Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Seroja Putih

Seroja Putih mengacu pada berbagai kelompok agama dan politik yang muncul di Tiongkok selama berabad-abad. Pada awalnya, nama ini dikaitkan dengan organisasi Buddhis Tanah Suci yang berusaha untuk mempromosikan praktik-praktik kebaktian yang berfokus pada kelahiran kembali di Tanah Sukhavati. Masyarakat awal ini menekankan keselamatan spiritual melalui keyakinan, pelafalan nama Amitābha (念佛), dan kepatuhan terhadap ajaran moral.

Kelompok keagamaan yang berasal dari Tiongkok
Diperbarui 12 Juni 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Seroja Putih
Artikel ini berisi tentang gerakan agama dan politik. Untuk serial televisi, lihat The White Lotus.
Seroja Putih
白蓮教code: zh is deprecated code: zh is deprecated
Perkumpulan Seroja Putih, ca Ming—Qing
PenggolonganKepercayaan keselamatan Tiongkok
OrientasiAjaran Maitreya
BahasaTionghoa
PendiriHuiyuan
DidirikanSemasa Dinasti Jin
Gunung Lu, Jiujiang
Terpecah dariBuddhisme Tanah Murni
SerapanTionghoa Manikeanisme
Bagian dari seri tentang
Kepercayaan tradisional Tionghoa
华人民间信仰
Penyesuaian gaya dari grafem 禄 lù atau 子 zi, masing-masing berarti "kemakmuran", "memajukan", "kesejahteraan" dan "anak", "keturunan". 字 zì, berarti "kata" dan "simbol", adalah kata yang asalnya sama dari 子 zi dan menggambarkan seorang "anak" yang dinaungi di bawah sebuah "atap". Simbol ini pada akhirnya merupakan representasi kutub langit utara (Běijí 北极) dan konstelasi berputarnya, dan oleh karenanya setara dengan simbol Eurasia swastika, 卍 wàn.
Konsep
  • Tàidì 太帝
  • Tiān 天
  • Shàngdì 上帝
  • Qì 气
  • Shén 神
  • Líng 灵
  • Xiǎnlíng 显灵
  • Yīnyáng 阴阳
  • Hundun
  • Mìngyùn 命运
  • Yuánfèn 缘分
  • Bàoyìng 报应
  • Wù 悟
  • Lóng 龙
  • Fènghuáng 凤凰
Teori
  • Teologi Tionghoa
  • Mitologi Tionghoa
  • Astrologi Tionghoa
  • Shio Tionghoa
  • Mitos penciptaan Tionghoa
  • Konsep dunia spiritual Tionghoa

Model kemanusiaan:

  • Xiān 仙
  • Zhēnrén 真人
  • Wénwǔ 文武
Dewa-Dewi
  • Kaisar Giok 玉帝
  • Xīwángmǔ 西王母
    • Wúshēng Lǎomǔ 無生老母
  • Dòumǔ 斗母
  • Pángǔ 盘古
  • Fúxī 伏羲
  • Nǚwā 女娲
  • Shénnóng 神农
  • Lóngwáng 龙王
  • Yánluówán 阎罗王
  • Kaisar Kuning 黃帝
  • Kwan Im 觀音
  • Guānyǔ 關羽
  • Dewa Kekayaan 财神
  • Dewa Bumi 土地公
  • Delapan Dewa 八仙
  • Jìgōng 濟公
  • Bǎoshēng Dàdì 保生大帝
  • Māzǔ 妈祖
  • Dewa-dewi Taoisme
Praktik
  • Fēnxiāng 分香
  • Jìngxiāng 敬香
  • Jìngzǔ 敬祖
  • Fēngshuǐ 风水
  • Miàohuì 庙会
  • Shamanisme Wū 巫
  • Jītóng 乩童
  • Bǎojuàn 宝卷
Institusi dan kuil
  • Xínghǎode 行好的
  • Zōngzú Shèhuì 宗族社会
  • Kelenteng 廟
  • Cítáng 祠堂
  • Asosiasi Kuil Rakyat Tionghoa
    中国民间寺庙文化管理协会
Festival
  • Tahun Baru Imlek
  • Qīngmíng 清明
  • Zhōngyuán 中元
    • Yúlánpén 盂蘭盆
  • Zhōngqiū 中秋
  • Jiǔhuángyé 九皇爷
  • Qīxī 七夕
  • Duānwǔ 端午
Budaya dan tradisi
Wujud budaya:
  • Kepercayaan pemujaan leluhur
  • Pemujaan komunal pada Dewa
  • Shíliáo 食疗
  • Fēngshuǐ 风水
  • Pemujaan Dewi Ibu 母道
  • Kepercayaan Tiongkok Timur Laut
  • Pengobatan tradisional 中医
  • Qìgōng 气功

