Waktu adalah perkembangan keberadaan yang berkelanjutan yang terjadi dalam urutan yang tampaknya ireversibel dari masa lalu, melalui masa kini, dan menuju masa depan. Waktu menentukan segala bentuk tindakan, usia, dan kausalitas, menjadi besaran komponen dari berbagai pengukuran yang digunakan untuk mengurutkan peristiwa, untuk membandingkan durasi peristiwa, dan untuk mengkuantifikasi laju perubahan besaran dalam realitas material atau dalam pengalaman sadar. Waktu sering disebut sebagai dimensi keempat, bersama dengan tiga dimensi spasial.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Waktu |
|---|
Waktu adalah perkembangan keberadaan yang berkelanjutan yang terjadi dalam urutan yang tampaknya ireversibel dari masa lalu, melalui masa kini, dan menuju masa depan.[1][2][3] Waktu menentukan segala bentuk tindakan, usia, dan kausalitas, menjadi besaran komponen dari berbagai pengukuran yang digunakan untuk mengurutkan peristiwa, untuk membandingkan durasi peristiwa (atau interval di antara keduanya), dan untuk mengkuantifikasi laju perubahan besaran dalam realitas material atau dalam pengalaman sadar.[4][5][6][7] Waktu sering disebut sebagai dimensi keempat, bersama dengan tiga dimensi spasial.[8]
Waktu terutama diukur dalam rentang atau periode linier, diurutkan dari yang terpendek hingga terpanjang. Pengukuran waktu praktis pada skala manusia dilakukan dengan menggunakan jam dan kalender, yang mencerminkan hari 24 jam yang dikumpulkan menjadi tahun 365 hari yang terikat dengan gerakan astronomi Bumi. Sebaliknya, pengukuran waktu ilmiah bervariasi mulai dari waktu Planck pada skala terpendek hingga miliaran tahun pada skala terpanjang. Waktu yang dapat diukur diyakini secara efektif dimulai bersamaan dengan terjadinya Ledakan Dahsyat 13,8 miliar tahun lalu, yang tercakup dalam kronologi alam semesta. Fisika modern memahami bahwa waktu tidak dapat dipisahkan dari ruang dalam konsep ruang waktu yang dijelaskan oleh teori relativitas umum.[9] Oleh karena itu, waktu dapat mengalami dilatasi oleh kecepatan dan materi sehingga berlalu lebih cepat atau lebih lambat bagi pengamat eksternal, meskipun efek ini dianggap dapat diabaikan di luar kondisi ekstrem, yaitu pada kecepatan relativistik atau tarikan gravitasi lubang hitam.
Sepanjang sejarah, waktu telah menjadi subjek kajian penting dalam agama, filsafat, dan sains. Pengukuran temporal telah menyibukkan para ilmuwan dan teknolog, serta menjadi konsep utama dalam bidang navigasi dan astronomi. Waktu juga memiliki kepentingan sosial yang signifikan, dengan memiliki nilai ekonomi ("waktu adalah uang") serta nilai personal, yang didasari oleh kesadaran akan terbatasnya waktu di setiap hari ("carpe diem") dan dalam rentang hidup manusia.
Konsep waktu bisa menjadi hal yang kompleks. Terdapat berbagai macam gagasan, dan pendefinisian waktu dengan cara yang dapat diterapkan pada semua bidang tanpa adanya sirkularitas secara konsisten terus luput dari para cendekiawan.[7][10][11] Meskipun demikian, berbagai bidang seperti bisnis, industri, olahraga, sains, dan seni pertunjukan, semuanya memasukkan semacam gagasan tentang waktu ke dalam sistem pengukuran mereka masing-masing.[12][13][14] Definisi tradisional mengenai waktu melibatkan pengamatan terhadap gerak periodik, seperti gerak semu matahari melintasi langit, fase-fase bulan, dan ayunan pendulum yang berayun bebas. Sistem yang lebih modern meliputi Sistem Pemosisi Global, sistem satelit lainnya, Waktu Universal Terkoordinasi, dan waktu surya rata-rata. Meskipun sistem-sistem ini berbeda satu sama lain, dengan pengukuran yang cermat, semuanya dapat disinkronkan.
Dalam bidang fisika, waktu adalah konsep fundamental untuk mendefinisikan besaran-besaran lainnya, seperti kecepatan. Untuk menghindari definisi yang melingkar,[15] waktu dalam fisika didefinisikan secara operasional sebagai "apa yang dibaca oleh sebuah jam", khususnya berupa hitungan peristiwa yang berulang seperti detik SI.[6][16][17] Meskipun hal ini membantu dalam pengukuran praktis, hal ini tidak menjawab esensi dari waktu itu sendiri. Para fisikawan mengembangkan konsep kontinum ruang waktu, di mana setiap peristiwa ditetapkan dengan empat koordinat: tiga untuk ruang dan satu untuk waktu. Peristiwa-peristiwa seperti tabrakan partikel, supernova, atau peluncuran roket memiliki koordinat yang dapat bervariasi bagi pengamat yang berbeda, sehingga membuat konsep seperti "sekarang" dan "di sini" bersifat relatif. Dalam relativitas umum, koordinat-koordinat ini tidak secara langsung berkorespondensi dengan struktur kausal dari peristiwa tersebut. Sebaliknya, interval ruang waktu dihitung dan diklasifikasikan sebagai bak-ruang (space-like) atau bak-waktu (time-like), bergantung pada apakah ada pengamat yang akan mengatakan bahwa peristiwa-peristiwa tersebut dipisahkan oleh ruang atau oleh waktu.[18] Karena waktu yang dibutuhkan cahaya untuk menempuh jarak tertentu adalah sama bagi semua pengamat—sebuah fakta yang pertama kali didemonstrasikan secara publik melalui eksperimen Michelson-Morley—semua pengamat akan secara konsisten menyepakati definisi waktu sebagai sebuah relasi kausal.[19]
Relativitas umum tidak membahas sifat dasar waktu pada interval yang sangat kecil di mana mekanika kuantum berlaku. Dalam mekanika kuantum, waktu diperlakukan sebagai parameter yang universal dan absolut, berbeda dengan gagasan relativitas umum mengenai jam yang independen. Masalah waktu terdiri dari upaya untuk merekonsiliasi kedua teori ini.[20] Hingga tahun 2025, belum ada teori relativitas umum kuantum yang diterima secara luas.[21]

Metode pengukuran waktu, atau kronometri, umumnya mengambil dua bentuk. Bentuk pertama adalah kalender, sebuah alat matematis untuk mengatur interval waktu di Bumi,[22] yang dirujuk untuk periode yang lebih lama dari satu hari. Bentuk kedua adalah jam, sebuah mekanisme fisik yang menunjukkan berlalunya waktu, yang dirujuk untuk periode kurang dari satu hari. Kombinasi pengukuran ini menandai momen spesifik dalam waktu dari sebuah titik referensi, atau epos.
Waktu adalah satu dari tujuh besaran fisik fundamental baik dalam Sistem Satuan Internasional (SI) maupun Sistem Besaran Internasional. Satuan waktu pokok SI adalah detik, yang didefinisikan dengan mengukur frekuensi transisi elektronik dari atom-atom sesium.
Berbagai artefak dari zaman Paleolitikum menunjukkan bahwa bulan telah digunakan untuk memperhitungkan waktu setidaknya sejak 6.000 tahun yang lalu.[23][diperdebatkan ] Kalender lunar adalah salah satu yang pertama kali muncul, dengan panjang satu tahun terdiri dari 12 atau 13 bulan lunar (berkisar antara 354 atau 384 hari). Tanpa adanya interkalasi untuk menambahkan hari atau bulan pada tahun-tahun tertentu, musim akan bergeser dengan cepat dalam kalender yang semata-mata didasarkan pada dua belas bulan lunar. Kalender lunisolar memiliki bulan ketigabelas yang ditambahkan pada tahun-tahun tertentu untuk menutupi selisih antara satu tahun penuh (sekarang diketahui sekitar 365,24 hari) dan tahun yang hanya terdiri dari dua belas bulan lunar. Angka dua belas dan tiga belas kemudian menjadi sangat menonjol di banyak kebudayaan, setidaknya sebagian dikarenakan oleh hubungan antara bulan dan tahun ini.
Bentuk kalender awal lainnya berasal dari Mesoamerika, khususnya dalam peradaban Maya kuno, di mana mereka mengembangkan kalender Maya, yang terdiri dari berbagai kalender yang saling berhubungan. Kalender-kalender ini didasarkan pada agama dan astronomi; kalender Haab' memiliki 18 bulan dalam setahun dan 20 hari dalam sebulan, ditambah lima hari epagomenal di akhir tahun.[24] Bersamaan dengan itu, suku Maya juga menggunakan kalender suci 260 hari yang disebut Tzolk'in.[25]
Reformasi Julius Caesar pada tahun 45 SM menempatkan dunia Romawi pada sebuah kalender surya. Kalender Julian ini memiliki kelemahan karena interkalasinya masih memungkinkan titik balik matahari dan ekuinoks astronomis untuk mendahuluinya sekitar 11 menit per tahun. Paus Gregorius XIII memperkenalkan koreksi pada tahun 1582; kalender Gregorian hanya diadopsi secara perlahan oleh berbagai negara selama berabad-abad, tetapi kini kalender tersebut menjadi kalender yang sejauh ini paling umum digunakan di seluruh dunia.
Selama Revolusi Prancis, jam dan kalender baru diciptakan sebagai bagian dari dekristenisasi Prancis dan untuk menciptakan sistem yang lebih rasional guna menggantikan kalender Gregorian. Hari-hari dalam Kalender Republik Prancis terdiri dari sepuluh jam, dengan seratus menit per jam, dan seratus detik per menit, yang menandai penyimpangan dari sistem basis 12 (duodesimal) yang digunakan dalam banyak perangkat lain oleh berbagai kebudayaan. Sistem tersebut dihapuskan pada tahun 1806.[26]


Berbagai macam perangkat telah diciptakan untuk mengukur waktu. Ilmu yang mempelajari perangkat-perangkat ini disebut horologi.[27] Perangkat-perangkat tersebut dapat digerakkan oleh berbagai cara, termasuk gravitasi, pegas, dan berbagai bentuk tenaga listrik, serta diatur dengan bermacam cara.
