu merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang didirikan pada 29 Desember 1951 di Medan oleh Parto Suwiryo. Organisasi ini bertujuan melestarikan ajaran yang sebelumnya diterima dan diajarkan oleh Mustar, yang dianggap sebagai tokoh awal dalam penyebaran ajaran tersebut. GAPURA berfokus pada pembinaan kepribadian, etika, dan tata kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai moral dan spiritual.

Wikipedia article
Diperbarui 4 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Galih Puji Rahayu (disingkat GAPURA) merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang didirikan pada 29 Desember 1951 di Medan oleh Parto Suwiryo. Organisasi ini bertujuan melestarikan ajaran yang sebelumnya diterima dan diajarkan oleh Mustar (dikenal dengan Kyai Muktar), yang dianggap sebagai tokoh awal dalam penyebaran ajaran tersebut. GAPURA berfokus pada pembinaan kepribadian, etika, dan tata kehidupan yang selaras dengan nilai-nilai moral dan spiritual.[1]

Sejarah

Ajaran Galih Puji Rahayu pertama kali diterima oleh Kyai Muktar. Setelah wafat, ajaran tersebut dilanjutkan oleh Parto Suwiryo. Untuk menjaga kesinambungan ajaran, pada 29 Desember 1951 didirikan sebuah paguyuban bernama Galih Puji Rahayu di Kota Medan. Organisasi ini dibentuk dengan tujuan melestarikan ajaran pendahulunya sekaligus memelihara nilai-nilai budaya bangsa yang dirumuskan dalam konsep memayu hayuning bawana, yakni upaya menjaga keseimbangan dan keharmonisan kehidupan.[2]

Kata galih dimaknai sebagai tekad atau niat batin, puji diartikan sebagai kebaikan atau keselamatan bersama, dan rahayu berarti sejahtera atau selamat. Secara keseluruhan, istilah “Galih Puji Rahayu” mencerminkan tekad untuk mewujudkan kehidupan yang baik dan sejahtera, baik secara lahir maupun batin. Simbol organisasi berbentuk gapura atau pintu gerbang dengan dua tiang bambu dan sebuah palang di bagian atas. Bambu dimaknai sebagai lambang keteguhan dan ketulusan niat. Ornamen pada bagian atas menggambarkan perjalanan hidup manusia dari masa lalu menuju masa depan. Secara umum, bentuk gapura tersebut melambangkan proses yang dilalui seseorang dalam mencapai tujuan hidupnya.[3]

Pokok ajaran

Ajaran Galih Puji Rahayu menekankan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dalam ajaran ini disebut sebagai “Hyang Mahaagung”, yakni sumber segala sesuatu dan pemegang kekuasaan tertinggi atas kehidupan. Kepercayaan tersebut menjadi dasar bagi penegasan kewajiban moral manusia untuk berperilaku baik, berbakti, dan menghormati Tuhan. Nilai-nilai ajarannya mencakup pengaturan hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan alam. Dalam kaitannya dengan diri pribadi, anggota ditekankan untuk menjaga kejujuran, pengendalian diri, serta ketertiban sikap dan perilaku. Ungkapan “suko-suko sudo prayitnane batin” digunakan untuk menggambarkan anjuran agar seseorang tidak berlebihan dalam kegembiraan dan tetap waspada terhadap dorongan hawa nafsu. Dalam hubungan sosial, ajaran ini mendorong sikap saling menghormati, tolong-menolong, dan penyelesaian persoalan melalui musyawarah untuk mufakat. Sementara itu, dalam hubungan dengan lingkungan, ditekankan bahwa manusia dan alam memiliki ketergantungan timbal balik sehingga keseimbangannya perlu dipelihara.[1][4]

Upacara

Organisasi ini tidak menetapkan tata cara ritual yang bersifat baku atau formal. Praktik peribadatan lebih menekankan pada sikap kesungguhan, kesederhanaan, dan ketulusan dalam berdoa, yang dapat dilakukan dalam berbagai posisi, seperti duduk, berdiri, maupun berbaring, sesuai dengan kebutuhan dan kondisi masing-masing individu. Selain praktik pribadi, terdapat pula upacara bersama yang umumnya diselenggarakan pada bulan Sura. Dalam upacara tersebut digunakan perlengkapan berupa Nasi Tumpeng Rasul yang terdiri atas nasi putih, garam, kelapa, jenang, dan jajan pasar. Setiap unsur makanan memiliki makna simbolik dalam ajaran ini, antara lain nasi tumpeng sebagai perlambang naluri, garam sebagai gambaran pengalaman suka dan duka, kelapa sebagai simbol kehidupan, serta aneka jajanan sebagai representasi keragaman keinginan manusia dalam kehidupan duniawi.[3]

