Seroja Putih mengacu pada berbagai kelompok agama dan politik yang muncul di Tiongkok selama berabad-abad. Pada awalnya, nama ini dikaitkan dengan organisasi Buddhis Tanah Suci yang berusaha untuk mempromosikan praktik-praktik kebaktian yang berfokus pada kelahiran kembali di Tanah Sukhavati. Masyarakat awal ini menekankan keselamatan spiritual melalui keyakinan, pelafalan nama Amitābha (念佛), dan kepatuhan terhadap ajaran moral.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| 白蓮教code: zh is deprecated code: zh is deprecated | |
| Penggolongan | Kepercayaan keselamatan Tiongkok |
|---|---|
| Orientasi | Ajaran Maitreya |
| Bahasa | Tionghoa |
| Pendiri | Huiyuan |
| Didirikan | Semasa Dinasti Jin Gunung Lu, Jiujiang |
| Terpecah dari | Buddhisme Tanah Murni |
| Serapan | Tionghoa Manikeanisme |
| Bagian dari seri tentang |
| Kepercayaan tradisional Tionghoa 华人民间信仰 |
|---|
Seroja Putih (Hanzi sederhana: 白莲教; Hanzi tradisional: 白蓮教; Pinyin: Báiliánjiào; Wade–Giles: Pai-lien chiao) mengacu pada berbagai kelompok agama dan politik yang muncul di Tiongkok selama berabad-abad. Pada awalnya, nama ini dikaitkan dengan organisasi Buddhis Tanah Suci yang berusaha untuk mempromosikan praktik-praktik kebaktian yang berfokus pada kelahiran kembali di Tanah Sukhavati. Masyarakat awal ini menekankan keselamatan spiritual melalui keyakinan, pelafalan nama Amitābha (念佛), dan kepatuhan terhadap ajaran moral.
Namun, seiring berjalannya waktu, istilah “Seroja Putih” menjadi terkait dengan beragam gerakan keselamatan dan apokaliptik, yang sering kali memadukan elemen-elemen agama Buddha, Taoisme, dan agama rakyat Tiongkok. Gerakan dari kelompok-kelompok ini biasanya meramalkan akan datangnya Vidyārāja (明王) dan Buddha Maitreya dalam waktu dekat. Ketika sekte Seroja Putih berkembang, mereka menarik perhatian banyak orang Tionghua Han yang menemukan kecocokan dan kenyamanan dalam pemujaan terhadap Wusheng Laomu / "Bunda Suci Abadi" (Hanzi sederhana: 无生老母; Hanzi tradisional: 無生老母), yang diyakini akan membawa pulang seluruh anak-anaknya kembali ke kampung halaman di Surga.
Pada masa Dinasti Yuan, Seroja Putih memiliki keterkaitan dengan Maniisme, Pemberontakan Serban Merah, Maitreyanisme.[1] Terdapat buku khusus yang menyajikan hubungan antara Lotus Putih pada masa Dinasti Yuan akhir dan berdirinya Dinasti Ming.[2]
Beberapa dari kelompok ini mendukung pemberontakan bersenjata melawan pemerintah Tiongkok, seperti pada masa Pemberontakan Seroja Putih di era Qing (1794-1804).
