Gempa bumi Kerinci 1909 adalah gempa besar yang melanda Sumatra, Hindia Belanda pada tanggal 4 Juni pukul 01:40 waktu setempat. Guncangan berkekuatan Mw 7.6 terjadi di sepanjang Sesar Semangko. Kerusakan sangat parah dan luas di sekitar wilayah Kerinci; banyak rumah runtuh dan jalan rusak. Jumlah korban tewas antara 195 dan 230 orang.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Waktu UTC | 1909-06-03 18:40:43 |
|---|---|
| ISC | 16958038 |
| USGS-ANSS | ComCat |
| Tanggal setempat | 4 Juni 1909 (1909-06-04) |
| Waktu setempat | 01:40 |
| Magnitudo | 7.6 Mw[1] |
| Kedalaman | 35 km (22 mi) |
| Episentrum | 2°00′S 101°00′E / 2.0°S 101.0°E / -2.0; 101.0[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Gempa_bumi_Kerinci_1909¶ms=2_S_101_E_ <span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">2°00′S</span> <span class=\"longitude\">101°00′E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\"> / </span><span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">2.0°S 101.0°E</span><span style=\"display:none\"> / <span class=\"geo\">-2.0; 101.0</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwCA\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt8\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwCQ\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwCg\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Gempa_bumi_Kerinci_1909&params=2_S_101_E_\" class=\"external text\" id=\"mwCw\"><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwDA\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwDQ\"><span class=\"latitude\" id=\"mwDg\">2°00′S</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwDw\">101°00′E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwEA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEQ\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwEg\"></span></span><span class=\"geo-default\" id=\"mwEw\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwFA\">2.0°S 101.0°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwFQ\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwFg\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwFw\">-2.0; 101.0</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwGA\"/></span>"}' id="mwGQ"/> |
| Sesar | Sesar Semangko |
| Jenis | Strike-slip |
| Wilayah bencana | Sumatra, Hindia Belanda |
| Intensitas maks. | MMI IX (Hebat) |
| Korban | 195–230 tewas |
Gempa bumi Kerinci 1909 adalah gempa besar yang melanda Sumatra, Hindia Belanda (sekarang Indonesia) pada tanggal 4 Juni pukul 01:40 waktu setempat. Guncangan berkekuatan Mw 7.6 terjadi di sepanjang Sesar Semangko.[1] Kerusakan sangat parah dan luas di sekitar wilayah Kerinci; banyak rumah runtuh dan jalan rusak. Jumlah korban tewas antara 195 dan 230 orang.[2]

Zona subduksi Selat Sunda di lepas pantai barat Sumatra adalah batas konvergen sepanjang 5.500 km (3.400 mi) tempat Lempeng Australia subduksi di bawah Lempeng Burma dan Lempeng Sunda dengan kecepatan 60 mm (2,4 in) per tahun. Konvergensi di sepanjang batas lempeng sangat miring, yang secara parah merusak Lempeng Sunda di atasnya, yang diakomodasi oleh gerakan geser-geser di sepanjang Patahan Besar Sumatera. Patahan Besar Sumatera adalah sistem patahan geser sepanjang 1.900 km (1.200 mi) yang terletak di Sumatra.[3] Sesar ini terbagi menjadi sekitar 20 segmen. Gempa bumi yang berhubungan dengan segmen sesar ini terjadi pada 1933, 1943, 1994, 1995 dan 2022.[4]
Gempa bumi tersebut berpusat di dekat segmen Suliti dan Siulak. Gempa bumi ini terkait dengan patahan sepanjang segmen Siulak sepanjang 70 km (43 mi) dari Patahan Besar Sumatra. Segmen Siulak juga mengalami peristiwa Mw 6.8 pada gempa bumi tahun 1995.
Kerusakan jalan, rumah, lumbung padi, dan bangunan lain sangat parah di sepanjang ruas Siulak. Pemerintah resmi melaporkan 195 orang meninggal, 4.384 bangunan hancur, dan 7.261 bangunan rusak parah. Di Dusun Lolo, beberapa rumah tetap utuh; saluran irigasi di Lempur terendam banjir. Jalan antara Sebukar dan Semerah terendam 12 m (39 ft).[5] Jalan lain antara Jujun dan Lolo amblas 3 m (9,8 ft). Penurunan tanah terjadi di Sungai Full, Semurup, Siulak Deras dan Lubuk Nagodang. Sawah dari Sebukar sampai Seleman amblas dan terendam air. Dusun-dusun di Semurup amblas dan warga harus mengungsi. Amblesan tanah di Danau Kerinci menyebabkan air membanjiri rumah-rumah.[6] Runtuhnya bangunan memicu kebakaran besar.
Tanah longsor yang meluas berdampak pada sungai dan mengubah alirannya. Beberapa anak sungai Siulak mengering. Longsor di Danau Kerinci mengubur banyak areal persawahan. Di Lolo Kecil, sebuah danau kecil muncul. Mata air panas di Semurup melebar hingga 20 m (66 ft) sementara mata air panas baru muncul.
Bangunan batu retak dan miring; pilar-pilar retak tetapi tidak jatuh di Kota Padang. Di Solok, rumah-rumah retak dan penduduk yang ketakutan berlarian keluar. Di Jambi dan Bajunglentjin, jendela berderak, lampu bergoyang, dan perabotan berguncang. Di Pulau Pandang, mercusuar berdengung dan minyak memercik dari reservoir. Getaran terasa di Pajakumbuh, Pakanbaru, Djebus, Tandjungpinang, dan Palembang. Di Singapura, penduduk terbangun karena getaran dan suara berderit. Terdengar gemuruh dan beberapa penduduk yang ketakutan lari ke jalan.[7]
Warga membangun tenda di tepi sawah mereka. Tenda yang tersedia tidak cukup untuk menampung para tunawisma dan tanah tempat tenda-tenda tersebut dibangun lembap dan menjadi tempat berkembang biaknya penyakit. Sebagai tanggapan, pemerintah Hindia Belanda membangun gubuk-gubuk yang diratakan di atas tanah. Mereka juga menggunakan dana dari departemen dalam negeri untuk memperbaiki bangunan yang rusak.