Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Bahasa Jawa Banyumasan

Bahasa Jawa Banyumasan ; penutur luar Banyumasan menyebutnya bahasa Ngapak yang berasal dari kata ngapa yang artinya mengapa, merupakan dialek bahasa Jawa yang konservatif. Banyumasan sejak dulu merupakan bagian dari Suku Jawa karena terdapat kompleks percandian Dieng yang merupakan peninggalan Kerajaan Medang di Banjarnegara dan Wonosobo selain itu juga ditemukan beberapa situs peninggalan Medang di Kebumen. Dialek Banyumasan dituturkan di wilayah Jawa Tengah bagian barat daya terutama daerah disekitar Sungai Serayu, Gunung Slamet ke arah timur hingga Dataran tinggi Dieng. lebih tepatnya di tiga eks-keresidenan yakni seluruh eks-keresidenan Banyumas, sebagian barat eks-keresidenan Kedu, dan sebagian selatan eks-keresidenan Pekalongan.

salah satu dialek dari bahasa Jawa Ngapak yang dituturkan oleh etnis Jawa Ngapak asal Banyumas
Diperbarui 24 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Bahasa Jawa Banyumasan
Bahasa Jawa Banyumasan
ꦧꦱꦗꦮꦧꦚꦸꦩꦱꦤ꧀
basa Jawa Banyumasan
Dituturkan diIndonesia
Wilayah
  • Jawa Tengah
    • eks-Keresidenan Banyumas
    • Kabupaten Kebumen (sebagian besar)
    • Kabupaten Wonosobo (sebagian)
    • Kabupaten Purworejo (beberapa kecamatan)
      • Kecamatan Bruno
      • Kecamatan Pituruh
    • Kabupaten Batang (bagian selatan)
    • Kabupaten Pekalongan (bagian selatan)
    • Kabupaten Pemalang (bagian selatan)
    • Kabupaten Brebes (bagian selatan, dekat perbatasan banyumas)
      • Kecamatan Sirampog
      • Kecamatan Paguyangan
    • Kabupaten Ciamis (bagian ujung timur)[1]
      • Kecamatan Lakbok
      • Kecamatan Purwadadi
    • Kabupaten Pangandaran (bagian ujung timur)[1]
      • Kecamatan Padaherang
      • Kecamatan Kalipucang
    • Kota Banjar (sebagian)
      • Kecamatan Langensari
Penutur
13.940.028 (2023)[2]
Rumpun bahasa
Lihat sumber templat}}
Beberapa pesan mungkin terpotong pada perangkat mobile, apabila hal tersebut terjadi, silakan kunjungi halaman ini
Klasifikasi bahasa ini dimunculkan secara otomatis dalam rangka penyeragaman padanan, beberapa parameter telah ditanggalkan dan digantikam oleh templat.
  • Austronesia Lihat butir Wikidata
    • Melayu-Polinesia Lihat butir Wikidata
      • Jawanik Lihat butir Wikidata
        Cari tahu mengapa.Halaman Jawanik masuk dalam cabang rumpun dari Sunda-Sulawesi yang oleh ahli linguistika dianggap usang dan telah digantikan oleh Melayu-Polinesia.
        • Jawa Lihat butir Wikidata
          • Dialek Barat
            • Jawa Banyumasan
Tampilkan klasifikasi manual
  • bahasa manusia
    • Austro-Tai
      • Austronesia
        • Melayu-Polinesia
          • bahasa Jawa Suntingan nilai di Wikidata
            • Jawa Banyumasan
    Tampilkan klasifikasi otomatis
    Posisi bahasa Jawa Banyumasan dalam dialek-dialek bahasa Jawa Sunting klasifikasi ini

    Catatan:

