Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Sultan Alamuddin Syah dari Siak

Tengku Alamuddin atau Raja Alam merupakan sultan Siak ke 4 (1761-1766) yang naik takhta setelah menggantikan keponakannya, Sultan Ismail bin Tengku Buwang Asmara dengan gelar penabalan: Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.

Pahlawan Revolusi Kemerdekaan
Diperbarui 23 Desember 2025

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Tengku Alamuddin
Yang Dipertuan Besar Siak Sultan Alamuddin ibni Sultan Abdul Jalil Rahmad Syah
Sultan Siak Sri Indrapura ke-4
Berkuasa1761 – 1766
PendahuluSultan Ismail
PenerusSultan Muhammad Ali
KelahiranRaja Alam
KematianPekanbaru, Riau
Pemakaman
Makam Marhum Pekan, Senapelan
PasanganSultanah Khodijah binti Daeng Perani dan lainnya
Keturunan
  • Sultan Muhammad Ali
  • Tengku Akil
  • Tengku Mas Ayu
  • Tengku Suma
  • Tengku Hawa (Tengku Hawi)
  • Tengku Embung Badariyah
Nama lengkap
Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah
Nama anumerta
Marhum Bukit Senapelan
WangsaMelaka
DinastiSiak
AyahRaja Kecik
AgamaIslam Ahlussunah Waljama'ah

Tengku Alamuddin atau Raja Alam merupakan sultan Siak ke 4 (1761-1766) yang naik takhta setelah menggantikan keponakannya, Sultan Ismail bin Tengku Buwang Asmara dengan gelar penabalan: Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.

Beliau dikenal sebagai sultan yang banyak melakukan reformasi di dalam struktur pemerintahan Kesultanan Siak, khususnya memadukan antara pemerintahan dengan agama dan budaya.

Dalam upaya ini, diantaranya beliau menjadikan dua orang Sayyid sebagai menantu, yakni putri beliau Tengku Hawi dinikahkah dengan Sayyid Syech Al Jufri dari Jambi, sementara putri bungsunya Tengku Embung Badariyah dinikahkah dengan Sayyid Usman Syahabuddin, seorang ulama, sufi, sekaligus ahli militer.

Keluarga

Sultan Alamuddin Syah terlahir dengan nama Raja Alamuddin, kerap disebut Tengku Alam dan Raja Alam, merupakan putra sulung Raja Kecil, pendiri dan sultan pertama Siak. Dan ibunya adalah seorang putri dari Dipati Batu Kucing Jambi-Palembang.[1] Menikah dengan seorang putri keturunan raja-raja Bugis, Sultanah Khodijah binti Daeng Perani.

Latar Belakang

Raja Kecik, pendiri Kesultanan Siak Sri Indrapura memiliki tiga putra: Tengku Muda, Tengku Alamuddin danTengku Buwang Asmara. Tengku Muda mangkat di waktu muda. Tengku Alam merupakan putra dari istri pertamanya yang merupakan anak Dipati Batukucing,

Tengku Alam dan adiknya Tengku Buwang Asmara sama-sama turut berperan aktif membantu ayahnya dalam rangka memperkokoh kesultanan yang baru berdiri itu. Beliau juga beberapa kali memimpin penyerangan melawan Belanda di Selat Melaka dan juga orang Bugis yang mendukung Raja Sulaiman Johor.

Mengembara

Meski merupakan putra sulung Raja Kecil, namun Tengku Alamuddin baru naik takhta pada beberapa pemerintahan berikutnya. Hal ini terjadi akibat munculnya sebagian pembesar kerajaan yang justru menudukung adiknya, Tengku Buwang Asmara untuk menggantikan ayahnya.

Namun sebagian pembesar tetap mendukung Tengku Alamuddin sebagai pewaris takhta, hal ini didasarkan pada ketentuan adat istiadat Diraja Melayu, dimana suksesi pertama sultan adalah putra sulungnya, yang dalam hal ini berarti perawis sah takhta Sultan Mahmud Syah II Johor adalah Raja Kecil, dan pewaris sah takhta Raja Kecil adalah Tengku Alamuddin.