Referensi

  1. 1 2 Ajaran organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa : GALIH PUJI·RAHAYU. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2000. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Ensiklopedi nasional Indonesia. Vol. 14. Cipta Adi Pustaka. 1990. hlm. 466. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. 1 2 Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi (2010) Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Jakarta.
  4. ↑ Pengkajian nilai-nilai luhur budaya spiritual bangsa propinsi Sumatera Utara: I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1993.
  • l
  • b
  • s
Agama dan kepercayaan di Indonesia
Agama dan
kepercayaan
  • Adat Lawas
  • Adat Musi
  • Agama Buhun
  • Agama Helu
  • Aji Dipa
  • Aliran Kebatinan Tak Bernama
  • Aluk Todolo
  • Ameok
  • Anak Cucu Bandha Yudha
  • Angesthi Sampurnaning Kautaman
  • Anggayuh Panglereming Nafsu
  • Arat Sabulungan
  • Babolin
  • Babukung
  • Baha'i
  • Basorah
  • Buddha
    • Therawada
    • Mahayana
    • Vajrayana
    • Buddhayana
    • Maitreya
    • Tridharma
    • Nichiren Shoshu
  • Budi Daya
  • Budi Rahayu
  • Budi Sejati
  • Bumi Hantoro
  • Cakramanggilingan
  • Dharma Murti
  • Empung Lokon Esa
  • Era Wulan Watu Tana
  • Galih Puji Rahayu
  • Gautami
  • Golongan Si Raja Batak
  • Guna Lera Wulan Dewa Tanah Ekan
  • Gunung Jati
  • Hajatan
  • Habonaron Do Bona
  • Hak Sejati
  • Hangudi Bawono Tata Lahir Batin
  • Hangudi Lakuning Urip
  • Hardo Pusoro
  • Hidup Betul
  • Hindu
    • Bali
    • Jawa
    • Kaharingan
    • Towani Tolotang
    • Siwa-Buddha
  • Ilmu Goib
  • Ilmu Goib Kodrat Alam
  • Imbal Wacono
  • Islam
    • Abangan
      • modern
    • Ahmadiyyah
    • Islam Nusantara
    • LDII
    • Modernis
    • Al-Qiyadah Al-Islamiyah
    • Salafi
    • Syiah
    • Tradisionalis
    • Wahidiyah
    • Wetu Telu
  • IWKU
  • Jainisme
  • Jawa Domas
  • Jingi Tiu
  • Kapitayan
  • Kejawen
  • Khonghucu
  • Koda Kirin
  • Kristen
    • Katolik
    • Mormonisme
    • Ortodoks
    • Protestan
    • Saksi-Saksi Yehuwa
  • Lera Wulan Dewa Tanah Ekan
  • Malesung
  • Marapu
  • Mazuisme
  • Masade
  • Naurus
  • Parmalim
  • Pelebegu
  • Pemena
  • Pepandyo
  • Perjalanan
  • Purwoduksino
  • Rila
  • Salamullah
  • Sedulur Sikep
  • Sikh
  • Sirnagalih
  • Subud
  • Sumarah
  • Sunda Wiwitan
    • Madraisme
  • Taoisme
  • Tonaas Walian
  • Wor
  • Yahudi
Ireligiusitas
  • Ateisme
Sejarah
  • Mitologi Indonesia
  • Daftar Dewa-Dewi Indonesia
  • Indianisasi Asia Tenggara
  • Penyebaran agama Buddha di sepanjang Jalur Sutra
  • Buddhisme Esoteris Indonesia
  • Penyebaran Islam di Nusantara
  • Pembantaian Banyuwangi 1998
  • Kerusuhan Poso
  • Konflik sektarian Maluku
  • Insiden Monas
Kajian agama
  • Agama asli Nusantara dan aliran kepercayaan
  • Agama impor
Hukum dan hak
  • Hukum penistaan agama
    • Langit Makin Mendung
    • Kontroversi angket Majalah Monitor
    • Aksi 2 Desember
  • Kebebasan beragama

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Pokok ajaran
  3. Upacara
  4. Referensi

Artikel Terkait

Cita Rahayu

penyanyi asal Indonesia

Gowok: Kamasutra Jawa

Film drama tahun 2025 karya Hanung Bramantyo

Aini: Malaikat Tak Bersayap

Seri televisi Indonesia tahun 2024

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026