Candi Wayang adalah salah satu situs arkeologi di kawasan lereng Gunung Penanggungan. Reruntuhan candi peninggalan dari masa Majapahit ini secara administratif berada di wilayah bukit Gadjah Mungkur, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, Propinsi Jawa Timur. Situs candi ini terkenal karena reliefnya yang bergaya seperti tokoh wayang, sehingga oleh masyarakat diberi nama candi “Wayang". Bentuk bangunannya sederhana, terbuat dari batu andesit, dan berada pada teras kecil yang menghadap lembah. Letaknya yang cukup terpencil membuat pengunjung hanya dapat mencapainya melalui jalur pendakian, sehingga suasananya tenang dan sakral, 7.605485°S 112.621598°E.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
Candi Wayang adalah salah satu situs arkeologi di kawasan lereng Gunung Penanggungan (Gunung Pawitra). Reruntuhan candi peninggalan dari masa Majapahit ini secara administratif berada di wilayah bukit Gadjah Mungkur, Desa Kunjorowesi, Kecamatan Ngoro, Mojokerto, Propinsi Jawa Timur. Situs candi ini terkenal karena reliefnya yang bergaya seperti tokoh wayang, sehingga oleh masyarakat diberi nama candi “Wayang". Bentuk bangunannya sederhana, terbuat dari batu andesit, dan berada pada teras kecil yang menghadap lembah. Letaknya yang cukup terpencil membuat pengunjung hanya dapat mencapainya melalui jalur pendakian, sehingga suasananya tenang dan sakral, 7°36′20″S 112°37′18″E / 7.605485°S 112.621598°E / -7.605485; 112.621598. [1]
Candi Wayang ini terletak pada ketinggian 1.007 mdpl (meter dari permukaan laut) dengan ukuran 6,20 meter x 5,50 meter[2], berlokasi pada lereng utara Gadjah Mungkur, salah satu bukit yang mengelilingi Gunung Penanggungan. Relief pada Candi Wayang menampilkan figur mirip manusia dan dewa dalam pose khas pewayangan, namun tidak sepenuhnya mengikuti gaya wayang kulit, karena ukirannya sudah mulai memudar. Para ahli menduga relief ini menggambarkan adegan dari kisah-kisah epos Hindu, seperti cerita Panji, Ramayana atau Mahabharata, yang pada masa Majapahit banyak diadaptasi dalam bentuk seni lokal. Pada salah satu ambang pintu gapura di kompleks candi yang lebih besar terdapat pahatan angka tahun 1308 Saka atau 1386 Masehi[1]. Fungsi candi ini diduga berkaitan dengan tempat pertapaan, mengingat Gunung Penanggungan dikenal sebagai pusat mandala dan tempat para resi memperdalam tapa-brata.
Dari delapan trail pendakian di wilayah Gunung Penanggungan, trail nomer 5 dengan jarak 3,4 kilometer dan waktu tempuh sekitar tiga sampai empat jam menghubungan wilayah Telogo - Candi Kerajaan - Candi Dharmawangsa - Candi Gajah - Candi Wayang, dan kembali lagi ke daerah Telogo. Candi Wayang yang menghadap ke timur ini merupakan bagian dari puluhan situs lain di lereng Penanggungan, menunjukkan kompleksitas keagamaan pada masa akhir kerajaan Majapahit. Hingga kini, keberadaan candi tersebut menjadi bukti penting hubungan antara tradisi Hindu-Jawa, seni relief, dan spiritualitas gunung dalam kebudayaan Jawa Timur.[3]