Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Vagina

Pada mamalia dan hewan lainnya, vagina adalah organ reproduksi berotot dan elastis dari saluran kelamin betina. Pada manusia, organ ini memanjang dari vestibulum vulva hingga ke serviks. Introitus vagina biasanya tertutup sebagian oleh selapis tipis jaringan mukosa yang disebut selaput dara. Vagina berfungsi sebagai saluran untuk kopulasi dan kelahiran.Organ ini juga menyalurkan aliran darah menstruasi, yang terjadi pada manusia dan primata kerabat dekatnya sebagai bagian dari siklus menstruasi.

bagian dari alat kelamin wanita
Diperbarui 18 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Vagina

<a href=\"./Wikipedia:Kebijakan_pelindungan#semi\" title=\"Artikel ini dilindungi semi.\" id=\"mwBQ\"><img alt=\"Halaman yang dilindungi semi\" resource=\"./Berkas:Semi-protection-shackle.svg\" src=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1b/Semi-protection-shackle.svg/20px-Semi-protection-shackle.svg.png\" decoding=\"async\" data-file-width=\"512\" data-file-height=\"512\" data-file-type=\"drawing\" height=\"20\" width=\"20\" srcset=\"//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/1/1b/Semi-protection-shackle.svg/40px-Semi-protection-shackle.svg.png 2x\" class=\"mw-file-element\" id=\"mwBg\"/></a></span>"}' id="mwBw"/>

"Memek" beralih ke halaman ini. Untuk makanan, lihat Memek (makanan).
Vagina
Vagina manusia dewasa normal, sebelum (kiri) dan sesudah (kanan) menopause
Diagram saluran reproduksi dan ovarium wanita manusia
Rincian
PendahuluSinus urogenitalis dan duktus paramesonefron
ArteriBagian superior ke arteri uterina, bagian tengah dan inferior ke arteri vaginalis
VenaPleksus vena uterovaginalis, vena vaginalis
Saraf
  • Simpatik: pleksus splanknikus lumbal
  • Parasimpatik: pleksus splanknikus pelvik
LimfaBagian atas ke kelenjar getah bening iliaka interna, bagian bawah ke kelenjar getah bening inguinal superfisial
Pengidentifikasi
Bahasa Latinvagina
MeSHD014621
TA98A09.1.04.001
TA23523
FMA19949
Daftar istilah anatomi
[sunting di Wikidata]

Pada mamalia dan hewan lainnya, vagina[1] adalah organ reproduksi berotot dan elastis dari saluran kelamin betina. Pada manusia, organ ini memanjang dari vestibulum vulva hingga ke serviks (leher rahim). Introitus vagina biasanya tertutup sebagian oleh selapis tipis jaringan mukosa yang disebut selaput dara. Vagina berfungsi sebagai saluran untuk kopulasi dan kelahiran.Organ ini juga menyalurkan aliran darah menstruasi, yang terjadi pada manusia dan primata kerabat dekatnya sebagai bagian dari siklus menstruasi.

Untuk mengakomodasi penetrasi vagina yang lebih lancar selama sanggama atau aktivitas seksual lainnya, kelembapan vagina meningkat selama gairah seksual pada wanita dan mamalia betina lainnya. Peningkatan kelembapan ini menghasilkan pelumasan vagina, yang mengurangi gesekan. Tekstur dinding vagina menciptakan gesekan bagi penis selama sanggama dan menstimulasinya menuju ejakulasi, sehingga memungkinkan terjadinya pembuahan. Selain kenikmatan dan ikatan emosional, perilaku seksual wanita dengan orang lain dapat mengakibatkan infeksi menular seksual (IMS), yang risikonya dapat dikurangi dengan praktik seks aman yang dianjurkan. Masalah kesehatan lain juga dapat memengaruhi vagina manusia.

Vagina telah memicu reaksi kuat dalam masyarakat sepanjang sejarah, termasuk persepsi dan bahasa yang negatif, tabu budaya, serta penggunaannya sebagai simbol seksualitas wanita, spiritualitas, atau regenerasi kehidupan. Dalam percakapan umum, kata "vagina" sering digunakan secara keliru untuk merujuk pada vulva atau alat kelamin wanita secara umum.

Etimologi dan definisi

Istilah vagina berasal dari bahasa Latin vāgīna, yang bermakna "selongsong" atau "sarung pedang".[1] Vagina juga dapat disebut sebagai jalan lahir dalam konteks kehamilan dan persalinan.[2][3] Meskipun berdasarkan definisi kamus dan anatomi, istilah vagina merujuk secara eksklusif pada struktur internal tertentu, istilah ini secara bahasa sehari-hari digunakan untuk merujuk pada vulva atau pada vagina dan vulva sekaligus.[4][5]

Menggunakan istilah vagina untuk mengartikan "vulva" dapat menimbulkan kerancuan medis atau hukum; sebagai contoh, interpretasi seseorang mengenai lokasinya mungkin tidak sesuai dengan interpretasi orang lain terhadap lokasi tersebut.[4][6] Secara medis, salah satu deskripsi vagina adalah saluran di antara selaput dara (atau sisa-sisa selaput dara) dan serviks, sementara deskripsi hukum menyatakan bahwa vagina dimulai dari vulva (di antara labia).[4] Kemungkinan penggunaan istilah vagina yang keliru disebabkan oleh kurangnya perhatian yang mendalam terhadap anatomi alat kelamin wanita dibandingkan dengan studi mengenai alat kelamin pria, dan hal ini berkontribusi pada ketiadaan kosakata yang tepat untuk genitalia eksternal wanita, baik di kalangan masyarakat umum maupun tenaga kesehatan profesional. Karena pemahaman yang lebih baik mengenai genitalia wanita dapat membantu menanggulangi dampak buruk secara seksual dan psikologis terkait perkembangan wanita, para peneliti mendukung penggunaan terminologi yang tepat untuk vulva.[6][7][8]

Struktur

Anatomi makroskopis

Lihat pula: Struktur penyangga vagina
Diagram yang mengilustrasikan anatomi panggul wanita
Anatomi panggul termasuk organ sistem reproduksi wanita

Vagina manusia adalah saluran berotot yang elastis yang memanjang dari vulva hingga serviks.[9][10] Lubang vagina terletak di segitiga urogenital. Segitiga urogenital adalah segitiga bagian depan dari perineum dan juga mencakup lubang uretra serta bagian terkait dari genitalia eksternal.[11] Saluran vagina membentang ke atas dan ke belakang, di antara uretra di bagian depan, dan rektum di bagian belakang. Di dekat vagina bagian atas, serviks menonjol ke dalam vagina pada permukaan depannya dengan sudut sekitar 90 derajat.[12] Lubang vagina dan uretra dilindungi oleh labia.[13]

Saat tidak terangsang secara seksual, vagina merupakan tabung yang menguncup, dengan dinding depan dan belakang yang saling menempel. Dinding lateralnya, terutama area tengahnya, relatif lebih kaku. Karena hal ini, vagina yang menguncup memiliki penampang melintang berbentuk huruf H.[10][14] Di bagian belakang, vagina bagian atas dipisahkan dari rektum oleh kantong rekto-uterina, vagina bagian tengah oleh jaringan ikat longgar, dan vagina bagian bawah oleh badan perineum.[15] Di tempat lumen vagina mengelilingi serviks uterus, lumen tersebut terbagi menjadi empat daerah yang bersambung (forniks vagina); yaitu forniks anterior, posterior, lateral kanan, dan lateral kiri.[9][10] Forniks posterior lebih dalam daripada forniks anterior.[10]

Vagina disangga oleh otot dan ligamen pada sepertiga bagian atas, tengah, dan bawahnya. Sepertiga bagian atas disangga oleh otot levator ani, serta ligamen transservikal, puboservikal, dan sakroservikal.[9][16] Bagian ini disangga oleh bagian atas ligamen kardinal dan parametrium.[17] Sepertiga bagian tengah vagina melibatkan diafragma urogenital.[9] Bagian ini disangga oleh otot levator ani dan bagian bawah ligamen kardinal.[17] Sepertiga bagian bawah disangga oleh badan perineum,[9][18] atau diafragma panggul dan urogenital.[19] Sepertiga bagian bawah juga dapat digambarkan disangga oleh badan perineum dan bagian pubovaginal dari otot levator ani.[16]

Lubang vagina dan selaput dara

Vulva manusia dengan lubang vagina yang diberi label

Lubang vagina (juga dikenal sebagai introitus vagina dan dalam bahasa Latin ostium vaginae)[20][21] terletak di ujung posterior vestibula vulva, di belakang lubang uretra. Istilah introitus secara teknis lebih tepat daripada "lubang", karena vagina biasanya menguncup, dengan lubang yang tertutup. Lubang menuju vagina biasanya tertutup oleh labia minora (bibir dalam), tetapi dapat terlihat setelah persalinan pervaginam.[10]

Selaput dara adalah lapisan tipis jaringan mukosa yang mengelilingi atau menutupi sebagian lubang vagina.[10] Efek hubungan seksual dan persalinan terhadap selaput dara bervariasi. Apabila robek, selaput dara dapat menghilang sepenuhnya atau menyisakan sisa-sisa yang dikenal sebagai carunculae myrtiformes. Jika tidak, karena sifatnya yang sangat elastis, selaput ini dapat kembali ke posisi semula.[22] Selain itu, selaput dara dapat mengalami laserasi akibat penyakit, cedera, pemeriksaan medis, masturbasi, atau latihan fisik. Karena alasan-alasan inilah, keperawanan tidak dapat ditentukan secara pasti melalui pemeriksaan selaput dara.[22][23]

Variasi dan ukuran

Artikel utama: Ukuran vagina manusia

Panjang vagina bervariasi di antara wanita usia subur. Karena keberadaan serviks di dinding depan vagina, terdapat perbedaan panjang antara dinding depan, sekitar 7,5 cm (2,5 hingga 3 inci), dan dinding belakang, sekitar 9 cm (3,5 inci).[10][24] Selama gairah seksual, vagina membesar baik dalam hal panjang maupun lebar. Jika seorang wanita berdiri tegak, saluran vagina mengarah ke atas-belakang dan membentuk sudut sekitar 45 derajat dengan rahim.[10][18] Lubang vagina dan selaput dara juga bervariasi ukurannya; pada anak-anak, meskipun selaput dara umumnya tampak berbentuk bulan sabit, berbagai bentuk lain juga dimungkinkan.[10][25]

Perkembangan

Informasi lebih lanjut: Perkembangan sistem reproduksi
Ilustrasi anatomi yang digambar seperti dijelaskan dalam keterangan
Ilustrasi yang menunjukkan bagian potongan vagina dan saluran genital wanita bagian atas (hanya satu ovarium dan tuba falopi yang ditampilkan). Lipatan melingkar (juga disebut rugae) mukosa vagina dapat terlihat.

Lempeng vagina adalah prekursor bagi vagina.[26] Selama perkembangan, lempeng vagina mulai tumbuh di tempat ujung-ujung duktus paramesonefron (duktus Müller) yang menyatu memasuki dinding belakang sinus urogenitalis sebagai tuberkulum sinus. Seiring pertumbuhan lempeng tersebut, serviks dan sinus urogenitalis terpisah secara signifikan; pada akhirnya, sel-sel pusat lempeng meluruh untuk membentuk lumen vagina.[26] Hal ini biasanya terjadi pada minggu kedua puluh hingga kedua puluh empat perkembangan. Jika lumen tidak terbentuk, atau tidak sempurna, membran yang dikenal sebagai septum vagina dapat terbentuk melintang atau di sekeliling saluran, yang menyebabkan obstruksi saluran keluar di kemudian hari.[26]

Terdapat pandangan yang saling bertentangan mengenai asal embriologis vagina. Pandangan mayoritas adalah deskripsi Koff tahun 1933, yang mengemukakan bahwa dua pertiga bagian atas vagina berasal dari bagian kaudal duktus Müller, sedangkan bagian bawah vagina berkembang dari sinus urogenitalis.[27][28] Pandangan lain adalah deskripsi Bulmer tahun 1957 yang menyatakan bahwa epitel vagina semata-mata berasal dari epitel sinus urogenitalis,[29] dan penelitian Witschi tahun 1970, yang meninjau kembali deskripsi Koff dan menyimpulkan bahwa bulbus sinovaginal adalah sama dengan bagian bawah duktus Wolff.[28][30] Pandangan Witschi didukung oleh penelitian Acién et al., Bok, dan Drews.[28][30] Robboy et al. meninjau teori Koff dan Bulmer, serta mendukung deskripsi Bulmer berdasarkan penelitian mereka sendiri.[29] Perdebatan ini bermula dari kompleksitas jaringan yang saling terkait dan ketiadaan model hewan yang sesuai dengan perkembangan vagina manusia.[29][31] Oleh karena itu, studi tentang perkembangan vagina manusia masih terus berlangsung dan dapat membantu menyelesaikan data yang saling bertentangan tersebut.[28]

Mikroanatomi

Artikel utama: Epitel vagina
Mikrograf dinding vagina
Mikrograf dengan perbesaran daya sedang dari kaca objek dengan pewarnaan H&E yang menunjukkan sebagian dinding vagina. Epitel skuamosa berlapis dan jaringan ikat di bawahnya dapat terlihat. Lapisan otot yang lebih dalam tidak ditampilkan. Garis hitam menunjuk pada lipatan mukosa.

Dinding vagina dari lumen ke arah luar pertama-tama terdiri dari mukosa epitel skuamosa berlapis yang tidak terkeratinisasi, dengan lamina propria (lapisan tipis jaringan ikat) di bawahnya. Kedua, terdapat lapisan otot polos dengan berkas serat sirkular di sebelah dalam serat longitudinal (serat yang memanjang). Terakhir, terdapat lapisan luar jaringan ikat yang disebut adventisia. Beberapa teks menyebutkan empat lapisan dengan menghitung dua sub-lapisan mukosa (epitel dan lamina propria) secara terpisah.[32][33]

Lapisan otot polos di dalam vagina memiliki kekuatan kontraksi yang lemah yang dapat menciptakan sejumlah tekanan di dalam lumen vagina. Kekuatan kontraksi yang jauh lebih kuat, seperti saat persalinan, berasal dari otot-otot di dasar panggul yang melekat pada adventisia di sekitar vagina.[34]

Lamina propria kaya akan pembuluh darah dan saluran limfatik. Lapisan otot terdiri dari serat otot polos, dengan lapisan luar otot longitudinal, lapisan dalam otot sirkular, dan serat otot miring di antaranya. Lapisan luar, adventisia, adalah lapisan jaringan ikat padat yang tipis dan menyatu dengan jaringan ikat longgar yang mengandung pembuluh darah, pembuluh limfatik, dan serabut saraf yang berada di antara organ-organ panggul.[12][24][33] Mukosa vagina tidak memiliki kelenjar. Mukosa ini membentuk lipatan (bumbung transversal atau rugae), yang lebih menonjol pada sepertiga luar vagina; fungsinya adalah memberikan vagina peningkatan luas permukaan untuk pemanjangan dan peregangan.[9][10]

Foto jarak dekat vagina
Lipatan mukosa (atau rugae vagina) terlihat pada sepertiga depan vagina.

Epitel ektoserviks (bagian dari serviks uterus yang memanjang ke dalam vagina) merupakan perpanjangan dari, dan berbatasan dengan, epitel vagina.[35] Epitel vagina terdiri dari lapisan-lapisan sel, termasuk sel basal, sel parabasal, sel datar skuamosa superfisial, dan sel intermediet.[36] Lapisan basal epitel adalah yang paling aktif secara mitosis dan memproduksi sel-sel baru.[37] Sel-sel superfisial meluruh secara terus-menerus dan sel-sel basal menggantikannya.[10][38][39] Estrogen menginduksi sel-sel intermediet dan superfisial untuk terisi dengan glikogen.[39][40] Sel-sel dari lapisan basal bawah beralih dari aktivitas metabolisme aktif menuju kematian (apoptosis). Pada lapisan tengah epitel ini, sel-sel mulai kehilangan mitokondria dan organel lainnya.[37][41] Sel-sel tersebut mempertahankan kadar glikogen yang biasanya tinggi dibandingkan dengan jaringan epitel lain dalam tubuh.[37]

Di bawah pengaruh estrogen ibu, vagina bayi baru lahir dilapisi oleh epitel skuamosa berlapis yang tebal (atau mukosa) selama dua hingga empat minggu setelah lahir. Antara masa itu hingga pubertas, epitel tetap tipis dengan hanya beberapa lapisan sel kuboid tanpa glikogen.[39][42] Epitel juga memiliki sedikit rugae dan berwarna merah sebelum pubertas.[4] Saat pubertas dimulai, mukosa menebal dan kembali menjadi epitel skuamosa berlapis dengan sel-sel yang mengandung glikogen, di bawah pengaruh kadar estrogen anak perempuan yang meningkat.[39] Akhirnya, epitel menipis mulai dari menopause dan seterusnya, dan pada akhirnya berhenti mengandung glikogen karena kurangnya estrogen.[10][38][43]

Sel skuamosa pipih lebih tahan terhadap abrasi dan infeksi.[42] Permeabilitas epitel memungkinkan respons yang efektif dari sistem imun karena antibodi dan komponen imun lainnya dapat dengan mudah mencapai permukaan.[44] Epitel vagina berbeda dari jaringan serupa pada kulit. Epidermis kulit relatif tahan terhadap air karena mengandung kadar lipid yang tinggi. Epitel vagina mengandung kadar lipid yang lebih rendah. Hal ini memungkinkan lewatnya air dan zat-zat yang larut dalam air melalui jaringan tersebut.[44]

Keratinisasi terjadi ketika epitel terpapar pada atmosfer luar yang kering.[10] Dalam keadaan abnormal, seperti pada prolaps organ panggul, mukosa dapat terpapar udara, menjadi kering dan terkeratinisasi.[45]

Pasokan darah dan saraf

Darah dipasok ke vagina utamanya melalui arteri vaginalis, yang muncul dari cabang arteri iliaka interna atau arteri uterina.[9][46] Arteri-arteri vagina beranastomosis (menyatu) di sepanjang sisi vagina dengan cabang serviks dari arteri uterina; hal ini membentuk arteri azigos,[46] yang terletak di garis tengah vagina anterior dan posterior.[15] Arteri lain yang memasok vagina meliputi arteri rektalis media dan arteri pudenda interna,[10] yang semuanya merupakan cabang dari arteri iliaka interna.[15] Tiga kelompok pembuluh limfatik menyertai arteri-arteri ini; kelompok atas menyertai cabang vagina dari arteri uterina; kelompok tengah menyertai arteri vaginalis; dan kelompok bawah, yang mengalirkan getah bening dari area di luar selaput dara, bermuara ke kelenjar getah bening inguinal.[15][47] Sembilan puluh lima persen saluran limfatik vagina berada dalam jarak 3 mm dari permukaan vagina.[48]