    Simbol "†" menandai bahwa bahasa tersebut telah atau diperkirakan telah punah
    • Jawa Modern
      • Barat
        • Banten-Cirebon
          • Banten Utara
          • Indramayu
          • Cirebon
        • Pesisir Lor
          • Tegal-Brebes
          • Pemalang
        • Pekalongan
        • Banyumasan
      • Tengah
        • Bagelen-Kedu
          • Bagelen
          • Kedu
        • Mataram
          • Solo-Yogya
          • Semarang-Demak-Kudus-Jepara
            • Semarang
            • Kudus
        • Blora
        • Madiun-Kediri
      • Timur
        • Arekan
          • Jombang
          • Surabaya
          • Malang-Pasuruan
          • Lumajang
        • Gresik
          • Diponggo
        • Tengger
        • Using-Banyuwangi
      • Mancadwipa
        • Karibia
        • Kaledonia Baru
    Sistem penulisan
    • Hanacaraka
    • Pegon (Arab-Jawa)
    • Latin
    Status resmi
    Diatur olehBalai Bahasa Provinsi Jawa Tengah
    Kode bahasa
    ISO 639-3–
    Glottologbany1247[3]
    IETFjv-x-HIS03796
    Lokasi penuturan
    Peta distribusi bahasa Jawa Banyumasan dengan legenda:
    Dialek Jawa Banyumasan sebagai mayoritas
    Dialek Jawa Banyumasan sebagai minoritas
    ProyekWiki Bahasa | Wikipedia | Kode sumber
     
    Lihat dalam mode terbatas
    Tampilkan peta yang diperbesar
    Tampilkan peta yang diperkecil
    Perkiraan persebaran penuturan bahasa ini.
    Peta bahasa lain
    Koordinat: 8°S 109°E / 8°S 109°E / -8; 109 Sunting di Wikidata
     Portal Bahasa
    L • B • PW   
    Sunting kotak info  Lihat butir Wikidata  Info templat
    Cari artikel bahasa
    Cari artikel bahasa
     
    Cari berdasarkan kode ISO 639 (Uji coba)
     
    Kolom pencarian ini hanya didukung oleh beberapa antarmuka
    Artikel bahasa sembarang
    Halaman bahasa acak

    Bahasa Jawa Banyumasan (bahasa Jawa: ꦧꦱꦗꦮꦧꦚꦸꦩꦱꦤ꧀code: jv is deprecated translit. basa Jawa Banyumasan); penutur luar Banyumasan menyebutnya bahasa Ngapak yang berasal dari kata ngapa yang artinya mengapa, merupakan dialek bahasa Jawa yang konservatif. Banyumasan sejak dulu merupakan bagian dari Suku Jawa karena terdapat kompleks percandian Dieng yang merupakan peninggalan Kerajaan Medang (Mataram Hindu) di Banjarnegara dan Wonosobo selain itu juga ditemukan beberapa situs peninggalan Medang di Kebumen.[4] Dialek Banyumasan dituturkan di wilayah Jawa Tengah bagian barat daya terutama daerah disekitar Sungai Serayu, Gunung Slamet ke arah timur hingga Dataran tinggi Dieng. lebih tepatnya di tiga eks-keresidenan yakni seluruh eks-keresidenan Banyumas, sebagian barat eks-keresidenan Kedu, dan sebagian selatan eks-keresidenan Pekalongan.[5]

    Wilayah eks-Keresidenan Banyumas meliputi Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, dan Cilacap, serta beberapa wilayah diluar eks-Keresidenan Banyumas seperti sebagian besar Kebumen, sebagian Wonosobo, Pemalang selatan, Pekalongan selatan, Batang selatan, Bruno dan Pituruh di Purworejo serta sebagian desa di kecamatan Sirampog dan Paguyangan di Kabupaten Brebes bagian selatan.

