Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia mencakup baik penggunaan yang bersifat praktis, seperti untuk pangan, pakaian, dan obat-obatan maupun yang bersifat simbolis, seperti dalam seni, mitologi, dan kesusastraan. Bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan secara kolektif dikenal sebagai produk tumbuhan.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Pemanfaatan tumbuhan oleh manusia mencakup baik penggunaan yang bersifat praktis, seperti untuk pangan, pakaian, dan obat-obatan maupun yang bersifat simbolis, seperti dalam seni, mitologi, dan kesusastraan. Bahan-bahan yang berasal dari tumbuhan secara kolektif dikenal sebagai produk tumbuhan.
Tumbuhan pangan telah lama menjadi sumber gizi bagi manusia, dan ketersediaan makanan yang dapat diandalkan melalui pertanian dan hortikultura menjadi dasar lahirnya peradaban sejak Revolusi Neolitik. Tumbuhan obat merupakan, dan hingga kini tetap menjadi, bahan utama dalam banyak praktik pengobatan tradisional, sekaligus berfungsi sebagai bahan baku bagi sejumlah farmasi modern. Kajian mengenai pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat adat disebut etnobotani, sedangkan botani ekonomi berfokus pada tumbuhan yang dibudidayakan dalam konteks modern. Tumbuhan juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar untuk berbagai produk industri, termasuk kayu, kertas, dan tekstil, serta beragam senyawa kimia lainnya.
Tumbuhan hias memberikan kesenangan bagi jutaan orang melalui kegiatan berkebun, dan florikultura menjadi kegiatan rekreasi yang digemari banyak kalangan. Vitikultura dan pembuatan anggur memberikan nilai kuliner sekaligus nilai ekonomi bagi masyarakat. Dalam seni, mitologi, agama, kesusastraan, dan film, tumbuhan memainkan peran penting dengan melambangkan tema-tema seperti kesuburan, pertumbuhan, kemurnian, serta kelahiran kembali. Dalam arsitektur dan seni dekoratif, tumbuhan menjadi sumber inspirasi bagi banyak motif, seperti arabesque Islam dan bentuk akantus yang diukir pada kepala kolom Korintus klasik.
Kebudayaan mencakup perilaku sosial dan norma yang terdapat dalam masyarakat manusia dan diwariskan melalui pembelajaran sosial. Kehidupan budaya universal dalam semua masyarakat manusia mencakup bentuk-bentuk ekspresif seperti seni, musik, tari, ritual, agama, serta teknologi seperti penggunaan alat, memasak, tempat tinggal, dan pakaian. Konsep kebudayaan material meliputi ekspresi fisik seperti teknologi, arsitektur, dan seni, sedangkan kebudayaan nonmaterial mencakup prinsip-prinsip organisasi sosial, mitologi, filsafat, kesusastraan, dan ilmu pengetahuan.[1] Artikel ini menggambarkan beragam peran yang dimainkan oleh tumbuhan dalam kebudayaan manusia.[2]

Manusia sangat bergantung pada tumbuhan sebagai sumber pangan, baik secara langsung maupun tidak langsung melalui hewan ternak yang diberi pakan nabati. Pertanian berhubungan dengan produksi tanaman pangan dan telah memainkan peranan penting dalam sejarah peradaban dunia. Bidang ini mencakup agronomi untuk tanaman lahan subur, hortikultura untuk sayuran dan buah-buahan, serta kehutanan untuk kayu.[3]
Sekitar 7.000 spesies tumbuhan telah dimanfaatkan sebagai bahan pangan, meskipun sebagian besar kebutuhan pangan dunia modern kini bergantung hanya pada sekitar 30 spesies utama. Tanaman pokok terpenting mencakup serealia seperti padi dan gandum, umbi-umbian bertepung seperti singkong dan kentang, serta kacang-kacangan seperti kacang polong dan kacang buncis. Minyak nabati seperti minyak zaitun menjadi sumber lemak, sementara buah dan sayuran memberikan asupan vitamin serta mineral yang penting bagi kesehatan.[4]