Tradisi ritual:

  • Fǎjiào 法教
  • Jītóng 乩童
  • Nuó 傩
  • Wūjiào 巫教

Tradisi bakti:

  • Mazuisme 妈祖信俗
  • Pemujaan Wángyé 王爷
Pemikiran utama
  • Konghucu 儒教
    • Lǐjiào 礼教
  • Neo-Konfusianisme 理学
  • Taoisme 道教
  • Tridharma 三教
  • Aliran pemikiran lainnya

Sekte dan majelis Konghucu:

  • Kǒngshènghuì 孔圣会
  • Majelis Konghucu Indonesia
  • Dàodéhuì 道德会
  • Rúzōng shénjiào 儒宗神教
  • Xuānyuándào 軒轅道
  • Tàigǔ 太谷
Agama keselamatan
Zhenkong, "Kekosongan Kebenaran".
Zhenkong, "Kekosongan Kebenaran".
  • Maitreyanisme 弥勒教
  • Seroja Putih 白蓮教
  • Bāguà dào 八卦道
  • Hóngyáng jiào 弘陽教
  • Luójiào 罗教
    • Zhāijiāo 斋教
    • Xiāntiāndào 先天道
    • Yīguàndào 一贯道
    • Mílè Dàdào 弥勒大道
  • Déjiào 德教
  • Jiǔgōngdào 九宫道
  • Tiāndì huì 天地會
  • Tiāndìjiào 天帝教
  • Luanisme 儒宗神教
  • Sānyījiào 三一教
  • Wéixīnjiào 唯心教
  • Zàilǐjiào 在理教
Kepercayaan terkait
  • Běnzhǔjiào 本主教
  • Bìmójiào 毕摩教
  • Bon
  • Buddhisme Han 汉传佛教
  • Dōngbā 东巴
  • Kepercayaan tradisional Miao
  • Kepercayaan tradisional Vietnam
  • Kepercayaan tradisional Qiang
  • Kepercayaan tradisional Yao
  • Kepercayaan tradisional Zhuang
  •  Portal Agama
  • l
  • b
  • s

Seroja Putih (Hanzi sederhana: 白莲教; Hanzi tradisional: 白蓮教; Pinyin: Báiliánjiào; Wade–Giles: Pai-lien chiao) mengacu pada berbagai kelompok agama dan politik yang muncul di Tiongkok selama berabad-abad. Pada awalnya, nama ini dikaitkan dengan organisasi Buddhis Tanah Suci yang berusaha untuk mempromosikan praktik-praktik kebaktian yang berfokus pada kelahiran kembali di Tanah Sukhavati. Masyarakat awal ini menekankan keselamatan spiritual melalui keyakinan, pelafalan nama Amitābha (念佛), dan kepatuhan terhadap ajaran moral.

Namun, seiring berjalannya waktu, istilah “Seroja Putih” menjadi terkait dengan beragam gerakan keselamatan dan apokaliptik, yang sering kali memadukan elemen-elemen agama Buddha, Taoisme, dan agama rakyat Tiongkok. Gerakan dari kelompok-kelompok ini biasanya meramalkan akan datangnya Vidyārāja (明王) dan Buddha Maitreya dalam waktu dekat. Ketika sekte Seroja Putih berkembang, mereka menarik perhatian banyak orang Tionghua Han yang menemukan kecocokan dan kenyamanan dalam pemujaan terhadap Wusheng Laomu / "Bunda Suci Abadi" (Hanzi sederhana: 无生老母; Hanzi tradisional: 無生老母), yang diyakini akan membawa pulang seluruh anak-anaknya kembali ke kampung halaman di Surga.

Pada masa Dinasti Yuan, Seroja Putih memiliki keterkaitan dengan Maniisme, Pemberontakan Serban Merah, Maitreyanisme.[1] Terdapat buku khusus yang menyajikan hubungan antara Lotus Putih pada masa Dinasti Yuan akhir dan berdirinya Dinasti Ming.[2]

Beberapa dari kelompok ini mendukung pemberontakan bersenjata melawan pemerintah Tiongkok, seperti pada masa Pemberontakan Seroja Putih di era Qing (1794-1804).