    Bahasa Jawa Banyumasan juga dituturkan hingga ke Kecamatan Lakbok dan Purwadadi di Kabupaten Ciamis, sebagian kecil Kota Banjar dan sebagian kecil di timur Kabupaten Pangandaran,[6] yang merupakan daerah perbatasan antara Jawa Barat dengan Jawa Tengah. Dialek Banyumasan di wilayah Jawa Barat telah tercampur dengan bahasa Sunda Priangan.[7]

    Dialek Banyumasan adalah salah satu dialek bahasa Jawa modern yang masih mempunyai kaitan erat dengan fonetik dengan bahasa Jawa Kuno[8] yang sudah tidak ditemui dalam Bahasa Jawa Baku (Solo) yakni dialek Banyumasan memiliki karakteristik pelafalan huruf ’a’ dan 'k' yang sangat tegas dan jelas serta pelafalan huruf 'h' 'g 'w' 'y' dengan jelas[9][10] selain itu masih banyak kosakata kawi yang dilestarikan dalam dialek Banyumasan.

    Sejarah

    Sejumlah ahli bahasa Jawa menyebut bahasa Jawa Banyumasan sebagai bentuk bahasa Jawa modern tahap awal setelah bahasa Jawa Tegal dan Bahasa Jawa Indramayu, Bahasa Banyumasan juga merupakan turunan langsung dari Bahasa Jawa Pertengahan begitupun seluruh dialek bahasa Jawa modern lainya, yang membedakan Banyumasan masih mempertahankan beberapa karakteristik lama.[11][12]

    Bahasa Jawa Banyumasan mengalami tahap-tahap perkembangan sebagai berikut:

    • Abad ke-6 hingga ke-12, diklasifikasikan sebagai bagian dari bahasa Jawa kuno.
    • Abad ke-13 hingga ke-15, berkembang menjadi bahasa Jawa abad pertengahan.
    • Abad ke-16 hingga ke-19, berkembang menjadi Bahasa Jawa Baru dialek Banyumasan, yang terpisah agak jauh dengan dialek lain dalam bahasa Jawa.

    Tahap-tahapan perkembangan tersebut sangat dipengaruhi oleh munculnya kerajaan-kerajaan di pulau Jawa yang juga menimbulkan tumbuhnya budaya-budaya feodal. Implikasi selanjutnya adalah pada perkembangan bahasa Jawa yang melahirkan tingkatan-tingkatan bahasa berdasarkan status sosial. Namun, pengaruh budaya feodal ini tidak terlalu signifikan memengaruhi masyarakat di wilayah Banyumasan. Meskipun demikian, bahasa krama tetap dibutuhkan untuk berbagai acara formal dan ritual keagamaan. Terdapat perbedaan yang cukup mencolok antara bahasa Banyumasan dengan bahasa Jawa standar sehingga di masyarakat Banyumasan timbul istilah bandhêkan untuk merepresentasikan gaya bahasa Jawa standar, atau biasa disebut bahasa Jawa Wetanan (dialek timur).[13]

    Menurut M. Koderi, seorang pakar budaya dan bahasa Banyumasan, kata bandhêk secara morfologis berasal dari kata gandhêk yang berarti 'pesuruh' (orang yang diperintah), maksudnya 'orang suruhan raja yang diutus ke wilayah Banyumasan'. Para 'pesuruh' ini tentu menggunakan gaya bahasa Jawa standar (Surakarta–Yogyakarta) yang memang berbeda dengan bahasa Jawa Banyumasan.[14]

    Berikut ini dikutip dari perkataan Ahmad Tohari tentang bahasa Jawa Banyumasan.

    Dalam kenyataan sehari-hari keberadaan basa Banyumasan termasuk dialek lokal yang sungguh terancam. Maka kita sungguh pantas bertanya dengan nada cemas, tinggal berapa persenkah pengguna basa Banyumasan 20 tahun ke depan? Padahal, bahasa atau dialek adalah salah satu ciri utama suatu suku bangsa. Jelasnya tanpa basa Banyumasan sesungguhnya "wong Penginyongan" boleh dikata akan Terhapus dari peta etnik bangsa ini… Mana bacaan teks-teks lama Banyumasan seperti babad-babad Kamandaka, misalnya, malah lebih banyak ditulis dalam dialek Jawa Wetanan. Jadi sebuah teks yang cukup mewakili budaya dan semangat "wong Penginyongan" harus segera disediakan.

