Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Candi Laras

Candi Laras adalah situs candi berukuran kecil yang terdapat di desa Candi Laras, Candi Laras Selatan, Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan yang ditemukan pada lokasi yang dinamakan penduduk dengan sebutan Tanah Tinggi yang terletak pada posisi koordinat 2°37′12″S 114°56′0″E. Pada situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara Guru memegang cupu, lembu Nandini dan lingga. Semuanya disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Letak candi ini tidak berada pada lokasi yang strategis, sehingga diperkirakan candi ini didirikan untuk maksud-maksud tertentu dan diperkirakan merupakan candi kenegaraan. Di dalam daerah yang berdekatan dengan candi ini, yaitu di daerah aliran sungai Amas ditemukan pula sebuah arca Buddha Dīpankara dan potongan batu yang bertuliskan aksara Pallawa yang berkaitan dengan agama Buddha, berbunyi "siddha". kalimat tersebut mengingatkan pada baris ke sepuluh prasasti kedukan bukit peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke 7 M "Sriwijaya jaya siddha yatra subhiksa". kemiripan kalimat pada kedua prasasti mungkin menunjukan adanya hubungan antara kerajaan Sriwijaya dengan Tapin. Situs purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin.

bangunan kuil di Indonesia
Diperbarui 21 November 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Untuk kegunaan lain, lihat Candi Laras.
Infotaula de geografia políticaCandi Laras
situs arkeologi
candi Suntingan nilai di Wikidata

Tempat
Wikipedia | Kode sumber | Tata penggunaan
Koordinat: 2°37′12″S 114°56′0″E / 2.62000°S 114.93333°E / -2.62000; 114.93333 
Negara berdaulatIndonesia
Provinsi di IndonesiaKalimantan Selatan
KabupatenTapin
KecamatanCandi Laras Selatan
DesaCandi Laras Suntingan nilai di Wikidata
NegaraIndonesia Suntingan nilai di Wikidata

Candi Laras adalah situs candi berukuran kecil yang terdapat di desa Candi Laras, Candi Laras Selatan, Tapin, Provinsi Kalimantan Selatan yang ditemukan pada lokasi yang dinamakan penduduk dengan sebutan Tanah Tinggi yang terletak pada posisi koordinat 2°37′12″S 114°56′0″E / 2.62000°S 114.93333°E / -2.62000; 114.93333[[Sistem koordinat geografis|Koordinat]]: <templatestyles src=\"Module:Coordinates/styles.css\"></templatestyles><span class=\"plainlinks nourlexpansion\">[https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&pagename=Candi_Laras&params=2_37_12_S_114_56_0_E_type:landmark_region:ID <span class=\"geo-default\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\"><span class=\"latitude\">2°37′12″S</span> <span class=\"longitude\">114°56′0″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\">&#xfeff; / &#xfeff;</span><span class=\"geo-nondefault\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\">2.62000°S 114.93333°E</span><span style=\"display:none\">&#xfeff; / <span class=\"geo\">-2.62000; 114.93333</span></span></span>]</span>[[Category:Pages using gadget WikiMiniAtlas]]</span>"},"html":"<span id=\"coordinates\"><a rel=\"mw:WikiLink\" href=\"./Sistem_koordinat_geografis\" title=\"Sistem koordinat geografis\" id=\"mwDw\">Koordinat</a>: <link rel=\"mw-deduplicated-inline-style\" href=\"mw-data:TemplateStyles:r28112010\" about=\"#mwt8\" typeof=\"mw:Extension/templatestyles\" data-mw='{\"name\":\"templatestyles\",\"attrs\":{\"src\":\"Module:Coordinates/styles.css\"},\"body\":{\"extsrc\":\"\"}}' id=\"mwEA\"/><span class=\"plainlinks nourlexpansion\" id=\"mwEQ\"><a rel=\"mw:ExtLink\" href=\"https://geohack.toolforge.org/geohack.php?language=id&amp;pagename=Candi_Laras&amp;params=2_37_12_S_114_56_0_E_type:landmark_region:ID\" class=\"external text\" id=\"mwEg\"><span class=\"geo-default\" id=\"mwEw\"><span class=\"geo-dms\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwFA\"><span class=\"latitude\" id=\"mwFQ\">2°37′12″S</span> <span class=\"longitude\" id=\"mwFg\">114°56′0″E</span></span></span><span class=\"geo-multi-punct\" id=\"mwFw\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwGA\"></span> / <span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwGQ\"></span></span><span class=\"geo-nondefault\" id=\"mwGg\"><span class=\"geo-dec\" title=\"Maps, aerial photos, and other data for this location\" id=\"mwGw\">2.62000°S 114.93333°E</span><span style=\"display:none\" id=\"mwHA\"><span typeof=\"mw:Entity\" id=\"mwHQ\"></span> / <span class=\"geo\" id=\"mwHg\">-2.62000; 114.93333</span></span></span></a></span><link rel=\"mw:PageProp/Category\" href=\"./Kategori:Pages_using_gadget_WikiMiniAtlas\" id=\"mwHw\"/></span>"}' id="mwIA"/>. Pada situs candi ini ditemukan potongan-potongan arca Batara Guru memegang cupu, lembu Nandini dan lingga. Semuanya disimpan di Museum Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Letak candi ini tidak berada pada lokasi yang strategis, sehingga diperkirakan candi ini didirikan untuk maksud-maksud tertentu dan diperkirakan merupakan candi kenegaraan. Di dalam daerah yang berdekatan dengan candi ini, yaitu di daerah aliran sungai Amas ditemukan pula sebuah arca Buddha Dīpankara dan potongan batu yang bertuliskan aksara Pallawa yang berkaitan dengan agama Buddha, berbunyi "siddha" (selengkapnya seharusnya berbunyi "jaya siddha yatra" artinya "perjalanan ziarah yang mendapat berkat"). kalimat tersebut mengingatkan pada baris ke sepuluh prasasti kedukan bukit peninggalan kerajaan Sriwijaya abad ke 7 M "Sriwijaya jaya siddha yatra subhiksa". kemiripan kalimat pada kedua prasasti mungkin menunjukan adanya hubungan antara kerajaan Sriwijaya dengan Tapin. Situs purbakala Candi Laras ini diperkirakan dibangun pada 1300 Masehi oleh Jimutawahana, keturunan Dapunta Hyang dari kerajaan Sriwijaya. Jimutawahana inilah yang diperkirakan sebagai nenek moyang warga Tapin.[1]

