Pada mamalia dan hewan lainnya, vagina adalah organ reproduksi berotot dan elastis dari saluran kelamin betina. Pada manusia, organ ini memanjang dari vestibulum vulva hingga ke serviks. Introitus vagina biasanya tertutup sebagian oleh selapis tipis jaringan mukosa yang disebut selaput dara. Vagina berfungsi sebagai saluran untuk kopulasi dan kelahiran.Organ ini juga menyalurkan aliran darah menstruasi, yang terjadi pada manusia dan primata kerabat dekatnya sebagai bagian dari siklus menstruasi.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

<a href=\"./Wikipedia:Kebijakan_pelindungan#semi\" title=\"Artikel ini dilindungi semi.\" id=\"mwBQ\"><img alt=\"Halaman yang dilindungi semi\" resource=\"./Berkas:Semi-protection-shackle.svg\" src=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1b/Semi-protection-shackle.svg/20px-Semi-protection-shackle.svg.png\" decoding=\"async\" data-file-width=\"512\" data-file-height=\"512\" data-file-type=\"drawing\" height=\"20\" width=\"20\" srcset=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1b/Semi-protection-shackle.svg/40px-Semi-protection-shackle.svg.png 2x\" class=\"mw-file-element\" id=\"mwBg\"/></a></span>"}' id="mwBw"/>
| Vagina | |
|---|---|
Vagina manusia dewasa normal, sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) menopause | |
Diagram saluran reproduksi dan ovarium wanita manusia | |
| Rincian | |
| Pendahulu | Sinus urogenitalis dan duktus paramesonefron |
| Arteri | Bagian superior ke arteri uterina, bagian tengah dan inferior ke arteri vaginalis |
| Vena | Pleksus vena uterovaginalis, vena vaginalis |
| Saraf |
|
| Limfa | Bagian atas ke kelenjar getah bening iliaka interna, bagian bawah ke kelenjar getah bening inguinal superfisial |
| Pengidentifikasi | |
| Bahasa Latin | vagina |
| MeSH | D014621 |
| TA98 | A09.1.04.001 |
| TA2 | 3523 |
| FMA | 19949 |
| Daftar istilah anatomi | |
Pada mamalia dan hewan lainnya, vagina[1] adalah organ reproduksi berotot dan elastis dari saluran kelamin betina. Pada manusia, organ ini memanjang dari vestibulum vulva hingga ke serviks (leher rahim). Introitus vagina biasanya tertutup sebagian oleh selapis tipis jaringan mukosa yang disebut selaput dara. Vagina berfungsi sebagai saluran untuk kopulasi dan kelahiran.Organ ini juga menyalurkan aliran darah menstruasi, yang terjadi pada manusia dan primata kerabat dekatnya sebagai bagian dari siklus menstruasi.
Untuk mengakomodasi penetrasi vagina yang lebih lancar selama sanggama atau aktivitas seksual lainnya, kelembapan vagina meningkat selama gairah seksual pada wanita dan mamalia betina lainnya. Peningkatan kelembapan ini menghasilkan pelumasan vagina, yang mengurangi gesekan. Tekstur dinding vagina menciptakan gesekan bagi penis selama sanggama dan menstimulasinya menuju ejakulasi, sehingga memungkinkan terjadinya pembuahan. Selain kenikmatan dan ikatan emosional, perilaku seksual wanita dengan orang lain dapat mengakibatkan infeksi menular seksual (IMS), yang risikonya dapat dikurangi dengan praktik seks aman yang dianjurkan. Masalah kesehatan lain juga dapat memengaruhi vagina manusia.
Vagina telah memicu reaksi kuat dalam masyarakat sepanjang sejarah, termasuk persepsi dan bahasa yang negatif, tabu budaya, serta penggunaannya sebagai simbol seksualitas wanita, spiritualitas, atau regenerasi kehidupan. Dalam percakapan umum, kata "vagina" sering digunakan secara keliru untuk merujuk pada vulva atau alat kelamin wanita secara umum.
Istilah vagina berasal dari bahasa Latin vāgīna, yang bermakna "selongsong" atau "sarung pedang".[1] Vagina juga dapat disebut sebagai jalan lahir dalam konteks kehamilan dan persalinan.[2][3] Meskipun berdasarkan definisi kamus dan anatomi, istilah vagina merujuk secara eksklusif pada struktur internal tertentu, istilah ini secara bahasa sehari-hari digunakan untuk merujuk pada vulva atau pada vagina dan vulva sekaligus.[4][5]
Menggunakan istilah vagina untuk mengartikan "vulva" dapat menimbulkan kerancuan medis atau hukum; sebagai contoh, interpretasi seseorang mengenai lokasinya mungkin tidak sesuai dengan interpretasi orang lain terhadap lokasi tersebut.[4][6] Secara medis, salah satu deskripsi vagina adalah saluran di antara selaput dara (atau sisa-sisa selaput dara) dan serviks, sementara deskripsi hukum menyatakan bahwa vagina dimulai dari vulva (di antara labia).[4] Kemungkinan penggunaan istilah vagina yang keliru disebabkan oleh kurangnya perhatian yang mendalam terhadap anatomi alat kelamin wanita dibandingkan dengan studi mengenai alat kelamin pria, dan hal ini berkontribusi pada ketiadaan kosakata yang tepat untuk genitalia eksternal wanita, baik di kalangan masyarakat umum maupun tenaga kesehatan profesional. Karena pemahaman yang lebih baik mengenai genitalia wanita dapat membantu menanggulangi dampak buruk secara seksual dan psikologis terkait perkembangan wanita, para peneliti mendukung penggunaan terminologi yang tepat untuk vulva.[6][7][8]

Vagina manusia adalah saluran berotot yang elastis yang memanjang dari vulva hingga serviks.[9][10] Lubang vagina terletak di segitiga urogenital. Segitiga urogenital adalah segitiga bagian depan dari perineum dan juga mencakup lubang uretra serta bagian terkait dari genitalia eksternal.[11] Saluran vagina membentang ke atas dan ke belakang, di antara uretra di bagian depan, dan rektum di bagian belakang. Di dekat vagina bagian atas, serviks menonjol ke dalam vagina pada permukaan depannya dengan sudut sekitar 90 derajat.[12] Lubang vagina dan uretra dilindungi oleh labia.[13]
Saat tidak terangsang secara seksual, vagina merupakan tabung yang menguncup, dengan dinding depan dan belakang yang saling menempel. Dinding lateralnya, terutama area tengahnya, relatif lebih kaku. Karena hal ini, vagina yang menguncup memiliki penampang melintang berbentuk huruf H.[10][14] Di bagian belakang, vagina bagian atas dipisahkan dari rektum oleh kantong rekto-uterina, vagina bagian tengah oleh jaringan ikat longgar, dan vagina bagian bawah oleh badan perineum.[15] Di tempat lumen vagina mengelilingi serviks uterus, lumen tersebut terbagi menjadi empat daerah yang bersambung (forniks vagina); yaitu forniks anterior, posterior, lateral kanan, dan lateral kiri.[9][10] Forniks posterior lebih dalam daripada forniks anterior.[10]
Vagina disangga oleh otot dan ligamen pada sepertiga bagian atas, tengah, dan bawahnya. Sepertiga bagian atas disangga oleh otot levator ani, serta ligamen transservikal, puboservikal, dan sakroservikal.[9][16] Bagian ini disangga oleh bagian atas ligamen kardinal dan parametrium.[17] Sepertiga bagian tengah vagina melibatkan diafragma urogenital.[9] Bagian ini disangga oleh otot levator ani dan bagian bawah ligamen kardinal.[17] Sepertiga bagian bawah disangga oleh badan perineum,[9][18] atau diafragma panggul dan urogenital.[19] Sepertiga bagian bawah juga dapat digambarkan disangga oleh badan perineum dan bagian pubovaginal dari otot levator ani.[16]

Lubang vagina (juga dikenal sebagai introitus vagina dan dalam bahasa Latin ostium vaginae)[20][21] terletak di ujung posterior vestibula vulva, di belakang lubang uretra. Istilah introitus secara teknis lebih tepat daripada "lubang", karena vagina biasanya menguncup, dengan lubang yang tertutup. Lubang menuju vagina biasanya tertutup oleh labia minora (bibir dalam), tetapi dapat terlihat setelah persalinan pervaginam.[10]
