Dinasti Jin atau Kekaisaran Jin, supaya lebih spesifik terkadang disebut Sima Jin (司馬晉) atau Dua Jin (兩晉), adalah dinasti Tiongkok yang secara tradisional berasal dari tahun 266 hingga 420 M. Didirikan oleh Sima Yan, putra tertua Sima Zhao, yang diangkat menjadi Raja Jin dan secara anumerta dinyatakan sebagai salah satu pendiri dinasti ini, bersama dengan kakak laki-laki Sima Zhao yaitu Sima Shi dan ayah Sima Yi. Dinasti Jin termasuk dalam Periode Tiga Kerajaan, yang berakhir setelah penaklukan dari Wu Timur dengan puncaknya yaitu penyatuan kembali Tiongkok Dalam.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Jin 晉code: zh is deprecated *tsi[n]-s | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 8 Februari 266–10 Juli 420 | |||||||||||||
Dinasti Jin (kuning) pada puncak kejayaannya, sekitar tahun 280, selama periode Dinasti Jin Barat | |||||||||||||
| Status | Kekaisaran | ||||||||||||
| Ibu kota | Luoyang (266–311) Chang'an (312–316) Jiankang (317–420) | ||||||||||||
| Bahasa yang umum digunakan | Tiongkok Pertengahan | ||||||||||||
| Agama | Buddhisme Tiongkok, Daoisme, Kepercayaan tradisional | ||||||||||||
| Pemerintahan | Monarki | ||||||||||||
| Kaisar | |||||||||||||
• 266–290 (pertama) | Kaisar Wu dari Jin | ||||||||||||
• 419–420 (terakhir) | Kaisar Gong dari Jin | ||||||||||||
| Kanselir Agung | |||||||||||||
| Sejarah | |||||||||||||
• Didirikan | 8 Februari 266 | ||||||||||||
• Reunifikasi Tiongkok di bawah pemerintahan Jin | 1 Mei 280 | ||||||||||||
• Jin mengungsi ke wilayah selatan Sungai Huai, Jin Timur dimulai | 317 | ||||||||||||
• Pengunduran diri ke Liu Song | 10 Juli 420 | ||||||||||||
| Luas | |||||||||||||
| 280 (masa kejayaan Jin Barat)[1] | 3.100.000 km2 (1.200.000 sq mi) | ||||||||||||
| 347 (masa kejayaan Jin Timur)[1] | 2.800.000 km2 (1.100.000 sq mi) | ||||||||||||
| Populasi | |||||||||||||
• 300 | 35.000.000 | ||||||||||||
| Mata uang | Koin Tiongkok kuno, Tunai | ||||||||||||
| |||||||||||||
| Sekarang bagian dari | Tiongkok Mongolia Korea Utara Vietnam | ||||||||||||
| Dinasti Jin (266–420) | |||||||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| Hanzi tradisional: | 晉朝code: zh is deprecated | ||||||||||||||||
| Hanzi sederhana: | 晋朝code: zh is deprecated | ||||||||||||||||
| |||||||||||||||||
| Sima Jin | |||||||||||||||||
| Hanzi tradisional: | 司馬晉code: zh is deprecated | ||||||||||||||||
| Hanzi sederhana: | 司马晋code: zh is deprecated | ||||||||||||||||
| |||||||||||||||||


Dinasti Jin ([tɕîn]; Hanzi: 晉朝; Pinyin: Jìn Cháo) atau Kekaisaran Jin, supaya lebih spesifik terkadang disebut Sima Jin (司馬晉) atau Dua Jin (兩晉), adalah dinasti Tiongkok yang secara tradisional berasal dari tahun 266 hingga 420 M. Didirikan oleh Sima Yan, putra tertua Sima Zhao, yang diangkat menjadi Raja Jin dan secara anumerta dinyatakan sebagai salah satu pendiri dinasti ini, bersama dengan kakak laki-laki Sima Zhao yaitu Sima Shi dan ayah Sima Yi. Dinasti Jin termasuk dalam Periode Tiga Kerajaan (220–280 M), yang berakhir setelah penaklukan dari Wu Timur dengan puncaknya yaitu penyatuan kembali Tiongkok Dalam.
