Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026
Jakarta Aktual
Jakarta Aktual

Berita Aktual dan Faktual

Kembali ke Wiki
Artikel Wikipedia

Kerajaan Pasumayan Koto Batu

Kerajaan Pasumayan Koto Batu adalah kerajaan tradisional yang pertama berdiri di wilayah Minang. Kerajaan ini merupakan kerajaan adat pertama yang didirikan di Minangkabau.

kerajaan di Asia Tenggara
Diperbarui 24 Maret 2026

Sumber: Lihat artikel asli di Wikipedia

Kerajaan Pasumayan Koto Batu adalah kerajaan tradisional yang pertama berdiri di wilayah Minang. Kerajaan ini merupakan kerajaan adat pertama yang didirikan di Minangkabau.

Kerajaan ini mempunyai pusat pemerintahan di wilayah sekitar lereng Gunung Marapi yang kemudian dikenal dengan nama Pariangan Padang Panjang. Sedangkan wilayah kekuasaan kerajaan Pasumayan Koto Batu hanya disebutkan dalam Tambo secara kiasan tanpa dapat dijelaskan di mana sebenarnya nama-nama yang disebutkan.[1]

Sejarah

Pada abad 10 Masehi, telah terjadi migrasi orang-orang dari anak benua India (Subbenua India) menuju Pulau Percha (pulau Sumatra) lalu mendirikan kerajaan yang bernama Kerajaan Pasumayan Koto Batu di sekitar lereng Gunung Marapi.[2]

Dalam tambo, diceritakan bahawa raja yang berkuasa di sana bergelar Sri Maharajo Dirajo dengan permaisurinya Puti Indo Jolito dan anaknya bernama Sutan Maharajo Basa yang kemudian dikenal dengan gelar Datuk Ketumanggungan. Setelah meninggal dunia Sri Maharajo Dirajo digantikan oleh Datuk Suri Dirajo, sedangkan istrinya kembali menikah dengan Cati Bilang Pandai (penasehat ahli Sri Maharajo Dirajo) dan melahirkan tiga orang anak: Sutan Balun, Sutan Bakilap Alam, dan Puti Jamilan. Sutan Balun kemudian dikenal dengan gelar Datuk Perpatih Nan Sebatang.[1]

Pemerintahan

Datuk Suri Dirajo kemudian mengangkat Sutan Maharajo Basa yang bergelar Datuk Ketumanggungan dan Sutan Balun yang bergelar Datuk Perpatih Nan Sebatang, dengan dewan pertimbangan Kerajaan Pasumayan Koto Batu dipimpin oleh Datu Sri Dirajo (Dt. Suri Dirajo).[1]

Semasa kerajaan Pasumayan Koto Batu ini adat Minangkabau sudah disusun sedemikian rupa, tetapi kemudian disempurnakan oleh Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang. Keduanya lalu dianggap oleh orang Minangkabau sebagai pendiri adat Koto Piliang yang aristokratis dan adat Bodi Caniago yang demokratis. Tidak mengherankan kalau nama Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang tidak dapat dilupakan oleh orang Minangkabau.[3]

Balai Nan Panjang di Nagari Tabek, kecamatan Pariangan, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat yang saat ini dijadikan sebagai Situs Kepurbakalaan.

Balai Pemerintahan

Balai Nan Panjang di Nagari Tabek, kecamatan Pariangan, kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat yang saat ini dijadikan sebagai Situs Kepurbakalaan.

Di Pariangan didirikan sebuah tempat bersidang yang disebut Balai Saruang. Di Balai Saruang inilah segala sesuatu dimusyawarahkan. Kemudian didirikan juga Balai Nan Panjang, Balai Pasujian, dan Balai Kaciak.[4] Balai Saruang hanya terdiri dari satu ruang, sedangkan Balai Nan Panjang terdiri dari 17 ruang.

