Xiantiandao, juga dikenal sebagai Qinglianjiao atau Sekte Seroja Hijau atau Aliran Seroja Hijau atau Tiandao adalah salah satu aliran paling produktif dari kepercayaan tradisional Tionghoa yang lahir pada akhir abad ke-17 sebagai turunan dari salah satu kelompok agama penganut Luoisme yang mengikuti tradisi Sekte Seroja Putih, yang dicirikan dengan mewakili prinsip keilahian dan berfokus pada jalan keselamatan umat manusia.
Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

| Penggolongan | Agama keselamatan Tiongkok |
|---|---|
| Kitab suci | Huangji jindan (皇極金蛋) Buku Besar Pahala dan Dosa (功過格) |
| Pendiri | Huang Dehui |
| Didirikan | akhir abad ke-17 Shandong |
| Nama lain | Sekte Seroja Hijau / Biru (青蓮教), Xiantianmen (先天門), Xiantianxuanguandacheng (先天玄關大道), Tiandao (天道), Jalan Ramuan Emas / Jindandao (金丹道), Sanhuang Shengzujiao (三皇聖祖教), Yuandun Dachengjiao (圓墩大乘教), Jiuliantang (九連堂), Baiyanghui (白陽會), Wupanjiao (五盤教) |

| Bagian dari seri tentang |
| Kepercayaan tradisional Tionghoa 华人民间信仰 |
|---|
Xiantiandao (Hanzi: 先天道; Pinyin: Xiāntiān Dào; harfiah: 'Jalan ke Surga Asal'), juga dikenal sebagai Qinglianjiao (Hanzi: 青蓮教; Pinyin: Qīng lián jiào) atau Sekte Seroja Hijau atau Aliran Seroja Hijau atau Tiandao (天道; Tiāndào; 'Jalan ke Surga') adalah salah satu aliran paling produktif dari kepercayaan tradisional Tionghoa yang lahir pada akhir abad ke-17 sebagai turunan dari salah satu kelompok agama penganut Luoisme yang mengikuti tradisi Sekte Seroja Putih, yang dicirikan dengan mewakili prinsip keilahian dan berfokus pada jalan keselamatan umat manusia.
Xiantiandao didirikan di Jiangxi pada abad ke-17 Dinasti Qing sebagai cabang dari Laoguan Zhaijiao (老官齋教), cabang dari Dacheng (大乘code: zh is deprecated "Kendaraan Besar") atau Yuandun (圆顿code: zh is deprecated ) penyebaran Luoisme bagian timur.[1][2] Sekte ini saat ditelusuri juga mengarah pada Wugongdao (五公道code: zh is deprecated "Jalan Lima Dewa"), salah satu cabang dari tradisi Seroja Putih dari Dinasti Yuan.[3][4]
Agama Xiantiandao dianggap heterodoks dan ditekan sepanjang sejarah Tiongkok; agama ini sebagian besar masih dilarang di Tiongkok Daratan, tetapi berkembang pesat di Taiwan di mana sedikitnya 7% penduduk menjadi pengikut dari Yiguandao yang berasal dari Xiantiandao.
Gerakan Xiantiandao tidak terbatas hanya di negara-negara yang berbahasa Mandarin, dengan setidaknya ada satu sekte bernama Tendō (天道code: ja is deprecated , Jalan ke Surga), yang aktif di Jepang.[5] Di Vietnam, doktrin "Tiên Thiên Đạo" di kemudian hari mempengaruhi terbentuknya sekte Minh Đạo sejak abad ke-17.
