Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia

Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia mencakup baik penggunaan yang bersifat praktis, seperti untuk pangan, pakaian, dan obat-obatan maupun yang bersifat simbolis, seperti dalam seni, mitologi, dan kesusastraan. Bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan secara kolektif dikenal sebagai produk tumbuhan.

kategori Wikimedia
Diperbarui 12 April 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia
Anggur yang sedang diinjak untuk mengekstrak sari buah dan diolah menjadi anggur dalam kendi penyimpanan. Makam Nakht, Dinasti ke-18 Mesir, Thebes, Mesir Kuno

Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia mencakup baik penggunaan yang bersifat praktis, seperti untuk pangan, pakaian, dan obat-obatan maupun yang bersifat simbolis, seperti dalam seni, mitologi, dan kesusastraan. Bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan secara kolektif dikenal sebagai produk tumbuhan.

Tumbuhan pangan telah lama menjadi sumber gizi bagi manusia, dan ketersediaan makanan yang dapat diandalkan melalui pertanian dan hortikultura menjadi dasar lahirnya peradaban sejak Revolusi Neolitik. Tumbuhan obat merupakan, dan hingga kini tetap menjadi, bahan utama dalam banyak praktik pengobatan tradisional, sekaligus berfungsi sebagai bahan baku bagi sejumlah farmasi modern. Kajian mengenai pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat adat disebut etnobotani, sedangkan botani ekonomi berfokus pada tumbuhan yang dibudidayakan dalam konteks modern. Tumbuhan juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk berbagai produk industri, termasuk kayu, kertas, dan tekstil, serta beragam senyawa kimia lainnya.

Tumbuhan hias memberikan kesenangan bagi jutaan orang melalui kegiatan berkebun, dan florikultura menjadi kegiatan rekreasi yang digemari banyak kalangan. Vitikultura dan pembuatan anggur memberikan nilai kuliner sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat. Dalam seni, mitologi, agama, kesusastraan, dan film, tumbuhan memainkan peran penting dengan melambangkan tema-tema seperti kesuburan, pertumbuhan, kemurnian, serta kelahiran kembali. Dalam arsitektur dan seni dekoratif, tumbuhan menjadi sumber inspirasi bagi banyak motif, seperti arabesque Islam dan bentuk akantus yang diukir pada kepala kolom Korintus klasik.

Konteks

Kebudayaan mencakup perilaku sosial dan norma yang terdapat dalam masyarakat manusia dan diwariskan melalui pembelajaran sosial. Kehidupan budaya universal dalam semua masyarakat manusia mencakup bentuk-bentuk ekspresif seperti seni, musik, tari, ritual, agama, serta teknologi seperti penggunaan alat, memasak, tempat tinggal, dan pakaian. Konsep kebudayaan material meliputi ekspresi fisik seperti teknologi, arsitektur, dan seni, sedangkan kebudayaan nonmaterial mencakup prinsip-prinsip organisasi sosial, mitologi, filsafat, kesusastraan, dan ilmu pengetahuan.[1] Artikel ini menggambarkan beragam peran yang dimainkan oleh tumbuhan dalam kebudayaan manusia.[2]

Kegunaan praktis

Sebagai pangan

Artikel utama: Sejarah pertanian dan Pertanian
Panen gandum hitam

Manusia sangat bergantung pada tumbuhan sebagai sumber pangan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui hewan ternak yang diberi pakan nabati. Pertanian berhubungan dengan produksi tanaman pangan dan telah memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban dunia. Bidang ini mencakup agronomi untuk tanaman lahan subur, hortikultura untuk sayuran dan buah-buahan, serta kehutanan untuk kayu.[3]

Sekitar 7.000 spesies tumbuhan telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan, meskipun sebagian besar kebutuhan pangan dunia modern kini bergantung hanya pada sekitar 30 spesies utama. Tanaman pokok terpenting mencakup serealia seperti padi dan gandum, umbi-umbian bertepung seperti singkong dan kentang, serta kacang-kacangan seperti kacang polong dan kacang buncis. Minyak nabati seperti minyak zaitun menjadi sumber lemak, sementara buah dan sayuran memberikan asupan vitamin serta mineral yang penting bagi kesehatan.[4]

Dalam industri

Artikel utama: Tanaman industri
Kayu

Tumbuhan yang dibudidayakan sebagai tanaman industri menjadi sumber bagi berbagai produk manufaktur, sering kali dimanfaatkan secara intensif hingga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.[5] Produk nonpangan yang dihasilkan mencakup minyak atsiri, pewarna alami, pigmen, lilin, getah, tanin, alkaloid, ambar, dan gabus. Beragam bahan turunan tumbuhan digunakan dalam pembuatan sabun, sampo, parfum, kosmetik, cat, pernis, terpentin, karet, lateks, pelumas, linoleum, plastik, tinta, dan getah alami. Sumber energi terbarukan dari tumbuhan meliputi kayu bakar, gambut, dan berbagai jenis bahan bakar hayati.[6][7]

Bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam berasal dari sisa-sisa organisme perairan purba, termasuk fitoplankton, yang terakumulasi selama waktu geologis.[8]

Bahan bangunan dan serat dari tumbuhan digunakan untuk membuat tempat tinggal dan memproduksi pakaian. Kayu tidak hanya dipakai dalam pembangunan gedung, perahu, dan furnitur, tetapi juga untuk benda-benda kecil seperti alat musik, perkakas tangan, serta perlengkapan olahraga. Kayu diolah menjadi bubur kertas untuk pembuatan kertas dan karton.[9] Kain umumnya dibuat dari kapas, flaks, rami, atau dari serat sintetis seperti rayon dan asetat yang berasal dari selulosa tumbuhan. Benang untuk menjahit kain pun sebagian besar bersumber dari kapas.[10]

Tumbuhan juga merupakan sumber utama berbagai senyawa kimia dasar, baik karena pengaruh fisiologis dan obat-nya, maupun karena peranannya dalam sintesis industri berbagai senyawa organik.[11]

Dalam bidang kedokteran

Artikel utama: Tumbuhan obat dan Herbalisme
Seorang tabib tengah menyiapkan eliksir, dari versi Arab farmakope Dioscorides, tahun 1224

Ratusan jenis obat modern berasal dari tumbuhan, baik yang digunakan dalam herbalisme tradisional[12][13] maupun yang dihasilkan dari senyawa kimia yang dimurnikan dari tumbuhan, atau pertama kali diidentifikasi dari tumbuhan melalui penelitian etnobotani, lalu disintesis secara organik untuk digunakan dalam pengobatan modern.

Beragam obat modern yang berasal dari tumbuhan antara lain aspirin, taksol, morfin, kina, reserpin, kolkisin, digitalis, dan vincristine. Tumbuhan yang umum digunakan dalam herbalisme mencakup ginkgo, echinacea, feverfew, dan St. John's wort.

Karya besar Dioscorides, yakni De Materia Medica, merupakan sebuah farmakope yang menggambarkan sekitar 600 jenis tumbuhan obat. Naskah tersebut disusun antara tahun 50 hingga 70 Masehi, dan tetap digunakan secara luas di Eropa serta Timur Tengah hingga sekitar tahun 1600 M. Karya ini menjadi pendahulu bagi seluruh farmakope modern yang dikenal saat ini.[14][15][16]

Dalam kegiatan berkebun

Artikel utama: Berkebun
Lihat pula: Pariwisata taman
Taman putih di Sissinghurst

Ribuan spesies tumbuhan dibudidayakan untuk tujuan estetika, selain juga untuk memberikan keteduhan, menstabilkan suhu, mengurangi hembusan angin, meredam kebisingan, menjaga privasi, serta mencegah erosi tanah. Tumbuhan menjadi dasar bagi industri pariwisata bernilai miliaran dolar setiap tahunnya, yang mencakup perjalanan menuju taman-taman bersejarah, taman nasional, hutan hujan, hutan dengan dedaunan musim gugur yang berwarna-warni, serta festival-festival bunga seperti festival bunga sakura di Jepang[17] dan festival bunga sakura di Amerika Serikat.[18]

Selain itu, terdapat pula bentuk seni yang berfokus pada tata susun tumbuhan hidup atau potongan tanaman, seperti bonsai, ikebana, serta seni merangkai bunga segar maupun bunga kering. Tumbuhan hias bahkan pernah mengubah jalannya sejarah manusia, seperti yang terjadi pada peristiwa tulipomania di Eropa pada abad ke-17.[19]

Untuk bahan kimia

Pestisida yang berasal dari tumbuhan mencakup senyawa-senyawa seperti nikotin, rotenon, striknin, dan piretroid.[20] Beberapa tumbuhan seperti tembakau, ganja, opium, dan koka menghasilkan zat kimia psikotropika yang berpengaruh pada sistem saraf manusia.[21]

Selain itu, banyak pula racun nabati yang dikenal luas, seperti atropin, risin, racun cemara (hemlock), dan kurare. Menariknya, sebagian besar senyawa beracun tersebut juga dimanfaatkan dalam pengobatan modern, menunjukkan bahwa batas antara racun dan obat sering kali bergantung pada dosis dan cara penggunaannya.[22]