Sejarah dan fungsi

Bangunan Candi Laras sudah hancur, dan saat dilakukan penggalian hanya ditemukan sisa-sisa bata yang tidak lagi membentuk struktur, serta temuan terpisah seperti fragmen prasasti dan arca. Karena minimnya informasi yang tersedia, sulit untuk menentukan siapa yang membangun candi ini dan kapan pembangunannya dilakukan. Ekskavasi pada tahun 1997 menemukan tonggak kayu ulin yang sangat panjang. Berdasarkan temuan ini, diperkirakan Candi Laras dibangun menggunakan struktur bata yang didukung oleh balok kayu ulin.

Untuk memperkirakan usia candi, para peneliti menggunakan data arkeologi yang relevan, seperti fragmen prasasti dan arca Buddha. Berdasarkan informasi dari laman Kemdikbud, benda-benda arkeologi pendukung Candi Laras terdiri dari arca babi dari batu alam, arca Buddha Dipangkara, dan fragmen batu tulis atau prasasti. Benda-benda arkeologi ini berukuran kecil dan ditemukan cukup jauh dari lokasi situs, sekitar 450-650 meter.

Temuan arca Buddha Dīpankara

Berdasarkan penemuan benda arkeologi yang ditemukan di sekitar situs ini berasal dari abad ke-8 atau ke-9.[2]

Di daerah yang berdekatan dengan candi tersebut, yaitu di jalan Desa Baringin B dekat sungai Tambingkaran termasuk daerah aliran Sungai Amas ditemukan arca . Keadaanya sudah rusak bagian tangan kanan dan kedua kaki sudah patah. Arca Buddha itu dibuat dari bahan perunggu dengan ukuran lebar 8 cm dan tinggi 21 cm. Digambarkan berdiri memakai jubah yang disampirkan pada bahu kiri. Tangan kirinya ke depan sambil memegang ujung jubah. Wajahnya digambarkan agak bulat dengan mata sipit dan mulut dengan ujung bibirnya agak ke atas seperti pada wajah arca-arca Thailand. Melihat ciri wajahnya arca Buddha itu berlanggam Dwarawati yang berkembang pada sekitar abad ke-8 Masehi. Fragmen prasasti batu dengan tulisan beraksara Pallawa ditemukan di dasar Sungai Amas. Prasasti berbahasa Melayu Kuno ini yang berkaitan dengan “perjalanan suci”, berbunyi //… siddha…// (selengkapnya seharusnya berbunyi // jaya siddha yatra// artinya “perjalanan suci yang mendapat berhasil”). Prasasti siddhayatra ini kalau dilihat bentuk akasaranya sejaman dengan prasasti siddhayatra yang banyak ditemukan dari daerah Palembang, Dilihat dari gaya seni arca Buddha Dipaŋkara dan bentuk aksara pada fragmen prasasti diduga bahwa tempat itu sudah ada penduduk sejak abad ke-7-8 Masehi. Pada 2000 dilakukan penelitian radiokarbon C-14 dari sampel tonggak kayu ulin yang masih tertancap di lokasi aslinya, dan dihasilkan penanggalan sekitar abad ke-14 Masehi.[3] Candi Laras dibangun tahun 1400M.[4]

