Taman Pemakaman Umum Petamburan atau TPU Petamburan adalah merupakan sebuah permakaman yang terletak di Jalan Aipda Karel Satsuit Tubun, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di Taman Pemakaman Umum ini terdapat mausoleum atau bangunan pelindung makam termegah di Asia Tenggara.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia


Taman Pemakaman Umum Petamburan atau TPU Petamburan adalah merupakan sebuah permakaman yang terletak di Jalan Aipda Karel Satsuit Tubun, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di Taman Pemakaman Umum ini terdapat mausoleum atau bangunan pelindung makam termegah di Asia Tenggara.[1]
Tempat Pemakaman Umum ini sudah ada semenjak masa penjajahan Belanda. Dalam sajak karya pujangga Chairil Anwar yang diresensi oleh Zeffry Alkatiri dalam buku "Post Kolonial dan Wisata Sejarah dalam Sajak", sudah terdapat pemisahan pemakaman, orang-orang Belanda di Menteng Pulo, keturunan Arab, orang Kristen di Petamburan, dan pribumi di Karet.[2]


Di Taman Pemakaman Umum Petamburan terdapat mausoleum atau pelindung makam yang disebut termegah di Asia Tenggara. Saat memasuki gerbang TPU Petamburan, pandangan pengunjung mungkin akan langsung tertuju pada mausoleum tersebut, karena letaknya memang tepat berada di tengah TPU. Bangunan tersebut berdiri megah, berbentuk sebuah kubah berwarna hitam, yang terbuat dari batu granit.[3]
Pembangunan Mausoleum itu dilakukan oleh istri OG Khouw. Lim Sha Nio selama empat tahun (1927-1931). OG Khouw sendiri wafat di Ragaz, Swiss pada 1 Juli 1927. Empat patung asal Italia bergaya Neorenaisans mengelilingi bangunan Mausoleum, yang melambangkan masa kehidupan manusia, yakni masa kanak-kanak, remaja, dewasa, dan lanjut usia.[4]
Sang istri, Lim Sha Nio membangun sebuah makam megah di Batavia, tepatnya di Petamburan yang kini menjadi Taman Pemakaman Umum. Lim menghabiskan dana 200.000 gulden atau setara Rp 3 miliar. Jumlah tersebut terbilang sangat fantastis pada zaman itu. Lim menggunakan jasa arsitek G Marcina, mendatangkan langsung batu marmer dari Italia, menghiasi makam dengan patung pahatan dari bongkahan marmer besar, dan merencanakan komplek pemakanan untuk keluarga Khouw.[5]
Dahulu, Mausoleum ini memiliki sebuah pintu kayu jati bergagang kuningan yang menjadi pelindung akses masuk ke dalam makam. Namun, karena faktor waktu dan vandalisme, akhirnya pintu itu dicopot dan diganti jeruji besi.[4] Masuk ke dalam Mausoleum, tampak sebuah ruangan kecil yang melingkar dengan penerangan seadanya berdinding marmer. Di salah satu sisinya terpampang marmer berwajah O.G Khouw dan istrinya Lim Sha Nio. Sayangnya, pasangan ini tidak memiliki keturunan, sehingga tidak ada yang menjaga keberlangsungan Mausoleum ini.[4]

Selain Mausoleum O.G Khouw, di Taman Pemakaman Umum Petamburan, terdapat makam penganut Yahudi. Kepala TPU Petamburan, Ikhsan R Sururi mengatakan, ketujuh makam itu, adalah Joshua Moses Garet meninggal 1942, J.E Ballas meninggal tahun 1943, Sasson Saul Aarun meninggal tahun 1950. Kemudian, Saul Jacob Aslan meninggal tahun 1959, Esra Solomon Joseph meninggal tahun 1959, Mrs. H. Khaza meninggal di umur 73 tahun, dan satu nisan berbahasa Ibrani yang tidak ada keterangan Latin.[6] Akan tetapi, hanya 3 makam yang bentuknya masih utuh dan empat lainnya sudah hancur. Salah satu makam tersebut berwujud prisma, dengan sudut lancip menghadap ke atas. Sayang, pada makam itu terdapat jejak vandalisme yang dilakukan oleh orang tak bertanggung jawab. Sementara satu makam lain berbentuk biasa tetapi Identitas Yahudi yaitu barisan huruf Ibrani dan bintang bersudut enam atau heksagram. Itu adalah tanda khas Yahudi yang disebut The Star of David atau Bintang Daud.[7][8]

Tak jauh dari Mausoleum OG Khouw, ada juga jejak sejarah lain peninggalan dari Jepang, yaitu Rumah Guci Abu. Rumah Guci Abu Jepang ini kental dengan nuansa oriental khas Jepang, pada bagian muka bangunan terlihat beberapa batu-batu alam yang dihiasi guratan kanji Jepang menjadi prasasti yang menyambut pengunjungnya.[9] Bangunan tersebut tidak dibuka secara umum untuk menjaga privasi dan keamanan dari abu jenazah yang disimpan di dalamnya. Bangunan itu biasanya dibuka dalam acara tertentu seizin dari pemilik dan pengelola tempat tersebut.[10]
Bangunan yang kental dengan nuansa khas Jepang itu menjadi tempat penyimpanan puluhan guci berisi abu jenazah warga Jepang yang meninggal. Hingga Oktober 2020, ada 79 guci abu tersimpan di sana. Pada bagian muka bangunan terlihat beberapa batu-batu alam yang dihiasi guratan kanji Jepang yang menjadi prasasti menyambut pengunjung. Tampak juga papan informasi untuk pengunjung dari Indonesia dengan ejaan Bahasa Indonesia lama “RUANG TEMPAT MENJIMPAN ABU2 DJENAZAH DJEPANG”.[11]