Teknologi adalah penerapan pengetahuan konseptual untuk mencapai tujuan praktis, terutama dengan cara yang dapat direproduksi. Kata teknologi juga dapat bermakna produk yang dihasilkan dari usaha tersebut, mencakup baik alat yang berwujud seperti perkakas atau mesin, maupun yang tidak berwujud seperti perangkat lunak. Teknologi memainkan peran krusial dalam sains, rekayasa, dan kehidupan sehari-hari.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Teknologi adalah penerapan pengetahuan konseptual untuk mencapai tujuan praktis, terutama dengan cara yang dapat direproduksi.[1] Kata teknologi juga dapat bermakna produk yang dihasilkan dari usaha tersebut,[2][3] mencakup baik alat yang berwujud seperti perkakas atau mesin, maupun yang tidak berwujud seperti perangkat lunak. Teknologi memainkan peran krusial dalam sains, rekayasa, dan kehidupan sehari-hari.[4]
Kemajuan teknologi telah memicu perubahan signifikan dalam masyarakat. Teknologi paling awal yang diketahui adalah alat batu, yang digunakan selama masa prasejarah, diikuti oleh pengendalian api—yang pada gilirannya berkontribusi pada pertumbuhan otak manusia dan perkembangan bahasa selama Zaman Es, menurut hipotesis memasak.[5] Penemuan roda pada Zaman Perunggu memungkinkan perjalanan yang lebih jauh dan penciptaan mesin yang lebih kompleks. Penemuan teknologi yang lebih baru, termasuk mesin cetak, telepon, dan Internet, telah menurunkan hambatan komunikasi dan mengantarkan kita pada ekonomi pengetahuan.
Meskipun teknologi berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi dan meningkatkan kemakmuran manusia, teknologi juga dapat menimbulkan dampak negatif seperti polusi dan penipisan sumber daya, serta dapat menyebabkan kerugian sosial seperti pengangguran teknologi akibat otomatisasi. Akibatnya, perdebatan filosofis dan politik mengenai peran dan penggunaan teknologi, etika teknologi, serta cara-cara untuk memitigasi dampak buruknya terus berlangsung.[6]
Teknologi adalah istilah yang berasal dari awal abad ke-17 yang bermakna 'perlakuan sistematis' (dari bahasa Yunani Τεχνολογίαcode: grc is deprecated , dari Yunani: τέχνη, romanized: tékhnē, har. 'kerajinan, seni'code: el is deprecated dan -λογία (-logíā), 'studi, pengetahuan').[7][8] Istilah ini didahului penggunaannya oleh kata Yunani Kuno τέχνη (tékhnē), yang digunakan untuk mengartikan 'pengetahuan tentang cara membuat sesuatu', yang mencakup aktivitas seperti arsitektur.[9]
Bermula pada abad ke-19, orang Eropa kontinental mulai menggunakan istilah Technikcode: de is deprecated (bahasa Jerman) atau techniquecode: fr is deprecated (bahasa Prancis) untuk merujuk pada 'cara melakukan', yang mencakup semua seni teknis, seperti menari, navigasi, atau percetakan, terlepas dari apakah hal itu memerlukan alat atau instrumen.[10] Pada saat itu, Technologiecode: de is deprecated (bahasa Jerman dan Prancis) merujuk pada disiplin akademis yang mempelajari "metode seni dan kriya", atau pada disiplin politik yang "dimaksudkan untuk membuat undang-undang tentang fungsi seni dan kriya."[11] Perbedaan antara Technikcode: de is deprecated dan Technologiecode: de is deprecated tidak terdapat dalam bahasa Inggris, sehingga keduanya diterjemahkan sebagai technology. Istilah tersebut sebelumnya tidak umum dalam bahasa Inggris dan sebagian besar merujuk pada disiplin akademis, seperti dalam Institut Teknologi Massachusetts.[12]
Pada abad ke-20, sebagai hasil dari kemajuan ilmiah dan Revolusi Industri Kedua, teknologi berhenti dianggap sebagai disiplin akademis yang terpisah dan mengambil makna: penggunaan pengetahuan secara sistemik untuk tujuan praktis.[13]

Perkakas pada mulanya dikembangkan oleh hominid melalui pengamatan serta metode coba-coba.[14] Sekitar 2 jtl (juta tahun lalu), mereka belajar menciptakan perkakas batu perdana dengan cara memecah serpihan dari batu kerakal, sehingga membentuk kapak genggam yang tajam.[15] Praktik ini disempurnakan pada 75 rtl (ribu tahun lalu) menjadi pemangkasan tekan, yang memungkinkan pengerjaan yang jauh lebih halus.[16]
Penemuan api dideskripsikan oleh Charles Darwin sebagai "mungkin [penemuan] terhebat yang pernah dilakukan oleh manusia".[17] Bukti arkeologis, pola makan, dan sosial menunjukkan adanya "penggunaan api [oleh manusia] secara berkelanjutan" setidaknya sejak 1,5 jtl.[18] Api, yang dinyalakan dengan kayu dan arang, memungkinkan manusia purba memasak makanan mereka guna meningkatkan ketercernaannya, memperbaiki nilai gizinya, serta memperbanyak jenis bahan pangan yang dapat dikonsumsi.[19] Hipotesis memasak mengajukan gagasan bahwa kemampuan memasak mendorong peningkatan ukuran otak hominid, meskipun beberapa peneliti menganggap buktinya belum konklusif.[20] Bukti arkeologis mengenai tungku diperkirakan berasal dari 790 rtl; para peneliti meyakini hal ini kemungkinan besar telah mengintensifkan sosialisasi manusia dan mungkin berkontribusi pada kemunculan bahasa.[21][22]
