Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Garuda Indonesia Penerbangan 206

Garuda Indonesia Penerbangan 206 atau juga dikenal dengan sebutan Peristiwa Woyla adalah penerbangan Garuda Indonesia yang dibajak pada tanggal 28 Maret 1981, oleh Komando Jihad di Indonesia. Pesawat McDonnell Douglas DC-9 PK-GNJ dibajak dalam penerbangan domestik dan dipaksa mendarat di Bandar Udara Internasional Don Mueang di Bangkok, Thailand. Para pembajak menuntut pembebasan rekan-rekan mereka dari penjara Indonesia dan mengeluarkan tuntutan-tuntutan lainnya. Tiga hari kemudian, pesawat tersebut diserbu oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Dalam operasi berikutnya, kelima pembajak tewas, sementara pilot dan satu anggota Kopassus terluka parah. Semua penumpang berhasil diselamatkan.

Insiden pembajakan pesawat udara pada 1981
Diperbarui 4 Februari 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Garuda Indonesia Penerbangan 206
Garuda Indonesia Penerbangan 206
Pesawat DC-9 yang terlibat dalam insiden tersebut, terlihat empat tahun kemudian, dalam pelayanan dengan Aero Lloyd
Ringkasan pembajakan
Tanggal28 Maret 1981
RingkasanPembajakan
LokasiBandar Udara Internasional Don Mueang, Bangkok, Thailand
Penumpang48
Awak5
Cedera2
Tewas7 (5 pembajak, 1 komando, dan pilot)
Selamat46
Jenis pesawatMcDonnell Douglas DC-9-32
Nama pesawatWoyla
OperatorGaruda Indonesia
RegistrasiPK-GNJ
AsalBandar Udara Internasional Kemayoran, Jakarta
PerhentianBandar Udara Talang Betutu, Palembang
TujuanBandar Udara Internasional Polonia, Medan

Garuda Indonesia Penerbangan 206 atau juga dikenal dengan sebutan Peristiwa Woyla adalah penerbangan Garuda Indonesia yang dibajak pada tanggal 28 Maret 1981, oleh Komando Jihad di Indonesia. Pesawat McDonnell Douglas DC-9 PK-GNJ dibajak dalam penerbangan domestik dan dipaksa mendarat di Bandar Udara Internasional Don Mueang di Bangkok, Thailand. Para pembajak menuntut pembebasan rekan-rekan mereka dari penjara Indonesia dan mengeluarkan tuntutan-tuntutan lainnya. Tiga hari kemudian, pesawat tersebut diserbu oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Dalam operasi berikutnya, kelima pembajak tewas, sementara pilot dan satu anggota Kopassus terluka parah. Semua penumpang berhasil diselamatkan.

Kejadian

McDonnell Douglas DC-9 yang diberi nama Woyla dijadwalkan lepas landas dari Bandar Udara Talang Betutu di Palembang, Sumatera Selatan, pada Sabtu pagi, 28 Maret 1981. Pilotnya adalah Kapten Herman Rante. Pesawat berangkat dari Bandar Udara Internasional Kemayoran di Jakarta pada pukul 08.00 dan dijadwalkan tiba di Bandar Udara Internasional Polonia di Medan, Sumatera Utara, pada pukul 10.55. Setelah lepas landas, lima pria dengan senapan kisar berdiri dari tempat duduk mereka. Beberapa menodongkan senjata ke arah pilot, sementara yang lainnya berpatroli di lorong, mengawasi para penumpang. Mereka menuntut pilot untuk terbang ke Kolombo, Sri Lanka, tetapi pesawat tidak memiliki cukup bahan bakar, sehingga mereka mengisi bahan bakar di Bandar Udara Internasional Pulau Pinang di Bayan Lepas, Malaysia. Saat mengisi bahan bakar, para pembajak mengeluarkan seorang wanita tua bernama Hulda Panjaitan dari pesawat karena dia terus menangis.