Latar belakang religius sekte Seroja Putih berawal dari berdirinya Perkumpulan Seroja Putih (白蓮社) di Kuil Donglin di Gunung Lu oleh Lushan Huiyuan (334-416).[3] Selama periode Song Utara (960-1126), Perkumpulan Seroja Putih dapat ditemukan di seluruh Tiongkok bagian selatan, menyebarkan ajaran Tanah Murni dan metode meditasi bersama mereka.[4] Antara abad ke-9 dan ke-14, umat Manikheisme Tiongkok semakin melibatkan diri mereka dengan aliran Tanah Murni.[5] Melalui interaksi yang erat ini, Manikheisme memiliki pengaruh yang besar terhadap sekte Buddha Maitreya Tiongkok dalam tradisi Tanah Suci, berlatih bersama dengan para penganut Buddha sehingga kedua aliran tersebut menjadi sulit dibedakan.[6]
Selama abad ke-12, seorang biksu Buddha, Mao Ziyuan (茅子元) (c. 1096-1166; nama Dharma: Cizhao (慈照)), mengembangkan Aliran Seroja Putih (白蓮宗) untuk menyatukan pengikut Seroja Putih yang tersebar. Para pengikutnya kemudian dikenal sebagai Vegetarian Seroja Putih (白蓮菜).[7] Dia mendirikan Kuil Pertobatan Seroja (蓮懺堂) di mana dia mengkhotbahkan ajaran-ajaran dari Aliran Seroja Putih, yang menjadi dasar dari agama Seroja Putih (白莲敎).[4] Agama Seroja Putih ini merupakan sebuah gerakan gabungan antara agama Buddha dan Manikheisme yang menekankan pada keyakinan atas Buddha Maitreya dan vegetarisme yang ketat, yang mengizinkan pria dan wanita untuk berinteraksi secara bebas, yang secara sosial saat itu dianggap sangat mengejutkan.[8]
Selama akhir abad ke-13, kekuasaan Dinasti Yuan Mongol atas Tiongkok memicu demonstrasi kecil namun populer untuk menentang kekuasaannya. Ketika demonstrasi meluas, penganut Seroja Putih ikut serta dalam beberapa protes ini,[9] sehingga membuat pemerintah Yuan melarang sekte Seroja Putih dan menganggapnya sebagai agama heterodoks (宗教异端), dan memaksa para anggotanya untuk bersembunyi dan beroperasi secara diam-diam. Setelah mejadi sebuah perkumpulan rahasia, Seroja Putih menjadi organisasi keagamaan sekaligus alat perlawanan nasional. Ketakutan akan perkumpulan rahasia ini berlanjut dalam hukum; Kode Hukum Qing Agung, yang berlaku hingga tahun 1912, berisi bagian berikut:
"Semua perkumpulan yang menamakan diri mereka Seroja Putih, perkumpulan Buddha Maitreya, atau agama Mingtsung (Manikheisme), atau aliran Awan Putih, dan lain-lain, bersama dengan semua orang yang melakukan praktik menyimpang dan sesat, atau yang di tempat-tempat rahasia memiliki cetakan dan gambar, mengumpulkan orang-orang dengan membakar dupa, bertemu pada malam hari dan berpencar pada siang hari, dengan demikian menghasut dan menyesatkan orang-orang dengan dalih memupuk kebajikan, akan dihukum.”[10]
Seperti perkumpulan rahasia lainnya, mereka menutupi kegiatan mereka yang tidak biasa atau terlarang sebagai “upacara pembakaran dupa.”[10] Salah satu tokoh kelompok Seroja Putih saat itu adalah seorang biksu bernama Pudu (普渡) yang tinggal di biara Donglin di Gunung Lu, Jiangxi. Dia berusaha keras menjaga Seroja Putih tetap ortodoks sesuai dengan tradisi dari Huiyuan dan Mao Ziyuan. Larangan terhadap gerakan Seroja Putih sempat dihapus oleh kaisar yang baru. Akan tetapi, gerakan ini hanya memiliki status hukum hingga tahun 1322, dan selanjutnya dilarang lagi.[11] Terlepas dari usaha gigih ortodoksi oleh Pudu, persepsi publik terhadap kelompok-kelompok Seroja Putih semakin lama semakin didominasi oleh aliran-aliran heterodoks yang menggunakan nama yang sama.[12]
Seroja Putih selanjutnya menjadi lahan subur untuk mengobarkan pemberontakan.
Doktrin Seroja Putih dan upacara keagamaan, khususnya upacara “pembakaran dupa” yang dalam pikiran rakyat menjadi ciri khas mereka, digabungkan dengan doktrin dan ritual sekte Maitreya; yang menghasilkan ideologi yang koheren di antara kelompok-kelompok pemberontak, mempersatukan mereka dalam tujuan yang sama dan membentuk kedisiplinan yang dapat digunakan untuk membangun sebuah gerakan yang luas, merekrut tentara, dan membangun pemerintahan sipil.[13]
Seorang biksu Buddha dari Jiangxi bernama Peng Yingyu yang menggabungkan ajaran Seroja Putih dengan keyakinan Maitreyanisme dan akhirnya mengorganisir pemberontakan di Hunan pada tahun 1330-an dengan memimpin pasukan yang berjumlah lebih dari lima ribu orang.[14] Meskipun pemberontakan tersebut berhasil dipadamkan, Peng selamat dan bersembunyi di Anhui, kemudian muncul kembali di Tiongkok Selatan dan memimpin pemberontakan yang gagal dan dia terbunuh. Pemberontakan kedua ini mengubah warna seragamnya dari putih menjadi merah dan para tentaranya dikenal sebagai “Turban Merah” karena bandana merah mereka.