Kemajuan teknologi lain yang dicapai selama era Paleolitikum meliputi pakaian dan tempat bernaung.[23] Tidak ada konsensus mengenai perkiraan waktu diadopsinya kedua teknologi tersebut, namun para arkeolog telah menemukan bukti arkeologis adanya pakaian sejak 90-120 rtl[24] dan tempat bernaung sejak 450 rtl.[23] Seiring berjalannya era Paleolitikum, hunian menjadi makin canggih dan rumit; seawal 380 rtl, manusia telah membangun gubuk kayu sementara.[25][26] Pakaian, yang diadaptasi dari rambut dan kulit hewan buruan, membantu umat manusia berekspansi ke wilayah-wilayah yang lebih dingin; manusia mulai bermigrasi keluar dari Afrika sekitar 200 rtl, yang pada awalnya bergerak menuju Eurasia.[27][28][29]

Revolusi Neolitikum (atau Revolusi Pertanian Pertama) memicu percepatan inovasi teknologi, dan sebagai konsekuensinya, meningkatkan kompleksitas sosial.[30] Penemuan kapak batu yang dipoles merupakan kemajuan besar yang memungkinkan pembukaan hutan dan pertanian berskala besar.[31] Penggunaan kapak batu yang dipoles ini meningkat pesat pada zaman Neolitikum, namun pada awalnya telah digunakan pada zaman Mesolitikum sebelumnya di beberapa wilayah seperti Irlandia.[32] Pertanian menghidupi populasi yang lebih besar, dan transisi menuju sedentisme memungkinkan pembesaran lebih banyak anak secara bersamaan, karena bayi tidak lagi perlu digendong kesana kemari oleh para nomaden. Selain itu, anak-anak dapat berkontribusi tenaga dalam budidaya tanaman dengan lebih mudah dibandingkan berpartisipasi dalam aktivitas pemburu-pengumpul.[33][34]
Seiring dengan peningkatan populasi dan ketersediaan tenaga kerja ini, muncul pula peningkatan dalam spesialisasi tenaga kerja.[35] Apa yang memicu perkembangan dari desa-desa Neolitikum awal menuju kota-kota pertama, seperti Uruk, dan peradaban pertama, seperti Sumer, tidak diketahui secara pasti; namun, kemunculan struktur sosial yang kian hierarkis dan tenaga kerja terspesialisasi, perdagangan dan peperangan antarbudaya yang bertetangga, serta kebutuhan akan tindakan kolektif untuk mengatasi tantangan lingkungan seperti irigasi, semuanya diperkirakan turut berperan.[36]
Penemuan tulisan memicu penyebaran pengetahuan budaya dan menjadi dasar bagi sejarah, perpustakaan, sekolah, dan penelitian ilmiah.[37]
Penyempurnaan yang berkelanjutan berujung pada terciptanya tungku dan alat hembus, serta menyediakan kemampuan—untuk pertama kalinya—guna melebur dan menempa emas, tembaga, perak, dan timbal – logam asli yang ditemukan dalam bentuk yang relatif murni di alam.[38] Keunggulan perkakas tembaga dibandingkan perkakas batu, tulang, dan kayu dengan cepat disadari oleh manusia purba, dan tembaga murni kemungkinan telah digunakan sejak permulaan zaman Neolitikum (sekitar 10 rtl).[39] Tembaga murni tidak tersedia secara alami dalam jumlah besar, namun bijih tembaga cukup umum ditemukan dan beberapa di antaranya menghasilkan logam dengan mudah ketika dibakar dalam api kayu atau arang. Pada akhirnya, pengerjaan logam berujung pada penemuan paduan seperti perunggu dan kuningan (sekitar 4.000 SM). Penggunaan pertama paduan besi seperti baja bermula sekitar tahun 1.800 SM.[40][41]


Setelah mengendalikan api, manusia menemukan bentuk-bentuk energi lainnya. Pemanfaatan tenaga angin paling awal yang diketahui adalah pada kapal layar; catatan paling awal tentang kapal yang berlayar adalah perahu Nil yang berasal dari sekitar tahun 7.000 SM.[42] Sejak zaman prasejarah, orang Mesir kemungkinan besar memanfaatkan kekuatan banjir tahunan Sungai Nil untuk mengairi lahan mereka, secara bertahap belajar untuk mengatur sebagian besar air tersebut melalui saluran irigasi dan cekungan "penampung" yang dibangun secara khusus. [43] Bangsa Sumeria kuno di Mesopotamia menggunakan sistem kanal dan tanggul yang rumit untuk membelokkan air dari sungai Tigris dan Efrat guna keperluan irigasi.[44]
Para arkeolog memperkirakan bahwa roda ditemukan secara independen dan bersamaan di Mesopotamia (di Irak masa kini), Kaukasus Utara (kebudayaan Maykop), dan Eropa Tengah.[45] Estimasi waktu berkisar antara 5.500 hingga 3.000 SM, dengan sebagian besar ahli menempatkannya mendekati tahun 4.000 SM.[46] Artefak tertua dengan gambar yang melukiskan kereta beroda berasal dari sekitar tahun 3.500 SM.[47] Baru-baru ini, roda kayu tertua di dunia yang diketahui per tahun 2024 ditemukan di Rawa Ljubljana di Slovenia; para ahli Austria telah menetapkan bahwa usia roda tersebut antara 5.100 hingga 5.350 tahun.[48]