Dua vena utama mengalirkan darah dari vagina, satu di kiri dan satu di kanan. Vena-vena ini membentuk jaringan vena yang lebih kecil, pleksus vena vaginalis, di sisi-sisi vagina, yang terhubung dengan pleksus vena serupa dari rahim, kandung kemih, dan rektum. Vena-vena ini akhirnya bermuara ke dalam vena iliaka interna.[15]

Pasokan saraf vagina bagian atas disediakan oleh area simpatik dan parasimpatik dari pleksus panggul. Vagina bagian bawah dipasok oleh saraf pudendal.[10][15]

Fungsi

Sekresi

Artikel utama: Keputihan dan Pelumasan vagina

Sekresi vagina terutama berasal dari rahim, serviks, dan epitel vagina, selain sedikit pelumasan vagina dari kelenjar Bartholin saat terangsang secara seksual.[10] Hanya diperlukan sedikit sekresi vagina untuk membuat vagina lembap; sekresi dapat meningkat selama gairah seksual, pertengahan atau sesaat sebelum menstruasi, atau selama kehamilan.[10] Menstruasi (juga dikenal sebagai "haid" atau "datang bulan") adalah peluruhan darah dan jaringan mukosa (dikenal sebagai menses) secara teratur dari lapisan dalam rahim melalui vagina.[49] Membran mukosa vagina bervariasi ketebalan dan komposisinya selama siklus menstruasi,[50] yaitu perubahan alami dan teratur yang terjadi pada sistem reproduksi wanita (khususnya rahim dan indung telur) yang memungkinkan terjadinya kehamilan.[51][52] Berbagai produk kebersihan seperti tampon, cawan menstruasi, dan pembalut wanita tersedia untuk menyerap atau menampung darah menstruasi.[53]

Kelenjar Bartholin, yang terletak di dekat lubang vagina, awalnya dianggap sebagai sumber utama pelumasan vagina, tetapi pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa kelenjar ini hanya menghasilkan beberapa tetes mukus.[54] Pelumasan vagina sebagian besar disediakan oleh rembesan plasma yang dikenal sebagai transudat dari dinding vagina. Ini awalnya terbentuk sebagai tetesan seperti keringat, dan disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan dalam jaringan vagina (vasokongesti), yang mengakibatkan pelepasan plasma sebagai transudat dari kapiler melalui epitel vagina.[54][55][56]

Sebelum dan selama ovulasi, kelenjar mukosa di dalam serviks mengeluarkan variasi lendir yang berbeda, yang menyediakan lingkungan basa dan subur di saluran vagina yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup sperma.[57] Setelah menopause, pelumasan vagina menurun secara alami.[58]

Stimulasi seksual

Informasi lebih lanjut: Aktivitas seksual manusia dan Seksualitas perempuan

Ujung-ujung saraf pada vagina dapat memberikan sensasi yang menyenangkan ketika vagina distimulasi selama aktivitas seksual. Wanita dapat memperoleh kenikmatan dari satu bagian vagina, atau dari perasaan kedekatan dan rasa penuh selama penetrasi vagina.[59] Karena vagina tidak kaya akan ujung saraf, wanita sering kali tidak mendapatkan stimulasi seksual yang cukup, atau orgasme, semata-mata dari penetrasi vagina.[59][60][61] Meskipun literatur umumnya menyebutkan konsentrasi ujung saraf yang lebih besar dan karenanya sensitivitas yang lebih tinggi di dekat pintu masuk vagina (sepertiga bagian luar atau sepertiga bawah),[60][61][62] beberapa pemeriksaan ilmiah terhadap persarafan dinding vagina menunjukkan tidak ada satu area pun dengan kepadatan ujung saraf yang lebih besar.[63][64] Penelitian lain menunjukkan bahwa hanya sebagian wanita yang memiliki kepadatan ujung saraf yang lebih besar di dinding vagina anterior.[63][65] Karena sedikitnya ujung saraf pada vagina, nyeri persalinan menjadi jauh lebih dapat ditoleransi.[61][66][67]

Kenikmatan dapat diperoleh dari vagina melalui berbagai cara. Selain penetrasi penis, kenikmatan bisa datang dari masturbasi, stimulasi dengan jari, atau posisi seks tertentu (seperti posisi misionaris atau posisi sendok).[68] Pasangan heteroseksual mungkin melakukan stimulasi jari sebagai bentuk foreplay untuk memicu gairah seksual atau sebagai tindakan penyerta,[69][70] atau sebagai jenis pengendalian kelahiran, atau untuk menjaga keperawanan.[71][72] Meskipun jarang, mereka mungkin menggunakan tindakan seksual non-penis-vagina sebagai sarana utama kenikmatan seksual.[70] Sebaliknya, lesbian dan wanita lain yang berhubungan seks dengan wanita umumnya melakukan stimulasi jari sebagai bentuk utama aktivitas seksual.[73][74] Beberapa wanita dan pasangan menggunakan mainan seks, seperti vibrator atau dildo, untuk kenikmatan vagina.[75]

Sebagian besar wanita memerlukan stimulasi langsung pada klitoris untuk mencapai orgasme.[60][61] Klitoris berperan dalam stimulasi vagina. Klitoris adalah organ seks berstruktur multiplanar yang mengandung banyak ujung saraf, dengan perlekatan luas pada lengkung pubis dan jaringan penyangga yang luas ke labia. Penelitian menunjukkan bahwa klitoris membentuk gugusan jaringan dengan vagina. Jaringan ini mungkin lebih luas pada beberapa wanita dibandingkan wanita lain, yang dapat berkontribusi pada orgasme yang dialami secara vaginal.[60][76][77]

Setelah sanggama dan pembuahan alami, air mani biasanya mengalir keluar dari lubang vagina

Selama gairah seksual, dan terutama stimulasi klitoris, dinding vagina menjadi terlumasi. Hal ini dimulai setelah sepuluh hingga tiga puluh detik gairah seksual, dan jumlahnya meningkat semakin lama wanita terangsang.[78] Pelumasan ini mengurangi gesekan atau cedera yang dapat disebabkan oleh penyisipan penis ke dalam vagina atau penetrasi lainnya ke dalam vagina selama aktivitas seksual. Vagina memanjang selama gairah seksual, dan dapat terus memanjang sebagai respons terhadap tekanan; saat wanita terangsang sepenuhnya, vagina mengembang dalam panjang dan lebar, sementara serviks tertarik.[78][79] Dengan dua pertiga bagian atas vagina yang mengembang dan memanjang, rahim naik ke panggul besar, dan serviks terangkat di atas dasar vagina, yang menghasilkan pembentukan tenda pada bidang tengah vagina.[78] Hal ini dikenal sebagai efek tenda atau menggelembung.[80] Saat dinding elastis vagina meregang atau berkontraksi, dengan dukungan dari otot-otot panggul, untuk membungkus penis (atau benda lain) yang dimasukkan,[62] hal ini menciptakan gesekan bagi penis dan membantu pria mengalami orgasme dan ejakulasi, yang pada gilirannya memungkinkan terjadinya pembuahan.[81]

Sebuah area di dalam vagina yang mungkin merupakan zona erogen adalah Titik G. Titik ini biasanya didefinisikan terletak di dinding depan vagina, beberapa inci dari pintu masuk, dan beberapa wanita mengalami kenikmatan yang intens, dan terkadang orgasme, jika area ini distimulasi selama aktivitas seksual.[63][65] Orgasme Titik G mungkin bertanggung jawab atas ejakulasi wanita, yang menyebabkan beberapa dokter dan peneliti meyakini bahwa kenikmatan Titik G berasal dari kelenjar Skene, sebuah homolog wanita dari prostat, alih-alih titik tertentu di dinding vagina; peneliti lain menganggap hubungan antara kelenjar Skene dan area Titik G lemah.[63][64][65] Keberadaan Titik G (dan keberadaannya sebagai struktur yang berbeda) masih dalam perdebatan karena laporan mengenai lokasinya dapat bervariasi dari satu wanita ke wanita lainnya, titik ini tampaknya tidak ada pada sebagian wanita, dan dihipotesiskan sebagai perpanjangan dari klitoris dan oleh karena itu menjadi alasan orgasme yang dialami secara vaginal.[63][66][77]

Persalinan

Artikel utama: Persalinan

Vagina adalah jalan lahir untuk kelahiran bayi. Saat persalinan makin dekat, beberapa tanda dapat muncul, termasuk keluarnya cairan vagina dan pecah ketuban (air ketuban pecah). Pecahnya ketuban ini menyebabkan semburan atau aliran kecil air ketuban dari vagina.[82] Pecahnya air ketuban paling sering terjadi pada awal persalinan. Hal ini terjadi sebelum persalinan jika terdapat pecah ketuban dini, yang terjadi pada 10% kasus.[83] Di antara wanita yang melahirkan untuk pertama kalinya, kontraksi Braxton Hicks sering disalahartikan sebagai kontraksi yang sebenarnya,[84] padahal kontraksi ini merupakan cara tubuh mempersiapkan diri untuk persalinan yang sesungguhnya. Kontraksi ini tidak menandakan dimulainya persalinan,[85] namun biasanya terasa sangat kuat pada hari-hari menjelang persalinan.[84][85]

Saat tubuh bersiap untuk melahirkan, serviks melunak, menipis, bergerak maju menghadap ke depan, dan mulai membuka. Hal ini memungkinkan janin turun ke dalam panggul, sebuah proses yang dikenal sebagai lightening (penurunan kepala janin).[86] Saat janin turun ke dalam panggul, nyeri dari saraf skiatik, peningkatan cairan vagina, dan peningkatan frekuensi berkemih dapat terjadi.[86] Meskipun lightening lebih mungkin terjadi setelah persalinan dimulai pada wanita yang pernah melahirkan sebelumnya, hal ini dapat terjadi sepuluh hingga empat belas hari sebelum persalinan pada wanita yang baru pertama kali melahirkan.[87]

Janin mulai kehilangan penyangga dari serviks ketika kontraksi dimulai. Dengan pembukaan serviks mencapai 10 cm untuk mengakomodasi kepala janin, kepala bergerak dari rahim menuju vagina.[82][88] Elastisitas vagina memungkinkannya meregang hingga berkali-kali lipat dari diameter normalnya guna melahirkan bayi.[89]

Kelahiran pervaginam lebih umum terjadi, tetapi jika terdapat risiko komplikasi, bedah sesar (operasi caesar) dapat dilakukan.[90] Mukosa vagina mengalami penumpukan cairan abnormal (edema) dan menipis, dengan sedikit rugae, sesaat setelah kelahiran. Mukosa menebal dan rugae kembali muncul dalam waktu sekitar tiga minggu setelah ovarium mendapatkan kembali fungsi biasanya dan aliran estrogen pulih. Lubang vagina menganga dan relaks, hingga kembali ke keadaan seperti sebelum hamil kira-kira enam sampai delapan minggu setelah melahirkan, yang dikenal sebagai masa nifas; namun, ukuran vagina akan tetap lebih besar daripada sebelumnya.[91]

Setelah melahirkan, terdapat fase keluarnya cairan vagina yang disebut lokia yang jumlah dan durasinya dapat sangat bervariasi, tetapi bisa berlangsung hingga enam minggu.[92]

Mikrobiota vagina

Artikel utama: Flora vagina
Informasi lebih lanjut: Daftar spesies mikrobiota saluran reproduksi bagian bawah wanita
Pewarnaan Gram lactobacilli dan sel epitel skuamosa pada apusan vagina

Flora vagina adalah ekosistem kompleks yang berubah sepanjang hidup, mulai dari kelahiran hingga menopause. Mikrobiota vagina berdiam di dalam dan di lapisan terluar epitel vagina.[44] Mikrobioma ini terdiri dari spesies dan genus, yang biasanya tidak menimbulkan gejala atau infeksi pada wanita dengan kekebalan tubuh normal. Mikrobioma vagina didominasi oleh spesies Lactobacillus.[93] Spesies ini memetabolisme glikogen, memecahnya menjadi gula. Lactobacilli memetabolisme gula tersebut menjadi glukosa dan asam laktat.[94] Di bawah pengaruh hormon, seperti estrogen, progesteron, dan hormon perangsang folikel (FSH), ekosistem vagina mengalami perubahan siklus atau periodik.[94]

Signifikansi klinis

Pemeriksaan panggul

Foto spekulum transparan di atas permukaan putih
Spekulum vagina plastik dwikatup sekali pakai yang digunakan dalam pemeriksaan ginekologi
Foto serviks seperti yang dijelaskan dalam keterangan
Serviks normal orang dewasa seperti yang terlihat melalui vagina (per vaginamcode: la is deprecated atau PV) menggunakan spekulum vagina dwikatup. Bilah spekulum berada di atas dan bawah serta dinding vagina yang terenggang terlihat di kiri dan kanan.

Kesehatan vagina dapat dinilai selama pemeriksaan panggul, bersama dengan kesehatan sebagian besar organ sistem reproduksi wanita.[95][96][97] Pemeriksaan semacam itu dapat mencakup tes Pap (atau apusan serviks). Di Amerika Serikat, penapisan tes Pap direkomendasikan mulai usia sekitar 21 tahun hingga usia 65 tahun.[98] Namun, negara-negara lain tidak merekomendasikan tes Pap pada wanita yang tidak aktif secara seksual.[99] Pedoman mengenai frekuensinya bervariasi dari setiap tiga hingga lima tahun.[99][100][101] Pemeriksaan panggul rutin pada wanita yang tidak hamil dan tidak memiliki gejala mungkin lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.[102] Temuan normal selama pemeriksaan panggul wanita hamil adalah rona kebiruan pada dinding vagina.[95]

Pemeriksaan panggul paling sering dilakukan apabila terdapat gejala yang tidak dapat dijelaskan berupa keluarnya cairan vagina, nyeri, pendarahan tak terduga, atau masalah perkemihan.[95][103][104] Selama pemeriksaan panggul, lubang vagina dinilai posisinya, simetri, keberadaan selaput dara, dan bentuknya. Vagina diperiksa secara internal oleh pemeriksa dengan jari bersarung tangan, sebelum spekulum dimasukkan, untuk mencatat adanya kelemahan, benjolan, atau nodul. Peradangan dan keluarnya cairan dicatat jika ada. Selama waktu ini, kelenjar Skene dan Bartholin dipalpasi untuk mengidentifikasi kelainan pada struktur-struktur tersebut. Setelah pemeriksaan digital vagina selesai, spekulum, sebuah instrumen untuk memvisualisasikan struktur internal, dimasukkan secara hati-hati agar serviks dapat terlihat.[95] Pemeriksaan vagina juga dapat dilakukan selama penggeledahan rongga tubuh.[105]

Laserasi atau cedera lain pada vagina dapat terjadi selama serangan seksual atau kekerasan seksual lainnya.[4][95] Cedera ini dapat berupa robekan, memar, peradangan, dan lecet. Serangan seksual dengan benda dapat merusak vagina dan pemeriksaan sinar-X dapat mengungkapkan adanya benda asing.[4] Jika persetujuan diberikan, pemeriksaan panggul menjadi bagian dari penilaian serangan seksual.[106] Pemeriksaan panggul juga dilakukan selama kehamilan, dan wanita dengan kehamilan risiko tinggi menjalani pemeriksaan lebih sering.[95][107]

Pengobatan

Pemberian intravaginal adalah rute pemberian di mana obat dimasukkan ke dalam vagina dalam bentuk krim atau tablet. Secara farmakologis, hal ini memiliki keuntungan potensial untuk meningkatkan efek terapeutik terutama di vagina atau struktur di dekatnya (seperti bagian vagina serviks) dengan efek samping sistemik yang terbatas dibandingkan dengan rute pemberian lainnya.[108][109] Obat-obatan yang digunakan untuk mematangkan serviks dan menginduksi persalinan umumnya diberikan melalui rute ini, begitu pula estrogen, agen kontrasepsi, propranolol, dan antijamur. Cincin vagina juga dapat digunakan untuk menyalurkan obat, termasuk pengendalian kelahiran dalam cincin vagina kontrasepsi. Alat ini dimasukkan ke dalam vagina dan memberikan kadar obat yang berkelanjutan, berdosis rendah, dan konsisten di dalam vagina serta di seluruh tubuh.[110][111]

Sebelum bayi keluar dari rahim, suntikan untuk pengendalian nyeri selama persalinan dapat diberikan melalui dinding vagina dan di dekat saraf pudendal. Karena saraf pudendal membawa serat motorik dan sensorik yang mempersarafi otot-otot panggul, blok saraf pudendal meredakan nyeri persalinan. Obat tersebut tidak membahayakan anak, dan tanpa komplikasi yang berarti.[112]

Infeksi, penyakit, dan seks aman

Artikel utama: Penyakit vagina dan Seks aman

Infeksi atau penyakit vagina meliputi infeksi jamur, vaginitis, infeksi menular seksual (IMS), dan kanker. Lactobacillus gasseri dan spesies Lactobacillus lainnya dalam flora vagina memberikan perlindungan dari infeksi melalui sekresi bakteriosin dan hidrogen peroksida.[113] Vagina yang sehat pada wanita usia subur bersifat asam, dengan pH yang biasanya berkisar antara 3,8 hingga 4,5.[94] pH yang rendah menghambat pertumbuhan banyak galur mikroba patogen.[94] Keseimbangan asam vagina juga dapat dipengaruhi oleh air mani,[114][115] kehamilan, menstruasi, diabetes atau penyakit lainnya, pil KB, antibiotik tertentu, pola makan yang buruk, dan stres.[116] Setiap perubahan pada keseimbangan asam vagina ini dapat berkontribusi pada infeksi jamur.[117] Peningkatan pH cairan vagina (lebih dari 4,5) dapat disebabkan oleh pertumbuhan bakteri yang berlebih seperti pada vaginosis bakterialis, atau pada infeksi parasit trikomoniasis, yang keduanya memiliki gejala vaginitis.[94][118] Flora vagina yang dihuni oleh sejumlah bakteri berbeda yang merupakan karakteristik vaginosis bakterialis meningkatkan risiko hasil kehamilan yang buruk.[119] Selama pemeriksaan panggul, sampel cairan vagina dapat diambil untuk menapis infeksi menular seksual atau infeksi lainnya.[95][120]

Karena vagina dapat membersihkan dirinya sendiri, organ ini biasanya tidak memerlukan perawatan kebersihan khusus.[121] Para klinisi umumnya tidak menyarankan praktik bilas vagina untuk menjaga kesehatan vulvovaginal.[121][122] Karena flora vagina memberikan perlindungan terhadap penyakit, gangguan pada keseimbangan ini dapat menyebabkan infeksi dan keluarnya cairan yang tidak normal.[121] Cairan yang keluar dari vagina dapat mengindikasikan adanya infeksi vagina melalui warna dan baunya, atau gejala yang ditimbulkannya, seperti iritasi atau rasa terbakar.[123][124] Keluarnya cairan vagina yang tidak normal dapat disebabkan oleh IMS, diabetes, bilas vagina, sabun berpewangi, mandi busa, pil KB, infeksi jamur (umumnya sebagai akibat penggunaan antibiotik), atau bentuk vaginitis lainnya.[123] Sementara vaginitis adalah peradangan pada vagina yang disebabkan oleh infeksi, masalah hormonal, atau iritan,[125][126] vaginisme adalah pengencangan otot vagina secara tak sadar selama penetrasi vagina yang disebabkan oleh refleks terkondisi atau penyakit.[125] Cairan vagina akibat infeksi jamur biasanya kental, berwarna seperti krim, dan tidak berbau, sedangkan cairan akibat vaginosis bakterialis berwarna putih keabu-abuan, dan cairan akibat trikomoniasis biasanya berwarna abu-abu, berkonsistensi encer, serta memiliki bau amis. Cairan pada 25% kasus trikomoniasis berwarna kuning kehijauan.[124]

