Gempa bumi Sulawesi–Mindanao 1913 adalah sebuah Gempa bumi Megathrust berkekuatan 7.9 Mw yang mengguncang lepas pantai antara Mindanao dan Sulawesi Utara pada tanggal 14 Maret 1913. Gempa bumi ini memiliki Intensitas maksimum Modified Mercalli sebesar IX (Hebat). Sebagian besar dari 138 korban jiwa terjadi di Pulau Sangihe yang disebabkan oleh semburan lumpur.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Waktu UTC | 1913-03-14 08:45:05 |
|---|---|
| ISC | 914043 |
| USGS-ANSS | ComCat |
| Tanggal setempat | 14 Maret 1913 (1913-03-14) |
| Waktu setempat | 16:45 |
| Magnitudo | 7.9 Mw[1] |
| Kedalaman | 15 km (9 mi) |
| Episentrum | 5°32′38″N 125°53′28″E / 5.544°N 125.891°E / 5.544; 125.891[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Gempa_bumi_Sulawesi%E2%80%93Mindanao_1913¶ms=5.544_N_125.891_E_ <span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">5°32′38″N</span> <span class=\"longitude\">125°53′28″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">5.544°N 125.891°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">5.544; 125.891</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwCA\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt9\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwCQ\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwCg\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Gempa_bumi_Sulawesi%E2%80%93Mindanao_1913&params=5.544_N_125.891_E_\" class=\"external text\" id=\"mwCw\"><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwDA\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwDQ\"><span class=\"latitude\" id=\"mwDg\">5°32′38″N</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwDw\">125°53′28″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwEA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEQ\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEg\"></span></span><span class=\"geo-default\" id=\"mwEw\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwFA\">5.544°N 125.891°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwFQ\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwFg\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwFw\">5.544; 125.891</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwGA\"/></span>"}' id="mwGQ"/> |
| Jenis | Megathrust |
| Wilayah bencana | |
| Intensitas maks. | MMI IX (Hebat) |
| Tsunami | Ya |
| Korban | 138 tewas |
Gempa bumi Sulawesi–Mindanao 1913 adalah sebuah Gempa bumi Megathrust berkekuatan 7.9 Mw yang mengguncang lepas pantai antara Mindanao dan Sulawesi Utara pada tanggal 14 Maret 1913.[1] Gempa bumi ini memiliki Intensitas maksimum Modified Mercalli sebesar IX (Hebat). Sebagian besar dari 138 korban jiwa terjadi di Pulau Sangihe yang disebabkan oleh semburan lumpur.[2]
Guncangan utama Mw 7,9 (mainshock) didahului oleh gempa awal. Gempa utama memiliki Intensitas Modified Mercalli maksimum sebesar IX (Hebat) di Davao dan Sarangani. MMI VIII (Parah) diamati di Talacogon; MMI VII (Sangat kuat) diamati di Pulau Sangihe, Cotabato, Baganga, Butuan, Cabadbaran dan Tandag.
Di Pulau Sangihe, guncangan gempa berlangsung selama 4 ± 2 menit dan terdengar suara gemuruh yang hebat. Orang-orang terbanting ke tanah. Ada 20 orang yang tewas. Rumah-rumah yang terletak di rawa terangkat dari tanah dan tenggelam ke samping atau runtuh. Banyak bangunan runtuh di Enemawira, Peta dan Tabukan. Sekolah, rumah dan bisnis runtuh di Tamako. Di Manganitu dan Kendahe, kerusakan parah terjadi. Runtuhan dan jatuhnya batu tersebar luas di sepanjang garis pantai yang berbatu. Retakan yang meluas muncul di tanah, beberapa menyemburkan air. Penurunan tanah terjadi di daerah Menalu; laut menggenangi sebagian dataran dan penduduk yang tersisa direlokasi. Penurunan tanah pantai juga terjadi di Teluk Peta, Tamako dan Tabukan.[3]
Di Teluk Menalu, 1.000 m3 (35.000 kaki kubik) material jatuh ke air dari ketinggian 80 m (260 kaki). Di sebelah baratnya, aliran lumpur mengalir sejauh 1 km (0,62 mil) dari Bukit Endongo, mengubur 117 penduduk desa dan 29 rumah. Aliran lumpur mengubur area tersebut di bawah material setebal 6 m (20 kaki). Aliran lumpur membendung sungai dan meluap. Di Manganitu, jembatan-jembatan hanyut.
Di Pulau Siau, satu orang tewas dan ada yang terluka. Retakan tanah, longsoran, dan runtuhan batu terjadi tetapi tidak ada penurunan tanah di pesisir. Orang-orang juga tidak dapat berdiri saat terjadi guncangan. Banyak bangunan bata hancur dan beberapa gubuk ambruk ke satu sisi. Dampak dan kerusakan lingkungan serupa terjadi di Kepulauan Talaud tetapi tidak ada korban jiwa.[4]
Guncangan berlangsung selama setengah menit di Kepulauan Sarangani dan banyak pohon tumbang. Di Kota Davao, osilasi kuat terekam selama dua hingga lima menit. Gubuk-gubuk yang terbuat dari daun palem ambruk dan beberapa dinding batu runtuh. Orang-orang di kota itu juga terbanting ke tanah. Retakan terbuka di tanah menyemburkan pasir dan air. Di sepanjang Sungai Agusan, air bergerak ke arah timur-barat, menggoyangkan perahu-perahu. Guncangan juga terasa di Baganga, Talakogon, Cotabato, dan Butuan. Guncangan juga terasa di Bohol, Cebu, dan Leyte; tidak ada guncangan yang terasa di Negros dan Panay.
The Straits Times dan Malay Mail melaporkan letusan gunung berapi di Gunung Awu. Letusan tersebut diduga dipicu oleh gempa bumi tersebut dan terjadi bersamaan dengan semburan lumpur di Bukit Endongo. "Gelombang pasang" setinggi 15 m (49 kaki) menghancurkan garis pantai. Letusan itu terukur 2 pada indeks ledakan vulkanik.[5]