Jam matahari adalah perangkat apa pun yang menggunakan arah sinar matahari untuk memproyeksikan bayangan dari sebuah gnomon ke atas serangkaian tanda yang dikalibrasi untuk menunjukkan waktu setempat, biasanya dalam satuan jam. Gagasan untuk membagi hari menjadi bagian-bagian yang lebih kecil dikreditkan kepada bangsa Mesir karena jam matahari mereka, yang beroperasi pada sistem duodesimal. Pentingnya angka 12 dikarenakan oleh jumlah siklus bulan dalam setahun dan jumlah bintang yang digunakan untuk menghitung berlalunya malam.[28] Obelisk yang dibuat sebagai gnomon dibangun sejak sekitar ca 3500 SM.[29] Sebuah perangkat Mesir yang berasal dari sekitar ca 1500 SM, dengan bentuk yang mirip dengan penggaris T yang bengkok, juga mengukur berlalunya waktu dari bayangan yang diproyeksikan oleh palang silangnya pada penggaris nonlinier. Huruf T tersebut dihadapkan ke arah timur pada pagi hari. Pada siang hari, perangkat tersebut diputar sehingga dapat memproyeksikan bayangannya ke arah petang.[30]
Jam weker dilaporkan pertama kali muncul di Yunani kuno ca 250 SM melalui jam air buatan Plato yang dapat membunyikan peluit.[31] Alarm hidrolik tersebut bekerja dengan cara mengisi serangkaian bejana dengan air secara bertahap. Setelah beberapa waktu, air tersebut akan terkuras melalui sebuah sifon.[32] Penemu bernama Ktesibios merevisi desain Plato; jam air tersebut menggunakan pelampung sebagai sistem penggerak dayanya dan menggunakan jam matahari untuk mengoreksi laju aliran airnya.[33]
Dalam tulisan-tulisan filosofis abad pertengahan, atom adalah satuan waktu yang merujuk pada pembagian waktu terkecil yang mungkin dilakukan. Kemunculan terawal yang diketahui dalam bahasa Inggris terdapat pada Enchiridion (sebuah teks sains) karya Byrhtferth dari tahun 1010–1012,[34] di mana istilah tersebut didefinisikan sebagai 1/564 dari sebuah momentum (1½ menit),[35] dan dengan demikian setara dengan 15/94 detik. Istilah ini digunakan dalam computus, yaitu proses perhitungan tanggal Paskah. Perangkat pengukur waktu paling presisi di dunia kuno adalah jam air, atau klepsidra, yang salah satunya ditemukan di makam firaun Mesir Amenhotep I. Alat ini dapat digunakan untuk mengukur jam bahkan pada malam hari tetapi membutuhkan perawatan manual untuk mengisi kembali aliran airnya. Orang-orang Yunani kuno dan masyarakat dari Kaldea (Mesopotamia tenggara) secara teratur memelihara catatan pengukuran waktu sebagai bagian penting dari pengamatan astronomi mereka. Para penemu dan insinyur Arab, secara khusus, melakukan perbaikan pada penggunaan jam air hingga Abad Pertengahan.[36] Pada abad ke-11, para penemu dan insinyur Tiongkok menciptakan jam mekanik pertama yang digerakkan oleh mekanisme pelepas (escapement).

Dupa dan lilin dahulu, dan sekarang, lazim digunakan untuk mengukur waktu di kuil dan gereja di seluruh dunia. Jam air, dan, di kemudian hari, jam mekanik, digunakan untuk menandai berbagai acara di biara-biara pada Abad Pertengahan. Berlalunya waktu di laut juga dapat ditandai dengan lonceng. Jam-jam ditandai dengan lonceng di biara maupun di laut. Richard dari Wallingford (1292–1336), kepala biara St. Alban, terkenal karena membangun sebuah jam mekanik sebagai sebuah orrery astronomis pada sekitar tahun 1330.[37][38] Jam pasir menggunakan aliran pasir untuk mengukur berlalunya waktu. Jam pasir juga digunakan dalam navigasi. Ferdinand Magellan menggunakan 18 jam pasir pada setiap kapal untuk pelayarannya mengelilingi dunia (1522).[39] Kata bahasa Inggris clock kemungkinan berasal dari kata bahasa Belanda Pertengahan klocke yang, pada gilirannya, berasal dari kata bahasa Latin abad pertengahan clocca, yang pada akhirnya berasal dari bahasa Kelt dan berkerabat dengan kata-kata bahasa Prancis, Latin, dan Jerman yang berarti lonceng.
Kemajuan besar dalam pencatatan waktu yang akurat dicapai oleh Galileo Galilei dan terutama Christiaan Huygens dengan penemuan jam berpenggerak pendulum, bersamaan dengan penemuan jarum menit oleh Jost Bürgi.[40] Terdapat pula sebuah jam yang dirancang untuk menjaga waktu selama 10.000 tahun yang disebut Jam Long Now. Perangkat jam weker kemudian dimekanisasi. Jam weker milik Levi Hutchins diakui sebagai jam weker Amerika pertama, meskipun hanya dapat berdering pada pukul 4 pagi. Antoine Redier juga diakui sebagai orang pertama yang mematenkan jam weker mekanik yang dapat diatur pada tahun 1847.[41] Bentuk digital dari jam weker menjadi lebih mudah diakses melalui digitalisasi dan integrasi dengan teknologi lain, seperti ponsel cerdas.

Perangkat pengukur waktu yang paling akurat adalah jam atom, yang akurat hingga hitungan detik dalam jutaan tahun,[43] dan digunakan untuk mengalibrasi jam serta instrumen pengukuran waktu lainnya. Jam atom menggunakan frekuensi transisi elektronik pada atom-atom tertentu untuk mengukur satu detik. Salah satu atom yang digunakan adalah sesium; sebagian besar jam atom modern memindai sesium dengan gelombang mikro untuk menentukan frekuensi dari getaran elektron ini.[44] Sejak tahun 1967, Sistem Pengukuran Internasional mendasarkan satuan waktunya, yakni detik, pada sifat-sifat atom sesium. SI mendefinisikan detik sebagai 9.192.631.770 siklus radiasi yang berkorespondensi dengan transisi antara dua tingkat energi spin elektron pada keadaan dasar dari atom 133Cs. Alat pengukur waktu portabel yang memenuhi standar presisi tertentu disebut kronometer. Awalnya, istilah ini digunakan untuk merujuk pada kronometer laut, sebuah penunjuk waktu yang digunakan untuk menentukan garis bujur melalui navigasi benda langit, sebuah tingkat presisi yang pertama kali dicapai oleh John Harrison. Baru-baru ini, istilah ini juga diterapkan pada jam tangan kronometer, sebuah jam tangan yang memenuhi standar presisi yang ditetapkan oleh badan Swiss COSC.
Pada zaman modern, Sistem Pemosisi Global yang berkoordinasi dengan Network Time Protocol dapat digunakan untuk menyinkronkan sistem pencatatan waktu di seluruh dunia. Hingga May 2010[update], ketidakpastian interval waktu terkecil dalam pengukuran langsung berada pada kisaran 12 atodetik (1,2 × 10−17 detik), atau sekitar 3,7 × 1026 waktu Planck.[45] Waktu yang diukur tersebut adalah penundaan yang disebabkan oleh pola interferensi gelombang elektron yang tidak sinkron.[46]
Detik (s) adalah satuan pokok SI. Satu menit (min) terdiri dari 60 detik (atau, dalam kasus yang jarang terjadi, 59 atau 61 detik ketika detik kabisat diterapkan), dan satu jam terdiri dari 60 menit atau 3600 detik. Satu hari biasanya berdurasi 24 jam atau 86.400 detik; namun, durasi hari kalender dapat bervariasi akibat waktu musim panas dan detik kabisat.
Standar waktu adalah spesifikasi untuk mengukur waktu: menetapkan angka atau tanggal kalender pada suatu momen (titik waktu), mengkuantifikasi durasi suatu interval waktu, dan menetapkan kronologi (urutan peristiwa). Pada zaman modern, beberapa spesifikasi waktu telah diakui secara resmi sebagai standar, yang sebelumnya hanya merupakan kebiasaan dan praktik. Penemuan jam atom sesium pada tahun 1955 telah menyebabkan standar waktu astronomis murni yang lebih lama seperti waktu sideris dan waktu efemeris digantikan, untuk sebagian besar tujuan praktis, dengan standar waktu yang lebih baru yang didasarkan sepenuhnya atau sebagian pada waktu atom yang menggunakan detik SI.
Waktu Atom Internasional (TAI) adalah standar waktu internasional utama yang menjadi dasar perhitungan standar waktu lainnya. Waktu Universal (UT1) adalah waktu surya rata-rata pada garis bujur 0°, yang dihitung dari pengamatan astronomis. Waktu ini berbeda dari TAI karena adanya ketidakteraturan dalam rotasi Bumi. Waktu Universal Terkoordinasi (UTC) adalah skala waktu atom yang dirancang untuk mendekati Waktu Universal. UTC berbeda dari TAI dalam jumlah detik yang bulat. UTC dipertahankan agar tidak menyimpang lebih dari 0,9 detik dari UT1 dengan memasukkan lompatan satu detik ke UTC, yang disebut detik kabisat. Sistem Pemosisi Global memancarkan sinyal waktu yang sangat presisi berdasarkan waktu UTC.