Selaput dara adalah lapisan tipis jaringan mukosa yang mengelilingi atau menutupi sebagian lubang vagina.[10] Efek hubungan seksual dan persalinan terhadap selaput dara bervariasi. Apabila robek, selaput dara dapat menghilang sepenuhnya atau menyisakan sisa-sisa yang dikenal sebagai carunculae myrtiformes. Jika tidak, karena sifatnya yang sangat elastis, selaput ini dapat kembali ke posisi semula.[22] Selain itu, selaput dara dapat mengalami laserasi akibat penyakit, cedera, pemeriksaan medis, masturbasi, atau latihan fisik. Karena alasan-alasan inilah, keperawanan tidak dapat ditentukan secara pasti melalui pemeriksaan selaput dara.[22][23]
Panjang vagina bervariasi di antara wanita usia subur. Karena keberadaan serviks di dinding depan vagina, terdapat perbedaan panjang antara dinding depan, sekitar 7,5 cm (2,5 hingga 3 inci), dan dinding belakang, sekitar 9 cm (3,5 inci).[10][24] Selama gairah seksual, vagina membesar baik dalam hal panjang maupun lebar. Jika seorang wanita berdiri tegak, saluran vagina mengarah ke atas-belakang dan membentuk sudut sekitar 45 derajat dengan rahim.[10][18] Lubang vagina dan selaput dara juga bervariasi ukurannya; pada anak-anak, meskipun selaput dara umumnya tampak berbentuk bulan sabit, berbagai bentuk lain juga dimungkinkan.[10][25]

Lempeng vagina adalah prekursor bagi vagina.[26] Selama perkembangan, lempeng vagina mulai tumbuh di tempat ujung-ujung duktus paramesonefron (duktus Müller) yang menyatu memasuki dinding belakang sinus urogenitalis sebagai tuberkulum sinus. Seiring pertumbuhan lempeng tersebut, serviks dan sinus urogenitalis terpisah secara signifikan; pada akhirnya, sel-sel pusat lempeng meluruh untuk membentuk lumen vagina.[26] Hal ini biasanya terjadi pada minggu kedua puluh hingga kedua puluh empat perkembangan. Jika lumen tidak terbentuk, atau tidak sempurna, membran yang dikenal sebagai septum vagina dapat terbentuk melintang atau di sekeliling saluran, yang menyebabkan obstruksi saluran keluar di kemudian hari.[26]
Terdapat pandangan yang saling bertentangan mengenai asal embriologis vagina. Pandangan mayoritas adalah deskripsi Koff tahun 1933, yang mengemukakan bahwa dua pertiga bagian atas vagina berasal dari bagian kaudal duktus Müller, sedangkan bagian bawah vagina berkembang dari sinus urogenitalis.[27][28] Pandangan lain adalah deskripsi Bulmer tahun 1957 yang menyatakan bahwa epitel vagina semata-mata berasal dari epitel sinus urogenitalis,[29] dan penelitian Witschi tahun 1970, yang meninjau kembali deskripsi Koff dan menyimpulkan bahwa bulbus sinovaginal adalah sama dengan bagian bawah duktus Wolff.[28][30] Pandangan Witschi didukung oleh penelitian Acién et al., Bok, dan Drews.[28][30] Robboy et al. meninjau teori Koff dan Bulmer, serta mendukung deskripsi Bulmer berdasarkan penelitian mereka sendiri.[29] Perdebatan ini bermula dari kompleksitas jaringan yang saling terkait dan ketiadaan model hewan yang sesuai dengan perkembangan vagina manusia.[29][31] Oleh karena itu, studi tentang perkembangan vagina manusia masih terus berlangsung dan dapat membantu menyelesaikan data yang saling bertentangan tersebut.[28]
Dinding vagina dari lumen ke arah luar pertama-tama terdiri dari mukosa epitel skuamosa berlapis yang tidak terkeratinisasi, dengan lamina propria (lapisan tipis jaringan ikat) di bawahnya. Kedua, terdapat lapisan otot polos dengan berkas serat sirkular di sebelah dalam serat longitudinal (serat yang memanjang). Terakhir, terdapat lapisan luar jaringan ikat yang disebut adventisia. Beberapa teks menyebutkan empat lapisan dengan menghitung dua sub-lapisan mukosa (epitel dan lamina propria) secara terpisah.[32][33]
Lapisan otot polos di dalam vagina memiliki kekuatan kontraksi yang lemah yang dapat menciptakan sejumlah tekanan di dalam lumen vagina. Kekuatan kontraksi yang jauh lebih kuat, seperti saat persalinan, berasal dari otot-otot di dasar panggul yang melekat pada adventisia di sekitar vagina.[34]
Lamina propria kaya akan pembuluh darah dan saluran limfatik. Lapisan otot terdiri dari serat otot polos, dengan lapisan luar otot longitudinal, lapisan dalam otot sirkular, dan serat otot miring di antaranya. Lapisan luar, adventisia, adalah lapisan jaringan ikat padat yang tipis dan menyatu dengan jaringan ikat longgar yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfatik, dan serabut saraf yang berada di antara organ-organ panggul.[12][24][33] Mukosa vagina tidak memiliki kelenjar. Mukosa ini membentuk lipatan (bumbung transversal atau rugae), yang lebih menonjol pada sepertiga luar vagina; fungsinya adalah memberikan vagina peningkatan luas permukaan untuk pemanjangan dan peregangan.[9][10]

Epitel ektoserviks (bagian dari serviks uterus yang memanjang ke dalam vagina) merupakan perpanjangan dari, dan berbatasan dengan, epitel vagina.[35] Epitel vagina terdiri dari lapisan-lapisan sel, termasuk sel basal, sel parabasal, sel datar skuamosa superfisial, dan sel intermediet.[36] Lapisan basal epitel adalah yang paling aktif secara mitosis dan memproduksi sel-sel baru.[37] Sel-sel superfisial meluruh secara terus-menerus dan sel-sel basal menggantikannya.[10][38][39] Estrogen menginduksi sel-sel intermediet dan superfisial untuk terisi dengan glikogen.[39][40] Sel-sel dari lapisan basal bawah beralih dari aktivitas metabolisme aktif menuju kematian (apoptosis). Pada lapisan tengah epitel ini, sel-sel mulai kehilangan mitokondria dan organel lainnya.[37][41] Sel-sel tersebut mempertahankan kadar glikogen yang biasanya tinggi dibandingkan dengan jaringan epitel lain dalam tubuh.[37]
Di bawah pengaruh estrogen ibu, vagina bayi baru lahir dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis yang tebal (atau mukosa) selama dua hingga empat minggu setelah lahir. Antara masa itu hingga pubertas, epitel tetap tipis dengan hanya beberapa lapisan sel kuboid tanpa glikogen.[39][42] Epitel juga memiliki sedikit rugae dan berwarna merah sebelum pubertas.[4] Saat pubertas dimulai, mukosa menebal dan kembali menjadi epitel skuamosa berlapis dengan sel-sel yang mengandung glikogen, di bawah pengaruh kadar estrogen anak perempuan yang meningkat.[39] Akhirnya, epitel menipis mulai dari menopause dan seterusnya, dan pada akhirnya berhenti mengandung glikogen karena kurangnya estrogen.[10][38][43]
Sel skuamosa pipih lebih tahan terhadap abrasi dan infeksi.[42] Permeabilitas epitel memungkinkan respons yang efektif dari sistem imun karena antibodi dan komponen imun lainnya dapat dengan mudah mencapai permukaan.[44] Epitel vagina berbeda dari jaringan serupa pada kulit. Epidermis kulit relatif tahan terhadap air karena mengandung kadar lipid yang tinggi. Epitel vagina mengandung kadar lipid yang lebih rendah. Hal ini memungkinkan lewatnya air dan zat-zat yang larut dalam air melalui jaringan tersebut.[44]
Keratinisasi terjadi ketika epitel terpapar pada atmosfer luar yang kering.[10] Dalam keadaan abnormal, seperti pada prolaps organ panggul, mukosa dapat terpapar udara, menjadi kering dan terkeratinisasi.[45]
Darah dipasok ke vagina utamanya melalui arteri vaginalis, yang muncul dari cabang arteri iliaka interna atau arteri uterina.[9][46] Arteri-arteri vagina beranastomosis (menyatu) di sepanjang sisi vagina dengan cabang serviks dari arteri uterina; hal ini membentuk arteri azigos,[46] yang terletak di garis tengah vagina anterior dan posterior.[15] Arteri lain yang memasok vagina meliputi arteri rektalis media dan arteri pudenda interna,[10] yang semuanya merupakan cabang dari arteri iliaka interna.[15] Tiga kelompok pembuluh limfatik menyertai arteri-arteri ini; kelompok atas menyertai cabang vagina dari arteri uterina; kelompok tengah menyertai arteri vaginalis; dan kelompok bawah, yang mengalirkan getah bening dari area di luar selaput dara, bermuara ke kelenjar getah bening inguinal.[15][47] Sembilan puluh lima persen saluran limfatik vagina berada dalam jarak 3 mm dari permukaan vagina.[48]