Ada dua bagian utama (Jin Barat dan Jin Timur) dalam sejarah dinasti ini. Jin Barat (266–316) didirikan sebagai negara penerus Cao Wei setelah Sima Yan berhasil merebut takhta dan menjadikan Luoyang sebagai ibu kota pertamanya, kemudian pindah ke Chang'an (sekarang Xi'an, di provinsi Shaanxi). Jin Barat menyatukan kembali Tiongkok pada tahun 280, tetapi tidak lama kemudian terjadi krisis suksesi, Pemberontakan Delapan Pangeran, dan invasi yang dipicu oleh Lima Orang Barbar, yang kemudian mendirikan berbagai kerajaan di sepanjang lembah Sungai Kuning pada tahun 304, serta berhasil menduduki Tiongkok Utara setelah Bencana Yongjia pada tahun 311. Kerajaan-kerajaan tersebut tidak lama kemudian mulai saling bertarung, sehingga dinamakan era Enam Belas Kerajaan yang kacau dan berdarah. Setelah jatuhnya Chang'an pada tahun 316, dinasti Jin Barat runtuh, sehingga orang-orang yang selamat dari dinasti Jin Barat di bawah pimpinan Sima Rui, melarikan diri dari selatan Sungai Yangtze menuju Jiankang (Nanjing) dan membangun Jin Timur (317–420). Dinasti Jin Timur yang meskipun ada ancaman terus menerus dari utara, tetap relatif stabil selama abad berikutnya, tetapi akhirnya direbut oleh jenderal Liu Yu pada tahun 420 dan diganti menjadi dinasti Liu Song (420–479). Dinasti Jin Barat dan Timur keduanya termasuk dalam Enam Dinasti.
Keluarga ningrat Dinasti Jin merupakan keluarga Sima dari County Wen, Henan. Leluhur mereka menduduki posisi pemerintahan terkemuka di dinasti sebelumnya seperti Sima Jun yang menduduki jabatan Jenderal Penakluk Barat dan Sima Fang yang menduduki jabatan Intendan Jingzhao. Sima Fang memiliki delapan anak seperti Sima Lang, Sima Yi dan Sima Fu yang sangat berbakat mereka dikenal sebagai Delapan Da. Sima Yi terutama merupakan pejabat penting Cao Wei dengan peraihan politik dan militer yang menakjubkan. Ia berkontribusi besar dalam melawan kampanye militer Zhuge Liang dan melenyapkan Gongsun Yuan di Liaodong. Setelah Cao Rui meninggal, Sima Yi bersama Cao Shuang, seorang anggota keluarga ningrat Cao Wei, menjadi wali penguasa bagi Cao Fang. Cao Shuang, untuk mencegah Sima Yi merebut kekuasaan, menyingkirkannya, yang menimbulkan ketidakpuasan dari kelompok keluarga Sima.[2]
Pada 249, Sima Yi melancarkan kudeta dan merebut kekuasaan dari Cao Shuang. Sejak itu, keluarga Sima memulai pemerintahan mereka sebagai wali penguasa. Setelah kematian Sima Yi pada 251, putra sulungnya Sima Shi melanjutkan kerja ayahnya di pemerintahan dan berhasil mempertahankan cengkraman kekuasaan. Setelah kematian Sima Shi pada 255, adiknya Sima Zhao menjadi wali penguasa. Sima Zhao juga memperdalam kekuatan keluarga Sima dengan menyingkirkan oposisi di pemerintah. Kekuatan kaisar perlahan-lahan mulai menyurut dan Kaisar Cao Mao bahkan dibunuh oleh tentara Sima Zhao. Sima Zhao dinobatkan sebagai Adipati Jin, dan raja Wei memberikan tanah kekuasaan bagi keluarga Sima yang dikenal sebagai Negara Jin.[2]
Pada 263, untuk mempersiapkan diri untuk mengambil otoritas kekaisaran dan membangun prestasi militer, Sima Zhao memerintahkan Deng Ai dan Zhong Hui untuk memimpin pasukan untuk menaklukan Shu. Mereka melawan Jiang Wei yang memblokir pasukan utama Wei di Jiange sementara Deng Ai merebut Yingping. Deng Ai kemudian mengalahkan pasukan Shu pimpinan Zhuge Zhan di Mianzhu dan bergerak menuju Chengdu dimana mereka berhasil menawan Liu Shan (putra Liu Bei). Penaklukan Shu menandakan bahwa Zaman Tiga Kerajaan akan segera berakhir dengan salah satu negara telah runtuh dikuasai oleh negara lain. Atas jasanya, Kaisar Cao Huan menaikkan gelar Sima Zhao menjadi Raja Jin, gelar terakhir yang hanya dibawah Kaisar. Setelah invasi Shu, Zhong Hui dan Jiang Wei merencanakan pemberontakan namun pemberontakan ini ditumpas oleh Sima Zhao dengan cepat. Sima Zhao membuka jalur bagi keluarga Sima untuk merebut taktha kaisar. Namun sebelum ia benar-benar berniat untuk menjadi kaisar, Sima Zhao meninggal dunia akibat struk. Kesempatan untuk merebut kekuasaan jatuh ke tangan putranya, Sima Yan yang ambisius.