Permukaan Bumi dibagi menjadi sejumlah zona waktu. Waktu standar atau waktu sipil di sebuah zona waktu memiliki selisih yang tetap dan bulat, biasanya dalam bilangan jam penuh, dari suatu bentuk Waktu Universal, umumnya UTC. Sebagian besar zona waktu memiliki selisih tepat satu jam, dan berdasarkan konvensi menghitung waktu setempatnya sebagai ofset dari UTC. Sebagai contoh, zona waktu di laut didasarkan pada UTC. Di banyak lokasi (namun tidak di laut) ofset ini bervariasi dua kali setahun karena transisi waktu musim panas.
Beberapa standar waktu lainnya digunakan terutama untuk pekerjaan ilmiah. Waktu Terestrial adalah skala ideal teoretis yang direalisasikan oleh TAI. Waktu Koordinat Geosentris (TCG) dan Waktu Koordinat Barisentris (TCB) adalah skala yang didefinisikan sebagai waktu koordinat dalam konteks teori relativitas umum, dengan TCG berlaku untuk pusat Bumi dan TCB untuk barisenter tata surya. Waktu Dinamis Barisentris adalah skala relativistik lama yang terkait dengan TCB yang masih digunakan.
Banyak kebudayaan kuno, khususnya di Timur, memiliki pandangan yang bersiklus mengenai waktu. Dalam tradisi-tradisi ini, waktu sering kali dipandang sebagai pola zaman atau siklus yang berulang, di mana peristiwa dan fenomena berulang dengan cara yang dapat diprediksi. Salah satu contoh paling terkenal dari konsep ini ditemukan dalam filsafat Hindu, di mana waktu digambarkan sebagai sebuah roda yang disebut "Kalacakra" atau "Roda Waktu." Menurut kepercayaan ini, alam semesta mengalami siklus penciptaan, pemeliharaan, dan kehancuran yang tak berkesudahan.[47]
Demikian pula, dalam kebudayaan kuno lainnya seperti bangsa Maya, Aztek, dan Tiongkok, juga terdapat kepercayaan pada waktu bersiklus, yang sering kali dikaitkan dengan pengamatan astronomis dan kalender.[48] Kebudayaan-kebudayaan ini mengembangkan sistem yang kompleks untuk melacak waktu, musim, dan pergerakan benda langit, yang mencerminkan pemahaman mereka mengenai pola bersiklus di alam dan alam semesta.
Pandangan bersiklus mengenai waktu ini bertolak belakang dengan konsep waktu linier yang lebih umum dalam pemikiran Barat, di mana waktu dipandang berjalan dalam garis lurus dari masa lalu ke masa depan tanpa pengulangan.[49]
Secara umum, pandangan dunia Islam dan Yudeo-Kristen menganggap waktu sebagai sesuatu yang linier[50] dan terarah,[51] dimulai dengan tindakan penciptaan oleh Tuhan. Pandangan Kristen tradisional memandang waktu akan berakhir, secara teleologis,[52] dengan akhir eskatologis dari tatanan segala sesuatu saat ini, yaitu "akhir zaman". Meskipun beberapa teolog Kristen (seperti Agustinus dari Hippo dan Aquinas[53]) percaya bahwa Tuhan berada di luar waktu, melihat semua peristiwa secara bersamaan, bahwa waktu tidak ada sebelum Tuhan, dan bahwa Tuhan menciptakan waktu.[54][55]
Dalam kitab Perjanjian Lama yaitu Pengkhotbah, yang secara tradisional dinisbatkan kepada Salomo (970–928 SM), waktu digambarkan sebagai sesuatu yang bersiklus dan di luar kendali manusia.[56] Kitab tersebut menuliskan bahwa ada musim atau waktu yang tepat untuk setiap kegiatan.[57]
Bahasa Yunani mengenal dua prinsip yang berbeda, Khronos dan Kairos. Yang pertama merujuk pada waktu yang bersifat numerik, atau kronologis. Yang kedua, yang secara harfiah berarti "momen yang tepat atau menguntungkan", berkaitan secara khusus dengan waktu metafisik atau Ilahi. Dalam teologi, Kairos bersifat kualitatif, berlawanan dengan kuantitatif.[58]
Dalam mitologi Yunani, Khronos (bahasa Yunani kuno: Χρόνος) diidentifikasi sebagai personifikasi dari waktu. Namanya dalam bahasa Yunani berarti "waktu" dan secara alternatif dieja Chronus (ejaan Latin) atau Khronos. Khronos biasanya digambarkan sebagai pria tua yang bijaksana dengan janggut abu-abu yang panjang, seperti "Bapak Waktu". Beberapa kata bahasa Inggris yang akar etimologisnya adalah khronos/chronos meliputi chronology, chronometer, chronic, anachronism, synchronise, dan chronicle.
Para rabi terkadang memandang waktu seperti "sebuah akordeon yang direntangkan dan dilipat sesuka hati."[59] Menurut para ahli Kabbalah, "waktu" adalah sebuah paradoks[60] dan sebuah ilusi.[61]
Menurut Advaita Vedanta, waktu merupakan bagian integral dari dunia fenomenal, yang tidak memiliki realitas independen. Waktu dan dunia fenomenal adalah produk dari maya, yang dipengaruhi oleh indera, konsep, dan imajinasi kita. Dunia fenomenal, termasuk waktu, dipandang tidak kekal dan dicirikan oleh pluralitas, penderitaan, konflik, dan perpecahan. Karena eksistensi fenomenal didominasi oleh temporalitas (kala), segala sesuatu di dalam waktu tunduk pada perubahan dan peluruhan. Mengatasi rasa sakit dan kematian membutuhkan pengetahuan yang melampaui eksistensi temporal dan menyingkapkan fondasi abadinya.[62]
Dua sudut pandang yang bertolak belakang mengenai waktu membagi para filsuf terkemuka. Salah satu pandangan menyatakan bahwa waktu adalah bagian dari struktur fundamental alam semesta—sebuah dimensi yang independen dari peristiwa-peristiwa, di mana peristiwa terjadi secara berurutan. Isaac Newton menganut pandangan realis ini, dan karenanya pandangan ini terkadang disebut sebagai waktu Newtonian.[63][64]
Pandangan yang berlawanan adalah bahwa waktu tidak merujuk pada semacam "wadah" yang "dilalui" oleh peristiwa dan objek, bukan pula pada entitas apa pun yang "mengalir", melainkan merupakan bagian dari struktur intelektual fundamental (bersama dengan ruang dan angka) yang di dalamnya manusia mengurutkan dan membandingkan peristiwa. Pandangan kedua ini, dalam tradisi Gottfried Leibniz[16] dan Immanuel Kant,[65][66] berpendapat bahwa waktu bukanlah sebuah peristiwa maupun sebuah benda, dan dengan demikian waktu itu sendiri tidak dapat diukur atau dilintasi. Lebih lanjut lagi, mungkin saja ada komponen subjektif dalam waktu, tetapi apakah waktu itu sendiri "dirasakan", sebagai sebuah sensasi, atau merupakan sebuah penilaian, masih menjadi perdebatan.[2][6][7][67][68]
Dalam filsafat, waktu telah dipertanyakan selama berabad-abad; mengenai apa itu waktu dan apakah ia nyata atau tidak. Para filsuf Yunani Kuno bertanya-tanya apakah waktu bersifat linier atau bersiklus dan apakah waktu tidak berujung atau terhingga.[69] Para filsuf ini memiliki cara yang berbeda dalam menjelaskan waktu; sebagai contoh, filsuf India kuno memiliki sesuatu yang disebut Roda Waktu. Diyakini bahwa terdapat zaman yang berulang sepanjang rentang kehidupan alam semesta.[70] Hal ini mengarah pada keyakinan seperti siklus kelahiran kembali dan reinkarnasi.[70] Para filsuf Yunani percaya bahwa alam semesta tidak terbatas, dan merupakan sebuah ilusi bagi manusia.[70] Plato percaya bahwa waktu diciptakan oleh Sang Pencipta pada saat yang bersamaan dengan penciptaan langit.[70] Ia juga mengatakan bahwa waktu adalah periode pergerakan dari benda-benda langit.[70] Aristoteles percaya bahwa waktu berkorelasi dengan pergerakan, bahwa waktu tidak berdiri sendiri melainkan relatif terhadap pergerakan benda.[70] Ia juga percaya bahwa waktu terkait dengan pergerakan benda langit; alasan mengapa manusia dapat mengetahui waktu adalah karena adanya periode orbit dan oleh karena itu terdapat durasi pada waktu.[71]
Weda, teks-teks terawal mengenai filsafat India dan filsafat Hindu yang berasal dari akhir milenium ke-2 SM, mendeskripsikan kosmologi Hindu kuno, di mana alam semesta melewati siklus penciptaan, kehancuran, dan kelahiran kembali yang berulang, dengan setiap siklus berlangsung selama 4.320 juta tahun.[72] Para filsuf kuno Yunani, termasuk Parmenides dan Herakleitos, menulis esai mengenai sifat dasar waktu.[73] Plato, dalam Timaeus, mengidentifikasi waktu dengan periode pergerakan benda-benda langit. Aristoteles, dalam Buku IV dari Fisika-nya mendefinisikan waktu sebagai 'jumlah pergerakan dalam kaitannya dengan sebelum dan sesudah'.[74] Dalam Buku ke-11 dari Pengakuan-Pengakuan-nya, St. Agustinus dari Hippo merenungkan sifat dasar waktu, dengan bertanya, "Lalu apakah waktu itu? Jika tidak ada yang bertanya kepadaku, aku tahu: jika aku ingin menjelaskannya kepada orang yang bertanya, aku tidak tahu." Ia mulai mendefinisikan waktu berdasarkan apa yang bukan merupakan waktu, alih-alih apa itu waktu sebenarnya,[75] sebuah pendekatan yang mirip dengan yang diambil dalam definisi-definisi negatif lainnya. Namun, Agustinus pada akhirnya menyebut waktu sebagai sebuah "distensi" pikiran (Pengakuan-Pengakuan 11.26) yang dengannya kita secara bersamaan memahami masa lalu dalam ingatan, masa kini melalui perhatian, dan masa depan melalui harapan.