Dua vena utama mengalirkan darah dari vagina, satu di kiri dan satu di kanan. Vena-vena ini membentuk jaringan vena yang lebih kecil, pleksus vena vaginalis, di sisi-sisi vagina, yang terhubung dengan pleksus vena serupa dari rahim, kandung kemih, dan rektum. Vena-vena ini akhirnya bermuara ke dalam vena iliaka interna.[15]
Pasokan saraf vagina bagian atas disediakan oleh area simpatik dan parasimpatik dari pleksus panggul. Vagina bagian bawah dipasok oleh saraf pudendal.[10][15]
Sekresi vagina terutama berasal dari rahim, serviks, dan epitel vagina, selain sedikit pelumasan vagina dari kelenjar Bartholin saat terangsang secara seksual.[10] Hanya diperlukan sedikit sekresi vagina untuk membuat vagina lembap; sekresi dapat meningkat selama gairah seksual, pertengahan atau sesaat sebelum menstruasi, atau selama kehamilan.[10] Menstruasi (juga dikenal sebagai "haid" atau "datang bulan") adalah peluruhan darah dan jaringan mukosa (dikenal sebagai menses) secara teratur dari lapisan dalam rahim melalui vagina.[49] Membran mukosa vagina bervariasi ketebalan dan komposisinya selama siklus menstruasi,[50] yaitu perubahan alami dan teratur yang terjadi pada sistem reproduksi wanita (khususnya rahim dan indung telur) yang memungkinkan terjadinya kehamilan.[51][52] Berbagai produk kebersihan seperti tampon, cawan menstruasi, dan pembalut wanita tersedia untuk menyerap atau menampung darah menstruasi.[53]
Kelenjar Bartholin, yang terletak di dekat lubang vagina, awalnya dianggap sebagai sumber utama pelumasan vagina, tetapi pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa kelenjar ini hanya menghasilkan beberapa tetes mukus.[54] Pelumasan vagina sebagian besar disediakan oleh rembesan plasma yang dikenal sebagai transudat dari dinding vagina. Ini awalnya terbentuk sebagai tetesan seperti keringat, dan disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan dalam jaringan vagina (vasokongesti), yang mengakibatkan pelepasan plasma sebagai transudat dari kapiler melalui epitel vagina.[54][55][56]
Sebelum dan selama ovulasi, kelenjar mukosa di dalam serviks mengeluarkan variasi lendir yang berbeda, yang menyediakan lingkungan basa dan subur di saluran vagina yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup sperma.[57] Setelah menopause, pelumasan vagina menurun secara alami.[58]
Ujung-ujung saraf pada vagina dapat memberikan sensasi yang menyenangkan ketika vagina distimulasi selama aktivitas seksual. Wanita dapat memperoleh kenikmatan dari satu bagian vagina, atau dari perasaan kedekatan dan rasa penuh selama penetrasi vagina.[59] Karena vagina tidak kaya akan ujung saraf, wanita sering kali tidak mendapatkan stimulasi seksual yang cukup, atau orgasme, semata-mata dari penetrasi vagina.[59][60][61] Meskipun literatur umumnya menyebutkan konsentrasi ujung saraf yang lebih besar dan karenanya sensitivitas yang lebih tinggi di dekat pintu masuk vagina (sepertiga bagian luar atau sepertiga bawah),[60][61][62] beberapa pemeriksaan ilmiah terhadap persarafan dinding vagina menunjukkan tidak ada satu area pun dengan kepadatan ujung saraf yang lebih besar.[63][64] Penelitian lain menunjukkan bahwa hanya sebagian wanita yang memiliki kepadatan ujung saraf yang lebih besar di dinding vagina anterior.[63][65] Karena sedikitnya ujung saraf pada vagina, nyeri persalinan menjadi jauh lebih dapat ditoleransi.[61][66][67]
Kenikmatan dapat diperoleh dari vagina melalui berbagai cara. Selain penetrasi penis, kenikmatan bisa datang dari masturbasi, stimulasi dengan jari, atau posisi seks tertentu (seperti posisi misionaris atau posisi sendok).[68] Pasangan heteroseksual mungkin melakukan stimulasi jari sebagai bentuk foreplay untuk memicu gairah seksual atau sebagai tindakan penyerta,[69][70] atau sebagai jenis pengendalian kelahiran, atau untuk menjaga keperawanan.[71][72] Meskipun jarang, mereka mungkin menggunakan tindakan seksual non-penis-vagina sebagai sarana utama kenikmatan seksual.[70] Sebaliknya, lesbian dan wanita lain yang berhubungan seks dengan wanita umumnya melakukan stimulasi jari sebagai bentuk utama aktivitas seksual.[73][74] Beberapa wanita dan pasangan menggunakan mainan seks, seperti vibrator atau dildo, untuk kenikmatan vagina.[75]
Sebagian besar wanita memerlukan stimulasi langsung pada klitoris untuk mencapai orgasme.[60][61] Klitoris berperan dalam stimulasi vagina. Klitoris adalah organ seks berstruktur multiplanar yang mengandung banyak ujung saraf, dengan perlekatan luas pada lengkung pubis dan jaringan penyangga yang luas ke labia. Penelitian menunjukkan bahwa klitoris membentuk gugusan jaringan dengan vagina. Jaringan ini mungkin lebih luas pada beberapa wanita dibandingkan wanita lain, yang dapat berkontribusi pada orgasme yang dialami secara vaginal.[60][76][77]

Selama gairah seksual, dan terutama stimulasi klitoris, dinding vagina menjadi terlumasi. Hal ini dimulai setelah sepuluh hingga tiga puluh detik gairah seksual, dan jumlahnya meningkat semakin lama wanita terangsang.[78] Pelumasan ini mengurangi gesekan atau cedera yang dapat disebabkan oleh penyisipan penis ke dalam vagina atau penetrasi lainnya ke dalam vagina selama aktivitas seksual. Vagina memanjang selama gairah seksual, dan dapat terus memanjang sebagai respons terhadap tekanan; saat wanita terangsang sepenuhnya, vagina mengembang dalam panjang dan lebar, sementara serviks tertarik.[78][79] Dengan dua pertiga bagian atas vagina yang mengembang dan memanjang, rahim naik ke panggul besar, dan serviks terangkat di atas dasar vagina, yang menghasilkan pembentukan tenda pada bidang tengah vagina.[78] Hal ini dikenal sebagai efek tenda atau menggelembung.[80] Saat dinding elastis vagina meregang atau berkontraksi, dengan dukungan dari otot-otot panggul, untuk membungkus penis (atau benda lain) yang dimasukkan,[62] hal ini menciptakan gesekan bagi penis dan membantu pria mengalami orgasme dan ejakulasi, yang pada gilirannya memungkinkan terjadinya pembuahan.[81]
Sebuah area di dalam vagina yang mungkin merupakan zona erogen adalah Titik G. Titik ini biasanya didefinisikan terletak di dinding depan vagina, beberapa inci dari pintu masuk, dan beberapa wanita mengalami kenikmatan yang intens, dan terkadang orgasme, jika area ini distimulasi selama aktivitas seksual.[63][65] Orgasme Titik G mungkin bertanggung jawab atas ejakulasi wanita, yang menyebabkan beberapa dokter dan peneliti meyakini bahwa kenikmatan Titik G berasal dari kelenjar Skene, sebuah homolog wanita dari prostat, alih-alih titik tertentu di dinding vagina; peneliti lain menganggap hubungan antara kelenjar Skene dan area Titik G lemah.[63][64][65] Keberadaan Titik G (dan keberadaannya sebagai struktur yang berbeda) masih dalam perdebatan karena laporan mengenai lokasinya dapat bervariasi dari satu wanita ke wanita lainnya, titik ini tampaknya tidak ada pada sebagian wanita, dan dihipotesiskan sebagai perpanjangan dari klitoris dan oleh karena itu menjadi alasan orgasme yang dialami secara vaginal.[63][66][77]
Vagina adalah jalan lahir untuk kelahiran bayi. Saat persalinan makin dekat, beberapa tanda dapat muncul, termasuk keluarnya cairan vagina dan pecah ketuban (air ketuban pecah). Pecahnya ketuban ini menyebabkan semburan atau aliran kecil air ketuban dari vagina.[82] Pecahnya air ketuban paling sering terjadi pada awal persalinan. Hal ini terjadi sebelum persalinan jika terdapat pecah ketuban dini, yang terjadi pada 10% kasus.[83] Di antara wanita yang melahirkan untuk pertama kalinya, kontraksi Braxton Hicks sering disalahartikan sebagai kontraksi yang sebenarnya,[84] padahal kontraksi ini merupakan cara tubuh mempersiapkan diri untuk persalinan yang sesungguhnya. Kontraksi ini tidak menandakan dimulainya persalinan,[85] namun biasanya terasa sangat kuat pada hari-hari menjelang persalinan.[84][85]
