Dataran Kewu atau disebut juga sebagai Dataran Prambanan adalah dataran vulkanik subur yang membentang antara lereng Gunung Merapi dan Merbabu di utara serta Pegunungan Sewu di selatan; antara lembah Sungai Bengawan Solo di timur dan Sungai Progo di barat. Dataran Kewu mencakup wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Boyolali, dan Kota Surakarta di Provinsi Jawa Tengah.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Dataran Kewu atau disebut juga sebagai Dataran Prambanan (bahasa Jawa: ꦢꦠꦫꦤ꧀ꦏꦼꦮꦸcode: jv is deprecated , translit. Dataran Kewu) adalah dataran vulkanik subur yang membentang antara lereng Gunung Merapi dan Merbabu di utara serta Pegunungan Sewu di selatan; antara lembah Sungai Bengawan Solo di timur dan Sungai Progo di barat. Dataran Kewu mencakup wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta dan Kabupaten Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta, serta Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, Kabupaten Boyolali, dan Kota Surakarta di Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan catatan sejarah, kawasan ini dikenal sebagi wilayah pusat pemerintahan pada zaman Kerajaan Mataram Kuno dalam kurun abad ke-8 hingga ke-10 M. Selama lebih dari seribu tahun kawasan ini berperan penting dalam sejarah dan kebudayaan Jawa, karena memiliki banyak peninggalan sejarah yang sangat penting. Jika setiap candi dihitung cacah, maka periode Jawa Tengah abad ke-9 telah menghasilkan ribuan candi yang tersebar dari Dataran Tinggi Dieng, Dataran Kedu, hingga Dataran Kewu.[1]
Dataran Kewu serta jajaran gunung dan perbukitan yang di sekitarnya merupakan lokasi dari banyak ditemukannya candi Hindu dan Buddha. Tidak jauh di sebelah utara Prambanan terdapat reruntuhan candi Lumbung, Bubrah, dan Candi Sewu. Lebih jauh ke timur terdapat kompleks Candi Plaosan. Di barat terdapat Candi Kalasan dan Candi Sari. Sementara di atas perbukitan di selatan terdapat kompleks Situs Ratu Baka. Kawasan ini amat kaya akan peninggalan bersejarah. Dengan telah ditemukannya banyak situs arkeologi yang hanya berjarak beberapa kilometer — bahkan ada beberapa situs yang berjarak kurang dari satu kilometer satu sama lain — maka disimpulkan bahwa kawasan ini pernah menjadi pusat kehidupan politik, keagamaan, dan sosial, serta merupakan kawasan urban penting dalam sejarah peradaban di Indonesia. Meskipun berskala lebih kecil, dalam banyak hal kawasan ini dapat dibandingkan dengan situs arkeologi kota Angkor di Kamboja.

Selama berabad-abad, dataran Kewu yang dibayangi gunung Merapi, terkenal sebagai lahan pertanian yang subur dan sangat baik untuk pertanian padi. Ekonomi Jawa sangat bergantung pada pertanian padi, dan pranata politik Jawa kuno, dengan sistem politik, sosial, dan ekonominya yang tertata, telah tumbuh dan berkembang dengan bertumpu di dataran ini.
Gambar kegiatan bercocok tanam padi dapat ditemukan dalam ukiran relief di Borobudur dan Prambanan. Kerajaan Mataram kuno bergantung pada panen padi dan pajak beras yang ditarik dari rakyatnya. Sejak dahulu kala Jawa terkenal akan panen padinya yang berlimpah dan ekspor padinya, pada gilirannya pertanian padi berperan pada pesatnya pertumbuhan jumlah penduduk di pulau Jawa. Hingga kini lahan sawah telah membentuk bentang alam di dataran ini, cara hidup bercocok tanam padi tetap lestari hingga kini.