Penemuan roda merevolusi perdagangan dan peperangan. Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa kereta beroda dapat digunakan untuk mengangkut beban berat. Bangsa Sumeria kuno menggunakan roda tembikar dan mungkin merekalah yang menemukannya.[49] Sebuah roda tembikar batu yang ditemukan di negara-kota Ur bertarikh sekitar 3.429 SM,[50] dan pecahan tembikar yang dibuat dengan roda putar yang lebih tua bahkan telah ditemukan di area yang sama.[50] Roda tembikar (putar) cepat memungkinkan produksi massal tembikar di masa awal, namun penggunaan roda sebagai pengubah energi (melalui kincir air, kincir angin, dan bahkan treadmill) yang merevolusi penerapan sumber tenaga nonmanusia. Kereta roda dua pertama dikembangkan dari travois [51] dan pertama kali digunakan di Mesopotamia dan Iran sekitar tahun 3.000 SM.[51]
Jalan raya konstruksi tertua yang diketahui adalah jalan-jalan berkerakal batu di negara-kota Ur, yang bertarikh ca 4.000 SM,[52] dan jalan kayu yang melintasi rawa-rawa Glastonbury, Inggris, yang berasal dari periode yang kurang lebih sama.[52] Jalan jarak jauh pertama, yang mulai digunakan sekitar tahun 3.500 SM,[52] membentang sejauh 2.400 km dari Teluk Persia hingga Laut Tengah,[52] namun tidak diaspal dan hanya dirawat sebagian.[52] Sekitar tahun 2.000 SM, bangsa Minoa di pulau Kreta, Yunani, membangun jalan sepanjang 50 km yang membentang dari istana Gortyn di sisi selatan pulau, melewati pegunungan, menuju istana Knossos di sisi utara pulau.[52] Berbeda dengan jalan sebelumnya, jalan bangsa Minoa ini sepenuhnya berlapis batu.[52]

Rumah-rumah pribadi bangsa Minoa kuno memiliki air mengalir.[54] Sebuah bak mandi yang hampir identik dengan bak mandi modern ditemukan di Istana Knossos.[54][55] Beberapa rumah pribadi Minoa juga memiliki toilet, yang dapat disiram dengan menuangkan air ke saluran pembuangan.[54] Bangsa Romawi kuno memiliki banyak toilet siram umum,[55] yang bermuara ke sistem limbah yang luas.[55] Saluran pembuangan utama di Roma adalah Cloaca Maxima;[55] pembangunannya dimulai pada abad ke-6 SM dan masih digunakan hingga saat ini.[55]
Bangsa Romawi kuno juga memiliki sistem akuaduk yang rumit,[53] yang digunakan untuk mengangkut air melintasi jarak yang jauh.[53] Akuaduk Romawi pertama dibangun pada tahun 312 SM.[53] Akuaduk Romawi kuno kesebelas dan terakhir dibangun pada tahun 226 M.[53] Jika digabungkan, akuaduk Romawi membentang lebih dari 450 km,[53] namun kurang dari 70 km di antaranya berada di atas tanah dan ditopang oleh lengkungan.[53]
Inovasi berlanjut sepanjang Abad Pertengahan dengan pengenalan produksi sutra (di Asia dan kemudian Eropa), kerah kuda, dan sepatu kuda. Pesawat sederhana (seperti tuas, sekrup, dan katrol) digabungkan menjadi alat yang lebih rumit, seperti gerobak dorong, kincir angin, dan jam.[56] Sebuah sistem universitas berkembang dan menyebarkan gagasan serta praktik ilmiah, termasuk Oxford dan Cambridge.[57]
Era Renaisans menghasilkan banyak inovasi, termasuk pengenalan mesin cetak tipe bergerak ke Eropa, yang memfasilitasi komunikasi pengetahuan. Teknologi menjadi kian dipengaruhi oleh sains, yang memulai siklus kemajuan timbal balik.[58]

Bermula di Britania Raya pada abad ke-18, penemuan tenaga uap memicu Revolusi Industri, yang menyaksikan berbagai penemuan teknologi secara luas, khususnya di bidang pertanian, manufaktur, pertambangan, metalurgi, dan transportasi, serta penerapan sistem pabrik yang meluas.[59] Hal ini diikuti satu abad kemudian oleh Revolusi Industri Kedua yang berujung pada penemuan ilmiah yang pesat, standardisasi, dan produksi massal. Teknologi baru dikembangkan, termasuk sistem pembuangan limbah, listrik, bola lampu, motor listrik, jalan kereta api, mobil, dan pesawat terbang. Kemajuan teknologi ini memicu perkembangan signifikan dalam kedokteran, kimia, fisika, dan rekayasa.[60] Kemajuan tersebut disertai dengan perubahan sosial yang konsekuensial, dengan diperkenalkannya gedung pencakar langit yang diiringi oleh urbanisasi yang pesat.[61] Komunikasi membaik dengan ditemukannya telegraf, telepon, radio, dan televisi.[62]
Abad ke-20 menghadirkan sejumlah inovasi. Dalam fisika, penemuan fisi nuklir di Zaman Atom berujung pada senjata nuklir dan tenaga nuklir. Komputer analog ditemukan dan menegaskan dominasinya dalam memproses data yang kompleks. Meskipun penemuan tabung vakum memungkinkan komputasi digital dengan komputer seperti ENIAC, ukurannya yang sangat besar menghalangi penggunaan secara luas hingga inovasi dalam fisika kuantum memungkinkan penemuan transistor pada tahun 1947, yang secara signifikan memadatkan ukuran komputer dan memimpin transisi digital. Teknologi informasi, khususnya serat optik dan penguat optik, memungkinkan komunikasi jarak jauh yang sederhana dan cepat, yang mengantarkan kita pada Zaman Informasi dan kelahiran Internet. Zaman Angkasa dimulai dengan peluncuran Sputnik 1 pada tahun 1957, dan kemudian peluncuran misi berawak ke bulan pada tahun 1960-an. Upaya terorganisasi untuk pencarian kecerdasan ekstraterestrial telah menggunakan teleskop radio untuk mendeteksi tanda-tanda penggunaan teknologi, atau tanda teknologi, yang dipancarkan oleh peradaban asing. Dalam kedokteran, teknologi baru dikembangkan untuk diagnosis (pemindaian CT, PET, dan MRI), pengobatan (seperti mesin dialisis, defibrilator, alat pacu jantung, dan beragam obat farmasi baru), serta penelitian (seperti kloning interferon dan mikroarray DNA).[63]