Selanjutnya, pesawat lepas landas dan mendarat di Bandara Don Mueang di Bangkok. Sesampainya di sana, para pembajak membacakan tuntutan mereka. Tuntutan utama mereka adalah pembebasan 80 orang yang baru-baru ini dipenjara di Indonesia setelah "Peristiwa Cicendo" dua minggu sebelumnya, di mana kelompok Islamis menyerang kantor polisi di kecamatan Cicendo, Bandung. Para pembajak juga menuntut uang sebesar US$1,5 juta, agar Adam Malik diberhentikan dari jabatan Wakil Presiden Indonesia, dan agar semua orang Israel dideportasi dari Indonesia. Mereka juga menuntut pembebasan salah satu rekan mereka di sebuah lokasi rahasia. Para pembajak mengatakan kepada polisi Thailand untuk menyampaikan tuntutan mereka kepada pemerintah Indonesia, dan mengancam akan meledakkan pesawat beserta seluruh penumpang dan kru pesawat jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Kisah tersebut bermula pada 28 Maret 1981, ketika sebuah pesawat Garuda DC-9 Woyla dengan rute penerbangan Jakarta – Medan dibajak saat transit di Palembang. Pembajak yang menyamar sebagai penumpang tersebut terdiri dari lima orang. Para pembajak yang menyebut dirinya sebagai Komando Jihad memaksa kapten Pilot Herman Rante dengan todongan pistol agar mengalihkan penerbangan ke Colombo, Srilangka. Karena kehabisan bahan bakar, pesawat sempat mendarat di Bandara Penang, Malaysia untuk mengisi bahan bakar selanjutnya mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Selama empat hari drama pembajakan berlangsung di Bandara Don Mueang, Bangkok. Pembajak yang dipimpin oleh Imran bin Muhammad Zein tersebut menuntut pemerintah Indonesia agar membebaskan 80 angggota kelompok Komando Jihad yang telah ditangkap karena beberapa kasus atau teror yang mereka lakukan. Seperti kasus Cicendo yang terjadi pada 11 Maret 1981 dimana 14 anggota Komando Jihad telah membuh empat anggota Polri. Selain itu, pembajak juga menuntut tebusan berupa uang tunai USD1,5 juta. Mereka juga meminta pesawat untuk pembebasan tahanan dan terbang ke tujuan yang dirahasiakan. Di samping itu mereka juga mengancam telah memasang bom di pesawat Woyla dan tidak segan untuk meledakkan diri bersama pesawat tersebut.

Tuntutan pembajak/teroris tersebut tidak dipenuhi pemerintah Indonesia. Pemerintah menjawab tuntutan tersebut dengan melakukan aksi militer guna membebaskan para sandera. Dalam upaya membebaskan para sandera, pada 29 Maret 1981 di Mako Kopassandha Cijantung, dibentuk satu tim pembebasan sandera yang dipimpin oleh Letkol Inf Sintong Pandjaitan. Salah satu prajurit terbaik dan terpilih untuk melaksanakan misi itu adalah Capa Ahmad Kirang. Sebagai prajurit Komando, maka tugas adalah kehormatan. Tidak ada kata ragu dan terdadak bagi Capa Ahmad Kirang dan sekitar 30 prajurit Kopassandha lainnya karena sebagai prajurit satuan tempur, mereka siap ditugaskan kemanapun dan kapanpun juga bila negara membutuhkannya. Pada 30 Maret 1981 Tim Kopassandha yang ditugaskan sebagai pasukan antiteror itu diberangkatkan menuju Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand dengan misi membebaskan sandera. Drama pembajakan penumpang pesawat Woyla yang menegangkan itupun akhirnya berakhir dengan upaya pembebasan sandera yang dilakukan Tim Kopassandha, yang dipimpin Letjen TNI (Purn) Sintong Pandjaitan yang saat itu masih berpangkat Letkol Inf pada 31 Maret 1981. Dalam misi tersebut Capa Ahmad Kirang yang mendapat tugas bersama Pelda Pontas Lumban Tobing dengan penuh keberanian dan tanpa keraguan melakukan aksi terobos memasuki pesawat melalui pintu utama belakang pesawat sesuai dengan instruksi komando pada jam 02.45 dini hari. Tugas itu berhasil dilakukan dengan mendobrak pintu hingga terjadi aksi tembak menembak selama 3 menit antara teroris/pembajak dengan personel Kopassandha. Dalam waktu bersamaan tim lainnya juga menyerbu melalui pintu samping yang juga langsung terlibat dalam baku tembak dengan teroris. Dalam baku tembak tersebut Capa Ahmad Kirang dan rekannya Pelda Pontas Lumban Tobing yang awalnya sempat kesulitan membedakan mana yang teroris dan penumpang terkena terkena tembakan. Sedangkan dipihak pembajak sebanyak empat teroris berhasil dilumpuhkan dan tewas di lokasi kejadian. Cerita Pembebasan Sandera Woyla, Calon Perwira Kopassus Ini Gugur Ditembak Pembajak Garuda Namun nahas, Capa Ahmad Kirang tertembak diperut bagian bawah yang tidak tertutup rompi antipeluru yang dikenakan sehingga tubuhnya luka bersimbah darah. Walau sempat dilarikan ke rumah sakit Bangkok namun nyawanya tidak dapat diselamatkan. Ahmad Kirang gugur dalam menjalankan tugas mulia menyelamatkan sandera. Sedangkan rekannya Pelda Pontas Lumban Tobing yang tertembak di bagian rusuk dan tangan, nyawanya masih tertolong dan selanjutnya menjalani perawatan di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Saat upaya pembebasan berlangsung ketika para penumpang diminta turun, salah seorang pembajak yang diketahui bernama Zulfikar sempat melemparkan granat tangan untuk meledakkan pesawat berikut penumpang. Namun karena pin granat tidak sempurna tercabut maka granat tidak jadi meledak, penumpang dan pesawat pun selamat. Letkol Inf Sintong Pandjaitan dalam memoarnya menuturkan, Ahmad Kirang masuk melalui pintu belakang dimana tangga diturunkan secara elektrik. Proses turunnya tangga pesawat memerlukan waktu karena harus mengikuti ritme mekanik. Proses turunnya tangga pintu belakang yang memakan waktu memberikan kesempatan bagi pembajak yang duduk di bagian belakang kanan pesawat untuk bersiap menembak.