Sejarah

Asal Mula

Latar belakang religius sekte Seroja Putih berawal dari berdirinya Perkumpulan Seroja Putih (白蓮社) di Kuil Donglin di Gunung Lu oleh Lushan Huiyuan (334-416).[3] Selama periode Song Utara (960-1126), Perkumpulan Seroja Putih dapat ditemukan di seluruh Tiongkok bagian selatan, menyebarkan ajaran Tanah Murni dan metode meditasi bersama mereka.[4] Antara abad ke-9 dan ke-14, umat Manikheisme Tiongkok semakin melibatkan diri mereka dengan aliran Tanah Murni.[5] Melalui interaksi yang erat ini, Manikheisme memiliki pengaruh yang besar terhadap sekte Buddha Maitreya Tiongkok dalam tradisi Tanah Suci, berlatih bersama dengan para penganut Buddha sehingga kedua aliran tersebut menjadi sulit dibedakan.[6]

Perkembangan selanjutnya

Selama abad ke-12, seorang biksu Buddha, Mao Ziyuan (茅子元) (c. 1096-1166; nama Dharma: Cizhao (慈照)), mengembangkan Aliran Seroja Putih (白蓮宗) untuk menyatukan pengikut Seroja Putih yang tersebar. Para pengikutnya kemudian dikenal sebagai Vegetarian Seroja Putih (白蓮菜).[7] Dia mendirikan Kuil Pertobatan Seroja (蓮懺堂) di mana dia mengkhotbahkan ajaran-ajaran dari Aliran Seroja Putih, yang menjadi dasar dari agama Seroja Putih (白莲敎).[4] Agama Seroja Putih ini merupakan sebuah gerakan gabungan antara agama Buddha dan Manikheisme yang menekankan pada keyakinan atas Buddha Maitreya dan vegetarisme yang ketat, yang mengizinkan pria dan wanita untuk berinteraksi secara bebas, yang secara sosial saat itu dianggap sangat mengejutkan.[8]

Perkembangan menjadi perkumpulan rahasia

Selama akhir abad ke-13, kekuasaan Dinasti Yuan Mongol atas Tiongkok memicu demonstrasi kecil namun populer untuk menentang kekuasaannya. Ketika demonstrasi meluas, penganut Seroja Putih ikut serta dalam beberapa protes ini,[9] sehingga membuat pemerintah Yuan melarang sekte Seroja Putih dan menganggapnya sebagai agama heterodoks (宗教异端), dan memaksa para anggotanya untuk bersembunyi dan beroperasi secara diam-diam. Setelah mejadi sebuah perkumpulan rahasia, Seroja Putih menjadi organisasi keagamaan sekaligus alat perlawanan nasional. Ketakutan akan perkumpulan rahasia ini berlanjut dalam hukum; Kode Hukum Qing Agung, yang berlaku hingga tahun 1912, berisi bagian berikut:

"Semua perkumpulan yang menamakan diri mereka Seroja Putih, perkumpulan Buddha Maitreya, atau agama Mingtsung (Manikheisme), atau aliran Awan Putih, dan lain-lain, bersama dengan semua orang yang melakukan praktik menyimpang dan sesat, atau yang di tempat-tempat rahasia memiliki cetakan dan gambar, mengumpulkan orang-orang dengan membakar dupa, bertemu pada malam hari dan berpencar pada siang hari, dengan demikian menghasut dan menyesatkan orang-orang dengan dalih memupuk kebajikan, akan dihukum.”[10]

Seperti perkumpulan rahasia lainnya, mereka menutupi kegiatan mereka yang tidak biasa atau terlarang sebagai “upacara pembakaran dupa.”[10] Salah satu tokoh kelompok Seroja Putih saat itu adalah seorang biksu bernama Pudu (普渡) yang tinggal di biara Donglin di Gunung Lu, Jiangxi. Dia berusaha keras menjaga Seroja Putih tetap ortodoks sesuai dengan tradisi dari Huiyuan dan Mao Ziyuan. Larangan terhadap gerakan Seroja Putih sempat dihapus oleh kaisar yang baru.  Akan tetapi, gerakan ini hanya memiliki status hukum hingga tahun 1322, dan selanjutnya dilarang lagi.[11] Terlepas dari usaha gigih ortodoksi oleh Pudu, persepsi publik terhadap kelompok-kelompok Seroja Putih semakin lama semakin didominasi oleh aliran-aliran heterodoks yang menggunakan nama yang sama.[12]

Revolusi Seroja Putih

Artikel utama: Pemberontakan Serban Merah

Seroja Putih selanjutnya menjadi lahan subur untuk mengobarkan pemberontakan.