HIV/AIDS, virus papiloma manusia (HPV), herpes genital, dan trikomoniasis adalah beberapa IMS yang dapat memengaruhi vagina, dan sumber-sumber kesehatan merekomendasikan praktik seks aman (atau metode penghalang) untuk mencegah penularan penyakit-penyakit ini dan IMS lainnya.[127][128] Seks aman umumnya melibatkan penggunaan kondom, dan terkadang kondom wanita (yang memberikan kendali lebih besar bagi wanita). Kedua jenis tersebut dapat membantu mencegah kehamilan dengan menghalangi air mani agar tidak bersentuhan dengan vagina.[129][130] Akan tetapi, hanya ada sedikit penelitian mengenai apakah kondom wanita sama efektifnya dengan kondom pria dalam mencegah IMS,[130] dan kondom wanita sedikit kurang efektif dibandingkan kondom pria dalam mencegah kehamilan, yang mungkin disebabkan karena kondom wanita terpasang kurang ketat dibandingkan kondom pria atau karena kondom tersebut dapat tergelincir masuk ke dalam vagina dan menumpahkan air mani.[131]

Kelenjar getah bening vagina sering kali memerangkap sel-sel kanker yang berasal dari vagina. Kelenjar-kelenjar ini dapat diperiksa untuk mengetahui adanya penyakit. Pengangkatan bedah selektif (alih-alih pengangkatan total yang lebih invasif) pada kelenjar getah bening vagina mengurangi risiko komplikasi yang dapat menyertai pembedahan yang lebih radikal. Kelenjar selektif ini bertindak sebagai kelenjar getah bening sentinel.[48] Sebagai pengganti pembedahan, kelenjar getah bening yang bermasalah terkadang diobati dengan terapi radiasi yang diberikan pada kelenjar getah bening panggul, inguinal, atau keduanya.[132]

Kanker vagina dan kanker vulva sangat jarang terjadi, dan terutama menyerang wanita lanjut usia.[133][134] Kanker serviks (yang relatif umum) meningkatkan risiko kanker vagina,[135] itulah sebabnya terdapat kemungkinan yang signifikan bagi kanker vagina untuk terjadi pada waktu yang bersamaan dengan, atau setelah, kanker serviks. Kemungkinan penyebab keduanya adalah sama.[133][135][136] Kanker serviks dapat dicegah dengan penapisan pap smear dan vaksin HPV, tetapi vaksin HPV hanya mencakup HPV tipe 16 dan 18, penyebab dari 70% kasus kanker serviks.[137][138] Beberapa gejala kanker serviks dan vagina adalah dispareunia, serta pendarahan vagina atau keluarnya cairan vagina yang tidak normal, terutama setelah hubungan seksual atau menopause.[139][140] Namun, sebagian besar kanker serviks bersifat asimtomatik (tidak menunjukkan gejala).[139] Brakiterapi intrakavitas vagina (VBT) digunakan untuk mengobati kanker endometrium, vagina, dan serviks. Sebuah aplikator dimasukkan ke dalam vagina untuk memungkinkan pemberian radiasi sedekat mungkin dengan lokasi kanker.[141][142] Tingkat kelangsungan hidup meningkat dengan VBT bila dibandingkan dengan terapi radiasi sinar eksternal.[141] Dengan menggunakan vagina untuk menempatkan pemancar sedekat mungkin dengan pertumbuhan kanker, efek sistemik dari terapi radiasi berkurang dan tingkat kesembuhan untuk kanker vagina menjadi lebih tinggi.[143] Belum ada kejelasan dalam penelitian mengenai apakah pengobatan kanker serviks dengan terapi radiasi meningkatkan risiko kanker vagina.[135]

Efek penuaan dan persalinan

Usia dan kadar hormon berkorelasi secara signifikan dengan pH vagina.[144] Estrogen, glikogen, dan lactobacilli memengaruhi kadar ini.[145][146] Saat lahir, vagina bersifat asam dengan pH sekitar 4,5,[144] dan berhenti menjadi asam pada usia tiga hingga enam minggu,[147] menjadi basa.[148] Rata-rata pH vagina adalah 7,0 pada anak perempuan pra-pubertas.[145] Meskipun terdapat tingkat variabilitas yang tinggi dalam hal waktu, anak perempuan yang berusia sekitar tujuh hingga dua belas tahun akan terus mengalami perkembangan labia seiring dengan menebalnya selaput dara dan memanjangnya vagina hingga sekitar 8 cm. Mukosa vagina menebal dan pH vagina kembali menjadi asam. Anak perempuan juga dapat mengalami keluarnya cairan vagina berwarna putih dan encer yang disebut keputihan (leukorea).[148] Mikrobiota vagina remaja putri berusia 13 hingga 18 tahun serupa dengan wanita usia reproduksi,[146] yang memiliki rata-rata pH vagina 3,8–4,5,[94] namun penelitian belum begitu jelas apakah hal ini sama untuk anak perempuan pramenarke atau perimenarke.[146] pH vagina selama menopause adalah 6,5–7,0 (tanpa terapi penggantian hormon), atau 4,5–5,0 dengan terapi penggantian hormon.[146]

Ilustrasi berdampingan yang menggambarkan efek penipisan akibat menopause pada mukosa dinding vagina
Mukosa vagina pramenopause (kiri) versus mukosa vagina menopause (kanan)

Setelah menopause, tubuh memproduksi lebih sedikit estrogen. Hal ini menyebabkan vaginitis atrofi (penipisan dan peradangan pada dinding vagina),[38][149] yang dapat memicu gatal pada vagina, rasa terbakar, pendarahan, rasa sakit, atau kekeringan vagina (penurunan pelumasan).[150] Kekeringan vagina dapat menyebabkan ketidaknyamanan tersendiri atau ketidaknyamanan maupun rasa sakit selama hubungan seksual.[150][151] Semburan panas (hot flashes) juga merupakan karakteristik menopause.[116][152] Menopause juga memengaruhi komposisi struktur penyangga vagina. Struktur vaskular menjadi semakin sedikit seiring bertambahnya usia.[153] Kolagen tertentu mengalami perubahan dalam komposisi dan rasionya. Diperkirakan bahwa melemahnya struktur penyangga vagina disebabkan oleh perubahan fisiologis pada jaringan ikat ini.[154]

Gejala menopause dapat diredakan dengan krim vagina yang mengandung estrogen,[152] obat non-hormonal tanpa resep,[150] cincin estrogen vagina seperti Femring,[155] atau terapi penggantian hormon lainnya,[152] tetapi terdapat risiko (termasuk efek samping) yang terkait dengan terapi penggantian hormon.[156][157] Krim vagina dan cincin estrogen vagina mungkin tidak memiliki risiko yang sama dengan pengobatan penggantian hormon lainnya.[158] Terapi penggantian hormon dapat mengobati kekeringan vagina,[155] tetapi pelumas pribadi dapat digunakan untuk mengatasi kekeringan vagina secara sementara, khususnya untuk hubungan seksual.[151] Beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual setelah menopause.[150] Kemungkinan wanita menopause yang terus melakukan aktivitas seksual secara teratur mengalami pelumasan vagina yang serupa dengan kadar pada wanita yang belum memasuki menopause, dan dapat menikmati hubungan seksual sepenuhnya.[150] Mereka mungkin mengalami lebih sedikit atrofi vagina dan lebih sedikit masalah terkait hubungan seksual.[159]

Perubahan vagina yang terjadi seiring penuaan dan persalinan meliputi redundansi mukosa, pembulatan aspek posterior vagina dengan pemendekan jarak dari ujung distal saluran anus ke lubang vagina, diastasis atau gangguan pada otot pubokoksigeus yang disebabkan oleh perbaikan episiotomi yang buruk, dan gelembung yang mungkin menonjol di luar area lubang vagina.[160] Perubahan vagina lainnya yang berkaitan dengan penuaan dan persalinan adalah inkontinensia urin tekanan, rektokel, dan sistokel.

[160] Perubahan fisik akibat kehamilan, persalinan, dan menopause sering kali berkontribusi pada inkontinensia urin tekanan. Jika seorang wanita memiliki penyangga otot dasar panggul yang lemah dan kerusakan jaringan akibat persalinan atau pembedahan panggul, kekurangan estrogen dapat semakin melemahkan otot-otot panggul dan berkontribusi pada inkontinensia urin tekanan.[161] Prolaps organ panggul, seperti rektokel atau sistokel, ditandai dengan turunnya organ panggul dari posisi normalnya hingga menekan vagina.[162][163] Penurunan estrogen tidak menyebabkan rektokel, sistokel, atau prolaps uteri, tetapi persalinan dan kelemahan pada struktur penyangga panggul dapat menyebabkannya.[159] Prolaps juga dapat terjadi ketika dasar panggul mengalami cedera selama histerektomi, pengobatan kanker ginekologi, atau mengangkat beban berat.[162][163] Latihan dasar panggul seperti senam Kegel dapat digunakan untuk memperkuat otot dasar panggul,[164] mencegah atau menghentikan perkembangan prolaps.[165] Tidak ada bukti bahwa melakukan senam Kegel secara isotonik atau dengan beban tertentu lebih unggul; terdapat risiko yang lebih besar dalam penggunaan beban karena benda asing dimasukkan ke dalam vagina.[166]

Selama tahap ketiga persalinan, saat bayi dilahirkan, vagina mengalami perubahan yang signifikan. Semburan darah dari vagina dapat terlihat tepat sebelum bayi lahir. Laserasi pada vagina yang dapat terjadi selama kelahiran bervariasi dalam hal kedalaman, keparahan, dan jumlah keterlibatan jaringan di sekitarnya.[4][167] Laserasi tersebut bisa sangat luas hingga melibatkan rektum dan anus. Kejadian ini dapat sangat menyedihkan bagi ibu baru.[167][168] Ketika hal ini terjadi, inkontinensia tinja berkembang dan tinja dapat keluar melalui vagina.[167] Hampir 85% kelahiran pervaginam spontan mengalami beberapa bentuk robekan. Dari jumlah tersebut, 60–70% memerlukan penjahitan.[169][170] Laserasi akibat persalinan tidak selalu terjadi.[44]

Pembedahan

Vagina, termasuk lubang vagina, dapat mengalami perubahan akibat pembedahan seperti episiotomi, vaginektomi, vaginoplasti, atau labiaplasti.[160][171] Mereka yang menjalani vaginoplasti biasanya berusia lebih tua dan pernah melahirkan.[160] Pemeriksaan vagina secara menyeluruh sebelum vaginoplasti merupakan prosedur standar, serta rujukan ke uroginekolog untuk mendiagnosis kemungkinan kelainan vagina.[160] Terkait labiaplasti, pengurangan labia minora berlangsung cepat tanpa hambatan, komplikasi bersifat minor dan jarang terjadi, serta dapat dikoreksi. Jaringan parut apa pun dari prosedur ini sangat minimal, dan masalah jangka panjang belum teridentifikasi.[160]

Selama episiotomi, sayatan bedah dibuat pada kala dua persalinan untuk memperbesar lubang vagina agar bayi dapat melewatinya.[44][141] Meskipun penggunaan rutinnya tidak lagi direkomendasikan,[172] dan persalinan tanpa episiotomi ditemukan memberikan hasil yang lebih baik daripada dengan episiotomi,[44] ini adalah salah satu prosedur medis yang paling umum dilakukan pada wanita. Sayatan dibuat menembus kulit, epitel vagina, lemak subkutan, badan perineum, dan otot transversus perinei superfisialis serta memanjang dari vagina ke anus.[173][174] Episiotomi dapat menimbulkan rasa nyeri setelah persalinan. Wanita sering melaporkan nyeri selama hubungan seksual hingga tiga bulan setelah perbaikan laserasi atau episiotomi.[169][170] Beberapa teknik bedah menghasilkan nyeri yang lebih sedikit dibandingkan teknik lainnya.[169] Dua jenis episiotomi yang dilakukan adalah sayatan medial dan sayatan mediolateral. Sayatan medial adalah potongan tegak lurus antara vagina dan anus dan merupakan jenis yang paling umum.[44][175] Sayatan mediolateral dibuat di antara vagina dengan sudut tertentu dan tidak terlalu berisiko robek hingga ke anus. Potongan mediolateral memakan waktu penyembuhan lebih lama daripada potongan medial.[44]

Vaginektomi adalah pembedahan untuk mengangkat seluruh atau sebagian vagina, dan biasanya digunakan untuk mengobati keganasan.[171] Pengangkatan sebagian atau seluruh organ seksual dapat mengakibatkan kerusakan saraf dan meninggalkan jaringan parut atau perlengketan.[176] Fungsi seksual juga dapat terganggu sebagai akibatnya, seperti dalam kasus beberapa operasi kanker serviks. Pembedahan ini dapat berdampak pada rasa nyeri, elastisitas, pelumasan vagina, dan gairah seksual. Hal ini sering kali membaik setelah satu tahun tetapi mungkin memakan waktu lebih lama.[176]

Wanita, terutama mereka yang berusia lebih tua dan telah melahirkan berkali-kali, mungkin memilih bedah koreksi untuk kelonggaran vagina. Pembedahan ini telah digambarkan sebagai pengencangan atau peremajaan vagina.[177] Meskipun seorang wanita mungkin mengalami peningkatan dalam citra diri dan kenikmatan seksual dengan menjalani pengencangan atau peremajaan vagina,[177] terdapat risiko yang terkait dengan prosedur tersebut, termasuk infeksi, penyempitan lubang vagina, pengencangan yang tidak memadai, penurunan fungsi seksual (seperti nyeri saat berhubungan seksual), dan fistula rektovagina. Wanita yang menjalani prosedur ini mungkin tanpa sadar memiliki masalah medis, seperti prolaps, dan upaya untuk memperbaiki kondisi ini juga dilakukan selama pembedahan.[178]

Pembedahan pada vagina dapat bersifat elektif atau kosmetik. Wanita yang mencari bedah kosmetik mungkin memiliki kondisi bawaan, ketidaknyamanan fisik, atau keinginan untuk mengubah penampilan alat kelamin mereka. Data mengenai penampilan atau ukuran alat kelamin rata-rata sebagian besar tidak tersedia, sehingga menyulitkan pendefinisian hasil yang sukses bagi pembedahan semacam itu.[179] Sejumlah operasi penentuan ulang seks tersedia bagi orang transgender. Meskipun tidak semua kondisi interseks memerlukan perawatan bedah, beberapa orang memilih bedah genital untuk mengoreksi kondisi anatomi yang atipikal.[180]

Anomali dan masalah kesehatan lainnya

Lihat pula: Atresia vagina
Ultrasonografi yang menggambarkan kandung kemih di bagian atas, di atas rahim di kiri bawah dan vagina di kanan bawah
Sebuah ultrasonografi yang menunjukkan kandung kemih (1), rahim (2), dan vagina (3)

Anomali vagina adalah cacat yang mengakibatkan vagina abnormal atau tidak terbentuk.[181][182] Anomali vagina obstruktif yang paling umum adalah selaput dara imperforata, suatu kondisi di mana selaput dara menghalangi aliran menstruasi atau sekresi vagina lainnya.[183][184] Anomali vagina lainnya adalah septum vagina transversal, yang menghalangi saluran vagina sebagian atau seluruhnya.[183] Penyebab pasti obstruksi harus ditentukan sebelum diperbaiki, karena bedah korektif berbeda-beda tergantung pada penyebabnya.[185] Pada beberapa kasus, seperti agenesis vagina terisolasi, genitalia eksternal mungkin tampak normal.[186]

Lubang abnormal yang dikenal sebagai fistula dapat menyebabkan urin atau tinja masuk ke dalam vagina, yang mengakibatkan inkontinensia.[187][188] Vagina rentan terhadap pembentukan fistula karena kedekatannya dengan saluran kemih dan pencernaan.[189] Penyebab spesifiknya bermacam-macam dan meliputi persalinan macet, histerektomi, keganasan, radiasi, episiotomi, dan gangguan usus.[190][191] Sejumlah kecil fistula vagina bersifat bawaan.[192] Berbagai metode pembedahan digunakan untuk memperbaiki fistula.[187][193] Jika tidak diobati, fistula dapat mengakibatkan disabilitas yang signifikan dan berdampak besar pada kualitas hidup.[187]

Eviserasi vagina adalah komplikasi serius dari histerektomi vaginal dan terjadi ketika manset vagina robek, yang memungkinkan usus halus menonjol keluar dari vagina.[106][194]

Kista juga dapat memengaruhi vagina. Berbagai jenis kista vagina dapat berkembang di permukaan epitel vagina atau di lapisan vagina yang lebih dalam dan dapat tumbuh hingga sebesar 7 cm.[195][196] Sering kali, kista ini merupakan temuan insidental selama pemeriksaan panggul rutin.[197] Kista vagina dapat menyerupai struktur lain yang menonjol dari vagina seperti rektokel dan sistokel.[195] Kista yang mungkin ada meliputi kista Müller, kista duktus Gartner, dan kista epidermoid.[198][199] Kista vagina paling mungkin berkembang pada wanita antara usia 30 dan 40 tahun.[195] Diperkirakan 1 dari 200 wanita memiliki kista vagina.[195][200] Kista Bartholin berasal dari vulva dan bukan vagina,[201] tetapi muncul sebagai benjolan di lubang vagina.[202] Kista ini lebih umum terjadi pada wanita yang lebih muda dan biasanya tanpa gejala,[203] tetapi dapat menyebabkan rasa sakit jika abses terbentuk,[203] menghalangi jalan masuk ke vestibula vulva jika berukuran besar,[204] serta menghambat aktivitas berjalan atau menyebabkan nyeri saat berhubungan seksual.[203]

Masyarakat dan budaya

Lihat pula: Vulva § Masyarakat dan budaya

Persepsi, simbolisme, dan vulgaritas

Lihat pula: Eurotofobia

Beragam persepsi mengenai vagina telah eksis sepanjang sejarah, termasuk kepercayaan bahwa vagina adalah pusat hasrat seksual, metafora kehidupan melalui kelahiran, inferior dibandingkan penis, tidak menarik dipandang atau dicium, atau vulgar.[205][206][207] Pandangan-pandangan ini sebagian besar dapat dikaitkan dengan perbedaan jenis kelamin, dan bagaimana perbedaan tersebut diinterpretasikan. David Buss, seorang psikolog evolusioner, menyatakan bahwa karena penis berukuran jauh lebih besar daripada klitoris dan mudah terlihat sementara vagina tidak, serta laki-laki berkemih melalui penis, anak laki-laki diajarkan sejak kecil untuk menyentuh penis mereka, sedangkan anak perempuan sering diajarkan bahwa mereka tidak boleh menyentuh alat kelamin mereka sendiri, yang menyiratkan adanya bahaya jika melakukannya. Buss mengaitkan hal ini sebagai alasan mengapa banyak wanita tidak begitu mengenal alat kelamin mereka, dan bahwa para peneliti berasumsi perbedaan seks ini menjelaskan mengapa anak laki-laki belajar masturbasi lebih dulu daripada anak perempuan dan melakukannya lebih sering.[208]

Kata vagina umumnya dihindari dalam percakapan,[209] dan banyak orang bingung mengenai anatomi vagina serta mungkin tidak menyadari bahwa vagina tidak digunakan untuk berkemih.[210][211][212] Hal ini diperparah dengan frasa seperti "anak laki-laki punya penis, anak perempuan punya vagina", yang menyebabkan anak-anak berpikir bahwa anak perempuan hanya memiliki satu lubang di area panggul.[211] Penulis Hilda Hutcherson menyatakan, "Karena banyak [wanita] telah dikondisikan sejak masa kanak-kanak melalui isyarat verbal dan nonverbal untuk menganggap alat kelamin [mereka] jelek, bau, dan tidak bersih, [mereka] tidak mampu menikmati pertemuan intim sepenuhnya" karena ketakutan bahwa pasangan mereka tidak akan menyukai pemandangan, bau, atau rasa alat kelamin mereka. Ia berargumen bahwa wanita, tidak seperti pria, tidak memiliki pengalaman ruang ganti di sekolah di mana mereka saling membandingkan alat kelamin, yang menjadi salah satu alasan mengapa begitu banyak wanita bertanya-tanya apakah alat kelamin mereka normal.[206] Ilmuwan Catherine Blackledge [pl] menyatakan bahwa memiliki vagina berarti ia biasanya akan diperlakukan kurang baik dibandingkan rekan-rekannya yang tidak memiliki vagina dan tunduk pada ketidaksetaraan (seperti ketidaksetaraan kerja), yang ia kategorikan sebagai perlakuan layaknya warga kelas dua.[209]

Foto yoni batu besar di dalam kotak pajangan museum
Rahim merepresentasikan simbol yang kuat sebagai yoni dalam agama Hindu. Gambar ini adalah yoni batu yang ditemukan di suaka Cát Tiên, Lâm Đồng, Vietnam.