Pada 266, Sima Yan merebut kekuasaan dengan memaksa Cao Huan mundur sebagai kaisar. Ia kemudian mendeklarasikan dirinya sebagai kaisar dan menamai dinasti baru sebagai Dinasti Jin dan beribukota di Luoyang. Saat ia meninggal, Sima Yan dikenal dalam sejarah sebagai Kaisar Wu dari Jin.[2] Sebagai bentuk hormat bagi dinasti sebelumnya, Cao Huan diberikan gelar Pangeran Chenliu dan ketika Cao Huan meninggal, Sima Yan melakukan upacara kematian untuknya selayak seorang kaisar. Sima Yan kemudian mulai merencanakan invasi ke Wu.
Kondisi di Wu cukup memprihatinkan setelah kematian Sun Quan, dimana pemerintahan Wu dibawah Sun Hao memerintah dengan tirani dan berhidup kemewah-mewahan sementara rakyat Wu hidup sengsara. Sebelum Sima Yan mulai menginvasi Wu, Sima Yan malah menghadapi pemberontakan Tufa Shujineng yang terjadi mulai tahun 270, membuat kampanye selatan ke Wu tertunda. Sima Yan memerintahkan Yang Hu untuk bersiaga di Xiangyang untuk mewaspadai gerak gerik pasukan Wu pimpinan Lu Kang, dan memerintahkan Wang Jun untuk membangun sebuah armada kapal di Provinsi Yi untuk invasi ke Wu. Pada 274, Lu Kang meninggal dan Yang Hu mengusulkan agar Sima Yan memulai kampanye militer ke Wu. Namun, saran tersebut dilawan oleh Jia Chong dan usulan tersebut tidak dijalankan.
Pada 279, pemberontakan Tufa Shujineng sudah ditumpaskan. Wang Jun dan Du Yu kembali berpetisi kepada Sima Yan untuk memulai kampanye melawan Wu dengan alasan bahwa momen untuk menyerang Wu sudah tepat. Tetapi, Jia Chong beserta Xun Xu dan yang lain melawan proposal tersebut, menyatakan bahwa wilayah Barat Laut masih belum aman. Pada akhirnya, Sima Yan memutuskan untuk menaklukan Wu pada Desember 280. Sima Yan menunjuk Jia Chong sebagai Panglima Besar, dan pasukan Wang Jun dan Tang Bin di hulu; Du Yu, Hu Fen, dan Wang Rong di tengah; serta Wang Hun dan Sima Zhou di hilir maju ke berbagai arah. Pada tahun 280, mereka mendekati Jianye. Perdana Menteri Wu, Zhang Ti, gugur dalam pertempuran, dan Sun Hao menyerah pada tanggal 1 Mei tahun yang sama. Sun Wu dihancurkan, Dinasti Jin menyatukan dunia, dan periode Tiga Kerajaan berakhir.[2]
Pada masa Cao Wei, meritokrasi dipromosikan, dan integritas secara bertahap menurun. Suasana politik Dinasti Jin Barat menjadi semakin korup. Setelah klan Sima berkuasa, mereka menyingkirkan para pembangkang dan mengangkat kroni-kroni mereka. Sebagian besar tokoh pendiri Jin Barat tidak kompeten dan kurang memiliki kebajikan serta bakat. Keluarga-keluarga aristokrat, yang ditekan selama masa Cao Wei, bangkit menjadi terkenal di bawah perlindungan Sima Yi dan Chen Qun. Perwakilan terkemuka dari keluarga-keluarga ini termasuk Wang Xiang dari Langya, Zheng Chong dari Xingyang, He Zeng dari Chen, Chen Qian dari Linhuai, Xun Yu dan Xun Xu dari Yingchuan, Wei Guan dari Hedong, Pei Xiu dari Hedong, Wang Hun dari Taiyuan, Yang Hu dari Taishan, Shan Tao dari Henan, dan Du Yu dari Jingzhao. Kemewahan dan korupsi merajalela. Sebagian besar keluarga aristokrat kehilangan tradisi luhur