Ereksi adalah sebuah fenomena fisiologis di mana penis menjadi keras, membengkak, dan membesar. Ereksi penis merupakan hasil dari interaksi kompleks faktor-faktor psikologis, saraf, pembuluh darah, dan endokrin, serta sering kali dikaitkan dengan gairah seksual, daya tarik seksual, atau libido, meskipun ereksi juga dapat terjadi secara spontan. Bentuk, sudut, dan arah ereksi sangat bervariasi antarindividu.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia
| Ereksi | |
|---|---|
Ereksi pada pria yang belum disunat | |
Tiga kolom jaringan erektil menyusun sebagian besar volume penis. | |
| Pengidentifikasi | |
| MeSH | D010410 |
| TE | E1.0.0.0.0.0.8 |
| Daftar istilah anatomi | |
| Pembuluh darah ereksi | |
|---|---|
| Pengidentifikasi | |
| MeSH | D010410 |
| TE | E1.0.0.0.0.0.8 |
| Daftar istilah anatomi | |
Ereksi (secara klinis: ereksi penis atau tumesensi penis) adalah sebuah fenomena fisiologis di mana penis menjadi keras, membengkak, dan membesar. Ereksi penis merupakan hasil dari interaksi kompleks faktor-faktor psikologis, saraf, pembuluh darah, dan endokrin, serta sering kali dikaitkan dengan gairah seksual, daya tarik seksual, atau libido, meskipun ereksi juga dapat terjadi secara spontan. Bentuk, sudut, dan arah ereksi sangat bervariasi antarindividu.
Secara fisiologis, ereksi diperlukan bagi pria untuk melakukan penetrasi atau hubungan seksual dan dipicu oleh divisi parasimpatis dari sistem saraf otonom, yang menyebabkan kadar nitrat oksida (sebuah vasodilator) meningkat pada arteri trabekular dan otot polos penis. Arteri-arteri tersebut berdilatasi sehingga menyebabkan korpus kavernosum penis (dan pada tingkat yang lebih rendah korpus spongiosum) terisi dengan darah; secara bersamaan otot iskiokavernosus dan bulbospongiosus menekan vena korpus kavernosum sehingga membatasi keluarnya dan sirkulasi darah tersebut. Ereksi mereda ketika aktivitas parasimpatis menurun ke tingkat dasar.
Sebagai respons sistem saraf otonom, ereksi dapat terjadi akibat berbagai stimulus, termasuk stimulasi seksual dan gairah seksual, dan oleh karena itu tidak sepenuhnya berada di bawah kendali sadar. Ereksi saat tidur atau saat bangun tidur dikenal sebagai tumesensi penis nokturnal (NPT), yang juga dikenal sebagai "morning wood" (ereksi pagi). Ketiadaan ereksi nokturnal umumnya digunakan untuk membedakan antara penyebab fisik dan psikologis dari disfungsi ereksi dan impotensi.
Kondisi penis yang ereksi sebagian, namun tidak penuh, terkadang dikenal sebagai semi-ereksi (secara klinis: tumesensi parsial); penis yang tidak ereksi biasanya disebut sebagai flaksid, atau lemas.
Ereksi diperlukan untuk inseminasi alami maupun untuk pengambilan sperma pada inseminasi buatan, dan merupakan hal yang wajar terjadi pada anak-anak serta bayi. Setelah mencapai masa pubertas, ereksi terjadi jauh lebih sering.[1][2] Ereksi terjadi ketika dua struktur tubular, yang disebut korpus kavernosum, yang membentang di sepanjang penis, membengkak karena dipenuhi darah vena. Hal ini dapat diakibatkan oleh berbagai stimulus fisiologis, yang juga dikenal sebagai stimulasi seksual dan gairah seksual. Korpus spongiosum adalah struktur tubular tunggal yang terletak tepat di bawah korpus kavernosum, yang berisi uretra, saluran tempat urin dan air mani (semen) lewat masing-masing selama buang air kecil dan ejakulasi. Struktur ini juga dapat sedikit membengkak dengan darah, tetapi tidak sebesar korpus kavernosum.