Tumbuhan yang dibudidayakan sebagai tanaman industri menjadi sumber bagi berbagai produk manufaktur, sering kali dimanfaatkan secara intensif hingga berpotensi menimbulkan dampak lingkungan.[5] Produk nonpangan yang dihasilkan mencakup minyak atsiri, pewarna alami, pigmen, lilin, getah, tanin, alkaloid, ambar, dan gabus. Beragam bahan turunan tumbuhan digunakan dalam pembuatan sabun, sampo, parfum, kosmetik, cat, pernis, terpentin, karet, lateks, pelumas, linoleum, plastik, tinta, dan getah alami. Sumber energi terbarukan dari tumbuhan meliputi kayu bakar, gambut, dan berbagai jenis bahan bakar hayati.[6][7]
Bahan bakar fosil seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam berasal dari sisa-sisa organisme perairan purba, termasuk fitoplankton, yang terakumulasi selama waktu geologis.[8]
Bahan bangunan dan serat dari tumbuhan digunakan untuk membuat tempat tinggal dan memproduksi pakaian. Kayu tidak hanya dipakai dalam pembangunan gedung, perahu, dan furnitur, tetapi juga untuk benda-benda kecil seperti alat musik, perkakas tangan, serta perlengkapan olahraga. Kayu diolah menjadi bubur kertas untuk pembuatan kertas dan karton.[9] Kain umumnya dibuat dari kapas, flaks, rami, atau dari serat sintetis seperti rayon dan asetat yang berasal dari selulosa tumbuhan. Benang untuk menjahit kain pun sebagian besar bersumber dari kapas.[10]
Tumbuhan juga merupakan sumber utama berbagai senyawa kimia dasar, baik karena pengaruh fisiologis dan obat-nya, maupun karena peranannya dalam sintesis industri berbagai senyawa organik.[11]

Ratusan jenis obat modern berasal dari tumbuhan, baik yang digunakan dalam herbalisme tradisional[12][13] maupun yang dihasilkan dari senyawa kimia yang dimurnikan dari tumbuhan, atau pertama kali diidentifikasi dari tumbuhan melalui penelitian etnobotani, lalu disintesis secara organik untuk digunakan dalam pengobatan modern.
Beragam obat modern yang berasal dari tumbuhan antara lain aspirin, taksol, morfin, kina, reserpin, kolkisin, digitalis, dan vincristine. Tumbuhan yang umum digunakan dalam herbalisme mencakup ginkgo, echinacea, feverfew, dan St. John's wort.
Karya besar Dioscorides, yakni De Materia Medica, merupakan sebuah farmakope yang menggambarkan sekitar 600 jenis tumbuhan obat. Naskah tersebut disusun antara tahun 50 hingga 70 Masehi, dan tetap digunakan secara luas di Eropa serta Timur Tengah hingga sekitar tahun 1600 M. Karya ini menjadi pendahulu bagi seluruh farmakope modern yang dikenal saat ini.[14][15][16]

Ribuan spesies tumbuhan dibudidayakan untuk tujuan estetika, selain juga untuk memberikan keteduhan, menstabilkan suhu, mengurangi hembusan angin, meredam kebisingan, menjaga privasi, serta mencegah erosi tanah. Tumbuhan menjadi dasar bagi industri pariwisata bernilai miliaran dolar setiap tahunnya, yang mencakup perjalanan menuju taman-taman bersejarah, taman nasional, hutan hujan, hutan dengan dedaunan musim gugur yang berwarna-warni, serta festival-festival bunga seperti festival bunga sakura di Jepang[17] dan festival bunga sakura di Amerika Serikat.[18]
Selain itu, terdapat pula bentuk seni yang berfokus pada tata susun tumbuhan hidup atau potongan tanaman, seperti bonsai, ikebana, serta seni merangkai bunga segar maupun bunga kering. Tumbuhan hias bahkan pernah mengubah jalannya sejarah manusia, seperti yang terjadi pada peristiwa tulipomania di Eropa pada abad ke-17.[19]
Pestisida yang berasal dari tumbuhan mencakup senyawa-senyawa seperti nikotin, rotenon, striknin, dan piretroid.[20] Beberapa tumbuhan seperti tembakau, ganja, opium, dan koka menghasilkan zat kimia psikotropika yang berpengaruh pada sistem saraf manusia.[21]
Selain itu, banyak pula racun nabati yang dikenal luas, seperti atropin, risin, racun cemara (hemlock), dan kurare. Menariknya, sebagian besar senyawa beracun tersebut juga dimanfaatkan dalam pengobatan modern, menunjukkan bahwa batas antara racun dan obat sering kali bergantung pada dosis dan cara penggunaannya.[22]