    Sebuah fakta empiris dikemukakan oleh Ahmad Tohari, menurutnya penutur asli bahasa Jawa Banyumasan akan 'mengalah' jika berbicara dengan penutur bahasa Jawa Wetanan (dialek Surakarta-Yogyakarta) banyak juga yang menggunakan Bahasa Indonesia ketika bertemu dengan orang Wetanan. Alasannya, penutur bahasa Jawa Banyumasan tidak ingin dicap sebagai 'orang rendahan' karena menggunakan 'bahasa berlogat kasar' selain itu juga untuk mengindari ketidaksalingpahaman dengan kedua dialek tersebut.[15]

    Kosakata

    Perbandingan kosakata bahasa Jawa Banyumasan dengan bahasa Jawa standar (Surakarta–Yogyakarta). Diantaranya masih banyak kosakata jawa kuno (kawi) yang masih dilestarikan dalam dialek Banyumasan, selain itu terdapat beberapa kosakata banyumasan yang tidak dapat ditemui di dialek/bahasa manapun.

    Jawa Banyumasan Jawa standar
    (Solo–Yogya)
    Glosa
    nyong aku, awakku, kulå saya
    têk tak / dak kata ganti orang (aku / saya)
    rika / ko (banyumas)

    rika / koe (cilacap)

    sira (kecamatan bruno)

    kowe, sampéyan anda
    awaké dhéwék, dhéwék kitå, awaké dhéwé kami
    dhéwék / dhéwékan dhéwé sendiri
    rika kabéh (umum),

    sira kabeh (kecamatan bruno)

    kowé kabéh kalian
    dhisit, dhingin, dhipit dhisìk, dhimìn duluan
    maring / aring, mêng menyang ke (suatu tempat)
    baén / baé waé saja
    maning maneh, mêneh lagi
    ulih oléh dapat
    ora nana, langka ora ånå, ora enek tak ada
    pérêk, édhêk cêdhak dekat
    enggane umpamane seumpama
    goleti goleki mencari
    ngasi, kosi, ngantek nganti, ngasi sampai
    liren leren istirahat
    jiot, jukut, ngemet, ngalap jupuk ambil
    jiotêna, jukutna, jukutakên jupukake/jupuknå mengambikan/ambilkan
    gigal tibå jatuh
    ganu, gêmiyen biyen dahulu
    gili dalan jalan raya
    gutul, gadug tekan sampai
    klalen lali [a] lupa
    kiwé kiwå kiri
    kiyé, ikih, keh[b] iki, ki ini
    kuwé, iku kuwi, iku itu
    kéné, mengéneh kéné, mréné sini
    kana, menganah kånå, mrånå sana
    kêpriwé, kêpribe kêpiyé, piyé bagaimana
    dhêlêng, pandeng dhêlok, dhêlêng sawang lihat
    jorna jarke, loske, benke biarkan
    udu, séjén dudu, bedå, seje bukan, beda
    égin, tégin isih masih
    kêncot luwé / ngêlih lapar
    kayong ketoke / katone kelihatanya, agaknya
    teyeng, bisa biså, iså dapat / bisa
    sêlang / nyêlang silih / nyilih pinjam / Meminjam
    mêlas mêsakke (mêlasaké) kasihan
    nunggang, numpak numpak menaiki kendaraan
    mandan rådå agak
    maen, maer, apik apik bagus
    nglombo, nglembo ngapusi berbohong
    umah omah rumah
    gêmblung kênthìr, gêndhêng gila
    lêngub bodho bodoh
    gêdhagar-dhagar,