Pada beberapa kasus, skrotum menjadi kencang selama ereksi. Pada sebagian besar pria dewasa yang belum disunat, kulup secara otomatis dan bertahap tertarik ke belakang melalui berbagai tahap ereksi, sehingga mengekspos glans (kepala penis), meskipun beberapa individu perlu menarik kulup mereka secara manual. Bayi dan anak-anak kecil sering kali tidak dapat menarik kulup mereka karena masih menyatu dengan glans dan akibatnya ereksi tidak menghasilkan penarikan kulup.[3]
Dengan adanya stimulasi mekanis, ereksi diinisiasi oleh divisi parasimpatis dari sistem saraf otonom dengan sedikit masukan dari sistem saraf pusat. Cabang-cabang parasimpatis membentang dari pleksus sakralis ke dalam arteri yang memasok jaringan erektil; setelah distimulasi, cabang-cabang saraf ini melepaskan asetilkolin, yang pada gilirannya menyebabkan pelepasan nitrat oksida dari sel endotel di arteri trabekular.[4] Nitrat oksida berdifusi ke otot polos arteri (yang disebut otot polos trabekular[5]), bertindak sebagai agen vasodilator.[6] Arteri-arteri tersebut berdilatasi, mengisi korpus spongiosum dan korpus kavernosum dengan darah. Otot iskiokavernosus dan bulbospongiosus juga menekan vena-vena pada korpus kavernosum, membatasi drainase darah vena.[7] Ereksi mereda ketika stimulasi parasimpatis dihentikan; stimulasi dasar dari divisi simpatis pada sistem saraf otonom menyebabkan konstriksi arteri penis dan sinusoid kavernosal, memaksa darah keluar dari jaringan erektil melalui vena-vena terkait ereksi yang meliputi satu vena dorsal dalam, sepasang vena kavernosal, dan dua pasang vena para-arterial di antara fasia Buck dan tunika albuginea.[8][9] Kekerasan ereksi dikendalikan secara mekanis melalui pengurangan aliran darah yang melewati vena-vena ini, dan dengan demikian membangun tekanan pada korpus kavernosum dan korpus spongiosum, sementara sebuah struktur integral, yakni ligamen distal, menopang glans penis.[10]
Setelah ejakulasi atau terhentinya stimulasi, ereksi biasanya mereda, tetapi waktu yang dibutuhkan dapat bervariasi tergantung pada panjang dan ketebalan penis.[11]
Korteks serebral dapat menginisiasi ereksi tanpa adanya stimulasi mekanis langsung (sebagai respons terhadap rangsangan visual, pendengaran, penciuman, imajinasi, atau sentuhan) yang bekerja melalui pusat erektil di wilayah lumbal dan sakral pada sumsum tulang belakang.[12] Korteks tersebut juga dapat menekan ereksi, bahkan ketika terdapat stimulasi mekanis, seperti halnya faktor psikologis, emosional, dan lingkungan lainnya.[13]
Penis dapat menjadi ereksi saat tidur atau ereksi saat bangun. Ereksi semacam itu secara medis dikenal sebagai tumesensi penis nokturnal (secara informal: morning wood atau morning glory).[14][15][16][17]
Meskipun ereksi dapat memiliki banyak penyebab, hal ini paling sering dilihat sebagai indikator gairah seksual dan oleh karena itu dianggap tabu atau tidak pantas untuk ranah publik di banyak lingkungan masyarakat. Tabu ini tidak seketat tabu seputar seks di tempat umum tetapi lebih ketat daripada tabu mengenai ketelanjangan. Disfungsi ereksi sering dianggap sebagai sebuah kecacatan, yang menimbulkan rasa malu pada individu yang mengalaminya.
Pletismograf penis, yang mengukur ereksi, telah digunakan oleh beberapa pemerintah dan pengadilan untuk mengukur orientasi seksual. Keengganan atau ketidaksukaan yang tidak wajar terhadap penis yang ereksi terkadang disebut sebagai falofobia.