Para filsuf pada abad ke-17 dan ke-18 mempertanyakan apakah waktu itu nyata dan mutlak, atau apakah itu merupakan konsep intelektual yang digunakan manusia untuk memahami dan mengurutkan peristiwa.[69] Pertanyaan-pertanyaan ini mengarah pada realisme versus anti-realisme; kaum realis percaya bahwa waktu adalah bagian fundamental dari alam semesta, dan dapat dipersepsikan melalui peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam suatu urutan, di dalam suatu dimensi.[76] Isaac Newton mengatakan bahwa kita hanyalah menempati waktu, ia juga mengatakan bahwa manusia hanya dapat memahami waktu relatif.[76] Isaac Newton percaya pada ruang mutlak dan waktu mutlak; Leibniz percaya bahwa ruang dan waktu bersifat relasional.[77] Perbedaan antara interpretasi Leibniz dan Newton memuncak dalam korespondensi Leibniz-Clarke yang terkenal. Waktu relatif adalah ukuran dari benda-benda yang bergerak.[76] Kaum anti-realis percaya bahwa waktu hanyalah konsep intelektual yang memudahkan manusia untuk memahami peristiwa.[76] Ini berarti bahwa waktu tidak berguna kecuali ada objek yang dapat berinteraksi dengannya, hal ini disebut waktu relasional.[76] René Descartes, John Locke, dan David Hume mengatakan bahwa pikiran seseorang perlu mengakui waktu, untuk dapat memahami apa itu waktu.[71] Immanuel Kant percaya bahwa kita tidak dapat mengetahui apa itu sesuatu kecuali kita mengalaminya secara langsung.[78]
Waktu bukanlah konsep empiris. Sebab baik ko-eksistensi maupun suksesi tidak akan dipersepsikan oleh kita, jika representasi waktu tidak ada sebagai fondasi a priori. Tanpa praanggapan ini, kita tidak dapat merepresentasikan pada diri kita sendiri bahwa hal-hal eksis bersama pada satu waktu yang sama, atau pada waktu yang berbeda, yaitu, secara bersamaan, atau secara berurutan.
Immanuel Kant, Kritik atas Nalar Murni (1781), terj. Vasilis Politis (London: Dent., 1991), hlm. 54.
Immanuel Kant, dalam Kritik atas Nalar Murni, mendeskripsikan waktu sebagai sebuah intuisi a priori yang memungkinkan kita (bersama dengan intuisi a priori lainnya, yakni ruang) untuk memahami pengalaman indrawi.[79] Menurut Kant, baik ruang maupun waktu tidak dipahami sebagai substansi, melainkan keduanya merupakan elemen dari kerangka mental sistematis yang niscaya menyusun pengalaman agen rasional, atau subjek yang mengamati. Kant menganggap waktu sebagai bagian fundamental dari kerangka konseptual yang abstrak, bersama dengan ruang dan angka, di mana kita mengurutkan peristiwa, mengkuantifikasi durasinya, dan membandingkan pergerakan objek. Dalam pandangan ini, waktu tidak merujuk pada jenis entitas apa pun yang "mengalir," yang "dilalui" oleh objek, atau yang merupakan "wadah" bagi peristiwa-peristiwa. Pengukuran spasial digunakan untuk mengkuantifikasi besaran dan jarak antara objek-objek, dan pengukuran temporal digunakan untuk mengkuantifikasi durasi dari dan di antara peristiwa-peristiwa. Waktu ditetapkan oleh Kant sebagai skema yang paling murni dari konsep atau kategori murni.
Henri Bergson percaya bahwa waktu bukanlah medium homogen yang nyata maupun konstruksi mental, melainkan memiliki apa yang ia sebut sebagai Durasi. Durasi, dalam pandangan Bergson, adalah kreativitas dan ingatan sebagai komponen esensial dari realitas.[80]
Menurut Martin Heidegger kita tidak eksis di dalam waktu, kita adalah waktu itu sendiri. Oleh karena itu, hubungan dengan masa lalu adalah kesadaran di masa kini akan apa yang telah berlalu, yang memungkinkan masa lalu eksis di masa kini. Hubungan dengan masa depan adalah keadaan mengantisipasi suatu kemungkinan, tugas, atau keterlibatan potensial. Hal ini berkaitan dengan kecenderungan manusia untuk peduli dan merasa khawatir, yang menyebabkan "mendahului diri sendiri" ketika memikirkan suatu kejadian yang tertunda atau akan datang. Oleh karena itu, kepedulian terhadap kejadian potensial ini juga memungkinkan masa depan untuk eksis di masa kini. Masa kini menjadi sebuah pengalaman, yang bersifat kualitatif alih-alih kuantitatif. Heidegger tampaknya berpikir bahwa ini adalah cara di mana hubungan linier dengan waktu, atau eksistensi temporal, dipatahkan atau dilampaui.[81] Kita tidak terjebak dalam waktu yang berurutan (sekuensial). Kita mampu mengingat masa lalu dan memproyeksikan diri ke masa depan; kita memiliki semacam akses acak terhadap representasi kita mengenai eksistensi temporal; kita dapat, dalam pikiran kita, melangkah keluar (ekstase) dari waktu sekuensial.[82]
Para filsuf era modern bertanya-tanya: apakah waktu itu nyata atau tidak nyata, apakah waktu terjadi sekaligus atau merupakan sebuah durasi, apakah waktu memiliki kala (tensed) atau tak berkala (tenseless), dan apakah ada masa depan yang akan terjadi?[69] Terdapat sebuah teori yang disebut teori tak berkala atau teori-B; teori ini menyatakan bahwa terminologi apa pun yang berkaitan dengan kala waktu dapat diganti dengan terminologi tak berkala.[83] Sebagai contoh, kalimat "kita akan memenangkan pertandingan" dapat diganti dengan "kita memenangkan pertandingan", dengan menghilangkan kala masa depan. Di sisi lain, terdapat teori yang disebut teori kala atau teori-A; teori ini menyatakan bahwa bahasa kita memiliki kata kerja penunjuk kala karena suatu alasan dan bahwa masa depan tidak dapat ditentukan.[83] Ada pula yang disebut waktu imajiner, konsep ini berasal dari Stephen Hawking, yang mengatakan bahwa ruang dan waktu imajiner adalah terbatas tetapi tidak memiliki batasan (tepi).[83] Waktu imajiner tidaklah nyata maupun tidak nyata, melainkan sesuatu yang sulit untuk divisualisasikan.[83] Para filsuf dapat sepakat bahwa waktu fisik eksis di luar pikiran manusia dan bersifat objektif, sementara waktu psikologis bergantung pada pikiran dan bersifat subjektif.[71]
Pada abad ke-5 SM di Yunani, Antiphon sang Sofis, dalam sebuah fragmen yang tersimpan dari karya utamanya Tentang Kebenaran, berpendapat bahwa: "Waktu bukanlah sebuah realitas (hipostasis), melainkan sebuah konsep (noêma) atau sebuah ukuran (metron)." Parmenides melangkah lebih jauh, dengan mempertahankan gagasan bahwa waktu, pergerakan, dan perubahan adalah ilusi, yang kemudian berujung pada paradoks-paradoks dari pengikutnya, yakni Zeno.[84] Waktu sebagai sebuah ilusi juga merupakan tema yang umum dalam pemikiran Buddha.[85][86]
Argumen-argumen ini sering kali berpusat pada apa artinya sesuatu menjadi tidak nyata. Para fisikawan modern secara umum percaya bahwa waktu sama nyatanya dengan ruang—meskipun yang lain, seperti Julian Barbour, berpendapat bahwa persamaan kuantum alam semesta mengambil bentuk aslinya ketika diekspresikan dalam ranah tanpa waktu yang memuat setiap kemungkinan sekarang atau konfigurasi sesaat dari alam semesta.[87] Artikel J. M. E. McTaggart tahun 1908 yang berjudul Ketidaknyataan Waktu (The Unreality of Time) berpendapat bahwa, karena setiap peristiwa memiliki karakteristik hadir dan tidak hadir (yakni, masa depan atau masa lalu), maka waktu merupakan sebuah gagasan yang bertentangan dengan dirinya sendiri.
Teori filosofis modern lainnya yang disebut presentisme memandang masa lalu dan masa depan sebagai interpretasi pikiran manusia atas pergerakan, alih-alih bagian nyata dari waktu (atau "dimensi") yang hidup berdampingan dengan masa kini. Teori ini menolak keberadaan semua interaksi langsung dengan masa lalu maupun masa depan, dan menganggap hanya masa kini yang berwujud nyata. Hal ini merupakan salah satu argumen filosofis yang menentang perjalanan waktu.[88] Ini kontras dengan pandangan eternalisme (semua waktu: masa kini, masa lalu, dan masa depan, adalah nyata) dan teori blok yang tumbuh (masa kini dan masa lalu adalah nyata, tetapi masa depan tidak).
| Bagian dari seri artikel mengenai |
| Mekanika klasik |
|---|
Hingga reinterpretasi Einstein terhadap konsep-konsep fisik yang berkaitan dengan waktu dan ruang pada tahun 1907, waktu dianggap sama di mana pun di alam semesta, dengan semua pengamat mengukur interval waktu yang sama untuk peristiwa apa pun.[89] Mekanika klasik nonrelativistik didasarkan pada gagasan waktu Newtonian ini. Einstein, dalam teori relativitas khusus-nya,[90] mendalilkan kekonstanan dan keterbatasan kecepatan cahaya bagi semua pengamat. Ia menunjukkan bahwa dalil ini, bersama dengan definisi yang masuk akal tentang apa artinya dua peristiwa terjadi secara bersamaan, mengharuskan jarak tampak menyusut dan interval waktu tampak memanjang untuk peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan benda-benda yang bergerak relatif terhadap pengamat inersia.