Dinasti Han Timur, menjadi terobsesi dengan keuntungan, dan hampir semua pejabat-cendekiawan menerima suap dan menumpuk kekayaan. Kaisar Wu dari Jin berulang kali menganjurkan hidup hemat, tetapi ia tidak memberi contoh, hanya sekadar basa-basi. Shi Chong adalah orang terkaya pada saat itu. Ia membangun sebuah vila di Taman Lembah Emas dan bersaing dengan kerabat dari pihak ibunya, Wang Kai, dalam hal kekayaan. Kaisar Wu dari Jin tidak menghentikannya, tetapi malah membantu Wang Kai. Selama masa Cao Wei, para cendekiawan dan pejabat mengikuti tren hidup sederhana. Mereka berada di tengah-tengah ketenaran dan kekayaan, tetapi mereka juga mengagumi gagasan untuk meninggalkan dunia dan hidup dalam pengasingan.[3]
Para politikus bahkan bersengketa ketika memutuskan untuk menyerang Wu dan menentukan pewaris Sima Yan. Yang Hu dan Zhang Hua mendukung usulan untuk menyerang Wu sementara Jia Chong, Xun Xu dan Feng Yu tidak dan menunda serangannya. Setelah Wu ditaklukan oleh Jin, Jia Chong merasa malu atas miskalkulasinya dan membenci Zhang Hua. Dalam hal ahli waris, sengketa ini berlangsung semakin intens. Saat itu, Raja Wu menetapkan Sima Zhong sebagai putra mahkotanya namun Sima Zhong secara mental tidak berkembang, dianggap lemah dan tidak kompeten sementara adik kaisar, Pangeran Sima You dari Qi merupakan seorang pangeran teladan, rendah hati, dan juga pintar. Wei Guan dan He Qiao mendukung usulan untuk menjadikan Sima You sebagai pangeran mahkota. Usulan ini dilawan oleh Xun Yu, Xun Xu dan Feng Yu. Kaisar Wu kemudian menetapkan anaknya sebagai pangeran mahkota dan mengirimkan Sima You kembali ke wilayah kekuasaannya. Sima You meninggal dengan sangat geram.[3][4]
Dalam hal urusan militer, setelah berdirinya Dinasti Jin Barat, mereka belajar dari pelajaran kehancuran Cao Wei dan memberikan kekuasaan kepada para pangeran sebagai benteng pertahanan. Pada tahun 277, mereka mengirim para pangeran ke negara masing-masing, dan para pangeran memiliki hak untuk ikut campur dalam urusan militer. Setelah penaklukan Wu, Kaisar Wu menghapus pasukan dari berbagai prefektur dan kabupaten untuk menunjukkan kepada dunia persatuan negara. Pemberian kekuasaan kepada para pangeran dan penghapusan pasukan prefektur dan kabupaten membuat kekuatan militer keluarga kekaisaran cenderung melampaui pemerintah pusat, yang menjadi penyebab Perang Delapan Pangeran. Di sisi lain, pada saat itu, suku Hu di perbatasan bermigrasi ke Dataran Tengah, yang menyebabkan pengepungan sebagian terhadap Kekaisaran Jin. Menghadapi invasi Xianbei Tuoba Shujineng dan Xiongnu Liu Meng di Hexi, Guo Qin menyarankan untuk menggunakan kekuatan untuk memindahkan secara paksa suku-suku asing yang telah bermigrasi ke pedalaman, tetapi Kaisar Wu tidak mendengarkan. Situasi gesekan antara Hu dan Han tidak dapat diperbaiki. Orang-orang Hu di daerah sekitarnya menginginkan Dataran Tengah dan mengambil kesempatan untuk menimbulkan masalah setelah istana sangat melemah, yang akhirnya menyebabkan bencana Pergolakan Lima Barbar ke Tiongkok.[3]