Ereksi spontan, yang juga dikenal sebagai ereksi tak sadar, acak, atau tidak diinginkan, adalah hal yang lumrah dan merupakan bagian normal dari fisiologi pria. Secara sosial, ereksi semacam ini bisa memalukan jika terjadi di tempat umum atau ketika tidak diinginkan.[1] Ereksi ini dapat terjadi kapan saja sepanjang hari, dan jika berpakaian dapat menyebabkan tonjolan yang (jika diperlukan) dapat disamarkan atau disembunyikan dengan mengenakan pakaian dalam yang pas, kemeja panjang, atau pakaian yang lebih longgar.[18]
Panjang penis yang flaksid (lemas) tidak menjadi indikator panjang penis ketika ereksi, di mana beberapa penis flaksid yang lebih kecil dapat memanjang secara signifikan, dan beberapa penis flaksid yang lebih besar bertambah panjang secara relatif lebih sedikit.[19] Secara umum, ukuran penis ereksi bersifat tetap di sepanjang kehidupan pasca-pubertas. Ukurannya dapat diperbesar melalui pembedahan.[20]
Meskipun ukuran penis sangat bervariasi antar pria, panjang rata-rata penis manusia yang ereksi adalah 13,12 cm (5,17 inci), sedangkan rata-rata keliling penis manusia yang ereksi adalah 11,66 cm (4,59 inci).[21]
Meskipun banyak penis ereksi yang mengarah ke atas, merupakan hal yang umum dan normal jika penis ereksi mengarah hampir vertikal ke atas atau lurus horizontal ke depan atau bahkan hampir vertikal ke bawah, semuanya bergantung pada ketegangan ligamen suspensorium yang menahannya pada posisinya. Penis yang ereksi juga dapat memiliki sejumlah bentuk yang berbeda, mulai dari tabung lurus hingga tabung dengan lengkungan ke atas atau ke bawah atau ke kiri atau ke kanan. Peningkatan kelengkungan penis dapat disebabkan oleh penyakit Peyronie. Hal ini dapat menyebabkan efek fisik dan psikologis bagi individu yang terkena, yang dapat meliputi disfungsi ereksi atau nyeri selama ereksi. Perawatannya meliputi pengobatan atau pembedahan, yang mana pembedahan paling sering dilakukan hanya sebagai upaya terakhir. Tabel berikut menunjukkan seberapa umum berbagai sudut ereksi pada pria yang sedang berdiri. Dalam tabel ini, nol derajat (0°) berarti mengarah lurus ke atas menempel pada perut, 90° berarti horizontal dan mengarah lurus ke depan, dan 180° berarti mengarah lurus ke bawah ke arah kaki. Sudut yang mengarah ke atas adalah yang paling umum dan sudut ereksi rata-rata adalah 74,3 derajat. Kelengkungan penis diukur pada waktu yang bersamaan. 63% pria memiliki penis yang lurus. 22,2% pria memiliki lengkungan ke atas dan 14,8% pria memiliki lengkungan ke bawah.[22]
| Sudut (°) | Persentase populasi |
|---|---|
| 0–30 | 4,9 |
| 30–60 | 29,6 |
| 60–85 | 30,9 |
| 85–95 | 9,9 |
| 95–120 | 19,8 |
| 120–180 | 4,9 |
Disfungsi ereksi (juga dikenal sebagai DE atau "impotensi (pria)") adalah sebuah disfungsi seksual yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk mencapai dan/atau mempertahankan ereksi.[23][24] Studi tentang disfungsi ereksi dalam ilmu kedokteran dikenal sebagai andrologi, sebuah subbidang dalam urologi.[25]
Disfungsi ereksi dapat terjadi karena alasan fisiologis atau psikologis, yang sebagian besar dapat diobati. Alasan fisiologis yang umum meliputi diabetes, penyakit ginjal, alkoholisme kronis, sklerosis ganda, aterosklerosis, penyakit pembuluh darah, termasuk insufisiensi arteri dan disfungsi ereksi venogenik,[26] dan penyakit neurologis yang secara kolektif menyumbang sekitar 70% dari kasus DE.[6] Beberapa obat yang digunakan untuk merawat kondisi lain, seperti litium dan paroksetin, dapat menyebabkan disfungsi ereksi.[24][27]
Disfungsi ereksi, yang terkait erat dengan gagasan budaya mengenai potensi, kesuksesan, dan maskulinitas, dapat memiliki konsekuensi psikologis yang menghancurkan termasuk perasaan malu, kehilangan, atau ketidakmampuan.[28] Terdapat budaya kebisuan yang kuat dan ketidakmampuan untuk mendiskusikan masalah ini. Sekitar satu dari sepuluh pria mengalami masalah impotensi berulang pada suatu saat dalam kehidupan mereka.[29]
Priapismus adalah kondisi menyakitkan di mana penis tidak kembali ke keadaan flaksidnya (lemas), terlepas dari ketiadaan stimulasi fisik dan psikologis. Priapismus yang berlangsung lebih dari empat jam merupakan suatu kegawatdaruratan medis.