Doktrin Seroja Putih dan upacara keagamaan, khususnya upacara “pembakaran dupa” yang dalam pikiran rakyat menjadi ciri khas mereka, digabungkan dengan doktrin dan ritual sekte Maitreya; yang menghasilkan ideologi yang koheren di antara kelompok-kelompok pemberontak, mempersatukan mereka dalam tujuan yang sama dan membentuk kedisiplinan yang dapat digunakan untuk membangun sebuah gerakan yang luas, merekrut tentara, dan membangun pemerintahan sipil.[13]

Seorang biksu Buddha dari Jiangxi bernama Peng Yingyu yang menggabungkan ajaran Seroja Putih dengan keyakinan Maitreyanisme dan akhirnya mengorganisir pemberontakan di Hunan pada tahun 1330-an dengan memimpin pasukan yang berjumlah lebih dari lima ribu orang.[14] Meskipun pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, Peng selamat dan bersembunyi di Anhui, kemudian muncul kembali di Tiongkok Selatan dan memimpin pemberontakan yang gagal dan dia terbunuh. Pemberontakan kedua ini mengubah warna seragamnya dari putih menjadi merah dan para tentaranya dikenal sebagai “Turban Merah” karena bandana merah mereka.

Revolusi lain yang terinspirasi oleh perkumpulan Seroja Putih terbentuk pada tahun 1352 di sekitar Guangzhou. Seorang biksu Buddha dan mantan pengemis anak laki-laki, yang kelak menjadi pendiri dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, bergabung dengan pemberontakan tersebut.[15] Kecerdasannya yang luar biasa membawanya menjadi kepala pasukan pemberontak. Dia memenangkan hati rakyat dengan melarang tentaranya untuk menjarah demi mematuhi kepercayaan agama Seroja Putih. Pada tahun 1355, pemberontakan telah menyebar ke sebagian besar wilayah Tiongkok.

Pada tahun 1356, Zhu Yuanzhang merebut kota penting Nanjing (saat itu bernama Jiangning) dan menjadikannya sebagai ibu kotanya, dan menamainya Yingtian (應天). Di sinilah ia mulai membuang kepercayaan heterodoksnya dan dengan demikian memenangkan bantuan dari para cendekiawan Konfusianisme yang mengeluarkan pernyataan untuknya dan melakukan ritual untuk mengklaim Mandat Surga, langkah pertama untuk membangun pemerintahan dinasti baru.

Sementara itu, bangsa Mongol mempunyai konflik internal sehingga bertempur satu sama lain, menghambat kemampuan mereka untuk menekan pemberontakan. Pada tahun 1368, Zhu Yuanzhang memperluas kekuasaannya ke Guangzhou, pada tahun yang sama ketika penguasa Mongol, Toghon Temür, melarikan diri ke Karakorum. Pada tahun 1368, Zhu Yuanzhang dan pasukannya memasuki bekas ibu kota Beijing dan pada tahun 1371 pasukannya bergerak melalui Sichuan ke arah barat daya.

Pada tahun 1387, setelah lebih dari tiga puluh tahun berperang, Zhu Yuanzhang berhasil membebaskan seluruh Tiongkok. Dia mempunyai gelar Kaisar Hongwu dan mendirikan dinasti Ming, yang namanya menggemakan sentimen religius Seroja Putih.

Wusheng Laomu

Walaupun Zhu Yuanzhang sendiri awalnya berasal dari Seroja Putih, ironisnya, pada tahun 1370, dua tahun setelah ia mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar Dinasti Ming, Zhu mengeluarkan undang-undang yang ketat melawan sekte-sekte heterodoks, termasuk gerakan Seroja Putih.[16] Karena mereka dilarang mendirikan otoritas pusat, tidak ada ortodoksi doktrinal yang dapat ditegakkan, sehingga ajaran dan praktik mereka semakin beragam. Sementara Maitreya tetap menjadi tokoh sentral bagi sebagian besar sekte Seroja Putih, pada masa pemerintahan Kaisar Zhengde (1506-1521), sebuah dewa baru mulai populer di antara para penganut Seroja Putih, yaitu Ibu Ratu dari Barat (atau “Wusheng Laomu” 無生老母). Berasal dari agama rakyat Tiongkok Tao, dia diidentifikasi sebagai Buddha transenden yang tidak pernah berinkarnasi, tetapi ada tanpa menjadi ada atau berubah menjadi bukan makhluk, tetapi tetap diramalkan untuk turun ke bumi untuk mengumpulkan semua anak-anaknya di milenium ini ke dalam satu keluarga dan membimbing mereka dengan aman kembali ke Surga, “rumah kekosongan yang sebenarnya” (真空家鄉).[4]