Teknik dan organisasi manufaktur serta konstruksi yang kompleks diperlukan untuk membuat dan memelihara teknologi yang lebih modern, dan seluruh industri telah bangkit untuk mengembangkan generasi penerus alat-alat yang kian kompleks. Teknologi modern makin bergantung pada pelatihan dan pendidikan – para perancang, pembuat, pemelihara, dan penggunanya sering kali memerlukan pelatihan umum dan khusus yang canggih.[64] Terlebih lagi, teknologi ini telah menjadi begitu kompleks sehingga seluruh bidang ilmu telah berkembang untuk mendukungnya, termasuk rekayasa, kedokteran, dan ilmu komputer; serta bidang lainnya telah menjadi lebih kompleks, seperti konstruksi, transportasi, dan arsitektur.
Perubahan teknologi merupakan faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi jangka panjang.[65][66] Sepanjang sejarah umat manusia, produksi energi menjadi kendala utama dalam pembangunan ekonomi, dan teknologi baru memungkinkan manusia untuk meningkatkan jumlah energi yang tersedia secara signifikan. Pertama adalah api, yang memungkinkan konsumsi berbagai jenis makanan yang lebih luas serta meringankan beban fisik dalam proses pencernaannya. Api juga memungkinkan proses peleburan, serta penggunaan perkakas dari timah, tembaga, dan besi, yang digunakan untuk berburu atau kegiatan perdagangan. Kemudian tibalah revolusi pertanian: manusia tidak lagi harus berburu atau meramu untuk bertahan hidup, dan mulai menetap di kota-kota, membentuk tatanan masyarakat yang lebih kompleks, lengkap dengan militer dan bentuk agama yang lebih terorganisir.[67]
Teknologi telah berkontribusi pada kesejahteraan manusia melalui peningkatan kemakmuran, perbaikan kenyamanan dan kualitas hidup, serta kemajuan medis, namun teknologi juga dapat mendisrupsi hierarki sosial yang ada, menyebabkan polusi, serta membahayakan individu maupun kelompok.
Beberapa tahun terakhir telah memunculkan peningkatan prominensi budaya media sosial, yang membawa potensi dampak terhadap demokrasi, serta kehidupan ekonomi dan sosial. Pada awalnya, internet dipandang sebagai "teknologi pembebasan" yang akan mendemokratisasi pengetahuan, meningkatkan akses terhadap pendidikan, dan mempromosikan demokrasi. Penelitian modern telah beralih untuk menyelidiki sisi negatif internet, termasuk disinformasi, polarisasi, ujaran kebencian, dan propaganda.[68]
Sejak tahun 1970-an, dampak teknologi terhadap lingkungan telah menuai kritik, yang memicu lonjakan investasi dalam tenaga surya, angin, dan bentuk energi bersih lainnya.
Sejak penemuan roda, teknologi telah membantu meningkatkan keluaran ekonomi manusia. Otomatisasi masa lalu telah menggantikan sekaligus melengkapi tenaga kerja; mesin menggantikan manusia pada beberapa pekerjaan berupah rendah (misalnya di bidang pertanian), namun hal ini dikompensasi dengan terciptanya lapangan kerja baru yang berupah lebih tinggi.[69] Berbagai studi menemukan bahwa komputer tidak menciptakan pengangguran teknologi bersih yang signifikan.[70] Mengingat kecerdasan buatan jauh lebih cakap daripada komputer, dan masih dalam tahap awal perkembangannya, belum diketahui apakah teknologi ini akan mengikuti tren yang sama; pertanyaan ini telah diperdebatkan secara panjang lebar di kalangan ekonom dan pembuat kebijakan. Sebuah survei tahun 2017 tidak menemukan konsensus yang jelas di antara para ekonom mengenai apakah AI akan meningkatkan pengangguran jangka panjang.[71] Menurut "Laporan Masa Depan Pekerjaan 2020" dari Forum Ekonomi Dunia, AI diprediksi akan menggantikan 85 juta pekerjaan di seluruh dunia, dan menciptakan 97 juta pekerjaan baru pada tahun 2025.[72][73] Dari tahun 1990 hingga 2007, sebuah studi di AS oleh ekonom MIT Daron Acemoglu menunjukkan bahwa penambahan satu robot untuk setiap 1.000 pekerja menurunkan rasio pekerjaan-terhadap-populasi sebesar 0,2%, atau sekitar 3,3 pekerja, dan menurunkan upah sebesar 0,42%.[74][75] Namun, kekhawatiran mengenai teknologi yang menggantikan tenaga kerja manusia sudah ada sejak lama. Seperti yang dikatakan presiden AS Lyndon Johnson pada tahun 1964, "Teknologi menciptakan peluang baru sekaligus kewajiban baru bagi kita, peluang untuk produktivitas dan kemajuan yang lebih besar; kewajiban untuk memastikan bahwa tidak ada pekerja, tidak ada keluarga yang harus membayar harga yang tidak adil demi kemajuan tersebut," saat menandatangani rancangan undang-undang Komisi Nasional Teknologi, Otomatisasi, dan Kemajuan Ekonomi.[76][77][78][79][80]