Dalam ilmu pengetahuan

Barbara McClintock (1902–1992), seorang pelopor sitogenetika yang meneliti mekanisme pewarisan sifat menggunakan jagung
Informasi lebih lanjut: Organisme model

Penelitian biologi dasar kerap dilakukan dengan menggunakan tumbuhan sebagai objek kajian. Dalam bidang genetika, percobaan persilangan tanaman kacang polong oleh Gregor Mendel menghasilkan penemuan hukum-hukum dasar pewarisan sifat.[23] Sementara itu, pengamatan terhadap kromosom pada tanaman jagung memungkinkan Barbara McClintock membuktikan hubungan langsung antara kromosom dan karakter yang diwariskan.[24]

Tanaman Arabidopsis thaliana digunakan secara luas di laboratorium sebagai organisme model untuk memahami bagaimana gen mengatur pertumbuhan dan perkembangan struktur tumbuhan.[25] NASA bahkan memprediksi bahwa stasiun luar angkasa dan koloni manusia di angkasa pada masa depan akan bergantung pada tumbuhan sebagai bagian dari Sistem Pendukung Kehidupan Ekologis Terkendali (Controlled Ecological Life Support System).[26]

Kemajuan ilmiah di bidang rekayasa genetika telah menghasilkan perkembangan besar dalam dunia pertanian. Tanaman hasil rekayasa genetika memungkinkan pengenalan sifat-sifat baru yang sebelumnya tidak dimiliki secara alami oleh tumbuhan. Inovasi ini membawa berbagai manfaat, di antaranya mengurangi penggunaan pestisida berbahaya dengan menanamkan sifat-sifat seperti ketahanan terhadap serangga dan toleransi terhadap herbisida.[27]

Struktur hidup

Dua jembatan akar hidup di negara bagian Meghalaya, India
Informasi lebih lanjut: Jembatan akar hidup dan Penanaman pagar

Kemampuan alami pohon untuk melakukan transplantasi atau penyambungan jaringan secara alami kerap dimanfaatkan dalam praktik pembentukan pohon (tree shaping) untuk menciptakan struktur hidup yang menakjubkan, seperti jembatan akar hidup yang ditemukan di negara bagian Meghalaya dan Nagaland di India, serta di pulau-pulau Sumatra dan Jawa di Indonesia.

Akar-akar udara dari pohon ara karet, Ficus elastica, diarahkan dan dilatih untuk membentuk jembatan gantung alami yang melintasi sungai-sungai pegunungan yang deras.[28][29][30][31][32]

Struktur-struktur ini tumbuh dan menguat seiring waktu, menjadi contoh luar biasa dari harmoni antara manusia dan alam, di mana pengetahuan tradisional dan pertumbuhan organik berpadu untuk menciptakan karya arsitektur hidup yang fungsional sekaligus memesona.

Penggunaan simbolik

Dalam seni

Informasi lebih lanjut: Ilustrasi botanis
Ilustrasi botani Dimorphorchis lowii karya Walter Hood Fitch, 1864

Tumbuhan kerap muncul dalam karya seni, baik untuk menggambarkan bentuk botani mereka secara ilmiah,[33] maupun sebagai elemen artistik yang sarat makna simbolis atau dekoratif, sering kali bernuansa religius. Misalnya, Perawan Maria dibandingkan oleh Venerable Bede dengan bunga bakung putih, kelopak putihnya melambangkan kemurnian tubuh, sementara benangsarinya yang kuning menandakan cahaya rohani yang memancar dari jiwanya. Oleh sebab itu, dalam banyak lukisan Kabar Sukacita di Eropa, vas berisi bunga bakung putih sering tampak di dalam kamar Maria, sebagai lambang dari kesuciannya. Tumbuhan juga kerap hadir sebagai latar atau unsur pendukung dalam potret, bahkan menjadi subjek utama dalam karya benda mati.[34][35]

Kapitèl kolom Mesir kuno yang diukir menyerupai tanaman papirus. Luxor, Mesir

Motif tumbuhan juga menjadi sumber inspirasi dalam arsitektur. Di Mesir Kuno, kapitel kolom sering diukir menyerupai teratai putih Mesir atau papirus.[36] Demikian pula, kolom Yunani Kuno bergaya Korintus dihiasi dengan ukiran daun akantus.[37] Dalam seni Islam, motif tumbuhan digunakan secara luas pada berbagai media, termasuk kapitel kolom. Rancangan ini berkembang semakin rumit dan bergaya abstrak, menampilkan arabesque dan motif geometris yang indah pada karya seperti Karpet Ardabil dan ubin bintang keramik Persia berpola sepuluh sisi. Keindahan tersebut kemudian memengaruhi seni dekoratif di dunia Barat, tampak dalam gaya Rokoko hingga gerakan Arts and Crafts.[38][39][40]