Pandangan negatif tentang vagina secara simultan dikontraskan dengan pandangan bahwa vagina adalah simbol kuat seksualitas wanita, spiritualitas, atau kehidupan. Penulis Denise Linn menyatakan bahwa vagina "adalah simbol kuat kewanitaan, keterbukaan, penerimaan, dan reseptivitas. Ini adalah semangat lembah batin".[213] Sigmund Freud menempatkan nilai signifikan pada vagina,[214] dengan mendalilkan konsep bahwa orgasme vagina terpisah dari orgasme klitoris, dan bahwa, setelah mencapai pubertas, respons yang tepat bagi wanita dewasa adalah peralihan ke orgasme vagina (yang berarti orgasme tanpa stimulasi klitoris apa pun). Teori ini membuat banyak wanita merasa tidak memadai, karena mayoritas wanita tidak dapat mencapai orgasme melalui hubungan seksual vagina saja.[215][216][217] Mengenai agama, rahim merepresentasikan simbol kuat sebagai yoni dalam agama Hindu, yang mewakili "potensi feminin", dan ini dapat mengindikasikan nilai yang diberikan masyarakat Hindu terhadap seksualitas wanita dan kemampuan vagina untuk melahirkan kehidupan;[218] namun, yoni sebagai representasi "rahim" bukanlah denotasi utamanya.[219]

Sementara itu, pada zaman kuno, vagina sering dianggap setara (homolog) dengan penis, dengan ahli anatomi Galen (129 M – 200 M) dan Vesalius (1514–1564) memandang organ tersebut secara struktural sama kecuali vagina yang terbalik, studi anatomi selama berabad-abad kemudian menunjukkan klitoris sebagai ekuivalen penis.[76][220] Persepsi lain mengenai vagina adalah bahwa pelepasan cairan vagina akan menyembuhkan atau memulihkan sejumlah penyakit; berbagai metode digunakan selama berabad-abad untuk melepaskan "benih wanita" (melalui pelumasan vagina atau ejakulasi wanita) sebagai pengobatan untuk suffocatio ex semine retentocode: la is deprecated (sesak napas rahim, har. 'sesak napas akibat benih yang tertahan'), penyakit hijau, dan kemungkinan untuk histeria wanita. Metode pengobatan yang dilaporkan meliputi seorang bidan yang menggosok dinding vagina atau penyisipan penis atau objek berbentuk penis ke dalam vagina. Gejala diagnosis histeria wanita – sebuah konsep yang tidak lagi diakui oleh otoritas medis sebagai gangguan medis – meliputi pingsan, kegugupan, insomnia, retensi cairan, rasa berat di perut, kejang otot, sesak napas, iritabilitas, hilangnya nafsu makan atau seks, dan kecenderungan untuk membuat masalah.[221] Mungkin saja wanita yang dianggap menderita kondisi histeria wanita terkadang menjalani "pijat panggul" – stimulasi alat kelamin oleh dokter hingga wanita tersebut mengalami "paroksisme histeris" (yaitu, orgasme). Dalam kasus ini, paroksisme dianggap sebagai perawatan medis, dan bukan pelepasan seksual.[221]

Vagina telah diberi banyak nama vulgar, tiga di antaranya adalah memek (pussy), tempik, dan puki (cunt). Cunt dalam bahasa Inggris juga digunakan sebagai julukan meremehkan yang merujuk pada orang dari jenis kelamin apa pun. Penggunaan ini relatif baru, berasal dari akhir abad kesembilan belas.[222] Mencerminkan penggunaan nasional yang berbeda, cunt digambarkan sebagai "orang yang tidak menyenangkan atau bodoh" dalam Compact Oxford English Dictionary,[223] sedangkan Merriam-Webster memiliki penggunaan istilah tersebut sebagai "biasanya meremehkan dan cabul: wanita",[224] mencatat bahwa istilah ini digunakan di Amerika Serikat sebagai "cara yang menyinggung untuk merujuk pada seorang wanita".[225] Random House mendefinisikannya sebagai "pria yang tercela, hina, atau bodoh".[222] Beberapa feminis tahun 1970-an berusaha menghilangkan istilah-istilah yang merendahkan seperti cunt.[226] Twat digunakan secara luas sebagai julukan peyoratif, terutama dalam bahasa Inggris Britania, merujuk pada orang yang dianggap menjengkelkan atau bodoh.[227][228] Pussy dapat mengindikasikan "kepengecutan atau kelemahan", dan "vulva atau vagina manusia" atau secara luas "hubungan seksual dengan seorang wanita".[229] Dalam bahasa Inggris, penggunaan kata pussy untuk merujuk pada wanita dianggap peyoratif atau merendahkan, yang memperlakukan orang sebagai objek seksual.[230]

Dalam sastra dan seni

Artikel utama: Vagina dan vulva dalam seni

Vagina loquens, atau "vagina yang berbicara", adalah tradisi penting dalam sastra dan seni, yang berakar pada motif cerita rakyat kuno tentang "kemaluan wanita yang berbicara".[231][232] Kisah-kisah ini biasanya melibatkan vagina yang dapat berbicara akibat pengaruh sihir atau mantra, dan sering kali mengakui hilangnya kesucian mereka.[231] Cerita rakyat lainnya mengisahkan vagina yang memiliki gigi – vagina dentata (bahasa Latin untuk "vagina bergigi"). Kisah ini membawa implikasi bahwa hubungan seksual dapat mengakibatkan cedera, emaskulasi, atau kastrasi bagi pria yang terlibat. Cerita-cerita ini sering dikisahkan sebagai kisah peringatan yang memperingatkan akan bahaya wanita asing dan untuk mencegah pemerkosaan.[233]

Pada tahun 1966, seniman Prancis Niki de Saint Phalle berkolaborasi dengan seniman Dadais Jean Tinguely dan Per Olof Ultvedt dalam sebuah instalasi patung besar berjudul "hon-en katedral"code: sv is deprecated (juga dieja "Hon-en-Katedrall"code: sv is deprecated , yang berarti "dia-sebuah katedral") untuk Moderna Museet, di Stockholm, Swedia. Bentuk luarnya adalah patung raksasa seorang wanita yang sedang berbaring, di mana pengunjung dapat masuk melalui lubang vagina seukuran pintu di antara kedua kakinya yang terbentang.[234]

The Vagina Monologues, sebuah naskah drama episodik tahun 1996 karya Eve Ensler, telah berkontribusi menjadikan seksualitas wanita sebagai topik wacana publik. Karya ini terdiri dari sejumlah monolog yang dibacakan oleh beberapa wanita. Awalnya, Ensler membawakan setiap monolog sendirian, dengan pertunjukan berikutnya menampilkan tiga aktris; versi-versi selanjutnya menampilkan aktris yang berbeda untuk setiap peran. Setiap monolog membahas aspek pengalaman feminin, menyentuh hal-hal seperti aktivitas seksual, cinta, pemerkosaan, menstruasi, mutilasi alat kelamin wanita, masturbasi, kelahiran, orgasme, berbagai nama umum untuk vagina, atau hanya sebagai aspek fisik tubuh. Tema yang berulang di seluruh bagian tersebut adalah vagina sebagai alat pemberdayaan wanita, dan perwujudan utama dari individualitas.[235][236]

Pengaruh terhadap modifikasi

Lihat pula: Modifikasi dan mutilasi alat kelamin

Pandangan masyarakat, yang dipengaruhi oleh tradisi, kurangnya pengetahuan tentang anatomi, atau seksisme, dapat berdampak signifikan pada keputusan seseorang untuk mengubah alat kelamin mereka sendiri atau orang lain.[178][237] Wanita mungkin ingin mengubah alat kelamin mereka (vagina atau vulva) karena mereka percaya bahwa penampilannya, seperti panjang labia minora yang menutupi lubang vagina, tidak normal, atau karena mereka menginginkan lubang vagina yang lebih kecil atau vagina yang lebih kencang. Wanita mungkin ingin tetap terlihat muda dalam penampilan dan fungsi seksual. Pandangan ini sering dipengaruhi oleh media,[178][238] termasuk pornografi,[238] dan akibatnya wanita dapat memiliki harga diri yang rendah.[178] Mereka mungkin merasa malu untuk telanjang di depan pasangan seksual dan mungkin bersikeras melakukan hubungan seks dengan lampu dimatikan.[178] Ketika bedah modifikasi dilakukan murni untuk alasan kosmetik, hal itu sering dipandang buruk,[178] dan beberapa dokter membandingkan pembedahan semacam itu dengan mutilasi alat kelamin wanita (FGM).[238]

Mutilasi alat kelamin wanita, juga dikenal sebagai sunat perempuan atau pemotongan alat kelamin perempuan, adalah modifikasi alat kelamin tanpa manfaat kesehatan.[239][240] Bentuk yang paling parah adalah FGM Tipe III, yaitu infibulasi yang melibatkan pengangkatan seluruh atau sebagian labia dan penutupan vagina. Sebuah lubang kecil disisakan untuk keluarnya urin dan darah menstruasi, dan vagina dibuka untuk hubungan seksual dan persalinan.[240]

Kontroversi yang signifikan melingkupi mutilasi alat kelamin wanita,[239][240] dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan organisasi kesehatan lainnya berkampanye menentang prosedur tersebut atas nama hak asasi manusia, yang menyatakan bahwa hal itu adalah "pelanggaran hak asasi manusia anak perempuan dan wanita" dan "mencerminkan ketidaksetaraan yang mengakar antara jenis kelamin".[240] Mutilasi alat kelamin wanita telah ada pada satu titik atau lainnya di hampir semua peradaban manusia,[241] paling sering untuk melakukan kontrol atas perilaku seksual, termasuk masturbasi, dari anak perempuan dan wanita.[240][241] Praktik ini dilakukan di beberapa negara, terutama di Afrika, dan pada tingkat yang lebih rendah di bagian lain Timur Tengah dan Asia Tenggara, pada anak perempuan dari usia beberapa hari hingga pertengahan remaja, sering kali untuk mengurangi hasrat seksual dalam upaya menjaga keperawanan vagina.[239][240][241] Comfort Momoh menyatakan mungkin saja mutilasi alat kelamin wanita "dipraktikkan di Mesir kuno sebagai tanda pembeda di kalangan bangsawan"; terdapat laporan bahwa jejak infibulasi ditemukan pada mumi Mesir.[241]

Adat dan tradisi adalah alasan yang paling sering dikutip untuk praktik mutilasi alat kelamin wanita. Beberapa budaya percaya bahwa mutilasi alat kelamin wanita adalah bagian dari inisiasi seorang gadis menuju kedewasaan dan bahwa tidak melakukannya dapat mengganggu kohesi sosial dan politik.[240][241] Dalam masyarakat ini, seorang gadis sering kali tidak dianggap dewasa kecuali ia telah menjalani prosedur tersebut.[240]

Hewan lainnya

Ilustrasi tahun 1902 mengenai sistem reproduksi betina kelinci Eropa (vagina diberi label "va")

Vagina adalah struktur pada hewan di mana betina dibuahi secara internal, alih-alih melalui inseminasi traumatis yang digunakan oleh beberapa invertebrata. Meskipun penelitian tentang vagina sangat kurang untuk berbagai hewan yang berbeda, lokasi, struktur, dan ukurannya didokumentasikan bervariasi antarspesies. Pada mamalia theria (plasental dan marsupial), vagina mengarah dari rahim ke bagian luar tubuh betina. Mamalia plasental betina memiliki dua lubang pada vulva; yaitu lubang uretra untuk saluran kemih dan lubang vagina untuk saluran genital. Bergantung pada spesiesnya, lubang-lubang ini mungkin berada di dalam sinus urogenitalis internal atau pada vestibula eksternal.[242] Marsupial betina memiliki dua vagina lateral, yang mengarah ke rahim yang terpisah, tetapi keduanya bermuara secara eksternal melalui lubang yang sama;[243] saluran ketiga, yang dikenal sebagai vagina median, dan bisa bersifat sementara atau permanen, digunakan untuk kelahiran.[244] Hiena tutul betina tidak memiliki lubang vagina eksternal. Sebaliknya, vagina keluar melalui klitoris, yang memungkinkan betina untuk buang air kecil, berkopulasi, dan melahirkan melalui klitoris.[245] Pada canidae betina, vagina berkontraksi selama kopulasi, membentuk ikatan kopulasi (copulatory tie).[246] Cetacea betina memiliki lipatan vagina yang tidak ditemukan pada mamalia lain.[247][248]

Monotremata, burung, reptil, dan amfibi memiliki kloaka yang merupakan satu-satunya lubang luar untuk saluran pencernaan, saluran kemih, dan saluran reproduksi. Beberapa vertebrata ini memiliki bagian oviduk yang mengarah ke kloaka.[249][250] Ayam memiliki celah vagina yang membuka dari apeks vertikal kloaka. Vagina memanjang ke atas dari celah tersebut dan menjadi kelenjar telur.[250] Pada beberapa ikan tak berrahang, tidak terdapat oviduk maupun vagina, melainkan telur bergerak langsung melalui rongga tubuh (dan dibuahi secara eksternal seperti pada sebagian besar ikan dan amfibi). Pada serangga dan invertebrata lainnya, vagina dapat menjadi bagian dari oviduk (lihat sistem reproduksi serangga).[251] Burung memiliki kloaka tempat bermuaranya saluran kemih, saluran reproduksi (vagina), dan saluran pencernaan.[252] Betina dari beberapa spesies unggas air telah mengembangkan struktur vagina yang disebut kantung buntu dan kumparan searah jarum jam untuk melindungi diri dari paksaan seksual.[253]

Kurangnya penelitian mengenai vagina dan genitalia betina lainnya, terutama pada berbagai hewan, telah menghambat pengetahuan tentang anatomi seksual betina.[254][255] Salah satu penjelasan mengapa genitalia jantan lebih banyak dipelajari mencakup fakta bahwa penis jauh lebih sederhana untuk dianalisis daripada rongga genital betina, karena alat kelamin jantan biasanya menonjol keluar sehingga lebih mudah untuk dinilai dan diukur. Sebaliknya, alat kelamin betina lebih sering tersembunyi, dan memerlukan lebih banyak pembedahan, yang pada gilirannya membutuhkan lebih banyak waktu.[254] Penjelasan lainnya adalah bahwa fungsi utama penis adalah untuk membuahi, sementara alat kelamin betina dapat berubah bentuk saat berinteraksi dengan organ jantan, terutama untuk menguntungkan atau menghambat keberhasilan reproduksi.[254]

Primata nonmanusia merupakan model yang optimal untuk penelitian biomedis manusia karena manusia dan primata nonmanusia memiliki karakteristik fisiologis yang sama sebagai hasil dari evolusi.[256] Meskipun menstruasi sangat erat kaitannya dengan wanita manusia, dan mereka memiliki menstruasi yang paling jelas, hal ini juga merupakan ciri khas kerabat kera dan monyet.[257][258] Makaka betina mengalami menstruasi, dengan panjang siklus sepanjang hidup yang sebanding dengan wanita manusia. Estrogen dan progestogen dalam siklus menstruasi serta selama pramenarke dan pascamenopause juga serupa pada wanita manusia dan makaka betina; namun, keratinisasi epitel selama fase folikuler hanya terjadi pada makaka.[256] pH vagina makaka juga berbeda, dengan nilai median yang hampir netral hingga sedikit basa dan sangat bervariasi, yang mungkin disebabkan oleh kurangnya lactobacilli dalam flora vaginanya.[256] Inilah salah satu alasan mengapa, meskipun makaka digunakan untuk mempelajari penularan HIV dan menguji mikrobisida,[256] model hewan tidak sering digunakan dalam studi infeksi menular seksual, seperti trikomoniasis. Alasan lainnya adalah bahwa penyebab kondisi tersebut terikat erat dengan susunan genetik manusia, sehingga hasil dari spesies lain sulit diterapkan pada manusia.[259]

Lihat pula

  • Vagina buatan
  • Kepala putik
  • Bagian supravaginal serviks
  • Inversio uteri
  • Dilator vagina
  • Fotopletismograf vagina