Seiring meningkatnya ketergantungan pada teknologi, kekhawatiran mengenai keamanan dan privasi turut menyertainya. Miliaran orang menggunakan beragam metode pembayaran daring, seperti WeChat Pay, PayPal, Alipay, dan banyak lagi untuk membantu mentransfer uang. Meskipun langkah-langkah keamanan telah diterapkan, sejumlah penjahat mampu memintasnya.[81] Pada Maret 2022, Korea Utara menggunakan Blender.io, sebuah pencampur (mixer) yang membantu mereka menyembunyikan pertukaran mata uang kripto, untuk mencuci lebih dari $20,5 juta dalam bentuk mata uang kripto, dari Axie Infinity, dan mencuri mata uang kripto senilai lebih dari $600 juta dari pemilik permainan tersebut. Karena hal ini, Departemen Keuangan AS menjatuhkan sanksi kepada Blender.io, yang menandai pertama kalinya tindakan diambil terhadap sebuah pencampur, sebagai upaya untuk menindak peretas Korea Utara.[82][83] Privasi mata uang kripto telah diperdebatkan. Meskipun banyak pelanggan menyukai privasi mata uang kripto, banyak pula yang berpendapat bahwa mata uang ini memerlukan transparansi dan stabilitas yang lebih besar.[81]
Teknologi dapat memiliki dampak positif maupun negatif terhadap lingkungan. Teknologi lingkungan mendeskripsikan serangkaian teknologi yang berupaya untuk membalikkan, memitigasi, atau menghentikan kerusakan lingkungan. Hal ini dapat mencakup langkah-langkah untuk menghentikan polusi melalui regulasi lingkungan, penangkapan dan penyimpanan polusi, atau penggunaan produk sampingan polutan dalam industri lain.[84] Contoh lain dari teknologi lingkungan meliputi deforestasi dan pembalikan deforestasi.[85] Teknologi baru di bidang rekayasa iklim mungkin mampu menghentikan atau membalikkan pemanasan global dan dampak lingkungannya,[86] meskipun hal ini masih sangat kontroversial.[87] Seiring kemajuan teknologi, dampak negatif terhadap lingkungan juga meningkat, dengan bertambahnya pelepasan gas rumah kaca, termasuk metana, dinitrogen oksida, dan karbon dioksida, ke atmosfer, yang menyebabkan efek rumah kaca. Hal ini terus memanaskan bumi secara bertahap, menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim. Ukuran inovasi teknologi berkorelasi dengan peningkatan emisi gas rumah kaca.[88]
Polusi, yakni keberadaan kontaminan dalam suatu lingkungan yang menyebabkan dampak buruk, mungkin sudah ada sejak zaman Kekaisaran Inka. Mereka menggunakan fluks timbal sulfida dalam peleburan bijih, bersama dengan penggunaan tanur tanah liat bertenaga angin, yang melepaskan timbal ke atmosfer dan sedimen sungai.[89]
Filsafat teknologi adalah cabang filsafat yang mempelajari "praktik merancang dan menciptakan artefak", serta "sifat dasar dari hal-hal yang diciptakan tersebut."[90] Disiplin ini muncul selama dua abad terakhir, dan telah berkembang "secara signifikan" sejak tahun 1970-an.[91] Filsafat teknologi humaniora berfokus pada "makna teknologi bagi, dan dampaknya terhadap, masyarakat dan budaya".[90]
Pada awalnya, teknologi dipandang sebagai perpanjangan dari organisme manusia yang mereplikasi atau memperkuat kemampuan tubuh dan mental.[92] Marx membingkainya sebagai alat yang digunakan oleh kapitalis untuk menindas proletariat, namun meyakini bahwa teknologi akan menjadi kekuatan yang membebaskan secara fundamental begitu "dibebaskan dari deformasi kemasyarakatan". Para filsuf gelombang kedua seperti Ortega kemudian mengalihkan fokus mereka dari ekonomi dan politik ke "kehidupan sehari-hari dan hidup dalam budaya tekno-material", dengan alasan bahwa teknologi dapat menindas "bahkan anggota borjuasi yang merupakan tuan dan pemilik semunya." Para filsuf tahap ketiga seperti Don Ihde dan Albert Borgmann merepresentasikan peralihan menuju de-generalisasi dan empirisme, serta mempertimbangkan bagaimana manusia dapat belajar untuk hidup berdampingan dengan teknologi.[91][halaman dibutuhkan]
Kesarjanaan awal mengenai teknologi terpecah menjadi dua argumen: determinisme teknologi, dan konstruksi sosial. Determinisme teknologi adalah gagasan bahwa teknologi menyebabkan perubahan sosial yang tak terelakkan.[93]: 95 Hal ini biasanya mencakup argumen terkait, otonomi teknologi, yang menegaskan bahwa kemajuan teknologi mengikuti perkembangan alami dan tidak dapat dicegah.[94] Penganut konstruktivisme sosial berpendapat bahwa teknologi tidak mengikuti perkembangan alami, dan dibentuk oleh nilai-nilai budaya, hukum, politik, dan insentif ekonomi. Kesarjanaan modern telah beralih ke analisis sistem sosioteknis, "kumpulan benda, orang, praktik, dan makna", yang melihat pada penilaian nilai yang membentuk teknologi.[93][halaman dibutuhkan]