Pemberontakan Wang Lun dan Seroja Putih

Artikel utama: Pemberontakan Seroja Putih

Seroja Putih muncul kembali pada akhir abad ke-18 dalam bentuk gerakan Tiongkok yang terinspirasi dalam berbagai bentuk dan sekte. Pada tahun 1774, ahli herbal dan seniman bela diri Wang Lun (王倫) mendirikan sekte turunan dari Seroja Putih yang mempromosikan ajaran meditasi bawah tanah di provinsi Shandong, tidak jauh dari Beijing di dekat kota Linqing.[17] Dengan tema dukungan dari dewi Wusheng Laomu, sekte ini memimpin sebuah pemberontakan yang berhasil merebut tiga kota kecil dan mengepung kota Linqing yang lebih besar, sebuah kota yang strategis di jalur transportasi Terusan Besar utara-selatan. Setelah keberhasilan di awal, kelompok ini kalah jumlah dan tidak dapat mengimbangi serangan terkoordinasi dari pasukan Qing, termasuk pasukan lokal tentara Tiongkok yang dikenal sebagai Tentara Kamp Hijau. Di saat kematiannya, salah satu pemberontak yang tertangkap menggambarkan bahwa Wang Lun menemui ajalnya dengan mengenakan jubah ungu dan dua gelang perak sementara dia terbakar sampai mati dengan belati dan pedang bermata dua di sampingnya.[17]

Wang Lun kemungkinan besar gagal karena dia tidak melakukan upaya apapun untuk menggalang dukungan publik yang luas. Dia tidak membagikan harta rampasan perang atau persediaan makanan, juga tidak berjanji untuk mengurangi beban pajak. Karena tidak dapat membangun basis dukungan, dia terpaksa segera melarikan diri dari ketiga kota yang dia serang untuk menghindari pasukan pemerintah. Meskipun ia melewati daerah yang dihuni oleh hampir satu juta petani, pasukannya tidak pernah mencapai lebih dari empat ribu tentara, banyak di antaranya telah dipaksa untuk bergabung.

Dimulai pada tahun 1794, dua dekade setelah pemberontakan Wang Lun yang gagal, sebuah gerakan juga muncul di daerah pegunungan yang memisahkan Sichuan dari Hubei dan Shaanxi di Tiongkok tengah sebagai bentuk protes pajak. Di sini, Seroja Putih memimpin para pemukim yang miskin untuk memberontak, menjanjikan keselamatan pribadi sebagai imbalan atas kesetiaan mereka. Berawal dari protes pajak, pemberontakan ini akhirnya mendapatkan dukungan dan simpati yang semakin besar dari banyak orang biasa. Pemberontakan ini tumbuh dalam jumlah dan kekuatan dan akhirnya, menjadi perhatian serius bagi pemerintah.

Sebuah program sistematis untuk menenangkan diri kemudian dilakukan, di mana penduduk dimukimkan kembali di ratusan desa yang dibentengi dan diorganisir ke dalam milisi. Pada tahap terakhirnya, kebijakan penindasan Qing menggabungkan pengejaran dan pemusnahan kelompok gerilyawan pemberontak dengan program amnesti bagi para pembelot. Pemberontakan berakhir pada tahun 1804. Sebuah dekrit dari Kaisar Daoguang mengakui, “pemerasan oleh pejabat setempatlah yang mendorong rakyat untuk memberontak”. Dengan menggunakan penangkapan anggota sekte sebagai ancaman, para pejabat lokal dan polisi memeras uang dari masyarakat.