Sima Yan mewarisi impian dari pendahulunya, namun ia bukanlah seorang yang memiliki ambisi tinggi ataupun memiliki talenta. Ia sangat menyukai hidup kemewahan, dekat dengan orang picik, dan penuh hawa nafsu. Untuk mempermudah mencari selir istana, Sima Yan mendekritkan bahwa pernikahan dilarang pada 273. Setelah invasi Wu, Sima Yan bahkan membawa 5,000 wanita harem Sun Hao menjadi miliknya. Harem wanita Sima Yan setelah invasi Wu naik menjadi 10,000 wanita. Selama masa pemerintahannya, ia gagal menyelesaikan masalah korupsi politik, kekacauan faksi, perluasan kekuasaan klan kekaisaran, dan migrasi suku-suku asing. Di tahun-tahun terakhirnya, ia menjadi semakin kacau. Selain itu, penggantinya tidak kompeten, dan kekacauan Dinasti Jin dimulai dari titik ini.[3]
Pada 290, Sima Yan meninggal dunia. Kaisar Hui dari Jin naik taktha dengan kakeknya, Yang Jun bertindak sebagai wali penguasa. Kaisar Hui secara mental cukup problematik. Catatan sejarah mencatat bahwa sekali saat Kaisar Hui sedang berjalan santai di Taman Hualin, ia mendengarkan suara katak dan bertanya kepada pelayannya, "Apakah katak-katak itu bersuara kepada para pejabat atau individu biasa?". Ketika negara sedang berada dalam kekacauan dan rakyat kelaparan, pejabat istana melaporkan situasi tersebut ke Kaisar Hui. Sang kaisar kemudian berkata, "Kenapa tidak rakyat makan bubur saja?". Kaisar Hui tidak cakap dalam hal memerintah dan pemerintahannya dipegang oleh Permaisuri Jia Nanfeng (putri dari Jia Chong) yang sangat ambisius. Saat itu, oposisi terbesar Jia Nanfeng adalah Yang Jun dan perlawan politik mereka memicu Pemberontakan Delapan Pangeran.
Pangeran Sima Liang dari Runan (putra ketiga Sima Yi) memulai bagian awal pemberontakan tersebut dengan melarikan diri ke Xuchang karena takut menghadapi kemarahan Yang Jun. Yang Jun kemudian mengonsolidasi kekuatannya dengan mencoba mengambil kendali pengawal kerajaan, membuat Jia Nanfeng gelisah dan pejabat lain ketakutan. Jia kemudian memberikan titah kepada Pangeran Sima Wei dari Chu untuk membasmi Yang Jun dan komplotannya. Setelah Yang Jun dieleminasi, Jia Nanfeng memberi titah agar Sima Liang dan Wei Guan menjadi wali penguasa. Tidak lama kemudian, Jia Nanfeng mengadu domba Sima Wei dan Sima Liang yang berakhir dengan kematian Sima Liang. Sima Wei kemudian mati dibunuh atas perintah Jia Nanfeng, kemudian menunjuk Zhang Hua, Pei Yu, Jia Mo, dan lainnya untuk memimpin pemerintahan. Untungnya, Zhang Hua dan yang lainnya bekerja sama dan menjalankan tugas mereka dengan setia, dan situasi politik pun stabil.[3]
Pada tahun 294, pemimpin Xiongnu Hao San memberontak, tetapi pemberontakan itu segera dipadamkan. Pada tahun 296, saudaranya Hao Duyuan mendukung Qi Wannian dan bergabung dengan Malan Qiang dan Lushui Hu di barat laut untuk memberontak. Tentara Jin menderita kekalahan besar, dan Zhou Chu terbunuh dalam pertempuran. Pada tahun 299, pemberontakan Qi Wannian dipadamkan. Setelah Guo Qin, Jiang Tong juga menyarankan untuk memindahkan paksa orang-orang Hu. Bukunya "Tentang Memindahkan Rong" mengajukan usulan yang lebih lengkap, tetapi istana Jin tidak berdaya untuk melakukannya.[3]