Teori relativitas khusus menemukan rumusan yang memudahkan dalam ruang waktu Minkowski, sebuah struktur matematis yang menggabungkan tiga dimensi ruang dengan satu dimensi waktu. Dalam formalisme ini, jarak dalam ruang dapat diukur dari berapa lama cahaya menempuh jarak tersebut, misalnya, satu tahun cahaya adalah ukuran jarak, dan satu meter kini didefinisikan berdasarkan seberapa jauh cahaya bergerak dalam rentang waktu tertentu. Dua peristiwa dalam ruang waktu Minkowski dipisahkan oleh sebuah interval invarian, yang dapat berupa bak-ruang (space-like), bak-cahaya (light-like), atau bak-waktu (time-like). Peristiwa-peristiwa yang memiliki pemisahan bak-waktu tidak dapat terjadi secara bersamaan dalam kerangka acuan mana pun, harus ada komponen temporal (dan mungkin juga komponen spasial) pada pemisahan tersebut. Peristiwa-peristiwa yang memiliki pemisahan bak-ruang akan terjadi secara bersamaan dalam kerangka acuan tertentu, dan tidak ada kerangka acuan di mana mereka tidak memiliki pemisahan spasial. Pengamat yang berbeda mungkin menghitung jarak dan interval waktu yang berbeda di antara dua peristiwa, tetapi interval invarian di antara peristiwa-peristiwa tersebut tidak bergantung pada pengamat dan kecepatan mereka.
Tidak seperti ruang, di mana sebuah objek dapat bergerak ke arah yang berlawanan (dan dalam 3 dimensi), waktu tampaknya hanya memiliki satu dimensi dan satu arah—masa lalu berada di belakang, tetap dan tidak dapat diubah, sementara masa depan berada di depan dan belum tentu tetap. Namun sebagian besar hukum fisika memungkinkan proses apa pun berjalan baik maju maupun mundur. Hanya ada segelintir fenomena fisik yang melanggar reversibilitas waktu ini. Keterarahan waktu ini dikenal sebagai panah waktu. Contoh-contoh panah waktu yang diakui adalah:[91][92][93]
Hubungan antara berbagai panah waktu yang berbeda ini merupakan topik yang hangat diperdebatkan dalam fisika teoretis.[94]
Hukum kedua termodinamika menyatakan bahwa entropi harus meningkat seiring berjalannya waktu. Brian Greene berteori bahwa, menurut persamaan yang ada, perubahan entropi terjadi secara simetris baik berjalan maju maupun mundur dalam waktu. Sehingga entropi cenderung meningkat di kedua arah tersebut, dan alam semesta kita yang berentropi rendah saat ini merupakan sebuah aberasi statistik, dengan cara yang serupa dengan melempar koin yang cukup sering sehingga pada akhirnya akan menghasilkan sisi kepala (angka) sepuluh kali berturut-turut. Namun, teori ini tidak didukung secara empiris dalam eksperimen lokal.[95]
Dalam mekanika klasik nonrelativistik, konsep Newton mengenai "waktu relatif, semu, dan umum" dapat digunakan dalam perumusan sebuah ketentuan untuk sinkronisasi jam-jam. Peristiwa yang dilihat oleh dua pengamat berbeda yang bergerak relatif satu sama lain menghasilkan konsep matematis mengenai waktu yang bekerja cukup baik untuk mendeskripsikan fenomena sehari-hari dari pengalaman sebagian besar orang. Pada akhir abad kesembilan belas, para fisikawan menemui sejumlah masalah dengan pemahaman klasik mengenai waktu, sehubungan dengan perilaku kelistrikan dan kemagnetan. Persamaan Maxwell pada tahun 1860-an mendeskripsikan bahwa cahaya selalu bergerak dengan kecepatan konstan (di dalam ruang hampa).[96] Namun, mekanika klasik mengasumsikan bahwa pergerakan diukur relatif terhadap sebuah kerangka acuan yang tetap. Eksperimen Michelson-Morley membantah asumsi tersebut. Einstein kemudian mengusulkan metode sinkronisasi jam-jam dengan menggunakan kecepatan cahaya yang konstan dan terbatas sebagai kecepatan sinyal maksimum. Hal ini secara langsung mengarah pada kesimpulan bahwa para pengamat yang bergerak relatif satu sama lain akan mengukur waktu berlalu yang berbeda untuk peristiwa yang sama.

Secara historis, waktu memiliki kaitan erat dengan ruang, keduanya kemudian melebur menjadi ruang waktu dalam teori relativitas khusus dan relativitas umum dari Einstein. Menurut teori-teori ini, konsep waktu bergantung pada kerangka acuan spasial pengamat, dan persepsi manusia, serta pengukuran oleh instrumen seperti jam, adalah berbeda bagi pengamat yang berada dalam pergerakan relatif. Sebagai contoh, jika sebuah pesawat luar angkasa yang membawa jam terbang melintasi ruang angkasa dengan (sangat mendekati) kecepatan cahaya, awaknya tidak menyadari adanya perubahan kecepatan waktu di dalam pesawat mereka karena segala sesuatu yang bergerak dengan kecepatan yang sama akan melambat pada laju yang sama (termasuk jam, proses berpikir awak pesawat, dan fungsi tubuh mereka). Namun, bagi pengamat diam yang mengamati pesawat luar angkasa tersebut terbang melintas, pesawat itu tampak memipih pada arah perjalanannya dan jam di dalam pesawat tersebut tampak bergerak sangat lambat.
Di sisi lain, awak di dalam pesawat luar angkasa juga mempersepsikan pengamat tersebut melambat dan memipih di sepanjang arah pergerakan pesawat, karena keduanya bergerak dengan kecepatan yang hampir menyamai kecepatan cahaya relatif satu sama lain. Karena alam semesta di luar tampak memipih bagi pesawat luar angkasa, awak kapal mempersepsikan diri mereka seolah sedang melaju cepat di antara wilayah-wilayah ruang angkasa yang (bagi pengamat yang diam) terpisah jarak sejauh bertahun-tahun cahaya. Hal ini direkonsiliasi oleh fakta bahwa persepsi awak pesawat mengenai waktu berbeda dengan persepsi pengamat yang diam; apa yang tampaknya seperti hitungan detik bagi awak pesawat bisa jadi merupakan ratusan tahun bagi pengamat diam. Namun, dalam kedua kasus tersebut, kausalitas tetap tidak berubah: masa lalu adalah sekumpulan peristiwa yang dapat mengirimkan sinyal cahaya kepada suatu entitas dan masa depan adalah sekumpulan peristiwa yang kepadanya suatu entitas dapat mengirimkan sinyal cahaya.[97][98]

Einstein menunjukkan dalam eksperimen pemikirannya bahwa orang-orang yang bepergian dengan kecepatan berbeda, meskipun sepakat pada sebab dan akibat, mengukur pemisahan waktu yang berbeda di antara peristiwa-peristiwa, dan bahkan dapat mengamati urutan kronologis yang berbeda di antara peristiwa-peristiwa yang tidak memiliki hubungan sebab akibat. Meskipun efek ini biasanya sangat kecil dalam pengalaman manusia, dampaknya menjadi jauh lebih nyata pada objek-objek yang bergerak pada kecepatan yang mendekati kecepatan cahaya. Partikel subatomik eksis selama rata-rata sepersekian detik yang telah diketahui di dalam sebuah laboratorium yang relatif diam, tetapi ketika bergerak mendekati kecepatan cahaya, partikel tersebut terukur bergerak lebih jauh dan eksis lebih lama dibandingkan ketika diam.
Menurut teori relativitas khusus, dalam kerangka acuan partikel berkecepatan tinggi tersebut, ia pada rata-ratanya eksis selama rentang waktu standar yang dikenal sebagai umur rata-ratanya, dan jarak yang ditempuhnya dalam rentang waktu tersebut adalah nol, karena kecepatannya adalah nol. Relatif terhadap kerangka acuan yang diam, waktu tampak "melambat" bagi partikel tersebut. Relatif terhadap partikel berkecepatan tinggi, jarak-jarak tampak memendek. Einstein menunjukkan bagaimana baik dimensi temporal maupun spasial dapat diubah (atau "dilengkungkan") oleh pergerakan berkecepatan tinggi.
Einstein (The Meaning of Relativity): "Dua peristiwa yang terjadi pada titik A dan B dari sebuah sistem K adalah serempak jika keduanya muncul pada saat yang bersamaan ketika diamati dari titik tengah, M, dari interval AB. Waktu kemudian didefinisikan sebagai ansambel petunjuk dari jam-jam yang serupa, yang diam secara relatif terhadap K, yang mencatat hal yang sama secara bersamaan." Einstein menulis dalam bukunya, Relativitas, bahwa keserempakan juga bersifat relatif, yakni, dua peristiwa yang tampak serempak bagi seorang pengamat di dalam suatu kerangka acuan inersia tertentu tidak perlu dinilai sebagai serempak oleh pengamat kedua yang berada di dalam kerangka acuan inersia yang berbeda.
Berdasarkan relativitas umum, waktu juga berjalan lebih lambat dalam medan gravitasi yang lebih kuat; hal ini disebut dilatasi waktu gravitasi.[99] Efek dari dilatasi ini menjadi lebih kentara pada objek yang padat massa. Contoh terkenal dari dilatasi waktu adalah eksperimen pemikiran tentang seorang subjek yang mendekati cakrawala peristiwa dari sebuah lubang hitam. Sebagai konsekuensi dari bagaimana medan gravitasi melengkungkan ruang waktu, subjek tersebut akan mengalami dilatasi waktu gravitasi. Dari sudut pandang subjek itu sendiri, mereka akan mengalami waktu secara normal. Sementara itu, pengamat dari luar akan melihat subjek bergerak semakin dekat ke lubang hitam tersebut hingga titik yang ekstrem, di mana subjek tampak 'membeku' dalam waktu dan pada akhirnya memudar menjadi ketiadaan akibat semakin berkurangnya jumlah cahaya yang kembali.[100][101]

Animasi ini memvisualisasikan perbedaan perlakuan terhadap waktu dalam deskripsi Newtonian dan relativistik. Inti dari perbedaan ini adalah transformasi Galileo dan transformasi Lorentz yang masing-masing berlaku dalam teori Newtonian dan relativistik. Dalam gambar-gambar tersebut, arah vertikal menunjukkan waktu. Arah horizontal menunjukkan jarak (hanya satu dimensi spasial yang diperhitungkan), dan kurva putus-putus tebal adalah lintasan ruang waktu ("garis dunia") dari sang pengamat. Titik-titik kecil menunjukkan peristiwa-peristiwa tertentu (masa lalu dan masa depan) di dalam ruang waktu. Kemiringan garis dunia tersebut (penyimpangan dari keadaan vertikal) menunjukkan kecepatan relatif terhadap pengamat.