Penelitian biologi dasar kerap dilakukan dengan menggunakan tumbuhan sebagai objek kajian. Dalam bidang genetika, percobaan persilangan tanaman kacang polong oleh Gregor Mendel menghasilkan penemuan hukum-hukum dasar pewarisan sifat.[23] Sementara itu, pengamatan terhadap kromosom pada tanaman jagung memungkinkan Barbara McClintock membuktikan hubungan langsung antara kromosom dan karakter yang diwariskan.[24]
Tanaman Arabidopsis thaliana digunakan secara luas di laboratorium sebagai organisme model untuk memahami bagaimana gen mengatur pertumbuhan dan perkembangan struktur tumbuhan.[25] NASA bahkan memprediksi bahwa stasiun luar angkasa dan koloni manusia di angkasa pada masa depan akan bergantung pada tumbuhan sebagai bagian dari Sistem Pendukung Kehidupan Ekologis Terkendali (Controlled Ecological Life Support System).[26]
Kemajuan ilmiah di bidang rekayasa genetika telah menghasilkan perkembangan besar dalam dunia pertanian. Tanaman hasil rekayasa genetika memungkinkan pengenalan sifat-sifat baru yang sebelumnya tidak dimiliki secara alami oleh tumbuhan. Inovasi ini membawa berbagai manfaat, di antaranya mengurangi penggunaan pestisida berbahaya dengan menanamkan sifat-sifat seperti ketahanan terhadap serangga dan toleransi terhadap herbisida.[27]

Kemampuan alami pohon untuk melakukan transplantasi atau penyambungan jaringan secara alami kerap dimanfaatkan dalam praktik pembentukan pohon (tree shaping) untuk menciptakan struktur hidup yang menakjubkan, seperti jembatan akar hidup yang ditemukan di negara bagian Meghalaya dan Nagaland di India, serta di pulau-pulau Sumatra dan Jawa di Indonesia.
Akar-akar udara dari pohon ara karet, Ficus elastica, diarahkan dan dilatih untuk membentuk jembatan gantung alami yang melintasi sungai-sungai pegunungan yang deras.[28][29][30][31][32]
Struktur-struktur ini tumbuh dan menguat seiring waktu, menjadi contoh luar biasa dari harmoni antara manusia dan alam, di mana pengetahuan tradisional dan pertumbuhan organik berpadu untuk menciptakan karya arsitektur hidup yang fungsional sekaligus memesona.

Tumbuhan kerap muncul dalam karya seni, baik untuk menggambarkan bentuk botani mereka secara ilmiah,[33] maupun sebagai elemen artistik yang sarat makna simbolis atau dekoratif, sering kali bernuansa religius. Misalnya, Perawan Maria dibandingkan oleh Venerable Bede dengan bunga bakung putih, kelopak putihnya melambangkan kemurnian tubuh, sementara benangsarinya yang kuning menandakan cahaya rohani yang memancar dari jiwanya. Oleh sebab itu, dalam banyak lukisan Kabar Sukacita di Eropa, vas berisi bunga bakung putih sering tampak di dalam kamar Maria, sebagai lambang dari kesuciannya. Tumbuhan juga kerap hadir sebagai latar atau unsur pendukung dalam potret, bahkan menjadi subjek utama dalam karya benda mati.[34][35]