Dalam sastra dan film

Film The Day of the Triffids (1962) yang diadaptasi dari novel fiksi ilmiah karya John Wyndham tahun 1951, The Day of the Triffids, menampilkan tumbuhan yang agresif dan tampak cerdas.
Informasi lebih lanjut: Daftar tumbuhan fiktif

Baik tumbuhan nyata maupun rekaan telah memainkan beragam peran dalam sastra dan film.[41] Peran tumbuhan dalam karya-karya tersebut bisa bersifat jahat, sebagaimana yang digambarkan dalam kisah tentang para triffids, tumbuhan karnivor dengan sengatan beracun seperti cambuk serta kemampuan bergerak melalui tiga organ menyerupai kaki, dalam novel fiksi ilmiah The Day of the Triffids karya John Wyndham (1951), beserta berbagai adaptasinya dalam film dan drama radio.[42]

Dalam dunia Middle-earth ciptaan J. R. R. Tolkien, terdapat banyak jenis tumbuhan yang dinamai dan memiliki makna tertentu, seperti herba penyembuh athelas,[43] bunga berbentuk bintang berwarna kuning elanor yang tumbuh di tempat-tempat istimewa seperti Cerin Amroth di Lothlórien,[44] serta pohon mallorn yang tinggi menjulang, pohon kebanggaan kaum peri.[45] Tolkien juga menamai sejumlah pohon penting dalam kisahnya, seperti Party Tree di Shire yang melambangkan keceriaan,[45] dan Old Man Willow,[46] pohon jahat yang bersemayam di Hutan Tua.[47]

Pohon juga menjadi unsur yang sangat menonjol dalam karya-karya Ursula K. Le Guin, misalnya dunia hutan Athshe dan Immanent Grove[48] di pulau Roke dalam seri Earthsea. Dalam pengantar kumpulan ceritanya, The Wind’s Twelve Quarters, Le Guin bahkan mengakui memiliki "obsesi tertentu terhadap pohon" dan menyebut dirinya sebagai "penulis fiksi ilmiah yang paling arboreal".[49]

Dalam film Avatar yang disutradarai James Cameron (2009), terdapat pohon raksasa bernama Hometree, tempat suci bagi suku humanoid Naʼvi. Pohon tersebut, beserta suku dan planet tempat mereka tinggal, terancam oleh kegiatan pertambangan; kisah film berpusat pada perjuangan suku itu dan sang tokoh utama untuk menyelamatkan mereka.[50]

Pohon juga menjadi subjek yang kerap muncul dalam dunia puisi, seperti dalam karya liris klasik tahun 1913 karya Joyce Kilmer berjudul "Trees".[51][52] Demikian pula, bunga sering dijadikan sumber inspirasi oleh para penyair seperti William Blake, Robert Frost, dan Rabindranath Tagore,[53] yang menjadikan keindahan alam sebagai bahasa simbolis untuk menggambarkan cinta, kefanaan, dan keagungan ciptaan.

Dalam mitologi dan agama

Informasi lebih lanjut: Pohon dalam mitologi
Pohon Ash Yggdrasil, Pohon Dunia dalam Mitologi Nordik, dilukis oleh Friedrich Wilhelm Heine, 1886

Tumbuhan menempati posisi penting dalam mitologi dan agama, di mana mereka melambangkan gagasan-gagasan seperti kesuburan, pertumbuhan, keabadian, dan kelahiran kembali, serta kerap kali diselimuti kekuatan gaib.[54][55] Dalam mitologi Latvia, misalnya, terdapat pohon kosmis Austras koks yang tumbuh di ufuk tempat Matahari memulai perjalanan hariannya melintasi langit.[56][57]

Pohon kosmis lainnya adalah Yggdrasil, pohon dunia dalam Mitologi Nordik, tempat Odin menggantungkan dirinya dalam pencarian akan kebijaksanaan dan rahasia alam semesta.[58][59] Berbeda lagi dengan mitos Eropa abad pertengahan tentang pohon teritip, yang konon menghasilkan teritip angsa dari kerang-kerang yang menempel pada batangnya, kisah yang mungkin berakar dari pengamatan terhadap teritip angsa yang tumbuh pada kayu apung di laut.[60][61]

Mitologi Yunani kaya akan kisah tumbuhan dan bunga.[62] Salah satu contohnya ialah pohon teratai, yang buahnya menyebabkan rasa kantuk dan kebahagiaan mendalam bagi siapa pun yang memakannya,[63] serta herba ajaib moly yang disebutkan oleh Homer dalam Odyssey, berakar hitam dan berbunga putih, diyakini dapat menolak sihir jahat.[64]