Revolusi lain yang terinspirasi oleh perkumpulan Seroja Putih terbentuk pada tahun 1352 di sekitar Guangzhou. Seorang biksu Buddha dan mantan pengemis anak laki-laki, yang kelak menjadi pendiri dinasti Ming, Zhu Yuanzhang, bergabung dengan pemberontakan tersebut.[15] Kecerdasannya yang luar biasa membawanya menjadi kepala pasukan pemberontak. Dia memenangkan hati rakyat dengan melarang tentaranya untuk menjarah demi mematuhi kepercayaan agama Seroja Putih. Pada tahun 1355, pemberontakan telah menyebar ke sebagian besar wilayah Tiongkok.
Pada tahun 1356, Zhu Yuanzhang merebut kota penting Nanjing (saat itu bernama Jiangning) dan menjadikannya sebagai ibu kotanya, dan menamainya Yingtian (應天). Di sinilah ia mulai membuang kepercayaan heterodoksnya dan dengan demikian memenangkan bantuan dari para cendekiawan Konfusianisme yang mengeluarkan pernyataan untuknya dan melakukan ritual untuk mengklaim Mandat Surga, langkah pertama untuk membangun pemerintahan dinasti baru.
Sementara itu, bangsa Mongol mempunyai konflik internal sehingga bertempur satu sama lain, menghambat kemampuan mereka untuk menekan pemberontakan. Pada tahun 1368, Zhu Yuanzhang memperluas kekuasaannya ke Guangzhou, pada tahun yang sama ketika penguasa Mongol, Toghon Temür, melarikan diri ke Karakorum. Pada tahun 1368, Zhu Yuanzhang dan pasukannya memasuki bekas ibu kota Beijing dan pada tahun 1371 pasukannya bergerak melalui Sichuan ke arah barat daya.
Pada tahun 1387, setelah lebih dari tiga puluh tahun berperang, Zhu Yuanzhang berhasil membebaskan seluruh Tiongkok. Dia mempunyai gelar Kaisar Hongwu dan mendirikan dinasti Ming, yang namanya menggemakan sentimen religius Seroja Putih.
Walaupun Zhu Yuanzhang sendiri awalnya berasal dari Seroja Putih, ironisnya, pada tahun 1370, dua tahun setelah ia mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar Dinasti Ming, Zhu mengeluarkan undang-undang yang ketat melawan sekte-sekte heterodoks, termasuk gerakan Seroja Putih.[16] Karena mereka dilarang mendirikan otoritas pusat, tidak ada ortodoksi doktrinal yang dapat ditegakkan, sehingga ajaran dan praktik mereka semakin beragam. Sementara Maitreya tetap menjadi tokoh sentral bagi sebagian besar sekte Seroja Putih, pada masa pemerintahan Kaisar Zhengde (1506-1521), sebuah dewa baru mulai populer di antara para penganut Seroja Putih, yaitu Ibu Ratu dari Barat (atau “Wusheng Laomu” 無生老母). Berasal dari agama rakyat Tiongkok Tao, dia diidentifikasi sebagai Buddha transenden yang tidak pernah berinkarnasi, tetapi ada tanpa menjadi ada atau berubah menjadi bukan makhluk, tetapi tetap diramalkan untuk turun ke bumi untuk mengumpulkan semua anak-anaknya di milenium ini ke dalam satu keluarga dan membimbing mereka dengan aman kembali ke Surga, “rumah kekosongan yang sebenarnya” (真空家鄉).[4]