Dalam deskripsi Newtonian, perubahan-perubahan ini sedemikian rupa sehingga waktu bersifat mutlak:[102] pergerakan pengamat tidak memengaruhi apakah sebuah peristiwa terjadi pada 'masa kini' (yakni, apakah sebuah peristiwa melewati garis horizontal yang melintasi sang pengamat). Namun, dalam deskripsi relativistik, keteramatan peristiwa-lah yang bersifat mutlak: pergerakan pengamat tidak memengaruhi apakah suatu peristiwa melewati "kerucut cahaya" dari sang pengamat. Perhatikan bahwa dengan adanya perubahan dari deskripsi Newtonian ke deskripsi relativistik, konsep waktu mutlak tidak lagi berlaku: peristiwa-peristiwa bergerak naik dan turun di dalam gambar tersebut bergantung pada percepatan sang pengamat.
Kuantisasi waktu merujuk pada teori bahwa waktu memiliki unit terkecil yang mungkin. Kuantisasi waktu adalah sebuah konsep hipotetis. Dalam teori-teori fisika mapan modern seperti Model Standar fisika partikel dan relativitas umum, waktu tidak dikuantisasi. Waktu Planck (~ 5,4 × 10−44 detik) adalah satuan waktu dalam sistem satuan natural yang dikenal sebagai satuan Planck. Teori-teori fisika mapan saat ini diyakini gagal pada skala waktu ini, dan banyak fisikawan memperkirakan bahwa waktu Planck mungkin merupakan satuan waktu terkecil yang pernah dapat diukur, bahkan secara prinsip. Meskipun terdapat teori-teori fisika tentatif yang mencoba mendeskripsikan fenomena pada skala ini; salah satu contohnya adalah gravitasi kuantum simpal. Gravitasi kuantum simpal mengemukakan bahwa waktu dikuantisasi; jika gravitasi dikuantisasi, maka ruang waktu juga dikuantisasi.[103]
Perjalanan waktu adalah konsep bergerak mundur atau maju ke titik waktu yang berbeda, dengan cara yang analog dengan bergerak melintasi ruang, dan berbeda dari "aliran" waktu yang normal bagi pengamat di bumi. Dalam pandangan ini, semua titik waktu (termasuk waktu di masa depan) "bertahan" dengan cara tertentu. Perjalanan waktu telah menjadi perangkat alur dalam fiksi sejak abad ke-19. Bepergian mundur atau maju dalam waktu belum pernah diverifikasi sebagai suatu proses, dan melakukannya menghadirkan banyak masalah teoretis serta logika yang kontradiktif yang hingga saat ini belum dapat diatasi. Perangkat teknologi apa pun, baik fiktif maupun hipotetis, yang digunakan untuk mencapai perjalanan waktu dikenal sebagai mesin waktu.
Masalah utama dengan perjalanan waktu ke masa lalu adalah pelanggaran kausalitas; jika sebuah akibat mendahului sebabnya, hal itu akan memunculkan kemungkinan terjadinya paradoks temporal. Beberapa interpretasi perjalanan waktu memecahkan masalah ini dengan menerima kemungkinan perjalanan di antara titik-titik percabangan, realitas paralel, atau alam semesta. Interpretasi banyak dunia telah digunakan sebagai salah satu cara untuk memecahkan paradoks kausalitas yang timbul dari perjalanan waktu. Setiap peristiwa kuantum menciptakan garis waktu bercabang lainnya, dan semua kemungkinan hasil eksis secara berdampingan tanpa adanya keruntuhan fungsi gelombang.[104] Interpretasi ini merupakan sebuah alternatif namun berlawanan dengan interpretasi Kopenhagen, yang menyatakan bahwa fungsi gelombang benar-benar runtuh.[105] Dalam sains, partikel hipotetis yang bergerak lebih cepat dari cahaya dikenal sebagai takion; matematika dari relativitas Einstein menunjukkan bahwa partikel-partikel tersebut akan memiliki massa diam imajiner. Beberapa interpretasi mengemukakan bahwa partikel tersebut mungkin bergerak mundur dalam waktu. Relativitas umum mengizinkan keberadaan kurva bak-waktu tertutup, yang dapat memungkinkan seorang pengamat untuk melakukan perjalanan kembali ke masa lalu ke ruang yang sama.
[Image of closed timelike curve] [106] Meskipun untuk metrik Gödel, kejadian semacam itu membutuhkan alam semesta yang berotasi secara global, yang telah dibantah oleh pengamatan terhadap pergeseran merah galaksi-galaksi jauh dan radiasi latar belakang kosmik.[107] Akan tetapi, telah diusulkan bahwa model alam semesta yang berotasi perlahan mungkin dapat memecahkan tegangan Hubble, sehingga hal ini belum dapat diabaikan.[108]
Solusi lain untuk masalah paradoks temporal berbasis kausalitas adalah bahwa paradoks semacam itu tidak dapat muncul semata-mata karena hal tersebut belum pernah muncul. Sebagaimana diilustrasikan dalam banyak karya fiksi, kehendak bebas antara tidak lagi ada di masa lalu atau hasil dari keputusan semacam itu telah ditentukan sebelumnya. Contoh yang terkenal adalah paradoks kakek, di mana seseorang diceritakan melakukan perjalanan kembali ke masa lalu untuk membunuh kakeknya sendiri. Hal ini tidak akan mungkin dilakukan karena merupakan sebuah fakta sejarah bahwa kakek seseorang tidak terbunuh sebelum anaknya (orang tua orang tersebut) dikandung. Pandangan ini tidak hanya sekadar menganggap bahwa sejarah adalah konstanta yang tidak dapat diubah, tetapi bahwa setiap perubahan yang dibuat oleh penjelajah waktu hipotetis dari masa depan pasti sudah terjadi di masa lalu mereka, yang menghasilkan realitas tempat penjelajah tersebut berasal. Prinsip konsistensi diri Novikov menegaskan bahwa karena adanya batasan kausalitas, perjalanan waktu ke masa lalu adalah hal yang mustahil.

Masa kini semu (specious present) merujuk pada durasi waktu di mana persepsi seseorang dianggap berada di masa kini. Masa kini yang dialami dikatakan 'semu' dalam artian, tidak seperti masa kini yang objektif, ia merupakan sebuah interval dan bukan momen tanpa durasi. Istilah masa kini semu (specious present) pertama kali diperkenalkan oleh psikolog E. R. Clay, dan kemudian dikembangkan oleh William James.[109]
Penilaian otak terhadap waktu diketahui sebagai sistem yang sangat terdistribusi, yang setidaknya mencakup korteks serebral, serebelum, dan ganglia basalis sebagai komponen-komponennya. Satu komponen tertentu, nukleus suprakiasmatik, bertanggung jawab atas ritme sirkadian (atau harian), sementara kelompok sel lainnya tampaknya mampu melakukan pencatatan waktu dalam rentang yang lebih pendek (ultradian). Kronometri mental adalah penggunaan waktu respons dalam tugas-tugas perseptual-motorik untuk menyimpulkan konten, durasi, dan urutan temporal dari operasi kognitif. Penilaian terhadap waktu dapat diubah oleh ilusi temporal (seperti efek kappa),[110] usia,[111] obat psikoaktif, dan hipnosis.[112] Indera waktu mengalami gangguan pada beberapa orang dengan penyakit neurologis seperti penyakit Parkinson dan gangguan pemusatan perhatian.