Tumbuhan mandrake dikenal bersifat halusinogen dan memiliki akar yang menyerupai bentuk manusia. Karena itu, ia telah lama digunakan dalam praktik sihir dan masih dipakai hingga kini dalam tradisi pagan modern seperti Wicca dan Odinisme.[65] Demikian pula, tumbuhan Tabernanthe iboga digunakan di Gabon dalam upacara inisiasi oleh perkumpulan rahasia sebagai zat halusinogen yang membuka kesadaran spiritual.[66]

Tumbuhan-tumbuhan magis juga muncul dalam mitologi Serbia, misalnya raskovnik, tanaman legendaris yang diyakini dapat membuka kunci apa pun.[67][68][69]

Dalam simbolisme Buddha, dua tumbuhan memiliki makna mendalam: teratai dan Pohon Bodhi. Teratai termasuk dalam Ashtamangala, delapan lambang keberuntungan yang juga dijumpai dalam Buddhisme, Jainisme, dan Hinduisme. Ia melambangkan kemurnian asal mula dari tubuh, ucapan, dan pikiran, yang tetap bersih walau tumbuh di atas lumpur keterikatan dan nafsu duniawi.[70] Adapun Pohon Bodhi, pohon ara suci, dipercaya sebagai tempat di mana Sang Buddha mencapai pencerahan. Nama tersebut kemudian diberikan pula kepada pohon-pohon lain yang diyakini merupakan keturunan atau penanaman dari pohon Bodhi asli.[71]

Dalam bidang kecantikan dan busana

Selama ribuan tahun, manusia telah mengenakan bunga sebagai hiasan, misalnya diselipkan di rambut, berperan sebagai bentuk komunikasi nonverbal.[72] Dalam peradaban Yunani Kuno dan Romawi Kuno, orang-orang mengenakan mahkota bunga, karangan, serta rangkaian bunga dalam berbagai perayaan,[73] kadang dihiasi dengan bunga buatan.[74]

Dari abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20, perdagangan bunga buatan untuk hiasan topi berkembang pesat di Paris. Perusahaan seperti Maison Légeron memasok bunga-bunga tersebut bagi industri fesyen.[74] Sejak dekade 1920-an, perancang busana Prancis Coco Chanel memasukkan bunga buatan, terutama kamélia, ke dalam rancangan busananya, sering kali dibuat dari kain yang sama dengan pakaian itu sendiri.[74] Di Italia pada tahun 1920-an, para pria kerap mengenakan boutonnière, yakni rangkaian bunga kecil yang disematkan pada lubang kancing jas; menurut pakar fesyen Alessandra Vaccari, kebiasaan ini merupakan pernyataan simbolis mengenai identitas dan ekspresi maskulinitas mereka.[75]

  • Lukisan dinding Romawi yang menggambarkan seorang perempuan mengenakan karangan bunga zaitun, dari Herculaneum
    Lukisan dinding Romawi yang menggambarkan seorang perempuan mengenakan karangan bunga zaitun, dari Herculaneum
  • Rombongan pernikahan di Australia, tahun 1930-an. Para pria mengenakan bunga pada jas, sementara para wanita mengenakan karangan bunga dan membawa buket.
    Rombongan pernikahan di Australia, tahun 1930-an. Para pria mengenakan bunga pada jas, sementara para wanita mengenakan karangan bunga dan membawa buket.
  • Seorang perempuan mengenakan mahkota bunga pada festival Kastil Himeji
    Seorang perempuan mengenakan mahkota bunga pada festival Kastil Himeji