    kesusu

    kêsusu terburu-buru
    sêkang såkå dari
    tidokna wenehi wêruh ditunjukkan
    abluk lêbu debu
    nini / kaki simbah lanang / simbah wadon / simbah wedok, nini / kaki (jarang digunakan) nenek / kakek
    aub iyup teduh
    mbêkayu/yayu mbak kakak perempuan
    mbokan menåwå barangkali
    naming, ningan, ningén nanging tetapi
    batir kåncå teman
    sêtitik sithik sedikit
    bodin telå singkong
    entong entek habis
    bêbêh malês, wêgah tidak Mau
    jambal gadho makan lauk tanpa nasi
    kobar, kobong kobong terbakar
    kawus jidhor, rasaknå rasain, sukurin
    lempog / lempogên kêsêl capek
    ngodé nyambut gawe kerja
    amlêng suwung sunyi, Sepi
    sêngit gêthing, sengit benci
    palangapa ra ånå salahe tidak ada salahnya
    jagong lungguh duduk
    ngêsog, dalahi seleh menaruh
    ngêmèk, dêmok dêmek, demok memegang
    gandhul kates pepaya
    mayêng kêrêp lungå sering pergi
    kacokan kebangêtên keterlaluan
    kêwênangan konangan ketahuan
    kêsuh nêsu marah
    gagiyan, mageh, mayuh ndang, gage cepat-cepat
    gêsêng gosong hangus (makanan)
    damoni sêbul, damoni tiup
    gêring kuru,

    gêring (di jawa baku bisa berarti sakit maupun kurus)

    kurus
    cingire lambene mulutnya
    cungur[c] irung hidung

    Berikut ini perbandingan kosakata bahasa Jawa Banyumasan, Tegal, Pekalongan, Indramayu, dan Banten yang termasuk kedalam rumpun dialek Jawa Kulonan.

    Banyumasan Tegal Pekalongan Indramayu Banten Glosa
    inyong, nyong ênyong, nyong, aku nyong, aku kula, réang, isun kitê saya
    rika, ko, koè, sira (dialek bruno) kowên, rika sampéyan, kowé sira, ira sirê, irê Anda, kamu
    awaké dhéwék awaké dhéwék awaké dhéwék kita kabeh kitê kami
    rika kabèh,

    sira kabeh (dialek bruno)

    kowên kabèh kowé kabèh sira kabèh sirê kabèh kalian
    kiyé, iki kiyé, iki iki kién, iki kién, puniki, iki ini
    kuwé, ikuh, iku kuwé, kaé kuwi, ikuh kuèn, kuh, iku kuèn, iku itu
    kéné, ngénéh, mengené kéné, méné kéné, méné, mréné kéné, méné kéné, mérené sini
    kana, mengana kana, mana kana, mono, mrono kana, mana kana, merana sana
    kêpriwé, kêpribé kêprimén, kêpribén kêpriyé, kêpime kêpribén, kêpriwén, kêpriyén kêprémén, kêlipun, kelemen bagaimana
    ora, udu, séjén ora, dudu, bélih, béléh, séjén ora, udu, séjén ora, dudu, bêlih, bli, séjén orê, udu tidak, bukan

    Kosakata Dialek Wonosobo

    Dialek yang dituturkan di Wonosobo, walaupun menggunakan fonem a seperti apa, pira, ana, tetapi untuk fonem [i] dan [u] dalam sub-dialek wonosobo terkadang berubah menjadi [e] dan [o] (mirip dengan dialek Jawa Timuran) semisal dulur menjadi dolor, titip menjadi tétép.

    Selain itu di beberapa kecamatan memiliki ciri khas lain seperti huruf y dibaca z, misalnya mbok ayu (kakak perempuan) menjadi mbok azu, iya menjadi iza, dan dibeberapa kata ditambah huruf /h/ dan /e/, semisal bayar menjadi bheyar, ngarani menjadi ngêrêni dan sebagainya.