Obat-obatan psikoaktif dapat merusak penilaian terhadap waktu. Stimulan dapat menyebabkan manusia dan tikus menaksir interval waktu terlalu tinggi,[113][114] sementara depresan dapat memiliki efek sebaliknya.[115] Tingkat aktivitas neurotransmiter di otak seperti dopamin dan norepinefrin mungkin menjadi alasan dari hal ini.[116] Bahan-bahan kimia semacam itu akan merangsang atau menghambat penembakan neuron di otak, dengan tingkat penembakan yang lebih besar memungkinkan otak untuk mendaftarkan terjadinya lebih banyak peristiwa dalam interval tertentu (mempercepat waktu) dan tingkat penembakan yang menurun mengurangi kapasitas otak untuk membedakan peristiwa yang terjadi dalam interval tertentu (memperlambat waktu).[117]
Para psikolog menegaskan bahwa waktu terasa berjalan lebih cepat seiring bertambahnya usia, namun literatur mengenai persepsi waktu yang berkaitan dengan usia ini masih kontroversial.[118] Mereka yang mendukung gagasan ini berpendapat bahwa orang muda, yang memiliki lebih banyak neurotransmiter eksitatori, mampu menghadapi peristiwa eksternal yang lebih cepat.[117] Beberapa ahli juga berpendapat bahwa persepsi terhadap waktu turut dipengaruhi oleh ingatan dan seberapa banyak pengalaman seseorang; sebagai contoh, seiring bertambahnya usia seseorang, waktu sebulan yang dihabiskan untuk menunggu akan terasa sebagai porsi yang lebih kecil dari total hidup mereka.[119] Sementara itu, kemampuan kognitif anak-anak yang terus berkembang memungkinkan mereka untuk memahami waktu dengan cara yang berbeda. Pemahaman anak usia dua dan tiga tahun tentang waktu terutama terbatas pada "sekarang dan bukan sekarang". Anak usia lima dan enam tahun dapat menangkap gagasan tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Anak usia tujuh hingga sepuluh tahun dapat menggunakan jam dan kalender.[120] Teori selektivitas sosioemosional mengemukakan bahwa ketika orang memandang waktu mereka sebagai sesuatu yang tidak berujung dan samar, mereka lebih berfokus pada tujuan-tujuan yang berorientasi ke masa depan.[121]
Meskipun waktu dianggap sebagai konsep abstrak, terdapat semakin banyak bukti bahwa waktu dikonseptualisasikan di dalam pikiran dalam kaitannya dengan ruang.[122] Artinya, alih-alih memikirkan waktu dengan cara yang umum dan abstrak, manusia memikirkan waktu dengan cara yang spasial dan mengatur hal tersebut di dalam pikiran sedemikian rupa. Menggunakan ruang untuk memikirkan waktu memungkinkan manusia untuk secara mental mengatur peristiwa temporal dengan cara yang spesifik. Representasi spasial dari waktu ini sering kali direpresentasikan dalam pikiran sebagai sebuah garis waktu mental (MTL).[123] Asal-usul ini dibentuk oleh banyak faktor lingkungan.[122] Literasi tampaknya memainkan peran besar dalam berbagai jenis MTL, karena arah membaca/menulis memberikan orientasi temporal sehari-hari yang berbeda dari satu budaya ke budaya lainnya.[123] Dalam budaya Barat, MTL dapat terbentang ke arah kanan (dengan masa lalu di kiri dan masa depan di kanan) karena masyarakatnya sebagian besar membaca dan menulis dari kiri ke kanan.[123] Kalender-kalender Barat juga melanjutkan tren ini dengan menempatkan masa lalu di sebelah kiri dengan masa depan yang bergerak ke arah kanan. Sebaliknya, penutur bahasa Arab, Persia, Urdu, dan Ibrani membaca dari kanan ke kiri, dan MTL mereka terbentang ke arah kiri (masa lalu di kanan dengan masa depan di kiri); berbagai bukti menunjukkan bahwa para penutur bahasa ini juga mengatur peristiwa waktu dalam pikiran mereka dengan cara seperti ini.[123]
Terdapat pula bukti bahwa beberapa budaya menggunakan spasialisasi alosentris, yang sering kali didasarkan pada fitur-fitur lingkungan.[122] Sebuah studi mengenai masyarakat adat Yupno di Papua Nugini menemukan bahwa mereka mungkin menggunakan MTL alosentris, di mana waktu mengalir ke atas bukit; ketika berbicara tentang masa lalu, mereka menunjuk ke arah bawah bukit, tempat di mana sungai di lembah tersebut mengalir ke laut. Ketika berbicara mengenai masa depan, mereka menunjuk ke arah atas bukit, menuju hulu sungai. Hal ini umum dilakukan terlepas dari arah mana orang tersebut menghadap.[122] Sebuah studi serupa terhadap orang-orang Pormpuraaw, sebuah kelompok aborigin di Australia, melaporkan bahwa ketika mereka diminta untuk menyusun foto-foto seorang pria yang menua "secara berurutan," orang-orang tersebut secara konsisten menempatkan foto termuda di sebelah timur dan foto tertua di sebelah barat, terlepas dari arah mana mereka menghadap.[124] Hal ini bertolak belakang secara langsung dengan sebuah kelompok di Amerika yang secara konsisten menyusun foto-foto tersebut dari kiri ke kanan. Oleh karena itu, kelompok ini tampaknya juga memiliki MTL alosentris, tetapi didasarkan pada arah mata angin, bukan fitur geografis.[124] Beragamnya perbedaan dalam cara berbagai kelompok memikirkan waktu mengarah pada pertanyaan yang lebih luas bahwa berbagai kelompok mungkin juga memikirkan konsep abstrak lainnya dengan cara yang berbeda, seperti kausalitas dan angka.[122]
Dalam sosiologi dan antropologi, disiplin waktu adalah nama umum yang diberikan untuk aturan, konvensi, kebiasaan, dan ekspektasi sosial dan ekonomi yang mengatur pengukuran waktu, mata uang sosial dan kesadaran akan pengukuran waktu, serta ekspektasi orang-orang mengenai kepatuhan terhadap kebiasaan-kebiasaan tersebut oleh orang lain. Arlie Russell Hochschild[125][126] dan Norbert Elias[127] telah menulis tentang penggunaan waktu dari perspektif sosiologis.
Penggunaan waktu merupakan isu penting dalam memahami perilaku manusia, pendidikan, dan perilaku perjalanan. Penelitian penggunaan waktu adalah bidang studi yang sedang berkembang. Pertanyaannya berkaitan dengan bagaimana waktu dialokasikan di berbagai aktivitas (seperti waktu yang dihabiskan di rumah, di tempat kerja, berbelanja, dll.). Penggunaan waktu berubah seiring dengan teknologi, seperti televisi atau Internet yang menciptakan peluang baru untuk menggunakan waktu dengan cara yang berbeda. Namun, beberapa aspek penggunaan waktu relatif stabil dalam jangka waktu yang lama, seperti jumlah waktu yang dihabiskan untuk melakukan perjalanan ke tempat kerja, yang meskipun terdapat perubahan besar dalam transportasi, telah diamati berkisar antara 20–30 menit sekali jalan untuk sejumlah besar kota dalam jangka waktu yang lama.
Manajemen waktu adalah pengorganisasian tugas atau acara dengan pertama-tama memperkirakan berapa banyak waktu yang dibutuhkan suatu tugas dan kapan tugas tersebut harus diselesaikan, serta menyesuaikan berbagai acara yang akan mengganggu penyelesaiannya sehingga tugas tersebut selesai dalam jumlah waktu yang tepat. Kalender dan buku agenda harian adalah contoh umum dari alat manajemen waktu.
Urutan peristiwa, atau serangkaian peristiwa, adalah sebuah urutan item, fakta, peristiwa, tindakan, perubahan, atau langkah prosedural, yang disusun dalam urutan waktu (urutan kronologis), sering kali dengan hubungan kausalitas di antara item-item tersebut.[128][129][130] Karena adanya kausalitas, sebab mendahului akibat, atau sebab dan akibat dapat muncul bersamaan dalam satu item, tetapi akibat tidak pernah mendahului sebab. Urutan peristiwa dapat disajikan dalam bentuk teks, tabel, bagan, atau garis waktu. Deskripsi dari item atau peristiwa tersebut dapat menyertakan stempel waktu. Urutan peristiwa yang menyertakan waktu beserta informasi tempat atau lokasi untuk mendeskripsikan jalur berurutan dapat disebut sebagai garis dunia.
Penggunaan urutan peristiwa meliputi cerita,[131] peristiwa bersejarah (kronologi), arahan dan langkah dalam prosedur,[132] serta jadwal untuk merencanakan kegiatan. Urutan peristiwa juga dapat digunakan untuk membantu mendeskripsikan proses dalam sains, teknologi, dan kedokteran. Urutan peristiwa dapat difokuskan pada peristiwa masa lalu (misalnya, cerita, sejarah, kronologi), pada peristiwa masa depan yang harus berada dalam urutan yang telah ditentukan (misalnya, rencana, jadwal, prosedur, waktu jadwal), atau difokuskan pada pengamatan peristiwa masa lalu dengan ekspektasi bahwa peristiwa tersebut akan terjadi di masa depan (misalnya, proses, proyeksi). Penggunaan urutan peristiwa terjadi di berbagai bidang seperti mesin (pewaktu noken), film dokumenter (Seconds From Disaster), hukum (pilihan hukum), keuangan (waktu intrinsik perubahan arah), simulasi komputer (simulasi peristiwa diskret), dan transmisi tenaga listrik[133] (perekam urutan peristiwa). Contoh spesifik dari urutan peristiwa adalah garis waktu bencana nuklir Fukushima Daiichi.
Ragam seni dan sains
|
Ragam satuan
|
Progres keberadaan dan peristiwa yang berkelanjutan dan tak terbatas di masa lalu, masa kini, dan masa depan dipandang sebagai satu kesatuan
1. durasi tak terbatas, tak terhingga di mana segala sesuatu dianggap terjadi di masa lalu, masa kini, atau masa depan; setiap momen yang pernah ada atau akan ada… sebuah sistem pengukuran durasi 2.periode antara dua peristiwa atau selama waktu di mana sesuatu ada, terjadi, atau bertindak; interval yang diukur atau dapat diukur
Suatu durasi atau hubungan antariperistiwa yang dinyatakan dalam masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta diukur dalam satuan seperti menit, jam, hari, bulan, atau tahun.
1. Bagian keberadaan yang berkelanjutan di mana peristiwa-peristiwa berpindah dari keadaan potensial di masa depan, melalui masa kini, ke keadaan akhir di masa lalu. 2. fisika suatu besaran yang mengukur durasi, biasanya merujuk pada proses periodik seperti rotasi bumi atau frekuensi radiasi elektromagnetik yang dipancarkan dari atom-atom tertentu. Dalam mekanika klasik, waktu bersifat mutlak dalam arti bahwa waktu dari suatu peristiwa tidak bergantung pada pengamat. Menurut teori relativitas, waktu bergantung pada kerangka acuan pengamat. Waktu dianggap sebagai koordinat keempat yang diperlukan, bersama dengan tiga koordinat spasial, untuk menentukan suatu peristiwa.
1. Besaran berkelanjutan dan dapat diukur di mana peristiwa-peristiwa terjadi dalam urutan yang berlanjut dari masa lalu melalui masa kini menuju masa depan. 2a. Interval yang memisahkan dua titik besaran ini; suatu durasi. 2b. Sistem atau kerangka acuan di mana interval semacam itu diukur atau besaran tersebut dihitung.
Besaran yang digunakan untuk menentukan urutan terjadinya peristiwa-peristiwa dan mengukur seberapa jauh suatu peristiwa mendahului atau mengikuti peristiwa lainnya. Dalam relativitas khusus, ct (di mana c adalah kecepatan cahaya dan t adalah waktu), memainkan peran sebagai dimensi keempat.