Referensi

  1. 1 2 Stevenson A (2010). Oxford Dictionary of English. Oxford University Press. hlm. 1962. ISBN 978-0-19-957112-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal October 27, 2015.
  2. ↑ Nevid J, Rathus S, Rubenstein H (1998). Health in the New Millennium: The Smart Electronic Edition (S.E.E.). Macmillan. hlm. 297. ISBN 978-1-57259-171-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal October 27, 2015.
  3. ↑ Lipsky MS (2006). American Medical Association Concise Medical Encyclopedia. Random House Reference. hlm. 96. ISBN 978-0-375-72180-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal October 27, 2015.
  4. 1 2 3 4 5 6 7 Dalton M (2014). Forensic Gynaecology. Cambridge University Press. hlm. 65. ISBN 978-1-107-06429-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 17, 2020. Diakses tanggal October 27, 2015.
  5. ↑ Jones T, Wear D, Friedman LD (2014). Health Humanities Reader. Rutgers University Press. hlm. 231–232. ISBN 978-0-8135-7367-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal October 27, 2015.
  6. 1 2 Kirkpatrick M (2012). Human Sexuality: Personality and Social Psychological Perspectives. Springer Science & Business Media. hlm. 175. ISBN 978-1-4684-3656-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 22, 2021. Diakses tanggal February 3, 2016.
  7. ↑ Hill CA (2007). Human Sexuality: Personality and Social Psychological Perspectives. SAGE Publications. hlm. 265–266. ISBN 978-1-5063-2012-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 3, 2021. Diakses tanggal February 3, 2016. Little thought apparently has been devoted to the nature of female genitals in general, likely accounting for the reason that most people use incorrect terms when referring to female external genitals. The term typically used to talk about female genitals is vagina, which is actually an internal sexual structure, the muscular passageway leading outside from the uterus. The correct term for the female external genitals is vulva, as discussed in chapter 6, which includes the clitoris, labia majora, and labia minora.
  8. ↑ Sáenz-Herrero M (2014). Psychopathology in Women: Incorporating Gender Perspective into Descriptive Psychopathology. Springer. hlm. 250. ISBN 978-3-319-05870-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 22, 2021. Diakses tanggal February 3, 2016. In addition, there is a current lack of appropriate vocabulary to refer to the external female genitals, using, for example, 'vagina' and 'vulva' as if they were synonyms, as if using these terms incorrectly were harmless to the sexual and psychological development of women.'
  9. 1 2 3 4 5 6 7 Snell RS (2004). Clinical Anatomy: An Illustrated Review with Questions and Explanations. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 98. ISBN 978-0-7817-4316-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal October 27, 2015.
  10. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 Dutta DC (2014). DC Dutta's Textbook of Gynecology. JP Medical Ltd. hlm. 2–7. ISBN 978-93-5152-068-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal October 27, 2015.
  11. ↑ Drake R, Vogl AW, Mitchell A (2016). Gray's Basic Anatomy E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 246. ISBN 978-0-323-50850-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 4, 2021. Diakses tanggal May 25, 2018.
  12. 1 2 Ginger VA, Yang CC (2011). "Functional Anatomy of the Female Sex Organs". Dalam Mulhall JP, Incrocci L, Goldstein I, Rosen R (ed.). Cancer and Sexual Health. Springer. hlm. 13, 20–21. ISBN 978-1-60761-915-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 16, 2019. Diakses tanggal August 20, 2020.
  13. ↑ Ransons A (May 15, 2009). "Reproductive Choices". Health and Wellness for Life. Human Kinetics 10%. hlm. 221. ISBN 978-0-7360-6850-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  14. ↑ Beckmann CR (2010). Obstetrics and Gynecology. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 37. ISBN 978-0-7817-8807-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 15, 2017. Diakses tanggal January 31, 2017. Because the vagina is collapsed, it appears H-shaped in cross section.
  15. 1 2 3 4 5 6 Standring S, Borley NR, ed. (2008). Gray's anatomy: the anatomical basis of clinical practice (Edisi 40th). London: Churchill Livingstone. hlm. 1281–4. ISBN 978-0-8089-2371-8.
  16. 1 2 Baggish MS, Karram MM (2011). Atlas of Pelvic Anatomy and Gynecologic Surgery - E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 582. ISBN 978-1-4557-1068-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal May 7, 2018.
  17. 1 2 Arulkumaran S, Regan L, Papageorghiou A, Monga A, Farquharson D (2011). Oxford Desk Reference: Obstetrics and Gynaecology. OUP Oxford. hlm. 472. ISBN 978-0-19-162087-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal May 7, 2018.
  18. 1 2 Manual of Obstetrics (Edisi 3rd). Elsevier. 2011. hlm. 1–16. ISBN 978-81-312-2556-1.
  19. ↑ Smith RP, Turek P (2011). Netter Collection of Medical Illustrations: Reproductive System E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 443. ISBN 978-1-4377-3648-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal May 7, 2018.
  20. ↑ Ricci, Susan Scott; Kyle, Terri (2009). Maternity and Pediatric Nursing. Wolters Kluwer Health/Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 77. ISBN 978-0-78178-055-1. Diakses tanggal January 7, 2024.
  21. ↑ Zink, Christopher (2011). Dictionary of Obstetrics and Gynecology. De Gruyter. hlm. 174. ISBN 978-3-11085-727-6.
  22. 1 2 Knight B (1997). Simpson's Forensic Medicine (Edisi 11th). London: Arnold. hlm. 114. ISBN 978-0-7131-4452-9.
  23. ↑ Perlman SE, Nakajyma ST, Hertweck SP (2004). Clinical protocols in pediatric and adolescent gynecology. Parthenon. hlm. 131. ISBN 978-1-84214-199-1.
  24. 1 2 Wylie L (2005). Essential Anatomy and Physiology in Maternity Care. Elsevier Health Sciences. hlm. 157–158. ISBN 978-0-443-10041-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 5, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  25. ↑ Emans SJ (2000). "Physical Examination of the Child and Adolescent". Evaluation of the Sexually Abused Child: A Medical Textbook and Photographic Atlas (Edisi 2nd). Oxford University Press. hlm. 61–65. ISBN 978-0-19-974782-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal August 2, 2015.
  26. 1 2 3 Edmonds K (2012). Dewhurst's Textbook of Obstetrics and Gynaecology. John Wiley & Sons. hlm. 423. ISBN 978-0-470-65457-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  27. ↑ Herrington CS (2017). Pathology of the Cervix. Springer Science & Business Media. hlm. 2–3. ISBN 978-3-319-51257-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal March 21, 2018.
  28. 1 2 3 4 Woodruff TJ, Janssen SJ, Guillette LJ, Jr, Giudice LC (2010). Environmental Impacts on Reproductive Health and Fertility. Cambridge University Press. hlm. 33. ISBN 978-1-139-48484-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal March 21, 2018.
  29. 1 2 3 Robboy S, Kurita T, Baskin L, Cunha GR (2017). "New insights into human female reproductive tract development". Differentiation. 97: 9–22. doi:10.1016/j.diff.2017.08.002. ISSN 0301-4681. PMC 5712241. PMID 28918284.
  30. 1 2 Grimbizis GF, Campo R, Tarlatzis BC, Gordts S (2015). Female Genital Tract Congenital Malformations: Classification, Diagnosis and Management. Springer Science & Business Media. hlm. 8. ISBN 978-1-4471-5146-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal March 21, 2018.
  31. ↑ Kurman RJ (2013). Blaustein's Pathology of the Female Genital Tract. Springer Science & Business Media. hlm. 132. ISBN 978-1-4757-3889-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal March 21, 2018.
  32. ↑ Brown L (2012). Pathology of the Vulva and Vagina. Springer Science+Business Media. hlm. 6–7. ISBN 978-0-85729-757-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 25, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  33. 1 2 Arulkumaran S, Regan L, Papageorghiou A, Monga A, Farquharson D (2011). Oxford Desk Reference: Obstetrics and Gynaecology. Oxford University Press. hlm. 471. ISBN 978-0-19-162087-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  34. ↑ Bitzer J, Lipshultz L, Pastuszak A, Goldstein A, Giraldi A, Perelman M (2016). "The Female Sexual Response: Anatomy and Physiology of Sexual Desire, Arousal, and Orgasm in Women". Management of Sexual Dysfunction in Men and Women (dalam bahasa Inggris). Springer New York. hlm. 202. doi:10.1007/978-1-4939-3100-2_18. ISBN 978-1-4939-3099-9.
  35. ↑ Blaskewicz CD, Pudney J, Anderson DJ (July 2011). "Structure and function of intercellular junctions in human cervical and vaginal mucosal epithelia". Biology of Reproduction. 85 (1): 97–104. doi:10.1095/biolreprod.110.090423. PMC 3123383. PMID 21471299.
  36. ↑ Mayeaux EJ, Cox JT (2011). Modern Colposcopy Textbook and Atlas. Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 978-1-4511-5383-5.
  37. 1 2 3 Kurman RJ, ed. (2002). Blaustein's Pathology of the Female Genital Tract (Edisi 5th). Springer. hlm. 154. ISBN 978-0-387-95203-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal October 27, 2015.
  38. 1 2 3 Beckmann CR (2010). Obstetrics and Gynecology. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 241–245. ISBN 978-0-7817-8807-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal October 27, 2015.
  39. 1 2 3 4 Robboy SJ (2009). Robboy's Pathology of the Female Reproductive Tract. Elsevier Health Sciences. hlm. 111. ISBN 978-0-443-07477-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal December 15, 2017.
  40. ↑ Nunn KL, Forney LJ (September 2016). "Unraveling the Dynamics of the Human Vaginal Microbiome". The Yale Journal of Biology and Medicine. 89 (3): 331–337. ISSN 0044-0086. PMC 5045142. PMID 27698617.
  41. ↑ Gupta R (2011). Reproductive and developmental toxicology. London: Academic Press. hlm. 1005. ISBN 978-0-12-382032-7.
  42. 1 2 Hall J (2011). Guyton and Hall textbook of medical physiology (Edisi 12th). Philadelphia: Saunders/Elsevier. hlm. 993. ISBN 978-1-4160-4574-8.
  43. ↑ Gad SC (2008). Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production and Processes. John Wiley & Sons. hlm. 817. ISBN 978-0-470-25980-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  44. 1 2 3 4 5 6 7 8 Anderson DJ, Marathe J, Pudney J (June 2014). "The Structure of the Human Vaginal Stratum Corneum and its Role in Immune Defense". American Journal of Reproductive Immunology (dalam bahasa Inggris). 71 (6): 618–623. doi:10.1111/aji.12230. ISSN 1600-0897. PMC 4024347. PMID 24661416.
  45. ↑ Dutta DC (2014). DC Dutta's Textbook of Gynecology. JP Medical Ltd. hlm. 206. ISBN 978-93-5152-068-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  46. 1 2 Zimmern PE, Haab F, Chapple CR (2007). Vaginal Surgery for Incontinence and Prolapse. Springer Science & Business Media. hlm. 6. ISBN 978-1-84628-346-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal December 3, 2017.
  47. ↑ O'Rahilly R (2008). "Blood vessels, nerves and lymphatic drainage of the pelvis". Dalam O'Rahilly R, Müller F, Carpenter S, Swenson R (ed.). Basic Human Anatomy: A Regional Study of Human Structure (dalam bahasa Inggris). Dartmouth Medical School. Diarsipkan dari asli tanggal December 2, 2017. Diakses tanggal December 13, 2017.
  48. 1 2 Sabater S, Andres I, Lopez-Honrubia V, Berenguer R, Sevillano M, Jimenez-Jimenez E, Rovirosa A, Arenas M (August 9, 2017). "Vaginal cuff brachytherapy in endometrial cancer – a technically easy treatment?". Cancer Management and Research. 9: 351–362. doi:10.2147/CMAR.S119125. ISSN 1179-1322. PMC 5557121. PMID 28848362.
  49. ↑ "Menstruation and the menstrual cycle fact sheet". Office of Women's Health. December 23, 2014. Diarsipkan dari asli tanggal June 26, 2015. Diakses tanggal June 25, 2015.
  50. ↑ Wangikar P, Ahmed T, Vangala S (2011). "Toxicologic pathology of the reproductive system". Dalam Gupta RC (ed.). Reproductive and developmental toxicology. London: Academic Press. hlm. 1005. ISBN 978-0-12-382032-7. OCLC 717387050.
  51. ↑ Silverthorn DU (2013). Human Physiology: An Integrated Approach (Edisi 6th). Glenview, IL: Pearson Education. hlm. 850–890. ISBN 978-0-321-75007-5.
  52. ↑ Sherwood L (2013). Human Physiology: From Cells to Systems (Edisi 8th). Belmont, California: Cengage. hlm. 735–794. ISBN 978-1-111-57743-8.
  53. ↑ Vostral SL (2008). Under Wraps: A History of Menstrual Hygiene Technology. Lexington Books. hlm. 1–181. ISBN 978-0-7391-1385-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal March 22, 2018.
  54. 1 2 Sloane E (2002). Biology of Women. Cengage Learning. hlm. 32, 41–42. ISBN 978-0-7668-1142-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 28, 2014. Diakses tanggal October 27, 2015.
  55. ↑ Bourcier A, McGuire EJ, Abrams P (2004). Pelvic Floor Disorders. Elsevier Health Sciences. hlm. 20. ISBN 978-0-7216-9194-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal June 8, 2018.
  56. ↑ Wiederman MW, Whitley BE Jr (2012). Handbook for Conducting Research on Human Sexuality. Psychology Press. ISBN 978-1-135-66340-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal June 8, 2018.
  57. ↑ Cummings M (2006). Human Heredity: Principles and Issues (Edisi Updated). Cengage Learning. hlm. 153–154. ISBN 978-0-495-11308-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  58. ↑ Sirven JI, Malamut BL (2008). Clinical Neurology of the Older Adult. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 230–232. ISBN 978-0-7817-6947-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal June 8, 2018.
  59. 1 2 Lee MT (2013). Love, Sex and Everything in Between. Marshall Cavendish International Asia Pte Ltd. hlm. 76. ISBN 978-981-4516-78-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  60. 1 2 3 4 Sex and Society. Vol. 2. Marshall Cavendish Corporation. 2009. hlm. 590. ISBN 978-0-7614-7907-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 12, 2021. Diakses tanggal August 20, 2020.
  61. 1 2 3 4 Weiten W, Dunn D, Hammer E (2011). Psychology Applied to Modern Life: Adjustment in the 21st Century. Cengage Learning. hlm. 386. ISBN 978-1-111-18663-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 14, 2013. Diakses tanggal October 27, 2015.
  62. 1 2 Greenberg JS, Bruess CE, Conklin SC (2010). Exploring the Dimensions of Human Sexuality. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 126. ISBN 978-981-4516-78-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 2, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  63. 1 2 3 4 5 Greenberg JS, Bruess CE, Oswalt SB (2014). Exploring the Dimensions of Human Sexuality. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 102–104. ISBN 978-1-4496-4851-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 10, 2015. Diakses tanggal October 27, 2015.
  64. 1 2 Hines T (August 2001). "The G-Spot: A modern gynecologic myth". Am J Obstet Gynecol. 185 (2): 359–62. doi:10.1067/mob.2001.115995. PMID 11518892. S2CID 32381437.[pranala nonaktif permanen]
  65. 1 2 3 Bullough VL, Bullough B (2014). Human Sexuality: An Encyclopedia. Routledge. hlm. 229–231. ISBN 978-1-135-82509-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  66. 1 2 Balon R, Segraves RT (2009). Clinical Manual of Sexual Disorders. American Psychiatric Pub. hlm. 258. ISBN 978-1-58562-905-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 27, 2014. Diakses tanggal October 27, 2015.
  67. ↑ Rosenthal M (2012). Human Sexuality: From Cells to Society. Cengage Learning. hlm. 76. ISBN 978-0-618-75571-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 10, 2020. Diakses tanggal October 27, 2015.
  68. ↑ Carroll J (2012). Discovery Series: Human Sexuality. Cengage Learning. hlm. 282–289. ISBN 978-1-111-84189-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 5, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  69. ↑ Carroll JL (2018). Sexuality Now: Embracing Diversity (Edisi 1st). Cengage Learning. hlm. 299. ISBN 978-1-337-67206-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 16, 2018.
  70. 1 2 Hales D (2012). An Invitation to Health (Edisi 1st). Cengage Learning. hlm. 296–297. ISBN 978-1-111-82700-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 16, 2018.
  71. ↑ Strong B, DeVault C, Cohen TF (2010). The Marriage and Family Experience: Intimate Relationship in a Changing Society. Cengage Learning. hlm. 186. ISBN 978-0-534-62425-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 24, 2020. Diakses tanggal August 20, 2020. Most people agree that we maintain virginity as long as we refrain from sexual (vaginal) intercourse. But occasionally we hear people speak of 'technical virginity' [...] Data indicate that 'a very significant proportion of teens ha[ve] had experience with oral sex, even if they haven't had sexual intercourse, and may think of themselves as virgins' [...] Other research, especially research looking into virginity loss, reports that 35% of virgins, defined as people who have never engaged in vaginal intercourse, have nonetheless engaged in one or more other forms of heterosexual sexual activity (e.g., oral sex, anal sex, or mutual masturbation).
  72. ↑ See 272 Diarsipkan May 1, 2016, di Wayback Machine. and page 301 Diarsipkan May 7, 2016, di Wayback Machine. for two different definitions of outercourse (first of the pages for no-penetration definition; second of the pages for no-penile-penetration definition). Rosenthal M (2012). Human Sexuality: From Cells to Society (Edisi 1st). Cengage Learning. ISBN 978-0-618-75571-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 30, 2015. Diakses tanggal October 2, 2015.
  73. ↑ Carroll JL (2009). Sexuality Now: Embracing Diversity. Cengage Learning. hlm. 272. ISBN 978-0-495-60274-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 15, 2013. Diakses tanggal August 20, 2020.
  74. ↑ Zenilman J, Shahmanesh M (2011). Sexually Transmitted Infections: Diagnosis, Management, and Treatment. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 329–330. ISBN 978-0-495-81294-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 12, 2017. Diakses tanggal August 20, 2020.
  75. ↑ Taormino T (2009). The Big Book of Sex Toys. Quiver. hlm. 52. ISBN 978-1-59233-355-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 5, 2015. Diakses tanggal October 27, 2015.
  76. 1 2 O'Connell HE, Sanjeevan KV, Hutson JM (October 2005). "Anatomy of the clitoris". The Journal of Urology. 174 (4 Pt 1): 1189–95. doi:10.1097/01.ju.0000173639.38898.cd. PMID 16145367. S2CID 26109805.
    • Sharon Mascall (June 11, 2006). "Time for rethink on the clitoris". BBC News.
  77. 1 2 Kilchevsky A, Vardi Y, Lowenstein L, Gruenwald I (January 2012). "Is the Female G-Spot Truly a Distinct Anatomic Entity?". The Journal of Sexual Medicine. 9 (3): 719–26. doi:10.1111/j.1743-6109.2011.02623.x. PMID 22240236.
    • "G-Spot Does Not Exist, 'Without A Doubt,' Say Researchers". The Huffington Post. January 19, 2012.
  78. 1 2 3 Heffner LJ, Schust DJ (2014). The Reproductive System at a Glance. John Wiley & Sons. hlm. 39. ISBN 978-1-118-60701-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 28, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  79. ↑ Silbernagl S, Despopoulos A (2011). Color Atlas of Physiology. Thieme. hlm. 310. ISBN 978-1-4496-4851-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 7, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  80. ↑ Carroll JL (2015). Sexuality Now: Embracing Diversity. Cengage Learning. hlm. 271. ISBN 978-1-305-44603-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal August 21, 2017.
  81. ↑ Brewster S, Bhattacharya S, Davies J, Meredith S, Preston P (2011). The Pregnant Body Book. Penguin. hlm. 66–67. ISBN 978-0-7566-8712-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 15, 2015. Diakses tanggal March 4, 2015.
  82. 1 2 Luanne, Luanne; Coats, Gloria (2017). Safe Maternity and Pediatric Nursing Care (dalam bahasa Inggris). F. A. Davis Company. hlm. 108. ISBN 978-0-8036-2494-8.
  83. ↑ Callahan T, Caughey AB (2013). Blueprints Obstetrics and Gynecology. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 40. ISBN 978-1-4511-1702-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 8, 2018.