    Wanasaba Jawa standar
    (Solo–Yogya)
    Glosa
    nyong aku aku
    sira, rika, deke kowe, sampeyan kamu
    keprige kepiye bagaimana
    kayang kono / ngono kåyå ngono seperti itu
    kayang kene / ngene kåyå ngene seperti ini
    mbok ayu mbakyu kakak perempuan
    wae, bae wae saja
    nana / ora nana ora ånå tidak ada
    hisa biså, iså kakak perempuan
    milu (tetap dibaca milu)

    melu ikut
    isuk (tetap dibaca isuk)

    esùk pagi
    ngelih ngelih, luwe lapar
    gak, gapanan arep akan
    kencot kepidak terinjak
    géndhùl, gùndhùl (dibaca gendhol atau gondhol) kates pepaya
    kasi nganti, ngasi sampai
    kêbêg kebak penuh
    lumbu lompong daun talas
    manja, nandur nandur menanam
    gudhug (tetap dibaca gudhug bukan godhog)

    godhog merebus
    uyud (tetap dibaca uyud bukan oyod)

    oyod akar
    lêbar bar, rampung selesai
    wonganan la wong orang
    mbeke ben, gen, amrih, supaya supaya
    hudu dudu bukan
    hurung (dibaca horong)

    urung, durung belum
    masuhi, wisùh wisuh mencuci
    mayar penak mudah
    montor mobil mobil
    mbêdi, têmên, bangêt bangêt sangat
    mbêrùh ora ngerti tidak paham
    ngliwêt adang masak nasi
    lading peso pisau
    paha ugå juga
    rêmpon-rêmpon jagongan mengobrol

    Lihat pula

    • iconPortal Bahasa
    • flagPortal Indonesia
    • Portal Jawa
    • Bahasa Jawa Tegal
    • Bahasa Jawa Pekalongan
    • Bahasa Jawa Indramayu
    • Bahasa Jawa Serang

    Referensi

    1. 1 2 "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2022-05-13. Diakses tanggal 2024-05-13. ;
    2. ↑ "Tabel Hasil Sensus Penduduk 2010 Provinsi JAWA Tengah". bps.go.id. Badan Pusat Statistik. Diarsipkan dari asli tanggal 28 Oktober 2011. Diakses tanggal 29 Mei 2020. ;
    3. ↑ Hammarström, Harald; Forkel, Robert; Haspelmath, Martin, ed. (2023). "Jawa Banyumasan". Glottolog 4.8. Jena, Jerman: Max Planck Institute for the Science of Human History. ; ;
    4. ↑ https://www.kebumenekspres.com/2017/08/talangpati-situs-peninggalan-mataram.html?m=1.
    5. ↑ Budiono Herusasoto (2008) Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa Dan Watak
    6. ↑ Peta Bahasa Jawa Provinsi Jawa Barat. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
    7. ↑ Politik Mataram yang Membentuk Bahasa Jawa Banyumasan
    8. ↑ Ahmad Tohari, dkk (2014). Kamus Bahasa Jawa Banyumasan-Indonesia. Semarang: Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah. ISBN 9786027664630.
    9. ↑ Mujiastuti, Gatikasari; Rahardjo, Turnomo (2023-07-04). "IDENTITAS DIALEK BANYUMASAN SEBAGAI KONSTRUKSI BUDAYA STUDI PENGGUNAAN DIALEK BANYUMASAN DI KALANGAN PENUTUR ASLI BANYUMAS YANG BERADA DI SEMARANG". Interaksi Online. 11 (3): 300–309.
    10. ↑ Mujiastuti, Gatikasari; Rahardjo, Turnomo (2023-07-04). "IDENTITAS DIALEK BANYUMASAN SEBAGAI KONSTRUKSI BUDAYA STUDI PENGGUNAAN DIALEK BANYUMASAN DI KALANGAN PENUTUR ASLI BANYUMAS YANG BERADA DI SEMARANG". Interaksi Online. 11 (3): 300–309.
    11. ↑ Budiono Herusasoto (2008) Banyumas: Sejarah, Budaya, Bahasa Dan Watak
    12. ↑ Orang Ngapak Bukannya Kasar, Tapi Blak-blakan dan Apa Adanya
    13. ↑ "Bupati Luncurkan Aplikasi Kamus Bahasa Banyumas" [Banyumas Regent Launches Banyumasan Language Dictionary Application]. banyumaskab.go.id. Diarsipkan dari asli tanggal 13 January 2020. Diakses tanggal 15 February 2020.
    14. ↑ Dwi Meilani. "MAKALAH BUDAYA BANYUMASAN".
    15. ↑ Wicaksono, Wilibrordus Megandika (29-05-2023). "Ahmad Tohari Kembali Ingatkan Pentingnya Kesetaraan" (Online). www.kompas.id. Kompas. Diakses tanggal 31-03-2024.