Namun sebagian Datuk-datuk dan Orang Besar Kerajaan tetap mendesak agar Tengku Buwang menjadi Sultan berikutnya. Sebenarnya para pembesar inilah yang membuat kubu-kubu sendiri tanpa di inginkan oleh Tengku Alam dan Tengku Buwang. Semakin hari perselisihan itu semakin tajam, hingga ancaman perang saudara hampir tak terelakan.

Raja Kecil meminta salah satunya untuk mengalah dan pergi dari Siak. Hal ini lantaran beliau mencium peran Belanda disebalik adu domba tersebut. Sebagai langkah terbaik Raja Kecil memutuskan bahwa keduanya harus dijauhkan.

Tengku Alam memilih mengalah dan pergi dari Siak. Sambil berpesan agar kedua putranya dijaga dengan baik, yakni Tengku Muhammad Ali dan Tengku Akil yang kala itu masih kecil. Adapun istrinya tak disebutkan dalam riwayat dan hikayat Melayu, sebagian orang tua-tua memperkirakan istrinya sudah meninggal kala itu. Disatu sisi Tengku Buwang berjanji akan merawat Tengku Muhammad Ali dan Tengku Akil seperti anaknya sendiri.

Tengku Buwang Asmara kemudian ditabalkan sebagai Sultan Siak ke 2 setelah Raja Kecik wafat pada tahun 1740, dengan gelar Sultan Mahmud atau Sultan Muhammad Abdul Jalil Syah yang memerintah sampai tahun 1761.

Tengku Alam yang pergi meninggalkan Siak sekitar tahun 1735 itu terus mengembara selama puluhan tahun dari negeri ke negeri, beliau ke Palembang, Jambi, Kepulauan Riau dan Natuna lalu ke Johor.

Dalam pengembaraannya, Tengku Alam menikahi putri dari Daeng Perani yang bernama Daeng Khodijah.

Naik Takhta

Makam Sultan Alamuddin Syah, di komplek Pemakaman Marhum Pekan, Pekanbaru

Setelah Tengku Buwang Asmara wafat pada tahun 1760, putranya Tengku Ismail naik menggantikan kedudukannya sebagai Sultan Siak ke-3 dengan gelar Sultan Ismail Abdul Jalil Jalaluddin Syah. Sultan Ismail hanya memerintah selama satu tahun. Sebelum wafat, Tengku Buwang telah meninggalkan wasiat agar segera menyerahkan takhta kepada pamannya, Tengku Alamuddin, jika kembali.

"Haram tunduk pada Belanda yang kafir dan penjajah itu! Haram perang sesama saudara! Apabila pamanmu Tengku Alamuddin balik ke Siak ini, segera serahkan takhta kepadanya.[2] ", wasiat Tengku Buwang Asmara.

Wasiat itu tersiar hingga sampai ketelinga Belanda. Pihak Belanda yang telah berkali-kali mengalami kekalahan melawan Siak berupaya memanfaatkan wasiat itu sebagai cara untuk menaklukkan Siak.

Belanda mendekati Tengku Alam di Johor, dan mengabarkan kepada Siak bahwa Tengku Alam telah bersahabat dengan pihak Belanda yang mana hal itu membuat Siak menghentikan permusuhan terhadap Belanda.

Setelah Tengku Alam kembali ke Siak, sebagaimana pesan sang ayahandanya, Sultan Ismail segera menyerahkan takhta kepada pamannya itu. Tengku Alam dinobatkan menjadi Sultan Siak ke 4 pada tahun 1761, dengan gelar Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.

Meski Belanda mengklaim bahwa Sultan Alamuddin berada dipihaknya, namun sultan menunjukkan sikap sebaliknya dengan terus menerus melakukan berbagai penyerangan terhadap Belanda.

Pemerintahan

Sultan Alamuddin Syah naik takhta ketika kondisi Kerajaan Siak begitu kalut, ekonomi sedang terpuruk parah akibat peperangan terus menerus dengan Belanda. Jalur-jalur pelayaran menuju Siak disumbat Belanda dan Inggris, perniagaan ke Siak terganggu. Belum lagi munculnya hasutan-hasutan kepada Tengku Ismail agar kembali merebut takhta.

Pada masa pemerintahannya, Sultan Alamuddin Syah lebih berfokus pada penguatan kedudukannya di pesisir timur Sumatra, Kedah dan kawasan pantai timur Semenanjung Malaya yang ketika itu masih dibawah Siak. Dalam hal ini beliau turut dibantu menantunya, Sayyid Usman Syahabuddin, istri dari putrinya, Tengku Embung Badariyah yang beliau tunjuk sebagai penasehat pribadi.