Hukum di Pasumayan Koto Batu

Hukum yang diterapkan di tengah masyarakat disebut sebagai Undang-undang Simumbang Jatuh yang terdiri atas dua bagian yaitu Si Gamak-gamak (atau Tariak Baleh) dan Si Lamo-lamo. Penerapan hukum tersebut diserahkan sepenuhnya kepada penguasa, di mana penguasa dalam menjatuhkan hukumannya hanya berdasarkan perasaan atau berdasarkan keyakinannya sendiri.[1]

Akhir pemerintahan

Setelah Kerajaan Pasumayan Koto Batu berakhir, Datuk Ketumanggungan dan Datuk Perpatih Nan Sebatang yang merupakan dua bersaudara se-ibu lain ayah mendirikan kerajaan baru. Datuk Ketumanggungan mendirikan Kerajaan Bungo Setangkai di Sungai Tarab dan sebagai yang dipertuan (perdana menteri) adalah Datuk Bandaro Putiah. Sedangkan Datuk Perpatih Nan Sebatang mendirikan Kerajaan Dusun Tuo di Lima Kaum dan sebagai yang dipertuan adalah Datuk Bandaro Kuniang.[1]

Kerajaan Pasumayan Koto Batu tidak diteruskan karena terjadi perselisihan paham antara Datuk Ketumanggungan dengan Datuk Perpatih Nan Sebatang ketika berdebat mengenai Undang-undang Tarik Baleh yang mengatur "siapa yang membunuh akan dibunuh". Walaupun demikian, perselisihan tersebut dapat didamaikan oleh Datuk Suri Nan Banego-nego yang ditandai dengan tikaman sebuah tongkat di sebuah batu yang disebut Batu Batikam.[5]

Referensi

  1. 1 2 3 4 5 Pratama, Fikri Surya (2024). Sejarah Peradaban Islam di Minangkabau. Bogor: Guepedia. ISBN 978-623-421-643-1. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ↑ Idris, Abdul Samad (1990). Payung Terkembang. Kuala Lumpur: Pustaka Budiman.
  3. ↑ Kerajaan Kerajaan Pendahulu Pagaruyung, 25 Oktober 2009. Diakses pada 20 Desember 2011.
  4. ↑ Ampera Salim, Zulkifli (2005). Minangkabau Dalam Catatan Sejarah yang Tercecer. Padang: Citra Budaya Indonesia.
  5. ↑ Armaini, Ermaleli, dan Muzzamil (2004). Budaya Alam Minangkabau. Untuk SD Kelas 5. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

  • l
  • b
  • s
Kerajaan di Sumatra
Aceh
  • Aceh
  • Daya
  • Jeumpa
  • Lamri
  • Linge
  • Pedir
  • Peureulak
  • Samudera Pasai
  • Tamiang
Bengkulu
  • Pat Petulai
  • Selebar
Jambi
  • Jambi
  • Kantoli
  • Koying
Lampung
  • Keratuan Balaw
  • Keratuan Di Puncak
  • Keratuan Darah Putih
  • Keratuan Melinting
  • Keratuan Semaka
  • Tulang Bawang
  • Sekala Bekhak
Kepulauan Riau
  • Bintan
  • Johor
  • Riau-Lingga
Riau
  • Indragiri
  • Kampar Kiri
  • Kandis
  • Koto Alang
  • Kuantan
  • Kuntu Kampar
  • Melaka
  • Pelalawan
  • Rokan IV Koto
  • Siak
  • Tambusai
Sumatera Barat
  • Pasumayan Koto Batu
  • Bungo Satangkai
  • Dusun Tuo
  • Minanga
  • Dharmasraya
  • Pagaruyung
  • Inderapura
  • Samaskuta
  • Siguntur
  • Sontang
  • Sungai Pagu
Sumatera Selatan
  • Kerajaan Palembang
  • Kesultanan Palembang Darussalam
  • Sriwijaya
Sumatera Utara
  • Aru
  • Asahan
  • Barus
  • Batu Bara
  • Deli
  • Dolog Silou
  • Kota Pinang
  • Langkat
  • Padang
  • Panei
  • Pannai
  • Purba
  • Raya
  • Serdang
  • Siantar
  • Silimakuta
  • Tanah Jawa

Bagikan artikel ini

Share:

Daftar Isi

  1. Sejarah
  2. Pemerintahan
  3. Balai Pemerintahan
  4. Hukum di Pasumayan Koto Batu
  5. Akhir pemerintahan
  6. Referensi

Artikel Terkait

Asia Tenggara

bagian tenggara benua Asia

Pesta Olahraga Asia Tenggara

Kompetisi multi-olahraga negara-negara di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya sebagai Pusat Pendidikan Buddha di Asia Tenggara

Kerajaan Sriwijaya muncul pada akhir abad ke-7 menandai keberadaannya sebagai salah satu kekuatan maritim tertua dan berpengaruh di Asia Tenggara. Berasal

Jakarta Aktual
Jakarta Aktual© 2026