Sekte-sekte yang dianggap sebagai bagian dari aliran Xiantiandao adalah:[2]
Kelompok-kelompok agama rakyat dan agama keselamatan sangat populer pada zaman dinasti Ming (1368-1644), dan Luo Qing / Luo Menghong (羅清 /羅夢鴻) yang menulis Wubu Liuce / "Five Books in Six Volumes" (五部六冊) pada tahun 1509 adalah salah satu tokoh yang menonjol pada kala itu.[6] Para pengikut Luo Qing mendirikan kelompok yang kemudian dikenal dengan nama Luoisme (羅教) / Jalan Luo (羅道). Luoisme yang telah tersebar di banyak daerah memiliki dua cabang utama: Wuweiisme (無为教) dan sekte Kendaraan Besar / Mahayana (大乘教Dacheng jiao).[1] Kelompok Dachengjiao dibagi menjadi dua grup, grup timur dan grup barat. Kelompok timur dipimpin oleh anak perempuan dari Luoqing, Luo Foguang (罗佛广) dan cucu menantunya Wang Sen (王森). Pada tahun 1667, salah satu keturunan dari Luo Qing yang bernama Luo Weiqun (羅蔚群) / Luo Weixing (羅维行) dari sekte Mahayana Timur menyebarkan ajaran di daerah Jiangxi.[7][8] Kelompok dari Luo Weiqun ini juga dikenal dengan Yuandunjiao (圆顿教). Kelompok ini diduga terkait dengan Wugongdao (五公道), salah satu cabang dari Seroja Putih, karena saat itu Luo Weiqun mengubah sistem kepangkatan dari kelompoknya yang sebelumnya menggunakan tradisi wugong (五公), struktur kepemimpinan 5 kelompok.[9] Patriark Luo ditangkap pemerintah dan pada akhirnya disiksa sampai mati karena dituduh telah menulis kitab yang menghasut orang untuk melakukan pemberontakan.[9] Luo Weiqun memiliki seorang pengikut yang kemudian menjadi penerusnya bernama Huang Dehui (黃德輝, dalam silsilah patriark Xiantiandao dikenal sebagai patriark ke-9).[8] Pada masa pemerintahan kaisar Yongzheng pada Dinasti Qing,[10] Huang Dehui mendirikan Xiantiandao (先天道).[11] Dokumen resmi dinasti Qing (清代官书) menyebut sekte ini dengan nama sekte Seroja Hijau/Biru (青蓮教) atau dengan nama lain Jalan Ramuan Emas / Jindandao (金丹道).[12] Sekte ini menyatukan tiga agama dengan mempraktikkan tata krama Konfusianisme, praktik-praktik Taoisme, dan sila-sila Buddhisme. Dinamakan Seroja Hijau untuk bersaing dengan sekte Seroja Putih yang populer saat itu.[13] Sekte ini sangat populer di Sichuan, Yunnan-Guizhou dan Hubei, dan melancarkan banyak pemberontakan demi menggulingkan dinasti Qing dan mengembalikan dinasti Ming, tetapi berhasil ditekan oleh pemerintahan Dinasti Qing.[14] Kelompok ini bersama dengan sekte Longhua (龍華教), sekte Bendera Emas (金幢教) dinamakan Zhaijiao (齋教 Sekte Vegetarian).[15]
Pada tahun 1690, Huang Dehui ditangkap dan dihukum mati oleh pemerintah Qing.[16][10] Kepemimpinan sekte dilanjutkan beberapa puluh tahun kemudian oleh Wu Zixiang (吳紫祥). Wu mengubah nama kelompoknya menjadi Wupanjiao (五盤教).[17] Ia juga ditangkap dan dihukum mati.[16] Kepemimpinan berlanjut ke patriark kesebelas, He Ruo (何若) / He Liaoku (何了苦). Pada tahun 1790, sebagai pemimpin kelompok, He Liaoku dikirim ke Longli, Guizhou menjadi tentara sebagai hukuman dari pemerintah, sehingga sekte Seroja Hijau menyebar ke Guizhou. Murid He Liao Ku, yaitu Yuan Zhiqian (袁志謙, di silsilah patriark Xiantiandao dikenal sebagai patriark ke-12) menyebarkan ajaran dari Guizhou ke Yunnan, Sichuan, dan Hubei, dan berkembang pesat.