Sebuah kontinum nonspasial di mana peristiwa terjadi dalam urutan yang tampaknya ireversibel dari masa lalu melalui masa kini ke masa depan.
Waktu adalah apa yang diukur oleh jam. Kita menggunakan waktu untuk menempatkan peristiwa dalam urutan satu demi satu, dan kita menggunakan waktu untuk membandingkan berapa lama peristiwa tersebut berlangsung... Di antara para filsuf fisika, jawaban singkat paling populer untuk pertanyaan "Apa itu waktu fisik?" adalah bahwa waktu bukanlah sebuah substansi atau objek, melainkan sebuah sistem relasi khusus di antara peristiwa-peristiwa yang terjadi seketika. Definisi operasional ini ditawarkan oleh Adolf Grünbaum yang menerapkan teori kontinuitas matematis kontemporer pada proses fisik, dan ia mengatakan bahwa waktu adalah kontinum linear sesaat dan merupakan subruang satu dimensi yang khas dari ruang waktu empat dimensi.
1. sistem relasi berurutan yang dimiliki suatu peristiwa dengan peristiwa lainnya, sebagai masa lalu, masa kini, atau masa depan; durasi tak terbatas dan berkelanjutan yang dianggap sebagai tempat peristiwa-peristiwa saling menyusul satu sama lain.... 3. (terkadang dengan huruf awal kapital) sebuah sistem atau metode pengukuran atau perhitungan berlalunya waktu: waktu rata-rata (mean time); waktu semu (apparent time); Waktu Greenwich. 4. periode atau interval yang terbatas, seperti di antara dua peristiwa yang berurutan: waktu yang lama.... 14. titik tertentu atau titik pasti dalam waktu, sebagaimana ditunjukkan oleh jam: Jam berapa sekarang? ... 18. periode atau durasi yang tak menentu dan sering kali berkepanjangan di masa depan: Waktu yang akan menjawab apakah yang kita lakukan di sini hari ini adalah hal yang benar.
Definisi operasional kami tentang waktu adalah bahwa waktu merupakan apa yang diukur oleh jam.
Aturan 8.03 Lemparan persiapan tersebut tidak boleh memakan waktu lebih dari satu menit... Aturan 8.04 Ketika base sedang kosong, pelempar harus melemparkan bola kepada pemukul dalam waktu 12 detik... Waktu 12 detik dimulai ketika pelempar memegang bola dan pemukul berada di dalam kotak, siap menghadapi pelempar. Penghitungan waktu berhenti ketika pelempar melepaskan bola.
Rekor waktu tercepat untuk mengelilingi base adalah 13,3 detik, dicetak oleh Evar Swanson di Columbus, Ohio pada tahun 1932... Kecepatan tertinggi yang dapat diandalkan dari lemparan bola bisbol yang pernah tercatat adalah 100,9 mph oleh Lynn Nolan Ryan (California Angels) di Anaheim Stadium di California pada tanggal 20 Agustus 1974.
Pertama-tama, Leibniz menganggap gagasan bahwa ruang dan waktu mungkin merupakan substansi atau menyerupai substansi sebagai sesuatu yang absurd (lihat, sebagai contoh, "Correspondence with Clarke," Makalah Keempat Leibniz, §8dst). Singkatnya, ruang kosong akan menjadi substansi tanpa sifat; itu akan menjadi substansi yang bahkan Tuhan pun tidak dapat memodifikasi atau menghancurkannya.... Artinya, ruang dan waktu adalah ciri internal atau intrinsik dari konsep utuh mengenai segala sesuatu, bukan bersifat ekstrinsik.... Pandangan Leibniz memiliki dua implikasi besar. Pertama, tidak ada lokasi absolut baik dalam ruang maupun waktu; lokasi selalu merupakan situasi objek atau peristiwa yang relatif terhadap objek dan peristiwa lain. Kedua, ruang dan waktu pada sendirinya tidaklah nyata (artinya, bukan substansi). Sebaliknya, ruang dan waktu adalah sesuatu yang ideal. Ruang dan waktu hanyalah cara pandang yang tidak sah secara metafisis mengenai hubungan virtual tertentu antar substansi. Keduanya adalah fenomena atau, secara tegas, ilusi (meskipun merupakan ilusi yang berdasar kuat pada sifat internal substansi).... Terkadang memang lebih mudah untuk menganggap ruang dan waktu sebagai sesuatu "di luar sana," di atas dan di luar entitas serta hubungan di antara mereka, tetapi kemudahan ini tidak boleh dikacaukan dengan realitas. Ruang tidak lain adalah tatanan objek yang hidup berdampingan; waktu tidak lain adalah tatanan peristiwa yang berurutan. Hal ini biasanya disebut sebagai teori relasional tentang ruang dan waktu.
Dengan demikian, poset struktur kausal (M, ≺) dari ruang waktu yang membedakan masa depan dan masa lalu setara dengan geometri konformalnya.
Menurut pendapat kami, tidaklah mungkin untuk mendamaikan dan mengintegrasikan ke dalam suatu skema umum mengenai karakter waktu Newtonian yang absolut dan nondinamis dari kuantisasi kanonik dan pendekatan integral lintasan dengan karakter waktu yang relativistik dan dinamis dalam relativitas umum.
Konsensus yang berlaku adalah bahwa teori gravitasi Einstein harus dimodifikasi agar sesuai dengan kerangka kerja teori kuantum [...] ketika tiba saatnya untuk menggabungkan kedua teori ini ke dalam satu kerangka kerja yang komprehensif, komunitas ilmiah menemui jalan buntu.
Waktu profan, sebagaimana ditunjukkan oleh Eliade, adalah linier. [...] Dalam agama-agama Yudeo-Kristen – Yudaisme, Kekristenan, Islam – sejarah ditanggapi secara serius, dan waktu linier diterima.
[...] Tuhan menghasilkan suatu ciptaan dengan struktur waktu yang terarah [...].
Kita perlu memperhatikan kaitan erat antara teleologi, eskatologi, dan utopia. Dalam teologi Kristen, pemahaman mengenai teleologi dari tindakan-tindakan tertentu pada akhirnya berkaitan dengan teleologi sejarah secara umum, yang menjadi perhatian eskatologi.
Newton tidak memandang ruang dan waktu sebagai substansi sejati (sebagaimana halnya, secara paradigmatis, tubuh dan pikiran), melainkan sebagai entitas nyata dengan cara keberadaannya sendiri sebagaimana diharuskan oleh keberadaan Tuhan... Untuk memparafrasekan: Waktu absolut, sejati, dan matematis, dari sifat alaminya sendiri, berlalu secara merata tanpa kaitan dengan apa pun yang bersifat eksternal, dan karenanya tanpa merujuk pada perubahan atau cara pengukuran waktu apa pun (misalnya, jam, hari, bulan, atau tahun).
Pandangan yang berlawanan, yang biasanya disebut sebagai "Platonisme terhadap Waktu" atau sebagai "Absolutisme terhadap Waktu", telah dipertahankan oleh Plato, Newton, dan tokoh lainnya. Berdasarkan pandangan ini, waktu ibarat wadah kosong tempat peristiwa-peristiwa dapat ditempatkan; tetapi wadah ini ada terlepas dari apakah ada sesuatu yang ditempatkan di dalamnya atau tidak.
Apa yang benar dalam pandangan Leibnizian adalah pendirian anti-metafisisnya. Ruang dan waktu tidak eksis pada dirinya sendiri, tetapi dalam arti tertentu merupakan produk dari cara kita merepresentasikan segala sesuatu. Keduanya bersifat ideal, meskipun bukan dalam pengertian yang dipikirkan Leibniz (khayalan dari imajinasi). Idealitas ruang adalah ketergantungannya pada pikiran: hal tersebut semata-mata merupakan kondisi sensibilitas.... Kant menyimpulkan ... "ruang absolut bukanlah objek sensasi luar; melainkan merupakan konsep fundamental yang pertama-tama memungkinkan semua sensasi luar semacam itu."...Banyak argumentasi yang berkaitan dengan ruang dapat diterapkan, mutatis mutandis, pada waktu, jadi saya tidak akan mengulangi argumen-argumen tersebut. Sebagaimana ruang adalah bentuk dari intuisi luar, maka waktu adalah bentuk dari intuisi dalam.... Kant mengklaim bahwa waktu itu nyata, waktu adalah "bentuk nyata dari intuisi dalam."
Waktu, demikian argumen Kant, juga diperlukan sebagai bentuk atau syarat intuisi kita terhadap objek. Gagasan mengenai waktu itu sendiri tidak dapat dikumpulkan dari pengalaman karena suksesi dan keserempakan objek-objek, fenomena yang akan menunjukkan berlalunya waktu, akan mustahil untuk direpresentasikan jika kita belum memiliki kapasitas untuk merepresentasikan objek-objek di dalam waktu.... Cara lain untuk mengemukakan poin ini adalah dengan mengatakan bahwa fakta bahwa pikiran dari subjek yang mengetahui memberikan kontribusi a priori tidak berarti bahwa ruang dan waktu atau kategori-kategori tersebut semata-mata merupakan khayalan imajinasi. Kant adalah seorang realis empiris mengenai dunia yang kita alami; kita dapat mengetahui objek-objek sebagaimana mereka menampakkan diri kepada kita. Ia memberikan pembelaan yang kuat bagi sains dan studi tentang alam dari argumennya tentang peran pikiran dalam menciptakan alam. Semua makhluk diskursif dan rasional harus memahami dunia fisik sebagai sesuatu yang menyatu secara spasial dan temporal, demikian argumennya.
Sebagai umat manusia, kita 'merasakan' berlalunya waktu.
| Cari tahu mengenai Waktu pada proyek-proyek Wikimedia lainnya: | |
| Definisi dan terjemahan dari Wiktionary | |
| Gambar dan media dari Commons | |
| Kutipan dari Wikiquote | |
| Buku dari Wikibuku | |