Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Gunung Jati (aliran kepercayaan)

Gunung Jati merupakan sebuah organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berakar pada tradisi kebatinan dan kerohanian. Organisasi ini dikembangkan oleh Noer Achmad Sidik, yang lahir di Desa Nyawangan, Kecamatan Keras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Secara resmi, Paguyuban Aliran Kepercayaan Kaweruh Kebatinan Gunung Jati dibentuk pada 22 Februari 1946 dengan Noer Achmad Sidik ditunjuk sebagai pinisepuh atau sesepuh organisasi.

Wikipedia article
Diperbarui 4 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Gunung Jati merupakan sebuah organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang berakar pada tradisi kebatinan dan kerohanian. Organisasi ini dikembangkan oleh Noer Achmad Sidik, yang lahir di Desa Nyawangan, Kecamatan Keras, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Secara resmi, Paguyuban Aliran Kepercayaan Kaweruh Kebatinan Gunung Jati dibentuk pada 22 Februari 1946 dengan Noer Achmad Sidik ditunjuk sebagai pinisepuh atau sesepuh organisasi.[1][2]

Sejarah

Sejak masa kanak-kanak, Noer Achmad Sidik menunjukkan minat yang tinggi terhadap kehidupan spiritual. Ia melakukan pencarian untuk memahami pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai arti hidup, asal-usul kehidupan, arah hidup, dan upaya mencapai kesempurnaan hidup. Pencarian tersebut membawanya melakukan tirakat dan bertapa di sejumlah tempat yang dianggap keramat, termasuk Pantai Popoh di Tulungagung, petilasan Majapahit, Gunung Arjuno, dan Gunung Lawu. Dari pengalaman-pengalaman ini, Sidik menerima sejumlah ilham yang kemudian menjadi dasar ajaran serta lambang organisasi yang didirikannya. Salah satu praktik awal yang menonjol adalah kemampuan spiritualnya dalam menangani gangguan kesehatan jiwa pada anggota keluarga, yang kemudian membuatnya dikenal secara luas sebagai dukun tiban.[1][3]

Tujuan dan ajaran

Organisasi Gunung Jati memiliki sejumlah tujuan pokok. Tujuan tersebut meliputi pengabdian kepada Tuhan Yang Maha Esa serta peningkatan kewaspadaan demi keselamatan diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. Organisasi ini juga berupaya menghimpun dan melestarikan budaya luhur warisan nenek moyang tanpa pengaruh budaya luar. Selain itu, diselenggarakan pendidikan jasmani dan rohani bagi generasi penerus untuk mencapai kesempurnaan hidup yang berbudi luhur. Gunung Jati turut membina kerukunan serta menjaga kelestarian warisan leluhur. Warganya diharapkan memiliki jiwa luhur yang bermanfaat bagi nusa dan bangsa. Organisasi ini juga menjunjung tinggi kewibawaan pemerintah, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dan falsafah Pancasila. Pada akhirnya, seluruh tujuan tersebut diarahkan untuk mewujudkan keadilan dan kemakmuran yang merata berdasarkan bimbingan Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran organisasi menekankan penghayatan terhadap Tuhan Yang Maha Esa sebagai entitas yang berada “di pagelaran jagad,” yaitu jauh tanpa batas namun dekat bagi yang menyembah. Warga Gunung Jati diharapkan meneladani keluhuran sifat para Pandawa, yang mencakup budi luhur, keadilan, kebijaksanaan, ketepatan janji, dan kesetiaan terhadap sesama. Organisasi memandang manusia sebagai ciptaan Tuhan melalui ayah dan ibu, yang berkewajiban menjaga kelestarian alam semesta.[4][3]

Lambang dan struktur

Lambang organisasi terdiri dari Pandawa lima dan pohon beringin. Pohon beringin melambangkan perlindungan dari Tuhan, pemerintah, dan otoritas lain bagi mereka yang berperilaku baik. Kelima Pandawa melambangkan lima keluhuran budi yang harus dimiliki warga: Puntadewa (budi luhur), Bratasena (teguh dan menegakkan keadilan), Arjuna (bijaksana dan suka menolong), Nakula (menepati janji), dan Sadewa (setia dan taat kewajiban). Menurut catatan, organisasi ini beranggotakan 67 orang. Susunan pengurus terdiri dari Noer Achmad Sidik sebagai pinisepuh, Maskan Achmad Soesandi sebagai ketua, dan Supinto Ariwibowo sebagai bendahara. Pusat organisasi berlokasi di Jl. Malabar No. 9, Pondok Rukun, Tretes, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, dengan cabang yang tersebar di Kabupaten Pasuruan dan Kediri.[1][2]

