Angesthi Sampurnaning Kautaman merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang didirikan pada 1 April 1955 di Yogyakarta oleh Ki Darmomardopo. Organisasi ini berlandaskan ajaran kebatinan yang menekankan penghayatan langsung kepada Tuhan, pembinaan budi luhur, dan pencapaian kesempurnaan hidup lahir batin. Ajarannya dirumuskan dalam konsep Panca Tunggal dan mencakup pandangan tentang Ketuhanan, manusia, alam semesta, serta kewajiban moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Angesthi Sampurnaning Kautaman (disingkat : ASK) merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang didirikan pada 1 April 1955 di Yogyakarta oleh Ki Darmomardopo. Organisasi ini berlandaskan ajaran kebatinan yang menekankan penghayatan langsung kepada Tuhan, pembinaan budi luhur, dan pencapaian kesempurnaan hidup lahir batin. Ajarannya dirumuskan dalam konsep Panca Tunggal dan mencakup pandangan tentang Ketuhanan, manusia, alam semesta, serta kewajiban moral dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.[1][2]
Ajaran Angesthi Sampurnaning Kautaman (secara harfiah diartikan sebagai Mencari Hakikat Kesempurnaan)[3] diperoleh oleh Ki Darmomardopo melalui pengalaman spiritual yang pada awalnya tidak langsung disadari sebagai wahyu atau tuntunan. Pengalaman tersebut terjadi ketika Darmomardopo berada dalam masa tahanan di Pulau Seribu. Dalam periode tersebut Darmomardopo mempraktikkan tuntunan batin untuk menolong orang sakit melalui pemijatan (masase) dan pemberian air putih yang telah didoakan. Praktik tersebut diyakini membawa kesembuhan bagi banyak orang dan kemudian menjadi bagian awal dari penyebaran ajaran ASK.[1]
Pada 1 April 1955 ajaran tersebut berdiri dengan nama lkatan Batin Keluarga Angesthi Sampurnaning Kautaman di Jl. Toegoe Kidoel No. 56 (saat ini menjadi jl. P. Mangkubumi 54) Yogyakarta. Nama ASK memiliki beberapa makna yang dirumuskan dalam Panca Tunggal, antara lain sebagai penegasan bahwa Tuhan adalah sesembahan utama, manusia harus menggunakan akal sehat berdasarkan pengalaman, serta berupaya mencapai kesempurnaan hidup (urip utama). Ajaran ini juga menekankan konsep “Maha Rasa” sebagai sumber kehidupan dan pedoman batin manusia. Tujuan organisasi adalah membentuk kekeluargaan lahir dan batin yang berlandaskan kebatinan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta pengabdian kepada bangsa dan negara. Penyebaran ajaran dilakukan melalui sarasehan, pembinaan spiritual, dan praktik sujud sebagai sarana komunikasi batin dengan Tuhan.[2][4]
Dalam ajaran Angesthi Sampurnaning Kautaman, Tuhan Yang Maha Esa dipahami sebagai Maha Kuasa, Maha Esa, Maha Luhur, dan Maha Cinta Kasih, serta memiliki sifat-sifat kemahaan lainnya yang menjadi teladan bagi manusia. Konsep Ketuhanan dijelaskan melalui keratabasa Jawa yang menafsirkan Tuhan sebagai tata dan kenyataan yang membawa ketenteraman dan kebahagiaan. Alam semesta dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang disebut jagad gede (alam besar), sedangkan manusia disebut jagad cilik (alam kecil) yang memiliki hubungan erat dan saling memengaruhi. Oleh karena itu, manusia berkewajiban menjaga dan melestarikan alam sebagai bagian dari pengabdian kepada Tuhan. Ajaran tentang kemanusiaan menekankan bahwa manusia terdiri atas unsur jasmani dan rohani, serta memiliki tujuan hidup untuk mencapai kesempurnaan lahir dan batin. Kesempurnaan tersebut dicapai dengan mengolah rasa, mengendalikan nafsu, dan membuang sifat buruk, sehingga tercapai keselarasan batin yang dipahami sebagai manunggaling kawula Gusti. Dalam praktiknya, ASK mengajarkan kewajiban manusia terhadap Tuhan melalui sikap eling dan sujud, terhadap diri sendiri melalui mawas diri dan pengendalian diri, serta terhadap keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara melalui sikap saling menghormati, gotong royong, menaati hukum, dan menjaga ketertiban.[1]
ASK memiliki lambang berbentuk segi empat dengan tiga lingkaran di bagian tengah. Di atas lingkaran terdapat tulisan “ASK”, sedangkan di bawah lingkaran terbesar terdapat tulisan berhuruf Jawa “jagad raya”. Tulisan “jagad raya” dimaknai sebagai kekuatan positif yang bersifat luas dan tidak terbatas dalam segala hal. Pada lingkaran kecil atau tengah terdapat huruf Jawa “pa”. Unsur-unsur dalam lambang tersebut mencerminkan pandangan kosmologis organisasi tentang keluasan dan kebebasan dalam lingkup jagad raya, serta keterkaitan manusia dengan tatanan kehidupan yang lebih besar.[5]