Saat tubuh bersiap untuk melahirkan, serviks melunak, menipis, bergerak maju menghadap ke depan, dan mulai membuka. Hal ini memungkinkan janin turun ke dalam panggul, sebuah proses yang dikenal sebagai lightening (penurunan kepala janin).[86] Saat janin turun ke dalam panggul, nyeri dari saraf skiatik, peningkatan cairan vagina, dan peningkatan frekuensi berkemih dapat terjadi.[86] Meskipun lightening lebih mungkin terjadi setelah persalinan dimulai pada wanita yang pernah melahirkan sebelumnya, hal ini dapat terjadi sepuluh hingga empat belas hari sebelum persalinan pada wanita yang baru pertama kali melahirkan.[87]
Janin mulai kehilangan penyangga dari serviks ketika kontraksi dimulai. Dengan pembukaan serviks mencapai 10 cm untuk mengakomodasi kepala janin, kepala bergerak dari rahim menuju vagina.[82][88] Elastisitas vagina memungkinkannya meregang hingga berkali-kali lipat dari diameter normalnya guna melahirkan bayi.[89]
Kelahiran pervaginam lebih umum terjadi, tetapi jika terdapat risiko komplikasi, bedah sesar (operasi caesar) dapat dilakukan.[90] Mukosa vagina mengalami penumpukan cairan abnormal (edema) dan menipis, dengan sedikit rugae, sesaat setelah kelahiran. Mukosa menebal dan rugae kembali muncul dalam waktu sekitar tiga minggu setelah ovarium mendapatkan kembali fungsi biasanya dan aliran estrogen pulih. Lubang vagina menganga dan relaks, hingga kembali ke keadaan seperti sebelum hamil kira-kira enam sampai delapan minggu setelah melahirkan, yang dikenal sebagai masa nifas; namun, ukuran vagina akan tetap lebih besar daripada sebelumnya.[91]
Setelah melahirkan, terdapat fase keluarnya cairan vagina yang disebut lokia yang jumlah dan durasinya dapat sangat bervariasi, tetapi bisa berlangsung hingga enam minggu.[92]

Flora vagina adalah ekosistem kompleks yang berubah sepanjang hidup, mulai dari kelahiran hingga menopause. Mikrobiota vagina berdiam di dalam dan di lapisan terluar epitel vagina.[44] Mikrobioma ini terdiri dari spesies dan genus, yang biasanya tidak menimbulkan gejala atau infeksi pada wanita dengan kekebalan tubuh normal. Mikrobioma vagina didominasi oleh spesies Lactobacillus.[93] Spesies ini memetabolisme glikogen, memecahnya menjadi gula. Lactobacilli memetabolisme gula tersebut menjadi glukosa dan asam laktat.[94] Di bawah pengaruh hormon, seperti estrogen, progesteron, dan hormon perangsang folikel (FSH), ekosistem vagina mengalami perubahan siklus atau periodik.[94]


Kesehatan vagina dapat dinilai selama pemeriksaan panggul, bersama dengan kesehatan sebagian besar organ sistem reproduksi wanita.[95][96][97] Pemeriksaan semacam itu dapat mencakup tes Pap (atau apusan serviks). Di Amerika Serikat, penapisan tes Pap direkomendasikan mulai usia sekitar 21 tahun hingga usia 65 tahun.[98] Namun, negara-negara lain tidak merekomendasikan tes Pap pada wanita yang tidak aktif secara seksual.[99] Pedoman mengenai frekuensinya bervariasi dari setiap tiga hingga lima tahun.[99][100][101] Pemeriksaan panggul rutin pada wanita yang tidak hamil dan tidak memiliki gejala mungkin lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.[102] Temuan normal selama pemeriksaan panggul wanita hamil adalah rona kebiruan pada dinding vagina.[95]
Pemeriksaan panggul paling sering dilakukan apabila terdapat gejala yang tidak dapat dijelaskan berupa keluarnya cairan vagina, nyeri, pendarahan tak terduga, atau masalah perkemihan.[95][103][104] Selama pemeriksaan panggul, lubang vagina dinilai posisinya, simetri, keberadaan selaput dara, dan bentuknya. Vagina diperiksa secara internal oleh pemeriksa dengan jari bersarung tangan, sebelum spekulum dimasukkan, untuk mencatat adanya kelemahan, benjolan, atau nodul. Peradangan dan keluarnya cairan dicatat jika ada. Selama waktu ini, kelenjar Skene dan Bartholin dipalpasi untuk mengidentifikasi kelainan pada struktur-struktur tersebut. Setelah pemeriksaan digital vagina selesai, spekulum, sebuah instrumen untuk memvisualisasikan struktur internal, dimasukkan secara hati-hati agar serviks dapat terlihat.[95] Pemeriksaan vagina juga dapat dilakukan selama penggeledahan rongga tubuh.[105]
Laserasi atau cedera lain pada vagina dapat terjadi selama serangan seksual atau kekerasan seksual lainnya.[4][95] Cedera ini dapat berupa robekan, memar, peradangan, dan lecet. Serangan seksual dengan benda dapat merusak vagina dan pemeriksaan sinar-X dapat mengungkapkan adanya benda asing.[4] Jika persetujuan diberikan, pemeriksaan panggul menjadi bagian dari penilaian serangan seksual.[106] Pemeriksaan panggul juga dilakukan selama kehamilan, dan wanita dengan kehamilan risiko tinggi menjalani pemeriksaan lebih sering.[95][107]
Pemberian intravaginal adalah rute pemberian di mana obat dimasukkan ke dalam vagina dalam bentuk krim atau tablet. Secara farmakologis, hal ini memiliki keuntungan potensial untuk meningkatkan efek terapeutik terutama di vagina atau struktur di dekatnya (seperti bagian vagina serviks) dengan efek samping sistemik yang terbatas dibandingkan dengan rute pemberian lainnya.[108][109] Obat-obatan yang digunakan untuk mematangkan serviks dan menginduksi persalinan umumnya diberikan melalui rute ini, begitu pula estrogen, agen kontrasepsi, propranolol, dan antijamur. Cincin vagina juga dapat digunakan untuk menyalurkan obat, termasuk pengendalian kelahiran dalam cincin vagina kontrasepsi. Alat ini dimasukkan ke dalam vagina dan memberikan kadar obat yang berkelanjutan, berdosis rendah, dan konsisten di dalam vagina serta di seluruh tubuh.[110][111]
Sebelum bayi keluar dari rahim, suntikan untuk pengendalian nyeri selama persalinan dapat diberikan melalui dinding vagina dan di dekat saraf pudendal. Karena saraf pudendal membawa serat motorik dan sensorik yang mempersarafi otot-otot panggul, blok saraf pudendal meredakan nyeri persalinan. Obat tersebut tidak membahayakan anak, dan tanpa komplikasi yang berarti.[112]
Infeksi atau penyakit vagina meliputi infeksi jamur, vaginitis, infeksi menular seksual (IMS), dan kanker. Lactobacillus gasseri dan spesies Lactobacillus lainnya dalam flora vagina memberikan perlindungan dari infeksi melalui sekresi bakteriosin dan hidrogen peroksida.[113] Vagina yang sehat pada wanita usia subur bersifat asam, dengan pH yang biasanya berkisar antara 3,8 hingga 4,5.[94] pH yang rendah menghambat pertumbuhan banyak galur mikroba patogen.[94] Keseimbangan asam vagina juga dapat dipengaruhi oleh air mani,[114][115] kehamilan, menstruasi, diabetes atau penyakit lainnya, pil KB, antibiotik tertentu, pola makan yang buruk, dan stres.[116] Setiap perubahan pada keseimbangan asam vagina ini dapat berkontribusi pada infeksi jamur.[117] Peningkatan pH cairan vagina (lebih dari 4,5) dapat disebabkan oleh pertumbuhan bakteri yang berlebih seperti pada vaginosis bakterialis, atau pada infeksi parasit trikomoniasis, yang keduanya memiliki gejala vaginitis.[94][118] Flora vagina yang dihuni oleh sejumlah bakteri berbeda yang merupakan karakteristik vaginosis bakterialis meningkatkan risiko hasil kehamilan yang buruk.[119] Selama pemeriksaan panggul, sampel cairan vagina dapat diambil untuk menapis infeksi menular seksual atau infeksi lainnya.[95][120]