Pada 300, Pemberontakan Delapan Pangeran kembali meletus karena Jia Nanfeng berniat untuk melenyapkan pangeran mahkota Jin, Sima Yu karena Sima Yu bukanlah anak kandungnya. Ia membuat tuduhan palsu terhadap Sima Yu menyatakan ia telah melakukan makar. Sima Yu mati diracuni Jia Nanfeng, membuat para pangeran dan pejabat murka. Jia kemudian digulingkan oleh Pangeran Sima Lun dari Zhao yang sebenarnya menghasut Jia Nanfeng untuk membunuh Sima Yu atas saran Sun Xiu. Sima Lun kemudian bersekutu dengan putra Sima You, yakni Pangeran Sima Jiong dari Qi untuk melenyapkan pengaruh Jia Nanfeng dan kroninya atas nama balas dendam. Ia juga berusaha untuk menyingkirkan kakak tertua Kaisar Hui yang masih hidup, Pangeran Sima Yun dari Huainan, yang memberontak dan terbunuh. Pada tahun 301, Sima Lun menyatakan dirinya sebagai kaisar, mengubah nama era menjadi Jianshi, dan Kaisar Hui turun tahta sebagai Kaisar Pensiunan. Pada bulan Maret, Pangeran Jiong dari Qi, Pangeran Sima Yong dari Hejian, dan Pangeran Ying dari Chengdu, bersama dengan Pangeran Yi dari Changshan (kemudian Pangeran Changsha), menyerang Pangeran Lun dari Zhao. Pada bulan Mei, Pangeran Lun dari Zhao dan para pendukungnya dieliminasi, Kaisar Hui dipulihkan ke takhta, dan Pangeran Sima Jiong memegang kekuasaan absolut. Pada tahun 302, Pangeran Sima Ying dari Chengdu dan Sima Yong dari Hejian mengirim pasukan untuk menyerang Sima Jiong, Pangeran Sima Ai dari Changsha membalas di Luoyang, ibu kota. Pada akhirnya, Sima Jiong dari Qi dan para pengikutnya dieliminasi, Raja Yi dari Changsha mengambil alih kekuasaan, dan Raja Ying dari Chengdu mengendalikan istana dari jarak jauh dari Ye.[3]
Pada tahun 303, Pangeran Ying dari Chengdu, dalam upaya untuk menyingkirkan Pangeran Yi dari Changsha, yang ditempatkan di ibu kota, bergabung dengan Pangeran Yong dari Hejian untuk menyerang Luoyang, tetapi berulang kali dikalahkan oleh Pangeran Yi dari Changsha. Pada awal tahun 304, Luoyang menghadapi kekurangan pangan, dan Pangeran Yue dari Donghai, bersekongkol dengan pengawal kekaisaran, menangkap Pangeran Yi dari Changsha dan menyerahkan kota tersebut. Pangeran Yi dari Changsha terbunuh, dan Kaisar Hui terpaksa mengangkat Pangeran Ying dari Chengdu sebagai Putra Mahkota, Pangeran Yong dari Hejian sebagai Kanselir Agung, dan Pangeran Yue dari Donghai sebagai Menteri Sekretariat Kekaisaran. Setelah kemenangannya, Pangeran Ying dari Chengdu kembali ke Ye, dan pusat politik bergeser ke utara. Pangeran Sima Yue dari Donghai kemudian mengumpulkan pasukan dari semua sisi, memaksa Kaisar Hui untuk menyerang Pangeran Ying dari Chengdu, tetapi akhirnya gagal. Kaisar Hui ditangkap, dan Pangeran Yue dari Donghai melarikan diri ke wilayah kekuasaannya di Donghai (utara Tancheng, Shandong saat ini). Zhang Fang, seorang jenderal di bawah Pangeran Yong dari Hejian, menduduki Luoyang.[3]