Begitu tangga turun, maka Capa Ahmad Kirang diikuti oleh penyergap 2 dengan cepat menaiki tangga pesawat untuk menyerbu. Setelah Capa Kirang muncul di dalam kabin pesawat, dia terkena tembakan pistol di bagian perut yang tidak terlindungi rompi antipeluru. Pemegang sabuk hitam Karateka Dan I itu langsung jatuh. Mungkin rompi antipeluru yang dikenakan oleh Capa Kirang bukan rompi versi militer sehingga hanya melindungi badan sampai di pinggang. Sedangkan Pilot Herman Rante yang juga tertembak teroris sempat diupayakan pertolongan pertama dengan melarikannya ke rumah sakit Bangkok namun nyawanya tidak tertolong. Peristiwa pembebasan yang dikenal dengan sebutan Operasi Woyla telah mengharumkan nama Indonesia di hadapan dunia internasional. Dunia mengakui kehebatan prajurit TNI AD sebab pembebasan tersebut salah satu yang tercepat di dunia yakni hanya berlangsung sekitar 3 menit saja. Akan tetapi Indonesia khususnya TNI AD dihari yang penuh pujian itu juga bersedih sebab salah seorang prajurit terbaiknya gugur dalam peristiwa tersebut. Atas keberanian dan kepahlawanannya yang ditujukkan Capa Ahmad Kirang, pemerintah menganugerahi almarhum Bintang Sakti Mahawira Ibu Pertiwi sesuai Kepres No. 013/TK/Tahun 1981 tanggal 2 April 1981 dan kenaikan pangkatnya dua tingkat secara anumerta. Sedangkan tim lainnya memperoleh Bintang Sakati Mahawira Ibu Pertiwi dan kenaikan pangkat luar biasa satu tingkat lebih tinggi dari pangkat semula. Dengan upacara militer, pada 2 April 1981 jasad Lettu Anumerta Ahmad Kirang dimakamkan di Taman Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan.

Operasi Woyla

Operasi Woyla
Tanggal1 April 1981
LokasiBandar Udara Internasional Don Mueang, Bangkok, Thailand
Hasil Kemenangan Kopassus dan RTAF
Pihak terlibat
Indonesia Indonesia
Thailand Thailand
Komando Jihad
Tokoh dan pemimpin
Indonesia Jenderal L. B. Moerdani
Indonesia Letnan Kolonel Sintong Panjaitan
Imran bin Muhammad Zein  Menyerah
Pasukan
  • Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat
    • Kopassus
  • RTAF
    • Resimen Operasi Khusus
Tidak ada unit khusus
Kekuatan
35 prajurit Kopassus
20 prajurit RTAF
5 pembajak
Korban
1 prajurit tewas 4 pembajak tewas (1 tewas dalam penerbangan kembali ke Jakarta)

Wakil Panglima TNI, Laksamana Sudomo, segera memerintahkan Kopassus TNI Angkatan Darat, untuk melakukan penyerbuan kontra teroris untuk menyelamatkan para sandera. Pasukan komando meminjam sebuah pesawat McDonnell Douglas dari Garuda Indonesia yang mirip dengan pesawat yang dibajak selama tiga hari untuk melatih penyerbuan. Tim ini dipersenjatai dengan senjata baru, termasuk Heckler & Koch MP5. Mereka berangkat ke Thailand dengan menggunakan pesawat McDonnell Douglas DC-10 milik Garuda Indonesia. Pada hari Senin, 31 Maret 1981, tim telah siap, tetapi pemerintah Thailand tidak memberikan izin bagi pasukan Indonesia untuk mengambil alih pesawat tersebut karena pesawat itu berada di wilayah Thailand. Dalam keputusasaan, Kepala Badan Intelijen Strategis Indonesia, Benny Moerdani, menghubungi seorang teman di kantor CIA di Bangkok untuk membujuk pemerintah Thailand agar memberikan izin.