Pranala luar

  • http://gorden313.yolasite.com/tapin-tempo-dulu.php
  • Candi Laras, Situs Purbakala yang termarginalkan
  • Reizen en onderzoekingen in den Indischen archipel: gedaan op last ..., Volume 1 Oleh Salomon Müller
  • Video di YouTube Museum Lambung Mangkurat: CANDI LARAS

Catatan kaki

  1. ↑ (Indonesia) PENELITIAN AWAL TEMUAN PERAHU KUNA[pranala nonaktif permanen]
  2. ↑ (Inggris) Francis, Peter (2002). Asia's maritime bead trade: 300 B.C. to the present. University of Hawaii Press. hlm. 139. ISBN 9780824823320. ISBN 0-8248-2332-X
  3. ↑ https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditpcbm/2016/01/05/candi-laras/%5B%5D
  4. ↑ KODAM X. KODAM X/LM membangun. KODAM X. hlm. 555.
  • l
  • b
  • s
Candi Buddha di Indonesia
Jawa
  • Adan-adan
  • Banyunibo
  • Batujaya
  • Bojongmenje
  • Borobudur
  • Boyolangu (Candi Gayatri)
  • Brahu
  • Bubrah
  • Dawangsari
  • Gampingan
  • Jabung
  • Jago
  • Jawi
  • Kalasan
  • Lumbung
  • Mendut
  • Ngawen
  • Palgading
  • Patakan (dugaan)
  • Pawon
  • Plaosan
  • Ratu Boko
  • Sanggrahan
  • Sari
  • Sewu
  • Sojiwan
  • Sumberawan
  • Trowulan
Bali
  • Kalibukbuk
  • Pegulingan
Sumatra
  • Biaro Bahal
  • Lesung Batu
  • Muara Takus
  • Muaro Jambi
  • Sipamutung
  • Padangroco
  • Pulau Sawah
  • Tanjungmedan
Kalimantan
  • Laras
  • l
  • b
  • s
Candi & Pura di Indonesia menurut provinsi
Jawa
Banten
  • Banten Girang
  • Citaman
  • Sirit Gopar
Ja-bar
  • *Batujaya
  • *Bojongmenje
  • Cangkuang
  • Cibuaya
  • Karangkamulyan
  • Parahyangan
  • Pegulingan
  • Ronggeng
Ja-teng
  • Angin
  • Arjuna
  • Asu
  • Banon
  • Batur
  • Bima
  • *Bogang
  • *Borobudur
  • Bubrah (Jepara)
  • *Bubrah (Klaten)
  • Bulus
  • Ceto
  • Dieng
  • Dukuh
  • Dwarawati
  • Gatotkaca
  • Gedong Songo
  • Gunung Wukir
  • Gunungsari
  • Kahuripan
  • Karangnongko
  • Kethek
  • Klero
  • Kunti
  • Lawang
  • Liyangan
  • Losari
  • *Lumbung
  • Lumbung (Sengi)
  • *Mendut
  • Menggung
  • Merak
  • Miyono
  • *Ngawen
  • Ngempon
  • Pangkuan
  • *Pawon
  • Pendem
  • Planggatan
  • *Plaosan
  • Prambanan
  • Pringapus
  • Puntadewa
  • Sari Cepogo
  • Selogriyo
  • Semar
  • Sembadra
  • Setyaki
  • Sewu
  • Sirih
  • Srikandi
  • *Sojiwan
  • Sukuh
  • Umbul
  • Watu Kelir
Ja-tim
  • *Adan
  • Ananthaboga
  • Bacem
  • Badut
  • Bajang Ratu
  • Bangkal
  • Banjarsari
  • Belahan
  • Bocok
  • Boyolangu
  • *Brahu
  • Dadi
  • Deres
  • Dermo
  • Dorok
  • Gambar Wetan
  • *Gayatri
  • Gentong
  • Griya
  • Gununggangsir
  • *Jabung
  • *Jago
  • *Jawi
  • Jedong
  • Jolotundo
  • Kalicilik
  • Karang Besuki
  • Kebo Ireng
  • Kedaton
  • Kendalisada
  • Kidal
  • Kotes
  • Kumitir
  • Kunir
  • Lor
  • Mbah Blawu
  • Medalem
  • Meja
  • Mirigambar
  • Ngabab
  • Ngampel
  • Ngetos
  • Pamotan
  • Pandegong
  • Pari
  • Pataan
  • Penampihan
  • Penataran
  • Plumbangan
  • Rambut Monte
  • Rimbi
  • Sanggrahan
  • Sawentar
  • Selo Tumpuk
  • Selokelir
  • Selomangleng
  • Selomangleng
  • Simping
  • Singasari
  • Sirah Kencong
  • Songgoriti
  • Srigading
  • Sumber Agung
  • *Sumberawan
  • Sumberbeji
  • Sumberjati
  • Sumbernanas
  • Sumur
  • Surawana
  • Tapan
  • Tawangalun
  • Tegowangi
  • Tepas
  • Tikus
  • Tondowongso
  • *Trowulan
  • Wangkal
  • Watugong
  • Wayang
  • Wringin Branjang
  • Wringinlawang
Jogja (DIY)
  • Abang
  • *Banyunibo
  • Barong
  • *Dawangsari
  • *Gampingan
  • Gebang
  • Gumbirowati
  • Ijo
  • Kadisoka
  • *Kalasan
  • Keblak
  • Kedulan
  • Kimpulan
  • Klodangan
  • Mantup
  • Miri
  • Morangan
  • *Palgading
  • Payak
  • Pembakaran
  • Plembutan
  • Prambanan
  • Pringtali
  • *Ratu Boko
  • Risan
  • Sambisari
  • *Sanggrahan
  • *Sari
  • *Sewu
  • *Sojiwan
  • Singo
  • Watu Gudhig