[18] Pada tahun 1823 ia mendirikan Xigang Tang (西港堂) di Chengdu. Dari sana ia bekerja secara aktif untuk menyebarkan ajaran di lembah Sungai Yangtze.[19] Pada tahun 1826, kepemimpinan dilanjutkan oleh dua orang yang menjadi patriak ke-13 yaitu Xu Ji'nan (徐吉南) dan Yang Shouyi (楊守一).[12] Hanya memimpin selama 2 tahun, patriark ke-13 Xu dan Yang ditangkap dan dihukum mati oleh pemerintah Qing pada tahun 1828.[20][10] Sejarah menunjukkan bahwa beberapa sub-sekte baru lahir setelah era ini antara lain Yuanming Dao (圆明道), Guiyi Dao (皈依道), Tongshan She (同善社) dan yang paling penting bagi sejarah agama Taiwan adalah Yiguandao (一貫道).[19]
Pada tahun 1834, Xiantiandao memilih lima pemimpin pengkhotbah, yang dikenal sebagai 'Lima Sesepuh' (五老). Pada sebuah pertemuan Tujuh Orang Suci (七聖) yang diadakan pada tahun 1843 di Yuncheng (雲城), diputuskan bahwa aliran ini selanjutnya akan dibagi menjadi lima cabang yang dikepalai oleh para patriark yang diberi nama sesuai dengan Lima Elemen (air, api, kayu, logam, dan tanah). Teks Xiantiandao sering kali merujuk pada “Tujuh Orang Suci Yuncheng”; Menurut Mantra Berharga Yuncheng (雲城寶籙), Tujuh Orang Suci tersebut adalah “para patriark yang bertanggung jawab atas Penyelamatan Global di Tiga Zaman Dunia” (開辦三期普度之祖).[12] Dalam periode itu, sekte Seroja Hijau kemudian bersatu dengan partai dan kelompok bersenjata untuk melawan para perwira dan tentara, dan menjadi kelompok agama rahasia, menyebabkan banyak kerusuhan.[11][21] Pada tahun 1845, sekte Seroja Hijau melancarkan pemberontakan di Wuchang tetapi gagal.[22] Kemudian, An Tianjue (安天爵) dari aliran Kayu, Chen Yijing (陈依精) dari aliran Api, Song Chaozhen (宋潮真) dari aliran Tanah ditangkap oleh pemerintah Qing dan dihukum mati.[20] Pang Chaofan (彭超凡) / Peng Yifa (彭依法) dari aliran Air, dan Lin Zhuguan (林祝官) / Lin Yimi (林依秘) dari aliran Logam melarikan diri dan lolos dari penangkapan. Peng Chaofan dan Lin Zhuguan ini kemudian dianggap sebagai patriark ke-14 dan patriark ke-15 oleh banyak kelompok Xiantiandao. Pada akhir periode Daoguang, Peng Chaofan terus berkhotbah di Sichuan di bawah bendera Xian Tian Dao.[20] Sementara Li Zhuguan mendirikan Aula Surga Barat (西乾堂) sebagai tempat penampungan para anggota sekte Seroja Hijau yang di kemudian hari diubah namanya menjadi Dongzhentang (東震堂) oleh Wang Jueyi (patriark ke-15 Yiguandao). Yao Hetian yang menjadi patriark ke-14 Yiguandao kemungkinan juga merupakan salah satu penerus dari Li Zhuguan.[23]
Pada masa-masa awal, pusat perkembangan Xiantiandao paling utama berada di provinsi Jiangxi dan Sichuan. Pada tahun 1860, sub-sekte yang dikepalai oleh Peng Yifa diperkenalkan ke Guangdong dari provinsi Hubei oleh pengikutnya, Chen Fushi (陳復始).[24] Chen melintasi cendekiawan Lin Fashan 林法善 di Qingyuan, sebelum masuk ke masa pensiun di Yichang 宜昌 di Hubei. Pada tahun 1863, Lin Fashan mendirikan kuil Cangxia Gudong (藏霞古洞) di Gunung Yuxia (嵎峽山) di daerah Qingyuan, yang merupakan titik awal dari sub-cabang Cangxia dan titik awal Xiantiandao di Guangdong.[24] Lin Fashan memiliki dua murid utama: Huang Benyuan 黃本源 (alias Daochu 道初) dan Li Zhigen 李植根 (alias Jingquan Xiansheng 淨泉先生). Sementara Huang mengambil alih kepemimpinan cabang Cangxia dari Lin Fashan, Li pada tahun 1871 mendirikan kuil Jinxiadong (錦霞洞) di Qingyuan. Untuk perkembangan regional masa depan Xiantiandao, Cangxiadong dan Jinxiadong keduanya sangat penting, di mana Huang menyebarkan ajaran ke utara dan Li menyebarkan ajaran ke selatan.[24]