  84. 1 2 Pillitteri A (2013). Maternal and Child Health Nursing: Care of the Childbearing and Childrearing Family. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 298. ISBN 978-1-4698-3322-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 3, 2018.
  85. 1 2 Raines, Deborah; Cooper, Danielle B. (2021). Braxton Hicks Contractions (dalam bahasa Inggris). StatPearls Publishing. PMID 29262073.
  86. 1 2 Forbes, Helen; Watt, Elizabethl (2020). Jarvis's Health Assessment and Physical Examination (dalam bahasa Inggris) (Edisi 3). Elsevier Health Sciences. hlm. 834. ISBN 978-0-729-58793-8.
  87. ↑ Orshan SA (2008). Maternity, Newborn, and Women's Health Nursing: Comprehensive Care Across the Lifespan. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 585–586. ISBN 978-0-7817-4254-2.
  88. ↑ Hutchison, Julia; Mahdy, Heba; Hutchison, Justin (2022). "Normal Labor: Physiology, Evaluation, and Management". Stages of Labor (dalam bahasa Inggris). StatPearls Publishing. PMID 31335010.
  89. ↑ Clark–Patterson, Gabrielle; Domingo, Mari; Miller, Kristin (June 2022). "Biomechanics of pregnancy and vaginal delivery". Current Opinion in Biomedical Engineering. 22 100386. doi:10.1016/j.cobme.2022.100386. ISSN 2468-4511. S2CID 247811789.
  90. ↑ "Pregnancy Labor and Birth". Office on Women's Health, U.S. Department of Health and Human Services. February 1, 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 28, 2017. Diakses tanggal July 15, 2017.
  91. ↑ Ricci SS, Kyle T (2009). Maternity and Pediatric Nursing. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 431–432. ISBN 978-0-7817-8055-1.
  92. ↑ Fletcher, S, Grotegut, CA, James, AH (December 2012). "Lochia patterns among normal women: a systematic review". Journal of Women's Health. 21 (12): 1290–4. doi:10.1089/jwh.2012.3668. PMID 23101487.
  93. ↑ Petrova MI, Lievens E, Malik S, Imholz N, Lebeer S (2015). "Lactobacillus species as biomarkers and agents that can promote various aspects of vaginal health". Frontiers in Physiology. 6: 81. doi:10.3389/fphys.2015.00081. ISSN 1664-042X. PMC 4373506. PMID 25859220.
  94. 1 2 3 4 5 6 King TL, Brucker MC (2010). Pharmacology for Women's Health. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 951–953. ISBN 978-1-4496-1073-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 2, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  95. 1 2 3 4 5 6 7 Damico D (2016). Health & physical assessment in nursing. Boston: Pearson. hlm. 665. ISBN 978-0-13-387640-6.
  96. ↑ "NCI Dictionary of Cancer Terms". National Cancer Institute. February 2, 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 14, 2018. Diakses tanggal January 5, 2018.
  97. ↑ Vickery DM, Fries JF (2013). Take Care of Yourself: The Complete Illustrated Guide to Medical Self-Care. Da Capo Press. ISBN 978-0-7867-5218-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal October 27, 2015.
  98. ↑ "CDC - Cervical Cancer Screening Recommendations and Considerations - Gynecologic Cancer Curriculum - Inside Knowledge Campaign". Centers for Disease Control and Prevention (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 19, 2018. Diakses tanggal January 19, 2018.
  99. 1 2 Moyer VA (September 2016). "Screening for cervical cancer: U.S. Preventive Services Task Force recommendation statement". Annals of Internal Medicine. 156 (12): 880–91. doi:10.7326/0003-4819-156-12-201206190-00424. PMID 22711081. S2CID 36965456.
  100. ↑ Saslow D (2012). "American Cancer Society, American Society for Colposcopy and Cervical Pathology, and American Society for Clinical Pathology Screening Guidelines for the Prevention and Early Detection of Cervical Cancer". Journal of Lower Genital Tract Disease. 16 (3): 175–204. doi:10.1097/LGT.0b013e31824ca9d5. PMC 3915715. PMID 22418039.
  101. ↑ "Can Cervical Cancer Be Prevented?". American Cancer Society. November 1, 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 10, 2016. Diakses tanggal January 7, 2018.
  102. ↑ Qaseem A, Humphrey LL, Harris R, Starkey M, Denberg TD (July 1, 2014). "Screening pelvic examination in adult women: a clinical practice guideline from the American College of Physicians". Annals of Internal Medicine. 161 (1): 67–72. CiteSeerX 10.1.1.691.4471. doi:10.7326/M14-0701. PMID 24979451. S2CID 12370761.[Free text]
  103. ↑ "Pelvic exam - About - Mayo Clinic". www.mayoclinic.org (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 5, 2018. Diakses tanggal January 4, 2018.
  104. ↑ Hinrichsen C, Lisowski P (2007). Anatomy Workbook. World Scientific Publishing Company. hlm. 101. ISBN 978-981-256-906-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal October 19, 2020.
  105. ↑ Stering R (2004). Police Officer's Handbook: An Introductory Guide. Jones & Bartlett Learning. hlm. 80. ISBN 978-0-7637-4789-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 3, 2017. Diakses tanggal April 2, 2017.
  106. 1 2 Hoffman B, Schorge J, Schaffer J, Halvorson L, Bradshaw K, Cunningham F (2012). Williams gynecology (Edisi 2nd). New York: McGraw-Hill Medical. hlm. 371. ISBN 978-0-07-171672-7. OCLC 779244257.
  107. ↑ "Prenatal care and tests | womenshealth.gov". womenshealth.gov (dalam bahasa Inggris). December 13, 2016. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 18, 2019. Diakses tanggal January 5, 2018. Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  108. ↑ Ranade VV, Cannon JB (2011). Drug Delivery Systems (Edisi 3rd). CRC Press. hlm. 337. ISBN 978-1-4398-0618-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  109. ↑ Lehne RA, Rosenthal L (2014). Pharmacology for Nursing Care. Elsevier Health Sciences. hlm. 1146. ISBN 978-0-323-29354-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  110. ↑ Srikrishna S, Cardozo L (April 2013). "The vagina as a route for drug delivery: a review". International Urogynecology Journal (dalam bahasa Inggris). 24 (4): 537–543. doi:10.1007/s00192-012-2009-3. ISSN 0937-3462. PMID 23229421. S2CID 25185650.
  111. ↑ "The Benefits of Vaginal Drug Administration—Communicating Effectively With Patients: The Vagina: New Options for the Administration of Medications". www.medscape.org. Medscape. January 8, 2018. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 18, 2015. Diakses tanggal January 8, 2018.
  112. ↑ Maclean A, Reid W (2011). "40". Dalam Shaw R (ed.). Gynaecology. Edinburgh New York: Churchill Livingstone/Elsevier. hlm. 599–612. ISBN 978-0-7020-3120-5.
  113. ↑ Nardis C, Mosca L, Mastromarino P (September 2013). "Vaginal microbiota and viral sexually transmitted diseases". Annali di Igiene: Medicina Preventiva e di Comunità (dalam bahasa Inggris). 25 (5): 443–456. doi:10.7416/ai.2013.1946. ISSN 1120-9135. PMID 24048183.
  114. ↑ Baldewijns, Silke; Sillen, Mart; Palmans, Ilse; Vandecruys, Paul; Van Dijck, Patrick; Demuyser, Liesbeth (2021-07-02). "The Role of Fatty Acid Metabolites in Vaginal Health and Disease: Application to Candidiasis". Frontiers in Microbiology. 12 705779. doi:10.3389/fmicb.2021.705779. ISSN 1664-302X. PMC 8282898. PMID 34276639.
  115. ↑ Jewanraj, Janine; Ngcapu, Sinaye; Liebenberg, Lenine J. P. (Nov 2021). "Semen: A modulator of female genital tract inflammation and a vector for HIV-1 transmission". American Journal of Reproductive Immunology (dalam bahasa Inggris). 86 (5) e13478. doi:10.1111/aji.13478. ISSN 1046-7408. PMC 9286343. PMID 34077596.
  116. 1 2 Leifer G (2014). Introduction to Maternity and Pediatric Nursing - E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 276. ISBN 978-0-323-29358-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal December 20, 2017.
  117. ↑ AAOS (2011). AEMT: Advanced Emergency Care and Transportation of the Sick and Injured. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 766. ISBN 978-1-4496-8428-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal December 20, 2017.
  118. ↑ Alldredge BK, Corelli RL, Ernst ME (2012). Koda-Kimble and Young's Applied Therapeutics: The Clinical Use of Drugs. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 1636–1641. ISBN 978-1-60913-713-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 24, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  119. ↑ Lamont RF, Sobel JD, Akins RA, Hassan SS, Chaiworapongsa T, Kusanovic JP, Romero R (April 2011). "The vaginal microbiome: new information about genital tract flora using molecular based techniques". BJOG: An International Journal of Obstetrics & Gynaecology (dalam bahasa Inggris). 118 (5): 533–549. doi:10.1111/j.1471-0528.2010.02840.x. ISSN 1471-0528. PMC 3055920. PMID 21251190.
  120. ↑ "NCI Dictionary of Cancer Terms". National Cancer Institute. February 2, 2011. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal September 14, 2018. Diakses tanggal January 4, 2018. Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  121. 1 2 3 Grimes JA, Smith LA, Fagerberg K (2013). Sexually Transmitted Disease: An Encyclopedia of Diseases, Prevention, Treatment, and Issues: An Encyclopedia of Diseases, Prevention, Treatment, and Issues. ABC-CLIO. hlm. 144, 590–592. ISBN 978-1-4408-0135-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal December 11, 2017.
  122. ↑ Martino JL, Vermund SH (2002). "Vaginal douching: evidence for risks or benefits to women's health". Epidemiologic Reviews. 24 (2): 109–24. doi:10.1093/epirev/mxf004. PMC 2567125. PMID 12762087.
  123. 1 2 McGrath J, Foley A (2016). Emergency Nursing Certification (CEN): Self-Assessment and Exam Review. McGraw Hill Professional. hlm. 138. ISBN 978-1-259-58715-3.
  124. 1 2 Wright, WF (2013). Essentials of Clinical Infectious Diseases. Demos Medical Publishing. hlm. 269. ISBN 978-1-61705-153-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 3, 2018.
  125. 1 2 Ferri FF (2012). Ferri's Clinical Advisor 2013. Elsevier Health Sciences. hlm. 1134–1140. ISBN 978-0-323-08373-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 26, 2015. Diakses tanggal October 27, 2015.
  126. ↑ Sommers MS, Fannin E (2014). Diseases and Disorders: A Nursing Therapeutics Manual. F.A. Davis. hlm. 115. ISBN 978-0-8036-4487-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal March 10, 2018.
  127. ↑ Hales D (2008). An Invitation to Health Brief 2010-2011. Cengage Learning. hlm. 269–271. ISBN 978-0-495-39192-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 31, 2013. Diakses tanggal October 27, 2015.
  128. ↑ Alexander W, Bader H, LaRosa JH (2011). New Dimensions in Women's Health. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 211. ISBN 978-1-4496-8375-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 15, 2014. Diakses tanggal October 27, 2015.
  129. ↑ Knox D, Schacht C (2007). Choices in Relationships: Introduction to Marriage and the Family. Cengage Learning. hlm. 296–297. ISBN 978-0-495-09185-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 16, 2017.
  130. 1 2 Kumar B, Gupta S (2014). Sexually Transmitted Infections. Elsevier Health Sciences. hlm. 126–127. ISBN 978-81-312-2978-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 16, 2017.
  131. ↑ Hornstein T, Schwerin JL (2012). Biology of Women. Cengage Learning. hlm. 126–127. ISBN 978-1-4354-0033-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 16, 2017.
  132. ↑ "Stage I Vaginal Cancer". National Cancer Institute. National Institutes of Health. February 9, 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 9, 2019. Diakses tanggal December 14, 2017. Artikel ini memuat teks dari sumber tersebut, yang berada dalam ranah publik.
  133. 1 2 Salhan S (2011). Textbook of Gynecology. JP Medical Ltd. hlm. 270. ISBN 978-93-5025-369-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  134. ↑ Paludi MA (2014). The Praeger Handbook on Women's Cancers: Personal and Psychosocial Insights. ABC-CLIO. hlm. 111. ISBN 978-1-4408-2814-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  135. 1 2 3 "What Are the Risk Factors for Vaginal Cancer?". American Cancer Society. October 19, 2017. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 6, 2018. Diakses tanggal January 5, 2018.
  136. ↑ Chi D, Berchuck A, Dizon DS, Yashar CM (2017). Principles and Practice of Gynecologic Oncology. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 87. ISBN 978-1-4963-5510-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal December 14, 2017.
  137. ↑ Berek JS, Hacker NF (2010). Berek and Hacker's Gynecologic Oncology. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 225. ISBN 978-0-7817-9512-8.
  138. ↑ Bibbo M, Wilbur D (2014). Comprehensive Cytopathology E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 49. ISBN 978-0-323-26576-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal December 14, 2017.
  139. 1 2 Daniels R, Nicoll LH (2011). Contemporary Medical-Surgical Nursing. Cengage Learning. hlm. 1776. ISBN 978-1-133-41875-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal December 14, 2017.
  140. ↑ Washington CM, Leaver DT (2015). Principles and Practice of Radiation Therapy. Elsevier Health Sciences. hlm. 749. ISBN 978-0-323-28781-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal December 14, 2017.
  141. 1 2 3 "Cervical, Endometrial, Vaginal and Vulvar Cancers - Gynecologic Brachytherapy". radonc.ucla.edu. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 14, 2017. Diakses tanggal December 13, 2017.
  142. ↑ Sabater S, Andres I, Lopez-Honrubia V, Berenguer R, Sevillano M, Jimenez-Jimenez E, Rovirosa A, Arenas M (August 9, 2017). "Vaginal cuff brachytherapy in endometrial cancer – a technically easy treatment?". Cancer Management and Research. 9: 351–362. doi:10.2147/CMAR.S119125. ISSN 1179-1322. PMC 5557121. PMID 28848362.
  143. ↑ Harkenrider MM, Block AM, Alektiar KM, Gaffney DK, Jones E, Klopp A, Viswanathan AN, Small W (January–February 2017). "American Brachytherapy Task Group Report: Adjuvant vaginal brachytherapy for early-stage endometrial cancer: A comprehensive review". Brachytherapy (dalam bahasa Inggris). 16 (1): 95–108. doi:10.1016/j.brachy.2016.04.005. PMC 5612425. PMID 27260082.
  144. 1 2 Wilson M (2005). Microbial Inhabitants of Humans: Their Ecology and Role in Health and Disease. Cambridge University Press. hlm. 214. ISBN 978-0-521-84158-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 14, 2018.
  145. 1 2 Long SS, Prober CG, Fischer M (2017). Principles and Practice of Pediatric Infectious Diseases E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 362. ISBN 978-0-323-46132-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 9, 2018.
  146. 1 2 3 4 Mack A, Olsen L, Choffnes ER (2014). Microbial Ecology in States of Health and Disease: Workshop Summary. National Academies Press. hlm. 252. ISBN 978-0-309-29065-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 9, 2018.
  147. ↑ Wilson CB, Nizet V, Maldonado Y, Remington JS, Klein JO (2014). Remington and Klein's Infectious Diseases of the Fetus and Newborn E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 1053. ISBN 978-0-323-34096-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal January 14, 2018.
  148. 1 2 Schafermeyer RW, Tenenbein M, Macias CG, Sharieff G, Yamamoto L (2014). Strange and Schafermeyer's Pediatric Emergency Medicine, Fourth Edition. McGraw Hill Professional. hlm. 567. ISBN 978-0-07-182924-3.
  149. ↑ Di Saia PH (2012). Clinical Gynecologic Oncology. Elsevier Health Sciences. hlm. 140. ISBN 978-0-323-07419-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  150. 1 2 3 4 5 Ward S, Hisley S (2015). Maternal-Child Nursing Care Optimizing Outcomes for Mothers, Children, & Families. F. A. Davis Company. hlm. 147–150. ISBN 978-0-8036-4490-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal August 13, 2017.
  151. 1 2 Schuiling, Likis FE (2013). Women's Gynecologic Health. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 305. ISBN 978-0-7637-5637-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 9, 2018.
  152. 1 2 3 Jones RE, Davis KH (2013). Human Reproductive Biology. Academic Press. hlm. 127. ISBN 978-0-12-382185-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal August 13, 2017.
  153. ↑ Mulhall JP, Incrocci L, Goldstein I (2011). Cancer and sexual health. New York: Humana Press. hlm. 19. ISBN 978-1-60761-915-4. OCLC 728100149.
  154. ↑ Walters MD, Karram MM (2015). Urogynecology and reconstructive pelvic surgery (Edisi 4th). Philadelphia: Elsevier Saunders. hlm. 60–82. ISBN 978-0-323-11377-9. OCLC 894111717.
  155. 1 2 Smith BT (2014). Pharmacology for Nurses. Jones & Bartlett Publishers. hlm. 80. ISBN 978-1-4496-8940-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal January 11, 2018.
  156. ↑ Greenstein B, Greenstein A (2007). Concise Clinical Pharmacology. Pharmaceutical Press. hlm. 186. ISBN 978-0-85369-576-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal August 13, 2017.
  157. ↑ Moscou K, Snipe K (2014). Pharmacology for Pharmacy Technicians - E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 573. ISBN 978-0-323-29265-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal January 11, 2018.
  158. ↑ Gladson B (2010). Pharmacology for Rehabilitation Professionals - E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 212. ISBN 978-1-4377-0756-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 11, 2018.
  159. 1 2 Lowdermilk DL, Perry SE, Cashion MC, Alden KR (2014). Maternity and Women's Health Care - E-Book. Elsevier Health Sciences. hlm. 133. ISBN 978-0-323-39019-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal January 13, 2018.
  160. 1 2 3 4 5 6 Siemionow MZ, Eisenmann-Klein M (2010). Plastic and Reconstructive Surgery. Springer Science & Business Media. hlm. 688–690. ISBN 978-1-84882-513-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal August 13, 2017.
  161. ↑ Gulanick M, Myers JL (2016). Nursing Care Plans - E-Book: Nursing Diagnosis and Intervention. Elsevier Health Sciences. hlm. 111. ISBN 978-0-323-42810-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal January 13, 2018.
  162. 1 2 Ramaseshan AS, Felton J, Roque D, Rao G, Shipper AG, Sanses T (September 19, 2017). "Pelvic floor disorders in women with gynecologic malignancies: a systematic review". International Urogynecology Journal (dalam bahasa Inggris). 29 (4): 459–476. doi:10.1007/s00192-017-3467-4. ISSN 0937-3462. PMC 7329191. PMID 28929201.
  163. 1 2 "Cystocele (Prolapsed Bladder) | NIDDK". National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 17, 2018. Diakses tanggal January 15, 2018.
  164. ↑ "Kegel Exercises | NIDDK". National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 22, 2018. Diakses tanggal January 15, 2018.
  165. ↑ Hagen S, Stark D (2011). "Conservative prevention and management of pelvic organ prolapse in women". Cochrane Database Syst Rev. 2011 (12) CD003882. doi:10.1002/14651858.CD003882.pub4. PMC 12621084. PMID 22161382. S2CID 205171605.
  166. ↑ Herbison GP, Dean N (July 8, 2013). "Weighted vaginal cones for urinary incontinence". The Cochrane Database of Systematic Reviews. 2013 (7) CD002114. doi:10.1002/14651858.CD002114.pub2. PMC 7086390. PMID 23836411.
  167. 1 2 3 Durham R, Chapman L (2014). Maternal-newborn Nursing: The Critical Components of Nursing Care (Edisi 2nd). Philadelphia: F.A. Davis. hlm. 212–213. ISBN 978-0-8036-3704-7. OCLC 829937238.
  168. ↑ Kettle C (August 2010). "Absorbable suture materials for primary repair of episiotomy and second degree tears" (PDF). Journal of Evidence-Based Medicine (dalam bahasa Inggris). 3 (3): 185. doi:10.1111/j.1756-5391.2010.01093.x. ISSN 1756-5391. PMC 7263442. PMID 20556745. Diarsipkan (PDF) dari versi aslinya tanggal August 18, 2019. Diakses tanggal December 3, 2019.
  169. 1 2 3 Kettle C, Dowswell T, Ismail KM (2017). "Comparative analysis of continuous and interrupted suturing techniques for repair of episiotomy or second degree perineal tear". Cochrane Database of Systematic Reviews (dalam bahasa Inggris). 2012 (11) CD000947. doi:10.1002/14651858.cd000947.pub3. PMC 7045987. PMID 23152204.