Kritikus budaya Neil Postman membedakan antara masyarakat pengguna-alat dengan masyarakat teknologi dan dari apa yang disebutnya "teknopoli", masyarakat yang didominasi oleh ideologi kemajuan teknologi dan ilmiah yang merugikan praktik budaya, nilai, dan pandangan dunia lainnya.[95] Herbert Marcuse dan John Zerzan berpendapat bahwa masyarakat teknologi pasti akan merampas kebebasan dan kesehatan psikologis kita.[96]
Etika teknologi adalah subbidang etika interdisipliner yang menganalisis implikasi etis dari teknologi dan mengeksplorasi cara-cara untuk memitigasi potensi dampak negatif dari teknologi baru. Terdapat cakupan luas masalah etika yang berkisar seputar teknologi, mulai dari area fokus spesifik yang memengaruhi para profesional yang bekerja dengan teknologi hingga masalah sosial, etika, dan hukum yang lebih luas mengenai peran teknologi dalam masyarakat dan kehidupan sehari-hari.[97]
Perdebatan yang menonjol meliputi organisme termodifikasi secara genetika, penggunaan robot militer, bias algoritme, dan masalah menyelaraskan perilaku AI dengan nilai-nilai manusia.[98]
Etika teknologi mencakup beberapa bidang utama: Bioetika menyoroti masalah etika seputar bioteknologi dan kedokteran modern, termasuk kloning, rekayasa genetika manusia, dan penelitian sel punca. Etika komputer berfokus pada masalah yang berkaitan dengan komputasi. Siberetika mengeksplorasi masalah terkait internet seperti hak kekayaan intelektual, privasi, dan penyensoran. Nanoetika menelaah masalah seputar pengubahan materi pada tingkat atom dan molekul dalam berbagai disiplin ilmu termasuk ilmu komputer, rekayasa, dan biologi. Serta etika rekayasa berkaitan dengan standar profesional para insinyur, termasuk insinyur perangkat lunak dan tanggung jawab moral mereka terhadap publik.[99]
Cabang luas dari etika teknologi berkaitan dengan etika kecerdasan buatan: ini mencakup etika robot, yang menangani masalah etika yang terlibat dalam desain, konstruksi, penggunaan, dan perlakuan terhadap robot,[100] serta etika mesin, yang berkaitan dengan pemastian perilaku etis dari agen cerdas buatan.[101] Dalam bidang etika AI, masalah penelitian signifikan yang belum terpecahkan meliputi penyelarasan AI (memastikan bahwa perilaku AI selaras dengan tujuan dan kepentingan yang dimaksudkan penciptanya) dan pengurangan bias algoritme. Beberapa peneliti telah memperingatkan tentang risiko hipotetis dari pengambilalihan oleh AI, dan telah mengadvokasi penggunaan pengendalian kemampuan AI di samping metode penyelarasan AI.
Bidang etika lainnya harus berhadapan dengan masalah terkait teknologi, termasuk etika militer, etika media, dan etika pendidikan.
Studi masa depan adalah studi mengenai kemajuan sosial dan teknologi. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi rentang masa depan yang masuk akal dan memadukan nilai-nilai manusia dalam pengembangan teknologi baru.[102]: 54 Secara lebih umum, para peneliti masa depan tertarik untuk meningkatkan "kebebasan dan kesejahteraan umat manusia".[102]: 73 Bidang ini bergantung pada analisis kuantitatif dan kualitatif menyeluruh terhadap tren teknologi masa lalu dan masa kini, serta berupaya untuk mengekstrapolasinya secara cermat ke masa depan.[102] Fiksi ilmiah sering digunakan sebagai sumber gagasan.[102]: 173 Metodologi penelitian masa depan meliputi penelitian survei, pemodelan, analisis statistik, dan simulasi komputer.[102]: 187
Peneliti risiko eksistensial menganalisis risiko yang dapat menyebabkan kepunahan manusia atau keruntuhan peradaban, dan mencari cara untuk membangun ketahanan terhadapnya.[103][104] Pusat penelitian yang relevan meliputi Pusat Studi Risiko Eksistensial Cambridge, dan Inisiatif Risiko Eksistensial Stanford.[105] Teknologi masa depan dapat berkontribusi pada risiko kecerdasan umum buatan, perang biologis, perang nuklir, nanoteknologi, perubahan iklim antropogenik, pemanasan global, atau totalitarianisme global yang stabil, meskipun teknologi juga dapat membantu kita memitigasi tumbukan asteroid dan semburan sinar gama.[106] Pada tahun 2019, filsuf Nick Bostrom memperkenalkan gagasan tentang dunia yang rentan, "dunia di mana terdapat tingkat perkembangan teknologi tertentu yang membuat peradaban hampir pasti hancur secara mendasar", mengutip risiko pandemi yang disebabkan oleh bioteroris, atau perlombaan senjata yang dipicu oleh pengembangan persenjataan baru dan hilangnya kehancuran yang dijamin bersama.[107] Ia mengajak para pembuat kebijakan untuk mempertanyakan asumsi bahwa kemajuan teknologi selalu bermanfaat, bahwa keterbukaan ilmiah selalu lebih baik, atau bahwa mereka mampu menunggu sampai teknologi berbahaya ditemukan sebelum mempersiapkan mitigasi.[107]

Teknologi yang sedang dikembangkan adalah teknologi baru yang pengembangan atau aplikasi praktisnya sebagian besar masih belum terealisasi. Teknologi ini meliputi nanoteknologi, bioteknologi, robotika, pencetakan 3D, dan blockchain.