Pemberontakan Delapan Trigram

Artikel utama: Pemberontakan Delapan Trigram tahun 1813

Pada dekade pertama abad ke-19, terdapat beberapa sekte seroja Putih yang aktif di daerah sekitar ibu kota Beijing. Lin Qing (林清), anggota lain dari sekte Delapan Trigram (八卦道) dalam seroja Putih, menyatukan beberapa sekte ini dan bersama mereka membangun sebuah organisasi yang nantinya akan dia pimpin dalam pemberontakan Delapan Trigram pada tahun 1813.[18]

Para pejabat juga menyita dan menghancurkan kitab-kitab suci sektarian yang digunakan oleh kelompok-kelompok agama tersebut. Salah satu pejabat tersebut adalah Huang Yupian (黃育楩), yang membantah ide-ide yang ditemukan dalam kitab suci Buddha dalam Sanggahan Terperinci tentang Ajaran Sesat (破邪詳辯), yang ditulis pada tahun 1838. Buku ini telah menjadi sumber yang sangat berharga dalam memahami kepercayaan kelompok-kelompok ini.[19]

Catatan

  1. ↑ 杨讷, 元代白莲教研究, 上海古籍出版社, 2004
  2. ↑ "白蓮教與明代建國". 中華書局 (香港) 有限公司. 2007. Diarsipkan dari asli tanggal 2021-09-11. Diakses tanggal 2024-11-15. ;
  3. ↑ Seiwert 2003, hlm. 169.
  4. 1 2 3 Theobald, Ulrich (2012). "Bailianjiao 白蓮教, the White Lotus Sect". www.chinaknowledge.de. Diakses tanggal 2024-11-12.
  5. ↑ Xisha, Ma; Huiying, Meng (2011). Popular Religion and Shamanism. Brill. ISBN 9789004174559. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ↑ Yar, Char (2012). "Monijiao (Manichaeism) in China". academia.edu. Diakses tanggal 2024-11-12.
  7. ↑ Seiwert 2003, hlm. 178.
  8. ↑ Ssu-yü, Teng (1958). "A Political Interpretation of Chinese Rebellions and Revolutions". Tsing Hua Journal of Chinese Studies. 1 (3).
  9. ↑ Mote, Frederick W. (2003). Imperial China 900-1800. Harvard University Press. ISBN 9780674012127. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. 1 2 Flower, Theresa J. (1976). "Millenarian themes in the White Lotus Society (Thesis). McMaster University". Macsphere McMaster University. Diakses tanggal 2024-11-12.
  11. ↑ Seiwert 2003, hlm. 182.
  12. ↑ Seiwert 2003, hlm. 186.
  13. ↑ Mote 2003, hlm. 529-530.
  14. ↑ Seiwert 2003, hlm. 199.
  15. ↑ Purcel 2010, hlm. 149.
  16. ↑ Kung Chuang, Tsu. "I-Kuan Tao 一貫道 (The Way of Unity): The Emerging Folk Buddhism In China and Taiwan". Diakses tanggal 2024-11-12.
  17. 1 2 Spence 1991, hlm. 110.
  18. ↑ Naquin 1976, hlm. 7.
  19. ↑ Naquin 1976, hlm. 288.

Referensi

  • Naquin, Susan (1976), Millenarian Rebellion in China: The Eight Trigrams Uprising of 1813, Yale University Press
  • Spence, Jonathan D. (1991). The Search for Modern China. W.W.Norton. ISBN 978-0-393-30780-1.
  • Ter Haar, BJ (1992). The White Lotus Teachings in Chinese Religious History. Leiden: Brill.
  • Seiwert, Hubert Michael (2003), Popular Religious Movements and Heterodox Sects in Chinese History, Brill, ISBN 9004131469
  • Ma, Xisha; Huiying Meng (2011), Popular Religion and Shamanism, Brill, ISBN 978-9004174559 Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
  • Purcell, Victor (3 June 2010), The Boxer Uprising: A Background Study, Cambridge University Press, ISBN 978-0-521-14812-2
Basis data pengawasan otoritas Sunting di Wikidata
Internasional
  • VIAF
  • GND
Nasional
  • Amerika Serikat
  • Jepang
  • Israel
Lain-lain
  • Yale LUX

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Asal Mula
  3. Perkembangan selanjutnya
  4. Perkembangan menjadi perkumpulan rahasia
  5. Revolusi Seroja Putih
  6. Wusheng Laomu
  7. Pemberontakan Wang Lun dan Seroja Putih
  8. Pemberontakan Delapan Trigram
  9. Catatan
  10. Referensi

Artikel Terkait

Sejarah Nusantara pada era kerajaan Hindu-Buddha

aspek sejarah masuknya agama Hindu Buddha di Indonesia

Suku Uighur

kelompok etnik Turkik di Asia Tengah dan Timur

Daftar kelompok etnik di Tiongkok

artikel daftar Wikimedia

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026