  170. 1 2 Fernando R (January 2011). "Episiotomy or perineal tears: compared with catgut, synthetic sutures reduce risk of short-term pain and need for resuturing; rapidly absorbing sutures comparable to synthetic but reduce the need for suture removal". Evidence-Based Nursing (dalam bahasa Inggris). 14 (1): 17–18. doi:10.1136/ebn1110. ISSN 1367-6539. PMID 21163794. S2CID 219223164.
  171. 1 2 Venes D (2009). Taber's Cyclopedic Medical Dictionary. F.A. Davis. hlm. 2433. ISBN 978-0-8036-2977-6.
  172. ↑ American College of Obstetricians Gynecologists' Committee on Practice Bulletins—Obstetrics (July 2016). "Practice Bulletin No. 165: Prevention and Management of Obstetric Lacerations at Vaginal Delivery". Obstetrics and Gynecology. 128 (1): e1 – e15. doi:10.1097/AOG.0000000000001523. PMID 27333357. S2CID 20952144.
  173. ↑ "Episiotomy: MedlinePlus Medical Encyclopedia". Medlineplus.gov (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal December 14, 2017. Diakses tanggal December 13, 2017.
  174. ↑ Ellis H, Mahadevan V (2013). Clinical anatomy: applied anatomy for students and junior doctors (Edisi 13th). Chichester, West Sussex, UK: Wiley-Blackwell. hlm. 148. ISBN 978-1-118-37377-4. OCLC 856017698.
  175. ↑ Verghese TS, Champaneria R, Kapoor DS, Latthe PM (October 2016). "Obstetric anal sphincter injuries after episiotomy: systematic review and meta-analysis". International Urogynecology Journal (dalam bahasa Inggris). 27 (10): 1459–1467. doi:10.1007/s00192-016-2956-1. ISSN 0937-3462. PMC 5035659. PMID 26894605.
  176. 1 2 Holland JC, Breitbart WD, Jacobsen PB (2015). Psycho-oncology. Oxford University Press. hlm. 220. ISBN 978-0-19-936331-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal December 12, 2017.
  177. 1 2 Goodman, MP (2016). Female Genital Plastic and Cosmetic Surgery. John Wiley & Sons. hlm. 287. ISBN 978-1-118-84848-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal January 4, 2018.
  178. 1 2 3 4 5 6 Cardozo L, Staskin D (2017). Textbook of Female Urology and Urogynecology, Fourth Edition - Two-Volume Set. CRC Press. hlm. 2962–2976. ISBN 978-1-4987-9661-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal January 4, 2018.
  179. ↑ Lloyd J, Crouch NS, Minto CL, Liao LM, Creighton SM (May 2005). "Female genital appearance: 'normality' unfolds". British Journal of Obstetrics and Gynaecology. 112 (5): 643–646. doi:10.1111/j.1471-0528.2004.00517.x. PMID 15842291.
  180. ↑ "Gender Confirmation Surgeries". American Society of Plastic Surgeons (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 12, 2020. Diakses tanggal January 4, 2018.
  181. ↑ Lawrence S Amesse (April 13, 2016). "Mullerian Duct Anomalies: Overview, Incidence and Prevalence, Embryology". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-01-20. Diakses tanggal January 31, 2018.
  182. ↑ "Vaginal Anomalies-Pediatrics-Merck Manuals Professional Edition". Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 29, 2019. Diakses tanggal January 6, 2018.
  183. 1 2 Pfeifer SM (2016). Congenital Müllerian Anomalies: Diagnosis and Management. Springer. hlm. 43–45. ISBN 978-3-319-27231-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 31, 2018.
  184. ↑ Zhu L, Wong F, Lang J (2015). Atlas of Surgical Correction of Female Genital Malformation. Springer. hlm. 18. ISBN 978-94-017-7246-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal April 2, 2018.
  185. ↑ Coran AG, Caldamone A, Adzick NS, Krummel TM, Laberge JM, Shamberger R (2012). Pediatric Surgery. Elsevier Health Sciences. hlm. 1599. ISBN 978-0-323-09161-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 15, 2015. Diakses tanggal March 4, 2015.
  186. ↑ Nucci MR, Oliva E (2015). Gynecologic Pathology E-Book: A Volume in the Series: Foundations in Diagnostic Pathology. Elsevier Health Sciences. hlm. 77. ISBN 978-94-017-7246-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal April 2, 2018.
  187. 1 2 3 Bodner-Adler B, Hanzal E, Pablik E, Koelbl H, Bodner K (February 22, 2017). "Management of vesicovaginal fistulas (VVFs) in women following benign gynaecologic surgery: A systematic review and meta-analysis". PLOS ONE. 12 (2) e0171554. Bibcode:2017PLoSO..1271554B. doi:10.1371/journal.pone.0171554. PMC 5321457. PMID 28225769.
  188. ↑ Köckerling F, Alam NN, Narang SK, Daniels IR, Smart NJ (2015). "Treatment of Fistula-In-Ano with Fistula Plug - a Review Under Special Consideration of the Technique". Frontiers in Surgery. 2: 55. doi:10.3389/fsurg.2015.00055. PMC 4607815. PMID 26528482.
  189. ↑ Priyadarshi V, Singh JP, Bera MK, Kundu AK, Pal DK (June 2016). "Genitourinary Fistula: An Indian Perspective". Journal of Obstetrics and Gynaecology of India. 66 (3): 180–4. doi:10.1007/s13224-015-0672-2. PMC 4870662. PMID 27298528.
  190. ↑ Raassen TJ, Ngongo CJ, Mahendeka MM (December 2014). "Iatrogenic genitourinary fistula: an 18-year retrospective review of 805 injuries". International Urogynecology Journal (dalam bahasa Inggris). 25 (12): 1699–706. doi:10.1007/s00192-014-2445-3. PMC 4234894. PMID 25062654.
  191. ↑ Maslekar S, Sagar PM, Harji D, Bruce C, Griffiths B (December 2012). "The challenge of pouch-vaginal fistulas: a systematic review". Techniques in Coloproctology. 16 (6): 405–14. doi:10.1007/s10151-012-0885-7. PMID 22956207. S2CID 22813363.
  192. ↑ Fernández Fernández JÁ, Parodi Hueck L (September 2015). "Congenital recto-vaginal fistula associated with a normal anus (type H fistula) and rectal atresia in a patient. Report of a case and a brief review of the literature". Investigacion Clinica. 56 (3): 301–7. PMID 26710545.
  193. ↑ Tenggardjaja CF, Goldman HB (June 2013). "Advances in minimally invasive repair of vesicovaginal fistulas". Current Urology Reports (dalam bahasa Inggris). 14 (3): 253–61. doi:10.1007/s11934-013-0316-y. PMID 23475747. S2CID 27012043.
  194. ↑ Cronin B, Sung V, Matteson K (April 2012). "Vaginal cuff dehiscence: Risk factors and management". American Journal of Obstetrics and Gynecology. 206 (4): 284–288. doi:10.1016/j.ajog.2011.08.026. ISSN 0002-9378. PMC 3319233. PMID 21974989.
  195. 1 2 3 4 Lallar M, Nandal R, Sharma D, Shastri S (January 20, 2015). "Large posterior vaginal cyst in pregnancy". BMJ Case Reports. 2015: bcr2014208874. doi:10.1136/bcr-2014-208874. ISSN 1757-790X. PMC 4307045. PMID 25604504.
  196. ↑ "Vaginal cysts: MedlinePlus Medical Encyclopedia". medlineplus.gov (dalam bahasa Inggris). Diarsipkan dari versi aslinya tanggal November 2, 2020. Diakses tanggal February 17, 2018.
  197. ↑ Elsayes KM, Narra VR, Dillman JR, Velcheti V, Hameed O, Tongdee R, Menias CO (October 2007). "Vaginal masses: magnetic resonance imaging features with pathologic correlation". Acta Radiologica . 48 (8): 921–933. doi:10.1080/02841850701552926. ISSN 1600-0455. PMID 17924224. S2CID 31444644.
  198. ↑ Ostrzenski A (2002). Gynecology: Integrating Conventional, Complementary, and Natural Alternative Therapy (dalam bahasa Inggris). Lippincott Williams & Wilkins. ISBN 978-0-7817-2761-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal October 19, 2020.
  199. ↑ Hoogendam JP, Smink M (April 6, 2017). "Gartner's Duct Cyst". New England Journal of Medicine. 376 (14): e27. doi:10.1056/NEJMicm1609983. PMID 28379795.
  200. ↑ Nucci MR, Oliva E (January 1, 2009). Gynecologic Pathology (dalam bahasa Inggris). Elsevier Health Sciences. hlm. 96. ISBN 978-0-443-06920-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal October 19, 2020.
  201. ↑ Robboy SJ (2009). Robboy's Pathology of the Female Reproductive Tract. Elsevier Health Sciences. hlm. 117. ISBN 978-0-443-07477-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal March 8, 2018.
  202. ↑ Marx J, Walls R, Hockberger R (2013). Rosen's Emergency Medicine - Concepts and Clinical Practice. Elsevier Health Sciences. hlm. 1314. ISBN 978-1-4557-4987-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 15, 2015. Diakses tanggal February 24, 2015.
  203. 1 2 3 Cash JC, Glass CA (2017). Sternberg's Diagnostic Surgical Pathology, Volume 1. Springer Publishing Company. hlm. 425. ISBN 978-0-8261-5351-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal February 15, 2018.
  204. ↑ Sternberg SS, Mills SE, Carter D (2004). Sternberg's Diagnostic Surgical Pathology, Volume 1. Lippincott Williams & Wilkins. hlm. 2335. ISBN 978-0-7817-4051-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal February 15, 2018.
  205. ↑ Stone L (2002). New Directions in Anthropological Kinship. Rowman & Littlefield. hlm. 164. ISBN 978-0-585-38424-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 26, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  206. 1 2 Hutcherson H (2003). What Your Mother Never Told You about Sex. Penguin. hlm. 8. ISBN 978-0-399-52853-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  207. ↑ LaFont S (2003). Constructing Sexualities: Readings in Sexuality, Gender, and Culture. Prentice Hall. hlm. 145. ISBN 978-0-13-009661-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal August 20, 2020.
  208. ↑ Buss DM, Meston CM (2009). Why Women Have Sex: Understanding Sexual Motivations from Adventure to Revenge (and Everything in Between). Macmillan. hlm. 33. ISBN 978-1-4299-5522-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 26, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  209. 1 2 Blackledge C (2003). The Story of V: A Natural History of Female Sexuality. Rutgers University Press. hlm. 4–5. ISBN 978-0-8135-3455-8.
  210. ↑ Rosenthal MS (2003). Gynecological Health: a Comprehensive Sourcebook for Canadian Women. Viking Canada. hlm. 10. ISBN 978-0-670-04358-3. The urine flows from the bladder through the urethra to the outside. Little girls often make the common mistake of thinking that they're urinating out of their vaginas. A woman's urethra is two inches long, while a man's is ten inches long.
  211. 1 2 Hickling M (2005). The New Speaking of Sex: What Your Children Need to Know and When They Need to Know It. Wood Lake Publishing. hlm. 149. ISBN 978-1-896836-70-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 29, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  212. ↑ Rankin L (2011). Sex, Orgasm, and Coochies: A Gynecologist Answers Your Most Embarrassing Questions. Macmillan. hlm. 22. ISBN 978-1-4299-5522-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  213. ↑ Linn D (2009). Secret Language of Signs. Random House Publishing Group. hlm. 276. ISBN 978-0-307-55955-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  214. ↑ Laqueur TW (1992). Making Sex: Body and Gender from the Greeks to Freud. Harvard University Press. hlm. 236. ISBN 978-0-674-54355-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 7, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  215. ↑ Zastrow C (2007). Introduction to Social Work and Social Welfare: Empowering People. Cengage Learning. hlm. 228. ISBN 978-0-495-09510-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 23, 2020. Diakses tanggal October 27, 2015.
  216. ↑ Irvine JM (2005). Disorders of Desire: Sexuality and Gender in Modern American Sexology. Temple University Press. hlm. 37–38. ISBN 978-1-59213-151-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 29, 2016. Diakses tanggal August 20, 2020.
  217. ↑ Gould SJ (2002). The Structure of Evolutionary Theory. Harvard University Press. hlm. 1262–1263. ISBN 978-0-674-00613-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 27, 2016. Diakses tanggal August 20, 2020.
  218. ↑ Wignaraja P, Hussain A (1989). The Challenge in South Asia: Development, Democracy and Regional Cooperation. United Nations University Press. hlm. 309. ISBN 978-0-8039-9603-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 7, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  219. ↑ Lochtefeld, James G. (2001). The Illustrated Encyclopedia of Hinduism, Volume 2. The Rosen Publishing Group. hlm. 784. ISBN 978-0-8239-3180-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 2, 2019. Diakses tanggal September 13, 2021.
  220. ↑ Angier N (1999). Woman: An Intimate Geography. Houghton Mifflin Harcourt. hlm. 92. ISBN 978-0-395-69130-4.
  221. 1 2 Maines RP (1998). The Technology of Orgasm: "Hysteria", the Vibrator, and Women's Sexual Satisfaction. Baltimore: The Johns Hopkins University Press. hlm. 1–188. ISBN 978-0-8018-6646-3. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal December 12, 2017.
  222. 1 2 Hughes G (2015). An Encyclopedia of Swearing: The Social History of Oaths, Profanity, Foul Language, and Ethnic Slurs in the English-speaking World. Routledge. hlm. 112. ISBN 978-1-317-47678-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal December 12, 2017.
  223. ↑ "cunt". Compact Oxford English Dictionary of Current English (Edisi 3rd (revised)). Oxford: Oxford University Press. 2008.
  224. ↑ "Definition of CUNT". Dictionary – Merriam-Webster online. Merriam-Webster. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal October 22, 2012. Diakses tanggal June 9, 2014.
  225. ↑ "cunt". Merriam-Webster's Learner's Dictionary. Merriam-Webster. Diarsipkan dari asli tanggal March 23, 2013. Diakses tanggal September 13, 2013.
  226. ↑ Johnston H, Klandermans B (1995). Social Movements and Culture. Routledge. hlm. 174. ISBN 978-1-85728-500-0.
  227. ↑ "Twat". Dictionary.com. 2015. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 23, 2017. Diakses tanggal June 16, 2015. This source aggregates material from paper dictionaries, including Random House Dictionary, Collins English Dictionary, and Harper's Online Etymology Dictionary.
  228. ↑ "Definition of twat in English". Oxford Dictionaries. Oxford University Press. British and World English lexicon. Diarsipkan dari asli tanggal June 4, 2015. Diakses tanggal June 16, 2015.
  229. ↑ 2</sup>"},"dictionary":{"wt":"Oxford English Dictionary"},"edition":{"wt":"3rd"},"publisher":{"wt":"Oxford University Press"},"location":{"wt":"Oxford"}},"i":0}}]}' id="mwGTM"/>"pussy, n. and adj.2". Oxford English Dictionary (Edisi 3rd). Oxford: Oxford University Press. 2007.
  230. ↑ James D (Winter 1998). "Gender-linked derogatory terms and their use by women and men". American Speech. 73 (4): 399–420. doi:10.2307/455584. JSTOR 455584.
  231. 1 2 Randolph V, Legman G (1992). Unprintable Ozark Folksongs and Folklore: Blow the candle out. University of Arkansas Press. hlm. 819–820. ISBN 978-1-55728-237-8. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal August 20, 2020.
  232. ↑ Zizek S (2004). Organs without bodies: Deleuze and consequences. Routledge. hlm. 173. ISBN 978-0-415-96921-5. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal August 20, 2020.
  233. ↑ Rankin L (2010). What's Up Down There?: Questions You'd Only Ask Your Gynecologist If She Was Your Best Friend. St. Martin's Press. hlm. 59. ISBN 978-0-312-64436-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal August 20, 2020.
  234. ↑ "Life & Work". nikidesaintphalle.org. 2017. Diarsipkan dari asli tanggal November 4, 2016. Diakses tanggal November 8, 2014.
  235. ↑ Ensler E (2001). The Vagina Monologues: The V-Day Edition. Random House LLC. ISBN 978-0-375-50658-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal August 20, 2020.
  236. ↑ Coleman C (2006). Coming to Read "The Vagina Monologues": A Biomythographical Unravelling of the Narrative. University of New Brunswick. ISBN 978-0-494-46655-1.
  237. ↑ Knox D, Schacht C (2007). Choices in Relationships: Introduction to Marriage and the Family. Cengage Learning. hlm. 60–61. ISBN 978-0-495-09185-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 4, 2018.
  238. 1 2 3 Banyard K (2010). The Equality Illusion: The Truth about Women and Men Today. Faber & Faber. hlm. 41. ISBN 978-0-571-25866-6.
  239. 1 2 3 Crooks R, Baur K (2010). Our Sexuality. Cengage Learning. hlm. 55–56. ISBN 978-0-495-81294-4. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  240. 1 2 3 4 5 6 7 8 "Female genital mutilation". Media centre. World Health Organization. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 2, 2011. Diakses tanggal August 22, 2012.
  241. 1 2 3 4 5 Momoh C (2005). "Female Genital Mutation". Dalam Momoh C (ed.). Female Genital Mutilation. Radcliffe Publishing. hlm. 5–12. ISBN 978-1-85775-693-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal June 13, 2013. Diakses tanggal October 27, 2015.
  242. ↑ Linzey, Donald W. (2020). Vertebrate Biology: Systematics, Taxonomy, Natural History, and Conservation. Johns Hopkins University Press. hlm. 306. ISBN 978-1-42143-733-0. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 22 January 2024. Diakses tanggal 3 December 2024.
  243. ↑ Tyndale-Biscoe, C. Hugh (2005). Life of Marsupials (dalam bahasa Inggris). Csiro Publishing. ISBN 978-0-643-06257-3.
  244. ↑ Hugh Tyndale-Biscoe; Marilyn Renfree (January 30, 1987). Reproductive Physiology of Marsupials. Cambridge University Press. ISBN 978-0-521-33792-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal February 15, 2017. Diakses tanggal August 18, 2018.
  245. ↑ Szykman M, Van Horn RC, Engh AL, Boydston EE, Holekamp KE (2007). "Courtship and mating in free-living spotted hyenas" (PDF). Behaviour. 144 (7): 815–846. Bibcode:2007Behav.144..815S. CiteSeerX 10.1.1.630.5755. doi:10.1163/156853907781476418. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal November 30, 2012. Diakses tanggal April 24, 2014.
  246. ↑ Bekoff M, Diamond J (May 1976). "Precopulatory and Copulatory Behavior in Coyotes". Journal of Mammalogy. 57 (2): 372–375. doi:10.2307/1379696. JSTOR 1379696.
  247. ↑ Perrin, William F.; Würsig, Bernd; Thewissen, J. G. M. (2009-02-26). Encyclopedia of Marine Mammals (dalam bahasa Inggris). Academic Press. ISBN 978-0-08-091993-5.
  248. ↑ Würsig, Bernd; Orbach, Dara N. (2023-09-25). Sex in Cetaceans: Morphology, Behavior, and the Evolution of Sexual Strategies (dalam bahasa Inggris). Springer Nature. ISBN 978-3-031-35651-3.
  249. ↑ Iannaccone P (1997). Biological Aspects of Disease. CRC Press. hlm. 315–316. ISBN 978-3-7186-0613-9. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  250. 1 2 Fishbeck DW, Sebastiani A (2012). Comparative Anatomy: Manual of Vertebrate Dissection. Morton Publishing Company. hlm. 66–68. ISBN 978-1-61731-004-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal April 24, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  251. ↑ Chapman RF, Simpson SJ, Douglas AE (2013). The Insects: Structure and Function. Cambridge University Press. hlm. 314–316. ISBN 978-0-521-11389-2. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal May 6, 2016. Diakses tanggal October 27, 2015.
  252. ↑ "What Is a Bird's Cloaca?". The Spruce. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 13, 2018. Diakses tanggal January 13, 2018.
  253. ↑ Brennan, P. L. R., Clark, C. J. & Prum, R. O. Explosive eversion and functional morphology of the duck penis supports sexual conflict in waterfowl genitalia. Proceedings: Biological Sciences 277, 1309–14 (2010).
  254. 1 2 3 Yong E (May 6, 2014). "Where's All The Animal Vagina Research?". National Geographic Society. Diarsipkan dari asli tanggal July 7, 2018. Diakses tanggal June 6, 2018.
  255. ↑ Cooper D (May 7, 2014). "Female genitalia shunned by researchers". ABC Online. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal January 11, 2019. Diakses tanggal June 6, 2018.
  256. 1 2 3 4 Sarmento B (2015). Vitro Culture Models. Woodhead Publishing. hlm. 296. ISBN 978-0-08-100114-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal January 14, 2018.
  257. ↑ Burton FD (1995). The Multimedia Guide to the Non-human Primates: Print Version. Prentice Hall Canada. hlm. 290. ISBN 978-0-13-209727-7. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal March 10, 2021. Diakses tanggal June 5, 2018.
  258. ↑ Martin R (2013). How We Do It: The Evolution and Future of Human Reproduction. Basic Books. hlm. 27. ISBN 978-0-465-03015-6. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 3, 2019. Diakses tanggal June 5, 2018.
  259. ↑ Kumar B, Gupta S (2014). Sexually Transmitted Infections - E-book. Elsevier Health Sciences. hlm. 1286. ISBN 978-81-312-2978-1. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal July 4, 2019. Diakses tanggal January 14, 2018.