Lihat pula

  • Lambang bunga
  • Epithet tumbuhan

Referensi

  1. ↑ Macionis, John J.; Gerber, Linda Marie (2011). Sociology. Pearson Prentice Hall. hlm. 53. ISBN 978-0137001613. OCLC 652430995.
  2. ↑ Shoemaker, Candice A. (1994-08-02). "Plants and Human Culture". Journal of Home & Consumer Horticulture. 1 (2–3): 3–7. doi:10.1300/j280v01n02_02.
  3. ↑ "The Development of Agriculture". National Geographic. 2016. Diakses tanggal 20 June 2016.
  4. ↑ "Food and drink". Kew Gardens. Diarsipkan dari asli tanggal 28 March 2014. Diakses tanggal 1 October 2017.
  5. ↑ "Industrial Crop Production". Grace Communications Foundation. 2016. Diakses tanggal 20 June 2016.
  6. ↑ "INDUSTRIAL CROPS AND PRODUCTS An International Journal". Elsevier. Diakses tanggal 20 June 2016.
  7. ↑ Cruz, Von Mark V.; Dierig, David A. (2014). Industrial Crops: Breeding for BioEnergy and Bioproducts. Springer. hlm. 9 and passim. ISBN 978-1-4939-1447-0.
  8. ↑ Sato, Motoaki (1990). Thermochemistry of the formation of fossil fuels (PDF). The Geochemical Society.
  9. ↑ Sixta, Herbert, ed. (2006). Handbook of pulp. Vol. 1. Winheim, Germany: Wiley-VCH. hlm. 9. ISBN 978-3-527-30997-9.
  10. ↑ "Natural fibres". Discover Natural Fibres. Diarsipkan dari asli tanggal 15 May 2019. Diakses tanggal 20 June 2016.
  11. ↑ "Chemicals from Plants". Cambridge University Botanic Garden. Diarsipkan dari asli tanggal 9 December 2017. Diakses tanggal 20 June 2016. Catatan: rincian setiap tumbuhan dan senyawa yang dihasilkannya dapat ditemukan pada subhalaman terkait.
  12. ↑ Tapsell, Linda C; Hemphill, Ian; Cobiac, Lynne; Sullivan, David R.; Fenech, Michael; Patch, Craig S.; Roodenrys, Steven; Keogh, Jennifer B.; Clifton, Peter M.; Williams, Peter G.; Fazio, Virginia A; Inge, Karen E. (2006). "Health benefits of herbs and spices: the past, the present, the future". Medical Journal of Australia. 185 (S4). doi:10.5694/j.1326-5377.2006.tb00548.x.
  13. ↑ Lai, P.K.; Roy, J. (June 2004). "Antimicrobial and chemopreventive properties of herbs and spices". Current Medicinal Chemistry. 11 (11): 1451–1460. PMID 15180577.
  14. ↑ "Greek Medicine". National Institutes of Health, USA. 16 September 2002. Diakses tanggal 22 May 2014.
  15. ↑ Hefferon, Kathleen (2012). Let Thy Food Be Thy Medicine. Oxford University Press. hlm. 46. ISBN 9780199873982.
  16. ↑ Rooney, Anne (2009). The Story of Medicine. Arcturus Publishing. hlm. 143. ISBN 9781848580398.
  17. ↑ Sosnoski, Daniel (1996). Introduction to Japanese culture. Tuttle. hlm. 12. ISBN 978-0-8048-2056-1. hanami
  18. ↑ "History of the Cherry Blossom Trees and Festival". National Cherry Blossom Festival: About. National Cherry Blossom Festival. Diarsipkan dari asli tanggal 14 March 2016. Diakses tanggal 22 March 2016.
  19. ↑ Lambert, Tim (2014). "A Brief History of Gardening". British Broadcasting Corporation. Diakses tanggal 21 June 2016.
  20. ↑ Duke, S.O. (1990). Janick, J.; Simon, J.E. (ed.). "Natural pesticides from plants". Advances in New Crops: 511–517.
  21. ↑ "Psychoactive Substances: A Guide to Ethnobotanical Plants and Herbs, Synthetic Chemicals, Compounds and Products" (PDF). Health Service Executive, Ireland. Diakses tanggal 20 June 2016.
  22. ↑ Long, Scott. "Natural Products -- Plants". South West Oklahoma State University. Diarsipkan dari asli tanggal 28 February 2014. Diakses tanggal 20 June 2016.
  23. ↑ Blumberg, Roger B. "Mendel's Paper in English".
  24. ↑ "BARBARA McCLINTOCK:A Brief Biographical Sketch". WebCite. Diarsipkan dari asli tanggal 27 September 2011. Diakses tanggal 21 June 2016.
  25. ↑ "About Arabidopsis". TAIR. Diakses tanggal 21 June 2016.
  26. ↑ "Engineering Life". NASA. Diarsipkan dari asli tanggal 2 April 2010. Diakses tanggal 21 June 2016.