Karena vagina dapat membersihkan dirinya sendiri, organ ini biasanya tidak memerlukan perawatan kebersihan khusus.[121] Para klinisi umumnya tidak menyarankan praktik bilas vagina untuk menjaga kesehatan vulvovaginal.[121][122] Karena flora vagina memberikan perlindungan terhadap penyakit, gangguan pada keseimbangan ini dapat menyebabkan infeksi dan keluarnya cairan yang tidak normal.[121] Cairan yang keluar dari vagina dapat mengindikasikan adanya infeksi vagina melalui warna dan baunya, atau gejala yang ditimbulkannya, seperti iritasi atau rasa terbakar.[123][124] Keluarnya cairan vagina yang tidak normal dapat disebabkan oleh IMS, diabetes, bilas vagina, sabun berpewangi, mandi busa, pil KB, infeksi jamur (umumnya sebagai akibat penggunaan antibiotik), atau bentuk vaginitis lainnya.[123] Sementara vaginitis adalah peradangan pada vagina yang disebabkan oleh infeksi, masalah hormonal, atau iritan,[125][126] vaginisme adalah pengencangan otot vagina secara tak sadar selama penetrasi vagina yang disebabkan oleh refleks terkondisi atau penyakit.[125] Cairan vagina akibat infeksi jamur biasanya kental, berwarna seperti krim, dan tidak berbau, sedangkan cairan akibat vaginosis bakterialis berwarna putih keabu-abuan, dan cairan akibat trikomoniasis biasanya berwarna abu-abu, berkonsistensi encer, serta memiliki bau amis. Cairan pada 25% kasus trikomoniasis berwarna kuning kehijauan.[124]
HIV/AIDS, virus papiloma manusia (HPV), herpes genital, dan trikomoniasis adalah beberapa IMS yang dapat memengaruhi vagina, dan sumber-sumber kesehatan merekomendasikan praktik seks aman (atau metode penghalang) untuk mencegah penularan penyakit-penyakit ini dan IMS lainnya.[127][128] Seks aman umumnya melibatkan penggunaan kondom, dan terkadang kondom wanita (yang memberikan kendali lebih besar bagi wanita). Kedua jenis tersebut dapat membantu mencegah kehamilan dengan menghalangi air mani agar tidak bersentuhan dengan vagina.[129][130] Akan tetapi, hanya ada sedikit penelitian mengenai apakah kondom wanita sama efektifnya dengan kondom pria dalam mencegah IMS,[130] dan kondom wanita sedikit kurang efektif dibandingkan kondom pria dalam mencegah kehamilan, yang mungkin disebabkan karena kondom wanita terpasang kurang ketat dibandingkan kondom pria atau karena kondom tersebut dapat tergelincir masuk ke dalam vagina dan menumpahkan air mani.[131]
Kelenjar getah bening vagina sering kali memerangkap sel-sel kanker yang berasal dari vagina. Kelenjar-kelenjar ini dapat diperiksa untuk mengetahui adanya penyakit. Pengangkatan bedah selektif (alih-alih pengangkatan total yang lebih invasif) pada kelenjar getah bening vagina mengurangi risiko komplikasi yang dapat menyertai pembedahan yang lebih radikal. Kelenjar selektif ini bertindak sebagai kelenjar getah bening sentinel.[48] Sebagai pengganti pembedahan, kelenjar getah bening yang bermasalah terkadang diobati dengan terapi radiasi yang diberikan pada kelenjar getah bening panggul, inguinal, atau keduanya.[132]
Kanker vagina dan kanker vulva sangat jarang terjadi, dan terutama menyerang wanita lanjut usia.[133][134] Kanker serviks (yang relatif umum) meningkatkan risiko kanker vagina,[135] itulah sebabnya terdapat kemungkinan yang signifikan bagi kanker vagina untuk terjadi pada waktu yang bersamaan dengan, atau setelah, kanker serviks. Kemungkinan penyebab keduanya adalah sama.[133][135][136] Kanker serviks dapat dicegah dengan penapisan pap smear dan vaksin HPV, tetapi vaksin HPV hanya mencakup HPV tipe 16 dan 18, penyebab dari 70% kasus kanker serviks.[137][138] Beberapa gejala kanker serviks dan vagina adalah dispareunia, serta pendarahan vagina atau keluarnya cairan vagina yang tidak normal, terutama setelah hubungan seksual atau menopause.[139][140] Namun, sebagian besar kanker serviks bersifat asimtomatik (tidak menunjukkan gejala).[139] Brakiterapi intrakavitas vagina (VBT) digunakan untuk mengobati kanker endometrium, vagina, dan serviks. Sebuah aplikator dimasukkan ke dalam vagina untuk memungkinkan pemberian radiasi sedekat mungkin dengan lokasi kanker.[141][142] Tingkat kelangsungan hidup meningkat dengan VBT bila dibandingkan dengan terapi radiasi sinar eksternal.[141] Dengan menggunakan vagina untuk menempatkan pemancar sedekat mungkin dengan pertumbuhan kanker, efek sistemik dari terapi radiasi berkurang dan tingkat kesembuhan untuk kanker vagina menjadi lebih tinggi.[143] Belum ada kejelasan dalam penelitian mengenai apakah pengobatan kanker serviks dengan terapi radiasi meningkatkan risiko kanker vagina.[135]
Usia dan kadar hormon berkorelasi secara signifikan dengan pH vagina.[144] Estrogen, glikogen, dan lactobacilli memengaruhi kadar ini.[145][146] Saat lahir, vagina bersifat asam dengan pH sekitar 4,5,[144] dan berhenti menjadi asam pada usia tiga hingga enam minggu,[147] menjadi basa.[148] Rata-rata pH vagina adalah 7,0 pada anak perempuan pra-pubertas.[145] Meskipun terdapat tingkat variabilitas yang tinggi dalam hal waktu, anak perempuan yang berusia sekitar tujuh hingga dua belas tahun akan terus mengalami perkembangan labia seiring dengan menebalnya selaput dara dan memanjangnya vagina hingga sekitar 8 cm. Mukosa vagina menebal dan pH vagina kembali menjadi asam. Anak perempuan juga dapat mengalami keluarnya cairan vagina berwarna putih dan encer yang disebut keputihan (leukorea).[148] Mikrobiota vagina remaja putri berusia 13 hingga 18 tahun serupa dengan wanita usia reproduksi,[146] yang memiliki rata-rata pH vagina 3,8–4,5,[94] namun penelitian belum begitu jelas apakah hal ini sama untuk anak perempuan pramenarke atau perimenarke.[146] pH vagina selama menopause adalah 6,5–7,0 (tanpa terapi penggantian hormon), atau 4,5–5,0 dengan terapi penggantian hormon.[146]

Setelah menopause, tubuh memproduksi lebih sedikit estrogen. Hal ini menyebabkan vaginitis atrofi (penipisan dan peradangan pada dinding vagina),[38][149] yang dapat memicu gatal pada vagina, rasa terbakar, pendarahan, rasa sakit, atau kekeringan vagina (penurunan pelumasan).[150] Kekeringan vagina dapat menyebabkan ketidaknyamanan tersendiri atau ketidaknyamanan maupun rasa sakit selama hubungan seksual.[150][151] Semburan panas (hot flashes) juga merupakan karakteristik menopause.[116][152] Menopause juga memengaruhi komposisi struktur penyangga vagina. Struktur vaskular menjadi semakin sedikit seiring bertambahnya usia.[153] Kolagen tertentu mengalami perubahan dalam komposisi dan rasionya. Diperkirakan bahwa melemahnya struktur penyangga vagina disebabkan oleh perubahan fisiologis pada jaringan ikat ini.[154]
Gejala menopause dapat diredakan dengan krim vagina yang mengandung estrogen,[152] obat non-hormonal tanpa resep,[150] cincin estrogen vagina seperti Femring,[155] atau terapi penggantian hormon lainnya,[152] tetapi terdapat risiko (termasuk efek samping) yang terkait dengan terapi penggantian hormon.[156][157] Krim vagina dan cincin estrogen vagina mungkin tidak memiliki risiko yang sama dengan pengobatan penggantian hormon lainnya.[158] Terapi penggantian hormon dapat mengobati kekeringan vagina,[155] tetapi pelumas pribadi dapat digunakan untuk mengatasi kekeringan vagina secara sementara, khususnya untuk hubungan seksual.[151] Beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual setelah menopause.[150] Kemungkinan wanita menopause yang terus melakukan aktivitas seksual secara teratur mengalami pelumasan vagina yang serupa dengan kadar pada wanita yang belum memasuki menopause, dan dapat menikmati hubungan seksual sepenuhnya.[150] Mereka mungkin mengalami lebih sedikit atrofi vagina dan lebih sedikit masalah terkait hubungan seksual.[159]
Perubahan vagina yang terjadi seiring penuaan dan persalinan meliputi redundansi mukosa, pembulatan aspek posterior vagina dengan pemendekan jarak dari ujung distal saluran anus ke lubang vagina, diastasis atau gangguan pada otot pubokoksigeus yang disebabkan oleh perbaikan episiotomi yang buruk, dan gelembung yang mungkin menonjol di luar area lubang vagina.[160] Perubahan vagina lainnya yang berkaitan dengan penuaan dan persalinan adalah inkontinensia urin tekanan, rektokel, dan sistokel.