Pemerintah Thailand akhirnya menyetujui penyerbuan tersebut dengan bantuan Resimen Pasukan Keamanan Angkatan Udara Thailand (SFR). Pada hari Selasa, 31 Maret, tim memulai operasi penyelamatan sandera dengan membagi diri menjadi tiga kelompok: Tim Merah, Tim Biru, dan Tim Hijau. Tim Merah dan Biru berada di bagian belakang pesawat, sementara Tim Hijau masuk dari pintu belakang pesawat. Anggota tim SFR Thailand diposisikan di landasan pacu jika pembajak mencoba melarikan diri. Ketika tim Kopassus memasuki pesawat, para pembajak terkejut dan menembaki tim, tetapi tiga pembajak tewas ketika tim membalas tembakan. Dua orang anggota Kopassus tertembak, satu orang meninggal atas nama Capa Ahmad Kirang dan satu lainnya selamat atas nama Pelda Pontas Lumban Tobing begitu juga dengan pilotnya meninggal atas nama Herman Rante. Sisa sandera lainnya dibebaskan tanpa cedera. Dua dari pembajak menyerahkan diri kepada pasukan komando Thailand, tetapi mereka dibunuh di luar hukum oleh pasukan komando Kopassus dalam perjalanan kembali ke Jakarta.[1]

Akibat

Achmad Kirang, anggota tim Kopassus yang terluka akibat tertembak di bagian abdomen, meninggal dunia keesokan harinya pada tanggal 1 April 1981 di Rumah Sakit Bhumibol Adulyadej di Bangkok. Kapten Herman Rante, pilot pesawat yang tertembak dalam baku tembak, juga meninggal di Bangkok beberapa hari kemudian. Jenazah Kirang dan Rante diterbangkan dari Bangkok ke Jakarta, di mana keduanya kemudian dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Pelda Pontas Lumban Tobing, Anggota Tim Kopassus yang tertembak 2 peluru dibagian perut & tangan selamat dan sempat dirawat di bangkok kemudian meneruskan perawatan di RSPAD - Jakarta

Seluruh anggota Kopassus, termasuk pemimpinnya Letnan Kolonel Sintong Panjaitan, dianugerahi Bintang Sakti oleh pemerintah Indonesia dan naik pangkat. Achmad Kirang secara anumerta mendapat kenaikan pangkat dua kali lipat.[2]

Garuda Indonesia tetap mengoperasikan nomor penerbangan 206 per Maret 2024, yang kini melayani rute Jakarta-Yogyakarta dengan menggunakan armada Boeing 737-800.[3]

Dalam budaya populer

Sebuah film yang didasarkan pada insiden tersebut dijadwalkan untuk diproduksi pada tahun 2014, sayangnya film tersebut dibatalkan.[4]

Lihat pula

  • Peristiwa Cicendo
  • Terorisme di Indonesia
  • Komando Pasukan Khusus
  • Satuan 81/Penanggulangan Teror
  • Leonardus Benyamin Moerdani

Pranala luar

  • "Operasi Woyla" Diarsipkan 2023-02-03 di Wayback Machine. situs blogger di wordpress.com.
  • Letkol Inf. Anas Kesdali. Tiga Menit Yang Menentukan di Don Muang. Majalash Senakatha No 8 April 1990. Pusat Sejarah dan Tradisi ABRI http://sejarah-tni.mil.id/wp-content/uploads/2017/04/SENAKATHA-08.pdf%5B%5D