Motif tumbuhan juga menjadi sumber inspirasi dalam arsitektur. Di Mesir Kuno, kapitel kolom sering diukir menyerupai teratai putih Mesir atau papirus.[36] Demikian pula, kolom Yunani Kuno bergaya Korintus dihiasi dengan ukiran daun akantus.[37] Dalam seni Islam, motif tumbuhan digunakan secara luas pada berbagai media, termasuk kapitel kolom. Rancangan ini berkembang semakin rumit dan bergaya abstrak, menampilkan arabesque dan motif geometris yang indah pada karya seperti Karpet Ardabil dan ubin bintang keramik Persia berpola sepuluh sisi. Keindahan tersebut kemudian memengaruhi seni dekoratif di dunia Barat, tampak dalam gaya Rokoko hingga gerakan Arts and Crafts.[38][39][40]

Baik tumbuhan nyata maupun rekaan telah memainkan beragam peran dalam sastra dan film.[41] Peran tumbuhan dalam karya-karya tersebut bisa bersifat jahat, sebagaimana yang digambarkan dalam kisah tentang para triffids, tumbuhan karnivor dengan sengatan beracun seperti cambuk serta kemampuan bergerak melalui tiga organ menyerupai kaki, dalam novel fiksi ilmiah The Day of the Triffids karya John Wyndham (1951), beserta berbagai adaptasinya dalam film dan drama radio.[42]
Dalam dunia Middle-earth ciptaan J. R. R. Tolkien, terdapat banyak jenis tumbuhan yang dinamai dan memiliki makna tertentu, seperti herba penyembuh athelas,[43] bunga berbentuk bintang berwarna kuning elanor yang tumbuh di tempat-tempat istimewa seperti Cerin Amroth di Lothlórien,[44] serta pohon mallorn yang tinggi menjulang, pohon kebanggaan kaum peri.[45] Tolkien juga menamai sejumlah pohon penting dalam kisahnya, seperti Party Tree di Shire yang melambangkan keceriaan,[45] dan Old Man Willow,[46] pohon jahat yang bersemayam di Hutan Tua.[47]
Pohon juga menjadi unsur yang sangat menonjol dalam karya-karya Ursula K. Le Guin, misalnya dunia hutan Athshe dan Immanent Grove[48] di pulau Roke dalam seri Earthsea. Dalam pengantar kumpulan ceritanya, The Wind’s Twelve Quarters, Le Guin bahkan mengakui memiliki "obsesi tertentu terhadap pohon" dan menyebut dirinya sebagai "penulis fiksi ilmiah yang paling arboreal".[49]
Dalam film Avatar yang disutradarai James Cameron (2009), terdapat pohon raksasa bernama Hometree, tempat suci bagi suku humanoid Naʼvi. Pohon tersebut, beserta suku dan planet tempat mereka tinggal, terancam oleh kegiatan pertambangan; kisah film berpusat pada perjuangan suku itu dan sang tokoh utama untuk menyelamatkan mereka.[50]
Pohon juga menjadi subjek yang kerap muncul dalam dunia puisi, seperti dalam karya liris klasik tahun 1913 karya Joyce Kilmer berjudul "Trees".[51][52] Demikian pula, bunga sering dijadikan sumber inspirasi oleh para penyair seperti William Blake, Robert Frost, dan Rabindranath Tagore,[53] yang menjadikan keindahan alam sebagai bahasa simbolis untuk menggambarkan cinta, kefanaan, dan keagungan ciptaan.