Praktik ritual

Kegiatan ritual organisasi menekankan penghayatan dan meditasi. Warga biasanya duduk bersila dengan kaki kiri di atas kaki kanan, mengetuk tanah tiga kali, membaca doa, dan melakukan penyembahan. Penghayatan dilakukan secara rutin setiap sore dan malam Jum’at Kliwon, serta malam hari pukul 24.00. Meskipun terdapat jadwal tertentu, praktik ritual ini bersifat fleksibel dan dapat dilakukan di sanggar maupun di rumah masing-masing penghayat.[1]

Referensi

  1. 1 2 3 4 Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi, Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi (2010) Ensiklopedi kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa. Direktorat Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Jakarta.
  2. 1 2 Jati (Organization), Gunung (1980). Gunung Jati. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
  3. 1 2 Hasil penelitian organisasi kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa Daerah Tingkat I Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Direktorat Pembinaan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, Proyek Inventarisasi Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. 1995.
  4. ↑ Pengkajian nilai-nilai luhur budaya spiritual bangsa daerah Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994.
  • l
  • b
  • s
Agama dan kepercayaan di Indonesia
Agama dan
kepercayaan
  • Adat Lawas
  • Adat Musi
  • Agama Buhun
  • Agama Helu
  • Aji Dipa
  • Aliran Kebatinan Tak Bernama
  • Aluk Todolo
  • Ameok
  • Anak Cucu Bandha Yudha
  • Angesthi Sampurnaning Kautaman
  • Anggayuh Panglereming Nafsu
  • Arat Sabulungan
  • Babolin
  • Babukung
  • Baha'i
  • Basorah
  • Buddha
    • Therawada
    • Mahayana
    • Vajrayana
    • Buddhayana
    • Maitreya
    • Tridharma
    • Nichiren Shoshu
  • Budi Daya
  • Budi Rahayu
  • Budi Sejati
  • Bumi Hantoro
  • Cakramanggilingan
  • Dharma Murti
  • Empung Lokon Esa
  • Era Wulan Watu Tana
  • Galih Puji Rahayu
  • Gautami
  • Golongan Si Raja Batak
  • Guna Lera Wulan Dewa Tanah Ekan
  • Gunung Jati
  • Hajatan
  • Habonaron Do Bona
  • Hak Sejati
  • Hangudi Bawono Tata Lahir Batin
  • Hangudi Lakuning Urip
  • Hardo Pusoro
  • Hidup Betul
  • Hindu
    • Bali
    • Jawa
    • Kaharingan
    • Towani Tolotang
    • Siwa-Buddha
  • Ilmu Goib
  • Ilmu Goib Kodrat Alam
  • Imbal Wacono
  • Islam
    • Abangan
      • modern
    • Ahmadiyyah
    • Islam Nusantara
    • LDII
    • Modernis
    • Al-Qiyadah Al-Islamiyah
    • Salafi
    • Syiah
    • Tradisionalis
    • Wahidiyah
    • Wetu Telu
  • IWKU
  • Jainisme
  • Jawa Domas
  • Jingi Tiu
  • Kapitayan
  • Kejawen
  • Khonghucu
  • Koda Kirin
  • Kristen
    • Katolik
    • Mormonisme
    • Ortodoks
    • Protestan
    • Saksi-Saksi Yehuwa
  • Lera Wulan Dewa Tanah Ekan
  • Malesung
  • Marapu
  • Mazuisme
  • Masade
  • Naurus
  • Parmalim
  • Pelebegu
  • Pemena
  • Pepandyo
  • Perjalanan
  • Purwoduksino
  • Rila
  • Salamullah
  • Sedulur Sikep
  • Sikh
  • Sirnagalih
  • Subud
  • Sumarah
  • Sunda Wiwitan
    • Madraisme
  • Taoisme
  • Tonaas Walian
  • Wor
  • Yahudi
Ireligiusitas
  • Ateisme
Sejarah
  • Mitologi Indonesia
  • Daftar Dewa-Dewi Indonesia
  • Indianisasi Asia Tenggara
  • Penyebaran agama Buddha di sepanjang Jalur Sutra
  • Buddhisme Esoteris Indonesia
  • Penyebaran Islam di Nusantara
  • Pembantaian Banyuwangi 1998
  • Kerusuhan Poso
  • Konflik sektarian Maluku
  • Insiden Monas
Kajian agama
  • Agama asli Nusantara dan aliran kepercayaan
  • Agama impor
Hukum dan hak
  • Hukum penistaan agama
    • Langit Makin Mendung
    • Kontroversi angket Majalah Monitor
    • Aksi 2 Desember
  • Kebebasan beragama

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Tujuan dan ajaran
  3. Lambang dan struktur
  4. Praktik ritual
  5. Referensi

Artikel Terkait

Agama asli Nusantara

artikel daftar Wikimedia

Tradisi malam satu suro

tidak terlepas dari mitos-mitos dan kepercayaan yang beredar di masyarakat. Misalnya salah satu mitos dan kepercayaan yang beredar pada upacara Malam Satu

Konfusianisme

sistem etika dan filsafat yang berasal dari Tiongkok kuno

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026