Referensi

  1. ↑ Conboy, Kenneth J. (2003). Kopassus : Inside Indonesia's Special Forces (Edisi 1st Equinox ed. 2003). Jakarta: Equinox Pub. hlm. 280–289. ISBN 978-9799589880. OCLC 51242376.
  2. ↑ B Wiwoho (2016). Operasi Woyla - Pembebasan Pembajakan Pesawat Garuda Indonesia. Kompas Gramedia Group. hlm. 151. ISBN 978-602-412-122-8.
  3. ↑ "GA206 (GIA206) Garuda Indonesia Flight Tracking and History". FlightAware (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 17 January 2023.
  4. ↑ Mappapa, Pasti Liberti (5 October 2016). "Film Operasi Woyla Terhambat Dana". Diakses tanggal 1 December 2021.
  • l
  • b
  • s
Garuda Indonesia
Nama terdahulu
  • Garuda Indonesian Airways
Layanan
  • Armada
  • Kota tujuan
Anak perusahaan
  • Aerowisata
  • Citilink
  • GMF AeroAsia
Kecelakaan dan insiden
  • GA708 (1967)
  • GA892 (1968)
  • Martinair 138 (1974)
  • GA150 (1975)
  • Loftleiðir 001 (1978)
  • Musibah Fokker F28 (1979)
  • GA206 (1981)
  • Musibah Fokker F28 (1982)
  • GA035 (1987)
  • GA865 (1996)
  • GA152 (1997)
  • GA421 (2002)
  • GA200 (2007)
  • l
  • b
  • s
Terorisme di Indonesia
Sebelum 2000
  • Masjid Nurul Iman Padang 1976
  • Cicendo 1981
  • Garuda Indonesia Penerbangan 206 1981
  • Candi Borobudur 1985
2000–2009
  • Konsulat Filipina 2000
  • Bursa Efek Jakarta 2000
  • Malam Natal 2000
  • Plaza Atrium 2001
  • Gereja Santa Anna dan HKBP 2001
  • Tahun Baru 2002
  • Bali 2002
  • Makassar 2002
  • Kompleks Mabes Polri 2003
  • Bandara Soekarno-Hatta 2003
  • JW Marriott 2003
  • Palopo 2004
  • Kedubes Australia 2004
  • Bali 2005
  • Tentena 2005
  • Palu 2005
  • Jakarta 2009
2010–2019
  • Cirebon 2011
  • Gading Serpong 2011
  • Solo 2011
  • Jakarta 2016
  • Solo 2016
  • Samarinda 2016
  • Singkawang 2016
  • Bandung 2017
  • Jakarta 2017
  • Depok 2018
  • Surabaya 2018
  • Riau 2018
  • Sibolga 2019
  • Percobaan pembunuhan Wiranto 2019
  • Medan 2019
2020–2029
  • Sigi 2020
  • Makassar 2021
  • Mabes Polri 2021
  • Istana Negara 2022
  • Bandung 2022
  • Jakarta 2025
  • Kubu Raya 2026
  • l
  • b
  • s
Bencana alam, kecelakaan, dan kerusuhan di Indonesia tahun 1980-1989
Bencana alam
Gempa bumi
  • Gempa bumi Irian Jaya 1981
  • Gempa bumi Flores 1982
  • Gempa bumi Sumatera Utara 1984
  • Gempa bumi Papua Barat 1989
Gunung meletus
  • Letusan Gunung Galunggung 1982
Kecelakaan
Kereta api
  • Tabrakan kereta api Kebasen 1981
  • Tabrakan kereta api Bintaro 1987
Pesawat terbang
  • Garuda Indonesia 206
  • Musibah Fokker F28 Garuda Indonesia 1982
  • Garuda Indonesia Penerbangan 035
Kapal
  • KMP Tampomas 1981
Kerusuhan
  • Peristiwa Lapangan Banteng 1982
  • Peristiwa Tanjung Priok 1984
  • Kerusuhan rasial Jawa Tengah 1980
Lain-lain
  • Petisi 50 1980
  • Peristiwa Cicendo 1981
  • Pengeboman Borobudur 1985
  • Kasus Setiabudi 13
  • Kasus biskuit beracun 1989
  • Peristiwa Talangsari 1989
◀ 1970-an 1990-an ▶
Ikon rintisan

Artikel bertopik peristiwa ini adalah sebuah rintisan. Anda dapat membantu Wikipedia dengan mengembangkannya.

  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Kejadian
  2. Operasi Woyla
  3. Akibat
  4. Dalam budaya populer
  5. Lihat pula
  6. Pranala luar
  7. Referensi

Artikel Terkait

Pembajakan pesawat

Pembajakan pesawat (atau disebut juga pembajakan udara dan perompakan pesawat) adalah pengambilan alih sebuah pesawat terbang, oleh satu orang atau berkelompok

Daftar kecelakaan dan insiden pesawat penumpang

artikel daftar Wikimedia

Daftar kecelakaan dan insiden pesawat penumpang di Indonesia

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026