Bali
  • Besakih
  • Batukaru
  • Bratan
  • *Kalibukbuk
  • Bukit Dharma
  • Gede Perancak
  • Goa Lawah
  • Gua Gajah
  • Gunung Kawi
  • Jagaraga
  • Kalibukbuk
  • Lempuyang Luhur
  • Mangening
  • *Pegulingan
  • Penataran AL
  • Pusering Jagat
  • Sakenan
  • Tanah Lot
  • Terunyan
  • Tirta Empul
  • Tulukbiyu
  • Uluwatu
Sumatera
Jambi
  • Kembar Batu
  • *Muaro Jambi
  • Orang Kayo Hitam
  • Solok Sipin
Sum-bar
  • Koto Rao
  • *Padangroco
  • *Pulau Sawah
  • *Tanjungmedan
Sum-sel
  • Angsoko
  • Bumiayu
  • Jepara
  • Ki Gede
  • *Lesung Batu
Sum-ut
  • *Bahal
  • Bara
  • Pulo
  • Simangambat
  • *Sipamutung
  • Sitopayan
  • Tandihat
  • Tanjung Bangun
Ba-bel
  • Kota Kapur
Riau
  • *Muara Takus
Kalimantan
Kal-bar
  • Negeri Baru
Kal-sel
  • Agung
  • *Laras
Kal-tim
  • Lesong Batu
  • Kombeng
  • Prasasti Yupa
Nusa
Tenggara
NTB
  • Batu Bolong
  • Gunung Sari
  • Lingsar
  • Meru
  • Wetu Telu
NTT
  • Giri Segara
Lihat pula: Candi Indonesia, *: Candi Buddha, Candi/kuil di luar Indonesia

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah dan fungsi
  2. Temuan arca Buddha Dīpankara
  3. Pranala luar
  4. Catatan kaki

Artikel Terkait

Kuil Hindu di Indonesia

India ke Indonesia pada abad ke-19, sejumlah kuil bergaya India didirikan di berbagai kota di Indonesia, terutama di Medan dan Jakarta. Kuil-kuil Hindu India

Horyuji

bangunan kuil di Jepang

Batu Caves

Caves (Tamil: பத்து மலை; Indonesia: Gua Batu), adalah sebuah bukit kapur, yang memiliki serangkaian gua dan kuil gua, terletak di distrik Gombak, Selangor

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026