Pada tahun 1762, Sultan Alamuddin Syah memindahkan pusat Kesultanan Siak dari Mempura Besar ke Bukit Senapelan, tempat yang kelak menjadi kota Pekanbaru. Beliau membangun Istana di Kampung Bukit dan diperkirakan Istana tersebut terletak disekitar lokasi Mesjid Raya Senapelan sekarang. Disinilah kekuatan perekonomian kerajaan ditata kembali.

Sultan kemudian berinisiatif membuat pekan atau pasar di Senapelan atas saran menantunya Sayyid Usman, namun tidak berkembang. Kemudian usaha yang dirintis tersebut dilanjutkan oleh putranya Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazamsyah, meskipun lokasi pasar bergeser di sekitar Pelabuhan Pekanbaru sekarang.

Sultan Alamuddin juga menerima masukan dari Sayyid Usman Syahabuddin agar peran ulama di kesultanan Siak di tingkatkan, sebab meski masyarakat Siak telah memeluk Islam, tapi pengaruh pemikiran pra Islam masih melekat dan mewarnai banyak sisi kehidupan masyarakatnya. Masih bercampur aduk antara animisme, dinamisme, hinduisme dan budhisme.

Usulan itu dilaksanakan oleh Sultan Alamuddin dengan mengangkat mufti kerajaan untuk pertama kali dalam sejarah Kesultanan Siak, juga mengangkat jabatan Tuan Kadi, Tuan Khatib, Tuan Imam, Guru-guru Madrasah dan Pemimpin Rumah Suluk di seluruh wilayah dalam negeri Kesultanan Siak.

Sejak masa itu, jabatan pembesar Kerajaan bertambah, mulai dari Sultan sebagai pucuk pimpinan dan pucuk pemerintahan, terdapat pula Orang Besar Kerajaan yang terdiri dari Datuk-datuk, Panglima, Pemangku Adat, ditambah peran Ulama melengkapinya menjadi persebatian ketiga unsur (Raja, Ulama, Pemuka adat) disebut "tali berpilin tiga".

Perekonomian yang semakin maju di Senapelan tersebut telah memotong jalur perdagangan ke hilir sungai Siak. Akibatnya, Mempura menjadi sepi dan Belanda dirugikan. Kerugian besar tersebut bahkan mendesak Belanda untuk menutup lojinya di Pulau Guntung pada tahun 1765.[3]

Akhir Hayat

Salah seorang putrinya, Tengku Embung Badariyah dinikahkan dengan seorang Ahli Bait keturunan Rasulullah, bernama Sayyid Usman Syahabuddin. Keturunan mereka inilah yang nantinya menjadi penerus takhta Kesultanan Siak Sri Indrapura yang bermula dari Sultan Syarif Ali, dan Kesultanan Pelalawan yang bermula dari Sultan Abdurrahman.

Sultan Alamuddin mangkat pada tahun 1766 dan dimakamkan di Kampung Bukit, Senapelan. Putranya, Muhammad Ali kemudian naik takhta dengan gelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah.[3]