    Pranala luar

    Wikipedia juga mempunyai edisi Bahasa Jawa Banyumasan
    • Pedoman Umum Ejaan Bahasa Jawa (PUEBJ)
    • Leksikon bahasa Jawa di Sastra.org
    • Bausastra Jawa oleh W.J.S. Poerwadarminta
    • Kamus bahasa Indonesia-Jawa
    • Kamus bahasa Jawa-Inggris di SEAlang Projects
    • Kamus bahasa Jawa Banyumasan - Indonesia—kamus bahasa Jawa dialek Banyumasan terbitan Balai Bahasa Provinsi Jawa Tengah
    • Kata - kata umum dialek banyumasan—sebagai sarana belajar orang - orang diluar wilayah BRALINGMASCAKEB
    • l
    • b
    • s
    Bahasa Jawa
    Penulisan
    • Buda
    • Carakan
    • Cacarakan
    • Kawi
    • Latin
    • Pegon
    • Rikasara
    Aksara Jawa
    Tingkatan
    Bahasa
    • Ngoko
      • lugu
      • alus
    • Krama
      • lugu
      • alus
    Kosakata
    • Ngoko
    • Krama-ngoko
    • Krama
      • krama madya
    • Krama inggil
      • krama andhap
    Dialek
    Bagian Barat
    • Banten
    • Indramayu
    • Cirebon
    Bagian Tengah
    • Banyumas
    • Kedu
    • Mataram (standar)
    • Mataraman
    Pesisiran
    • Tegal
    • Pekalongan
    • Semarang
    • Muria
    Bagian Timur
    • Jombang
    Arekan
    • Surabaya
    • Malang
    Bahasa terkait
    • Bagongan
    • Jawa Kuno
      • Kawi (kesusastraan)
    • Osing
    • Suriname
    • Tengger
    Topik terkait
    • Angka
    • Jawanisme
    • Sastra Jawa
    • Kongres
      • bahasa
      • aksara
    • Wikipedia
    • Blok Unicode
    1. ↑ Sedangkan dalam dialek Banyumasan, lali memiliki arti 'tidur pulas'.
    2. ↑ merupakan singkatan dari kata ikih / Iki
    3. ↑ Sedangkan dalam bahasa Jawa Standar, cungur memiliki konotasi kasar yakni berarti 'mulut' hewan.

                                                                                                                          Bagikan artikel ini

                                                                                                                          Share:

                                                                                                                          Daftar Isi

                                                                                                                          1. Sejarah
                                                                                                                          2. Kosakata
                                                                                                                          3. Kosakata Dialek Wonosobo
                                                                                                                          4. Lihat pula
                                                                                                                          5. Referensi
                                                                                                                          6. Pranala luar

                                                                                                                          Artikel Terkait

                                                                                                                          Jawa Tengah

                                                                                                                          provinsi di Pulau Jawa, Indonesia

                                                                                                                          Kota Tegal

                                                                                                                          kota di Provinsi Jawa Tengah

                                                                                                                          Bahasa Cirebon

                                                                                                                          dialek bahasa Jawa yang dituturkan oleh masyarakat Cirebon dan sekitarnya

                                                                                                                          Jakarta Aktual
                                                                                                                          Jakarta Aktual© 2026