Pada tahun 1873, pemimpin dari Lima Elemen yang terakhir (patriark ke-15), Lin Zhuguang meninggal dunia karena sakit di Mukou. Lin Zhuguang merupakan patriark terakhir dari Xiantiandao yang masih disepakati oleh banyak sub-grup Xiantiandao. Setelah itu karena Xiantiandao terpecah menjadi banyak sekali kelompok kecil, tidak ada kesepakatan dari masing-masing kelompok mengenai siapa patriark berikutnya sehingga tiap sub-grup memiliki silsilah Tao-nya sendiri-sendiri. Setelah itu, Xiantiandao menyebar ke seluruh Tiongkok dan beberapa wilayah Asia Tenggara.[20]

Pada paruh pertama abad ke-20, terjadi perkembangan luar biasa pada salah satu kelompok yang berakar dari Xiantiandao yaitu Yiguandao. Walaupun begitu, sebagian besar kelompok-kelompok Xiantiandao yang lain tidak berkembang menjadi organisasi yang besar. Meskipun beberapa kelompok Xiantiandao bergabung untuk mendaftarkan Zhongguo Sanjiao Shengdao Zonghui (中國三教聖道總會) ke rezim Beiyang pada tahun 1923, pada kenyataannya Xiantiandao tampaknya tetap hanya sekadar menjadi kumpulan kuil dan jaringan independen yang berjalan sendiri-sendiri.[2]
Seperti kebanyakan agama-agama keselamatan yang lahir pada zaman dinasti Ming dan Qing, Xiantiandao juga melakukan pemujaan terhadap Wusheng Laomu (無生老母) yang juga disebut Ibu Emas dari Danau Bercahaya (Yaochi Jinmu 瑤池金母) atau Bunda Mulia yang Tak Terbatas (無極老母), sebagai dewa tertinggi mereka.[12] Tujuan dari pembinaan diri mereka adalah untuk kembali ke asal-usul mereka, yaitu ke Surga Asal tempat bertempatnya Lao Mu.[12] Menurut kosmologi Xiantian, Laomu menciptakan sebanyak 9,6 miliar mahluk hidup, di mana setelah turun ke dunia semua tersesat dan lupa dengan kampung halamannya di Surga. Oleh karena itu, Laomu memerintahkan Tiga Buddha pada tiga zaman untuk menolong umat manusia kembali ke kampung halaman mereka di Surga.[25]
Teori mengenai tiga masa ini tercantum dalam Huangji jindan (皇極金蛋), kitab utama Xiantiandao yang ditulis oleh Huang Dehui. Huangji jindan dibuat berdasarkan kitab "Gulungan Berharga tentang Ramuan Emas dan Seroja Berdaun Sembilan untuk memperbaiki Keyakinan, Memulihkan Kesempurnaan Kembali ke Kampung Halaman" (皇極金丹九蓮正信歸真還鄉寶卷) atau disingkat Jiulian Baojuan (九蓮寶卷) yang kemudian menjadi dasar utama dari doktrin sekte Xiantiandao.[26][27] Ketiga periode ini dikenal sebagai Periode Pancaran Hijau (清陽 qingyang), Pancaran Merah (紅陽 hongyang), dan Pancaran Putih (白陽 baiyang). Dalam skema yang diyakini Xiantiandao, utusan pertama adalah Buddha Dipankara pada masa pancaran hijau, yang khotbahnya membawa pulang 200 juta anak-anak yang tersesat kembali ke kampung halaman, yang kedua adalah Buddha Sakyamuni pada masa pancaran putih, yang menyelamatkan 200 juta anak-anak lainnya.[25] Ini menyisakan 9,2 miliar jiwa lain yang masih terperangkap dan butuh diselamatkan. Sosok penyelamat selanjutnya adalah Maitreya yang dianggap sebagai Buddha terakhir pada masa pancaran putih.[25]
