Hangudi Bawono Tata Lahir Batin merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dirintis oleh Romo Martopangarso di Yogyakarta. Romo Martopangarso merupakan putra seorang abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Dalam organisasi yang dirintis tersebut ditegaskan bahwa tidak terdapat hubungan guru dan murid. Para anggota dipandang setara sebagai sesama pencari pengetahuan spiritual yang berupaya mengolah Ilmuning Pangeran Gusti Kang Mahakuasa untuk mencapai keselamatan hidup di dunia dan akhirat.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Hangudi Bawono Tata Lahir Batin merupakan organisasi penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang dirintis oleh Romo Martopangarso di Yogyakarta. Romo Martopangarso merupakan putra seorang abdi dalem Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat sejak masa pemerintahan kolonial Belanda. Dalam organisasi yang dirintis tersebut ditegaskan bahwa tidak terdapat hubungan guru dan murid. Para anggota dipandang setara sebagai sesama pencari pengetahuan spiritual yang berupaya mengolah Ilmuning Pangeran Gusti Kang Mahakuasa untuk mencapai keselamatan hidup di dunia dan akhirat.[1][2]
Susunan kepengurusan organisasi ini terdiri atas KMT. Wire Seputro sebagai sesepuh, KRT. Dirdjo Wahono sebagai ketua, Totok Sutarto sebagai sekretaris, dan Ibu Soekarto sebagai bendahara. Saat proses pencatatan jumlah anggota tercatat sekitar 50 orang, dengan cabang organisasi di Kabupaten Semarang. Sekretariat organisasi beralamat di Gedong Kiwo MJ. 11778, Yogyakarta 55142.[3]
Ajaran Hangudi Bawono Tata Lahir Batin pertama kali diterima oleh Romo Martopangarso bersama Romo Sudi Utomo. Kedua tokoh tersebut merupakan sahabat sejak masa kecil yang kemudian menjalani laku spiritual secara terpisah. Dalam suatu pertemuan, Romo Sudi Utomo menyampaikan wangsit yang pernah diterimanya. Setelah pertemuan tersebut, keduanya melakukan semedi untuk memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa agar memperoleh pemahaman yang sama. Dari pengalaman tersebut berkembang ajaran mengenai pengolahan ilmu ketuhanan yang bertujuan mencapai keselamatan hidup di dunia dan akhirat.[1][4]
Pokok ajaran organisasi ini dirumuskan dalam prinsip yang disebut Panca Walika, yaitu lima pedoman perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Prinsip tersebut meliputi kewajiban mencintai sesama makhluk hidup (kudu tresno marang sepadaning urip), larangan melanggar peraturan negara (ora nerak angger-anggering negara), larangan melakukan sesuatu yang bukan hak dan kewajibannya (ora nerak kang dudu sak mestine), keharusan menghargai dan tidak meremehkan milik sendiri sebagai bentuk keyakinan terhadap petunjuk Tuhan (ora maido duweke dewe), serta larangan menyumpahi diri sendiri maupun orang lain (ora sepoto lan nyepatani). Dalam ajaran organisasi ini, Tuhan dipahami sebagai Maha Pencipta dan sumber dari segala sesuatu. Manusia dipandang berkewajiban menaati perintah Tuhan serta menjauhi larangan-Nya, salah satunya melalui praktik sembah sujud sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.[5][6]
Ajaran Hangudi Bawono Tata Lahir Batin menekankan pentingnya pengendalian diri serta kemampuan membedakan antara kebaikan dan keburukan sebagai dasar pembentukan perilaku manusia. Keselarasan antara pikiran, ucapan, dan tindakan dipandang sebagai syarat untuk mencapai kehidupan yang seimbang secara lahir dan batin. Dalam lingkungan keluarga, orang tua dipandang sebagai wakil Tuhan di dunia yang harus dihormati dan dimuliakan. Hubungan antarmanusia didasarkan pada pengakuan atas persamaan derajat, hak, dan kewajiban, sehingga sikap saling mencintai, menolong, serta memberikan ketenteraman kepada sesama menjadi bagian dari pengamalan ajaran tersebut. Selain itu, ajaran ini juga menekankan hubungan yang harmonis antara manusia dan alam. Alam dipandang sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia, sehingga manusia berkewajiban memanfaatkannya secara bijaksana sekaligus menjaga kelestariannya demi terciptanya keseimbangan antara manusia dan lingkungan.[1][7]