[160] Perubahan fisik akibat kehamilan, persalinan, dan menopause sering kali berkontribusi pada inkontinensia urin tekanan. Jika seorang wanita memiliki penyangga otot dasar panggul yang lemah dan kerusakan jaringan akibat persalinan atau pembedahan panggul, kekurangan estrogen dapat semakin melemahkan otot-otot panggul dan berkontribusi pada inkontinensia urin tekanan.[161] Prolaps organ panggul, seperti rektokel atau sistokel, ditandai dengan turunnya organ panggul dari posisi normalnya hingga menekan vagina.[162][163] Penurunan estrogen tidak menyebabkan rektokel, sistokel, atau prolaps uteri, tetapi persalinan dan kelemahan pada struktur penyangga panggul dapat menyebabkannya.[159] Prolaps juga dapat terjadi ketika dasar panggul mengalami cedera selama histerektomi, pengobatan kanker ginekologi, atau mengangkat beban berat.[162][163] Latihan dasar panggul seperti senam Kegel dapat digunakan untuk memperkuat otot dasar panggul,[164] mencegah atau menghentikan perkembangan prolaps.[165] Tidak ada bukti bahwa melakukan senam Kegel secara isotonik atau dengan beban tertentu lebih unggul; terdapat risiko yang lebih besar dalam penggunaan beban karena benda asing dimasukkan ke dalam vagina.[166]
Selama tahap ketiga persalinan, saat bayi dilahirkan, vagina mengalami perubahan yang signifikan. Semburan darah dari vagina dapat terlihat tepat sebelum bayi lahir. Laserasi pada vagina yang dapat terjadi selama kelahiran bervariasi dalam hal kedalaman, keparahan, dan jumlah keterlibatan jaringan di sekitarnya.[4][167] Laserasi tersebut bisa sangat luas hingga melibatkan rektum dan anus. Kejadian ini dapat sangat menyedihkan bagi ibu baru.[167][168] Ketika hal ini terjadi, inkontinensia tinja berkembang dan tinja dapat keluar melalui vagina.[167] Hampir 85% kelahiran pervaginam spontan mengalami beberapa bentuk robekan. Dari jumlah tersebut, 60–70% memerlukan penjahitan.[169][170] Laserasi akibat persalinan tidak selalu terjadi.[44]
Vagina, termasuk lubang vagina, dapat mengalami perubahan akibat pembedahan seperti episiotomi, vaginektomi, vaginoplasti, atau labiaplasti.[160][171] Mereka yang menjalani vaginoplasti biasanya berusia lebih tua dan pernah melahirkan.[160] Pemeriksaan vagina secara menyeluruh sebelum vaginoplasti merupakan prosedur standar, serta rujukan ke uroginekolog untuk mendiagnosis kemungkinan kelainan vagina.[160] Terkait labiaplasti, pengurangan labia minora berlangsung cepat tanpa hambatan, komplikasi bersifat minor dan jarang terjadi, serta dapat dikoreksi. Jaringan parut apa pun dari prosedur ini sangat minimal, dan masalah jangka panjang belum teridentifikasi.[160]
Selama episiotomi, sayatan bedah dibuat pada kala dua persalinan untuk memperbesar lubang vagina agar bayi dapat melewatinya.[44][141] Meskipun penggunaan rutinnya tidak lagi direkomendasikan,[172] dan persalinan tanpa episiotomi ditemukan memberikan hasil yang lebih baik daripada dengan episiotomi,[44] ini adalah salah satu prosedur medis yang paling umum dilakukan pada wanita. Sayatan dibuat menembus kulit, epitel vagina, lemak subkutan, badan perineum, dan otot transversus perinei superfisialis serta memanjang dari vagina ke anus.[173][174] Episiotomi dapat menimbulkan rasa nyeri setelah persalinan. Wanita sering melaporkan nyeri selama hubungan seksual hingga tiga bulan setelah perbaikan laserasi atau episiotomi.[169][170] Beberapa teknik bedah menghasilkan nyeri yang lebih sedikit dibandingkan teknik lainnya.[169] Dua jenis episiotomi yang dilakukan adalah sayatan medial dan sayatan mediolateral. Sayatan medial adalah potongan tegak lurus antara vagina dan anus dan merupakan jenis yang paling umum.[44][175] Sayatan mediolateral dibuat di antara vagina dengan sudut tertentu dan tidak terlalu berisiko robek hingga ke anus. Potongan mediolateral memakan waktu penyembuhan lebih lama daripada potongan medial.[44]
Vaginektomi adalah pembedahan untuk mengangkat seluruh atau sebagian vagina, dan biasanya digunakan untuk mengobati keganasan.[171] Pengangkatan sebagian atau seluruh organ seksual dapat mengakibatkan kerusakan saraf dan meninggalkan jaringan parut atau perlengketan.[176] Fungsi seksual juga dapat terganggu sebagai akibatnya, seperti dalam kasus beberapa operasi kanker serviks. Pembedahan ini dapat berdampak pada rasa nyeri, elastisitas, pelumasan vagina, dan gairah seksual. Hal ini sering kali membaik setelah satu tahun tetapi mungkin memakan waktu lebih lama.[176]
Wanita, terutama mereka yang berusia lebih tua dan telah melahirkan berkali-kali, mungkin memilih bedah koreksi untuk kelonggaran vagina. Pembedahan ini telah digambarkan sebagai pengencangan atau peremajaan vagina.[177] Meskipun seorang wanita mungkin mengalami peningkatan dalam citra diri dan kenikmatan seksual dengan menjalani pengencangan atau peremajaan vagina,[177] terdapat risiko yang terkait dengan prosedur tersebut, termasuk infeksi, penyempitan lubang vagina, pengencangan yang tidak memadai, penurunan fungsi seksual (seperti nyeri saat berhubungan seksual), dan fistula rektovagina. Wanita yang menjalani prosedur ini mungkin tanpa sadar memiliki masalah medis, seperti prolaps, dan upaya untuk memperbaiki kondisi ini juga dilakukan selama pembedahan.[178]
Pembedahan pada vagina dapat bersifat elektif atau kosmetik. Wanita yang mencari bedah kosmetik mungkin memiliki kondisi bawaan, ketidaknyamanan fisik, atau keinginan untuk mengubah penampilan alat kelamin mereka. Data mengenai penampilan atau ukuran alat kelamin rata-rata sebagian besar tidak tersedia, sehingga menyulitkan pendefinisian hasil yang sukses bagi pembedahan semacam itu.[179] Sejumlah operasi penentuan ulang seks tersedia bagi orang transgender. Meskipun tidak semua kondisi interseks memerlukan perawatan bedah, beberapa orang memilih bedah genital untuk mengoreksi kondisi anatomi yang atipikal.[180]

Anomali vagina adalah cacat yang mengakibatkan vagina abnormal atau tidak terbentuk.[181][182] Anomali vagina obstruktif yang paling umum adalah selaput dara imperforata, suatu kondisi di mana selaput dara menghalangi aliran menstruasi atau sekresi vagina lainnya.[183][184] Anomali vagina lainnya adalah septum vagina transversal, yang menghalangi saluran vagina sebagian atau seluruhnya.[183] Penyebab pasti obstruksi harus ditentukan sebelum diperbaiki, karena bedah korektif berbeda-beda tergantung pada penyebabnya.[185] Pada beberapa kasus, seperti agenesis vagina terisolasi, genitalia eksternal mungkin tampak normal.[186]
Lubang abnormal yang dikenal sebagai fistula dapat menyebabkan urin atau tinja masuk ke dalam vagina, yang mengakibatkan inkontinensia.[187][188] Vagina rentan terhadap pembentukan fistula karena kedekatannya dengan saluran kemih dan pencernaan.[189] Penyebab spesifiknya bermacam-macam dan meliputi persalinan macet, histerektomi, keganasan, radiasi, episiotomi, dan gangguan usus.[190][191] Sejumlah kecil fistula vagina bersifat bawaan.[192] Berbagai metode pembedahan digunakan untuk memperbaiki fistula.[187][193] Jika tidak diobati, fistula dapat mengakibatkan disabilitas yang signifikan dan berdampak besar pada kualitas hidup.[187]
Eviserasi vagina adalah komplikasi serius dari histerektomi vaginal dan terjadi ketika manset vagina robek, yang memungkinkan usus halus menonjol keluar dari vagina.[106][194]
Kista juga dapat memengaruhi vagina. Berbagai jenis kista vagina dapat berkembang di permukaan epitel vagina atau di lapisan vagina yang lebih dalam dan dapat tumbuh hingga sebesar 7 cm.[195][196] Sering kali, kista ini merupakan temuan insidental selama pemeriksaan panggul rutin.[197] Kista vagina dapat menyerupai struktur lain yang menonjol dari vagina seperti rektokel dan sistokel.[195] Kista yang mungkin ada meliputi kista Müller, kista duktus Gartner, dan kista epidermoid.[198][199] Kista vagina paling mungkin berkembang pada wanita antara usia 30 dan 40 tahun.[195] Diperkirakan 1 dari 200 wanita memiliki kista vagina.[195][200] Kista Bartholin berasal dari vulva dan bukan vagina,[201] tetapi muncul sebagai benjolan di lubang vagina.[202] Kista ini lebih umum terjadi pada wanita yang lebih muda dan biasanya tanpa gejala,[203] tetapi dapat menyebabkan rasa sakit jika abses terbentuk,[203] menghalangi jalan masuk ke vestibula vulva jika berukuran besar,[204] serta menghambat aktivitas berjalan atau menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual.[203]
