Sesuai dengan tradisi dan UU 13/2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta adalah Sultan Yogyakarta yang bertakhta, sementara wakil gubernur adalah Pangeran Paku Alam yang bertakhta. Menurut UU Nomor 22 Tahun 1948, Kepala, dan Wakil Kepala Daerah Istimewa diangkat oleh Presiden dari keturunan keluarga yang berkuasa di daerah itu,pada zaman sebelum Republik Indonesia, dan yang masih menguasai daerahnya; dengan syarat-syarat kecakapan, kejujuran, dan kesetiaan, dan dengan mengingat adat istiadat di daerah itu. Dengan demikian Kepala Daerah Istimewa, sampai tahun 1988, dijabat secara otomatis oleh Sultan Yogyakarta yang bertakhta, dan Wakil Kepala Daerah Istimewa, sampai tahun 1998, dijabat secara otomatis oleh Pangeran Paku Alam yang bertakhta. Nomenklatur Gubernur, dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa baru digunakan mulai tahun 1999 dengan adanya UU Nomor 22 Tahun 1999. Saat ini mekanisme pengisian jabatan Gubernur, dan Wakil Gubernur DIY diatur dengan UU 13/2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ꦒꦸꦧꦼꦂꦤꦸꦂꦝꦌꦫꦃꦆꦱ꧀ꦠꦶꦩꦺꦮꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠcode: jav promoted to code: jv code: jv is deprecated | |
|---|---|
| Gelar | Ingkang Sinuwun Sri Sultan (ISSS) |
| Kediaman | Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat |
| Masa jabatan | 5 tahun, diperpanjang sampai seumur hidup |
| Dibentuk | Maret 4, 1950 (1950-03-04) |
| Pejabat pertama | Hamengkubuwana IX |
| Situs web | Situs Resmi Pemda DIY |
Sesuai dengan tradisi[1] dan UU 13/2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (bahasa Jawa: ꦒꦸꦧꦼꦂꦤꦸꦂꦝꦌꦫꦃꦆꦱ꧀ꦠꦶꦩꦺꦮꦪꦺꦴꦒꦾꦏꦂꦠcode: jv is deprecated [a]) adalah Sultan Yogyakarta yang bertakhta, sementara wakil gubernur adalah Pangeran Paku Alam yang bertakhta. Menurut UU Nomor 22 Tahun 1948 (yang juga menjadi landasan UU Nomor 3 Tahun 1950 mengenai pembentukan DIY), Kepala, dan Wakil Kepala Daerah Istimewa diangkat oleh Presiden[b] dari keturunan keluarga yang berkuasa di daerah itu,[c]pada zaman sebelum Republik Indonesia, dan yang masih menguasai daerahnya; dengan syarat-syarat kecakapan, kejujuran, dan kesetiaan, dan dengan mengingat adat istiadat di daerah itu. Dengan demikian Kepala Daerah Istimewa, sampai tahun 1988, dijabat secara otomatis oleh Sultan Yogyakarta yang bertakhta, dan Wakil Kepala Daerah Istimewa, sampai tahun 1998, dijabat secara otomatis oleh Pangeran Paku Alam yang bertakhta. Nomenklatur Gubernur, dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa baru digunakan mulai tahun 1999 dengan adanya UU Nomor 22 Tahun 1999. Saat ini mekanisme pengisian jabatan Gubernur, dan Wakil Gubernur DIY diatur dengan UU 13/2012 tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Adapun daftar Kepala, dan Wakil Kepala Daerah Istimewa sebagai berikut:
| 1 | Johan Ernst Jasper | 1928 | 1929 | |
| 2 | Pieter Rudolph Wolter van Gesseler Verschuir | 1929 | 1933 | |
| 3 | Helenius Henri de Cock | 1933 | 1934 | |
| 4 | Johannes Bijleveld | 1934 | 1939 | |
| 5 | Lucien Adam | 1939 | 1942 | |
| No. | Foto | Gubernur | Mulai jabatan | Akhir jabatan | Periode | Ket. | Wakil | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | Sri Sultan Hamengkubuwono IX | 4 Maret 1950 | 3 Oktober 1988 | I | [ket. 1] [2] |
KGPAA Paku Alam VIII | ||
| 2 | Paku Alam VIII | 5 Desember 1988 | 11 September 1998 | II | [ket. 2] [ket. 3] [ket. 4] |
Lowong | ||
| 3 | Sri Sultan Hamengkubuwono X | 3 Oktober 1998 | 9 Oktober 2003 | III | [ket. 5] | |||
| 9 Oktober 2003 | 9 Oktober 2008 | IV | [ket. 6] | KGPAA Paku Alam IX (2003–15) KGPAA Paku Alam X (2016–) | ||||
| 9 Oktober 2008 | 9 Oktober 2011 | [ket. 7] | ||||||
| 9 Oktober 2011 | 9 Oktober 2012 | [ket. 8] | ||||||
| 10 Oktober 2012 | 10 Oktober 2017 | V | [ket. 9] | |||||
| 10 Oktober 2017 | 10 Oktober 2022 | VI | ||||||
| 10 Oktober 2022 | Petahana | VII | ||||||
Dalam tumpuk pemerintahan, seorang kepala daerah Yogyakarta yang meninggal dunia, maka Menteri Dalam Negeri menyiapkan penggantinya yang merupakan birokrat di pemerintah daerah atau wakil gubernur. Sejak tahun tahun 1998, walaupun jabatan gubernur Yogyakarta seumur hidup, periodisasi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta dibagi per 5 tahun 1 kali periode. Ketika periode habis, dan Gubernur belum dilantik, jabatan diisi sementara oleh birokrat provinsi.
| Potret | Pejabat | Partai | Awal | Akhir | Masa jabatan |
Periode | Gubernur definitif |
Ket. | |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Paku Alam VIII (Penjabat) |
Nonpartisan | 3 Oktober 1988 | 5 Desember 1988 | 7001630000000000000♠63 hari | I | Hamengkubuwana IX | [ket. 4][3] | ||
| Soebekti Soenarto (Pelaksana harian) |
Nonpartisan | 11 September 1998 | 3 Oktober 1998 | 7001220000000000000♠22 hari | II | Paku Alam VIII | [ket. 10][4] | ||
| Ichsanuri (Pelaksana harian) |
Nonpartisan | 9 Oktober 2012 | 10 Oktober 2012 | 1 hari | — | Hamengkubuwana X | [d][5] | ||