Pada tahun 2005, futuris Ray Kurzweil mengklaim bahwa revolusi teknologi berikutnya akan bertumpu pada kemajuan dalam genetika, nanoteknologi, dan robotika, dengan robotika sebagai yang paling berdampak dari ketiga teknologi tersebut.[108] Rekayasa genetika akan memungkinkan kontrol yang jauh lebih besar atas sifat biologis manusia melalui proses yang disebut evolusi terarah. Beberapa pemikir percaya bahwa hal ini dapat menghancurkan rasa jati diri kita, dan mendesak adanya debat publik baru untuk mengeksplorasi masalah ini secara lebih menyeluruh;[109] yang lain khawatir bahwa evolusi terarah dapat mengarah pada eugenika atau ketimpangan sosial yang ekstrem. Nanoteknologi akan memberi kita kemampuan untuk memanipulasi materi "pada skala molekuler dan atom",[110] yang dapat memungkinkan kita untuk membentuk kembali diri kita dan lingkungan kita dengan cara-cara yang mendasar.[111] Nanobot dapat digunakan di dalam tubuh manusia untuk menghancurkan sel kanker atau membentuk bagian tubuh baru, mengaburkan batas antara biologi dan teknologi.[112] Robot otonom telah mengalami kemajuan pesat, dan diharapkan dapat menggantikan manusia dalam banyak tugas berbahaya, termasuk pencarian dan penyelamatan, penjinakan bom, pemadaman kebakaran, dan perang.[113]
Estimasi mengenai munculnya kecerdasan umum buatan bervariasi, namun setengah dari ahli pembelajaran mesin yang disurvei pada tahun 2018 meyakini bahwa AI akan "menyelesaikan setiap tugas dengan lebih baik dan lebih murah" daripada manusia pada tahun 2063, dan mengotomatisasi semua pekerjaan manusia pada tahun 2140.[114] Pengangguran teknologi yang diprediksi ini telah memicu seruan untuk peningkatan penekanan pada pendidikan ilmu komputer dan perdebatan tentang pendapatan dasar universal. Para ahli ilmu politik memprediksi bahwa hal ini dapat menyebabkan peningkatan ekstremisme, sementara yang lain melihatnya sebagai peluang untuk mengantarkan kita pada ekonomi pasca-kelangkaan.
Beberapa segmen dari kontrabudaya hippie tahun 1960-an mulai tidak menyukai kehidupan perkotaan dan mengembangkan preferensi terhadap teknologi yang otonom secara lokal, berkelanjutan, dan terdesentralisasi, yang diistilahkan sebagai teknologi tepat guna. Hal ini di kemudian hari memengaruhi budaya peretas dan teknopaganisme.
Utopianisme teknologi merujuk pada keyakinan bahwa perkembangan teknologi adalah kebaikan moral, yang dapat dan harus mewujudkan sebuah utopia, yaitu, sebuah masyarakat di mana hukum, pemerintahan, dan kondisi sosial melayani kebutuhan semua warganya.[115] Contoh tujuan tekno-utopis meliputi ekonomi pasca-kelangkaan, perpanjangan hidup, pengunggahan pikiran, krionik, dan penciptaan superinteligensi buatan. Gerakan tekno-utopis utama meliputi transhumanisme dan singularitarianisme.
Gerakan transhumanisme didirikan di atas "evolusi kehidupan manusia yang berkelanjutan melampaui bentuk manusianya saat ini" melalui sains dan teknologi, yang berlandaskan pada "prinsip dan nilai yang mempromosikan kehidupan."[116] Gerakan ini meraih popularitas yang lebih luas pada awal abad ke-21.[117]
Para Singularitarian meyakini bahwa superinteligensi mesin akan "mempercepat kemajuan teknologi" berkali-kali lipat dan "menciptakan entitas yang bahkan lebih cerdas dengan lebih cepat", yang dapat mengarah pada laju perubahan masyarakat dan teknologi yang "sulit dipahami" oleh kita. Cakrawala peristiwa ini dikenal sebagai singularitas teknologi.[118]
Tokoh-tokoh utama utopianisme teknologi antara lain Ray Kurzweil dan Nick Bostrom. Utopianisme teknologi telah menuai pujian sekaligus kritik dari para pemikir progresif, religius, dan konservatif.[119]
Peran sentral teknologi dalam kehidupan kita telah memicu kekhawatiran dan reaksi penentangan. Reaksi penentangan terhadap teknologi bukanlah gerakan yang seragam dan mencakup banyak ideologi yang heterogen.[120]
Pemberontakan paling awal yang diketahui terhadap teknologi adalah Luddisme, sebuah perlawanan terhadap otomatisasi awal dalam produksi tekstil. Otomatisasi telah mengakibatkan berkurangnya kebutuhan akan pekerja, sebuah proses yang dikenal sebagai pengangguran teknologi.