Beragam persepsi mengenai vagina telah eksis sepanjang sejarah, termasuk kepercayaan bahwa vagina adalah pusat hasrat seksual, metafora kehidupan melalui kelahiran, inferior dibandingkan penis, tidak menarik dipandang atau dicium, atau vulgar.[205][206][207] Pandangan-pandangan ini sebagian besar dapat dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin, dan bagaimana perbedaan tersebut diinterpretasikan. David Buss, seorang psikolog evolusioner, menyatakan bahwa karena penis berukuran jauh lebih besar daripada klitoris dan mudah terlihat sementara vagina tidak, serta laki-laki berkemih melalui penis, anak laki-laki diajarkan sejak kecil untuk menyentuh penis mereka, sedangkan anak perempuan sering diajarkan bahwa mereka tidak boleh menyentuh alat kelamin mereka sendiri, yang menyiratkan adanya bahaya jika melakukannya. Buss mengaitkan hal ini sebagai alasan mengapa banyak wanita tidak begitu mengenal alat kelamin mereka, dan bahwa para peneliti berasumsi perbedaan seks ini menjelaskan mengapa anak laki-laki belajar masturbasi lebih dulu daripada anak perempuan dan melakukannya lebih sering.[208]
Kata vagina umumnya dihindari dalam percakapan,[209] dan banyak orang bingung mengenai anatomi vagina serta mungkin tidak menyadari bahwa vagina tidak digunakan untuk berkemih.[210][211][212] Hal ini diperparah dengan frasa seperti "anak laki-laki punya penis, anak perempuan punya vagina", yang menyebabkan anak-anak berpikir bahwa anak perempuan hanya memiliki satu lubang di area panggul.[211] Penulis Hilda Hutcherson menyatakan, "Karena banyak [wanita] telah dikondisikan sejak masa kanak-kanak melalui isyarat verbal dan nonverbal untuk menganggap alat kelamin [mereka] jelek, bau, dan tidak bersih, [mereka] tidak mampu menikmati pertemuan intim sepenuhnya" karena ketakutan bahwa pasangan mereka tidak akan menyukai pemandangan, bau, atau rasa alat kelamin mereka. Ia berargumen bahwa wanita, tidak seperti pria, tidak memiliki pengalaman ruang ganti di sekolah di mana mereka saling membandingkan alat kelamin, yang menjadi salah satu alasan mengapa begitu banyak wanita bertanya-tanya apakah alat kelamin mereka normal.[206] Ilmuwan Catherine Blackledge menyatakan bahwa memiliki vagina berarti ia biasanya akan diperlakukan kurang baik dibandingkan rekan-rekannya yang tidak memiliki vagina dan tunduk pada ketidaksetaraan (seperti ketidaksetaraan kerja), yang ia kategorikan sebagai perlakuan layaknya warga kelas dua.[209]

Pandangan negatif tentang vagina secara simultan dikontraskan dengan pandangan bahwa vagina adalah simbol kuat seksualitas wanita, spiritualitas, atau kehidupan. Penulis Denise Linn menyatakan bahwa vagina "adalah simbol kuat kewanitaan, keterbukaan, penerimaan, dan reseptivitas. Ini adalah semangat lembah batin".[213] Sigmund Freud menempatkan nilai signifikan pada vagina,[214] dengan mendalilkan konsep bahwa orgasme vagina terpisah dari orgasme klitoris, dan bahwa, setelah mencapai pubertas, respons yang tepat bagi wanita dewasa adalah peralihan ke orgasme vagina (yang berarti orgasme tanpa stimulasi klitoris apa pun). Teori ini membuat banyak wanita merasa tidak memadai, karena mayoritas wanita tidak dapat mencapai orgasme melalui hubungan seksual vagina saja.[215][216][217] Mengenai agama, rahim merepresentasikan simbol kuat sebagai yoni dalam agama Hindu, yang mewakili "potensi feminin", dan ini dapat mengindikasikan nilai yang diberikan masyarakat Hindu terhadap seksualitas wanita dan kemampuan vagina untuk melahirkan kehidupan;[218] namun, yoni sebagai representasi "rahim" bukanlah denotasi utamanya.[219]
Sementara itu, pada zaman kuno, vagina sering dianggap setara (homolog) dengan penis, dengan ahli anatomi Galen (129 M – 200 M) dan Vesalius (1514–1564) memandang organ tersebut secara struktural sama kecuali vagina yang terbalik, studi anatomi selama berabad-abad kemudian menunjukkan klitoris sebagai ekuivalen penis.[76][220] Persepsi lain mengenai vagina adalah bahwa pelepasan cairan vagina akan menyembuhkan atau memulihkan sejumlah penyakit; berbagai metode digunakan selama berabad-abad untuk melepaskan "benih wanita" (melalui pelumasan vagina atau ejakulasi wanita) sebagai pengobatan untuk suffocatio ex semine retentocode: la is deprecated (sesak napas rahim, har. 'sesak napas akibat benih yang tertahan'), penyakit hijau, dan kemungkinan untuk histeria wanita. Metode pengobatan yang dilaporkan meliputi seorang bidan yang menggosok dinding vagina atau penyisipan penis atau objek berbentuk penis ke dalam vagina. Gejala diagnosis histeria wanita – sebuah konsep yang tidak lagi diakui oleh otoritas medis sebagai gangguan medis – meliputi pingsan, kegugupan, insomnia, retensi cairan, rasa berat di perut, kejang otot, sesak napas, iritabilitas, hilangnya nafsu makan atau seks, dan kecenderungan untuk membuat masalah.[221] Mungkin saja wanita yang dianggap menderita kondisi histeria wanita terkadang menjalani "pijat panggul" – stimulasi alat kelamin oleh dokter hingga wanita tersebut mengalami "paroksisme histeris" (yaitu, orgasme). Dalam kasus ini, paroksisme dianggap sebagai perawatan medis, dan bukan pelepasan seksual.[221]
Vagina telah diberi banyak nama vulgar, tiga di antaranya adalah memek (pussy), tempik, dan puki (cunt). Cunt dalam bahasa Inggris juga digunakan sebagai julukan meremehkan yang merujuk pada orang dari jenis kelamin apa pun. Penggunaan ini relatif baru, berasal dari akhir abad kesembilan belas.[222] Mencerminkan penggunaan nasional yang berbeda, cunt digambarkan sebagai "orang yang tidak menyenangkan atau bodoh" dalam Compact Oxford English Dictionary,[223] sedangkan Merriam-Webster memiliki penggunaan istilah tersebut sebagai "biasanya meremehkan dan cabul: wanita",[224] mencatat bahwa istilah ini digunakan di Amerika Serikat sebagai "cara yang menyinggung untuk merujuk pada seorang wanita".[225] Random House mendefinisikannya sebagai "pria yang tercela, hina, atau bodoh".[222] Beberapa feminis tahun 1970-an berusaha menghilangkan istilah-istilah yang merendahkan seperti cunt.[226] Twat digunakan secara luas sebagai julukan peyoratif, terutama dalam bahasa Inggris Britania, merujuk pada orang yang dianggap menjengkelkan atau bodoh.[227][228] Pussy dapat mengindikasikan "kepengecutan atau kelemahan", dan "vulva atau vagina manusia" atau secara luas "hubungan seksual dengan seorang wanita".[229] Dalam bahasa Inggris, penggunaan kata pussy untuk merujuk pada wanita dianggap peyoratif atau merendahkan, yang memperlakukan orang sebagai objek seksual.[230]
Vagina loquens, atau "vagina yang berbicara", adalah tradisi penting dalam sastra dan seni, yang berakar pada motif cerita rakyat kuno tentang "kemaluan wanita yang berbicara".[231][232] Kisah-kisah ini biasanya melibatkan vagina yang dapat berbicara akibat pengaruh sihir atau mantra, dan sering kali mengakui hilangnya kesucian mereka.[231] Cerita rakyat lainnya mengisahkan vagina yang memiliki gigi – vagina dentata (bahasa Latin untuk "vagina bergigi"). Kisah ini membawa implikasi bahwa hubungan seksual dapat mengakibatkan cedera, emaskulasi, atau kastrasi bagi pria yang terlibat. Cerita-cerita ini sering dikisahkan sebagai kisah peringatan yang memperingatkan akan bahaya wanita asing dan untuk mencegah pemerkosaan.[233]
Pada tahun 1966, seniman Prancis Niki de Saint Phalle berkolaborasi dengan seniman Dadais Jean Tinguely dan Per Olof Ultvedt dalam sebuah instalasi patung besar berjudul "hon-en katedral"code: sv is deprecated (juga dieja "Hon-en-Katedrall"code: sv is deprecated , yang berarti "dia-sebuah katedral") untuk Moderna Museet, di Stockholm, Swedia. Bentuk luarnya adalah patung raksasa seorang wanita yang sedang berbaring, di mana pengunjung dapat masuk melalui lubang vagina seukuran pintu di antara kedua kakinya yang terbentang.[234]
The Vagina Monologues, sebuah naskah drama episodik tahun 1996 karya Eve Ensler, telah berkontribusi menjadikan seksualitas wanita sebagai topik wacana publik. Karya ini terdiri dari sejumlah monolog yang dibacakan oleh beberapa wanita. Awalnya, Ensler membawakan setiap monolog sendirian, dengan pertunjukan berikutnya menampilkan tiga aktris; versi-versi selanjutnya menampilkan aktris yang berbeda untuk setiap peran. Setiap monolog membahas aspek pengalaman feminin, menyentuh hal-hal seperti aktivitas seksual, cinta, pemerkosaan, menstruasi, mutilasi alat kelamin wanita, masturbasi, kelahiran, orgasme, berbagai nama umum untuk vagina, atau hanya sebagai aspek fisik tubuh. Tema yang berulang di seluruh bagian tersebut adalah vagina sebagai alat pemberdayaan wanita, dan perwujudan utama dari individualitas.[235][236]
Pandangan masyarakat, yang dipengaruhi oleh tradisi, kurangnya pengetahuan tentang anatomi, atau seksisme, dapat berdampak signifikan pada keputusan seseorang untuk mengubah alat kelamin mereka sendiri atau orang lain.[178][237] Wanita mungkin ingin mengubah alat kelamin mereka (vagina atau vulva) karena mereka percaya bahwa penampilannya, seperti panjang labia minora yang menutupi lubang vagina, tidak normal, atau karena mereka menginginkan lubang vagina yang lebih kecil atau vagina yang lebih kencang. Wanita mungkin ingin tetap terlihat muda dalam penampilan dan fungsi seksual. Pandangan ini sering dipengaruhi oleh media,[178][238] termasuk pornografi,[238] dan akibatnya wanita dapat memiliki harga diri yang rendah.[178] Mereka mungkin merasa malu untuk telanjang di depan pasangan seksual dan mungkin bersikeras melakukan hubungan seks dengan lampu dimatikan.[178] Ketika bedah modifikasi dilakukan murni untuk alasan kosmetik, hal itu sering dipandang buruk,[178] dan beberapa dokter membandingkan pembedahan semacam itu dengan mutilasi alat kelamin wanita (FGM).[238]