Seroja Putih muncul kembali pada akhir abad ke-18 dalam bentuk gerakan Tiongkok yang terinspirasi dalam berbagai bentuk dan sekte. Pada tahun 1774, ahli herbal dan seniman bela diri Wang Lun (王倫) mendirikan sekte turunan dari Seroja Putih yang mempromosikan ajaran meditasi bawah tanah di provinsi Shandong, tidak jauh dari Beijing di dekat kota Linqing.[17] Dengan tema dukungan dari dewi Wusheng Laomu, sekte ini memimpin sebuah pemberontakan yang berhasil merebut tiga kota kecil dan mengepung kota Linqing yang lebih besar, sebuah kota yang strategis di jalur transportasi Terusan Besar utara-selatan. Setelah keberhasilan di awal, kelompok ini kalah jumlah dan tidak dapat mengimbangi serangan terkoordinasi dari pasukan Qing, termasuk pasukan lokal tentara Tiongkok yang dikenal sebagai Tentara Kamp Hijau. Di saat kematiannya, salah satu pemberontak yang tertangkap menggambarkan bahwa Wang Lun menemui ajalnya dengan mengenakan jubah ungu dan dua gelang perak sementara dia terbakar sampai mati dengan belati dan pedang bermata dua di sampingnya.[17]
Wang Lun kemungkinan besar gagal karena dia tidak melakukan upaya apapun untuk menggalang dukungan publik yang luas. Dia tidak membagikan harta rampasan perang atau persediaan makanan, juga tidak berjanji untuk mengurangi beban pajak. Karena tidak dapat membangun basis dukungan, dia terpaksa segera melarikan diri dari ketiga kota yang dia serang untuk menghindari pasukan pemerintah. Meskipun ia melewati daerah yang dihuni oleh hampir satu juta petani, pasukannya tidak pernah mencapai lebih dari empat ribu tentara, banyak di antaranya telah dipaksa untuk bergabung.
Dimulai pada tahun 1794, dua dekade setelah pemberontakan Wang Lun yang gagal, sebuah gerakan juga muncul di daerah pegunungan yang memisahkan Sichuan dari Hubei dan Shaanxi di Tiongkok tengah sebagai bentuk protes pajak. Di sini, Seroja Putih memimpin para pemukim yang miskin untuk memberontak, menjanjikan keselamatan pribadi sebagai imbalan atas kesetiaan mereka. Berawal dari protes pajak, pemberontakan ini akhirnya mendapatkan dukungan dan simpati yang semakin besar dari banyak orang biasa. Pemberontakan ini tumbuh dalam jumlah dan kekuatan dan akhirnya, menjadi perhatian serius bagi pemerintah.
Sebuah program sistematis untuk menenangkan diri kemudian dilakukan, di mana penduduk dimukimkan kembali di ratusan desa yang dibentengi dan diorganisir ke dalam milisi. Pada tahap terakhirnya, kebijakan penindasan Qing menggabungkan pengejaran dan pemusnahan kelompok gerilyawan pemberontak dengan program amnesti bagi para pembelot. Pemberontakan berakhir pada tahun 1804. Sebuah dekrit dari Kaisar Daoguang mengakui, “pemerasan oleh pejabat setempatlah yang mendorong rakyat untuk memberontak”. Dengan menggunakan penangkapan anggota sekte sebagai ancaman, para pejabat lokal dan polisi memeras uang dari masyarakat.
Pada dekade pertama abad ke-19, terdapat beberapa sekte seroja Putih yang aktif di daerah sekitar ibu kota Beijing. Lin Qing (林清), anggota lain dari sekte Delapan Trigram (八卦道) dalam seroja Putih, menyatukan beberapa sekte ini dan bersama mereka membangun sebuah organisasi yang nantinya akan dia pimpin dalam pemberontakan Delapan Trigram pada tahun 1813.[18]
Para pejabat juga menyita dan menghancurkan kitab-kitab suci sektarian yang digunakan oleh kelompok-kelompok agama tersebut. Salah satu pejabat tersebut adalah Huang Yupian (黃育楩), yang membantah ide-ide yang ditemukan dalam kitab suci Buddha dalam Sanggahan Terperinci tentang Ajaran Sesat (破邪詳辯), yang ditulis pada tahun 1838. Buku ini telah menjadi sumber yang sangat berharga dalam memahami kepercayaan kelompok-kelompok ini.[19]