Antara tahun 1970-an dan 1990-an, teroris Amerika Ted Kaczynski melakukan serangkaian pengeboman di seluruh Amerika dan menerbitkan Manifesto Unabomber yang mengecam dampak negatif teknologi terhadap alam dan kebebasan manusia. Esai tersebut beresonansi dengan sebagian besar publik Amerika.[121] Hal itu sebagian terinspirasi oleh karya Jacques Ellul, The Technological Society.[122]
Beberapa subkultur, seperti gerakan keluar dari jaringan (off-the-grid), menganjurkan penarikan diri dari teknologi dan kembali ke alam. Gerakan ekodesa berupaya untuk membangun kembali harmoni antara teknologi dan alam.[123]

Rekayasa adalah proses tempat teknologi dikembangkan. Proses ini sering kali menuntut pemecahan masalah di bawah batasan yang ketat.[124] Pengembangan teknologi berorientasi pada "tindakan", sementara pengetahuan ilmiah pada dasarnya bersifat eksplanatoris.[125] Filsuf Polandia Henryk Skolimowski membingkainya seperti ini: "sains memusatkan perhatian pada apa yang ada, teknologi pada apa yang akan ada."[126]: 375
Arah kausalitas antara penemuan ilmiah dan inovasi teknologi telah diperdebatkan oleh para ilmuwan, filsuf, dan pembuat kebijakan.[127] Karena inovasi sering kali dilakukan di tepian pengetahuan ilmiah, sebagian besar teknologi tidak diturunkan dari pengetahuan ilmiah, melainkan dari rekayasa, utak-atik, dan kebetulan.[128]: 217–240 Sebagai contoh, pada tahun 1940-an dan 1950-an, ketika pengetahuan tentang turbulensi pembakaran atau dinamika fluida masih kasar, mesin jet ditemukan melalui proses "menjalankan perangkat hingga hancur, menganalisis apa yang rusak [...] dan mengulangi proses tersebut".[124] Penjelasan ilmiah sering kali menyusul perkembangan teknologi alih-alih mendahuluinya.[128]: 217–240 Banyak penemuan juga muncul dari kebetulan murni, seperti penemuan penisilin sebagai akibat dari kontaminasi laboratorium yang tidak disengaja.[129] Sejak tahun 1960-an, asumsi bahwa pendanaan pemerintah untuk penelitian dasar akan berujung pada penemuan teknologi yang dapat dipasarkan telah kehilangan kredibilitas.[130][131] Probabilis Nassim Taleb berpendapat bahwa program penelitian nasional yang menerapkan gagasan serendipitas dan konveksitas melalui metode coba-coba yang sering, lebih mungkin menghasilkan inovasi yang berguna daripada penelitian yang bertujuan untuk mencapai hasil spesifik.[128][132]
Meskipun demikian, teknologi modern kian bergantung pada pengetahuan ilmiah spesifik-domain yang mendalam. Pada tahun 1975, rata-rata terdapat satu sitasi literatur ilmiah dalam setiap tiga paten yang diberikan di AS; pada tahun 1989, angka ini meningkat menjadi rata-rata satu sitasi per paten. Rata-rata tersebut condong ke atas akibat paten yang berkaitan dengan industri farmasi, kimia, dan elektronik.[133] Sebuah analisis tahun 2021 menunjukkan bahwa paten yang didasarkan pada penemuan ilmiah rata-rata 26% lebih bernilai daripada paten setara yang tidak berbasis sains.[134]

Penggunaan teknologi dasar juga merupakan fitur dari spesies hewan nonmanusia. Penggunaan alat pernah dianggap sebagai karakteristik penentu genus Homo.[135] Pandangan ini tergantikan setelah ditemukannya bukti penggunaan alat di antara simpanse dan primata lainnya,[136] lumba-lumba,[137] dan gagak.[138][139] Sebagai contoh, para peneliti telah mengamati simpanse liar menggunakan alat mencari makan dasar, alu, tuas, menggunakan daun sebagai spons, serta kulit kayu atau tanaman rambat sebagai alat penduga untuk memancing rayap.[140] Simpanse Afrika Barat menggunakan palu batu dan landasan untuk memecahkan kacang,[141] begitu pula monyet capuchin di Boa Vista, Brasil.[142] Penggunaan alat bukanlah satu-satunya bentuk penggunaan teknologi oleh hewan; misalnya, bendungan berang-berang, yang dibangun dengan ranting kayu atau batu besar, merupakan teknologi dengan dampak "dramatis" pada habitat sungai dan ekosistem.[143]
Hubungan manusia dengan teknologi telah dieksplorasi dalam literatur fiksi ilmiah, misalnya dalam Brave New World, A Clockwork Orange, Nineteen Eighty-Four, esai-esai Isaac Asimov, dan film-film seperti Minority Report, Total Recall, Gattaca, dan Inception. Hal ini telah melahirkan genre cyberpunk distopia dan futuristik, yang menyandingkan teknologi futuristik dengan keruntuhan masyarakat, distopia, atau pembusukan.[144] Karya-karya cyberpunk yang terkenal meliputi novel Neuromancer karya William Gibson, serta film seperti Blade Runner, dan The Matrix.
Saya menemukan definisi konseptual yang paling berguna untuk studi ini adalah yang diberikan oleh Harvey Brooks, yang mendefinisikan teknologi ...sebagai 'pengetahuan tentang cara memenuhi tujuan manusia tertentu dengan cara yang dapat ditentukan dan direproduksi.'
The art of making a pottery consisting of a siliceous sandy body coated with a vitreous copper glaze seems to have been known unexpectedly early, possibly even as early as the period immediately preceding the Ist Dynasty (4000 B.C.).
Mountain and arctic ecosystems and species are particularly sensitive to climate change... As ocean temperatures warm and the acidity of the ocean increases, bleaching and coral die-offs are likely to become more frequent.