  27. ↑ Wolfenbarger, L. L.; Phifer, P. R. (2000-12-15). "The Ecological Risks and Benefits of Genetically Engineered Plants". Science. 290 (5499): 2088–2093. Bibcode:2000Sci...290.2088W. doi:10.1126/science.290.5499.2088. PMID 11118136. S2CID 2094394.
  28. ↑ Lewin, Brent (November 2012). "India's living Bridges". Reader's Digest Australia. hlm. 82–89. Diarsipkan dari asli tanggal 16 November 2012.
  29. ↑ "Living Root Bridge in Laitkynsew India". www.india9.com. Diakses tanggal 22 February 2010.
  30. ↑ "Living Root Bridges of Nagaland India – Nyahnyu Village Mon District | Guy Shachar". guyshachar.com. 16 April 2016. Diakses tanggal 7 September 2017.
  31. ↑ "Baduy Tribe". Ruby Mangunsong. 13 December 2015. Diakses tanggal 7 September 2017.
  32. ↑ Grundhauser, Eric. "West Sumatra, Indonesia Jembatan Akar". Atlasobscura.
  33. ↑ Antheunisse, Max (2009). "About". Plant Illustrations. Diakses tanggal 20 June 2016.
  34. ↑ "Botanical Imagery in European Painting". Metropolitan Museum of Art. Diakses tanggal 19 June 2016.
  35. ↑ Raymond, Francine (12 March 2013). "Why botanical art is still blooming today". The Daily Telegraph. Diakses tanggal 19 June 2016.
  36. ↑ Wilkinson, Richard H. (2000). The Complete Temples of Ancient Egypt. Thames and Hudson. hlm. 65–66. ISBN 978-0-500-05100-9.
  37. ↑ Lewis, Philippa; Darley, Gillian (1986). Dictionary of Ornament. New York: Pantheon. hlm. not cited. ISBN 9780394509310.
  38. ↑ "Plant motifs in Islamic art". Victoria and Albert Museum. 2011-03-31. Diakses tanggal 19 June 2016.
  39. ↑ Macarthur, John (2013). The Picturesque: Architecture, Disgust and Other Irregularities. Routledge. hlm. 6. ISBN 978-1-134-95697-5.
  40. ↑ Kirkham, Pat; Weber, Susan (2013). History of Design: Decorative Arts and Material Culture, 1400–2000. Yale University Press. hlm. 201–. ISBN 978-0-300-19614-6.
  41. ↑ "Literary Plants". Nature Plants. 1 (11): 15181. 2015. doi:10.1038/nplants.2015.181. PMID 27251545.
  42. ↑ "},"access-date":{"wt":"19 June 2016"},"agency":{"wt":"The Daily Telegraph"},"url":{"wt":"https://www.telegraph.co.uk/gardening/.../Top-10-evil-plants-from-films.html"}},"i":0}}]}' id="mwBM4"/>"Top 10: evil plants from films". The Daily Telegraph. Diakses tanggal 19 June 2016.[pranala nonaktif]
  43. ↑ The Fellowship of the Ring, I 12 "Flight to the Ford".
  44. ↑ The Fellowship of the Ring, II 6 "Lothlórien".
  45. 1 2 The Return of the King, VI 9 "The Grey Havens".
  46. ↑ The Fellowship of the Ring, I 6 "The Old Forest".
  47. ↑ Hazell, Dinah (2007). The Plants of Middle-Earth: Botany and Sub-Creation. Kent State University Press. ISBN 978-0-87338-883-2.
  48. ↑ Le Guin, Ursula K. (2001). Tales from Earthsea. Harcourt. hlm. 59. ISBN 978-0-15-100561-1.
  49. ↑ Freedman, Carl Howard (2008). Conversations with Ursula K. Le Guin. University Press of Mississippi. hlm. 12–13. ISBN 978-1-60473-094-4.
  50. ↑ Cameron, James. "Avatar" (PDF). Avatar Screenings. Fox and its Related Entities. hlm. 25. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 May 2010. Diakses tanggal 9 February 2010.
  51. ↑ "Poetry". Spirit of Trees. Diakses tanggal 21 June 2016.
  52. ↑ "Tree Poems". Poem Hunter. Diakses tanggal 21 June 2016.
  53. ↑ "Flower Poems". Poem Hunter. Diakses tanggal 21 June 2016.
  54. ↑ "Plants in Mythology". Myth Encyclopedia. Diakses tanggal 20 June 2016.
  55. ↑ Leitten, Rebecca Rose. "Plant Myths and Legends". Cornell University Liberty Hyde Bailey Conservatory. Diakses tanggal 20 June 2016.
  56. ↑ Ķencis, Toms (2011). "The Latvian Mythological space in scholarly Time" (PDF). Archaeologia Baltica. 15 (15): 144–157. doi:10.15181/ab.v15i1.28. Diarsipkan dari asli (PDF) tanggal 25 March 2012. Diakses tanggal 21 August 2012.