Sindrom hard flaccid adalah kondisi kronis yang langka, ditandai dengan penis yang tidak sedang ereksi (flaksid) namun tetap dalam keadaan kencang, semi-kaku, atau semi-ereksi tanpa adanya gairah seksual.

Pada saat penetrasi, penis anjing tidak dalam keadaan ereksi, dan hanya mampu berpenetrasi ke betina karena memiliki tulang sempit yang disebut bakulum, sebuah ciri khas sebagian besar mamalia berplasenta. Setelah pejantan berhasil melakukan penetrasi, ia sering kali akan memegang betina lebih erat dan mendorong lebih cepat, dan pada saat inilah penis pejantan membesar, tidak seperti hubungan seksual manusia, di mana penis pria umumnya menjadi ereksi sebelum memasuki wanita.[30]
Penis gajah berbentuk huruf S ketika ereksi penuh dan memiliki orifisium (lubang bukaan) berbentuk huruf Y.[31]
Mengingat sedikitnya jaringan erektil pada penis sapi jantan, hanya terdapat sedikit pembesaran setelah ereksi. Penis ini cukup kaku ketika tidak ereksi, dan menjadi lebih kaku lagi selama ereksi. Penonjolan penis tidak banyak dipengaruhi oleh ereksi, melainkan lebih disebabkan oleh relaksasi otot retraktor penis dan pelurusan fleksura sigmoid.[32][33]
Penis fosa jantan memanjang hingga di antara kaki depannya saat ereksi.[34]
Ketika tidak ereksi, penis kuda tersimpan di dalam prepusium, dengan panjang 50 sentimeter (20 in) dan diameter 25 hingga 6 sentimeter (9,8 hingga 2,4 in) serta bagian ujung distal berukuran 15 hingga 20 sentimeter (5,9 hingga 7,9 in). Otot retraktor berkontraksi untuk menarik penis ke dalam selubung dan berelaksasi agar penis dapat menjulur keluar dari selubungnya.[35] Saat ereksi, panjang[36] dan ketebalan penis berlipat ganda, dan glans (kepala penis) membesar 3 hingga 4 kali lipat.[35] Ereksi dan penonjolan terjadi secara bertahap, melalui peningkatan tumesensi jaringan vaskular erektil pada korpus kavernosum penis.[37][38] Sebagian besar kuda jantan mencapai ereksi dalam waktu 2 menit setelah kontak dengan kuda betina yang sedang estrus, dan menunggangi betina tersebut 5–10 detik kemudian.[39]
Struktur penis burung berbeda dengan penis mamalia, yaitu berupa perluasan erektil dari dinding kloaka dan mengalami ereksi karena cairan getah bening (limfa), bukan darah.[40] Penis itik danau dapat mencapai panjang yang hampir sama dengan tubuh hewan itu sendiri saat ereksi penuh, tetapi umumnya hanya sekitar setengah dari panjang burung tersebut.[41][42]
Secara klinis, ereksi sering kali dikenal sebagai "ereksi penis", dan keadaan saat ereksi, serta proses ereksi, dideskripsikan sebagai "tumesensi" atau "tumesensi penis". Istilah untuk mereda atau berhentinya ereksi adalah "detumesensi" (pengempisan).
Secara kolokial (percakapan sehari-hari) dan dalam bahasa slang (gaul), ereksi dikenal dengan banyak istilah informal. Istilah bahasa Inggris yang umum dijumpai meliputi 'stiffy', 'hard-on', 'boner', dan 'woody'.[43] Terdapat beberapa kata slang, eufemisme, dan sinonim untuk ereksi dalam bahasa Inggris maupun bahasa-bahasa lainnya. (Lihat selengkapnya di entri Tesaurus Wiktionary.)
the incidence of non-retractable physiological phimosis was 50% in grade 1 boys and decreased to 35% in grade 4 and 8% in grade 7 boys