Dalam kitab Jiulian Baojuan digambarkan adanya mustika rahasia bernama pintu suci rahasia (玄關) pada saat inisiasi sebagai cara untuk kembali ke surga.[28] Tradisi ini juga merupakan tradisi keselamatan yang dibawa dari kelompok Luoisme yang dipimpin patriark Yin Ji'nan. Proses transmisi ini diyakini akan membuat para pengikutnya yang telah diinisiasi akan terbebas dari gerbang neraka dan setan yang mengawal orang yang baru saja meninggal ke alam baka (無常).[29] Transmisi mantra rahasia dan menitik pintu suci adalah bagian dari inisiasi. Inisiasi yang benar dilakukan oleh seorang guru ada kunci penting untuk jalan menuju ke keselamatan.[30] Keselamatan di sini yang dimaksud adalah kembali ke tempat asal yaitu bergabung bersama Lao Mu di Surga Abadi.[31] Salah satu kutipan dari kitab Jiulian Baojuan adalah sebagai berikut:
Mereka yang ditakdirkan oleh karma mereka akan menaiki perahu emas dan bersama-sama meninggalkan lautan penderitaan. Mereka akan bertemu dengan Patriark wuwei (無為生祖) yang mentransmisikan mantra dan titik suci [Jalan Misterius]. Sehingga mereka akan kembali ke asal mereka dan kembali ke sumbernya. Pengajaran Ramuan Emas (金丹法) berlanjut melalui tiga periode kosmik, membuka [gerbang] surga dan menutup [pintu] bumi. Jika mereka telah menembus Jalan Misterius (玄關), tubuh suci menjadi nyata dan bersama-sama mereka akan mencapai Tempat Asal. Seseorang harus bertemu dengan seorang guru yang menitik dan membuka lubang dari Pintu Misterius untuk memanifestasikan tubuh keemasan ungu di masa depan.[30]
Menurut catatan buku klasik sumber dari Silsilah Patriark (祖派源流), silsilah patriark Xiantiandao diyakini oleh para pengikutnya merupakan kelanjutan dari patriark pertama Bodhidharma. Setelah adanya transmisi Tao sampai ke patriark ke-6 Huineng, silsilah patriark memasuki periode rumah api dan Tao diturunkan secara rahasia di mana patriark ke-7 Nanyue Huairang, Mazu Daoyi yang memegang kuasa Tao, selanjutnya dilanjutkan oleh patriark ke-8 Luo Weiqun, Huang Dehui pendiri dari Xiantiandao, sebagai patriark ke-9, Wu Zixiang sebagai patriark ke-10, He Liaoku sebagai patriark ke-11, Yuan Tuian sebagai patriark ke-12, Xu Haiwu dan Yang Haixiu sebagai patriark ke-13, Peng Chaofan sebagai patriark ke-14 dan dan Lin Zhuguan sebagai patriark ke-15.[32]
Ciri khas dari semua sekte di bawah rubrik Seroja Hijau adalah vegetarianisme mereka, sebuah praktik yang mendapatkan dukungan dari masyarakat China saat itu, khususnya di beberapa daerah tertentu. Menurut catatan, Xiantiandao adalah yang paling ketat dalam menjalankan pola makan vegetarian, dan tidak mengizinkan anggotanya untuk menikah.[33] Para peneliti di lapangan asal Jepang mencatat bahwa persyaratan untuk masuk ke dalam sekte ini adalah yang paling sulit untuk dipenuhi.[33] Bagi Seroja Hijau, vegetarianisme hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan rejimen pemurnian jasmani dan rohani yang akan memungkinkan para pengikutnya untuk bertahan dalam gejolak milenium yang akan datang (dalam prosesnya membuat mereka kebal terhadap senjata pemerintah), dan mempersiapkan mereka untuk “kehidupan yang akan datang” (來生).[34]