Mutilasi alat kelamin wanita, juga dikenal sebagai sunat perempuan atau pemotongan alat kelamin perempuan, adalah modifikasi alat kelamin tanpa manfaat kesehatan.[239][240] Bentuk yang paling parah adalah FGM Tipe III, yaitu infibulasi yang melibatkan pengangkatan seluruh atau sebagian labia dan penutupan vagina. Sebuah lubang kecil disisakan untuk keluarnya urin dan darah menstruasi, dan vagina dibuka untuk hubungan seksual dan persalinan.[240]
Kontroversi yang signifikan melingkupi mutilasi alat kelamin wanita,[239][240] dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan organisasi kesehatan lainnya berkampanye menentang prosedur tersebut atas nama hak asasi manusia, yang menyatakan bahwa hal itu adalah "pelanggaran hak asasi manusia anak perempuan dan wanita" dan "mencerminkan ketidaksetaraan yang mengakar antara jenis kelamin".[240] Mutilasi alat kelamin wanita telah ada pada satu titik atau lainnya di hampir semua peradaban manusia,[241] paling sering untuk melakukan kontrol atas perilaku seksual, termasuk masturbasi, dari anak perempuan dan wanita.[240][241] Praktik ini dilakukan di beberapa negara, terutama di Afrika, dan pada tingkat yang lebih rendah di bagian lain Timur Tengah dan Asia Tenggara, pada anak perempuan dari usia beberapa hari hingga pertengahan remaja, sering kali untuk mengurangi hasrat seksual dalam upaya menjaga keperawanan vagina.[239][240][241] Comfort Momoh menyatakan mungkin saja mutilasi alat kelamin wanita "dipraktikkan di Mesir kuno sebagai tanda pembeda di kalangan bangsawan"; terdapat laporan bahwa jejak infibulasi ditemukan pada mumi Mesir.[241]
Adat dan tradisi adalah alasan yang paling sering dikutip untuk praktik mutilasi alat kelamin wanita. Beberapa budaya percaya bahwa mutilasi alat kelamin wanita adalah bagian dari inisiasi seorang gadis menuju kedewasaan dan bahwa tidak melakukannya dapat mengganggu kohesi sosial dan politik.[240][241] Dalam masyarakat ini, seorang gadis sering kali tidak dianggap dewasa kecuali ia telah menjalani prosedur tersebut.[240]

Vagina adalah struktur pada hewan di mana betina dibuahi secara internal, alih-alih melalui inseminasi traumatis yang digunakan oleh beberapa invertebrata. Meskipun penelitian tentang vagina sangat kurang untuk berbagai hewan yang berbeda, lokasi, struktur, dan ukurannya didokumentasikan bervariasi antarspesies. Pada mamalia theria (plasental dan marsupial), vagina mengarah dari rahim ke bagian luar tubuh betina. Mamalia plasental betina memiliki dua lubang pada vulva; yaitu lubang uretra untuk saluran kemih dan lubang vagina untuk saluran genital. Bergantung pada spesiesnya, lubang-lubang ini mungkin berada di dalam sinus urogenitalis internal atau pada vestibula eksternal.[242] Marsupial betina memiliki dua vagina lateral, yang mengarah ke rahim yang terpisah, tetapi keduanya bermuara secara eksternal melalui lubang yang sama;[243] saluran ketiga, yang dikenal sebagai vagina median, dan bisa bersifat sementara atau permanen, digunakan untuk kelahiran.[244] Hiena tutul betina tidak memiliki lubang vagina eksternal. Sebaliknya, vagina keluar melalui klitoris, yang memungkinkan betina untuk buang air kecil, berkopulasi, dan melahirkan melalui klitoris.[245] Pada canidae betina, vagina berkontraksi selama kopulasi, membentuk ikatan kopulasi (copulatory tie).[246] Cetacea betina memiliki lipatan vagina yang tidak ditemukan pada mamalia lain.[247][248]
Monotremata, burung, reptil, dan amfibi memiliki kloaka yang merupakan satu-satunya lubang luar untuk saluran pencernaan, saluran kemih, dan saluran reproduksi. Beberapa vertebrata ini memiliki bagian oviduk yang mengarah ke kloaka.[249][250] Ayam memiliki celah vagina yang membuka dari apeks vertikal kloaka. Vagina memanjang ke atas dari celah tersebut dan menjadi kelenjar telur.[250] Pada beberapa ikan tak berrahang, tidak terdapat oviduk maupun vagina, melainkan telur bergerak langsung melalui rongga tubuh (dan dibuahi secara eksternal seperti pada sebagian besar ikan dan amfibi). Pada serangga dan invertebrata lainnya, vagina dapat menjadi bagian dari oviduk (lihat sistem reproduksi serangga).[251] Burung memiliki kloaka tempat bermuaranya saluran kemih, saluran reproduksi (vagina), dan saluran pencernaan.[252] Betina dari beberapa spesies unggas air telah mengembangkan struktur vagina yang disebut kantung buntu dan kumparan searah jarum jam untuk melindungi diri dari paksaan seksual.[253]
Kurangnya penelitian mengenai vagina dan genitalia betina lainnya, terutama pada berbagai hewan, telah menghambat pengetahuan tentang anatomi seksual betina.[254][255] Salah satu penjelasan mengapa genitalia jantan lebih banyak dipelajari mencakup fakta bahwa penis jauh lebih sederhana untuk dianalisis daripada rongga genital betina, karena alat kelamin jantan biasanya menonjol keluar sehingga lebih mudah untuk dinilai dan diukur. Sebaliknya, alat kelamin betina lebih sering tersembunyi, dan memerlukan lebih banyak pembedahan, yang pada gilirannya membutuhkan lebih banyak waktu.[254] Penjelasan lainnya adalah bahwa fungsi utama penis adalah untuk membuahi, sementara alat kelamin betina dapat berubah bentuk saat berinteraksi dengan organ jantan, terutama untuk menguntungkan atau menghambat keberhasilan reproduksi.[254]
Primata nonmanusia merupakan model yang optimal untuk penelitian biomedis manusia karena manusia dan primata nonmanusia memiliki karakteristik fisiologis yang sama sebagai hasil dari evolusi.[256] Meskipun menstruasi sangat erat kaitannya dengan wanita manusia, dan mereka memiliki menstruasi yang paling jelas, hal ini juga merupakan ciri khas kerabat kera dan monyet.[257][258] Makaka betina mengalami menstruasi, dengan panjang siklus sepanjang hidup yang sebanding dengan wanita manusia. Estrogen dan progestogen dalam siklus menstruasi serta selama pramenarke dan pascamenopause juga serupa pada wanita manusia dan makaka betina; namun, keratinisasi epitel selama fase folikuler hanya terjadi pada makaka.[256] pH vagina makaka juga berbeda, dengan nilai median yang hampir netral hingga sedikit basa dan sangat bervariasi, yang mungkin disebabkan oleh kurangnya lactobacilli dalam flora vaginanya.[256] Inilah salah satu alasan mengapa, meskipun makaka digunakan untuk mempelajari penularan HIV dan menguji mikrobisida,[256] model hewan tidak sering digunakan dalam studi infeksi menular seksual, seperti trikomoniasis. Alasan lainnya adalah bahwa penyebab kondisi tersebut terikat erat dengan susunan genetik manusia, sehingga hasil dari spesies lain sulit diterapkan pada manusia.[259]
Little thought apparently has been devoted to the nature of female genitals in general, likely accounting for the reason that most people use incorrect terms when referring to female external genitals. The term typically used to talk about female genitals is vagina, which is actually an internal sexual structure, the muscular passageway leading outside from the uterus. The correct term for the female external genitals is vulva, as discussed in chapter 6, which includes the clitoris, labia majora, and labia minora.
In addition, there is a current lack of appropriate vocabulary to refer to the external female genitals, using, for example, 'vagina' and 'vulva' as if they were synonyms, as if using these terms incorrectly were harmless to the sexual and psychological development of women.'
Because the vagina is collapsed, it appears H-shaped in cross section.
Most people agree that we maintain virginity as long as we refrain from sexual (vaginal) intercourse. But occasionally we hear people speak of 'technical virginity' [...] Data indicate that 'a very significant proportion of teens ha[ve] had experience with oral sex, even if they haven't had sexual intercourse, and may think of themselves as virgins' [...] Other research, especially research looking into virginity loss, reports that 35% of virgins, defined as people who have never engaged in vaginal intercourse, have nonetheless engaged in one or more other forms of heterosexual sexual activity (e.g., oral sex, anal sex, or mutual masturbation).
The urine flows from the bladder through the urethra to the outside. Little girls often make the common mistake of thinking that they're urinating out of their vaginas. A woman's urethra is two inches long, while a man's is ten inches long.