Tumbuhan menempati posisi penting dalam mitologi dan agama, di mana mereka melambangkan gagasan-gagasan seperti kesuburan, pertumbuhan, keabadian, dan kelahiran kembali, serta kerap kali diselimuti kekuatan gaib.[54][55] Dalam mitologi Latvia, misalnya, terdapat pohon kosmis Austras koks yang tumbuh di ufuk tempat Matahari memulai perjalanan hariannya melintasi langit.[56][57]
Pohon kosmis lainnya adalah Yggdrasil, pohon dunia dalam Mitologi Nordik, tempat Odin menggantungkan dirinya dalam pencarian akan kebijaksanaan dan rahasia alam semesta.[58][59] Berbeda lagi dengan mitos Eropa abad pertengahan tentang pohon teritip, yang konon menghasilkan teritip angsa dari kerang-kerang yang menempel pada batangnya, kisah yang mungkin berakar dari pengamatan terhadap teritip angsa yang tumbuh pada kayu apung di laut.[60][61]
Mitologi Yunani kaya akan kisah tumbuhan dan bunga.[62] Salah satu contohnya ialah pohon teratai, yang buahnya menyebabkan rasa kantuk dan kebahagiaan mendalam bagi siapa pun yang memakannya,[63] serta herba ajaib moly yang disebutkan oleh Homer dalam Odyssey, berakar hitam dan berbunga putih, diyakini dapat menolak sihir jahat.[64]
Tumbuhan mandrake dikenal bersifat halusinogen dan memiliki akar yang menyerupai bentuk manusia. Karena itu, ia telah lama digunakan dalam praktik sihir dan masih dipakai hingga kini dalam tradisi pagan modern seperti Wicca dan Odinisme.[65] Demikian pula, tumbuhan Tabernanthe iboga digunakan di Gabon dalam upacara inisiasi oleh perkumpulan rahasia sebagai zat halusinogen yang membuka kesadaran spiritual.[66]
Tumbuhan-tumbuhan magis juga muncul dalam mitologi Serbia, misalnya raskovnik, tanaman legendaris yang diyakini dapat membuka kunci apa pun.[67][68][69]
Dalam simbolisme Buddha, dua tumbuhan memiliki makna mendalam: teratai dan Pohon Bodhi. Teratai termasuk dalam Ashtamangala, delapan lambang keberuntungan yang juga dijumpai dalam Buddhisme, Jainisme, dan Hinduisme. Ia melambangkan kemurnian asal mula dari tubuh, ucapan, dan pikiran, yang tetap bersih walau tumbuh di atas lumpur keterikatan dan nafsu duniawi.[70] Adapun Pohon Bodhi, pohon ara suci, dipercaya sebagai tempat di mana Sang Buddha mencapai pencerahan. Nama tersebut kemudian diberikan pula kepada pohon-pohon lain yang diyakini merupakan keturunan atau penanaman dari pohon Bodhi asli.[71]
Selama ribuan tahun, manusia telah mengenakan bunga sebagai hiasan, misalnya diselipkan di rambut, berperan sebagai bentuk komunikasi nonverbal.[72] Dalam peradaban Yunani Kuno dan Romawi Kuno, orang-orang mengenakan mahkota bunga, karangan, serta rangkaian bunga dalam berbagai perayaan,[73] kadang dihiasi dengan bunga buatan.[74]
Dari abad ke-18 hingga pertengahan abad ke-20, perdagangan bunga buatan untuk hiasan topi berkembang pesat di Paris. Perusahaan seperti Maison Légeron memasok bunga-bunga tersebut bagi industri fesyen.[74] Sejak dekade 1920-an, perancang busana Prancis Coco Chanel memasukkan bunga buatan, terutama kamélia, ke dalam rancangan busananya, sering kali dibuat dari kain yang sama dengan pakaian itu sendiri.[74] Di Italia pada tahun 1920-an, para pria kerap mengenakan boutonnière, yakni rangkaian bunga kecil yang disematkan pada lubang kancing jas; menurut pakar fesyen Alessandra Vaccari, kebiasaan ini merupakan pernyataan simbolis mengenai identitas dan ekspresi maskulinitas mereka.[75]
hanami