  57. ↑ Vīķe-Freiberga, Vaira (2005). "Saule". Dalam Jones, Lindsay (ed.). Encyclopedia of Religion. Vol. 12 (Edisi 2nd). Thomson Gale. hlm. 8131–8135.
  58. ↑ [[Ursula Dronke|Dronke, Ursula (Trans.)]] (1997). The Poetic Edda: Volume II: Mythological Poems. Oxford University Press. hlm. 7. ISBN 978-0-19-811181-8.
  59. ↑ Davidson, Hilda Ellis (1993). The Lost Beliefs of Northern Europe. Routledge. hlm. 69. ISBN 978-0-203-40850-6.
  60. ↑ "Barnacle Goose". The Medieval Bestiary. Diakses tanggal 20 June 2016.
  61. ↑ Beatrice White (1945). "Whale-hunting, the barnacle goose, and the date of the "Ancrene Riwle". Three notes on Old and Middle English". The Modern Language Review. 40 (3): 205–207. doi:10.2307/3716844. JSTOR 3716844.
  62. ↑ "Flora 1: Plants of Greek Myth". Theoi. Diakses tanggal 20 June 2016.
  63. ↑ Brewer, Ebenezer Cobham. Lotus tree. hlm. 526.
  64. ↑  Chisholm, Hugh, ed. (1911). "Moly" . Encyclopædia Britannica. Vol. 18 (Edisi 11). Cambridge University Press. hlm. 681. ; cites: Homer, Odyssey, x. 302–306.
  65. ↑ John Gerard (1597). "Herball, Generall Historie of Plants". Claude Moore Health Sciences Library. Diarsipkan dari asli tanggal 2012-09-01. Diakses tanggal 2016-09-26.
  66. ↑ Pope, Harrison G. (1969-04-01). "Tabernanthe iboga: an African narcotic plant of social importance". Economic Botany (dalam bahasa Inggris). 23 (2): 174–184. doi:10.1007/BF02860623. ISSN 0013-0001. S2CID 34302143.
  67. ↑ Стойнев, Анани; Димитър Попов; Маргарита Василева; Рачко Попов (2006). "Костенурка". Българска митология. Енциклопедичен речник (dalam bahasa Bulgaria). изд. Захари Стоянов. hlm. 165. ISBN 978-954-739-682-1.
  68. ↑ Старева, Лилия (2007). Български магии и гадания (dalam bahasa Bulgaria). Труд. hlm. 243–244. ISBN 978-954-528-772-5.
  69. ↑ Раденковић, Љубинко (2000–2001). Расковник у кругу сличних биљака (dalam bahasa Serbia). Slavic Gate. Diarsipkan dari asli tanggal 25 June 2010. Diakses tanggal 24 August 2010.
  70. ↑ Anderson, E.N.; Pearsall, Deborah; Hunn, Eugene; Turner, Nancy (2012). Ethnobiology. John Wiley & Sons. hlm. 602. ISBN 978-1-118-01586-5.
  71. ↑ Gethin, Rupert (1998). The Foundations of Buddhism. Oxford University Press. hlm. 22. ISBN 978-0-19-289223-2.
  72. ↑ Stillman, JeriJayne W.; Hensley, Wayne E. (1980). "She wore a flower in her hair: The effect of ornamentation on nonverbal communication". Journal of Applied Communication Research. 8 (1): 31–39. doi:10.1080/00909888009360268. ISSN 0090-9882. Diakses tanggal 25 October 2025.
  73. ↑ Bowe, Patrick (2021). "Plant Adornments in Ancient Greece and Rome". Garden History. 49 (2): 253–260. JSTOR 27136990.
  74. 1 2 3 de la Haye, Amy. "Fashioning Flowers" (PDF). University of the Arts London. Diakses tanggal 25 October 2025.
  75. ↑ Vaccari, Alessandra (2023). "Wearing Flowers Art, Fashion and Masculinity in 1920s Italy". Advances in Fashion and Design Research. Cham: Springer International Publishing. hlm. 101–110. doi:10.1007/978-3-031-16773-7_9. ISBN 978-3-031-16772-0.

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Konteks
  2. Kegunaan praktis
  3. Sebagai pangan
  4. Dalam industri
  5. Dalam bidang kedokteran
  6. Dalam kegiatan berkebun
  7. Untuk bahan kimia
  8. Dalam ilmu pengetahuan
  9. Struktur hidup
  10. Penggunaan simbolik
  11. Dalam seni
  12. Dalam sastra dan film
  13. Dalam mitologi dan agama
  14. Dalam bidang kecantikan dan busana
  15. Lihat pula
  16. Referensi

Artikel Terkait

Wikimedia Foundation

organisasi amal asal Amerika Serikat

Pemblokiran Wikimedia di Indonesia

pembatasan domain auth.wikimedia.org di Indonesia

Wikimedia Bangladesh

Yayasan Wikimedia Bangladesh (lebih dikenal sebagai Wikimedia Bangladesh atau WikimediaBD) adalah sebuah yayasan terdaftar yang didirikan untuk mendukung

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026