Pranala luar

  • Vagina, Anatomical Atlases, an Anatomical Digital Library (2018)
  • Media terkait Vaginas di Wikimedia Commons
  • Definisi kamus vagina di Wikikamus
  • l
  • b
  • s
Sistem reproduksi perempuan
Internal
Adneksa
Ovarium
Folikel
  • Korpus
    • Hemoragikum
    • Luteum
    • Albikans
  • Teka
    • Eksterna
    • Interna
  • Antrum folikel
    • Cairan folikel
  • Korona radiata
  • Zona pelusida
  • Membrana granulosa
  • Ruang perivitelin
Lainnya
  • Epitel germinal
  • Tunika albuginea
  • Korteks
    • Kumulus ooforus
    • Stroma
  • Medula
  • Rete ovarii
Oogenesis
  • Oogonium
  • Oositogenesis
  • Oosit
  • Ootidogenesis
  • Ootid
  • Ovum
Tuba Falopi
  • Istmus
  • Ampula
  • Infundibulum
  • Fimbria
  • Ostium
  • Segmen intramural
Ligamen
  • Ligamen ovarium
  • Ligamen suspensorium ovarium
    • Pleksus pampiniformis
Sisa-sisa Wolffian
  • Duktus Gartner
  • Epooforon
    • Apendiks vesikular
  • Parooforon
Uterus (Rahim)
Wilayah
  • Badan
    • Rongga rahim
    • Fundus
  • Istmus rahim
  • Leher rahim (Serviks)
    • Kanalis
    • Os internal
    • Os eksternal
    • Bagian supravaginal serviks
  • Kornu rahim
Lapisan
  • Dinding rahim
    • Endometrium
    • Miometrium
    • Perimetrium
  • Parametrium
  • Epitel rahim
Ligamen
  • Ligamen bundar rahim
  • Ligamen lebar rahim
  • Ligamen kardinal
  • Ligamen uterosakral
  • Ligamen puboservikal
Umum
  • Kelenjar rahim
  • Diafragma urogenital
Kelenjar vestibular
  • Kelenjar Bartholin
  • Kelenjar Skene
Vagina
  • Kanalis
    • Rugae vagina
    • Dinding
    • Forniks vagina
  • Struktur penyangga vagina
  • Epitel vagina
Eksternal
Vulva
Labia
  • Mons pubis
  • Labia mayor
    • Celah pudendal
    • Lipatan labiokrural
    • Komisura anterior
    • Komisura posterior
    • Dartos muliebris
    • Saraf labial posterior
    • Saraf labial anterior
    • Saraf perineal
  • Labia minora
    • Frenulum
  • Arteri labial posterior
  • Vena labial posterior
  • Sulkus interlabial
Klitoris
  • Akar
    • Krura
    • Bulbus
    • Ligamen suspensorium klitoris
    • Ligamen fundiformis
  • Badan klitoris
    • Korpus kavernosum klitoris
    • Trabekula korpus kavernosum
    • Bagian spons residual infra-korporeal
    • Sudut
  • Komisura bulbus
  • Pars intermedia
  • Glans klitoris
    • Korona
    • Frenulum
  • Arteri
    • Arteri dorsal
    • Arteri dalam
    • Arteri bulbus
    • Arteri pudendal internal
  • Vena
    • Vena dorsal superfisial
    • Vena dorsal dalam
    • Vena bulbus
    • Vena pudendal internal
  • Saraf
    • Saraf dorsal
    • Saraf pudendal
  • Tudung klitoris
  • Fasia
  • Tunika albuginea
  • Septum
Vestibulum
  • Fosa
  • Orifisium vagina
    • Himen (Selaput dara)
  • Muara kelenjar vestibular
  • Uretra
    • Orifisium uretra eksternal
Suplai darah
  • Arteri
    • Arteri ovarium
    • Arteri rahim
    • Arteri arkuata
    • Arteri vagina
    • Arteri spiral
  • Vena
    • Vena ovarium
    • Vena rahim
    • Pleksus vena rahim
    • Pleksus vena vagina
Lainnya
  • Titik G
  • Spons uretra
  • Spons perineal
  • Kantung rektouterina
  • Kantung vesikouterina
  • Pertemuan uterotuba
  • l
  • b
  • s
Kesehatan wanita
Kesehatan
reproduksi
Saluran
reproduksi
  • Genitalia eksternal wanita (vulva)
    • Klitoris
      • Tudung klitoris
    • Labia minor
    • Labia mayor
  • Vagina
  • Leher rahim (serviks)
  • Uterus (rahim)
  • Tuba falopi
  • Ovarium
  • Penyakit sistem reproduksi
Kesehatan
ibu & anak
Kehamilan
  • Kehamilan tidak direncanakan
  • Graviditas dan paritas
  • Obstetri
  • Asuhan antenatal
  • Kehamilan remaja
  • Komplikasi kehamilan
    • Hiperemesis gravidarum
    • Kehamilan ektopik
    • Keguguran
    • Perdarahan obstetri
    • Diabetes gestasional
    • Hipertensi
      • Preeklamsia
      • Eklamsia
Persalinan
  • Kebidanan
  • Persalinan prematur
  • Kelahiran ganda
  • Oksitosin
  • Persalinan macet
  • Bedah sesar
  • Retensio plasenta
  • Fistula obstetri
    • Fistula vesikovaginal
    • Fistula rektovaginal
  • Episiotomi
    • Jahitan suami
  • Asuhan pascapersalinan
  • Masa nifas
  • Kematian ibu
  • Mortalitas perinatal
  • Lahir mati
  • Aborsi
  • Penularan dari ibu ke anak
  • Sterilisasi
    • Sterilisasi paksa
  • Menyusui dan kesehatan mental
Rencana
hidup reproduksi
  • Infertilitas
    • Ketiadaan anak
    • Teknologi reproduksi berbantuan
    • Fertilisasi in vitro
  • Pengasuhan anak
    • Adopsi
    • Anak asuh
Kontrasepsi dan
Keluarga berencana
  • Alat kontrasepsi dalam rahim
  • Kontrasepsi oral
  • Kondom
  • Kontrasepsi pria
  • Prevalensi kontrasepsi
  • Keamanan kontrasepsi
  • Planned Parenthood
  • Kesadaran fertilitas
Menstruasi
  • Budaya dan menstruasi
  • Kebersihan kewanitaan
  • Menarke
  • Siklus menstruasi
  • Alat bantu menstruasi
    • Pembalut kain
    • Cangkir menstruasi
    • Tampon
    • Pembalut wanita
  • Dismenore
  • Menoragia
  • Amenore
  • Menopause
    • Terapi penggantian hormon
Kesehatan
seksual
Infeksi menular
seksual
  • Seks aman
  • HIV
  • Human papillomavirus
    • Vaksin HPV
  • Penyakit radang panggul
  • Mutilasi alat kelamin perempuan
    • Klitoridektomi
    • Infibulasi
  • Pengikatan payudara
  • Kesehatan payudara
  • Penyetrikaan payudara
  • Pernikahan anak
  • Dispareunia
  • Pernikahan paksa
  • Gangguan ginekologis
    • Vaginitis
  • Leblouh
  • Poligami
  • Hubungan seksual
  • Orgasme
  • Pubertas
  • Perbedaan seks
  • Pendidikan seks
Kesehatan
non-reproduksi
Kekerasan
terhadap perempuan
  • Kekerasan saat persalinan
  • Kekerasan dalam rumah tangga
    • Kehamilan
  • Kekerasan oleh pasangan intim
  • Misogini
  • Pelecehan seksual
  • Serangan seksual
    • Pemerkosaan
  • Femisida
  • Diskriminasi gender
Penyakit tidak
menular
Kanker
  • Kanker paru-paru
  • Kanker payudara
  • Kanker rahim
    • Kanker endometrium
    • Kanker serviks
      • Tes Papanicolaou
  • Kanker ovarium
  • Penyakit kardiovaskular
  • Demensia
    • Penyakit Alzheimer
  • Kesehatan tulang
    • Osteoporosis
      • Patah tulang pinggul
  • Anemia
  • Kesehatan mental
    • Kecemasan
    • Depresi
      • Gangguan depresi mayor
  • Saluran kemih
    • Uretra
    • Infeksi saluran kemih
    • Inkontinensia urin
Faktor
sosiokultural
  • Kemiskinan
  • Kurang mampu
  • Kesetaraan gender
  • Ketimpangan layanan kesehatan
  • Disparitas gender dalam kesehatan
  • Determinan sosial kesehatan
  • Keadilan reproduksi
  • Pemberdayaan perempuan
Politik, penelitian
dan advokasi
Perserikatan Bangsa-Bangsa
  • Konvensi mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita
  • Deklarasi Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan
  • Hari Anak Perempuan Internasional
  • Komisi Status Wanita
  • UN Women
Amerika Serikat
  • Office of Research on Women's Health
  • Women's Health Initiative
  • International Center for Research on Women
  • Nurses' Health Study
  • Black Women's Health Study
  • Inkuiri Cartwright
  • Society for Women's Health Research
Kesehatan wanita
menurut negara
  • Tiongkok
  • Etiopia
  • India
    • Keluarga berencana
  • Rusia
  • Pengendalian kelahiran di Amerika Serikat
  • CategoryKategori
  • Commons pageCommons
  • WikiProjectWikiProject
  • l
  • b
  • s
Garis besar seksualitas manusia
Fisiologi dan biologi
  • Ereksi
  • Inseminasi
  • Interseks
  • Libido
  • Mimpi basah
  • Orgasme
    • Ejakulasi laki-laki dan Ejakulasi perempuan
  • Dorongan panggul
  • Cairan praejakulasi
  • Pembuahan
  • Kehamilan
  • Rangsangan seksual
Kesehatan dan
pendidikan
  • Kontrol kelahiran
  • Kondom
  • Pengobatan reproduksi
    • Andrologi
    • Ginekologi
    • Urologi
  • Seks aman
  • Pendidikan seksual
  • Terapi seks
  • Pengganti seksual
  • Disfungsi seksual
    • Fetis seksual
    • Disfungsi ereksi
    • Hiperseksualitas
    • Hiposeksualitas
  • Penyakit menular seksual
  • Pengobatan seksual
Identitas dan keragaman
  • Gender biner
  • Identitas gender
  • Identitas seksual
  • Orientasi seksual
  • Pria yang berhubungan seks dengan pria
  • Wanita yang berhubungan seks dengan wanita
Hukum
  • Inses
  • Kecabulan
  • Kejahatan penularan HIV
  • Ketidaksenonohan publik
  • Pelecehan seksual
    • Kekerasan seksual
    • Pelanggaran seksual
    • Pemerkosaan
    • Penyerangan seksual
  • Usia dewasa
Sejarah
  • Kama Sutra
  • Kontrabudaya pada 1960-an
  • Perang seks feminis
  • Revolusi seksual
  • Sejarah penggambaran erotik
Hubungan
dan masyarakat
  • Anarkisme cinta/seks
  • Dayatarik seksual
  • Etika seksual
  • Kecanduan seksual
  • Keluarga berencana
  • Modal seksual
  • Objektifikasi seksual
  • Parafilia
  • Perkawinan
  • Poliamori
  • Puasa seksual
  • Romansa
  • Seks bebas
  • Seks di luar nikah
  • Seks pranikah
Berdasarkan negara
  • Amerika Serikat (remaja)
  • China
  • Filipina
  • India
  • Jepang
  • Korea Selatan
  • Romawi Kuno
Aktivitas seksual
  • Autofellatio
  • Seks anal
  • Bareback
  • BDSM
  • Seks anak
    • Pelecehan seksual atas anak
    • Pelecehan seksual antar anak
  • Ejakulasi di dalam
  • Main jari
  • Fisting
  • Seks kelompok
  • Masturbasi
  • mekanisme seks
  • Seks non-penetratif
    • Facial
    • Fetisisme kaki
    • Footjob
    • Frot
    • Handjob
    • Hubungan seks payudara
    • Peting berat
    • Sumata
  • Seks oral
    • Anilingus
    • Cunnilingus
    • Fellatio
    • Irumatio
  • Perangsangan puting
  • Fetis seks
  • Kendali orgasme
  • Seks kilat
  • Posisi seks
  • BDSM
  • Urolagnia
  • Koprofilia
  • Emetofilia
  • Parafilia
  • Pompoir
  • Pelecehan seksual
    • Perkosaan
    • Kekerasan seksual
  • Fantasi seksual
  • Hubungan seksual
    • Pemanasan
  • Penetrasi seksual
  • Sublimasi seksual
  • Tribadisme
  • Seks virtual
    • Seks cyber
    • Perbincangan erotis
  • Kontes kaus basah
  • Zoofilia
  • Glory hole
Industri seks
  • Video game dewasa
  • Pariwisata seks
    • Anak-anak
    • Perempuan
  • Erotika
  • Pornografi
    • Aktor film
  • Prostitusi
    • Seks kelangsungan hidup
  • Museum seks
  • Toko seks
  • Mainan seks
    • boneka
  • Klub tari telanjang
Agama dan seksualitas
  • Islam
  • Demonologi Kristen
  • Mormonisme
  • Taoism
  • Seks magis
  • Seksualitas manusia
  • Portal:Seksualitas
  • Seksologi
  • Slang seksual
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • GND
  • FAST
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Prancis
  • Data BnF
  • Republik Ceko
  • Spanyol
  • Polandia
  • Israel
Lain-lain
  • Terminologia Anatomica
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Etimologi dan definisi
  2. Struktur
  3. Anatomi makroskopis
  4. Perkembangan
  5. Mikroanatomi
  6. Pasokan darah dan saraf
  7. Fungsi
  8. Sekresi
  9. Stimulasi seksual
  10. Persalinan
  11. Mikrobiota vagina
  12. Signifikansi klinis
  13. Pemeriksaan panggul
  14. Pengobatan
  15. Infeksi, penyakit, dan seks aman
  16. Efek penuaan dan persalinan

Artikel Terkait

Alat kelamin

bagian dari sistem reproduksi

Tindik kelamin

tindikan pada bagian alat kelamin

Pemotongan kelamin perempuan

Ritual pemotongan atau penghilangan sebagian atau seluruh alat kelamin luar perempuan

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026