Rujukan

Biografi ini sudah memiliki referensi, tetapi tidak disertai kutipan yang cukup. Materi kontroversial atau trivial yang sumbernya tidak memadai atau tidak bisa dipercaya harus segera dihapus, khususnya jika berpotensi memfitnah. Anda dapat membantu mengembangkan artikel ini dengan menambahkan lebih banyak kutipan pada teks artikel. (Pelajari cara dan kapan saatnya untuk menghapus pesan templat ini)
  1. ↑ Amir Lutfi (1991), Hukum dan Perubahan Struktur Kekuasaan: Pelaksanaan Hukum Islam dalam Kesultanan Melayu Siak 1901 - 1942, Susqa Press Pekanbaru.
  2. ↑ OK. Nizami Jamil dkk (2001), Sejarah Kerajaan Siak, CV. Sukabina Pekanbaru terbitan LAM Kab. Siak.
  3. 1 2 Muchtar Lutfi, Suwardi MS, dkk (1998/ 1999), Sejarah Riau, Biro Bina Sosial Setwilda Tk. I Riau.
Didahului oleh:
Sultan Ismail
Sultan Siak Sri Inderapura
1761 - 1766
Diteruskan oleh:
Sultan Muhammad Ali
  • Portal Biografi
  • Portal Indonesia
  • Portal Sejarah
  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Sumatra
Aceh
  • Aceh
  • Daya
  • Jeumpa
  • Lamri
  • Linge
  • Pedir
  • Peureulak
  • Samudera Pasai
  • Tamiang
Bengkulu
  • Pat Petulai
  • Selebar
Jambi
  • Jambi
  • Kantoli
  • Koying
Lampung
  • Keratuan Balaw
  • Keratuan Di Puncak
  • Keratuan Darah Putih
  • Keratuan Melinting
  • Keratuan Semaka
  • Tulang Bawang
  • Sekala Bekhak
Kepulauan Riau
  • Bintan
  • Johor
  • Riau-Lingga
Riau
  • Indragiri
  • Kampar Kiri
  • Kandis
  • Koto Alang
  • Kuantan
  • Kuntu Kampar
  • Melaka
  • Pelalawan
  • Rokan IV Koto
  • Siak
  • Tambusai
Sumatera Barat
  • Pasumayan Koto Batu
  • Bungo Satangkai
  • Dusun Tuo
  • Minanga
  • Dharmasraya
  • Pagaruyung
  • Inderapura
  • Samaskuta
  • Siguntur
  • Sontang
  • Sungai Pagu
Sumatera Selatan
  • Kerajaan Palembang
  • Kesultanan Palembang Darussalam
  • Sriwijaya
Sumatera Utara
  • Aru
  • Asahan
  • Barus
  • Batu Bara
  • Deli
  • Dolog Silou
  • Kota Pinang
  • Langkat
  • Padang
  • Panei
  • Pannai
  • Purba
  • Raya
  • Serdang
  • Siantar
  • Silimakuta
  • Tanah Jawa
Bagian dari seri
Islam
Rukun Iman
  • Keesaan Allah
  • Malaikat
  • Kitab-kitab Allah
  • Nabi dan Rasul Allah
  • Hari Kiamat
  • Qada dan Qadar
Rukun Islam
  • Syahadat
  • Salat
  • Zakat
  • Puasa
  • Haji
  • Sumber hukum Islam
  • al-Qur'an
  • Sunnah (Hadis, Sirah)
  • Tafsir
  • Akidah
  • Fikih
  • Syariat
Sejarah
  • Garis waktu
  • Muhammad
  • Ahlulbait
  • Sahabat Nabi
  • Khulafaur Rasyidin
  • Khalifah
  • Imamah
  • Ilmu pengetahuan Islam abad pertengahan
  • Penyebaran Islam
  • Penerus Muhammad
Budaya dan masyarakat
  • Akademik
  • Akhlak
  • Anak-anak
  • Dakwah
  • Demografi
  • Ekonomi
  • Feminisme
  • Filsafat
  • Hari raya
  • Hewan
  • Kalender
  • Khitan
  • LGBT
  • Madrasah
  • Masjid
  • Musik
  • Pendidikan
  • Perbankan syariah
  • Rukiah
  • Firkah, manhaj, dan mazhab
  • Seni
  • Politik
  • Puisi/syair
  • Perbudakan
  • Sains
  • Tasawuf
  • Wanita
Topik lainnya
  • Murtad
  • Kritik
    • Muhammad
    • al-Qur'an
    • Hadis
  • Agama lain
  • Islamisme
  • Kekerasan
    • Terorisme
    • Perang
  • Islamofobia
  • Jihad
    • Jihadisme
    • Peraturan perang
  • Daftar istilah
  •  Portal Islam
  • l
  • b
  • s

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Keluarga
  2. Latar Belakang
  3. Mengembara
  4. Naik Takhta
  5. Pemerintahan
  6. Akhir Hayat
  7. Rujukan

Artikel Terkait

Pahlawan nasional Indonesia

Gelar penghargaan resmi tingkat tertinggi di Indonesia

Revolusi Nasional Indonesia

konflik bersenjata dan perjuangan diplomatik antara Indonesia dan Kerajaan Belanda

Soeprapto

Perwira TNI AD (1920 – 1965)

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026