Bioskop Manggarai adalah salah satu bioskop tua yang ada di Jakarta. Gedung bioskop ini terletak di Jalan Sultan Agung, Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta Selatan. Pada masa sekarang gedung bioskop ini telah berubah menjadi gedung pusat perbelanjaan Pasaraya Manggarai.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Bioskop Manggarai adalah salah satu bioskop tua yang ada di Jakarta. Gedung bioskop ini terletak di Jalan Sultan Agung, Pasar Manggis, Setiabudi, Jakarta Selatan. Pada masa sekarang gedung bioskop ini telah berubah menjadi gedung pusat perbelanjaan Pasaraya Manggarai.

Pada awalnya, Bioskop Manggarai adalah sebuah kolam renang (zwembad) yang diubah menjadi gedung bioskop pada era 1960-an. Kolam renang ini resmi dibuka pada bulan Maret 1934 yang memang diperuntukan penggunaanya untuk kalangan umum di Manggarai. Proses pengerjaan seluruh kompleks bangunan pemandian atau kolam renang memakan waktu selama hampir tujuh bulan.[1]
Dibangun pada masa Kolonial Belanda dan menghabiskan biaya 100.000 gulden. Menjadikan Kolam Renang (zwembad) Manggarai sebagai kolam renang terbaik dan termewah pada masa itu.[2]
Di Ibu Kota, selain di Manggarai kolam renang juga terdapat di Cikini, bersebelahan dengan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang sampai kini masih banyak didatangi pengunjung. Salah seorang jurnalis senior, Alwi Shahab hampir tiap pekan mendatangi kedua kolam renang ini.[3]
Gambaran mengenai keadaan serta fasilitas yang terdapat pada komplek pemandian atau kolam renang tersebut adalah sebagai berikut.:[4]

Sejak tahun 1960 sudah tidak banyak lagi masyarakat yang berkunjung ke Zwembad, pasalnya sudah banyak kolam renang baru yang dibangun di pinggiran Jakarta. Karena itu kolam renang ini dialih fungsikan menjadi bioskop.[1]
Dicatat oleh Firman Lubis dalam bukunya yang berjudul "Jakarta 1950–1970", pada masa itu interior dan fasilitas gedung bioskop Zwembad masih sangat sederhana tetapi tergolong bagus pada masa itu. Ketika itu ada 3 kelas karcis bioskop yang berbeda-beda tergantung harganya.[5]
Kelas paling murah adalah yang terdepan dan sering disebut kelas kambing. Kalau sehabis nonton di kelas ini, biasanya otot leher akan sakit dan kepala menjadi pusing.
— Firman Lubis, dalam buku "Jakarta, 1950-1970"
Di bioskop ini juga menjadi saksi banyak film-film Amerika Serikat yang diboikot layaknya produk Barat yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa. Bahkan Ketika itu American Motion Picture Association of Importers (AMPAI) yang terletak di Jl. Veteran pernah didemo para pemuda komunis, yaitu Pemuda Rakyat.[1] Mereka menuntut penghentian masuknya film-film Amerika yang dianggap berbau Nekolim. Pada masa itu dibentuk pula organisasi PAPFIAS atau Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperialis AS. Direktur AMPAI yaitu Bill Palmer dituduh agen CIA dan kelak bungalow nya di daerah Puncak diserbu dan dirusak massa.[6]
Setelah itu, bioskop ini digunakan dari tahun 1960 an sampai 1980 an. Kemudian tempat ini dibongkar oleh Abdul Latief yaitu pengusaha dan mantan Menteri Tenaga Kerja (1993–1998) dan Menteri Pariwisata, Seni, dan Budaya (1998) pada era Orde Baru (Orba).[1]
Sejak tahun 1970 an, Latief merupakan pengusaha yang mengelola swalayan dan memasarkan produk-produk kecil. Pada tahun 1981, Latief memodernisasi swalayannya dengan membangun Pasaraya Departement Store. Yang satu terletak di Blok M, dan masih beroperasi hingga saat ini, sedangkan yang satunya terletak di lahan bekas kolam renang Zwembad Manggarai.
Pada bulan Desember 1986, Pasaraya Manggarai resmi dibuka, begitupun dengan kolam renang yang sudah ada sejak zaman Belanda yang pada saat awal pembukaan Pasaraya, dipindah ke lantai paling atas. Namun, sejak pertengahan 1990an, kolam renang tersebut ditutup untuk umum. Pasaraya Manggarai sendiri sudah ditutup permanen pada pertengahan 2020, di tengah maraknya kasus Pandemi COVID-19 di Indonesia, hanya menyisakan gerai KFC dan MAKO yang tetap beroperasi melayani pelanggan.[1]